"Hamba diambil murid mendiang Eyang Empu Dewamurti sampai lima tahun lamanya. Pada saat beliau akan wafat, beliau memesan kepada hamba agar hamba membawa pusaka Sang Megatantra ke Kahuripan dan menyerahkan kepada paduka yang berhak sebagai pemiliknya. Dalam perjalanan menuju ke sini, hamba bertemu dengan Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya yang saat ini hadir di sini. Hamba diterima dengan ramah dan disambut dengan pesta. Karena percaya, hamba menceritakan tentang Sang Megatantra. Pangeran Hendratama melihat keris pusaka itu dan berjanji akan membuatkan gagang dan warangka yang sesuai. Hamba percaya dan menyerahkannya. Akan tetapi ketika keris itu dikembalikan kepada hamba dengan gagang dan warangka baru, dia lalu pergi dengan tergesa-gesa. Setelah dia pergi, baru hamba ketahui bahwa keris pusaka Megatantra yang dikembalikan kepada hamba itu palsu. Yang aseli tentu saja sudah dibawa lari."
"Bohong
.....!" kata Pangeran Hendratama.
"Kakang
Pangeran!" Sang Prabu Erlangga membentak dan pangeran itu diam, tak berani
melanjutkan kata-katanya.
"Belum
tiba giliran andika untuk bicara!" Sang Prabu Erlangga lalu berkata kepada
Nurseta.
"Nurseta,
lanjutkan ceritamu."
"Sendika
(menaati), gusti. Untuk mencari keterangan tentang orang tua hamba, hamba
mendapatkan jejak yang membawa hamba mengunjungi Eyang Senopati Sindukerta.
Sungguh tidak hamba sangka sebelumnya bahwa beliau ini ternyata adalah eyang hamba
sendiri. Pertemuan yang membahagiakan hati hamba. Dari eyang hamba mendengar
bahwa Pangeran Hendratama telah pindah ke kota raja. Karena itu, kemarin dulu
malam hamba mencoba untuk memasuki gedungnya untuk merampas kembali pusaka Sang
Megatantra yang akan hamba haturkan kepada paduka sesuai pesan mendiang Eyang
Empu Dewamurti. Akan tetapi hamba tidak berhasil karena Pangeran Hendratama
mempunyai banyak jagoan yang menjaga rumahnya. Demikianlah, hamba kembali ke
rumah Eyang Senopati dan hari ini hamba dipanggil menghadap paduka oleh Gusti
Patih Narotama."
Sang Prabu
Erlangga mengangguk-angguk. Tentu saja sebagai seorang raja yang bijaksana dia
tidak mau menerima dan percaya begitu saja akan keterangan Nurseta itu. Dia
lalu memandang Senopati Sindukerta.
"Paman
senopati, benarkah keterangan yang diberikan cucumu Nurseta tadi?"
"Hamba
berani bersumpah bahwa apa yang dia haturkan itu semua benar, gusti."
"Akan
tetapi kami mendengar bahwa engkau, didukung cucumu ini, ingin memberontak dan
merebut tahta kerajaan kami, mengandalkan wahyu mahkota dari Sang Megatantra.
Benarkah itu?"
Sepasang mata
Senopati Sindukerta terbelalak dan dia menggeleng kepala kuat-kuat.
"Ampun
beribu ampun, gusti! Tidak sekali-kali hamba berani memberontak terhadap
paduka! Keris pusaka Sang Megatantra itu tidak ada pada hamba, juga tidak
dibawa cucu hamba Nurseta, akan tetapi dicuri orang seperti yang diceritakan
cucu hamba tadi. Hamba, berani bersumpah, demi para dewata yang agung, hamba
berdua cucu hamba hanya bicara sebenarnya, gusti."
Kini Sang
Prabu Erlangga memandang kepada Pangeran Hendratama, lalu berkata,
"Nah,
Kakang Pangeran Hendratama, sekarang tiba giliran andika untuk bicara.
Keteranganmu tentang Sang Megatantra sungguh bertolak belakang dengan
keterangan Nurseta dan Paman Senopati Sindukerta. Andika menceritakan bahwa
Nurseta yang mencuri Sang Megatantra dari tanganmu, sebaliknya Nurseta
menceritakan bahwa andika yang mencuri Sang Megatantra dari tangannya, Nah,
bagaimana tanggapanmu tentang cerita mereka itu?"
Pangeran Hendratama
bangkit berdiri dan melotot memandang ke arah Nurseta dan kakeknya, mukanya
merah padam dan dia membentak marah.
"Senopati
Sindukerta, dan engkau Nurseta Jangan memutar-balikkan kenyataan Mana mungkin
aku, seorang pangeran, mencuri? Engkau adalah bocah dusun, tidak heran kalau
engkau mencuri pusaka! Dan aku adalah kakang ipar Sang Prabu, mana mungkin aku
menyembunyikan pusaka Sang Megatantra? Aku hendak menyerahkan kepada Sang
Prabu, akan tetapi kau curi. Kalau engkau, Ki Sindukerta, tentu mungkin saja
hendak memberontak dan ingin menjadi raja, mengandalkan pusaka Sang Megatantra
yang berada di tanganmu dan mengandalkan kesaktian cucumu ini! Pantas saja
engkau menyuruh cucumu ini malam-malam untuk mencoba membunuhku karena hanya
akulah yang mengetahui akan rahasiamu. Betul tidak? Mengaku sajalah, Sindukerta
dan Nurseta, daripada kalian disiksa -agar mengaku!"
"Cukup,
Kakang Pangeran. Aku yang bertanya kepada andika dan belum andika jawab. Tidak
perlu kakang marah-marah. Jawablah pertanyaanku, bagaimana pendapat atau
tanggapanmu akan cerita Nurseta dan Paman Sindukerta tadi?"
"Mereka
jelas bohong, Yayi Prabu! Mereka sengaja memutar balikkan fakta. Karena itu,
keputusannya berada ditangan paduka, ataukah paduka lebih percaya kepada bocah
dusun dan kakeknya yang dulu pernah dipecat mendiang Ramanda Prabu Teguh
Dharmawangsa!"
Sang
permaisuri yang duduk di sebelah kiri Sang Prabu Erlangga berkata lirih kepada
suaminya.
"Sungguh
aneh kalau Rakanda Prabu tidak percaya kepada kakak hamba Pangeran Hendratama
yang mempunyai tiga orang saksi dan lebih percaya kepada dua orang ini."
Sang Prabu
Erlangga menjadi serba salah. Membenarkan Pangeran Hendratama dia meragu karena
dalam lubuk hatinya, dia percaya bahwa Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak
berbohong. Akan tetapi untuk membenarkan mereka berarti dia menyalahkan
Pangeran Hendratama dan hal ini akan membuat permaisurinya tak senang dan
marah. Dengan alis berkerut Sang Prabu Erlangga lalu berkata lantang,
didengarkan semua orang dengan penuh perhatian dan hati tegang.
"Oleh
karena kedua pihak memberi keterangan yang saling bertentangan, dan kami belum
melihat bukti siapa yang benar dan siapa salah, maka kami mengambil keputusan
begini: Untuk sementara Paman Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta, ditahan
dalam penjara dan kami menugaskan Kakang Patih Narotama untuk melakukan
penyelidikan sehingga mendapatkan bukti siapa yang benar dan siapa yang salah
diantara kedua pihak!"
Pangeran
Hendratama dan beberapa orang pamong yang menjadi sekutunya, merasa kecewa
dengan keputusan yang hanya merupakan penundaan keputusan yang pasti itu. Juga
sang permaisuri mengerutkan alisnya, akan tetapi ia diam saja karena
bagaimanapun juga, keputusan Sang Prabu Erlangga itu condong menguntungkan
Pangeran Hendratama dan merugikan Senopati Sindukerta dan cucunya yang ditahan
dalam penjara. Akan tetapi para pejabat tinggi lainnya mengangguk-angguk dan
menganggap keputusan itu bijaksana dan adil.
Senopati
Sindukerta dan Nurseta lalu diiringkan empat orang pengawal, dibawa ke penjara
istana yang berada di belakang bangunan istana.
Dengan hati
kesal Sang Prabu Erlangga lalu membubarkan persidangan. Ki Patih Narotama
pulang ke kepatihan dengan hati berat. Dia hampir merasa yakin bahwa Nurseta
dan Senopati Sindukerta tidak berbohong. Pantasnya Pangeran Hendratama yang
berbohong. Akan tetapi menyelidiki dan mencari kesalahan pangeran itu, hatinya
merasa tidak enak terhadap Permaisuri Pertama yang tentu saja berpihak kepada
pangeran kakaknya itu. Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya juga pulang.
Hatinya risau karena ternyata kenyataan dalam persidangan itu tidak seperti
yang dia harapkan. Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak dijatuhi hukuman
berat, melainkan hanya ditahan untuk sementara dan Ki Patih Narotama ditugaskan
untuk menyelidiki siapa yang benar dan siap yang salah. Tentu saja hatinya
risau. Kalau sampai dapat dibuktikan bahwa dia mencuri Sang Megatantra, pasti
dia akan mendapatkan hukuman berat dari adik tirinya, Sang Permaisuri tidak
akan mampu menyelamatkannya. Pula, dia tahu benar bahwa sebetulnya tidak ada
hubungan dekat antara dia dan Sang Permaisuri, bahkan di antara mereka ada rasa
tidak suka yang timbal balik. Dia merasa iri dan tidak suka kepada adik tirinya
itu dan tentu saja di lain pihak, Sang Permaisuri juga tidak suka kepadanya.
Kalau Sang Permaisuri membelanya dalam persidangan, hal itu adalah karena
bagaimanapun juga dia adalah kakaknya dan kalau kakaknya dinyatakan bersalah,
tentu adiknya akan ikut merasa malu.
Sementara itu,
setelah persidangan usai, Sang Prabu Erlangga lalu mengeram diri dalam sanggar
pamujan (ruangan berdoa) untuk duduk bersamadhi dan mohon petunjuk kepada Sang
Hyang Widhi dan mohon agar kerajaan Kahuripan terbebas dari ancaman bahaya
seperti yang pernah diramalkan oleh Empu Bharada.
Narotama memikul tugas yang cukup
berat. Untuk menyelidiki kebenaran keterangan Nurseta, dia harus pergi ke dusun
Karang Tirta di mana pemuda itu dahulu tinggal dan menemukan Sang Megatantra,
juga dia akan menyelidiki tempat yang dulu dijadikan tempat pertapaan mendiang
Empu Dewamurti. Narotama tahu bahwa Empu Dewamurti adalah kakak seperguruan
Empu Bharada yang amat dihormati Sang Prabu Erlangga dan dia sendiri. Kalau
Nurseta merupakan murid Sang Empu Dewamurti, tentu dia telah menerima
gemblengan batin dari gurunya yang arif dan bijaksana itu. Maka dia lalu
berpamit kepada kedua isterinya, Listyarini dan Lasmini, bahwa kepergiannya
sekali ini akan makan waktu yang agak lama, mungkin sampai sebulan baru dia
akan kembali.
Setelah Narotama pergi, Lasmini
merasa kesepian. Puteri Kerajaan Parang Siluman ini adalah seorang yang telah
terjatuh ke dalam kekuasaan nafsu-nafsunya. Cintanya terhadap suaminya, Ki
Patih Narotama, hanyalah cinta yang didasari nafsu berahi. Karena itu, baru
ditinggal pergi Narotama selama beberapa hari saja. ia sudah gelisah dan
kesepian sekali, haus akan belaian suaminya. Pada saat dan keadaan seperti itu,
mulailah ia mencurahkan perhatiannya kepada tukang kebunnya, yang bukan lain
adalah Linggajaya pemuda tampan, ganteng dan sakti, yang juga diam-diam menjadi
sekutunya karena pemuda itu adalah utusan Kerajaan Wengker.
Pada suatu senja yang tidak cerah
karena langit mengandung awan hitam biang hujan, terkadang tampak sinar
berkilat dalam mendung tebal disusul bunyi Guntur bergemuruh, Lasmini memasuki
taman bunga kepatihan yang luas dan penuh tanaman beraneka ragam kembang itu.
Dalam kesepiannya, ia teringat akan Linggajaya dan ingin melihat apa yang
dilakukan pemuda yang menyamar sebagai tukang kebun itu.
Ketika ia tiba di padang rumput
dekat pondok kecil di tengah taman, ia melihat pemuda itu sedang berlatih
silat. Ia berhenti melangkah dan menonton dari jauh. Linggajaya bertelanjang
dada sehingga tampak tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang dan tampak penuh
dengan tenaga. Kedua tangan yang bergerak-gerak tangkas itu menimbulkan angin
yang mengeluarkan bunyi bersiutan. Alangkah gagahnya, alangkah gantengnya,
pikir Lasmini dan timbul kegembiraannya bercampur gairahnya. Ia lalu melompat
dan berlari menghampiri.
"Mari kita latihan!"
katanya dan langsung saja ia menyerang pemuda itu.
Linggajaya girang melihat munculnya
wanita cantik ini dan dia cepat menangkis lalu membalas. Mereka segera saling
serang dengan cepat dan kuat. Tubuh mereka berkelebatan. Setelah menjadi selir
Narotama, Lasmini memperoleh kemajuan banyak sekali dalam ilmu silat, juga
tenaga saktinya bertambah setelah mendapat petunjuk Narotama bagaimana untuk
menghimpun tenaga sakti.
Namun, karena kedua orang itu
bertanding hanya untuk latihan, seperti pasangan yang menari-nari, tentu saja mereka
membatasi tenaga dan menjaga agar tidak saling melukai. Karena sering lengan
mereka beradu dan melihat betapa dekatnya wanita cantik itu sehingga dia dapat
mencium keharuman melati yang melekat di tubuh Lasmini, Linggajaya seperti
dibakar gairah nafsunya sendiri. Demikian pula Lasmini. Tiba-tiba Lasmini
kehilangan bayangan Linggajaya yang menggunakan Aji Panglimutan, yang membuat
tubuhnya sejenak tidak tampak. Lasmini tahu ilmu apa yang dipergunakan
Linggajaya. Kalau ia mau, dengan pengerahan tenaga saktinya mengeluarkan
teriakan melengking, ia akan mampu membuyarkan Aji Panglimutan itu. Akan tetapi
ia tidak mau melakukannya, khawatir kalau-kalau teriakan melengking itu akan
menarik perhatian orang. Pula, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda
yang menarik hatinya itu. Tiba-tiba dua lengan yang kuat memeluknya dari
belakang. Hidung dan bibir yang hangat menempel pada lehernya yang membuat ia
menggelijang.
"Ihh, sembrono....., jangan di
sini..... lepaskan!" Mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tidak
meronta agar lepas dari pelukan hangat itu.
"Lalu di mana, sayang?"
tanya Linggajaya berbisik di dekat telinga Lasmini.
".....di kamarku..... malam
ini..... lewat jendela.....I" kata Lasmini dengan hati menggetar karena
gairah berahi.
Mendengar jawaban ini, Linggajaya
girang sekali dan dia melepaskan pelukannya dari belakang. Lasmini lalu berlari
lari meninggalkannya. Linggajaya tertawa. Dia tahu bahwa sudah lima hari
lamanya Narotama meninggalkan kepatihan. Saat seperti yang dijanjikan Lasmini
tadilah yang dinanti-nantinya, yang membuat dia bertahan menjadi tukang kebun
di kepatihan itu. Kalau tidak ada harapan itu, dia tidak akan sudi menyamar
sebagai tukang kebun! Lasmini mandi dan hatinya bergetar. Ia masih perawan
ketika menjadi isteri Narotama dan sejak itu, ia tidak pernah berdekatan dengan
pria lain. Sekarang inilah pertama kalinya ia hendak menyeleweng dengan
laki-laki lain, maka hatinya penuh ketegangan, juga kegembiraan yang membuat
jantungnya berdebar-debar.
Seperti sudah dapat diduga sejak
sore, malam itu gelap dan mendung menjadi semakin tebal. Suasana di gedung
kepatihan sepi sekali. Semua penghuni rumah itu merasa lebih senang tinggal di
dalam kamar masing-masing. Apalagi Ki Patih Narotama tidak berada di rumah.
Bahkan para perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang kepatihan merasa
lebih aman tinggal di gardu penjagaan. Lasmini sejak tadi sudah berada dalam
kamarnya. Pintu kamarnya sudah ditutup dan dipalangi dari dalam, akan tetapi
daun jendela kamarnya hanya dirapatkan begitu saja, tidak dipalang. Dan di luar
kamar duduk seorang wanita bertubuh tinggi besar berwajah buruk berusia sekitar
empat puluh dua tahun. Ia adalah Sarti, pelayan pribadi, kepercayaan Lasmini
yang dulu dibawanya dari Kerajaan Parang Siluman ketika ia menjadi selir
Narotama. Pelayan ini bertugas untuk menjaga agar kamar Lasmini malam itu tidak
mendapat gangguan. Tentu saja Sarti tahu bahwa majikannya malam itu hendak
langen asmara (bermain cinta) dengan Linggajaya! Lasmini duduk menanti di tepi pembaringannya.
Kamar yang indah itu harum semerbak melati, kesukaannya. Ia mengenakan pakaian
tipis. Di atas meja terdapat lampu kecil yang memberi penerangan remang-remang.
Setelah menanti dengan hati tegang sejak senja tadi, tiba-tiba daun jendela
terbuka dan bayangan tubuh Linggajaya melompat masuk melalui lubang jendela.
Dengan tenang Linggajaya menutupkan kembali daun jendela dan memalangnya. Lalu
dia memutar tubuh memandang ke arah Lasmini. Wanita ini bangkit berdiri. Dua
buah kakinya gemetar ketika ia melangkah perlahan menghampiri pemuda itu. Tanpa
berkata-kata, keduanya saling menghampiri dan entah siapa yang memulai,
keduanya sudah melekat dalam rangkulan yang ketat.
No comments:
Post a Comment