la terbelalak melihat dirinya di dalam pondok yang sudah diterangi lampu gantung dan menahan jeritnya ketika mengenal siapa yang berdiri kamar itu.
"Gusti
patih .....!" ia cepat turun dari atas bangku dan menyembah.
"Sarti,
engkau tahu siapa aku?"
".....paduka.....
gusti patih yang hamba hormati ....."
"Hemm,
engkau adalah pelayan pribadi yayi Lasmini, tentu tahu segala hal mengenai diri
Lasmini. Hayo sekarang ceritakan kepadaku apa yang direncanakannya, apa yang
dilakukannya! Bicara terus terang, jangan membohong!"
"Hamba.....
hamba tidak tahu apa apa, gusti. Yang hamba ketahui adalah bahwa Gusti Puteri
Lasmini adalah garwa Paduka yang setia dan amat mencinta Paduka....."
"Sarti,
sekarang katakan, apa yang kauketahui tentang Linggajaya, juru taman yang baru
itu. Hayo katakan!"
Karena merasa
ketakutan, Sarti menjadi gugup.
"Hamba.....
hamba tidak tahu apa-apa tentang denmas Linggajaya, gusti..."
Narotama
mengerutkan alisnya. Bau busuk yang ditutupi itu mulai tercium!
"Denmas
Linggajaya? Engkau menyebutnya denmas? Bukankah Linggajaya itu adik
misanmu?"
"Bukan
....." Tiba-tiba Sarti teringat akan pesan Lasmini.
".....oh,
ya, gusti. Dia itu adik misan hamba....."
"Lalu
kenapa engkau menyebutnya denmas? Jangan bohong kau!"
"Hamba.....
hamba..... tidak tahu apa-apa, gusti..... ampun, gusti ....."
"Sarti,
jelas engkau berbohong kepadaku! Sekarang katakan terus terang, ada hubungan
apa antara Lasmini dan Linggajaya? Hayo jawab!"
Wajah Sarti
menjadi pucat. Biarpun ia seorang yang pemberani, akan tetapi sekali ini ia
ketakutan bukan main.
"Hamba
..... hamba tidak tahu, gusti ..... hamba tidak berani ....."
Narotama
maklum bahwa wanita ini amat setia kepada Lasmini, selain setia juga takut
dihukum oleh selirnya itu. Maklum bahwa Lasmini adalah puteri Kerajaan Parang
Siluman, sedangkan Sarti adalah seorang abdi di kerajaan itu, tentu saja setia
dan juga takut. Setelah berpikir pikir sejenak, Narotama menggerakkan tangannya
menampar pundak Sarti.
"Plakk!"
Sarti
terguling dan ia merintih-rintih dan bergulingan. Tamparan itu mengandung Aji
Hasta Dibya yang dibatasi. Sarti menderita rasa nyeri yang amat hebat, seluruh
isi dada dan perutnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum, seperti
disayat-sayat, panas, pedih perih hampir tak tertahankan, la mengaduh aduh dan
menangis, padahal wanita ini sudah hampir lupa bagaimana menangis itu.
Narotama
menjulurkan tangan menekan pundak Sarti dan rasa nyeri luar biasa itupun lenyap.
Sarti masih mendekam di atas lantai sambil terengah engah, akan tetapi tidak
merintih lagi. Ia merasa napasnya sesak dan seluruh tubuhnya lemas dan
gemetaran.
"Nah,
sekarang akuilah terus terang atau aku akan membiarkan engkau tersiksa seperti
tadi, mati tidak hiduppun tidak!" Narotama membentak.
"Mohon
ampun, gusti ....."
"Hayo
katakan, jangan takut!"
"Gusti
puteri.....beliau..... memadu asmara dengan.....dengan denmas Linggajaya
....."
Narotama
tersenyum pahit. Hal ini sedikit banyak sudah diduganya. Ketika dia kembali
dari Karang Tirta dan dilayani Lasmini sebagai selirnya, dia sudah menaruh
curiga, merasakan ada sesuatu yang tidak wajar pada diri Lasmini. Tentu
selirnya itu telah melakukan kesalahan besar yang dia tidak tahu apa. Kemudian,
ketika terjadi penyerangan atas dirinya, dia menjadi semakin curiga. Kiranya
Lasmini bertindak menyeleweng, berjina dengan Linggajaya itu. Kini dia benar
benar hampir yakin bahwa Linggajaya pasti bukan juru taman biasa saja. Tentu
dia itulah putera Ki Suramenggala, mantan lurah Karang Tirta, yang kabarnya
sakti. Dan mengingat bahwa Lasmini yang memasukkan Linggajaya sebagai juru
taman dan membohonginya, mengatakan bahwa Linggajaya adalah saudara misan
Sarti, tentu kedua orang sesat ini telah mengadakan persekutuan yang busuk.
Besar sekali kemungkinannya Lasmini dan Linggajaya yang mengatur percobaan
pembunuhan atas dirinya itu dan dia tidak akan heran kalau dua orang yang
menyerangnya tadi adalah Lasmini dan Linggajaya!
"Bagus,
engkau mau berterus terang Sekarang coba ceritakan, apa saja yang direncanakan
Lasmini dan Linggajaya”. Melihat Sarti tampak ketakutan, Narotama berkata,
"Jangan
takut, kalau engkau mau berterus terang, aku akan mengampunimu karena engkau
hanya seorang pelayan."
".....
hamba sungguh tidak tahu, gusti, Yang hamba tahu adalah bahwa gusti puteri
melakukan hubungan dengan Linggajaya sejak paduka meninggalkan
kepatihan....."
Narotama
termenung dan berulang ulang menarik napas panjang. Sebetulnya, sejak pertama
kalinya, ketika dia melaksanakan perintah Sang Prabu Erlangga untuk meminang
Lasmini dan Mandari, dia sudah merasa agak khawatir. Kemudian cara yang
digunakan Lasmini untuk dapat menjadi selirnya, memberi peluang kepadanya untuk
meraba perut wanita itu karena hendak mengobati dan menyelamatkan nyawanya lalu
hal itu dijadikan alasan mengapa Lasmini ingin menjadi selirnya, hal itu sudah
membuat curiga. Dia tidak mencinta Lasmini, akan tetapi karena pandainya
Lasmini merayunya dan menyenangkan hatinya, diapun tunduk kepada nafsunya
sendiri. Dia hanya mencinta Lasmini karena nafsu, karena gairah berahi. Lalu
dia teringat akan cerita Sang Prabu Erlangga tentang peringatan Sang Empu
Bharada. Kini peringatan itu agaknya akan terjadi, dimulai dengan penyelewengan
Lasmini yang agaknya merencanakan pembunuhan terhadap dirinya.
Karena
melamun, Narotama kurang memperhatikan Sarti, maka dia terkejut sekali ketika
mendengar desir angin dan ada sinar hitam menyambar. Dia cepat melompat ke
samping, akan tetapi sinar itu menyambar ke arah Sarti dan perempuan itu terpelanting
roboh! Narotama terkejut akan tetapi dia segera melompat keluar dari pondok
untuk mengejar orang yang telah melakukan penyerangan itu. Akan tetapi setelah
tiba di pondok, kegelapan malam menghalanginya untuk dapat melakukan
penangkapan. Dia tidak tahu harus mengejar ke mana dan penyerang itu tentu
memiliki kepandaian tinggi sehingga tentu saja dapat mempergunakan kegelapan
malam itu untuk melarikan diri. Karena merasa percuma melakukan pengejaran
tanpa mengetahui siapa penyerangnya dan ke mana arah larinya, Narotama kembali
ke dalam pondok dan memeriksa keadaan Sarti. Wanita itu telah tewas dan pada
lehernya terdapat totol-totol hitam yang membuat seluruh leher itu berubah
menghitam. Narotama tahu bahwa Sarti tewas terkena serangan senjata rahasia beracun,
berupa pasir. Kecurigaannya terhadap Lasmini semakin kuat. Lasmini telah
berjina dengan Linggajaya, tentu ada persekutuan jahat di antara mereka yang
memiliki maksud lebih hebat daripada sekedar hubungan kotor itu. Dia tidak akan
bersikap lemah lagi. Lasmini dan Linggajaya harus dia tangkap dan dia akan
memaksa mereka mengaku apa yang tersembunyi di balik hubungan mereka. Siapa
tahu, bukan dia saja yang menjadi sasaran pembunuhan, melainkan ada maksud lain
yang lebih besar, misalnya dengan mencoba untuk meruntuhkan kekuasaan Sang
Prabu Erlangga! Narotama cepat berkelebat kembali ke gedung kepatihan untuk
menangkap Lasmini, kemudian baru menangkap Linggajaya. Ki Patih Narotama tidak
merasa heran ketika mendapatkan bahwa Lasmini tidak berada di kamarnya, juga
tidak ada dimanapun juga dalam gedung kepatihan. Lasmini telah minggat. Tentu
ia tahu bahwa rahasia busuknya, berjina dengan Linggajaya, telah dibuka oleh
Sarti kepada Narotama. Karena itu pula, dan agar jangan sampai Sarti membuka
mulut lebih lebar, maka Sarti dibunuh! Mungkin pembunuhnya adalah Linggajaya
dan pasir beracun itu sama dengan yang dipergunakan untuk menyerangnya ketika
dia bersamadhi dalam sanggar pamujan! Juga Narotama sama sekali tidak heran
ketika mendengar laporan bahwa Linggajaya juru taman baru itu, telah minggat
dari perumahan untuk para pekerja di kepatihan. Dia sudah menduganya demikian!
Narotama lalu
menemui Listyarini, isterinya, dan perlahan-lahan menceritakan tentang Lasmini.
Wajahnya tampak muram, bukan karena merasa sedih kehilangan selirnya yang
pandai merayu dan menyenangkan hatinya itu, melainkan menyesal bahwa dulu dia
tidak percaya kepada Listyarini yang sudah menyangka buruk kepada selir itu.
"Maafkan
aku, yayi Listyarini. Engkau benar sekali ketika dulu mencurigai Lasmini. Kini
akupun yakin bahwa Lasmini yang mengatur penculikan dan usaha pembunuhan atas
dirimu dahulu itu. Aku menyesal sekali tidak menanggapi kecurigaanmu terhadap
wanita yang rendah budi itu."
"Sudahlah,
kakangmas. Hal yang sudah lalu tidak perlu kita sesali. Masih beruntung
kakangmas terhindar dari malapetaka dan untuk berkah dan perlindungan Hyang
Widhi ini, sudah sepatutnya kalau kita menghaturkan rasa syukur dan terima
kasih kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas kasih karunianya ini."
"Aduh,
yayi. Engkau adalah seorang wanita yang halus budi dan bijaksana. sekarang
persiapkan pakaian pengganti untukku. Setelah pagi nanti, aku akan pergi
menghadap Sang Prabu untuk melaporkan segala peristiwa ini agar beliau dapat
berhati-hati terhadap Puteri Mandari, karena kalau Lasmini mempunyai niat busuk
terhadap diriku, tentu Mandari juga mempunyai rencana busuk yang mungkin akan
membahayakan Gusti Sinuwun dan kedudukannya."
Suami isteri
itu lalu memuja Yang Maha Kasih untuk menghaturkan rasa syukur dan terima kasih
mereka dan Narotama menanti datangnya pagi untuk membuat persiapan menghadapi
Sang Prabu Erlangga.
Sementara itu,
di istana Sang Prabu Erlangga juga terjadi hal-hal yang menggegerkan, walaupun
Sang Prabu Erlangga merahasiakan peristiwa itu dan dengan bijaksana sekali
mempersiapkan segala sesuatu untuk mengatasi keadaan. Terjadinya dua hari yang
lalu. Pada hari itu, pada waktu siang, Dyah Untari selir pertama Sang Prabu
Erlangga, mencari angin di taman karena hari itu panas bukan main. Dengan
ditemani dua orang pelayan, yaitu dua orang gadis dayang Dyah Untari duduk di
dekat kolam ikan yang ada air mancurnya sehingga terlindung pohon rindang, hawa
udara disitu sejuk dan nyaman. Selagi ia duduk diatas bangku panjang dan
menikmati semilirnya angin, tiba-tiba datang Puspa Dewi menghampirinya. Karena
di situ terdapat dua orang dayang pelayan selir pertama Sang Prabu Erlangga,
Puspa Dewi berjongkok dan menyembah sebagaimana layaknya seorang dayang
terhadap majikannya.
"Gusti
Puteri Dyah Untari, perkenankan hamba menghadap dan menyampaikan seuatu yang
amat penting kepada paduka." kata Puspa Dewi.
Dyah Untari
memandang dan ia tersenyum. Sejak gadis ini menjadi dayang melayani Mandari,
selir sang prabu yang paling baru, ia memperhatikannya dan ternyata sikap dayang
ini baik, hormat dan ramah, terutama kepadanya sehingga sudah beberapa kali
Dyah Untari bertemu dan mengajaknya bercakap-cakap. Ia menilai sikap Puspa Dewi
baik sekali dan ia merasa suka kepada dayang ini, walaupun semula ia curiga
karena Puspa Dewi adalah dayang pelayan Puteri Mandari.
"Ah,
engkaukah itu, Puspa Dewi? Apakah engkau diutus Puteri Mandari kemari?"
"Maafkan
hamba, gusti puteri. Hamba mempunyai urusan teramat penting yang hanya dapat
hamba sampaikan kepada paduka seorang, tanpa didengar oleh orang lain."
kata Puspa Dewi sambil mengerling ke arah dua orang dayang pelayan yang duduk
bersimpuh tak jauh dari situ.
Dyah Untari
mengangguk, lalu berkata kepada dua orang dayang pelayannya
"Kalian
pergilah ke pintu taman di sana dan jangan sekali-kali mendengarkan
percakapanku dengan Puspa Dewi, juga jangan sekali-kali mengatakan kepada
siapapun juga bahwa Puspa Dewi menghadap padaku."
Dua orang
dayang itu menyembah lalu pergi. Puspa Dewi merasa kagum kepada Dyah Untari
karena sebelum ia bicara puteri itu agaknya sudah tahu bahwa ia akan
membicarakan hal penting sekali dan juga dapat menduga bahwa ia tidak ingin
diketahui, terutama oleh Puteri Mandari bahwa siang hari itu ia menghadap
Puteri Dyah Untari di dalam taman.
"Nah,
bicaralah, Puspa Dewi." kata Dyah Untari.
"Duduk
sajalah di sini." Ia menunjuk ke sisi bangku di sebelahnya.
"Biar
hamba di sini saja, gusti puteri. Kalau terlihat orang lain hamba duduk sejajar
dengan paduka, sungguh akan menimbulkan kecurigaan dan keheranan orang."
"He ,
pada hakekatnya, kalau bicara dengan orang yang kurasa cocok, aku lebih suka
bicara seperti sahabat, bukan seperti pelayan dengan majikannya. Akan tetapi
sudahlah, mungkin engkau benar. Nah, apa yang hendak kaukatakan?"
"Perkara
yang besar sekali, gusti puteri, yang juga mengancam keselamatan kerajaan
paduka."
Dyah Untari
terbelalak dan kini duduk tegak, alisnya berkerut dan ia memandang kepada Puspa
Dewi dengan sinar mata menyelidik.
"Puspa
Dewi, perkara sepenting itu sebaiknya kaulaporkan langsung kepada Gusti Sinuwun!"
"Tidak,
gusti. Hamba tahu bahwa ada bahayanya laporan hamba tidak akan dipercaya dan
hanya menimbulkan kegemparan. Hamba merasa bahwa di dalam istana ini, hanya
paduka yang percaya kepada hamba, karena itu hamba memberanikan diri
memberitahukan kepada paduka, dengan bahaya ketahuan."
"Cepat
katakan, perkara apakah itu?" tanya sang puteri cemas mendengar bahwa ada
perkara yang mengancam keselamatan kerajaan Kahuripan.
Puspa Dewi
menoleh ke arah pintu ruangan itu.
"Maaf,
gusti puteri, hamba harus menutupkan daun pintu dan jendela itu dulu."
Lalu ia bangkit dan menutupkan daun pintu jendela.
Dyah Untari
memandang heran melihat kelakuan dayang yang muda dan cantik jelita itu.
"Ada
apakah sebenarnya, Puspa Dewi, Engkau begitu penuh rahasia!" tanyanya.
Puspa Dewi
sudah duduk kembali di atas lantai, bersimpuh dan dekat sekali dengan Dyah
Untari sehingga dengan berbisik saja ia sudah dapat didengar oleh puteri itu.
Dengan suara berbisik Puspa Dewi menceritakan akan terjadinya persekutuan untuk
membunuh Ki Patih Narotama, Nurseta, Senopati Sindukerta, dan pemberontakan
yang direncanakan Pangeran Hendratama yang dibantu oleh empat kerajaan kecil.
Mendengar ini, wajah Dyah Untari menjadi pucat, matanya terbelalak memandang
kepada Puspa Dewi. Ada keraguan dalam pandangan matanya seolah ia kurang
percaya akan laporan itu.
"Puspa
Dewi, laporanmu ini merupakan perkara yang amat gawat! Akan tetapi sukar dapat
dipercaya! Bagaimanakah engkau dapat mengetahui semua itu?" Mata yang
lembut itu kini menatap wajah Puspa Dewi penuh selidik.
"Gusti
puteri, sebaiknya hamba mengaku terus terang saja. Sesungguhnya, Hamba bukanlah
dayang biasa. Hamba diselundupkan ke istana oleh Puteri Mandari."
No comments:
Post a Comment