Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 77


Orang-orang ini semua bukanlah orang baik-baik, pikirnya dan ia merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia terlibat dalam persekongkolan jahat ini. Andaikata Kadipaten Wura-Wuri berperang melawan kerajaan manapun juga, ia tidak akan ragu membela Wura-Wuri demi membalas budi guru yang juga menjadi ibu angkatnya dan yang kini menjadi Permaisuri Wura-Wuri itu. Akan tetapi kalau menjadi anggota persekutuan jahat dan curang seperti ini, ia merasa muak dan malu sendiri. Setelah merundingkan dengan matang semua persiapan pemberontakan Pangeran Hendratama yang digabung dengan kekuatan pasukan empat kerajaan yang menjadi musuh lama Kahuripan, pertemuan itu dibubarkan dan semua orang pulang ke tempat masing-masing.

Malam itu gelap sekali. Sebetulnya, bulan setengah tua semestinya muncul dengan cahayanya yang walaupun tidak terang benar, cukup mendatangkan cuaca yang remang-remang. Akan tetapi agaknya mendung tebal menutupi bulan sehingga tidak tampak dan cuaca menjadi gelap pekat. Ki Patih Narotama baru saja kembali dari perjalanannya menyelidiki Nurseta Kini dia harus menyelidiki keadaan Pangeran Hendratama untuk melihat siapa di antara kedua pihak itu yang benar dan siapa yang berbohong dan bersalah. Selama ini, hatinya sering merasa tidak enak karena Sang Prabu Erlangga pernah bercerita kepadanya tentang peringatan Empu Bharada akan adanya awan gelap atas Kahuripan yang berarti bahwa Kahuripan akan terancam bahaya. Malam ini, setelah kembali dari dusun Karang Tirta, dan melihat langit begitu gelap bukan saja bulan sepotong tidak tampak juga tidak ada sebutirpun bintang tampak hatinya menjadi semakin tidak enak Seperti biasanya, kalau hatinya sedang risau tanpa sebab seperti itu, dia melarikan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Kuasa) untuk berserah diri dan mohon perlindungan dan bimbingan.

Iapun pesan kepada para isteri dan dayang pelayan di kepatihan bahwa malam itu dia tidak mau diganggu, kemudian dia memasuki sanggar pamujan (tempat berdoa) untuk bersamadhi dan mencurahkan seluruh hati akal pikiran, seluruh cipta, rasa, dan karsa (kemauan) kepada Yang Maha Esa. Samadhi yang dilakukan Narotama bukan samadhi seorang pendeta pertapa, melainkan samadhi seorang satria sehingga walaupun dia tenggelam dalam samadhinya, namun perasaan jasmaninya tetap peka dan siap melindungi dirinya dari marabahaya. Menjelang tengah malam seluruh penghuni istana kepatihan telah tidur lelap. Suasana menjadi sunyi sekali, udara amat dingin sehingga beberapa orang prajurit yang bertugas jaga, berkumpul dalam gardu penjagaan di depan gedung di mana mereka membuat api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk. Di dalam taman kepatihan terdapat kesibukan. Beberapa sosok bayangan orang berkelebatan. Saking gelapnya cuaca, hanya orang yang amat dekat dengan mereka saja yang dapat mengetahui bahwa di sana ada beberapa orang bergerak dalam gelap. Dari jarak sepuluh depa saja, orang tidak akan dapat melihat apa-apa. Mereka itu adalah Lasmini dan Linggajaya bersama tujuh orang yang membawa gendewa dan di pinggang mereka tergantung tempat anak panah. Tujuh orang itu adalah pemanah-pemanah ulung, pembidik tepat yang dikirim oleh Pangeran Hendratama untuk membantu dua orang yang bertugas membunuh Ki Patih Narotama. Mereka semua, termasuk Lasmini dan Linggajaya, mengenakan pakaian hitam, bahkan kepala dan muka mereka memakai kerudung hitam yang dilubangi di bagian mata sehingga mereka kelihatan sama semua, tidak dapat dikenal, bahkan tidak dapat diketahui pria atau wanita. Lasmini tentu saja tidak membawa Cambuk Sarpakenaka yang menjadi senjata andalannya, juga Linggajaya tidak membawa Pecut Tatit Geni karena senjata mereka ini tentu akan membuka rahasia mereka, sungguhpun kehadiran Linggajaya di situ merupakan rahasia. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa Ki Patih Narotama telah mendengar bahwa putera Ki Lurah Suramenggala yang dia pecat itu bernama Linggajaya yang mungkin sekali adalah pemuda yang menjadi juru taman, yang namanya juga Linggajaya!
Lasmini bersenjatakan sebatang pedang dan Linggajaya membawa kerisnya, Candalamanik, luk tiga belas yang amat ampuh. Tujuh orang pemanah itu lalu diperintahkan untuk bersembunyi di luar pondok sanggar pamujan yang berdiri di sudut kiri taman. Pondok kecil ini tidak pernah dimasuki siapapun kecuali sang patih dan hanya dipergunakan kalau Narotama hendak bersamadhi.

Setelah tujuh orang pemanah itu mencari tempat yang cocok, mereka mempersiapkan gendewa dan anak panah untuk menyerang apabila Narotama keluar dari pondok itu. Ki Patih Narotama memiliki kepekaan perasaan yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Dia dan Sang Prabu Erlangga adalah orang-orang sakti mandraguna dan ahli tapa yang hidupnya bersih dan selalu menjaga agar mereka melangkah di sepanjang jalan kebenaran. Semua ini mendatangkan kepekaan yang tak dapat dilatih manusia, melainkan yang datang sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa bagi orang-orang yang senantiasa melaksanakan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan mereka. Selagi tenggelam ke dalam samadhi yang tenang dan kosong, tiba-tiba Narotama merasa betapa nadinya berdenyut cepat. Denyut jantung itu tidak normal, terasa di seluruh tubuh dan tahulah Narotama bahwa ada hal yang tidak wajar, tidak beres dan mengancam keselamatannya. Akan tetapi dia tetap tenang saja, sama sekali tidak menjadi gugup, bahkan tetap duduk bersila, namun seluruh urat syarafnya siap untuk menghadapi segala sesuatu yang mengancamnya, siap untuk melindungi dirinya dari ancaman marabahaya. Tiba-tiba dia merasa ada angin berhembus perlahan dan lampu penerangan yang berada di kamar itu apinya bergoyang. Ini menandakan bahwa ada angin masuk ke kamar itu, walaupun angin itu sedikit saja. Mungkin ada sesuatu yang terbuka, terbuka sedikit sehingga ada angin menerobos masuk. Narotama tetap duduk bersila dengan tenang, seolah tidak merasakan atau melihat apa-apa. Akan tetapi pendengarannya yang amat peka menangkap gerakan lembut di luar jendela pondok itu, lebih dari seorang. Seluruh urat syarafnya menegang karena siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Tiba-tiba pendengarannya dapat menangkap suara mendesir, suara benda kecil menyambar ke arahnya. Dengan tubuh masih duduk bersila, Narotama mencelat ke atas dan sinar hitam menyambar ke arah punggungnya. Narotama tentu saja tidak melihat ini karena serangan itu datang dari arah belakang. Namun pendengaran dan perasaannya dapat menangkap bahkan mungkin lebih jelas daripada kalau dia melihatnya karena cuaca dalam kamar itu hanya remang-remang saking kecilnya lampu penerangan di dalam ruangan itu. Sinar hitam itu meluncur lewat di bawah tubuhnya dan ketika mengenai dinding di depannya, tampak bara api berpijar dan suara pasir runtuh ke atas lantai. Diam-diam Narotama mengenal senjata rahasia yang ditimpukkan ke arahnya itu. Dia pernah mengenal senjata rahasia seperti itu, yakni pasir yang mengandung racun dan melihat bara api berpijar ketika pasir-pasir mengenai dinding dia tahu bahwa penyerangnya memiliki tenaga sakti yang cukup hebat.
"Pengecut!" bentaknya dan tubuhnya yang tadinya mencelat ke atas kini meluncur ke arah jendela.
"Braaakkkk .....!"
Jendela itu telah diterjangnya dan jebol. Sinar lampu dan kamar kini menyorot keluar melalui jendela dan Narotama melihat dua orang yang berpakaian serba hitam dan kepala berikut mukanya ditutupi kerudung hitam yang ada dua lubang kecil di bagian mata. Tampak mata kedua itu berkilau terkena sinar lampu dari dalam. Dua orang itu. Lasmini dan Linggajaya. tidak merasa heran melihat Narotama dapat menghindarkan diri dari serangan sambitan Pasir Sakti yang dilontarkan Linggajaya tadi karena mereka memang maklum akan kedigdayaan sang patih dan tidak terlalu mengharapkan Narotama dapat dirobohkan sedemikian mudahnya dengan serangan senjata gelap. Mereka berdua tidak memberi kesempatan lagi. Begitu Narotama turun ke atas tanah. Lasmini sudah menerjang dengan pedangnya dan Linggajaya juga menyerang dengan keris pusakanya. Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyat, secepat kilat dan saking kuatnya mendatangkan angin berdesing, Narotama diam-diam terkejut. Dua orang penyerangnya adalah orang orang sakti! Dengan mengerahkan tenaga saktinya tubuh Narotama berkelebatan mengelak dari dua serangan itu. Sambil mengelak dia mengirim tamparan dan tendangan yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat. Dua orang itu terkejut bukan main karena biarpun tamparan dan tendangan itu tidak mengenai tubuh mereka, akan tetapi angin pukulannya menyambar dahsyat membuat mereka terhuyung! Lasmini terkejut bukan main. Ia tahu bahwa orang yang menjadi suaminya ini sakti mandraguna, akan tetapi ia belum pernah mengalami diserang dengan tenaga sakti yang sedemikian dahsyat, panas dan mendatangkan angin pukulan yang dapat membuat dia dan Linggajaya terhuyung! Mereka berdua masih mencoba untuk mengeroyok dan mendesak Narotama. Ki Patih Narotama sejenak terdesak saking hebatnya pedang dan keris itu menyerang secara bertubi-tubi. Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya mencelat ke atas, ke arah sebatang pohon sawo yang tumbuh di dekat sanggar pamujan yang berada di taman itu. Sekali tangannya meraih, ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah memegang potongan ranting pohon sebesar lengannya, sepanjang satu depa. Masih ada berapa helai daun menempel pada ranting itu.

Kini dengan ranting di tangan Narotama mengamuk. Rantingnya digerakkan sedemikian hebatnya sehingga terdengar angin menderu dan tubuh ki patih dilindungi gulungan sinar yang menimbulkan angin kuat. Ketika dua orang itu mendesak, ranting itu menangkis pedang dan keris hampir berbareng.
"Trang-tranggg ....."
Lasmini dan Linggajaya kaget setengah mati karena tangkisan ranting pada senjata mereka itu mengandung tenaga yang demikian dahsyatnya sehingga mereka terpental ke belakang dan nyaris terjengkang. Cepat mereka berjungkir balik ke belakang sampai tiga kali lalu seperti dikomando saja mereka berdua menghilang dalam kegelapan malam. Pada saat itu, tujuh orang pemanah yang sudah mendapat tugas meluncurkan anak panah mereka ke arah tubuh Narotama. Ki Patih Narotama marah melihat serangan gelap dengan anak panah ini. Bagaikan seekor burung garuda terbang, tubuhnya bergerak cepat dan begitu tubuhnya berputar, kedua tangannya sudah berhasil menangkap tujuh batang anak panah itu dan kedua tangannya bergantian menyambitkan tujuh batang anak panah itu ke arah dari mana senjata gelap itu datang menyerangnya. Terdengar jeritan susul menyusul dan tujuh orang pemanah itu tewas dengan dada tertembus anak panah mereka sendiri! Peristiwa itu terjadi amat cepat sehingga mereka tidak sempat meluncurkan anak panah kedua. Narotama hendak mengejar dua orang penyerangnya tadi, akan tetapi mereka sudah tidak tampak lagi. Pada saat itu, terdengar suara Lasmini.
"Kakangmas Narotama .....! Paduka berada di mana?"
Narotama kembali mendekati jendela sehingga tersorot sinar lampu dari dalam.\
"Aku di sini, yayi Lasmini!"
Lasmini melompat dekat dan memegang kedua tangan suaminya, wajahnya tampak pucat ketika ia memandang kearah jendela yang jebol.
"Kakangmas, apa yang terjadi.....? Hamba..... tadi merasa gelisah dan tidak enak sekali hati ini..... hamba khawatir terjadi sesuatu. Dan kakangmas berada luar pondok dan jendela itu..... ah, tentu telah terjadi sesuatu yang hebat. Apakah yang telah terjadi, kakangmas?"
"Hemm, ada dua orang bertopeng berusaha membunuhku dan ada beberapa orang lain yang menyerangku dengan panah secara menggelap. Akan tetapi agaknya aku telah dapat merobohkan penyerang-penyerang gelap itu."
Lasmini berkata,
"Mari kita periksa kakangmas. Aku akan mengambil obor!"
Ia berlari ke arah belakang gedung dan tak lama kemudian sudah datang kembali obor di tangan kiri dan Cambuk Sarpokenoko di tangan kanan! Ia tampak marah sekali. Narotama dan Lasmini lalu memeriksa di tempat-tempat dari mana tadi datang sambaran anak panah yang dia kembalikan dengan lontaran kuat. Mereka menemukan tujuh orang berpakaian hitam hitam yang memakai kerudung di kepalanya, sudah menggeletak tewas dengan anak panah menembus dada. Akan tetapi dua orang di antara mereka yang hanya terkena anak panah di pundak sehingga semestinya mereka tidak tewas, akan tetapi ternyata mereka berdua juga sudah tewas dengan luka tikaman keris pada dada mereka! Narotama mengerutkan alisnya, jelas bahwa ada tangan lain yang membunuh dua orang yang tidak mati oleh anak panah ini! Melihat betapa tujuh orang itu sudah tewas, lega hati Lasmini. Tadi ia sudah khawatir kalau-kalau ada di antara mereka yang belum mati, maka ia sengaja membawa Cambuk Sarpokenoko untuk membunuh mereka yang belum mati. Akan tetapi ternyata hal itu tidak perlu ia lakukan dan hal ini membuktikan bahwa Linggajaya telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah tadi ia dan Linggajaya gagal membunuh Narotama, Mereka cepat melarikan diri dan ia memerintahkan Linggajaya untuk membunuh pemanah gelap kalau mereka juga gagal membunuh Narotama agar jangan ada yang dapat membuka rahasia.
"Aduh, sayang sekali, kakangmas! Kenapa mereka dibunuh semua? Kalau ada yang dapat tertangkap hidup kan dapat ditanya siapa yang menyuruh mereka mencoba membunuh paduka?" kata Lasmini dengan suara menyesal.

Narotama hendak menjawab, akan tetapi entah bagaimana, ada suatu perasaan tidak enak yang membuat dia tidak jadi bicara dan menyinggung soal dua orang pemanah yang bukan tewas oleh sambitan anak panah yang dilakukannya, melainkan tewas oleh tikaman keris.
"Sudahlah, mari kita masuk ke dalam." katanya dan mereka berdua meninggalkan taman itu memasuki gedung.
Setelah masuk gedung baru Narotama tahu apa perasaan tidak enak itu. Dia merasa curiga kepada Lasmini! Akan tetapi karena tidak ada bukti, diapun tidak dapat sembarangan menuduhnya. Akan tetapi jauh lewat tengah malam, ketika Lasmini sudah tidur pulas, Narotama keluar dari kamarnya dan berkelebat tanpa suara menuju ke bagian belakang gedung kepatihan. Dia sudah tahu dimana kamar orang yang hendak dicarinya, yaitu Sarti, pelayan pribadi Lasmini. Dia harus bertindak sekarang juga, sebelum keadaan menjadi semakin berbahaya. Sarti Itulah satu-satunya orang yang mengetahui segalanya tentang Lasmini. Tanpa mengeluarkan suara, Narotama dapat membuka jendela kamar itu dari luar, lalu dia melompat masuk. Sebuah lampu kecil yang tergantung di situ cukup terang baginya untuk dapat melihat tubuh yang rebah miring di atas pembaringan dalam keadaan tidur nyenyak dan mendengkur. Tubuh seorang wanita yang tinggi besar. Itulah Sarti. Narotama mendekati pembaringan dan mengguncang pundak wanita itu. Sarti terbangun dan melihat sesosok bayangan berdiri di dekat pembaringannya, wanita ini trengginas (dengan sigap) bangkit dan menyerang dengan tamparan tangannya yang besar dan kuat. Akan tetapi Narotama menangkap pergelangan tangan itu dan sekali jari jari tangannya bergerak, dia menyodok leher Sarti dan tubuh tinggi besar itu terkulai pingsan. Narotama lalu mengempit tubuh Sarti, dibawanya keluar memasuki taman yang sepi, membawanya ke pondok di tengah taman. Setelah melepaskan tubuh Sarti ke atas bangku yang berada di pondok itu, Narotama lalu memijat tengkuk wanita itu dan siumanlah Sarti.

<<<Bagian 76                                                                                         Bagian 78 >>>

No comments:

Post a Comment