Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 75


"Nah, Ki Suramenggala, berkemaslah dengan keluargamu dan hari ini juga andika harus meninggalkan Karang Tirta." kata Narotama kepada mantan lurah yang mukanya berubah pucat itu.
Ki Suramenggala mengangkat muka memandang kepada Narotama dengan sinar mata berapi, penuh kebencian. Kemudian, di bawah hiruk-pikuk suara orang-orang yang saling bicara dengan gembira, dia berkata lirih dan hanya terdengar oleh Narotama, bahkan Ki Pujosaputro yang berdiri pula di tepi pendopo itu tidak mendengarnya karena dia asyik memperhatikan kegembiraan penduduk Karang Tirta.
"Ki patih, karena paduka patih dan saya lurah, maka terpaksa saya menaati keputusan paduka. Akan tetapi, harap diingat bahwa saya tidak akan melupakan penghinaan ini. Tunggulah pembalasan anak-anakku kelak!" Setelah berkata demikian, Ki Suramenggala dengan muka berubah merah karena marah sudah meninggalkan pendapa itu dan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh semua keluarganya yang tadi duduk di lantai pendapa. Dengan hati yang sakit dan dendam, Ki Suramenggala lalu mengajak semua keluarganya, kecuali Nyi Lasmi karena selirnya ini ikut bergembira dengan penduduk dan tidak kembali lagi ke dalam rumah, untuk pergi meninggalkan gedung kelurahan melalui pintu belakang dan boyongan keluar dari dusun Karang Tirta. Barang-barang berharga mereka bawa semua dengan gerobak, juga ternak mereka, kuda dan sapi mereka bawa serta. Mereka meninggalkan gedung kelurahan dengan perabot-perabot rumahnya.

Sementara itu, Narotama melanjutkan usahanya untuk mengatur agar dusun Karang Tirta menjadi sebuah dusun yang penghuninya hidup tenteram dan tenang, tidak ada penindasan, dipimpin oleh seorang lurah yang baik dan yang membawa penduduk ke dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan bergotong royong sebagaimana layaknya kehidupan di dusun sejak jaman nenek moyang mereka dahulu. Dia mengangkat kedua tangan minta agar semua orang diam. Setelah keadaaan menjadi tenang, Narotama bertanya,
"Sekarang kami hendak bertanya, apakah kalian bersedia sekarang untuk memilih dan mengangkat seorang lurah baru. Kalau bersedia, harap angkat tangan tanda setuju!"
Semua orang mengacungkan tangan dan ada yang berteriak-teriak lantang,
"Setujuuuu .....!"
"Baik, kalau andika sekalian setuju, pilihlah seorang di antara kalian untuk menjadi lurah baru di dusun ini!"
Bagaikan sekumpulan burung, terdengar mereka menyebutkan nama seseorang,
"Ki Pujosaputro .....!!"
Narotama tersenyum. Ki patih ini memiliki batin yang selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi sehingga dia memiliki kepekaan yang amat halus. Tadi begitu melihat Ki Pujosaputro, dia sudah merasa suka kepada orang ini.
"Dengarkan semua! Kami mendengar seruan nama Ki Pujosaputro? Benarkah andika sekalian memilih Ki Pujosaputro sebagai lurah kalian yang baru? Kalau benar, acungkan tangan!"
Semua orang bersorak sambil mengacungkan tangan mereka. Ki Pujosaputro sendiri yang berdiri di pendopo segera mendekati Ki Patih Narotama dan berkata dengan muka kemerahan.
"Aduh, Gusti Patih! Hamba..... hamba seorang yang bodoh dan lemah, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang lurah yang baik? Mohon paduka memilih lain orang saja."
Narotama tersenyum kepadanya.
"Justeru ucapan penolakanmu ini yang meyakinkan hati kami bahwa andika adalah orang yang tepat untuk menjadi lurah yang baik hati untuk dusun ini. Bukan orang pintar dan kuat yang kami butuhkan, melainkan orang yang rendah hati dan baik budi."
Narotama melihat Ki Wirodipo, orang pertama yang dia jumpai ketika memasuki dusun Karang Tirta, dan yang dia titipi kudanya, berdiri di bagian depan kelompok penduduk dusun itu. Narotama menggapai kepada Ki Wirodipo dan berkata,
"Paman Wirodipo, naiklah ke sini, kami hendak bertanya kepada andika."
Ki Wirodipo tergopoh-gopoh naik pendopo dan begitu tiba di depan Narotama dia lalu sungkem dan menyembah
"Ampunkan hamba, sama sekali hamba tidak tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih ....."
"Bangkitlah, Paman Wirodipo dan jawab pertanyaanku dengan suara nyaring agar semua orang dapat mendengarkan. Coba ceritakan tentang keadaan diri Ki Pujosaputro ini. Andika mengenalnya bukan?"
Ki Wirodipo bangkit berdiri dan dengan muka berseri dia memandang kepada Ki Pujosaputro lalu menjawab dengan suara lantang.
"Tentu saja hamba mengenal Ki Pujosaputro. Sejak kecil dia tinggal di dusun ini dan dia adalah seorang yang mewarisi sawah ladang yang luas. Ki Pujosaputro inilah yang mengajak para penduduk yang mampu untuk membantu penduduk yang kekurangan. Kalau tidak ada Ki Pujosaputro dan teman-temannya, hamba semua tentu semakin payah di bawah tekanan Ki Suramenggala. Karena itulah, Gusti Patih, maka hamba sekalian memilih Ki Pujosaputro untuk menjadi lurah Karang Tirta yang baru."
Narotama lalu menghadapi Ki Pujosaputro dan berkata,
"Ki Pujosaputro, kami harap andika tidak menolak lagi karena andika telah dipilih oleh semua penduduk Karang Tirta."
"Ampun, Gusti Patih, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"
"Itu dapat diatur nanti, kami akan memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian dan melihat Ki Pujosaputro tidak memperlihatkan sikap menolak lagi, Narotama lalu menghadapi para penduduk dan berkata dengan lantang.
"Kami sebagai Patih Kahuripan mewakili Gusti Sinuwun mengangkat Ki Pujosaputro sebagai lurah dusun Karang Tirta, sesuai dengan keinginan semua penduduknya. Semua pengembalian tanah kepada pemiliknya dahulu akan diatur dengan tertib oleh Ki Lurah Pujosaputro yang akan dibantu oleh Ki Wirodipo dan para pembantu lain yang akan dipilih dan ditunjuk oleh Ki Lurah Pujosaputro. Sekarang, andika sekalian harap kembali ke pekerjaan masing masing."
Orang-orang itu bersorak sorai dan berlarian meninggalkan halaman kelurahan itu. Halaman itu sebentar saja kosong dan hanya tinggal seorang yang tinggal situ, seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tujuh tahun dan wanita itu mendeprok di atas tanah sambil menangis.
"Ki Lurah Pujosaputro, siapakah wanita itu? Kenapa ia menangis dan tinggal di sana?"
Ki Pujosaputro dan Ki Wirodipo memandang dan Ki Pujosaputro berkata,
"Ia adalah Nyi Lasmi yang sudah beberapa tahun ini menjadi selir Ki Suramengga, gusti. Hamba juga tidak tahu mengapa ia menangis."
"Selir Ki Suramenggala? Kenapa ia tidak ikut pergi bersama Ki Suramenggala? Coba panggil ia ke sini!"
Ki Wirodipo tanpa diperintah mendahului lurahnya turun dari pendopo menghampiri Nyi Lasmi. Melihat sikap Wirodipo ini, Ki Lurah Pujosaputro merasa senang. Tidak salah pilihan Ki Patih Narotama untuk memperbantukan Ki wirodipo kepadanya!
"Nyi Lasmi, andika dipanggil oleh Gusti Patih. Mari menghadap, beliau bijaksana, tentu akan dapat membikin terang persoalan yang menggelapkan hatimu."
Nyi Lasmi menahan tangisnya, bangkit dan mengikuti naik ke pendopo kelurahan. Setelah tiba di depan Narotama, ia menekuk lututnya dan menyembah.
"Nyi Lasmi, mari ikut ke dalam, kita bicara di dalam." Kata Narotama dan mereka semua memasuki ruangan depan rumah yang telah kosong itu. Di situ terdapat sebuah meja besar dengan beberapa buah kursi. Narotama mengajak tiga orang itu duduk berhadapan dengannya, terhalang meja. Di depan ki patih, Nyi Lasmi tidak berani menangis, hanya matanya masih merah dan terkadang ia harus mengusap air mata yang tergantung di bulu matanya.
"Nyi Lasmi, katakan kenapa andika tidak ikut Ki Suramenggala pergi?" tanya Narotama, suaranya lembut dan ramah sehingga hilanglah rasa takut Nyi Lasmi
"Bukankah andika ini isterinya?"
Nyi Lasmi menggunakan sehelai sapu tangan yang sudah basah untuk menyusut dua butir air mata, lalu menyembah
"Ampunkan hamba, gusti patih, hamba menjadi isteri Ki Suramenggala karena terpaksa dan sekarang setelah dia terusir dari dusun ini, hamba merasa bebas dan tidak ingin ikut dengannya."
Narotama menoleh kepada Ki Pujosaputro.
"Benarkah bahwa Nyi Lasmi ini terpaksa menjadi isteri Suramenggala?"
Ki Pujosaputro melaporkan sejujurnya
"Dahulu, Nyi Lasmi adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan. Kurasa lebih lima tahun yang lalu anaknya diculik orang. Dalam keadaan hidup seorang diri itu dia dibujuk dan diancam oleh Ki Suramenggala dan ia agaknya tidak dapat menolak ketika diambil sebagai selir."
Narotama mengangguk-angguk, ia bertanya lagi kepada wanita itu.
"Kalau memang andika sudah mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Ki Suramenggala, kenapa andika menangis di halaman itu?"
"Hamba merasa bingung harus pergi mana, gusti patih. Hamba tidak mempunyai tempat tinggal, hidup sebatang kara."
"Hemm, apakah andika tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali?"
Wanita itu kembali mengusap dua bulir air mata.
"Hamba hanya mempunyai seorang anak perempuan yang ketika berusia tiga belas tahun diculik orang. Akan tetapi lima tahun kemudian, baru beberapa bulan yang lalu, ia pulang ke sini dan telah pergi lagi. Kalau saja ada Puspa Dewi anak hamba, tentu hamba tidak menjadi bingung seperti ini."
Narotama melebarkan matanya.
"Puspa Dewi? Ia itu anakmu? Gadis yang memiliki kesaktian itu?"
"Kasinggihan (benar), gusti. Setelah pulang, anak hamba Puspa Dewi menjadi seorang gadis yang memiliki kesaktian, akan tetapi kini ia pergi entah ke mana hamba tidak diberitahu."
Tiba-tiba Ki Lurah Pujosaputro menyembah dan berkata,
"Kalau hamba boleh mengajukan usul, gusti. Biarlah Nyi Lasmi tetap tinggal di rumah ini. Hamba hanya akan menggunakan ruangan depan dan pendopo untuk tempat para pamong desa bekerja dan untuk rapat pertemuan warga dusun."
"Bagaimana, Nyi Lasmi?" tanya Narotama.
"Terima kasih atas kebaikan hati Ki Lurah, akan tetapi rumah ini terlalu besar untuk saya tempati seorang diri saja. Saya hanya ingin mondok untuk sementara sambil menanti anak saya pulang."
"Hemm, kalau begitu, Ki Lurah Pujosaputro, sebaiknya andika sekeluarga boyongan pindah ke rumah kelurahan ini dan biarkan Nyi Lasmi mondok di sini. Setujukah andika?"
"Tentu saja hamba setuju, gusti patih!" kata Ki Lurah Pujosaputro dengan wajah cerah.
"Nah, kalau begitu urusan Nyi Lasmi sudah beres. Masuklah dan siapkan keperluanmu, Nyi Lasmi. Kami masih mempunyai banyak persoalan untuk dibicarakan"
Nyi Lasmi menyembah dan berkata,
"Gusti patih, hamba menghaturkan banyak terima kasih. Sesungguhnya, selain hamba terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala, juga hamba tidak ingin anak hamba Puspa Dewi dibawa ke jalan sesat olehnya maka sekarang setelah mendapat kesempatan hamba memisahkan diri dari keluarga Ki Suramenggala."
Narotama mengangguk-angguk, dan berkata,
"Keputusan yang andika ambil itu bijaksana."

Nyi Lasmi lalu memberi hormat lagi dan mengundurkan diri, masuk ke ruangan dalam rumah gedung itu. Narotama lalu memberi petunjuk kepada lurah baru itu. Agar segera memilih pembantu-pembantu yang jujur dan rajin bekerja, lalu membentuk penjaga keamanan dengan memilih pemuda-pemuda dusun itu yang baik budi. Menertibkan pemilikan kembali sawah ladang para penduduk yang dulu diambil Ki Suramenggala, dan agar mengajak semua warga untuk menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan penduduk dengan bergotong royong.
"Tentu saja untuk mengurus dan menertibkan semua itu andika memerlukan tenaga bantuan, karena itu, bersama Wirodipo yang telah mengenal semua penduduk di sini, harap andika pilih siapa kiranya yang tepat untuk menjadi pembantu kelurahan. Jangan mendahulukan orang pintar, akan tetapi lebih baik mencari pembantu yang jujur dan baik budi. Orang pintar sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, akan tetapi mencari orang yang jujur, setia dan baik budi amatlah sulitnya. Soal kepintaran dapat dipelajari oleh orang yang bodoh, akan tetapi kebaikan budi tidak dapat dipelajari oleh orang yang jahat. Kalau kami sudah kembali ke kota raja, akan kami kirim pejabat yang berwenang untuk mengesahkan pengangkatan andika sebagai Lurah baru."
Setelah meninggalkan semua pesan itu Narotama lalu kembali ke kota raja. Dia ditugaskan oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyelidiki urusan antara Nurseta dan Pangeran Hendratama, untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk itu, dia membutuhkan bukti yang nyata. Dia sudah melakukan penyelidikan tentang diri Nurseta dan keterangan yang diperolehnya menyatakan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik wataknya. Apalagi mengingat betapa pemuda itu menjadi murid mendiang Sang Empu Dewamurti, maka dia mendapatkan kesan baik terhadap pemuda itu. Kini dia harus melakukan penyelidikan kepada Pangeran Hendratama.

Puteri Lasmini dan Mandari menunggang kuda memasuki hutan lebat. Sang Prabu Erlangga hanya mengetahui bahwa selirnya, Mandari, yang dikunjungi kakaknya, Lasmini, pergi berdua untuk berburu seperti yang biasa dilakukan dua orang puteri itu, seperti yang dikemukakan Mandari kepadanya ketika berpamit. Tidak seperti para puteri lain, dua orang puteri kakak beradik ini melakukan perjalanan berburu binatang dalam hutan tanpa pengawal seorangpun. Hal ini tidak mengherankan, juga Sang Prabu Erlangga memperkenankan, karena dia mengetahui bahwa dua orang wanita cantik itu adalah wanita-wanita digdaya yang tidak membutuhkan pengawal dan mampu melindungi diri sendiri. Sesungguhnya, dua orang puteri itu bukan berburu binatang biasa saja seperti yang dikatakan ketika berpamit dari Sang Prabu Erlangga. Mereka hanya menggunakan perburuan sebagai dalih saja. Sebetulnya mereka memasuki hutan atas undangan Pangeran Hendratama yang mengadakan pertemuan dengan para sekutunya. Persekutuan yang diam-diam merencanakan kehancuran Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini memang telah lama saling mengadakan kontak rahasia. Mereka berdua menuju ke tengah hutan dan di tempat yang sunyi dan tak pernah dikunjungi orang luar itu terdapat sebuah pondok kayu yang sederhana namun cukup besar. Di tengah perjalanan tadi, setelah semakin dekat dengan pondok, kedua orang puteri itu melihat orang-orang yang melakukan penjagaan. Itu adalah orang-orang yang ditugaskan Pangeran Hendratama untuk menjaga agar jangan ada orang luar datang mendekati pondok dimana berkumpul para sekutunya untuk mengadakan perundingan.

<<<Bagian 74                                                                                          Bagian 76 >>>

No comments:

Post a Comment