Ketika Lasmini dan Mandari tiba, dua orang anak buah Pangeran Hendratama segera menyambut dan mengurus dua ekor kuda yang tadi ditunggangi Lasmini dan Mandari. Dua orang puteri melompat turun, menyerahkan kuda kepada dua orang anak buah itu, lalu menuju ke pondok. Sebelum memasuki pintu, mereka disambut Pangeran Hendratama sendiri. Dengan sikap hormat Pangeran Hendratama membungkuk dan berkata.
"Selamat
datang, puteri-puteri yang cantik dan gagah perkasa, silakan masuk kawan-kawan
sudah menanti kedatangan andika berdua sejak pagi tadi."
Lasmini dan
Mandari mengangguk dan mereka memasuki ruangan pondok yang luas. Semua orang
yang berada dalam ruangan itu bangkit dan membungkuk dengan hormat menyambut
kedatangan Lasmini dan Mandari. Dua orang puteri itu mengangguk senang sambil
memperhatikan siapa yang sudah berkumpul diruangan itu.
Di situ
terdapat Puspa Dewi sebagai wakil Kerajaan Wurawuri, Linggajaya mewakili
Kerajaan Wengker, Lasmini dan Mandari sendiri mewakili Kerajaan Parang Siluman,
dan Pangeran Hendratama merupakan sekutu yang berambisi menggulingkan adik
iparnya, Sang Prabu Erlangga agar dia dapat menggantikan kedudukan sebagai Raja
Kahuripan. Setelah duduk menghadapi meja besar dan melayangkan pandang matanya,
Lasmini berkata.
"Hemm,
aku tidak melihat wakil dari Kerajaan Siluman Laut Kidul!"
Pada saat itu,
seolah menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lasmini, terdengar derap kaki
banyak kuda didepan pondok. Pangeran Hendratama yang bertindak sebagai
"tuan rumah" bergegas keluar dan dia tersenyum gembira menyambut
seorang wanita seperti raseksi (raksasa wanita), berusia lima puluh tahun,
tubuhnya gembrot dan tinggi besar, mukanya berbedak tebal, pakaiannya mewah
sekali, mengenakan perhiasan emas permata, wajahnya serba bulat dan dari
celah-celah bibirnya tampak mengintip keluar dua buah taring! Inilah Ratu
Mayang Gupita, ratu yang berkuasa di kerajaan Siluman Laut Kidul!
"Selamat
datang, Kanjeng Ratu, kami berbahagia sekali menerima kedatangan andika yang
sudah kami tunggu-tunggu." kata Pangeran Hendratama.
Ratu yang
menyeramkan itu memandang wajah Pangeran Hendratama dan bertanya,
"Apakah
wakil semua kerajaan yang bersekutu datang?"
Pangeran
Hendratama mengangguk,
"semua
lengkap, Kanjeng Ratu. Wakil dari wengker, dari Wura-Wuri, dan dari Parang
siluman sudah hadir."
"Bagus!
Tidak sia-sia aku melakukan perjalanan jauh." katanya sambil melangkah
memasuki ruangan pondok itu.
Setelah
mempersilakan Ratu Mayang Gupita duduk, Pangeran Hendratama lalu memperkenalkan
Linggajaya dan Puspa Dewi kepada ratu itu yang sudah mengenal Lasmini dan
Mandari. Atas isyarat pangeran Hendratama, dua orang pelayan pria masuk
keruangan membawa minuman dan makanan beberapa macam kue, mereka menghidangkan
makanan dan minuman di atas meja lalu cepat pergi lagi meninggalkan ruangan itu
dan menutupkan daun pintu ruangan. Setelah mengucapkan selamat datang dan
terima kasih kepada mereka yang hadir, Pangeran Hendratama lalu menceritakan
pendapat dan usulnya.
"Keadaan
kini menjadi gawat dan kita harus dapat segera bertindak agar jangan sampai
terlambat. Aku terancam oleh penjahat cilik Nurseta dan kakeknya senopati
Sindukerta."
"Akan
tetapi pangeran, bukankah mereka berdua kini telah ditahan dalam penjara
istana? Mereka tidak mungkin dapat lolos dari penjara. Apa yang
dikhawatirkan?" kata Mandari yang telah mendengar akan hasil persidangan
istana itu.
"Benar,
akan tetapi mereka hanya ditahan sementara saja. Kini Ki Patih Narotama sedang
melakukan penyelidikan dan kalau sampai kemudian diketahui bahwa keris Sang
Megatantra berada padaku, rencana kita semua akan gagal."
"Akan
tetapi Ki patih tidak akan dapat membuktikan bahwa keris itu berada padamu,
pangeran?" kata Lasmini.
'Memang tidak,
akan tetapi Ki Patih Narotama itu cerdik sekali. Aku khawatir dia akan
mencurigaiku." kata Pangeran Hendratama kelihatan jerih terhadap ki Patih
itu.
"Lalu,
apa rencanamu, pangeran?" mendengar suara parau Ratu Mayang Gupita.
"Kita
harus cepat bertindak. Ada tiga hal yang harus kita lakukan kalau kita ingin
berhasil dalam rencana kita. Pertama, kita harus berusaha untuk membunuh Ki
Patih Narotama! Kedua, kita juga harus membunuh Nurseta dan Ki Sindukerta dalam
kamar tahanan. Dan ketiga ini yang terpenting, kita harus mempersiapkan
balatentara gabungan untuk menyerbu istana dan menguasainya."
"Wah,
tiga hal yang andika rencanakan itu kesemuanya amat sukar, Pangeran!"
Linggajaya. Sebagai wakil Kerajaan Wengker dia tidak mau bersikap rendah terhadap
Pangeran Hendratama.
"Aku tahu
betapa saktinya Ki Patih Narotama. Juga aku pernah bertanding melawan Nurseta
dan dia bukan orang yang mudah dibunuh begitu saja. Bagaimana dua hal ini akan
dapat dilaksanakan?"
Pangeran
Hendratama mengerutkan alisnya, tidak senang mendengar pendapat Linggajaya yang
menurunkan semangat itu.
"Semua
orang tahu bahwa semua hal itu tidaklah mudah, akan tetapi setiap perjuangan
memang tidak ada yang mudah, setiap hasil baik itu harus ditebus dengan usaha
yang sekuatnya. Mari kita bahas satu demi satu tiga macam usaha kita untuk
mencapai kemenangan itu. Pertama, tentang rencana pembunuhan terhadap Ki Patih
Narotama Apakah andika sekalian mempunyai usul yang
baik?"
"Menurut
pendapatku, yang paling tepat memikul tugas membunuh Ki Patih Narotama ini
haruslah orang-orang yang dekat dengan dia. Tidak ada orang lain yang lebih
dekat kecuali Puteri Lasmini dari Kerajaan Parang Siluman yang telah menjadi
selirnya, dibantu oleh Linggajaya sebagai wakil Kerajaan Wengker karena dia
telah berhasil menyusup ke kepatihan sebagai juru taman!"
Semua orang
tampaknya setuju dan Pangeran Hendratama berkata,
"Usul itu
memang baik sekali dan cocok dengan rencanaku. Akan tetapi tentu saja kami
minta pendapat yang bersangkutan, dalam hal ini Puteri Lasmini. Bagaimana
pendapat andika dengan usul itu? Dan juga Linggajaya, sanggupkah membantu
Puteri Lasmini melaksanakan tugas ini?"
Lasmini
tersenyum.
"Terus
terang saja, aku memang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Ki Patih
Narotama, dibantu oleh Linggajaya. Kami sudah merencanakan itu dan hanya
tinggal menanti saat baik saja. Baik, kuterima tugas itu."
"Aku juga
menerima tugas itu!" kata Linggajaya yang tidak punya pilihan lain.
"Bagus,
kalau begitu masalah pertama sudah diputuskan. Sekarang persoalan kedua, yaitu
pembunuhan Nurseta dan Sindukerta. Siapa yang pantas melaksanakan tugas berat
ini?"
"Tugas
ini memang berat sekali, terutama karena mereka itu ditahan dalam ruangan
tahanan istana, jadi dekat dengan Sang Prabu Erlangga. Aku sendiri tidak dapat
membantu karena aku merasa bahwa sedikit banyak Sang Prabu Erlangga sudah agak
berubah sikapnya terhadap diriku, seolah sudah menaruh curiga. Aku hanya dapat
membantu dengan memberi jalan keluar kepada mereka yang ditugaskan untuk
membunuh kedua orang tahanan itu, kalau usaha mereka gagal." kata Dewi
Mandari.
"Memang
sebaiknya, seperti hal pertama tadi, hal kedua ini dilakukan pula oleh orang
yang tinggal di istana." Kata Pangeran Hendratama.
"Dan yang
tinggal di istana adalah Puteri Mandari dan Puspa Dewi. Karena tidak mungkin
bagi Puteri Mandari melaksanakan tugas itu maka tinggal Puspa Dewi yang tinggal
di istana, karenanya ia yang dapat melakukan dengan tidak begitu sukar."
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya.
"Pangeran,
aku juga pernah bertanding melawan Nurseta, bahkan mengeroyoknya bersama
Linggajaya, dan harus kukatakan bahwa dia adalah seorang yang memiliki
kesaktian tinggi. Aku sendiri tidak mungkin dapat membunuhnya!" Tentu saja
ucapan Puspa Dewi ini tidak sama dengan suara hatinya. Dalam hatinya, ia tidak
mau membunuh Nurseta karena kini semakin jelas baginya pihak siapa yang benar
dan siapa yang bersalah. Untuk membalas budi gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang
kini menjadi permaisuri Raja Mhismaprabhawa di Kerajaan Wura-Wuri, tentu saja
ia mau membela Wura-Wuri. Akan tetapi bukan dengan cara curang dan bersekutu
dengan orang-orang jahat seperti ini!
"Tentu
saja bukan andika seorang diri, puspa Dewi. Aku sendiri juga tahu betapa
tangguhnya si Nurseta itu. Sekarang marilah kita membagi-bagi tugas Linggajaya
dan Puteri Lasmini sudah mendapat tugas membunuh Ki Patih Narotama”.
“Selain itu,
aku juga akan mempersiapkan pasukan Kerajaan Wengker untuk membantu merebut
kekuasaan diKahuripan!" kata Linggajaya.
"Ratu
Mayang Gupita, kalau kami boleh mengusulkan dan minta bantuanmu, dapatkah
andika mempersiapkan diri untuk membantu Puspa Dewi untuk membunuh Nurseta dan
Sindukerta dalam tahanan? Jangan khawatir, Puteri Mandari tentu akan dapat
menyelundupkanmu ke dalam istana."
Raksasa wanita
itu mengangguk angguk."Baiklah, aku akan membantu Puspa Dewi dan aku akan
mengajak Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo. Mustahil kami berempat dengan
Puspa Dewi tidak akan mampu membunuh Nurseta dan Senopati Sindukerta."
"Bagus
sekali! Kalau andika dan pembantu andika mau turun tangan, kami yakin tugas ini
akan dapat diselesai dengan berhasil baik!" kata Pangeran Hendratama
gembira sekali. Selain dia akan terbebas dari musuh-musuhnya yang hendak
membongkar rahasianya dan merampas Sang Megatantra, juga kalau dua pembunuhan
itu dapat dilaksanakan dengan baik, berarti memperlancar rencana
pemberontakannya dan merampas tahta Kerajaan Kahuripan dari tangan Sang Prabu
Erlangga. Puspa Dewi yang sejak tadi mencari jalan untuk mengetahui semua
rencana pangeran pengkhianat itu, lalu berkata,
"bagaimana
wakil Kerajaan Wura-Wuri, aku ingin sekali mengetahui rencana kita yang ketiga,
yaitu tentang penyerbuan ke Istana dan menguasainya. Bagaimana hal yang amat
sulit ini dapat diatur?"
"Memang
hal yang ke tiga itu harus kita rundingkan baik-baik sekarang setelah dua hal
pertama dan kedua sudah kuputuskan. Untuk melaksanakan ini dengan berhasil,
kita harus bekerja sama. semua kekuatan harus dipersatukan, karena itu kami
harap semua kerajaan mengirimkan pasukan dan bergabung di hutan ini. Bagaimana pendapat
kalian?"
"Aku akan
mengabarkan kepada Kanjeng Ibu Durgamala di Kerajaan Parang Siluman kami untuk
mengirimkan pasukan ke hutan ini?" kata Lasmini.
"Aku juga
akan mengerahkan para senopatiku untuk memimpin pasukan dan membawa pasukan
kami ke sini." Kata Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul.
"Baik
sekali kalau begitu, hal ke tiga yang terpenting juga sudah disepakati.
Linggajaya bertugas mengirim pasukan dari Kerajaan Wengker, Puspa Dewi mengirim
pasukan dari Wura-Wuri, Ratu Mayang Gupita mengirim pasukan dari Kerajaan
Siluman Laut Kidul, dan Puteri Lasmini mengirim pasukan dari Kerajaan Parang
Siluman. Jadi dari empat kadipaten atau kerajaan itu sudah sepakat mengirimkan
pasukan masing-masing ke hutan ini untuk bersatu dan kami sendiri akan
mengerahkan pasukan dari para senopati yang mendukung gerakan ini. Kita
sekarang rundingkan untuk menetapkan hari dan saat gerakan pasukan gabungan itu
untuk menyerbu istana. Semua pasukan harus sudah siap di dalam hutan ini
sebelum hari yang telah ditentukan. Itu dan semua harus dilakukan secara
rahasia agar jangan sampai ketahuan orang dan sebaiknya kalau dilakukan di
waktu malam."
"Bagus,
dan aku sendiri akan membantu dari dalam istana kalau saat penyerbuan ke istana
dilakukan." kata Puteri Mandari.
"Pangeran,
bagaimana kita dapat yakin bahwa pasukan para senopati di Kahuripan akan
benar-benar membantu kalau mereka tahu bahwa pusaka Sang Megatantra tidak
berada padamu? Kalau pusaka itu berada di tangan Nurseta, terutama semua orang
di Kahuripan condong membantu dia karena pusaka itu dipuja sebagai wahyu
keraton oleh semua orang Kahuripan sebagai keturunan Mataram." kata Puspa
Dewi untuk memancing. Memang ia seorang gadis yang cerdik. Ia memancing dan
mengajukan alasan yang masuk akal sehingga Pangeran Hendratama sama sekali
tidak menyangka bahwa gadis itu memancingnya untuk mengetahui di mana
sebetulnya pusaka itu.
Pangeran
Hendratama tersenyum. Hati pangeran itu masih amat tertarik kepada gadis jelita
yang kini menjadi sekar kedaton Wura-Wuri itu dan dia mengharapkan kalau dia
sampai berhasil menjadi Raja Kahuripan, Puspa Dewi akan bersikap lain
kepadanya, memberinya harapan untuk mempersunting gadis yang membuatnya
tergila-gila itu!
"Jangan
khawatir, Puspa Dewi. Para sahabat dari Empat Kadipaten, biarlah antara para
sahabat aku akan berterus terang. Pusaka Sang Megatantra itu tidak pernah
terlepas dari tanganku. Aku yang memiliki pusaka itu!"
Semua orang
tercengang mendengar ini. Hanya Puspa Dewi yang tidak merasa heran karena
diam-diam ia sudah mengetahui bahwa pusaka itu yang tadinya milik Nurseta telah
dicuri pangeran ini. Betapa beraninva pangeran itu kini mengaku!
"Ah,
pangeran! Jadi kalau begitu andika yang ....."
"Jangan
salah mengerti, Puspa Dewi Pusaka itu memang milikku. Aku membeli pusaka itu
dari seorang pengemis seperti yang sudah kuceritakan dahulu ..."
"Akan
tetapi andika mengatakan bahwa pusaka itu telah dicuri Nurseta!" kata
Puspa Dewi, penasaran walaupun ia mengatur agar suara dan sikapnya tidak
membayangkan bahwa ia merasa curiga kepada pangeran itu.
"Memang
benar Nurseta mencuri kerisku. Akan tetapi aku selalu berhati-hati sejak
mendapatkan pusaka itu sehingga aku membuat tiruannya, dan menyembunyikan yang
asli. Jadi, ketika Nurseta mencurinya, dia hanya mendapatkan Megatantra yang palsu
dan Megatantra yang aseli masih ada padaku."
"Kenapa
tidak andika serahkan kepada Sang Prabu Erlangga?" Puspa Dewi terkejut
sendiri mendengar pertanyaannya yang keluar begitu saja dari dalam hatinya.
"Ha-ha-ha,
apakah engkau mengira aku begitu bodoh, Puspa Dewi?" Pangeran yang sudah
tergila-gila kepada Puspa Dewi itu tidak menjadi curiga dengan pertanyaan itu,
bahkan dia ingin memamerkan kecerdikannya!
"Sang
Prabu Erlangga adalah musuh kita bersama, bagaimana aku harus mengembalikan
pusaka itu kepadanya? Keris itu hak milik Kahuripan sebagai keturunan Mataram,
dan setelah Kanjeng Rama Teguh Dharmawangsa wafat, akulah puteranya, akulah
satu-satunya keturunan Mataram yang berhak memiliki Sang Megatantra maka berhak
pula menjadi Raja Kahuripan bukan Erlangga bocah Bali itu!"
Puspa Dewi
tidak bicara lebih lanjut. Biarpun keterangan Pangeran Hendratama itu
meyakinkan hati semua orang yang berada di situ, namun di dalam hatinya Puspa
Dewi lebih percaya kepada keterangan Nurseta. Ia juga melihat betapa sikap Lasmini
dan Linggajaya tampak mesra. Kedua orang itu saling bertukar senyum dan pandang
mata mereka kalau saling pandang bicara banyak. Mudah saja diduga bahwa antara
selir Ki Patih Narotama dengan Linggajaya yang kini menyamar sebagai tukang
kebun kepatihan pasti ada hubungan yang tidak wajar!, diam-diam ia
memperhatikan semua orang yang hadir itu satu demi satu. Makin diperhatikan, ia
semakin merasa muak dan tidak suka.
No comments:
Post a Comment