"Nah, Ki Suramenggala, berkemaslah dengan keluargamu dan hari ini juga andika harus meninggalkan Karang Tirta." kata Narotama kepada mantan lurah yang mukanya berubah pucat itu.
Ki
Suramenggala mengangkat muka memandang kepada Narotama dengan sinar mata
berapi, penuh kebencian. Kemudian, di bawah hiruk-pikuk suara orang-orang yang
saling bicara dengan gembira, dia berkata lirih dan hanya terdengar oleh
Narotama, bahkan Ki Pujosaputro yang berdiri pula di tepi pendopo itu tidak
mendengarnya karena dia asyik memperhatikan kegembiraan penduduk Karang Tirta.
"Ki
patih, karena paduka patih dan saya lurah, maka terpaksa saya menaati keputusan
paduka. Akan tetapi, harap diingat bahwa saya tidak akan melupakan penghinaan
ini. Tunggulah pembalasan anak-anakku kelak!" Setelah berkata demikian, Ki
Suramenggala dengan muka berubah merah karena marah sudah meninggalkan pendapa
itu dan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh semua keluarganya yang tadi duduk di
lantai pendapa. Dengan hati yang sakit dan dendam, Ki Suramenggala lalu
mengajak semua keluarganya, kecuali Nyi Lasmi karena selirnya ini ikut
bergembira dengan penduduk dan tidak kembali lagi ke dalam rumah, untuk pergi
meninggalkan gedung kelurahan melalui pintu belakang dan boyongan keluar dari
dusun Karang Tirta. Barang-barang berharga mereka bawa semua dengan gerobak,
juga ternak mereka, kuda dan sapi mereka bawa serta. Mereka meninggalkan gedung
kelurahan dengan perabot-perabot rumahnya.
Sementara itu,
Narotama melanjutkan usahanya untuk mengatur agar dusun Karang Tirta menjadi
sebuah dusun yang penghuninya hidup tenteram dan tenang, tidak ada penindasan,
dipimpin oleh seorang lurah yang baik dan yang membawa penduduk ke dalam
kehidupan yang lebih sejahtera dan bergotong royong sebagaimana layaknya
kehidupan di dusun sejak jaman nenek moyang mereka dahulu. Dia mengangkat kedua
tangan minta agar semua orang diam. Setelah keadaaan menjadi tenang, Narotama bertanya,
"Sekarang
kami hendak bertanya, apakah kalian bersedia sekarang untuk memilih dan
mengangkat seorang lurah baru. Kalau bersedia, harap angkat tangan tanda
setuju!"
Semua orang
mengacungkan tangan dan ada yang berteriak-teriak lantang,
"Setujuuuu
.....!"
"Baik,
kalau andika sekalian setuju, pilihlah seorang di antara kalian untuk menjadi
lurah baru di dusun ini!"
Bagaikan
sekumpulan burung, terdengar mereka menyebutkan nama seseorang,
"Ki
Pujosaputro .....!!"
Narotama
tersenyum. Ki patih ini memiliki batin yang selalu dekat dengan Sang Hyang
Widhi sehingga dia memiliki kepekaan yang amat halus. Tadi begitu melihat Ki
Pujosaputro, dia sudah merasa suka kepada orang ini.
"Dengarkan
semua! Kami mendengar seruan nama Ki Pujosaputro? Benarkah andika sekalian
memilih Ki Pujosaputro sebagai lurah kalian yang baru? Kalau benar, acungkan
tangan!"
Semua orang
bersorak sambil mengacungkan tangan mereka. Ki Pujosaputro sendiri yang berdiri
di pendopo segera mendekati Ki Patih Narotama dan berkata dengan muka kemerahan.
"Aduh,
Gusti Patih! Hamba..... hamba seorang yang bodoh dan lemah, bagaimana mungkin
dapat menjadi seorang lurah yang baik? Mohon paduka memilih lain orang
saja."
Narotama
tersenyum kepadanya.
"Justeru
ucapan penolakanmu ini yang meyakinkan hati kami bahwa andika adalah orang yang
tepat untuk menjadi lurah yang baik hati untuk dusun ini. Bukan orang pintar
dan kuat yang kami butuhkan, melainkan orang yang rendah hati dan baik
budi."
Narotama
melihat Ki Wirodipo, orang pertama yang dia jumpai ketika memasuki dusun Karang
Tirta, dan yang dia titipi kudanya, berdiri di bagian depan kelompok penduduk
dusun itu. Narotama menggapai kepada Ki Wirodipo dan berkata,
"Paman
Wirodipo, naiklah ke sini, kami hendak bertanya kepada andika."
Ki Wirodipo
tergopoh-gopoh naik pendopo dan begitu tiba di depan Narotama dia lalu sungkem
dan menyembah
"Ampunkan
hamba, sama sekali hamba tidak tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih ....."
"Bangkitlah,
Paman Wirodipo dan jawab pertanyaanku dengan suara nyaring agar semua orang
dapat mendengarkan. Coba ceritakan tentang keadaan diri Ki Pujosaputro ini.
Andika mengenalnya bukan?"
Ki Wirodipo
bangkit berdiri dan dengan muka berseri dia memandang kepada Ki Pujosaputro
lalu menjawab dengan suara lantang.
"Tentu
saja hamba mengenal Ki Pujosaputro. Sejak kecil dia tinggal di dusun ini dan
dia adalah seorang yang mewarisi sawah ladang yang luas. Ki Pujosaputro inilah
yang mengajak para penduduk yang mampu untuk membantu penduduk yang kekurangan.
Kalau tidak ada Ki Pujosaputro dan teman-temannya, hamba semua tentu semakin
payah di bawah tekanan Ki Suramenggala. Karena itulah, Gusti Patih, maka hamba
sekalian memilih Ki Pujosaputro untuk menjadi lurah Karang Tirta yang
baru."
Narotama lalu
menghadapi Ki Pujosaputro dan berkata,
"Ki
Pujosaputro, kami harap andika tidak menolak lagi karena andika telah dipilih
oleh semua penduduk Karang Tirta."
"Ampun,
Gusti Patih, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"
"Itu
dapat diatur nanti, kami akan memberi petunjuk."
Setelah
berkata demikian dan melihat Ki Pujosaputro tidak memperlihatkan sikap menolak
lagi, Narotama lalu menghadapi para penduduk dan berkata dengan lantang.
"Kami
sebagai Patih Kahuripan mewakili Gusti Sinuwun mengangkat Ki Pujosaputro
sebagai lurah dusun Karang Tirta, sesuai dengan keinginan semua penduduknya.
Semua pengembalian tanah kepada pemiliknya dahulu akan diatur dengan tertib
oleh Ki Lurah Pujosaputro yang akan dibantu oleh Ki Wirodipo dan para pembantu
lain yang akan dipilih dan ditunjuk oleh Ki Lurah Pujosaputro. Sekarang, andika
sekalian harap kembali ke pekerjaan masing masing."
Orang-orang
itu bersorak sorai dan berlarian meninggalkan halaman kelurahan itu. Halaman
itu sebentar saja kosong dan hanya tinggal seorang yang tinggal situ, seorang
wanita berusia kurang lebih tiga puluh tujuh tahun dan wanita itu mendeprok di
atas tanah sambil menangis.
"Ki Lurah
Pujosaputro, siapakah wanita itu? Kenapa ia menangis dan tinggal di sana?"
Ki Pujosaputro
dan Ki Wirodipo memandang dan Ki Pujosaputro berkata,
"Ia
adalah Nyi Lasmi yang sudah beberapa tahun ini menjadi selir Ki Suramengga,
gusti. Hamba juga tidak tahu mengapa ia menangis."
"Selir Ki
Suramenggala? Kenapa ia tidak ikut pergi bersama Ki Suramenggala? Coba panggil
ia ke sini!"
Ki Wirodipo
tanpa diperintah mendahului lurahnya turun dari pendopo menghampiri Nyi Lasmi.
Melihat sikap Wirodipo ini, Ki Lurah Pujosaputro merasa senang. Tidak salah
pilihan Ki Patih Narotama untuk memperbantukan Ki wirodipo kepadanya!
"Nyi
Lasmi, andika dipanggil oleh Gusti Patih. Mari menghadap, beliau bijaksana,
tentu akan dapat membikin terang persoalan yang menggelapkan hatimu."
Nyi Lasmi
menahan tangisnya, bangkit dan mengikuti naik ke pendopo kelurahan. Setelah
tiba di depan Narotama, ia menekuk lututnya dan menyembah.
"Nyi
Lasmi, mari ikut ke dalam, kita bicara di dalam." Kata Narotama dan mereka
semua memasuki ruangan depan rumah yang telah kosong itu. Di situ terdapat
sebuah meja besar dengan beberapa buah kursi. Narotama mengajak tiga orang itu
duduk berhadapan dengannya, terhalang meja. Di depan ki patih, Nyi Lasmi tidak
berani menangis, hanya matanya masih merah dan terkadang ia harus mengusap air
mata yang tergantung di bulu matanya.
"Nyi
Lasmi, katakan kenapa andika tidak ikut Ki Suramenggala pergi?" tanya
Narotama, suaranya lembut dan ramah sehingga hilanglah rasa takut Nyi Lasmi
"Bukankah
andika ini isterinya?"
Nyi Lasmi
menggunakan sehelai sapu tangan yang sudah basah untuk menyusut dua butir air
mata, lalu menyembah
"Ampunkan
hamba, gusti patih, hamba menjadi isteri Ki Suramenggala karena terpaksa dan
sekarang setelah dia terusir dari dusun ini, hamba merasa bebas dan tidak ingin
ikut dengannya."
Narotama
menoleh kepada Ki Pujosaputro.
"Benarkah
bahwa Nyi Lasmi ini terpaksa menjadi isteri Suramenggala?"
Ki Pujosaputro
melaporkan sejujurnya
"Dahulu,
Nyi Lasmi adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan. Kurasa lebih lima
tahun yang lalu anaknya diculik orang. Dalam keadaan hidup seorang diri itu dia
dibujuk dan diancam oleh Ki Suramenggala dan ia agaknya tidak dapat menolak
ketika diambil sebagai selir."
Narotama
mengangguk-angguk, ia bertanya lagi kepada wanita itu.
"Kalau
memang andika sudah mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Ki Suramenggala,
kenapa andika menangis di halaman itu?"
"Hamba
merasa bingung harus pergi mana, gusti patih. Hamba tidak mempunyai tempat
tinggal, hidup sebatang kara."
"Hemm,
apakah andika tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali?"
Wanita itu
kembali mengusap dua bulir air mata.
"Hamba
hanya mempunyai seorang anak perempuan yang ketika berusia tiga belas tahun
diculik orang. Akan tetapi lima tahun kemudian, baru beberapa bulan yang lalu,
ia pulang ke sini dan telah pergi lagi. Kalau saja ada Puspa Dewi anak hamba,
tentu hamba tidak menjadi bingung seperti ini."
Narotama
melebarkan matanya.
"Puspa
Dewi? Ia itu anakmu? Gadis yang memiliki kesaktian itu?"
"Kasinggihan
(benar), gusti. Setelah pulang, anak hamba Puspa Dewi menjadi seorang gadis
yang memiliki kesaktian, akan tetapi kini ia pergi entah ke mana hamba tidak
diberitahu."
Tiba-tiba Ki
Lurah Pujosaputro menyembah dan berkata,
"Kalau
hamba boleh mengajukan usul, gusti. Biarlah Nyi Lasmi tetap tinggal di rumah
ini. Hamba hanya akan menggunakan ruangan depan dan pendopo untuk tempat para
pamong desa bekerja dan untuk rapat pertemuan warga dusun."
"Bagaimana,
Nyi Lasmi?" tanya Narotama.
"Terima
kasih atas kebaikan hati Ki Lurah, akan tetapi rumah ini terlalu besar untuk
saya tempati seorang diri saja. Saya hanya ingin mondok untuk sementara sambil
menanti anak saya pulang."
"Hemm,
kalau begitu, Ki Lurah Pujosaputro, sebaiknya andika sekeluarga boyongan pindah
ke rumah kelurahan ini dan biarkan Nyi Lasmi mondok di sini. Setujukah
andika?"
"Tentu
saja hamba setuju, gusti patih!" kata Ki Lurah Pujosaputro dengan wajah
cerah.
"Nah,
kalau begitu urusan Nyi Lasmi sudah beres. Masuklah dan siapkan keperluanmu,
Nyi Lasmi. Kami masih mempunyai banyak persoalan untuk dibicarakan"
Nyi Lasmi
menyembah dan berkata,
"Gusti
patih, hamba menghaturkan banyak terima kasih. Sesungguhnya, selain hamba
terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala, juga hamba tidak ingin anak hamba Puspa
Dewi dibawa ke jalan sesat olehnya maka sekarang setelah mendapat kesempatan
hamba memisahkan diri dari keluarga Ki Suramenggala."
Narotama
mengangguk-angguk, dan berkata,
"Keputusan
yang andika ambil itu bijaksana."
Nyi Lasmi lalu
memberi hormat lagi dan mengundurkan diri, masuk ke ruangan dalam rumah gedung
itu. Narotama lalu memberi petunjuk kepada lurah baru itu. Agar segera memilih
pembantu-pembantu yang jujur dan rajin bekerja, lalu membentuk penjaga keamanan
dengan memilih pemuda-pemuda dusun itu yang baik budi. Menertibkan pemilikan
kembali sawah ladang para penduduk yang dulu diambil Ki Suramenggala, dan agar
mengajak semua warga untuk menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan
penduduk dengan bergotong royong.
"Tentu
saja untuk mengurus dan menertibkan semua itu andika memerlukan tenaga bantuan,
karena itu, bersama Wirodipo yang telah mengenal semua penduduk di sini, harap
andika pilih siapa kiranya yang tepat untuk menjadi pembantu kelurahan. Jangan
mendahulukan orang pintar, akan tetapi lebih baik mencari pembantu yang jujur
dan baik budi. Orang pintar sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, akan
tetapi mencari orang yang jujur, setia dan baik budi amatlah sulitnya. Soal
kepintaran dapat dipelajari oleh orang yang bodoh, akan tetapi kebaikan budi
tidak dapat dipelajari oleh orang yang jahat. Kalau kami sudah kembali ke kota
raja, akan kami kirim pejabat yang berwenang untuk mengesahkan pengangkatan
andika sebagai Lurah baru."
Setelah meninggalkan
semua pesan itu Narotama lalu kembali ke kota raja. Dia ditugaskan oleh Sang
Prabu Erlangga untuk menyelidiki urusan antara Nurseta dan Pangeran Hendratama,
untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk itu, dia
membutuhkan bukti yang nyata. Dia sudah melakukan penyelidikan tentang diri
Nurseta dan keterangan yang diperolehnya menyatakan bahwa Nurseta adalah
seorang pemuda yang baik wataknya. Apalagi mengingat betapa pemuda itu menjadi
murid mendiang Sang Empu Dewamurti, maka dia mendapatkan kesan baik terhadap
pemuda itu. Kini dia harus melakukan penyelidikan kepada Pangeran Hendratama.
Puteri Lasmini
dan Mandari menunggang kuda memasuki hutan lebat. Sang Prabu Erlangga hanya
mengetahui bahwa selirnya, Mandari, yang dikunjungi kakaknya, Lasmini, pergi
berdua untuk berburu seperti yang biasa dilakukan dua orang puteri itu, seperti
yang dikemukakan Mandari kepadanya ketika berpamit. Tidak seperti para puteri
lain, dua orang puteri kakak beradik ini melakukan perjalanan berburu binatang
dalam hutan tanpa pengawal seorangpun. Hal ini tidak mengherankan, juga Sang
Prabu Erlangga memperkenankan, karena dia mengetahui bahwa dua orang wanita
cantik itu adalah wanita-wanita digdaya yang tidak membutuhkan pengawal dan
mampu melindungi diri sendiri. Sesungguhnya, dua orang puteri itu bukan berburu
binatang biasa saja seperti yang dikatakan ketika berpamit dari Sang Prabu
Erlangga. Mereka hanya menggunakan perburuan sebagai dalih saja. Sebetulnya
mereka memasuki hutan atas undangan Pangeran Hendratama yang mengadakan
pertemuan dengan para sekutunya. Persekutuan yang diam-diam merencanakan
kehancuran Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini memang telah lama
saling mengadakan kontak rahasia. Mereka berdua menuju ke tengah hutan dan di
tempat yang sunyi dan tak pernah dikunjungi orang luar itu terdapat sebuah
pondok kayu yang sederhana namun cukup besar. Di tengah perjalanan tadi,
setelah semakin dekat dengan pondok, kedua orang puteri itu melihat orang-orang
yang melakukan penjagaan. Itu adalah orang-orang yang ditugaskan Pangeran
Hendratama untuk menjaga agar jangan ada orang luar datang mendekati pondok
dimana berkumpul para sekutunya untuk mengadakan perundingan.
No comments:
Post a Comment