"Terima kasih, paman. Keteranganmu itu amat berguna bagi saya. Sekarang saya ingin bertanya tentang keluarga Ki Lurah Suramenggala itu, yaitu tentang anak-anaknya."
"Anak
kandungnya hanya seorang denmas Linggajaya itulah yang sekarang sudah dewasa,
sekitar dua puluh satu tahun usianya. Selain denmas Linggajaya, ki lurah juga
mempunyai seorang anak tiri, yaitu Masayu Puspa Dewi, setelah ibu gadis itu,
seorang janda diambil selir oleh ki lurah. Selain mereka berdua Ki Lurah
Suramenggala tidak mempunyai anak lain."
"Bagaimana
watak anak-anaknya itu?"
"Hemm,
denmas Linggajaya itu ketika kecilnya terkenal nakal sekali, mungkin karena
mengandalkan kedudukan orang tuanya. Entah sekarang setelah dewasa karena sejak
pulang dan menjadi orang sakti, dia hanya sebentar berada di sini lalu pergi
lagi. Adapun Masayu Puspa Dewi yang juga berasal dari dusun ini, sejak kecil
wataknya baik sekali. Ibunya juga seorang janda yang lemah lembut dan baik.
Setelah Masayu Puspa Dewi hilang, kabarnya diculik orang, ibunya diambil
sebagai selir oleh ki lurah. Kini Masayu Puspa Dewi juga telah menjadi seorang
gadis sakti dan saya tidak tahu bagaimana wataknya sekarang."
Narotama
mengangguk-angguk. Puspa Dewi masih menjadi seorang gadis yang baik budi,
walaupun ia menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat.
"Dan
bagaimana dengan Nurseta sendiri? Ketika dia masih tinggal di sini, bagaimana
wataknya?"
"Wah,
kalau dia anaknya rajin dan baik, denmas. Semua orang di dusun ini menyukainya.
Bayangkan, dia pernah membantu saya mengerjakan ladang saya dan karena tahu
bahwa saya bukan orang kaya, dia sudah puas hanya mendapatkan makan sebagai
upahnya. Dia tidak mengharapkan upah lainnya lagi."
Narotama
mengangguk-angguk. Seorang pemuda dengan watak sebaik itu tidak mungkin mencuri
keris pusaka Sang Megatantra!
"Terima
kasih, Paman Wirodipo. Sekarang saya hendak menitipkan kuda saya di sini,
apakah andika tidak keberatan? Nanti kalau sudah selesai urusan saya, saya akan
mengambilnya."
"O, tentu
saja, denmas. Biar di halaman depan, nanti akan saya beri rumput dan
minum."
Setelah
mengucapkan terima kasih, Narotana lalu meninggalkan rumah Ki Wirodipo dengan
jalan kaki. Ki Wirodipo memang tidak dapat memberi keterangan sedikitpun juga
tentang Sang Megatantra, akan tetapi mungkin di rumah Ki Lurah Suramenggala dia
akan bisa mendapatkan keterangan tentang keris pusaka itu, mudah saja bagi
Narotama untuk menemukan rumah Ki Lurah Suramenggala.
Rumah itu
tampak mencolok karena berbeda jauh dari rumah-rumah lain. Tampak besar dan
megah untuk ukuran dusun Itu. Di dekat pintu gerbang pagar tembok yang
mengelilingi gedung itu, terdapat lima orang penjaga keamanan yang bertubuh
tegap dan berwajah bengis. Diam-diam Narotama merasa heran. Kalau rumah seorang
lurah dusun dijaga orang-orang yang lagaknya seperti tukang pukul ini, hal itu
hanya menunjukkan bahwa hubungan antara lurah itu dan penghuni dusun tidak
akrab. Seorang lurah diharapkan untuk menjadi bapak dari rakyatnya yang
mengatur dan melayani rakyatnya, menjadi panutan dan sumber pertolongan. Bukan
menjadi penguasa yang galak, sewenang-wenang, yang ditakuti rakyat dan yang
memelihara para tukang pukul untuk menakut nakuti rakyat dan untuk memaksakan
kehendaknya sebagai penguasa. Lurah yang begini pasti bukan lurah yang baik.
Dari keadaan di pintu gerbang kelurahan ini saja Narotama sudah dapat menilai
lurah macam apa adanya Ki Suramenggala!
Dengan langkah
tenang Narotama memasuki pintu gerbang kelurahan itu. Baru saja kakinya
melangkahi ambang pintu, seorang penjaga keluar dari gardu penjagaan dan
membentaknya.
"Hei,
berhenti! Siapa engkau yang begini lancang memasuki tempat ini tanpa melapor
lebih dulu kepada kami?"
Narotama
memandang penjaga yang tubuhnya besar perutnya gendut itu, melihat betapa orang
yang usianya sekitar empat puluh tahun itu memandang kepadanya dengan mata
melotot lebar.
"Ini
rumah Ki Lurah Suramenggala lurah dusun Karang Tirta ini, bukan?"
tanyanya.
"Kiranya
engkau sudah tahu? Orang asing, engkau tidak tahu aturan! Untuk masuk
kelurahan, harus melapor dulu kepada kami, tahu?"
"Hemm,
setahuku kelurahan adalah kantor lurah yang melayani semua keperluan penduduk
dan karenanya terbuka bagi umum. Aku tidak tahu bahwa di sini aturannya
lain."
"Cukup,
jangan banyak rewel. Hayo masuk gardu dan membuat laporan tentang dirimu,
tempat tinggalmu dan apa keperluanmu masuk ke kelurahan ini! " bentak
orang kedua yang kumisnya tebal.
Diam-diam
Narotama marah, akan tetapi kebijaksanaan mengingatkannya bahwa ulah dan sikap
para penjaga ini hanya merupakan pencerminan sikap sang lurah. Kalau atasannya
brengsek, sukar mengharapkan bawahannya baik. Kebaikan harus dimulai dari
atasan karena atasan merupakan tauladan bawahan. Kalau atasannya benar, tentu
bawahan tidak akan berani bertindak melanggar kebenaran karena akan dihantam
atasan. Jadi, para penjaga ini hanya mencontoh saja sikap atasannya, yaitu Ki
Lurah Suramenggala.
Narotama
memasuki gardu. Seorang yang bertubuh pendek gendut, kepalanya botak, bertanya
sambil lalu dan pandang matanya merendahkan.
"Siapa
namamu?"
"Nama
saya Tama."
"Dari
mana?"
"Dari
kota raja."
Si gendut itu
memandang dengan alis berkerut dan sinar mata menyelidik ketika mendengar bahwa
orang itu datang dari kota raja.
"Mau apa
engkau datang ke sini?"
"Aku
ingin bertemu dan bicara dengan Ki Lurah Suramenggala."
"Bicara
tentang apa?"
Narotama
menggeleng kepalanya.
"Tidak
ada urusannya dengan kalian, hanya Ki Lurah Suramenggala yang berhak mendengar
apa yang akan kubicarakan."
"Huh!
Tidak ada orang boleh menghadap yang mulia Bapak Lurah sebelum melaporkan apa
yang akan dibicarakan kepada kami!" bentak si gendut pendek kepada
Narotama.
"Juga
engkau harus membayar biaya laporan ini. Hayo keluarkan berapa uang yang kau
miliki dan serahkan kepada kami!" kata yang berkumis tebal.
Narotama
mengambil sebuah kantung dari pinggangnya dan membuka kantung yang berisi
beberapa potong emas itu. Lima orang itu terbelalak.
"Serahkan
itu kepada kami dan kami akan melaporkan kedatanganmu kepada Bapak Lurah!"
kata si gendut sambil bangkit berdiri dan menjulurkan tangan untuk merampas
kantung di tangan Narotama itu. Narotama cepat menyimpan kembali kantungnya
lalu berkata.
"Kalau
begitu biar aku langsung masuk saja menemui Ki Lurah Suramenggala " Dia melangkah
keluar dari gardu dan menuju ke pendapa kelurahan.
"Hei,
keparat! Kawan-kawan, tangkap dia!" bentak si pendek gendut kepada empat
orang rekannya.
Mereka
berhamburan keluar mengejar Narotama. Ki Patih Narotama yang sudah kehilangan
kesabarannya, berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi lima orang yang
menyerbu dan menerjang hendak menangkap dan meringkusnya itu. Kedua tangan
Narotama bergerak seperti kilat menyambar lima kali dan tubuh lima orang itu
berpusing lalu roboh terbanting ke atas tanah. Masih untung bagi mereka karena
Narotama membatasi tenaganya sehingga mereka hanya menderita pipi bengkak dan
gigi rontok saja. Akan tetapi dasar orang-orang kasar yang biasanya mengagulkan
diri sendiri dengan keroyokan, lima orang itu bangkit dan mencabut senjata
mereka dari pinggang, yaitu golok yang tajam mengkilap. Bagaikan lima ekor
anjing mereka melompat dan menggerakkan golok mereka membacok ke arah tubuh
Narotama. Narotama mendahului gerakan mereka. Kakinya mencuat dan lima kali
kedua kakinya secara bergantian menendang. Kini tubuh lima orang itu terpental
dan jatuh berdebuk di atas tanah. Sekali ini mereka dihantam tenaga yang lebih
kuat lagi sehingga sejenak mereka tidak mampu bangkit, hanya mengaduh-aduh
dengan kepala pening dan dada sesak.
Suara gaduh di
luar itu memancing munculnya Ki Suramenggala dengan tujuh orang pengawal lain.
Dia terkejut sekali melihat seorang pemuda berdiri di tengah halaman dan lima
orang anak buahnya bergelimpangan tidak mampu bangkit. Segera dia dapat menduga
apa yang terjadi. Tentu lima orang penjaga itu berkelahi melawan pemuda itu dan
dirobohkan. Ki Suramenggala yang juga sudah terbiasa ditakuti dan ditaati
orang, melihat bahwa pemuda itu hanya seorang biasa berusia tiga puluh tahun
lebih, menjadi marah dan memandang rendah. Dia berseru kepada tujuh orang
pengawalnya.
"Tangkap
pengacau itu atau bunuh dia!"
Tujuh orang
itu mencabut golok masing-masing. Mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi.
Perintah Ki Lurah Suramenggala sudah jelas. Pengacau harus dibunuh! Maka,
mereka bertujuh segera berlompatan ke depan dan mengepung Narotama. Ternyata
mereka adalah pengawal-pengawal pribadi ki lurah yang tentu saja lebih tangguh
dibandingkan lima orang penjaga tadi. Mereka bergerak mengitari Narotama dengan
gerak silat, kemudian dikomando yang diisyarat kan pemimpin mereka, tujuh orang
itu serentak menyerang! Untung bagi tujuh orang itu bahwa Narotama sudah
memiliki tenaga batin yang amat kuat sehingga dia mampu mengatasi
kemarahannya dengan mengingat bahwa mereka itu hanya memenuhi perintah ki
lurah. Menghadapi serangan yang sesungguhnya amat berbahaya bagi orang lain
itu, Narotama segera mengerahkan tenaga saktinya lalu menggerakkan kedua tangan
dengan tenaga mendorong sambil memutar tubuhnya. Hebat sekali dorongan kedua
tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu. Tujuh orang penyerang itu
terpental ke belakang dan terjengkang sehingga terbanting kuat. Mereka roboh
dan tidak dapat segera bangkit kembali karena kepala terasa pening dan napas
menjadi sesak!
Melihat ini,
Ki Lurah Suramenggala terkejut bukan main dan dia masih hendak menggertak
seperti yang sudah biasa dia lakukan kepada para penduduk dusun,
"Heh,
penjahat dari mana engkau, berani membikin kacau di kelurahan? Sikapmu Ini
berarti pemberontakan terhadap pamong praja!"
Narotama marah
sekali. Dengan sekali lompat dia sudah tiba dekat sang lurah, lalu menangkap
tubuh lurah itu dengan tangan kanan, mengangkatnya ke atas dengan ringan saja
lalu membantingnya.
"Bresss
.....!!" Ki Lurah Suramenggala mengaduh, pinggulnya terasa nyeri sekali
karena terbanting ke atas lantai dan dia mencoba untuk merangkak bangun sambil
berteriak-teriak,
"Tolooongg
..... toloongg ..... perampok .....!!"
Narotama
menjadi semakin marah. Dicengkeramnya tengkuk baju Ki Lurah Suramenggala dan
ditariknya sehingga berdiri. Dasar lurah yang terbiasa menindas dan merendahkan
orang lain, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya, Lurah
Suramenggala masih belum mau tunduk. Dia malah membentak marah.
"Awas
kau, jahanam keparat! Kalau kedua anakku, Linggajaya dan Puspa Dewi pulang dan
kuberitahukan kejahatanmu ini kepada mereka, lihat saja, mereka akan
mencabik-cabik tubuhmu!"
Pada saat itu,
tertarik oleh teriakan Ki Lurah Suramenggala, banyak penduduk dusun datang
berlarian dan memenuhi halaman kelurahan. Juga isteri dan para selir lurah,
termasuk Nyi Lasmi, janda Ibu kandung Puspa Dewi yang kini menjadi selir ki
lurah, berlarian keluar dan terkejut melihat ki lurah dicengkeram tengkuk
bajunya oleh seorang pemuda gagah.
Para tukang
pukul yang tadi telah dirobohkan Narotama, sebanyak dua belas orang, juga
petantang-petenteng mengepung dengan golok di tangan, seolah mereka itu
menguasai keadaan dan mengancam Narotama, padahal tak seorangpun dari mereka
berani menyerang orang yang mereka ketahui sakti mandraguna itu.
"Lurah
Suramenggala!" bentak Narotama dengan suara menggeledek sehingga terdengar
oleh semua orang, termasuk yang berada di jalan depan halaman rumah kelurahan
itu.
"Sudah
butakah matamu? Lihat baik-baik, siapa orang yang engkau perhina dengan
makian-makianmu tadi! Lihat, tidak kenalkah engkau kepadaku?"
Lurah
Suramenggala terbelalak, mengamati wajah Narotama. Tiba-tiba wajahnya menjadi
pucat sekali. Kalau tadi dia tidak mengenal Narotama, hal itu tertutup
kecongkakannya melihat laki-laki itu berpakaian seperti orang biasa. Dia sudah
beberapa kali sowan (menghadapi Sribaginda) di kota raja dan beberapa kali
melihat Ki Patih Narotama. Maka, setelah kini dia mendengar suara yang amat
berwibawa itu dan mengamati wajah itu dengan seksama, baru dia mengenal siapa
orang yang tadi dia maki maki.
"A.....
aduhh..... paduka..... paduka..... Gusti Patih Narotama.....!"
Ketika
Narotama melepaskan cengkeramannya Ki Lurah Suramenggala lalu menjatuhkan diri
berlutut dan menyembah-nyembah,
"Ampun.....
mohon beribu ampun, Gusti Patih..... hamba..... hamba tidak tahu..... bahwa
paduka yang datang berkunjung ....."
Mendengar ini,
semua keluarganya, juga para tukang pukul, terkejut setengah mati. Terutama
para tukang pukul yang mengeroyok Narotama. Mereka semua segera menjatuhkan
diri berlutut dan dua belas orang tukang pukul itu menggumamkan permohonan
ampun berulang kali.
“Semua mundur,
biarkan aku bicara berdua dengan Lurah Suramenggala!" kata Narotama dengan
suara berwibawa.
Mendengar ini,
semua keluarga lurah itu memasuki rumah dan dua belas orang jagoan keluar dari
pendapa, lalu menyuruh semua orang yang berkerumun di halaman untuk
meninggalkan tempat itu. sebentar saja pendapa rumah itu menjadi sepi, hanya
tinggal Narotama yang masih berdiri tegak dan Ki Lurah Suramenggala yang masih
berlutut di depannya.
"Nah, ki
lurah, bangkit dan duduklah. Mari kita bicara. Ada beberapa pertanyaan yang
ingin kuajukan dan kuminta anda menjawabnya dengan sejujurnya." kata
Narotama dengan suara keren.
Ki Lurah Suramenggala
yang sudah mati kutu itu menurut, bangkit dan mempersilakan Narotama duduk di
atas kursi yang berada di pendapa itu. Dia hendak duduk bersila di atas lantai,
di depan Narotama, akan tetapi ki patih itu melarangnya.
"Duduklah
di kursi itu agar kita dapat bicara dengan leluasa."
Ki
Suramenggala tidak berani membantah lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan
ki patih, terhalang sebuah meja marmer.
"Ki
lurah, aku ingin engkau menceritakan tentang seorang yang bernama Nurseta yang
pernah tinggal di dusun ini Apa yang kauketahui tentang dia?"
No comments:
Post a Comment