"Ahh? Aku sudah menduga bahwa Engkau bukan gadis biasa seperti para dayang lainnya. Puspa Dewi, siapakah engkau sesungguhnya?"
"Hamba mempunyai
seorang guru yang juga menjadi ibu angkat hamba dan ibu angkat itu kini menjadi
Permaisuri Kerajaan Wura-Wuri sehingga hamba diangkat menjadi sekar kedaton
(kembang istana Kerajaan Wura-Wuri.)"
"Ohh.....!"
Dyah Untari terkejut bukan main. Wura-Wuri adalah sebuah diantara
kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh bebuyutan Kahuripan. Jadi, gadis ini
adalah puteri kerajaan yang memusuhi kerajaan suaminya!
"Lalu.....
apa maksudmu..... eh, apakah engkau hendak membunuh aku?"
Puspa Dewi
tersenyum.
"Mengapa paduka
mempunyai kekhawatiran seperti itu? Kalau hamba hendak membantu persekutuan
itu, pasti hamba tidak akan bercerita seperti ini kepada paduka. Memang hamba
ikut dalam rapat pertemuan sebagai wakil Wura-Wuri karena hamba ditugaskan oleh
Raja Wura-Wuri yang menjadi ayah angkat hamba. Akan tetapi hamba sama sekali
tidak setuju dengan perilaku mereka yang amat curang ini. Sekarang hamba mohon
paduka cepat melapor kepada Gusti Sinuwun bahwa Pangeran Hendratama hendak
memberontak dengan mengandalkan keris pusaka Sang Megatantra yang berada di
tangannya agar wahyu keraton dan dia bersekutu dengan Kerajaan Parang Siluman
yang diwakili oleh Puteri Mandari dan Puteri Lasmini, Kerajaan Siluman Laut
Kidul yang diwakili oleh ratunya sendiri yaitu Ratu Mayang Gupita, Kerajaan
Wengker yang diwakili oleh Linggajaya yang kini menjadi juru taman di
kepatihan, dan Kerajaan Wura-Wuri yang diwakili oleh hamba sendiri. Adapun
rencana mereka adalah membunuh Ki Patih Narotama yang akan dilakukan oleh
Puteri Lasmini dan Linggajaya, membunuh Nurseta dan Senopati Sindukerta yang
akan dilakukan oleh Ratu Mayang Gupita yang dibantu oleh orang-orang sakti
lain, kemudian empat kerajaan hendak mengirim pasukan ke dalam hutan selatan,
bergabung dengan pasukan yang akan di kerahkan Pangeran Hendratama dan para
senopati pendukungnya untuk menyerbu istana."
"Aduh,
bagaimana, ya? Kalau aku sendiri yang melapor tentu akan menimbulkan kecurigaan
dan aku khawatir akan diketahui Mandari yang selalu mengamati kalau aku dekat
dengan Sinuwun. Padahal urusan ini harus segera dilaporkan! Dan cara melaporkan
harus dirahasiakan agar jangan bocor dan diketahui oleh orang orangnya
persekongkolan jahat itu!"
"Terserah
kepada paduka karena paduka tentu lebih mengetahui bagaimana sebaiknya hal ini
dapat dilaporkan kepada Gusti Sinuwun. Akan tetapi hamba mohon dapat dilaporkan
dengan secepatnya agar tidak terlambat. Sekarang hamba hendak mencari jalan
untuk menghubungi Nurseta dan Senopati Sindukerta di rumah tahanan. Hamba pamit
undur, gusti."
Dyah Untari
mengangguk.
"Terima
kasih, Puspa Dewi. Engkau telah berjasa besar terhadap Kerajaan Kahuripan.
Jasamu tidak akan kami lupakan. Hanya sebuah pertanyaanku yang akan selalu
mengusik hatiku kalau belum kaujawab yaitu; Kenapa engkau yang sudah menjadi
sekar kedaton Wura-Wuri membela Kahuripan?"
Puspa Dewi
tersenyum.
"Alasannya
banyak, gusti puteri. Pertama, hamba adalah penduduk Karang Tirta dan ibu
kandung hamba juga berasal dari sana, dan mengingat bahwa Karang Tirta termasuk
wilayah Kahuripan, maka berarti hamba juga kawula Kahuripan. Kedua, guru yang
juga ibu angkat hamba itu biarpun sudah melepas banyak budi kepada hamba, namun
ia adalah seorang datuk sesat dan raja Wura-Wuri juga bukan orang yang berbudi
luhur, maka hamba tidak suka membantunya dan lebih condong membela Kahuripan.
Ketiga, persekutuan itu adalah persekutuan yang jahat dan curang dan hamba
selamanya tidak suka akan kejahatan dan kecurangan. Apalagi hamba sudah banyak
mendengar akan kebajikan yang diucapkan Ki Patih Narotama dan Nurseta."
Setelah Puspa
Dewi keluar dari ruangan itu, Dyah Untari cepat menyuruh dayangnya untuk
memanggil Bancak dan Doyok, dua orang hamba sahaya yang menjadi kiangenan
(kesukaan) Sang Prabu Erlangga. Dua orang abdi yang sudah menjadi pengasuh
Erlangga sejak dia masih kecil itu merupakan dua orang abdi yang selain
terkasih juga paling dipercayai oleh Sang Prabu Erlangga. Hanya dua orang abdi
inilah yang mampu mendekati Sang Prabu tanpa ada yang mencurigai mereka.
Biarpun sedang berada di dalam kamarnya, kalau dua orang abdi ini yang datang
menghadap, tentu akan diterima oleh Sang Prabu Erlangga. Setelah Bancak dan
Doyok datang menghadap, terheran-heran mengapa mereka dipanggil Dyah Untari hal
yang langka terjadi, Dyah Untari lalu menyuruh para dayangnya keluar dari
ruangan. Kemudian dengan berbisik-bisik ia menceritakan semua hal yang baru
saja didengarnya dari Puspa Dewi itu kepada mereka. Dua orang abdi yang setia
itu mendengarkan penuh perhatian dan wajah mereka menjadi pucat, mata mereka
terbelalak, berulang-ulang mereka menggeleng kepala dan menghela napas panjang,
terheran-heran mendengar akan rencana pemberontakan yang amat jahat itu.
Setelah menceritakan semuanya dengan jelas dan lengkap, Dyah Untari lalu
berkata kepada mereka.
"Nah,
demikianlah apa yang dilaporkan Puspa Dewi kepadaku, Paman Bancak dan Paman
Doyok. Karena aku tidak tahu bagaimana akan dapat menyampaikan berita ini
kepada Gusti Sinuwun tanpa diketahui orang lain, maka aku memanggil andika
berdua dan setelah aku menceritakannya kepada kalian, sekarang menjadi tugas
kalian untuk menyampaikannya kepada Gusti Sinuwun tanpa diketahui orang
lain."
"Jangan
khawatir, Gusti Puteri. Hamba berdua pasti akan dapat menyampaikan berita
penting ini kepada Gusti Sinuwun." kata Bancak yang segera pamit dan
bersama Doyok lalu cepat keluar dari ruangan itu dan bergegas mencari
kesempatan untuk dapat menghadap Sang Prabu Erlangga.
Akhirnya
Bancak dan Doyok mendapat kesempatan itu. Mereka dapat menghadap Sang Prabu
Erlangga ketika Sri Baginda berada seorang diri dalam ruangan perpustakaan.
Sang Prabu Erlangga terkejut bukan main mendengar laporan Bancak dan Doyok.
Akan tetapi sebagai seorang raja yang bijaksana, Sang Prabu Erlangga tidak mau
percaya begitu saja kepada laporan yang disampaikan Puspa Dewi kepada selirnya
itu. Harus ada buktinya, barulah dia akan dapat bertindak menghukum mereka yang
bersalah. Maka, dia merahasiakan urusan itu, akan tetapi diam-diam mengatur
segalanya untuk mengatasi bahaya yang mengancam. Dia menulis sebuah surat
perintah dan mengutus Bancak dan Doyok menyerahkan surat itu kepada Senopati
Wiradana yang dipercaya karena Sang Prabu Erlangga sudah yakin akan kesetiaan
senopati tua yang menjadi kepala dari semua senopati di Kahuripan. Biasanya dia
menyerahkan urusan penting ini kepada Ki Patih Narotama, akan tetapi karena dia
mendengar bahwa komplotan itu juga merencanakan pembunuhan atas diri Narotama,
maka ia memerintahkan Senopati Wiradana untuk mempersiapkan segalanya dan
menghancurkan usaha pemberontakan itu, kalau benar-benar terjadi pemberontakan
seperti yang dilaporkan Puspa Dewi itu.
Sementara itu,
Puspa Dewi juga mencari akal untuk dapat memperingatkan Nurseta akan bahaya
yang mengancam dirinya karena menurut rencana, malam itu ia dan Ratu Mayang
Gupita beserta dua pembantunya, yaitu Dibya Mamangkoro dan Cekel Aksomolo, akan
melaksanakan tugas membunuh Nurseta dan Senopati Sindukerta. Adapun tugas
membunuh Ki Patih Narotama akan dilakukan malam itu juga oleh Puteri Lasmini
dan Linggajaya. Gadis yang cerdik ini akhirnya mendapat akal Ia menghadap
Puteri Mandari untuk merundingkan dengan lebih terperinci tentang tugas
membunuh dua orang tawanan itu. Setelah berhadapan berdua saja, Puspa Dewi
tidak bersikap sebagai seorang dayang karena ia menganggap dirinya sederajat
dengan Mandari. Mandari adalah puteri Ratu Durgamala dari Parang Siluman akan
tetapi iapun puteri Raja Bhismaprabhawa dari Wura-wuri, walaupun hanya anak
angkat!
"Agar
tugas yang kami lakukan dapat berhasil baik, saya minta diberi kesempatan untuk
melakukan penyelidikan ke rumah tahanan itu, melihat ruangan di mana Nurseta
ditahan agar nanti malam kami dapat melaksanakan rencana itu dengan hasil
baik." katanya.
Mandari tidak
menaruh curiga dan tentu saja menyetujui usul Puspa Dewi Itu. Ia lalu
menuliskan surat kuasa untuk Puspa Dewi. Dan dengan membawa surat ini, Puspa
Dewi dapat dengan mudah memasuki rumah tahanan karena para petugas yang menjaga
di situ tentu saja tidak ada yang berani menentang surat perintah Gusti Puteri
Mandari!
Para penjaga
itupun tidak curiga karena mereka melihat dayang itu hanya lewat saja di depan
kamar tahanan sambil memandang ke dalam. Nurseta yang sedang duduk bersila di
dalam ruangan tahanan yang berpintu baja dengan ruji ruji (terali), melihat
Puspa Dewi dan dia merasa heran sekali. Akan tetapi, tanpa dapat dilihat para
penjaga yang hanya memandang dari jauh, ada berkelebat sinar putih kecil
memasuki kamar tahanannya. Dia cepat menangkap kertas terlipat-lipat yang
meluncur ke arahnya itu. Setelah Puspa Dewi pergi, dia cepat membaca surat itu
tanpa diketahui para penjaga. Tulisan itu rapi dan cukup jelas hanya singkat
saja.
Bersiaplah!
Malam nanti engkau dan Senopati Sindukerta akan dibunuh. Juga Ki Patih
Narotama. Tinggalkan rumah tahanan dan selamatkan ki patih! Surat itu singkat
namun cukup jelas. Walaupun Puspa Dewi tidak menyebut siapa yang akan
membunuhnya, namun Nurseta dapat menduga bahwa pembunuhnya tentu ada hubungan
dengan Pangeran Hendratama. Karena pangeran itulah yang merasa terancam
olehnya. Tidak mungkin Sang Prabu Erlangga yang hendak membunuhnya karena Ki
Patih Narotama juga terancam! Hemm, sebetulnya dia tidak takut dan tidak perlu
melarikan diri. Akan tetapi dia teringat akan eyangnya Senopati Sindukerta juga
hendak dibunuh dan biarpun eyangnya bukan seorang yang lemah, namun dia tidak
bisa membiarkan eyangnya terancam bahaya maut. Si pembunuh tentu seorang yang
sakti mandraguna karena tidak mungkin Pangeran Hendratama mengirim pembunuh
yang kepandaiannya biasa saja. Malam nanti ....., Nurseta mengambil keputusan
untuk bertindak sebelum para pembunuh muncul dan dia sudah tahu apa yang akan
dia lakukan untuk menyelamatkan eyangnya, juga untuk membantu Ki Patih Narotama
yang juga akan dibunuh.
Kita telah
mengetahui apa yang terjadi di kepatihan pada malam harinya. Pembunuhan yang
diusahakan oleh Linggajaya dan Lasmini terhadap Ki Patih Narotama telah gagal,
bahkan terpaksa Lasmini dan Linggajaya melarikan diri karena Ki Patih Narotama
telah berhasil mengorek rahasia Lasmini dari mulut Sarti yang kemudian dibunuh
Linggajaya dengan Pasir Saktinya. Dan pada malam itu juga, usaha pembunuhan
terjadi pula di rumah tahanan dalam kompleks istana Sang Prabu Erlangga. Ratu
Mayang Gupita bersama Ki Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo dapat
diselundupkan ke dalam taman istana oleh Puteri Mandari. Tiga orang ini
mengenakan pakaian serba hitam dan kepala mereka dikerudungi kain hitam yang
ada lubangnya di bagian kedua mata. Puspa Dewi juga muncul dan gadis inipun
menggunakan pakaian dan kerudung kepala yang sama. Karena sebelumnya memang
sudah diatur, maka tanpa banyak cakap lagi mereka berempat sudah bergerak
dengan cepat, menyusup di antara pohon-pohon dan tanaman bunga di taman
mendekati rumah tahanan. Sejam kemudian empat orang ini bergerak, pelayan
pribadi Puteri Mandari yaitu Kanthi wanita berusia tiga puluh lima tahun yang
tinggi kurus dan bermuka burik hitam, membawa beberapa guci terisi anggur merah
dan membawa minuman itu ke tempat para prajurit yang menjaga rumah tahanan itu.
Jumlah mereka ada tujuh orang.
"Saya
diperintahkan Gusti Puteri Mandari untuk menghadiahkan anggur ini kepada kalian
dengan pesan agar kalian bertujuh tidak lengah dan menjaga benar benar supaya
di sini aman dan tidak ada tahanan yang dapat melarikan diri." kata Kanthi
sambil menyerahkan guci-guci terisi anggur itu. Para penjaga menjadi gembira
bukan main, apalagi setelah mereka membuka tutup guci dan tercium bau anggur
yang harum dan sedap bukan main. Setelah Kanthi pergi, mereka lalu minum-minum
sampai lima guci anggur itu habis pindah ke dalam perut mereka. Dan beberapa
lama kemudian, mereka bertujuh sudah rebah tumpang tindih di dalam gardu
penjagaan dalam keadaan pulas dan mendengkur. Ternyata Mandari telah mengisi
racun pembius yang amat kuat dalam anggur yang ia hadiahkan. Maka, empat orang
calon pembunuh Itu mudah saja memasuki rumah tahanan karena semua penjaga telah
tertidur dan suara apa saja tidak mungkin dapat mengugah mereka dari keadaan
tidur yang lebih mirip pingsan itu. Mereka segera memasuki rumah tahanan dan
Puspa Dewi berjalan paling depan karena ia yang dianggap sebagai penunjuk jalan
karena yang mengenal keadaan di situ. Puspa Dewi berjalan dan bersikap gagah,
siap dengan pedangnya seolah ia yang akan bergerak lebih dulu menyerang dua
orang yang harus mereka bunuh!
Akan tetapi
ketika mereka tiba depan ruangan di mana Nurseta ditahan ruangan itu kosong!
Mereka memeriksa ruangan kedua di mana Senopati Sindukerta dikeram, akan tetapi
ruangan inipun kosong! Diam-diam Puspa Dewi tersenyum lega. Ternyata Nurseta
telah mampu menggunakan kesaktiannya untuk membuka kamar tahanan itu dan keluar
dari situ!
"Wah,
celaka! Mereka berdua telah kabur!" kata Puspa Dewi.
Ratu Mayang
Gupita dan dua orang pembantunya tentu saja menjadi terkejut bukan main. Ratu
yang seperti raksasa betina ini tadinya sudah merasa yakin bahwa mereka berempat
pasti akan dapat membunuh dua orang tahanan itu dan mereka sama sekali tidak
khawatir karena yang menyelundupkan mereka masuk istana adalah Puteri Mandari
selir terkasih Sang Prabu Erlangga sendiri. Juga andaikata mereka gagal, jalan
keluar untuk kabur sudah dipersiapkan Puteri Mandari. Akan tetapi ternyata
sekarang, dua orang tawanan itu sudah kabur, tidak berada di dalam kamar
tahanan.
"Mereka
ke mana? Ke mana kita harus mencari mereka?" tanya Ratu Mayang Gupita
kepada Puspa Dewi.
"Aku
khawatir kita terjebak....." kata Cekel Aksomolo dengan suaranya yang
tinggi kecil seperti suara wanita. Bagaimanapun juga, kalau teringat akan nama
besar Sang Prabu Erlangga yang terkenal sakti mandraguna, tiga orang itu merasa
gentar bukan main.
Tiba-tiba
Nurseta muncul dari kegelapan.
"Kalian
mencari aku? Nah, aku berada di sini!"
Dibyo
Mamangkoro yang sudah gentar itu berseru,
"Celaka,
kita terjebak!"
Akan tetapi
Ratu Mayang Cupita cepat mendorongkan kedua tangannya ke arah Nurseta yang
berdiri dalam jarak lima depa. Dari kedua tangan wanita raksasa ini keluar bola
api yang mengeluarkan suara meledak!
Nurseta
mengenal serangan ampuh dan dahsyat sekali. Diapun lalu mendorongkan kedua
tangannya ke depan, menyambut serangan orang tinggi besar berkerudung hitam
itu.
"BLAARRR....!,,
Dua tenaga
sakti bertemu dan tubuh tinggi besar itu terhuyung kebelakang. Diam-diam Ratu
Mayang Gupita terkejut bukan main.
"Bahaya,
hayo kita lari!" kata Puspa Dewi dan Nurseta segera mengenal gadis itu.
Seruan gadis itu tentu mengandung maksud agar dia membiarkan mereka berempat
itu melarikan diri. Dia tidak tahu mengapa Puspa Dewi menghendaki demikian,
akan tetapi yakin bahwa gadis itu tentu berniat baik terhadap dirinya, pun
tidak mengejar dan membiarkan mereka berempat melarikan diri! Mereka berempat
lari ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu ke dalam taman lalu
menuju ke sudut taman di mana terdapat semak-semak tebal. Di tempat itu muncul
Puteri Mandari menyongsong mereka.
No comments:
Post a Comment