Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 72


Linggajaya memondong tubuh itu dalam pelukannya, melingkari tubuh itu dengan kedua lengannya yang kokoh kuat membawanya ke pembaringan yang seolah sudah menggapai dan mengajak mereka. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Seolah-olah iblis setan bekasakan merestui perjinaan yang dilakukan dua orang manusia yang sudah menjadi permainan nafsu mereka sendiri. Lasmini bagaikan seekor ikan yang tadinya menggelepar di darat, kini mendapatkan air sehingga ia dapat berenang-renang sepuas hatinya. Nafsu berani adalah satu di antara nafsu yang paling mulia karena melalui nafsu ini suami isteri mencurahkan cinta mereka yang paling mendalam, yang mendorong pasangan itu bukan hanya ingin bersatu raga akan tetapi juga bersatu jiwa. Bahkan melalui nafsu berahi ini terjadilah perkembang-biakan manusia sehingga nafsu ini merupakan anugerah Sang Hyang Widhi yang paling penting, paling indah, dan paling mulia. Akan tetapi, seperti juga semua nafsu yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia didunia ini maka nafsu diikut-sertakan manusia sejak lahir, nafsu akan menjadi penyeret manusia ke lembah dosa. Kalau nafsu tetap dalamfungsinya semula, yaitu sebagai hamba yang baik dan bermanfaat, taat kepada kita selaku majikan , jinak dibawah kendali etika, kehormataan dan peradaban, maka nafsu merupakan anugerah. Akan tetapi sebaliknya, kalau nafsu berahi menjadi majikan, liar tak terkendalikan, dan kita sebaliknya yang diiperhamba, maka nafsu akan menimbulkan malapetaka. Nafsu berahi akan menyeret kita dan menimbulkan perbuatan sesat seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan sebagainya. Dua orang yang menjadi hamba nafsu itu berpesta ria di malam hujan yang dingin itu. Dan perbuatan yang dilakukan sebagai pemuasan nafsu itu selalu menuntut pengulangan dan pengulangan untuk kemudian menimbulkan kebosanan. Pagi-pagi sekali Linggajaya meninggalkan Lasmini, keluar dari kamar melalui jendela. Dan kesempatan selagi Narotama tidak berada di rumah itu dimanfaatkan oleh dua orang yang mabuk berahi untuk mengulangi perbuatan mereka. Setiap malam Linggajaya berada di kamar Lasmini. Beberapa hari kemudian, setelah gelombang nafsu berahi yang menguasai diri mereka agak reda, keduanya teringat akan keadaan dan tugas, lalu di sela-sela permainan asmara itu mereka mulai berunding.

Lasmini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di istana Sang Prabu Erlangga, yaitu tentang persidangan di istana untuk memeriksa perkara antara Pangeran Hendratama melawan Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta. Mereka rebah berdampingan di atas pembaringan, di antara bantal-bantal.
"Kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dia merupakan sekutu kita yang penting karena dengan bantuannya, lebih besar kemungkinan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga. Aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama terancam oleh pemuda yang bernama Nurseta itu, yang kabarnya sakti mandraguna."
Linggajaya mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengenal Nurseta, bahkan pernah bertanding melawannya ketika Nurseta menyerbu rumah Ki Lurah Suramenggala, ayahnya dan dia harus mengakui bahwa Nurseta merupakan lawan berat. Kalau ketika itu tidak muncul Puspa Dewi yang menjadi anak tiri ayahnya dan yang membantunya melawan Nurseta, dia tentu akan kalah.
"Aku tahu siapa itu Nurseta. Sebetulnya dia sedusun dengan aku, bahkan pernah bekerja sebagai kuli pada ayahku yang menjadi lurah di dusun Karang Tirta. Dia menjadi sakti karena diambil murid mendiang Empu Dewamurti."
"Sekarang Nurseta dan kakeknya, Senopati Sindukerta, untuk sementara di tahan di dalam penjara istana. Sang Prabu Erlangga kini mengutus Ki Patih Narotama untuk menyelidiki siapa yang benar antara Pangeran Hendratama dan Nurseta dalam hal menemukan Sang Megatantra dan siapa di antara mereka yang mencurinya."
"Tentu saja yang menemukan adalah Nurseta. Aku sendiri mengetahui hal itu, dan yang mencurinya tentu Pangeran Hendratama." kata Linggajaya tidak begitu acuh.
Ada tubuh mulus wajah cantik di dekatnya, bagaimana mungkin dia dapat bergairah memikirkan hal lain? Dia memeluk lagi, akan tetapi Lasmini menolak dengan lembut, mendorongkan tangannya.
"Ih, dengarkan dulu, kita bicara penting ini!" tegurnya.
"Aku juga sudah menduga demikian. Akan tetapi karena itu kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dengan Sang Megatantra di tangannya, dia dapat mempengaruhi para pamong praja yang tinggi kedudukannya, untuk memihak kepadanya yang mempunyai wahyu mahkota."
"Bagaimana kita dapat membantunya?" tanya Linggajaya penuh perhatian kini karena dia teringat akan tugas mereka untuk bersekutu dan menjatuhkan Kerajaan Kahuripan.
"Begini, kita harus dapat membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam penjara. Akan tetapi sebelumnya, kita tunggu kedatangan Ki Patih Narotama. Kalau dia menemukan hal-hal yang memberatkan Pangeran Hendratama, sebelum dia dapat bertindak lebih jauh, kita..... bunuh saja Ki Patih Narotama!"
Linggajaya terkejut dan bangkit duduk, menatap wajah cantik yang masih ada titik-titik keringat seperti embun di dahinya. Dia mengusap dahi halus itu menghilangkan keringatnya.
."Membunuh ..... suamimu??" Lasmini juga bangkit duduk.
"Husssh, aku menjadi selirnya hanya untuk dapat membunuhnya. Ingat?"
"Ya-ya ..... akan tetapi Ki Patih Narotama itu sakti mandraguna. Bagaimana mungkin dapat mengalahkan dan membunuhnya?"
Lasmini merangkul pemuda itu.
"Linggajaya, kalau kita berdua maju bersama mengeroyoknya, kukira kita akan dapat mengalahkan dan membunuhnya. Asal engkau mau membantuku dan bersungguh-sungguh. Ingat, kalau dia mati, hubungan kita akan dapat berlanjut tanpa sembunyi-sembunyi lagi, kan?"
Linggajaya balas merangkul.
"Baiklah, Lasmini. Kalau engkau yang minta, pasti kuturuti. Betapa sukar dan beratnya, aku akan membantumu sekuat tenaga. Engkau benar, betapapun saktinya dia, kalau kita maju bersama, kurasa tidak mungkin kita akan kalah.'
Demikianlah, dua orang yang tidak merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang kotor dan hina itu melanjutkan hubungan gelap mereka. Tidak ada seorangpun di antara para penghuni gedung kepatihan yang menyangka, apalagi tahu akan hubungan gelap itu, kecuali, tentu saja Sarti pelayan setia dari Lasmini itu. Mereka menanti kembalinya Ki Patih Narotama dan Lasmini juga sering mengadakan kontak rahasia dengan para sekutunya. Karena Ki Patih Narotama tidak berada di rumah, kesempatan Ini dipergunakan Lasmini bukan saja untuk mengumbar nafsu bejatnya, akan tetapi Juga ia menjadi leluasa untuk mengadakan kunjungan ke istana raja untuk bertemu dan berunding dengan Mandari.
Pada suatu hari Lasmini berkunjung kepada adiknya, Mandari di istana keputren. Mereka berdua mempergunakan kesempatan itu untuk pergi berburu binatang hutan bersama. Tentu saja ini hanya alasan. Sebenarnya mereka berkunjung ke hutan di mana akan diadakan pertemuan rapat antara mereka yang bersekutu memusuhi Sang Prabu Erlangga.

Kita tinggalkan dulu dua orang puteri yang tiada hentinya berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Sang Prabu Erlangga itu dan kita ikut perjalanan Ki Patih Narotama yang hendak menyelidiki tentang keris pusaka Sang Megatantra, siapa sesungguhnya yang menemukan dan siapa pula yang mencurinya agar dapat diketahui siapa yang kini menguasainya. Ki Patih Narotata melakukan perjalanan seorang diri menuju dusun Karang Tirta. Dalam perjalanan ini, tidak ada yang mengenalnya karena seperti biasa kalau melakukan tugas penyelidikan seorang diri, Narotama tidak mengenakan pakaian kebesaran, menunggang kereta atau kuda dan dikawal sepasukan perajurit seperti seorang patih. Dia melakukan perjalanan menunggang kuda dengan pakaian biasa sehingga orang akan mengira bahwa dia hanya seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh dua tahun dengan pakaian biasa, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan. Setelah tiba di dusun Karang Tirta, Narotama segera bertanya-tanya dimana dan siapa yang menjadi lurah dusun itu. Dia mendapat keterangan bahwa lurahnya adalah Ki Suramenggala. Karena hari masih pagi dan dia ingin berkunjung kepada lurah itu dalam keadaan menyamar sebagai orang biasa, maka dia hendak menunggu sampai saat yang pantas untuk berkunjung ke rumah orang.
Ketika dia melewati sebuah rumah sederhana dan seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun tampak menyapu daun-daun kering di halaman rumah yang ditumbuhi pohon nangka, Narotama menghentikan kudanya, lalu menuntun kuda memasuki halaman rumah itu. Pemilik rumah yang sedang menyapu itu menghentikan kegiatannya dan memandang Narotama dengan heran karena dia merasa tidak mengenal tamu yang memasuki halaman rumahnya sambil menuntun kuda itu. Sebagai seorang dusun yang sederhana dan miskin, dalam anggapannya, kalau orang sudah memiliki seekor kuda dan pakaiannya juga tidak seperti petani biasa walaupun pakaian itu tidak mewah, tentu seorang priyayi atau seorang kota yang derajatnya lebih tinggi daripada penduduk dusun. Maka orang itu melepaskan sapunya dan menyambut kedatangan Narotama dengan sikap hormat dan membungkuk-bungkuk. Melihat sikap orang itu, Narotama cepat memberi salam dengan suara lembut dan sikap ramah.
"Permisi, paman, maafkan kalau saya mengganggu kesibukan paman."
Orang itu tersenyum polos, agaknya senang melihat sikap dan mendengar kata-kata yang lembut dan ramah itu.
"Ah, tidak, denmas, sama sekali tidak mengganggu. Ada keperluan apakah, denmas, maka andika sudi berkunjung ke gubuk saya ini?"
"Nanti dulu, paman. Sebelumnya saya ingin mengetahui, apakah paman sudah lama tinggal di dusun Karang Tirta ini?"
"Wah, sudah lama sekali, denmas. Sejak muda bersama isteri saya, sampai isteri saya meninggal..... hemm, berapa lama, ya? Pergantian lurah sudah tiga kali, yang terakhir sampai sekarang lurahnya Ki Suramenggala, sudah hampir dua puluh tahun jadi lurah di sini. Dan sebelum itu ..... hemm, paling tidak sudah tiga puluh tahun saya tinggal di dusun ini."
Girang rasa hati Narotama.
"Kalau begitu, saya berhadapan dengan orang yang tepat, paman. Perkenalkan, nama saya..... Tama dan saya datang dari kota raja. Saya ingin bertanya kepada paman tentang keadaan dusun ini belasan tahun yang lalu."
"Wah, dengan senang hati, denmas Tama. Mari, silakan masuk, kita bicara di dalam."
Narotama menambatkan kudanya pada batang pohon, lalu berkata,
"Terima kasih, paman ....."
"Wirodipo nama saya, denmas. Mari silakan."

Mereka memasuki pondok sederhana dan Narotama dipersilakan duduk di atas bangku. Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja yang kasar buatannya. Narotama melihat betapa isi rumah itupun amat sederhana, namun cukup bersih.
"Nah, denmas Tama, tanyakan apa saja yang andika ingin ketahui. Saya akan menceritakan apa yang saya tahu."
"Sebelumnya, terima kasih banyak, paman Wirodipo. Saya ingin bertanya tentang diri seorang yang dulu tinggal di dusun ini, yang bernama Nurseta. Apakah paman mengenalnya?"
Wirodipo mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Lalu matanya bersinar, wajahnya menjadi cerah.
"Ah ....., dia? Tentu saja saya tahu, bahkan belum lama ini dia membikin geger dusun ini!"
Tentu saja Narotama menjadi tertarik sekali.
"Cenitakan tentang dia, paman. Saya ingin sekali mengetahuinya."
"Saya tidak mengenal baik orang tuanya, hanya tahu bahwa ayahnya bernama Dharmaguna dan isterinya yang cantik, saya lupa lagi namanya. Mereka tinggal di sini beberapa tahun, akan tetapi pada suatu hari suami isteri itu meninggalkan Nurseta begitu saja, entah ke mana. Kalau tidak salah ketika itu Nurseta berusia kurang lebih sepuluh tahun. Anak itu rajin, bekerja di mana saja, tadinya membantu Ki Lurah Suramenggala dan selanjutnya mencari makan dengan membantu para petani di sini. Ketika berusia belasan tahun dia menghilang. Saya tidak melihat sendiri kejadian itu, akan tetapi orang-orang menceritakan Nurseta pergi bersama seorang kakek sakti. Kabarnya, kakek itu membuat Ki Lurah Suramenggala dan anak buahnya lumpuh ketika mereka hendak memukul Nurseta dan kakek itu. Kemudian mereka berdua pergi entah ke mana."
Narotama menduga bahwa kakek yang membawa pergi Nurseta itu tentu Empu Dewamurti.
"Apakah andika mengetahui siapa kakek yang membawa pergi Nurseta itu. Paman Wirodipo?"
"Saya sendiri tidak pernah bertemu dengan kakek sakti itu, denmas. Akan tetapi ada beberapa orang yang pernah bertemu dan mereka mengatakan bahwa kakek itu adalah seorang sakti yang bertapa di tepi pantai Laut Kidul dan pernah menolong orang-orang yang sakit dengan memberi jamu yang mujarab sekali."
"Apakah andika pernah mendengar bahwa Nurseta itu telah menemukan sebatang keris pusaka yang disebut Sang Megatantra?"
Ki Wirodipo mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.
"Saya tidak tahu dan tidak pernah mendengarnya, denmas."
Dalam hatinya, Narotama merasa kecewa. justeru yang terpenting baginya adalah keterangan mengenai Sang Megatantra, akan tetapi kakek ini tidak mengetahuinya.
"Hemm, lalu bagaimana selanjutnya? Tadi andika mengatakan bahwa belum lama ini Nurseta membikin geger dusun ini. Apa yang telah terjadi?"
"Saya juga hanya mendengar saja cerita orang-orang, denmas. Menurut cerita mereka, Nurseta, setelah pergi kurang lebih lima tahun dan sekarang telah dewasa, muncul di rumah Ki Lurah Suramenggala dan kabarnya dia mengamuk, merobohkan para jagoan ki lurah, bahkan mengancam Ki Lurah Suramenggala. Kemudian muncul putera ki lurah dan juga puteri tiri ki lurah. Kedua orang muda ini setelah menghilang kurang lebih lima tahun juga pulang dan telah menjadi orang-orang sakti. Nurseta dikeroyok oleh Denmas Linggajaya dan Masayu Puspa Dewi sehingga melarikan diri."
"Siapa nama anak-anak Ki Lurah Suramenggala itu?"
"Denmas Linggajaya adalah anak kandung ki lurah, sedangkan Masayu Puspa Dewi adalah anak tirinya."

Narotama termenung, diam-diam dia merasa heran. Dia pernah bertemu dengan Puspa Dewi, gadis yang mengaku sebagal murid Nyi Dewi Durgakumala dan yang menyerangnya karena perintah gurunya, akan tetapi dia dapat menyadarkan gadis itu yang dia tahu dasarnya tidak jahat. Dan Ki Patih Narotama semakin heran mendengar nama Linggajaya. Tadinya dia hanya merasa seperti pernah mendengar nama ini. Kemudian setelah teringat, dia terkejut. Bukankah juru taman kepatihan yang baru itu, yang diusulkan oleh Lasmini dan katanya pemuda itu saudara misan Sarti pelayan Lasmini, juga bernama Linggajaya? Kalau benar demikian, msngapa putera seorang lurah, juga yang menurut Ki Wirodipo telah menjadi seorang pemuda sakti, mau menjadi tukang kebun? Tentu saja timbul kecurigaan dalam hatinya. Apakah yang tersembunyi di balik semua itu? Dia teringat Puspa Dewi.
Gadis itu memusuhinya karena terpaksa untuk mentaati pesan gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang memang memusuhinya dan memusuhi Kahuripan. Lalu apa yang mendorong Linggajaya menyusup ke kepatihan? Mereka berdua itu anak-anak Ki Lurah Suramenggala! Dia harus menyelidiki keadaan lurah itu. Mungkin di sana dia akan menemukan jawabannya.

<<<Bagian 71                                                                                          Bagian 73 >>>

No comments:

Post a Comment