Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 74


Diam-diam Ki Lurah Suramenggala terkejut. Kenapa ki patih tiba-tiba datang bertanya tentang Nurseta?
"Nurseta .....? Ah, tentu saja, gusti patih. Hamba tahu siapa bocah itu!"
"Hemm, begitukah?" Narotama menatap tajam wajah lurah yang dari suaranya jelas menunjukkan rasa bencinya terhadap Nurseta. "Ceritakan sejujurnya apa yang andika ketahui tentang dia”.
"Dia itu anak pasangan suami istri yang menjadi buronan, dan ketika Nurseta berusia lima tahun, ayah ibunya melarikan diri karena ketahuan oleh Senopati Sindukerta yang mencari mereka. Nurseta ditinggalkan di dusun ini. Kalau tidak ada hamba yang memeliharanya, tentu anak itu akan kapiran dan mungkin mati kelaparan, gusti patih."
"Hemm, kenapa mereka ketakutan dan dicari Senopati Sindukerta?"
"Karena Dharmaguna, ayah Nurseta Itu, melarikan puteri Senopati Sindukerta yang menjadi ibu kandung Nurseta, dan Senopati Sindukerta mencari mereka, tentu untuk menghukum Dharmaguna yang membawa minggat puterinya."
"Lalu bagaimana dengan Nurseta?"
"Hamba memeliharanya sampai besar. Akan tetapi dasar anak buronan yang tidak mengenal budi, ketika berusia sekitar enam belas tahun dia minggat, tak seorangpun mengetahui dia pergi kemana. Kemudian, baru beberapa bulan yang lalu ini dia muncul kembali dan..... ah, dasar anak orang jahat, anak setan itu .....",
"Cukup! Hentikan maki-makianmu yang kotor itu dan ceritakan saja apa yang terjadi!" Narotama membentak. Ki Lurah Suramenggala terkejut sekali dan menyembah.
"Ampun, gusti patih. Anak itu malam-malam datang dan hendak membunuh hamba!"
"Hemm, aneh. Kenapa dia hendak membunuhmu?"
"Hamba juga tidak tahu. Dia bertanya kepada hamba dimana adanya orang tuanya. Hamba memang tidak tahu akan tetapi agaknya dia tidak percaya lalu marah dan hendak membunuh hamba. Untung pada saat itu ada anak-anak hamba, Linggajaya dan Puspa Dewi yang juga telah menjadi orang-orang sakti. Kedua anak hamba itu melawan Nurseta dan berhasil membuat Nurseta lari ketakutan. Itulah yang hamba ketahui tentang anak se..... eh, Nurseta itu, gusti patih."
Narotama termenung. Omongan seorang seperti lurah ini tentu saja tidak dapat dipercaya sepenuhnya, akan tetapi setidaknya dari ceritanya itu dia dapat menilai bahwa lurah ini memang seorang yang tidak pantas menjadi seorang kepala dusun yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Cerita Ki Wirodipo tentang Nurseta dan tentang keluarga Lurah Suramenggala tentu saja lebih dapat dipercaya kebenarannya.
"Sekarang ceritakan yang sejujurnya tentang keris pusaka Sang Megatantra. Apakah andika mengetahui sesuatu tentang keris pusaka itu?"
Ki Lurah Suramenggala memang belum pernah mendengar tentang keris pusaka itu. Sebetulnya Puspa Dewi mengetahuinya, akan tetapi anak tirinya itupun tidak bercerita kepadanya. Maka dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan suara yang meyakinkan.
"Tidak, gusti. Hamba sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang pusaka yang paduka sebutkan tadi."

Sekali ini Narotama percaya karena kata lurah itu sudah mengetahui, tentu diapun akan memutar-balik kebutaan dan memburukkan Nurseta, mengatakan bahwa Nurseta yang mencuri. Orang seperti ini bukan saja tidak boleh dipercaya, akan tetapi yang jelas juga tidak boleh dibiarkan terus menjadi lurah di dusun Karang Tirta ini. Dia dapat membayangkan betapa lurah ini pasti hidup sebagai seorang raja kecil yang lalim di dusun ini. Bukti nyata bahwa rakyat Karang Tirta tidak mencintanya adalah ketika lurah itu tadi berteriak teriak minta tolong, ada penduduk yang berlarian datang. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang bersikap hendak membela sang lurah, melainkan hanya ingin menonton apa yang terjadi. Dan ketika dia menghajar para anak buah lurah, dia melihat betapa banyak penduduk yang berada di halaman tersenyum gembira!
Pada saat itu juga Narotama sudah mengambil keputusan apa yang harus dia lakukan. Dia sudah mendapat keterangan tentang Nurseta dan dapat mengambil kesimpulan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik. Dan agaknya di Karang Tirta ini dia tidak akan bisa mendapatkan keterangan tentang Sang Megatantra. Akan tetapi yang sudah jelas, sebagai seorang pejabat tinggi kerajaan Kahuripan, sebagai patih yang mewakili raja, dia harus bertindak terhadap seorang pamong praja yang lalim dan sewenang-wenang.
"Lurah Suramenggala, sekarang aku minta andika mengeluarkan tanda memanggil semua penduduk yang berada di dusun ini untuk datang berkumpul di sini. Cepat laksanakan!"
Karena ketakutan, sang lurah memanggil para anak buahnya dengan berteriak lantang, namun tak seorangpun anak buahnya muncul. Ternyata dua belas orang yang tadi merasa telah menghina dan mengeroyok Ki Patih Narotama, sudah melarikan diri pergi dari dusun Karang Tirta karena takut menerima hukuman berat!
Karena tidak seorangpun muncul Ki lurah Suramenggala terpaksa menghampiri sebuah kentungan yang tergantung di depan pendapa lalu menabuh kentungan Itu dengan alat pemukulnya, memberi tanda untuk mengumpulkan penduduk seperti biasanya.
Mendengar bunyi kentungan, semua penduduk Karang Tirta, tua muda, laki-laki perempuan, yang tidak sedang bekerja di ladang luar dusun, berdatangan berbondong-bondong memenuhi halaman kelurahan. Memang kebanyakan dari mereka ingin sekali melihat sang lurah di marahi Gusti Patih dan tadi mereka terpaksa pergi karena disuruh oleh para jagoan anak buah Ki Lurah Suramenggala.

Ketika melihat penduduk dusun memasuki halaman dan tampaknya mereka agak takut-takut sehingga mereka berdiri bergerombol dekat pintu gerbang tidak berani terlalu mendekat pendapa. Narotama lalu bangkit dan melangkah keluar, berdiri di tepi pendopo yang lebih tinggi daripada tanah halaman itu dan berkata sambil melambaikan tangan,
"Seluruh warga dusun Karang Tirta dipersilakan maju saja semua, jangan takut. Tidak ada yang mengancam andika sekalian. Aku, Ki Patih Narotama, yang menjamin keamanan dan keselamatan andika sekalian. Hayo, maju dan mendekatlah'"
Mendengar ini, orang-orang itu yang sesungguhnya takut kepada Ki Lurah Suramenggala, menjadi gembira dan timbul keberanian mereka. Dipelopori oleh beberapa orang pemuda, mereka lalu melangkah maju sampai tiba di pendopo. Wajah mereka berseri dan memancarkan harapan agar terjadi perubahan yang baik bagi mereka dalam dusun mereka itu. Sementara itu, dari ruangan dalam rumah, ketika kentungan dibunyikan bertalu-talu, para keluarga dan pelayan Ki lurah Suramenggala juga bermunculan keluar dan duduk, bergerombol di atas lantai dekat pintu tembusan. Hanya seorang saja di antara para keluarga yang tidak tampak, yaitu Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi. Wanita ini, yang dulu diambil sebagai selir oleh Ki Lurah Suramenggala dengan bujukan dan ancaman sehingga terpaksa ia mau menjadi selir ki lurah, sebetulnya merasa tersiksa hidupnya. Ia hanya melayani ki lurah atas dasar rasa takut dan melihat sepak terjang lurah yang menjadi suaminya itu seringkali ia merasa tidak suka dan menyesal sekali. Berbagai tindakan kejam dilakukan suaminya itu terhadap penduduk Karang Tirta. Akan tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Juga perlakukan ki lurah terhadap dirinya kasar dan kejam. Baru setelah Puspa Dewi muncul, sikap ki lurah agak berbeda, tidak berani bersikap terlalu kasar, apalagi kejam kepadanya. Dan di dalam hatinya, Nyi Lasmi juga mulai merasa tidak takut karena ia tahu bahwa suaminya itu takut kepada Puspa Dewi yang kini menjadi seorang gadis sakti. Mulailah ia sering berani membantah kehendak ki lurah. Tadi ketika melihat munculnya Ki Patih Narotama yang merobohkan para tukang pukul dan memarahi ki lurah, Nyi Lasmi merasa senang, mengharap agar kedatangan ki patih itu akan mengubah watak suaminya dan akan membela kepentingan rakyat Karang Tirta yang selama ini tertindas, dalam ketakutan dan kekurangan. Maka, ketika ki lurah memanggil semua orang lewat kentungan, diam-diam ia malah keluar dari kelurahan melalui pintu belakang dan dengan jalan memutar kini ia bergabung dengan para penduduk!

Setelah tidak ada yang datang lagi, Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas dan berdiri di tepi lantai pendapa sambil mengajak ki lurah berdiri di sampingnya. Suara hiruk-pikuk orang penduduk sehingga suasananya seperti dalam pasar itu segera berhenti dan suasana penjadi sunyi. Semua orang memandang kepada ki patih.
“Warga dusun Karang Tirta sekalian! Kami, Ki Patih Narotama dalam hal ini mewakili junjungan kita Sang Prabu Erlangga ingin mengadakan perubahan di dusun Karang Tirta ini yang sesuai dengan keinginan andika sekalian. Oleh karena itu, kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kalian yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, atau sekadar mengacungkan tangan, Nah, sekarang kami hendak mengajukan pertanyaan pertama dan kami minta agar yang merasa terkena suka mengacungkan tangannya ke atas. Dengarkan baik-baik. Siapa di antara andika sekalian yang merasa tidak memiliki tanah sejengkal pun?"
Banyak sekali tangan diacungkan ke atas, hampir semua. Hanya ada belasan orang yang berdiri di bagian depan yang tidak mengacungkan tangan. Melihat ini, Narotama mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ki lurah yang tampak menundukkan mukanya yang basah oleh peluh. Narotama menggapai kepada mereka yang tidak mengacungkan tangan dan berdiri di bagian depan kelompok itu.
"Apakah di antara kalian ada yang suka naik ke sini untuk memberi penjelasan kepada kami? Jangan takut kepada siapa pun, kami, Ki Patih Narotama yang menjamin keselamatanmu. Hayo, siapa yang berani menjadi wakil saudara-saudara sedusun. Maju dan naiklah!"
Mereka saling dorong dan akhirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun maju dan naik anak tangga lalu memberi hormat dengan sembah kepada ki patih. Narotama melihat laki laki ini berwajah cukup terang dan tampaknya selain pemberani juga cerdas.
"Siapa nama andika?" tanya ki patih.
"Jawab dengan keras agar semua orang mendengar."
"Nama hamba Pujosaputro."
"Nah, ceritakanlah keadaan penduduk di Karang Tirta ini. Bagaimana sampai hampir semua orang tidak memiliki tanah garapan?"
Pujosaputro menoleh kepada Ki Lurah Suramenggala dan berkata lirih,
"Ki Lurah, maafkan kalau saya harus bercerita sejujurnya." Kemudian dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata dengan suara lantang.
"Dulu, hampir semua penduduk dusun kami ini mempunyai sebidang tanah, tidak terlalu luas namun hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing. Lalu beberapa tahun yang lalu datang musim kemarau yang panjang sekali. Tanah tidak menghasilkan apa-apa. Kami beberapa orang yang memiliki simpanan jagung dan gaplek berusaha menolong para saudara yang kekurangan makan, akan tetapi masih juga tidak mencukupi. Lalu Lurah Suramenggala yang mempunyai kelebihan uang, mendatangkan bahan makanan dari daerah lain. Semua penduduk mendapatkan bahan makanan, akan tetapi mereka harus menjual tanah mereka kepada Ki Lurah. Karena itulah maka sebagian besar di antara penduduk kini tidak mempunyai tanah lagi."
"Hemm, begitukah? Dan mereka semua lalu menggarap tanah siapa?"
"Tentu saja menggarap tanah ki lurah gusti patih, dan mereka mendapatkan upah kerja sekadarnya."
"Dan semua hasil panen masuk gudang ki lurah?"
Kembali Pujosaputro mengerling pada ki lurah yang hanya menundukkan muka, lalu menjawab,
"Benar begitu gusti."
Narotama mengangguk-angguk.
“Pujosaputro, apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala menggunakan kekuatan para anak buahnya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat?"
Ki Pujosaputro meragu.
"Ampun, gusti patih. Hamba tidak berani menjawab, tidak enak terhadap ki lurah. Mohon paduka tanyakan saja kepada semua penduduk."
Narotama lalu berseru kepada semua penduduk.
"Dengar, warga sekalian. Apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala bertindak sewenang-wenang menggunakan para tukang pukulnya, memaksakan kehendaknya terhadap andika sekalian? Kalau tidak, kalian diam saja, kalau benar, angkatlah tangan ke atas."

Serentak semua orang mengangkat tangannya ke atas! Dengan hadirnya Ki Patih Narotama dan melihat Ki Lurah Suramenggala mati kutu dan para tukang pukul juga tidak ada yang muncul, orang orang itu menjadi berani, apalagi kini mereka berkumpul dan keselamatan mereka dijamin oleh Ki Patih Narotama.
"Baik, sekarang kami yakin bahwa Ki suramenggala memang bertindak sewenang-wenang kepada penghuni dusun Ini. Sekarang, apakah andika sekalian menghendaki lurah dusun ini diganti?"
Kembali semua tangan mengacung ke atas. Orang-orang mulai hiruk-pikuk saling bicara sendiri dan rata-rata mereka gembira dan bersemangat. Dengan melambaikan kedua tangannya Narotama minta agar semua orang diam. Dia lalu berkata kepada Ki Suramenggala suaranya lantang dan penuh wibawa.
"Ki Suramenggala, sepatutnya andika ini dihukum karena telah menyalah-gunakan wewenang sehingga andika mencemarkan nama baik semua pamong praja dan kerajaan Kahuripan. Akan tetapi kami hanya menjatuhkan hukuman agar andika sekeluarga pergi dari dusun Karang Tirta dan boleh membawa barang-barang andika. Akan tetapi, semua tanah akan di kembalikan kepada para petani dan semua hutang para petani kepada andika dihapus. Dusun ini akan mendapatkan seorang lurah lain."
Ki Suramenggala mengangkat mukanya dan pandang matanya berkilat, sekilas menatap wajah Narotama penuh kebencian, kemudian dia menyapu para penduduk dengan kilatan matanya sehingga para penduduk menjadi gentar. Akan tetapi Narotama dengan lantang membesarkan hati para penduduk.
"Jangan andika sekalian merasa takut. Lurah baru akan membentuk pasukan keamanan terdiri dari para pemuda sehingga kalau ada yang hendak mengacaukan Karang Tirta, kalian dapat melawannya. Pula, kalau kami mendengar ada pengacau di sini, pasti kami akan datang atau mengirim senopati dengan pasukannya untuk menghukum si pengacau!"
Mendengar ucapan yang lantang dan tegas ini, Ki Lurah atau lebih tepat mantan lurah Suramenggala menundukkan mukanya dan semua orang tiba-tiba bersorak gembira. Sudah terlalu lama mereka merindukan perubahan nasib mereka yang tertindas dibawah tangan besi Ki Suramenggala. Kini, Ki Suramenggala dicopot dari kedudukanya, bahkan tanah mereka yang dibeli secara paksa oleh Ki Suramenggala karena mereka membutuhkan makan di waktu paceklik, kini dikembalikan begitu saja kepada mereka. Juga mereka yang masih terikat hutang oleh Ki Suramenggala kini telah bebas! Muncul harapan baru bagaikan sinar matahari pagi di hati para penduduk.

<<<Bagian 73                                                                                          Bagian 75 >>>

No comments:

Post a Comment