Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 71


"Hamba diambil murid mendiang Eyang Empu Dewamurti sampai lima tahun lamanya. Pada saat beliau akan wafat, beliau memesan kepada hamba agar hamba membawa pusaka Sang Megatantra ke Kahuripan dan menyerahkan kepada paduka yang berhak sebagai pemiliknya. Dalam perjalanan menuju ke sini, hamba bertemu dengan Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya yang saat ini hadir di sini. Hamba diterima dengan ramah dan disambut dengan pesta. Karena percaya, hamba menceritakan tentang Sang Megatantra. Pangeran Hendratama melihat keris pusaka itu dan berjanji akan membuatkan gagang dan warangka yang sesuai. Hamba percaya dan menyerahkannya. Akan tetapi ketika keris itu dikembalikan kepada hamba dengan gagang dan warangka baru, dia lalu pergi dengan tergesa-gesa. Setelah dia pergi, baru hamba ketahui bahwa keris pusaka Megatantra yang dikembalikan kepada hamba itu palsu. Yang aseli tentu saja sudah dibawa lari."
"Bohong .....!" kata Pangeran Hendratama.
"Kakang Pangeran!" Sang Prabu Erlangga membentak dan pangeran itu diam, tak berani melanjutkan kata-katanya.
"Belum tiba giliran andika untuk bicara!" Sang Prabu Erlangga lalu berkata kepada Nurseta.
"Nurseta, lanjutkan ceritamu."
"Sendika (menaati), gusti. Untuk mencari keterangan tentang orang tua hamba, hamba mendapatkan jejak yang membawa hamba mengunjungi Eyang Senopati Sindukerta. Sungguh tidak hamba sangka sebelumnya bahwa beliau ini ternyata adalah eyang hamba sendiri. Pertemuan yang membahagiakan hati hamba. Dari eyang hamba mendengar bahwa Pangeran Hendratama telah pindah ke kota raja. Karena itu, kemarin dulu malam hamba mencoba untuk memasuki gedungnya untuk merampas kembali pusaka Sang Megatantra yang akan hamba haturkan kepada paduka sesuai pesan mendiang Eyang Empu Dewamurti. Akan tetapi hamba tidak berhasil karena Pangeran Hendratama mempunyai banyak jagoan yang menjaga rumahnya. Demikianlah, hamba kembali ke rumah Eyang Senopati dan hari ini hamba dipanggil menghadap paduka oleh Gusti Patih Narotama."
Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk. Tentu saja sebagai seorang raja yang bijaksana dia tidak mau menerima dan percaya begitu saja akan keterangan Nurseta itu. Dia lalu memandang Senopati Sindukerta.
"Paman senopati, benarkah keterangan yang diberikan cucumu Nurseta tadi?"
"Hamba berani bersumpah bahwa apa yang dia haturkan itu semua benar, gusti."
"Akan tetapi kami mendengar bahwa engkau, didukung cucumu ini, ingin memberontak dan merebut tahta kerajaan kami, mengandalkan wahyu mahkota dari Sang Megatantra. Benarkah itu?"

Sepasang mata Senopati Sindukerta terbelalak dan dia menggeleng kepala kuat-kuat.
"Ampun beribu ampun, gusti! Tidak sekali-kali hamba berani memberontak terhadap paduka! Keris pusaka Sang Megatantra itu tidak ada pada hamba, juga tidak dibawa cucu hamba Nurseta, akan tetapi dicuri orang seperti yang diceritakan cucu hamba tadi. Hamba, berani bersumpah, demi para dewata yang agung, hamba berdua cucu hamba hanya bicara sebenarnya, gusti."
Kini Sang Prabu Erlangga memandang kepada Pangeran Hendratama, lalu berkata,
"Nah, Kakang Pangeran Hendratama, sekarang tiba giliran andika untuk bicara. Keteranganmu tentang Sang Megatantra sungguh bertolak belakang dengan keterangan Nurseta dan Paman Senopati Sindukerta. Andika menceritakan bahwa Nurseta yang mencuri Sang Megatantra dari tanganmu, sebaliknya Nurseta menceritakan bahwa andika yang mencuri Sang Megatantra dari tangannya, Nah, bagaimana tanggapanmu tentang cerita mereka itu?"
Pangeran Hendratama bangkit berdiri dan melotot memandang ke arah Nurseta dan kakeknya, mukanya merah padam dan dia membentak marah.
"Senopati Sindukerta, dan engkau Nurseta Jangan memutar-balikkan kenyataan Mana mungkin aku, seorang pangeran, mencuri? Engkau adalah bocah dusun, tidak heran kalau engkau mencuri pusaka! Dan aku adalah kakang ipar Sang Prabu, mana mungkin aku menyembunyikan pusaka Sang Megatantra? Aku hendak menyerahkan kepada Sang Prabu, akan tetapi kau curi. Kalau engkau, Ki Sindukerta, tentu mungkin saja hendak memberontak dan ingin menjadi raja, mengandalkan pusaka Sang Megatantra yang berada di tanganmu dan mengandalkan kesaktian cucumu ini! Pantas saja engkau menyuruh cucumu ini malam-malam untuk mencoba membunuhku karena hanya akulah yang mengetahui akan rahasiamu. Betul tidak? Mengaku sajalah, Sindukerta dan Nurseta, daripada kalian disiksa -agar mengaku!"
"Cukup, Kakang Pangeran. Aku yang bertanya kepada andika dan belum andika jawab. Tidak perlu kakang marah-marah. Jawablah pertanyaanku, bagaimana pendapat atau tanggapanmu akan cerita Nurseta dan Paman Sindukerta tadi?"
"Mereka jelas bohong, Yayi Prabu! Mereka sengaja memutar balikkan fakta. Karena itu, keputusannya berada ditangan paduka, ataukah paduka lebih percaya kepada bocah dusun dan kakeknya yang dulu pernah dipecat mendiang Ramanda Prabu Teguh Dharmawangsa!"
Sang permaisuri yang duduk di sebelah kiri Sang Prabu Erlangga berkata lirih kepada suaminya.
"Sungguh aneh kalau Rakanda Prabu tidak percaya kepada kakak hamba Pangeran Hendratama yang mempunyai tiga orang saksi dan lebih percaya kepada dua orang ini."
Sang Prabu Erlangga menjadi serba salah. Membenarkan Pangeran Hendratama dia meragu karena dalam lubuk hatinya, dia percaya bahwa Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak berbohong. Akan tetapi untuk membenarkan mereka berarti dia menyalahkan Pangeran Hendratama dan hal ini akan membuat permaisurinya tak senang dan marah. Dengan alis berkerut Sang Prabu Erlangga lalu berkata lantang, didengarkan semua orang dengan penuh perhatian dan hati tegang.
"Oleh karena kedua pihak memberi keterangan yang saling bertentangan, dan kami belum melihat bukti siapa yang benar dan siapa salah, maka kami mengambil keputusan begini: Untuk sementara Paman Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta, ditahan dalam penjara dan kami menugaskan Kakang Patih Narotama untuk melakukan penyelidikan sehingga mendapatkan bukti siapa yang benar dan siapa yang salah diantara kedua pihak!"
Pangeran Hendratama dan beberapa orang pamong yang menjadi sekutunya, merasa kecewa dengan keputusan yang hanya merupakan penundaan keputusan yang pasti itu. Juga sang permaisuri mengerutkan alisnya, akan tetapi ia diam saja karena bagaimanapun juga, keputusan Sang Prabu Erlangga itu condong menguntungkan Pangeran Hendratama dan merugikan Senopati Sindukerta dan cucunya yang ditahan dalam penjara. Akan tetapi para pejabat tinggi lainnya mengangguk-angguk dan menganggap keputusan itu bijaksana dan adil.
Senopati Sindukerta dan Nurseta lalu diiringkan empat orang pengawal, dibawa ke penjara istana yang berada di belakang bangunan istana.

Dengan hati kesal Sang Prabu Erlangga lalu membubarkan persidangan. Ki Patih Narotama pulang ke kepatihan dengan hati berat. Dia hampir merasa yakin bahwa Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak berbohong. Pantasnya Pangeran Hendratama yang berbohong. Akan tetapi menyelidiki dan mencari kesalahan pangeran itu, hatinya merasa tidak enak terhadap Permaisuri Pertama yang tentu saja berpihak kepada pangeran kakaknya itu. Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya juga pulang. Hatinya risau karena ternyata kenyataan dalam persidangan itu tidak seperti yang dia harapkan. Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak dijatuhi hukuman berat, melainkan hanya ditahan untuk sementara dan Ki Patih Narotama ditugaskan untuk menyelidiki siapa yang benar dan siap yang salah. Tentu saja hatinya risau. Kalau sampai dapat dibuktikan bahwa dia mencuri Sang Megatantra, pasti dia akan mendapatkan hukuman berat dari adik tirinya, Sang Permaisuri tidak akan mampu menyelamatkannya. Pula, dia tahu benar bahwa sebetulnya tidak ada hubungan dekat antara dia dan Sang Permaisuri, bahkan di antara mereka ada rasa tidak suka yang timbal balik. Dia merasa iri dan tidak suka kepada adik tirinya itu dan tentu saja di lain pihak, Sang Permaisuri juga tidak suka kepadanya. Kalau Sang Permaisuri membelanya dalam persidangan, hal itu adalah karena bagaimanapun juga dia adalah kakaknya dan kalau kakaknya dinyatakan bersalah, tentu adiknya akan ikut merasa malu.
Sementara itu, setelah persidangan usai, Sang Prabu Erlangga lalu mengeram diri dalam sanggar pamujan (ruangan berdoa) untuk duduk bersamadhi dan mohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi dan mohon agar kerajaan Kahuripan terbebas dari ancaman bahaya seperti yang pernah diramalkan oleh Empu Bharada.
Narotama memikul tugas yang cukup berat. Untuk menyelidiki kebenaran keterangan Nurseta, dia harus pergi ke dusun Karang Tirta di mana pemuda itu dahulu tinggal dan menemukan Sang Megatantra, juga dia akan menyelidiki tempat yang dulu dijadikan tempat pertapaan mendiang Empu Dewamurti. Narotama tahu bahwa Empu Dewamurti adalah kakak seperguruan Empu Bharada yang amat dihormati Sang Prabu Erlangga dan dia sendiri. Kalau Nurseta merupakan murid Sang Empu Dewamurti, tentu dia telah menerima gemblengan batin dari gurunya yang arif dan bijaksana itu. Maka dia lalu berpamit kepada kedua isterinya, Listyarini dan Lasmini, bahwa kepergiannya sekali ini akan makan waktu yang agak lama, mungkin sampai sebulan baru dia akan kembali.

Setelah Narotama pergi, Lasmini merasa kesepian. Puteri Kerajaan Parang Siluman ini adalah seorang yang telah terjatuh ke dalam kekuasaan nafsu-nafsunya. Cintanya terhadap suaminya, Ki Patih Narotama, hanyalah cinta yang didasari nafsu berahi. Karena itu, baru ditinggal pergi Narotama selama beberapa hari saja. ia sudah gelisah dan kesepian sekali, haus akan belaian suaminya. Pada saat dan keadaan seperti itu, mulailah ia mencurahkan perhatiannya kepada tukang kebunnya, yang bukan lain adalah Linggajaya pemuda tampan, ganteng dan sakti, yang juga diam-diam menjadi sekutunya karena pemuda itu adalah utusan Kerajaan Wengker.
Pada suatu senja yang tidak cerah karena langit mengandung awan hitam biang hujan, terkadang tampak sinar berkilat dalam mendung tebal disusul bunyi Guntur bergemuruh, Lasmini memasuki taman bunga kepatihan yang luas dan penuh tanaman beraneka ragam kembang itu. Dalam kesepiannya, ia teringat akan Linggajaya dan ingin melihat apa yang dilakukan pemuda yang menyamar sebagai tukang kebun itu.
Ketika ia tiba di padang rumput dekat pondok kecil di tengah taman, ia melihat pemuda itu sedang berlatih silat. Ia berhenti melangkah dan menonton dari jauh. Linggajaya bertelanjang dada sehingga tampak tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang dan tampak penuh dengan tenaga. Kedua tangan yang bergerak-gerak tangkas itu menimbulkan angin yang mengeluarkan bunyi bersiutan. Alangkah gagahnya, alangkah gantengnya, pikir Lasmini dan timbul kegembiraannya bercampur gairahnya. Ia lalu melompat dan berlari menghampiri.
"Mari kita latihan!" katanya dan langsung saja ia menyerang pemuda itu.
Linggajaya girang melihat munculnya wanita cantik ini dan dia cepat menangkis lalu membalas. Mereka segera saling serang dengan cepat dan kuat. Tubuh mereka berkelebatan. Setelah menjadi selir Narotama, Lasmini memperoleh kemajuan banyak sekali dalam ilmu silat, juga tenaga saktinya bertambah setelah mendapat petunjuk Narotama bagaimana untuk menghimpun tenaga sakti.

Namun, karena kedua orang itu bertanding hanya untuk latihan, seperti pasangan yang menari-nari, tentu saja mereka membatasi tenaga dan menjaga agar tidak saling melukai. Karena sering lengan mereka beradu dan melihat betapa dekatnya wanita cantik itu sehingga dia dapat mencium keharuman melati yang melekat di tubuh Lasmini, Linggajaya seperti dibakar gairah nafsunya sendiri. Demikian pula Lasmini. Tiba-tiba Lasmini kehilangan bayangan Linggajaya yang menggunakan Aji Panglimutan, yang membuat tubuhnya sejenak tidak tampak. Lasmini tahu ilmu apa yang dipergunakan Linggajaya. Kalau ia mau, dengan pengerahan tenaga saktinya mengeluarkan teriakan melengking, ia akan mampu membuyarkan Aji Panglimutan itu. Akan tetapi ia tidak mau melakukannya, khawatir kalau-kalau teriakan melengking itu akan menarik perhatian orang. Pula, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda yang menarik hatinya itu. Tiba-tiba dua lengan yang kuat memeluknya dari belakang. Hidung dan bibir yang hangat menempel pada lehernya yang membuat ia menggelijang.
"Ihh, sembrono....., jangan di sini..... lepaskan!" Mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tidak meronta agar lepas dari pelukan hangat itu.
"Lalu di mana, sayang?" tanya Linggajaya berbisik di dekat telinga Lasmini.
".....di kamarku..... malam ini..... lewat jendela.....I" kata Lasmini dengan hati menggetar karena gairah berahi.
Mendengar jawaban ini, Linggajaya girang sekali dan dia melepaskan pelukannya dari belakang. Lasmini lalu berlari lari meninggalkannya. Linggajaya tertawa. Dia tahu bahwa sudah lima hari lamanya Narotama meninggalkan kepatihan. Saat seperti yang dijanjikan Lasmini tadilah yang dinanti-nantinya, yang membuat dia bertahan menjadi tukang kebun di kepatihan itu. Kalau tidak ada harapan itu, dia tidak akan sudi menyamar sebagai tukang kebun! Lasmini mandi dan hatinya bergetar. Ia masih perawan ketika menjadi isteri Narotama dan sejak itu, ia tidak pernah berdekatan dengan pria lain. Sekarang inilah pertama kalinya ia hendak menyeleweng dengan laki-laki lain, maka hatinya penuh ketegangan, juga kegembiraan yang membuat jantungnya berdebar-debar.

Seperti sudah dapat diduga sejak sore, malam itu gelap dan mendung menjadi semakin tebal. Suasana di gedung kepatihan sepi sekali. Semua penghuni rumah itu merasa lebih senang tinggal di dalam kamar masing-masing. Apalagi Ki Patih Narotama tidak berada di rumah. Bahkan para perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang kepatihan merasa lebih aman tinggal di gardu penjagaan. Lasmini sejak tadi sudah berada dalam kamarnya. Pintu kamarnya sudah ditutup dan dipalangi dari dalam, akan tetapi daun jendela kamarnya hanya dirapatkan begitu saja, tidak dipalang. Dan di luar kamar duduk seorang wanita bertubuh tinggi besar berwajah buruk berusia sekitar empat puluh dua tahun. Ia adalah Sarti, pelayan pribadi, kepercayaan Lasmini yang dulu dibawanya dari Kerajaan Parang Siluman ketika ia menjadi selir Narotama. Pelayan ini bertugas untuk menjaga agar kamar Lasmini malam itu tidak mendapat gangguan. Tentu saja Sarti tahu bahwa majikannya malam itu hendak langen asmara (bermain cinta) dengan Linggajaya! Lasmini duduk menanti di tepi pembaringannya. Kamar yang indah itu harum semerbak melati, kesukaannya. Ia mengenakan pakaian tipis. Di atas meja terdapat lampu kecil yang memberi penerangan remang-remang. Setelah menanti dengan hati tegang sejak senja tadi, tiba-tiba daun jendela terbuka dan bayangan tubuh Linggajaya melompat masuk melalui lubang jendela. Dengan tenang Linggajaya menutupkan kembali daun jendela dan memalangnya. Lalu dia memutar tubuh memandang ke arah Lasmini. Wanita ini bangkit berdiri. Dua buah kakinya gemetar ketika ia melangkah perlahan menghampiri pemuda itu. Tanpa berkata-kata, keduanya saling menghampiri dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah melekat dalam rangkulan yang ketat.

<<<Bagian 70                                                                                          Bagian 72 >>>

No comments:

Post a Comment