"Nurseta, jangan menentang perintah Gusti Sinuwun! Aku dipanggil dan harus menghadap. Hentikan perlawananmu!" bentak Senopati Sindukerta.
"Maafkan
hamba, gusti patih!" kata Nurseta sambil memberi hormat dengan sembah
kepada Narotama.
Narotama
tersenyum.
"Nurseta,
engkau tidak mengecewakan menjadi murid mendiang eyang Dewamurti. Marilah paman
senopati dan engkau, Nurseta, kalian ikuti denganku menghadap gusti
sinuwun."
Setelah
berganti pakaian dan berpamit kepada keluarganya, Senopati Sindukerta dan
Nurseta berangkat, ikut Ki Patih Narotama ke istana.
Puteri Mandari
tentu saja ikut panik mendengar cerita Pangeran Hendratama yang terancam oleh
Nurseta, cucu Senopati Sindukerta. Ia harus cepat membantu Pangeran Hendratama
yang menjadi sekutunya. Setelah memperhitungkan dan mengatur siasat, selir yang
cantik dan cerdik ini segera berkunjung kepada madunya, yaitu Permaisuri
Pertama yang masih terhitung adik tiri dari Pangeran Hendratama, sama-sama anak
dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Sang permaisuri yang sebetulnya
diam-diam merasa tidak suka kepada Mandari, menerimanya dengan sikap dingin. Di
dalam hati permaisuri ini, ada perasaan curiga dan tidak percaya kepada
Mandari, walaupun perasaan ini disimpannya saja di dalam hati karena iapun
memaklumi bahwa suaminya, Sang Prabu Erlangga, amat sayang kepada selir yang
cantik menggairahkan ini.
"Eh,
diajeng Mandari, apa yang membawa andika berkunjung sepagi ini?" Sang
permaisuri menyambut dengan senyum sambil memberi isyarat kepada biyung emban
(inang pengasuh) untuk membawa Pangeran Samarawijaya yang kini berusia kurang
lebih tiga tahun itu masuk ke dalam. Hati permaisuri ini masih tetap tidak
merasa tenang kalau puteranya berdekatan dengan selir suaminya ini.
Mandari
tersenyum manis.
"Ayunda
permaisuri, saya datang membawa kabar yang amat mengejutkan dan amat penting
untuk paduka ketahui."
Karena merasa
dirinya juga puteri raja, maka Mandari tidak mau menyebut permaisuri itu dengan
sebutan gusti seperti para selir lainnya dan menyebut ayunda atau kakang-mbok.
Sang
permaisuri mengerutkah alisnya, bersikap waspada karena memang dalam hatinya
sudah mempunyai perasaan curiga dan tidak percaya.
"Kabar
apakah itu yang begitu penting dan mengejutkan?" tanyanya tenang.
"Apakah
paduka sudah mendengar tentang peristiwa kemarin malam yang menimpa Rakanda
Pangeran Hendratama dan hampir saja merenggut nyawanya?"
Sekali ini
permaisuri itu benar-benar terkejut. Pangeran Hendratama adalah kakaknya,
seayah berlainan ibu. Kalau ia beribu permaisuri dan menjadi puteri mahkota,
Pangeran Hendratama lahir lebih dulu dari selir ayahnya. Maka, mendengar kakak
tirinya terancam bahaya ia terkejut sekali.
"Apa yang
terjadi dengan kakanda Pangeran Hendratama?"
"Ah, jadi
paduka benar-benar belum mendengarnya? Rakanda Pangeran Hendratama nyaris tewas
kemarin malam, gedungnya diserbu seorang yang bernama Nurseta."
"Siapa
itu Nurseta?"
"Nurseta
itu cucu Senopati Sindukerta yang dulu pernah memberontak dan dicopot
kedudukannya oleh mendiang Ramanda Prabu Teguh Dharmawangsa, akan tetapi telah
diangkat kembali menjadi senopati oleh Gusti Sinuwun. Agaknya Senopati
Sindukerta yang mendalangi usaha pembunuhan itu karena dia rupanya hendak
pemberontak lagi, didukung oleh cucunya yang kabarnya sakti mandraguna."
"Akan
tetapi mengapa Paman Senopati Sindukerta berusaha membunuh Rakanda Pangeran
Hendratama?"
"Begini
ceritanya, ayunda. Semula Rakanda pangeran menemukan keris pusaka Megatantra
dan dia hendak menyerahkan keris pusaka keturunan Mataram itu kepada Kanjeng
Sinuwun. Akan tetapi dalam perjalanan ke sini, pusaka Megatantra itu dicuri
oleh Nurseta. Karena keris pusaka itu mengandung wahyu mahkota, agaknya
Senopati Sindukerta hendak mempergunakannya untuk mengangkat diri menjadi raja
dan memberontak kepada Kanjeng Sinuwun. Dan oleh karena rahasia keris pusaka
itu, yang dicuri oleh Nurseta, diketahui oleh Rakanda Pangeran Hendratama, maka
Nurseta berusaha untuk membunuhnya! Kalau Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak
cepat ditangkap dan dihukum, keselamatan Rakanda Pangeran Hendratama terancam,
juga Kerajaan Kahuripan terancam pemberontakan."
"Wah,
kalau begitu berbahaya sekali!" Sang permaisuri berseru dengan wajah
khawatir.
"Memang
amat berbahaya, ayunda. Akan tetapi saya khawatir Sang Prabu tidak akan
mengambil tindakan keras karena agaknya beliau percaya kepada senopati tua yang
pandai bermuka manis dan menjilat itu. Karena saya khawatir sekali, maka pagi
ini saya menghadap agar dapat berusaha supaya Nurseta dan Senopati Sindukerta
ditangkap dan dihukum mati!"
Sang
permaisuri mengangguk-angguk.
"Aku akan
segera mengingatkan Sang Prabu!"
Setelah
Mandari pamit dan mundur, Sang Permaisuri segera menemui Sang Prabu Ertangga.
Dengan wajah gelisah Sang Permaisuri lalu mohon kepada suaminya agar melindungi
Pangeran Hendratama dan menghukum Nurseta dan Senopati Sindukerta yang
mengancam keselamatan Pangeran Hendratama dan mempunyai niat hendak
memberontak. Sang Prabu Erlangga bersikap tenang dan tersenyum mendengar
permintaan permaisurinya.
"Jangan
khawatir, yayi. Aku sedang memanggil Paman Senopati Sindukerta dan cucunya yang
bernama Nurseta itu. Akan kuselidiki dengan seksama dan kalau memang benar
tuduhan Itu, pasti mereka akan menerima hukuman berat."
"Karena
urusan ini menyangkut diri Rakanda Pangeran Hendratama maka dalam persidangan
nanti hamba mohon hadir, Rakanda Prabu." permaisuri itu menuntut.
Sang Prabu
Erlangga menyanggupi. Dia menyadari bahwa sesungguhnya, mahkota kerajaan
Kahuripan yang menjadi keturunan kerajaan Mataram adalah hak permaisurinya ini
sebagai putera pertama dari permaisuri Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Hanya
karena dia menjadi suami sang puteri itu, maka kini dia diangkat menjadi raja
Kahuripan. Karena itu, permintaan yang pantas dari permaisurinya ini tentu saja
tak dapat ditolaknya.
Pada keesokan
harinya, Ki Patih Narotama menghadapkan Senopati Sindukerta dan Nurseta ke
persidangan istana. Persidangan itu dihadiri oleh para pejabat tinggi dan hal
ini memang disengaja oleh Sang Prabu Erlangga. Dia menghendaki agar persidangan
itu dilakukan secara terbuka dan seadil-adilnya, maka dia memberi kesemapatan
kepada para senapati dan pamong-praja yang berkedudukan tinggi untuk turut
menyaksikan. Tentu saja Sang Permaisuri juga hadir, ditemani oleh Puteri
Mandari. Permaisuri ke dua, yaitu puteri dari Sriwijaya dan selir pertama Dyah
Untari, dan para selir lain, tidak menghadiri karena selain mereka tidak
diperintahkan hadir, juga urusan itu tidak ada hubungannya dengan mereka.
Setelah
memasuki persidangan, Senopati Sindukerto dan Nurseta duduk bersila di atas
lantai dan menghaturkan sembah, ditonton oleh semua pejabat tinggi yang hadir.
Sepasang mata Sang Prabu Erlangga yang tajam mencorong itu ditujukan kepada
Nurseta dan seperti juga yang dirasakan Ki Patih Narotama pada pertemuan
pertama, hati Sang Prabu Erlangga tertarik dan timbul rasa suka kepada pemuda
sederhana yang tampan itu.
Di antara para
pejabat tinggi yang hadir di persidangan itu, terdapat Pangeran Hendratama dan tiga
orang selirnya yang cantik dan muda belia, yaitu Sukarti, Kenangasari, dan
Widarti. Ketika melihat Nurseta menghadap, wajah Pangeran Hendratama berubah
merah sekali dan sinar matanya berapi-api.
Juga Sukarti
dan Kenangasari memandang dengan alis berkerut dan sinar mata membenci. Hanya
Widarti yang menundukkan mukanya setelah memandang kepada Nurseta dan beberapa
detik bertemu pandang dengan pemuda itu. Jantung dalam dada selir termuda dari
Pangeran Hendratama ini berdebar dan ia merasa bersalah terhadap Nurseta dan
malu. Tidak seperti para ponggawa yang duduk bersila di atas lantai, Pangeran
Hendratama duduk di kursi. Bagaimanapun juga, dia adalah kakak tiri Sang
Permaisuri, maka tentu saja mendapat penghargaan sebagai saudara tua. Setelah
menerima penghormatan semua yang hadir, Ki Patih Narotama memberi laporan.
"Gusti
Sinuwun, hamba telah memanggil dan menghadapkan Paman Senopati Sindukerta dan
cucunya seperti yang paduka perintahkan."
Sang Prabu
Erlangga mengangguk sambil tersenyum kepada patihnya.
"Terima
kasih, kakang Patih Narotama." Lalu Sribaginda memandang kepada Senopati
Sindukerta.
"Paman
Senopati Sindukerta, kami minta andika memperkenalkan cucu andika ini."
Senopati
Sindukerta menghaturkan sembah lalu berkata,
"Gusti
Sinuwun, pemuda ini adalah cucu hamba bernama Nurseta. Dia baru beberapa hari
datang berkunjung. Cucu hamba ini adalah anak dari puteri hamba Endang Sawitri
yang pergi meninggalkan rumah hamba sejak dua puluh tahun yang lalu dan sampai
sekarang tidak pernah pulang."
Sang Prabu Erlangga
kini memandang kepada Nurseta.
”He, orang
muda, benarkah namamu Nurseta?"
Nurseta
menyembah dan menjawab, suaranya tenang dan tegas, sedikitpun tidak tampak
takut atau gugup.
"Betul,
kanjeng gusti sinuwun!"
"Nurseta,
jawablah dengan sejujurnya. Benarkah pada tiga hari yang lalu, malam-malam
engkau berkunjung ke rumah Kakang Pangeran Hendratama secara menggelap?"
Kembali
Nurseta menjawab dengan mantap.
"Sesungguhnya
benar begitu, gusti!"
Semua orang
tertegun mendengar pengakuan yang mantap itu dan suasana mulai tegang. Bukan
main beraninya anak ini, pikir para pejabat tinggi yang sudah tua.
"Dan
engkau datang dengan niat untuk membunuh Kakang Pangeran Hendratama?"
Sekali ini
Nurseta menyembah lagi dan menjawab lantang.
“Itu tidak
benar, gusti!"
"Hemm,
lalu mau apa engkau datang ke rumah orang malam-malam dengan cara menggelap
kalau tidak berniat membunuh Kakang Pangeran Hendratama?"
"Hamba
berkunjung malam-malam kesana dengan niat untuk merampas kembali keris pusaka
Megatantra yang hamba temukan kemudian dicuri oleh Pangeran Hendratama,
gusti."
"Bohong
besar!" tiba-tiba Pangeran Hendratama berteriak.
"Dia
malah yang mencuri keris pusaka Megatantra dari hamba, Yayi Prabu. Tiga orang
selir hamba ini yang menjadi saksi. Betul tidak, Sukarti, Kenangasari, dan
Widarti?"
Sukarti dan
Kenangsari cepat menjawab,
"Betul
sekali, hamba menjadi saksinya bahwa pusaka itu dicuri oleh Nurseta!"
Sementara itu
Widarti hanya ikut menyembah, akan tetapi tidak berkata apa-apa dan hal ini
tidak kentara karena dua orang rekannya sudah menjawab berbareng.
"Nurseta,
maling kecil kau! Kembalikan pusakaku itu!" teriak Pangeran Hendratama.
Sang Prabu
Erlangga mengerutkan alisnya dan memandang Pangeran Hendratama lalu berkata,
suaranya tegas berwibawa.
"Kakang
Pangeran! Ini merupakan persidangan di istana! Tak seorangpun boleh membuka
suara sebelum ditanya! Mengertikah andika?"
Pangeran
Hendratama membungkuk dan duduk tegak kembali di kursinya.
"Mengerti,
Yayi Prabu. Maaf!"
Sang Prabu
Erlangga memandang kembali kepada Nurseta yang masih duduk bersila dengan
tenang dan menundukkan muka dengan tertib dan sopan.
"Nurseta,
ceritakan apa yang terjadi dengan keris pusaka Megatantra."
Nurseta
menceritakan dengan suara tenang dan tegas, didengarkan oleh semua orang dengan
penuh perhatian.
"Gusti
Sinuwun, penemuan keris itu terjadi kurang lebih enam tahun yang lalu. Ketika
hamba mencangkul kebun di dusun Karang Tirta, dekat Pantai Laut Kidul, hamba
menemukan sebatang keris dalam tanah. Hamba lalu membawa keris itu kepada Eyang
Empu Dewamurti, seorang pertapa yang hamba kenal di pantai. Beliau yang
menerangkan bahwa keris itu adalah Pusaka Sang Megatantra buatan Sang Empu
Bramakendali di jaman Medang Kamulan, pusaka yang kemudian menjadi milik
Kerajaan Mataram dan hilang puluhan tahun lalu."
Pada saat itu,
dua orang yang pakaiannya paling sederhana di antara para ponggawa dan duduknya
di sudut, saling berbisik. Mereka adalah dua orang ponokawan (hamba) yang
dahulu selalu mengikuti Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sebelum
keduanya menjadi raja dan patih, ketika masih berkelana dari Bali-dwipa ke
Jawa-dwipa. Dua orang hamba pengasuh yang amat setia dan amat dipercaya oleh
sang prabu walaupun mereka tetap menjadi pamong pribadi sang raja. Mereka
bernama Bancak, berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kecil,
kurus dengan mata sipit, dan yang kedua, bernama Doyok, usianya lebih muda
sedikit, bertubuh gendut pendek dengan suara besar parau seperti menangis,
berbibir tebal. Karena dua orang ini amat setia, juga dalam kesederhanaan dan
kebodohan mereka seperti orang-orang dusun terkandung kebijaksanaan dan
kejujuran, maka Sang Prabu Erlangga amat sayang dan percaya kepada mereka.
Ketika Nurseta bercerita tentang keris pusaka Sang Megatantra, keduanya saling
berbisik. Hal ini tampak oleh Sang Prabu Erlangga. Dia mengangkat tangan
memberi isyarat kepada Nurseta untuk menunda ceritanya lalu berkata kepada dua
orang hamba setia itu.
"Paman
Bancak dan Doyok, agaknya andika berdua hendak mengatakan sesuatu! Nah,
katakanlah sekarang juga!"
Bancak dan
Doyok saling sikut seperti saling menyalahkan dan saling minta agar rekannya
bicara. Akhirnya Doyok yang lebih muda menjawab, suaranya seperti katak buduk.
"Ampunkan
hamba berdua, gusti. Hamba berdua ingin mengatakan bahwa Sang Empu Dewamurti dapat
dihadirkan sebagai saksi, maka akan terbukti siapa benar siapa salah karena
hamba berdua sudah mendengar bahwa Sang Empu Dewamurti adalah seorang pertapa
yang bijaksana dan tidak mungkin berdusta."
Semua orang
mengangguk-angguk mendengar usul yang memang tepat sekali itu. Juga Sang Prabu
Erlangga mengangguk-angguk, lalu berkata kepada Nurseta.
"Nurseta,
dapatkah engkau mengundang Eyang Empu Dewamurti sebagai saksi akan kebenaran
keteranganmu tadi?"
"Ampun,
gusti. Lebih setahun yang lalu, Eyang Empu Dewamurti didatangi Resi Bajrasakti
dari Wengker, Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dan tiga
orang Kalamuka dari Wura-Wuri yang mendengar tentang Sang Megatantra dan
bermaksud merebutnya mengeroyok Eyang Empu sehingga eyang yang sudah sepuh itu
terluka dan meninggal dunia."
Sang Prabu
Erlangga menghela napas panjang. Di mana-mana, orang dari kerajaan-kerajaan
kecil itu memang selalu bertindak sesat dan jahat.
"Kalau
begitu, lanjutkan ceritamu Nurseta."
No comments:
Post a Comment