Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 73


"Terima kasih, paman. Keteranganmu itu amat berguna bagi saya. Sekarang saya ingin bertanya tentang keluarga Ki Lurah Suramenggala itu, yaitu tentang anak-anaknya."
"Anak kandungnya hanya seorang denmas Linggajaya itulah yang sekarang sudah dewasa, sekitar dua puluh satu tahun usianya. Selain denmas Linggajaya, ki lurah juga mempunyai seorang anak tiri, yaitu Masayu Puspa Dewi, setelah ibu gadis itu, seorang janda diambil selir oleh ki lurah. Selain mereka berdua Ki Lurah Suramenggala tidak mempunyai anak lain."
"Bagaimana watak anak-anaknya itu?"
"Hemm, denmas Linggajaya itu ketika kecilnya terkenal nakal sekali, mungkin karena mengandalkan kedudukan orang tuanya. Entah sekarang setelah dewasa karena sejak pulang dan menjadi orang sakti, dia hanya sebentar berada di sini lalu pergi lagi. Adapun Masayu Puspa Dewi yang juga berasal dari dusun ini, sejak kecil wataknya baik sekali. Ibunya juga seorang janda yang lemah lembut dan baik. Setelah Masayu Puspa Dewi hilang, kabarnya diculik orang, ibunya diambil sebagai selir oleh ki lurah. Kini Masayu Puspa Dewi juga telah menjadi seorang gadis sakti dan saya tidak tahu bagaimana wataknya sekarang."
Narotama mengangguk-angguk. Puspa Dewi masih menjadi seorang gadis yang baik budi, walaupun ia menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat.
"Dan bagaimana dengan Nurseta sendiri? Ketika dia masih tinggal di sini, bagaimana wataknya?"
"Wah, kalau dia anaknya rajin dan baik, denmas. Semua orang di dusun ini menyukainya. Bayangkan, dia pernah membantu saya mengerjakan ladang saya dan karena tahu bahwa saya bukan orang kaya, dia sudah puas hanya mendapatkan makan sebagai upahnya. Dia tidak mengharapkan upah lainnya lagi."
Narotama mengangguk-angguk. Seorang pemuda dengan watak sebaik itu tidak mungkin mencuri keris pusaka Sang Megatantra!
"Terima kasih, Paman Wirodipo. Sekarang saya hendak menitipkan kuda saya di sini, apakah andika tidak keberatan? Nanti kalau sudah selesai urusan saya, saya akan mengambilnya."
"O, tentu saja, denmas. Biar di halaman depan, nanti akan saya beri rumput dan minum."

Setelah mengucapkan terima kasih, Narotana lalu meninggalkan rumah Ki Wirodipo dengan jalan kaki. Ki Wirodipo memang tidak dapat memberi keterangan sedikitpun juga tentang Sang Megatantra, akan tetapi mungkin di rumah Ki Lurah Suramenggala dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang keris pusaka itu, mudah saja bagi Narotama untuk menemukan rumah Ki Lurah Suramenggala.

Rumah itu tampak mencolok karena berbeda jauh dari rumah-rumah lain. Tampak besar dan megah untuk ukuran dusun Itu. Di dekat pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi gedung itu, terdapat lima orang penjaga keamanan yang bertubuh tegap dan berwajah bengis. Diam-diam Narotama merasa heran. Kalau rumah seorang lurah dusun dijaga orang-orang yang lagaknya seperti tukang pukul ini, hal itu hanya menunjukkan bahwa hubungan antara lurah itu dan penghuni dusun tidak akrab. Seorang lurah diharapkan untuk menjadi bapak dari rakyatnya yang mengatur dan melayani rakyatnya, menjadi panutan dan sumber pertolongan. Bukan menjadi penguasa yang galak, sewenang-wenang, yang ditakuti rakyat dan yang memelihara para tukang pukul untuk menakut nakuti rakyat dan untuk memaksakan kehendaknya sebagai penguasa. Lurah yang begini pasti bukan lurah yang baik. Dari keadaan di pintu gerbang kelurahan ini saja Narotama sudah dapat menilai lurah macam apa adanya Ki Suramenggala!

Dengan langkah tenang Narotama memasuki pintu gerbang kelurahan itu. Baru saja kakinya melangkahi ambang pintu, seorang penjaga keluar dari gardu penjagaan dan membentaknya.
"Hei, berhenti! Siapa engkau yang begini lancang memasuki tempat ini tanpa melapor lebih dulu kepada kami?"
Narotama memandang penjaga yang tubuhnya besar perutnya gendut itu, melihat betapa orang yang usianya sekitar empat puluh tahun itu memandang kepadanya dengan mata melotot lebar.
"Ini rumah Ki Lurah Suramenggala lurah dusun Karang Tirta ini, bukan?" tanyanya.
"Kiranya engkau sudah tahu? Orang asing, engkau tidak tahu aturan! Untuk masuk kelurahan, harus melapor dulu kepada kami, tahu?"
"Hemm, setahuku kelurahan adalah kantor lurah yang melayani semua keperluan penduduk dan karenanya terbuka bagi umum. Aku tidak tahu bahwa di sini aturannya lain."
"Cukup, jangan banyak rewel. Hayo masuk gardu dan membuat laporan tentang dirimu, tempat tinggalmu dan apa keperluanmu masuk ke kelurahan ini! " bentak orang kedua yang kumisnya tebal.

Diam-diam Narotama marah, akan tetapi kebijaksanaan mengingatkannya bahwa ulah dan sikap para penjaga ini hanya merupakan pencerminan sikap sang lurah. Kalau atasannya brengsek, sukar mengharapkan bawahannya baik. Kebaikan harus dimulai dari atasan karena atasan merupakan tauladan bawahan. Kalau atasannya benar, tentu bawahan tidak akan berani bertindak melanggar kebenaran karena akan dihantam atasan. Jadi, para penjaga ini hanya mencontoh saja sikap atasannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala.
Narotama memasuki gardu. Seorang yang bertubuh pendek gendut, kepalanya botak, bertanya sambil lalu dan pandang matanya merendahkan.
"Siapa namamu?"
"Nama saya Tama."
"Dari mana?"
"Dari kota raja."
Si gendut itu memandang dengan alis berkerut dan sinar mata menyelidik ketika mendengar bahwa orang itu datang dari kota raja.
"Mau apa engkau datang ke sini?"
"Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ki Lurah Suramenggala."
"Bicara tentang apa?"
Narotama menggeleng kepalanya.
"Tidak ada urusannya dengan kalian, hanya Ki Lurah Suramenggala yang berhak mendengar apa yang akan kubicarakan."
"Huh! Tidak ada orang boleh menghadap yang mulia Bapak Lurah sebelum melaporkan apa yang akan dibicarakan kepada kami!" bentak si gendut pendek kepada Narotama.
"Juga engkau harus membayar biaya laporan ini. Hayo keluarkan berapa uang yang kau miliki dan serahkan kepada kami!" kata yang berkumis tebal.
Narotama mengambil sebuah kantung dari pinggangnya dan membuka kantung yang berisi beberapa potong emas itu. Lima orang itu terbelalak.
"Serahkan itu kepada kami dan kami akan melaporkan kedatanganmu kepada Bapak Lurah!" kata si gendut sambil bangkit berdiri dan menjulurkan tangan untuk merampas kantung di tangan Narotama itu. Narotama cepat menyimpan kembali kantungnya lalu berkata.
"Kalau begitu biar aku langsung masuk saja menemui Ki Lurah Suramenggala " Dia melangkah keluar dari gardu dan menuju ke pendapa kelurahan.
"Hei, keparat! Kawan-kawan, tangkap dia!" bentak si pendek gendut kepada empat orang rekannya.

Mereka berhamburan keluar mengejar Narotama. Ki Patih Narotama yang sudah kehilangan kesabarannya, berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi lima orang yang menyerbu dan menerjang hendak menangkap dan meringkusnya itu. Kedua tangan Narotama bergerak seperti kilat menyambar lima kali dan tubuh lima orang itu berpusing lalu roboh terbanting ke atas tanah. Masih untung bagi mereka karena Narotama membatasi tenaganya sehingga mereka hanya menderita pipi bengkak dan gigi rontok saja. Akan tetapi dasar orang-orang kasar yang biasanya mengagulkan diri sendiri dengan keroyokan, lima orang itu bangkit dan mencabut senjata mereka dari pinggang, yaitu golok yang tajam mengkilap. Bagaikan lima ekor anjing mereka melompat dan menggerakkan golok mereka membacok ke arah tubuh Narotama. Narotama mendahului gerakan mereka. Kakinya mencuat dan lima kali kedua kakinya secara bergantian menendang. Kini tubuh lima orang itu terpental dan jatuh berdebuk di atas tanah. Sekali ini mereka dihantam tenaga yang lebih kuat lagi sehingga sejenak mereka tidak mampu bangkit, hanya mengaduh-aduh dengan kepala pening dan dada sesak.
Suara gaduh di luar itu memancing munculnya Ki Suramenggala dengan tujuh orang pengawal lain. Dia terkejut sekali melihat seorang pemuda berdiri di tengah halaman dan lima orang anak buahnya bergelimpangan tidak mampu bangkit. Segera dia dapat menduga apa yang terjadi. Tentu lima orang penjaga itu berkelahi melawan pemuda itu dan dirobohkan. Ki Suramenggala yang juga sudah terbiasa ditakuti dan ditaati orang, melihat bahwa pemuda itu hanya seorang biasa berusia tiga puluh tahun lebih, menjadi marah dan memandang rendah. Dia berseru kepada tujuh orang pengawalnya.
"Tangkap pengacau itu atau bunuh dia!"

Tujuh orang itu mencabut golok masing-masing. Mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi. Perintah Ki Lurah Suramenggala sudah jelas. Pengacau harus dibunuh! Maka, mereka bertujuh segera berlompatan ke depan dan mengepung Narotama. Ternyata mereka adalah pengawal-pengawal pribadi ki lurah yang tentu saja lebih tangguh dibandingkan lima orang penjaga tadi. Mereka bergerak mengitari Narotama dengan gerak silat, kemudian dikomando yang diisyarat kan pemimpin mereka, tujuh orang itu serentak menyerang! Untung bagi tujuh orang itu bahwa Narotama sudah memiliki tenaga batin yang amat kuat  sehingga dia mampu mengatasi kemarahannya dengan mengingat bahwa mereka itu hanya memenuhi perintah ki lurah. Menghadapi serangan yang sesungguhnya amat berbahaya bagi orang lain itu, Narotama segera mengerahkan tenaga saktinya lalu menggerakkan kedua tangan dengan tenaga mendorong sambil memutar tubuhnya. Hebat sekali dorongan kedua tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu. Tujuh orang penyerang itu terpental ke belakang dan terjengkang sehingga terbanting kuat. Mereka roboh dan tidak dapat segera bangkit kembali karena kepala terasa pening dan napas menjadi sesak!
Melihat ini, Ki Lurah Suramenggala terkejut bukan main dan dia masih hendak menggertak seperti yang sudah biasa dia lakukan kepada para penduduk dusun,
"Heh, penjahat dari mana engkau, berani membikin kacau di kelurahan? Sikapmu Ini berarti pemberontakan terhadap pamong praja!"
Narotama marah sekali. Dengan sekali lompat dia sudah tiba dekat sang lurah, lalu menangkap tubuh lurah itu dengan tangan kanan, mengangkatnya ke atas dengan ringan saja lalu membantingnya.
"Bresss .....!!" Ki Lurah Suramenggala mengaduh, pinggulnya terasa nyeri sekali karena terbanting ke atas lantai dan dia mencoba untuk merangkak bangun sambil berteriak-teriak,
"Tolooongg ..... toloongg ..... perampok .....!!"
Narotama menjadi semakin marah. Dicengkeramnya tengkuk baju Ki Lurah Suramenggala dan ditariknya sehingga berdiri. Dasar lurah yang terbiasa menindas dan merendahkan orang lain, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya, Lurah Suramenggala masih belum mau tunduk. Dia malah membentak marah.
"Awas kau, jahanam keparat! Kalau kedua anakku, Linggajaya dan Puspa Dewi pulang dan kuberitahukan kejahatanmu ini kepada mereka, lihat saja, mereka akan mencabik-cabik tubuhmu!"

Pada saat itu, tertarik oleh teriakan Ki Lurah Suramenggala, banyak penduduk dusun datang berlarian dan memenuhi halaman kelurahan. Juga isteri dan para selir lurah, termasuk Nyi Lasmi, janda Ibu kandung Puspa Dewi yang kini menjadi selir ki lurah, berlarian keluar dan terkejut melihat ki lurah dicengkeram tengkuk bajunya oleh seorang pemuda gagah.
Para tukang pukul yang tadi telah dirobohkan Narotama, sebanyak dua belas orang, juga petantang-petenteng mengepung dengan golok di tangan, seolah mereka itu menguasai keadaan dan mengancam Narotama, padahal tak seorangpun dari mereka berani menyerang orang yang mereka ketahui sakti mandraguna itu.
"Lurah Suramenggala!" bentak Narotama dengan suara menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang, termasuk yang berada di jalan depan halaman rumah kelurahan itu.
"Sudah butakah matamu? Lihat baik-baik, siapa orang yang engkau perhina dengan makian-makianmu tadi! Lihat, tidak kenalkah engkau kepadaku?"
Lurah Suramenggala terbelalak, mengamati wajah Narotama. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali. Kalau tadi dia tidak mengenal Narotama, hal itu tertutup kecongkakannya melihat laki-laki itu berpakaian seperti orang biasa. Dia sudah beberapa kali sowan (menghadapi Sribaginda) di kota raja dan beberapa kali melihat Ki Patih Narotama. Maka, setelah kini dia mendengar suara yang amat berwibawa itu dan mengamati wajah itu dengan seksama, baru dia mengenal siapa orang yang tadi dia maki maki.
"A..... aduhh..... paduka..... paduka..... Gusti Patih Narotama.....!"
Ketika Narotama melepaskan cengkeramannya Ki Lurah Suramenggala lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah,
"Ampun..... mohon beribu ampun, Gusti Patih..... hamba..... hamba tidak tahu..... bahwa paduka yang datang berkunjung ....."

Mendengar ini, semua keluarganya, juga para tukang pukul, terkejut setengah mati. Terutama para tukang pukul yang mengeroyok Narotama. Mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut dan dua belas orang tukang pukul itu menggumamkan permohonan ampun berulang kali.
“Semua mundur, biarkan aku bicara berdua dengan Lurah Suramenggala!" kata Narotama dengan suara berwibawa.
Mendengar ini, semua keluarga lurah itu memasuki rumah dan dua belas orang jagoan keluar dari pendapa, lalu menyuruh semua orang yang berkerumun di halaman untuk meninggalkan tempat itu. sebentar saja pendapa rumah itu menjadi sepi, hanya tinggal Narotama yang masih berdiri tegak dan Ki Lurah Suramenggala yang masih berlutut di depannya.
"Nah, ki lurah, bangkit dan duduklah. Mari kita bicara. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan dan kuminta anda menjawabnya dengan sejujurnya." kata Narotama dengan suara keren.
Ki Lurah Suramenggala yang sudah mati kutu itu menurut, bangkit dan mempersilakan Narotama duduk di atas kursi yang berada di pendapa itu. Dia hendak duduk bersila di atas lantai, di depan Narotama, akan tetapi ki patih itu melarangnya.
"Duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara dengan leluasa."
Ki Suramenggala tidak berani membantah lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan ki patih, terhalang sebuah meja marmer.
"Ki lurah, aku ingin engkau menceritakan tentang seorang yang bernama Nurseta yang pernah tinggal di dusun ini Apa yang kauketahui tentang dia?"

<<<Bagian 72                                                                                          Bagian 74 >>>

No comments:

Post a Comment