Orang-orang ini semua bukanlah orang baik-baik, pikirnya dan ia merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia terlibat dalam persekongkolan jahat ini. Andaikata Kadipaten Wura-Wuri berperang melawan kerajaan manapun juga, ia tidak akan ragu membela Wura-Wuri demi membalas budi guru yang juga menjadi ibu angkatnya dan yang kini menjadi Permaisuri Wura-Wuri itu. Akan tetapi kalau menjadi anggota persekutuan jahat dan curang seperti ini, ia merasa muak dan malu sendiri. Setelah merundingkan dengan matang semua persiapan pemberontakan Pangeran Hendratama yang digabung dengan kekuatan pasukan empat kerajaan yang menjadi musuh lama Kahuripan, pertemuan itu dibubarkan dan semua orang pulang ke tempat masing-masing.
Malam itu
gelap sekali. Sebetulnya, bulan setengah tua semestinya muncul dengan cahayanya
yang walaupun tidak terang benar, cukup mendatangkan cuaca yang remang-remang.
Akan tetapi agaknya mendung tebal menutupi bulan sehingga tidak tampak dan
cuaca menjadi gelap pekat. Ki Patih Narotama baru saja kembali dari
perjalanannya menyelidiki Nurseta Kini dia harus menyelidiki keadaan Pangeran
Hendratama untuk melihat siapa di antara kedua pihak itu yang benar dan siapa
yang berbohong dan bersalah. Selama ini, hatinya sering merasa tidak enak
karena Sang Prabu Erlangga pernah bercerita kepadanya tentang peringatan Empu
Bharada akan adanya awan gelap atas Kahuripan yang berarti bahwa Kahuripan akan
terancam bahaya. Malam ini, setelah kembali dari dusun Karang Tirta, dan
melihat langit begitu gelap bukan saja bulan sepotong tidak tampak juga tidak
ada sebutirpun bintang tampak hatinya menjadi semakin tidak enak Seperti
biasanya, kalau hatinya sedang risau tanpa sebab seperti itu, dia melarikan
diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Kuasa) untuk berserah diri dan
mohon perlindungan dan bimbingan.
Iapun pesan
kepada para isteri dan dayang pelayan di kepatihan bahwa malam itu dia tidak
mau diganggu, kemudian dia memasuki sanggar pamujan (tempat berdoa) untuk
bersamadhi dan mencurahkan seluruh hati akal pikiran, seluruh cipta, rasa, dan
karsa (kemauan) kepada Yang Maha Esa. Samadhi yang dilakukan Narotama bukan
samadhi seorang pendeta pertapa, melainkan samadhi seorang satria sehingga
walaupun dia tenggelam dalam samadhinya, namun perasaan jasmaninya tetap peka
dan siap melindungi dirinya dari marabahaya. Menjelang tengah malam seluruh
penghuni istana kepatihan telah tidur lelap. Suasana menjadi sunyi sekali,
udara amat dingin sehingga beberapa orang prajurit yang bertugas jaga,
berkumpul dalam gardu penjagaan di depan gedung di mana mereka membuat api
unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk. Di dalam taman kepatihan terdapat
kesibukan. Beberapa sosok bayangan orang berkelebatan. Saking gelapnya cuaca,
hanya orang yang amat dekat dengan mereka saja yang dapat mengetahui bahwa di
sana ada beberapa orang bergerak dalam gelap. Dari jarak sepuluh depa saja,
orang tidak akan dapat melihat apa-apa. Mereka itu adalah Lasmini dan
Linggajaya bersama tujuh orang yang membawa gendewa dan di pinggang mereka
tergantung tempat anak panah. Tujuh orang itu adalah pemanah-pemanah ulung,
pembidik tepat yang dikirim oleh Pangeran Hendratama untuk membantu dua orang
yang bertugas membunuh Ki Patih Narotama. Mereka semua, termasuk Lasmini dan
Linggajaya, mengenakan pakaian hitam, bahkan kepala dan muka mereka memakai
kerudung hitam yang dilubangi di bagian mata sehingga mereka kelihatan sama
semua, tidak dapat dikenal, bahkan tidak dapat diketahui pria atau wanita.
Lasmini tentu saja tidak membawa Cambuk Sarpakenaka yang menjadi senjata
andalannya, juga Linggajaya tidak membawa Pecut Tatit Geni karena senjata
mereka ini tentu akan membuka rahasia mereka, sungguhpun kehadiran Linggajaya
di situ merupakan rahasia. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa Ki Patih Narotama
telah mendengar bahwa putera Ki Lurah Suramenggala yang dia pecat itu bernama
Linggajaya yang mungkin sekali adalah pemuda yang menjadi juru taman, yang
namanya juga Linggajaya!
Lasmini
bersenjatakan sebatang pedang dan Linggajaya membawa kerisnya, Candalamanik,
luk tiga belas yang amat ampuh. Tujuh orang pemanah itu lalu diperintahkan
untuk bersembunyi di luar pondok sanggar pamujan yang berdiri di sudut kiri
taman. Pondok kecil ini tidak pernah dimasuki siapapun kecuali sang patih dan
hanya dipergunakan kalau Narotama hendak bersamadhi.
Setelah tujuh
orang pemanah itu mencari tempat yang cocok, mereka mempersiapkan gendewa dan
anak panah untuk menyerang apabila Narotama keluar dari pondok itu. Ki Patih
Narotama memiliki kepekaan perasaan yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Dia
dan Sang Prabu Erlangga adalah orang-orang sakti mandraguna dan ahli tapa yang
hidupnya bersih dan selalu menjaga agar mereka melangkah di sepanjang jalan
kebenaran. Semua ini mendatangkan kepekaan yang tak dapat dilatih manusia,
melainkan yang datang sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa bagi orang-orang
yang senantiasa melaksanakan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan mereka.
Selagi tenggelam ke dalam samadhi yang tenang dan kosong, tiba-tiba Narotama
merasa betapa nadinya berdenyut cepat. Denyut jantung itu tidak normal, terasa
di seluruh tubuh dan tahulah Narotama bahwa ada hal yang tidak wajar, tidak
beres dan mengancam keselamatannya. Akan tetapi dia tetap tenang saja, sama
sekali tidak menjadi gugup, bahkan tetap duduk bersila, namun seluruh urat
syarafnya siap untuk menghadapi segala sesuatu yang mengancamnya, siap untuk
melindungi dirinya dari ancaman marabahaya. Tiba-tiba dia merasa ada angin
berhembus perlahan dan lampu penerangan yang berada di kamar itu apinya
bergoyang. Ini menandakan bahwa ada angin masuk ke kamar itu, walaupun angin
itu sedikit saja. Mungkin ada sesuatu yang terbuka, terbuka sedikit sehingga
ada angin menerobos masuk. Narotama tetap duduk bersila dengan tenang, seolah
tidak merasakan atau melihat apa-apa. Akan tetapi pendengarannya yang amat peka
menangkap gerakan lembut di luar jendela pondok itu, lebih dari seorang.
Seluruh urat syarafnya menegang karena siap siaga menghadapi segala
kemungkinan.
Tiba-tiba
pendengarannya dapat menangkap suara mendesir, suara benda kecil menyambar ke
arahnya. Dengan tubuh masih duduk bersila, Narotama mencelat ke atas dan sinar
hitam menyambar ke arah punggungnya. Narotama tentu saja tidak melihat ini
karena serangan itu datang dari arah belakang. Namun pendengaran dan
perasaannya dapat menangkap bahkan mungkin lebih jelas daripada kalau dia
melihatnya karena cuaca dalam kamar itu hanya remang-remang saking kecilnya
lampu penerangan di dalam ruangan itu. Sinar hitam itu meluncur lewat di bawah
tubuhnya dan ketika mengenai dinding di depannya, tampak bara api berpijar dan
suara pasir runtuh ke atas lantai. Diam-diam Narotama mengenal senjata rahasia
yang ditimpukkan ke arahnya itu. Dia pernah mengenal senjata rahasia seperti
itu, yakni pasir yang mengandung racun dan melihat bara api berpijar ketika
pasir-pasir mengenai dinding dia tahu bahwa penyerangnya memiliki tenaga sakti
yang cukup hebat.
"Pengecut!"
bentaknya dan tubuhnya yang tadinya mencelat ke atas kini meluncur ke arah
jendela.
"Braaakkkk
.....!"
Jendela itu
telah diterjangnya dan jebol. Sinar lampu dan kamar kini menyorot keluar
melalui jendela dan Narotama melihat dua orang yang berpakaian serba hitam dan
kepala berikut mukanya ditutupi kerudung hitam yang ada dua lubang kecil di
bagian mata. Tampak mata kedua itu berkilau terkena sinar lampu dari dalam. Dua
orang itu. Lasmini dan Linggajaya. tidak merasa heran melihat Narotama dapat
menghindarkan diri dari serangan sambitan Pasir Sakti yang dilontarkan
Linggajaya tadi karena mereka memang maklum akan kedigdayaan sang patih dan
tidak terlalu mengharapkan Narotama dapat dirobohkan sedemikian mudahnya dengan
serangan senjata gelap. Mereka berdua tidak memberi kesempatan lagi. Begitu
Narotama turun ke atas tanah. Lasmini sudah menerjang dengan pedangnya dan
Linggajaya juga menyerang dengan keris pusakanya. Melihat datangnya serangan
yang demikian dahsyat, secepat kilat dan saking kuatnya mendatangkan angin
berdesing, Narotama diam-diam terkejut. Dua orang penyerangnya adalah orang
orang sakti! Dengan mengerahkan tenaga saktinya tubuh Narotama berkelebatan
mengelak dari dua serangan itu. Sambil mengelak dia mengirim tamparan dan
tendangan yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat. Dua orang itu terkejut
bukan main karena biarpun tamparan dan tendangan itu tidak mengenai tubuh
mereka, akan tetapi angin pukulannya menyambar dahsyat membuat mereka
terhuyung! Lasmini terkejut bukan main. Ia tahu bahwa orang yang menjadi
suaminya ini sakti mandraguna, akan tetapi ia belum pernah mengalami diserang
dengan tenaga sakti yang sedemikian dahsyat, panas dan mendatangkan angin
pukulan yang dapat membuat dia dan Linggajaya terhuyung! Mereka berdua masih
mencoba untuk mengeroyok dan mendesak Narotama. Ki Patih Narotama sejenak
terdesak saking hebatnya pedang dan keris itu menyerang secara bertubi-tubi.
Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya mencelat ke atas,
ke arah sebatang pohon sawo yang tumbuh di dekat sanggar pamujan yang berada di
taman itu. Sekali tangannya meraih, ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah
memegang potongan ranting pohon sebesar lengannya, sepanjang satu depa. Masih
ada berapa helai daun menempel pada ranting itu.
Kini dengan
ranting di tangan Narotama mengamuk. Rantingnya digerakkan sedemikian hebatnya
sehingga terdengar angin menderu dan tubuh ki patih dilindungi gulungan sinar
yang menimbulkan angin kuat. Ketika dua orang itu mendesak, ranting itu
menangkis pedang dan keris hampir berbareng.
"Trang-tranggg
....."
Lasmini dan
Linggajaya kaget setengah mati karena tangkisan ranting pada senjata mereka itu
mengandung tenaga yang demikian dahsyatnya sehingga mereka terpental ke
belakang dan nyaris terjengkang. Cepat mereka berjungkir balik ke belakang
sampai tiga kali lalu seperti dikomando saja mereka berdua menghilang dalam
kegelapan malam. Pada saat itu, tujuh orang pemanah yang sudah mendapat tugas
meluncurkan anak panah mereka ke arah tubuh Narotama. Ki Patih Narotama marah
melihat serangan gelap dengan anak panah ini. Bagaikan seekor burung garuda
terbang, tubuhnya bergerak cepat dan begitu tubuhnya berputar, kedua tangannya
sudah berhasil menangkap tujuh batang anak panah itu dan kedua tangannya
bergantian menyambitkan tujuh batang anak panah itu ke arah dari mana senjata
gelap itu datang menyerangnya. Terdengar jeritan susul menyusul dan tujuh orang
pemanah itu tewas dengan dada tertembus anak panah mereka sendiri! Peristiwa
itu terjadi amat cepat sehingga mereka tidak sempat meluncurkan anak panah
kedua. Narotama hendak mengejar dua orang penyerangnya tadi, akan tetapi mereka
sudah tidak tampak lagi. Pada saat itu, terdengar suara Lasmini.
"Kakangmas
Narotama .....! Paduka berada di mana?"
Narotama
kembali mendekati jendela sehingga tersorot sinar lampu dari dalam.\
"Aku di
sini, yayi Lasmini!"
Lasmini
melompat dekat dan memegang kedua tangan suaminya, wajahnya tampak pucat ketika
ia memandang kearah jendela yang jebol.
"Kakangmas,
apa yang terjadi.....? Hamba..... tadi merasa gelisah dan tidak enak sekali
hati ini..... hamba khawatir terjadi sesuatu. Dan kakangmas berada luar pondok
dan jendela itu..... ah, tentu telah terjadi sesuatu yang hebat. Apakah yang
telah terjadi, kakangmas?"
"Hemm,
ada dua orang bertopeng berusaha membunuhku dan ada beberapa orang lain yang
menyerangku dengan panah secara menggelap. Akan tetapi agaknya aku telah dapat
merobohkan penyerang-penyerang gelap itu."
Lasmini
berkata,
"Mari
kita periksa kakangmas. Aku akan mengambil obor!"
Ia berlari ke
arah belakang gedung dan tak lama kemudian sudah datang kembali obor di tangan
kiri dan Cambuk Sarpokenoko di tangan kanan! Ia tampak marah sekali. Narotama
dan Lasmini lalu memeriksa di tempat-tempat dari mana tadi datang sambaran anak
panah yang dia kembalikan dengan lontaran kuat. Mereka menemukan tujuh orang
berpakaian hitam hitam yang memakai kerudung di kepalanya, sudah menggeletak
tewas dengan anak panah menembus dada. Akan tetapi dua orang di antara mereka
yang hanya terkena anak panah di pundak sehingga semestinya mereka tidak tewas,
akan tetapi ternyata mereka berdua juga sudah tewas dengan luka tikaman keris
pada dada mereka! Narotama mengerutkan alisnya, jelas bahwa ada tangan lain
yang membunuh dua orang yang tidak mati oleh anak panah ini! Melihat betapa
tujuh orang itu sudah tewas, lega hati Lasmini. Tadi ia sudah khawatir
kalau-kalau ada di antara mereka yang belum mati, maka ia sengaja membawa
Cambuk Sarpokenoko untuk membunuh mereka yang belum mati. Akan tetapi ternyata
hal itu tidak perlu ia lakukan dan hal ini membuktikan bahwa Linggajaya telah
melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah tadi ia dan Linggajaya gagal
membunuh Narotama, Mereka cepat melarikan diri dan ia memerintahkan Linggajaya
untuk membunuh pemanah gelap kalau mereka juga gagal membunuh Narotama agar
jangan ada yang dapat membuka rahasia.
"Aduh,
sayang sekali, kakangmas! Kenapa mereka dibunuh semua? Kalau ada yang dapat
tertangkap hidup kan dapat ditanya siapa yang menyuruh mereka mencoba membunuh
paduka?" kata Lasmini dengan suara menyesal.
Narotama
hendak menjawab, akan tetapi entah bagaimana, ada suatu perasaan tidak enak
yang membuat dia tidak jadi bicara dan menyinggung soal dua orang pemanah yang
bukan tewas oleh sambitan anak panah yang dilakukannya, melainkan tewas oleh
tikaman keris.
"Sudahlah,
mari kita masuk ke dalam." katanya dan mereka berdua meninggalkan taman
itu memasuki gedung.
Setelah masuk
gedung baru Narotama tahu apa perasaan tidak enak itu. Dia merasa curiga kepada
Lasmini! Akan tetapi karena tidak ada bukti, diapun tidak dapat sembarangan
menuduhnya. Akan tetapi jauh lewat tengah malam, ketika Lasmini sudah tidur
pulas, Narotama keluar dari kamarnya dan berkelebat tanpa suara menuju ke
bagian belakang gedung kepatihan. Dia sudah tahu dimana kamar orang yang hendak
dicarinya, yaitu Sarti, pelayan pribadi Lasmini. Dia harus bertindak sekarang
juga, sebelum keadaan menjadi semakin berbahaya. Sarti Itulah satu-satunya
orang yang mengetahui segalanya tentang Lasmini. Tanpa mengeluarkan suara,
Narotama dapat membuka jendela kamar itu dari luar, lalu dia melompat masuk.
Sebuah lampu kecil yang tergantung di situ cukup terang baginya untuk dapat
melihat tubuh yang rebah miring di atas pembaringan dalam keadaan tidur nyenyak
dan mendengkur. Tubuh seorang wanita yang tinggi besar. Itulah Sarti. Narotama
mendekati pembaringan dan mengguncang pundak wanita itu. Sarti terbangun dan
melihat sesosok bayangan berdiri di dekat pembaringannya, wanita ini trengginas
(dengan sigap) bangkit dan menyerang dengan tamparan tangannya yang besar dan
kuat. Akan tetapi Narotama menangkap pergelangan tangan itu dan sekali jari
jari tangannya bergerak, dia menyodok leher Sarti dan tubuh tinggi besar itu
terkulai pingsan. Narotama lalu mengempit tubuh Sarti, dibawanya keluar
memasuki taman yang sepi, membawanya ke pondok di tengah taman. Setelah
melepaskan tubuh Sarti ke atas bangku yang berada di pondok itu, Narotama lalu
memijat tengkuk wanita itu dan siumanlah Sarti.
No comments:
Post a Comment