Diam-diam Ki Lurah Suramenggala terkejut. Kenapa ki patih tiba-tiba datang bertanya tentang Nurseta?
"Nurseta
.....? Ah, tentu saja, gusti patih. Hamba tahu siapa bocah itu!"
"Hemm,
begitukah?" Narotama menatap tajam wajah lurah yang dari suaranya jelas
menunjukkan rasa bencinya terhadap Nurseta. "Ceritakan sejujurnya apa yang
andika ketahui tentang dia”.
"Dia itu
anak pasangan suami istri yang menjadi buronan, dan ketika Nurseta berusia lima
tahun, ayah ibunya melarikan diri karena ketahuan oleh Senopati Sindukerta yang
mencari mereka. Nurseta ditinggalkan di dusun ini. Kalau tidak ada hamba yang
memeliharanya, tentu anak itu akan kapiran dan mungkin mati kelaparan, gusti
patih."
"Hemm,
kenapa mereka ketakutan dan dicari Senopati Sindukerta?"
"Karena
Dharmaguna, ayah Nurseta Itu, melarikan puteri Senopati Sindukerta yang menjadi
ibu kandung Nurseta, dan Senopati Sindukerta mencari mereka, tentu untuk
menghukum Dharmaguna yang membawa minggat puterinya."
"Lalu
bagaimana dengan Nurseta?"
"Hamba
memeliharanya sampai besar. Akan tetapi dasar anak buronan yang tidak mengenal
budi, ketika berusia sekitar enam belas tahun dia minggat, tak seorangpun mengetahui
dia pergi kemana. Kemudian, baru beberapa bulan yang lalu ini dia muncul
kembali dan..... ah, dasar anak orang jahat, anak setan itu .....",
"Cukup!
Hentikan maki-makianmu yang kotor itu dan ceritakan saja apa yang
terjadi!" Narotama membentak. Ki Lurah Suramenggala terkejut sekali dan
menyembah.
"Ampun,
gusti patih. Anak itu malam-malam datang dan hendak membunuh hamba!"
"Hemm,
aneh. Kenapa dia hendak membunuhmu?"
"Hamba
juga tidak tahu. Dia bertanya kepada hamba dimana adanya orang tuanya. Hamba
memang tidak tahu akan tetapi agaknya dia tidak percaya lalu marah dan hendak
membunuh hamba. Untung pada saat itu ada anak-anak hamba, Linggajaya dan Puspa
Dewi yang juga telah menjadi orang-orang sakti. Kedua anak hamba itu melawan
Nurseta dan berhasil membuat Nurseta lari ketakutan. Itulah yang hamba ketahui
tentang anak se..... eh, Nurseta itu, gusti patih."
Narotama
termenung. Omongan seorang seperti lurah ini tentu saja tidak dapat dipercaya
sepenuhnya, akan tetapi setidaknya dari ceritanya itu dia dapat menilai bahwa
lurah ini memang seorang yang tidak pantas menjadi seorang kepala dusun yang
mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Cerita Ki Wirodipo tentang Nurseta dan
tentang keluarga Lurah Suramenggala tentu saja lebih dapat dipercaya
kebenarannya.
"Sekarang
ceritakan yang sejujurnya tentang keris pusaka Sang Megatantra. Apakah andika
mengetahui sesuatu tentang keris pusaka itu?"
Ki Lurah
Suramenggala memang belum pernah mendengar tentang keris pusaka itu. Sebetulnya
Puspa Dewi mengetahuinya, akan tetapi anak tirinya itupun tidak bercerita
kepadanya. Maka dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan suara yang
meyakinkan.
"Tidak,
gusti. Hamba sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang pusaka
yang paduka sebutkan tadi."
Sekali ini Narotama
percaya karena kata lurah itu sudah mengetahui, tentu diapun akan memutar-balik
kebutaan dan memburukkan Nurseta, mengatakan bahwa Nurseta yang mencuri. Orang
seperti ini bukan saja tidak boleh dipercaya, akan tetapi yang jelas juga tidak
boleh dibiarkan terus menjadi lurah di dusun Karang Tirta ini. Dia dapat
membayangkan betapa lurah ini pasti hidup sebagai seorang raja kecil yang lalim
di dusun ini. Bukti nyata bahwa rakyat Karang Tirta tidak mencintanya adalah
ketika lurah itu tadi berteriak teriak minta tolong, ada penduduk yang
berlarian datang. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang bersikap
hendak membela sang lurah, melainkan hanya ingin menonton apa yang terjadi. Dan
ketika dia menghajar para anak buah lurah, dia melihat betapa banyak penduduk
yang berada di halaman tersenyum gembira!
Pada saat itu
juga Narotama sudah mengambil keputusan apa yang harus dia lakukan. Dia sudah
mendapat keterangan tentang Nurseta dan dapat mengambil kesimpulan bahwa
Nurseta adalah seorang pemuda yang baik. Dan agaknya di Karang Tirta ini dia
tidak akan bisa mendapatkan keterangan tentang Sang Megatantra. Akan tetapi
yang sudah jelas, sebagai seorang pejabat tinggi kerajaan Kahuripan, sebagai
patih yang mewakili raja, dia harus bertindak terhadap seorang pamong praja
yang lalim dan sewenang-wenang.
"Lurah
Suramenggala, sekarang aku minta andika mengeluarkan tanda memanggil semua
penduduk yang berada di dusun ini untuk datang berkumpul di sini. Cepat
laksanakan!"
Karena
ketakutan, sang lurah memanggil para anak buahnya dengan berteriak lantang,
namun tak seorangpun anak buahnya muncul. Ternyata dua belas orang yang tadi
merasa telah menghina dan mengeroyok Ki Patih Narotama, sudah melarikan diri
pergi dari dusun Karang Tirta karena takut menerima hukuman berat!
Karena tidak
seorangpun muncul Ki lurah Suramenggala terpaksa menghampiri sebuah kentungan
yang tergantung di depan pendapa lalu menabuh kentungan Itu dengan alat
pemukulnya, memberi tanda untuk mengumpulkan penduduk seperti biasanya.
Mendengar bunyi
kentungan, semua penduduk Karang Tirta, tua muda, laki-laki perempuan, yang
tidak sedang bekerja di ladang luar dusun, berdatangan berbondong-bondong
memenuhi halaman kelurahan. Memang kebanyakan dari mereka ingin sekali melihat
sang lurah di marahi Gusti Patih dan tadi mereka terpaksa pergi karena disuruh
oleh para jagoan anak buah Ki Lurah Suramenggala.
Ketika melihat
penduduk dusun memasuki halaman dan tampaknya mereka agak takut-takut sehingga
mereka berdiri bergerombol dekat pintu gerbang tidak berani terlalu mendekat
pendapa. Narotama lalu bangkit dan melangkah keluar, berdiri di tepi pendopo
yang lebih tinggi daripada tanah halaman itu dan berkata sambil melambaikan
tangan,
"Seluruh
warga dusun Karang Tirta dipersilakan maju saja semua, jangan takut. Tidak ada
yang mengancam andika sekalian. Aku, Ki Patih Narotama, yang menjamin keamanan
dan keselamatan andika sekalian. Hayo, maju dan mendekatlah'"
Mendengar ini,
orang-orang itu yang sesungguhnya takut kepada Ki Lurah Suramenggala, menjadi
gembira dan timbul keberanian mereka. Dipelopori oleh beberapa orang pemuda,
mereka lalu melangkah maju sampai tiba di pendopo. Wajah mereka berseri dan
memancarkan harapan agar terjadi perubahan yang baik bagi mereka dalam dusun
mereka itu. Sementara itu, dari ruangan dalam rumah, ketika kentungan
dibunyikan bertalu-talu, para keluarga dan pelayan Ki lurah Suramenggala juga
bermunculan keluar dan duduk, bergerombol di atas lantai dekat pintu tembusan.
Hanya seorang saja di antara para keluarga yang tidak tampak, yaitu Nyi Lasmi,
ibu kandung Puspa Dewi. Wanita ini, yang dulu diambil sebagai selir oleh Ki
Lurah Suramenggala dengan bujukan dan ancaman sehingga terpaksa ia mau menjadi
selir ki lurah, sebetulnya merasa tersiksa hidupnya. Ia hanya melayani ki lurah
atas dasar rasa takut dan melihat sepak terjang lurah yang menjadi suaminya itu
seringkali ia merasa tidak suka dan menyesal sekali. Berbagai tindakan kejam
dilakukan suaminya itu terhadap penduduk Karang Tirta. Akan tetapi ia tidak
mampu berbuat sesuatu. Juga perlakukan ki lurah terhadap dirinya kasar dan
kejam. Baru setelah Puspa Dewi muncul, sikap ki lurah agak berbeda, tidak
berani bersikap terlalu kasar, apalagi kejam kepadanya. Dan di dalam hatinya,
Nyi Lasmi juga mulai merasa tidak takut karena ia tahu bahwa suaminya itu takut
kepada Puspa Dewi yang kini menjadi seorang gadis sakti. Mulailah ia sering
berani membantah kehendak ki lurah. Tadi ketika melihat munculnya Ki Patih
Narotama yang merobohkan para tukang pukul dan memarahi ki lurah, Nyi Lasmi
merasa senang, mengharap agar kedatangan ki patih itu akan mengubah watak
suaminya dan akan membela kepentingan rakyat Karang Tirta yang selama ini
tertindas, dalam ketakutan dan kekurangan. Maka, ketika ki lurah memanggil
semua orang lewat kentungan, diam-diam ia malah keluar dari kelurahan melalui
pintu belakang dan dengan jalan memutar kini ia bergabung dengan para penduduk!
Setelah tidak
ada yang datang lagi, Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas dan berdiri
di tepi lantai pendapa sambil mengajak ki lurah berdiri di sampingnya. Suara
hiruk-pikuk orang penduduk sehingga suasananya seperti dalam pasar itu segera
berhenti dan suasana penjadi sunyi. Semua orang memandang kepada ki patih.
“Warga dusun
Karang Tirta sekalian! Kami, Ki Patih Narotama dalam hal ini mewakili junjungan
kita Sang Prabu Erlangga ingin mengadakan perubahan di dusun Karang Tirta ini
yang sesuai dengan keinginan andika sekalian. Oleh karena itu, kami akan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kalian yang hanya membutuhkan jawaban
ya atau tidak, atau sekadar mengacungkan tangan, Nah, sekarang kami hendak
mengajukan pertanyaan pertama dan kami minta agar yang merasa terkena suka
mengacungkan tangannya ke atas. Dengarkan baik-baik. Siapa di antara andika
sekalian yang merasa tidak memiliki tanah sejengkal pun?"
Banyak sekali
tangan diacungkan ke atas, hampir semua. Hanya ada belasan orang yang berdiri
di bagian depan yang tidak mengacungkan tangan. Melihat ini, Narotama
mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ki lurah yang tampak menundukkan mukanya
yang basah oleh peluh. Narotama menggapai kepada mereka yang tidak mengacungkan
tangan dan berdiri di bagian depan kelompok itu.
"Apakah
di antara kalian ada yang suka naik ke sini untuk memberi penjelasan kepada
kami? Jangan takut kepada siapa pun, kami, Ki Patih Narotama yang menjamin
keselamatanmu. Hayo, siapa yang berani menjadi wakil saudara-saudara sedusun.
Maju dan naiklah!"
Mereka saling
dorong dan akhirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun maju
dan naik anak tangga lalu memberi hormat dengan sembah kepada ki patih.
Narotama melihat laki laki ini berwajah cukup terang dan tampaknya selain
pemberani juga cerdas.
"Siapa
nama andika?" tanya ki patih.
"Jawab
dengan keras agar semua orang mendengar."
"Nama
hamba Pujosaputro."
"Nah,
ceritakanlah keadaan penduduk di Karang Tirta ini. Bagaimana sampai hampir
semua orang tidak memiliki tanah garapan?"
Pujosaputro
menoleh kepada Ki Lurah Suramenggala dan berkata lirih,
"Ki
Lurah, maafkan kalau saya harus bercerita sejujurnya." Kemudian dia
menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata dengan suara lantang.
"Dulu,
hampir semua penduduk dusun kami ini mempunyai sebidang tanah, tidak terlalu
luas namun hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing. Lalu
beberapa tahun yang lalu datang musim kemarau yang panjang sekali. Tanah tidak
menghasilkan apa-apa. Kami beberapa orang yang memiliki simpanan jagung dan
gaplek berusaha menolong para saudara yang kekurangan makan, akan tetapi masih
juga tidak mencukupi. Lalu Lurah Suramenggala yang mempunyai kelebihan uang,
mendatangkan bahan makanan dari daerah lain. Semua penduduk mendapatkan bahan
makanan, akan tetapi mereka harus menjual tanah mereka kepada Ki Lurah. Karena
itulah maka sebagian besar di antara penduduk kini tidak mempunyai tanah
lagi."
"Hemm,
begitukah? Dan mereka semua lalu menggarap tanah siapa?"
"Tentu
saja menggarap tanah ki lurah gusti patih, dan mereka mendapatkan upah kerja
sekadarnya."
"Dan
semua hasil panen masuk gudang ki lurah?"
Kembali
Pujosaputro mengerling pada ki lurah yang hanya menundukkan muka, lalu
menjawab,
"Benar
begitu gusti."
Narotama
mengangguk-angguk.
“Pujosaputro,
apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala menggunakan kekuatan para anak buahnya
untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat?"
Ki Pujosaputro
meragu.
"Ampun,
gusti patih. Hamba tidak berani menjawab, tidak enak terhadap ki lurah. Mohon
paduka tanyakan saja kepada semua penduduk."
Narotama lalu
berseru kepada semua penduduk.
"Dengar,
warga sekalian. Apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala bertindak
sewenang-wenang menggunakan para tukang pukulnya, memaksakan kehendaknya
terhadap andika sekalian? Kalau tidak, kalian diam saja, kalau benar, angkatlah
tangan ke atas."
Serentak semua
orang mengangkat tangannya ke atas! Dengan hadirnya Ki Patih Narotama dan
melihat Ki Lurah Suramenggala mati kutu dan para tukang pukul juga tidak ada
yang muncul, orang orang itu menjadi berani, apalagi kini mereka berkumpul dan
keselamatan mereka dijamin oleh Ki Patih Narotama.
"Baik,
sekarang kami yakin bahwa Ki suramenggala memang bertindak sewenang-wenang
kepada penghuni dusun Ini. Sekarang, apakah andika sekalian menghendaki lurah
dusun ini diganti?"
Kembali semua
tangan mengacung ke atas. Orang-orang mulai hiruk-pikuk saling bicara sendiri
dan rata-rata mereka gembira dan bersemangat. Dengan melambaikan kedua
tangannya Narotama minta agar semua orang diam. Dia lalu berkata kepada Ki
Suramenggala suaranya lantang dan penuh wibawa.
"Ki
Suramenggala, sepatutnya andika ini dihukum karena telah menyalah-gunakan
wewenang sehingga andika mencemarkan nama baik semua pamong praja dan kerajaan
Kahuripan. Akan tetapi kami hanya menjatuhkan hukuman agar andika sekeluarga
pergi dari dusun Karang Tirta dan boleh membawa barang-barang andika. Akan
tetapi, semua tanah akan di kembalikan kepada para petani dan semua hutang para
petani kepada andika dihapus. Dusun ini akan mendapatkan seorang lurah
lain."
Ki
Suramenggala mengangkat mukanya dan pandang matanya berkilat, sekilas menatap
wajah Narotama penuh kebencian, kemudian dia menyapu para penduduk dengan
kilatan matanya sehingga para penduduk menjadi gentar. Akan tetapi Narotama
dengan lantang membesarkan hati para penduduk.
"Jangan
andika sekalian merasa takut. Lurah baru akan membentuk pasukan keamanan
terdiri dari para pemuda sehingga kalau ada yang hendak mengacaukan Karang
Tirta, kalian dapat melawannya. Pula, kalau kami mendengar ada pengacau di
sini, pasti kami akan datang atau mengirim senopati dengan pasukannya untuk
menghukum si pengacau!"
Mendengar
ucapan yang lantang dan tegas ini, Ki Lurah atau lebih tepat mantan lurah
Suramenggala menundukkan mukanya dan semua orang tiba-tiba bersorak gembira.
Sudah terlalu lama mereka merindukan perubahan nasib mereka yang tertindas
dibawah tangan besi Ki Suramenggala. Kini, Ki Suramenggala dicopot dari
kedudukanya, bahkan tanah mereka yang dibeli secara paksa oleh Ki Suramenggala
karena mereka membutuhkan makan di waktu paceklik, kini dikembalikan begitu
saja kepada mereka. Juga mereka yang masih terikat hutang oleh Ki Suramenggala
kini telah bebas! Muncul harapan baru bagaikan sinar matahari pagi di hati para
penduduk.
No comments:
Post a Comment