Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 70


"Nurseta, jangan menentang perintah Gusti Sinuwun! Aku dipanggil dan harus menghadap. Hentikan perlawananmu!" bentak Senopati Sindukerta.
"Maafkan hamba, gusti patih!" kata Nurseta sambil memberi hormat dengan sembah kepada Narotama.
Narotama tersenyum.
"Nurseta, engkau tidak mengecewakan menjadi murid mendiang eyang Dewamurti. Marilah paman senopati dan engkau, Nurseta, kalian ikuti denganku menghadap gusti sinuwun."
Setelah berganti pakaian dan berpamit kepada keluarganya, Senopati Sindukerta dan Nurseta berangkat, ikut Ki Patih Narotama ke istana.

Puteri Mandari tentu saja ikut panik mendengar cerita Pangeran Hendratama yang terancam oleh Nurseta, cucu Senopati Sindukerta. Ia harus cepat membantu Pangeran Hendratama yang menjadi sekutunya. Setelah memperhitungkan dan mengatur siasat, selir yang cantik dan cerdik ini segera berkunjung kepada madunya, yaitu Permaisuri Pertama yang masih terhitung adik tiri dari Pangeran Hendratama, sama-sama anak dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Sang permaisuri yang sebetulnya diam-diam merasa tidak suka kepada Mandari, menerimanya dengan sikap dingin. Di dalam hati permaisuri ini, ada perasaan curiga dan tidak percaya kepada Mandari, walaupun perasaan ini disimpannya saja di dalam hati karena iapun memaklumi bahwa suaminya, Sang Prabu Erlangga, amat sayang kepada selir yang cantik menggairahkan ini.
"Eh, diajeng Mandari, apa yang membawa andika berkunjung sepagi ini?" Sang permaisuri menyambut dengan senyum sambil memberi isyarat kepada biyung emban (inang pengasuh) untuk membawa Pangeran Samarawijaya yang kini berusia kurang lebih tiga tahun itu masuk ke dalam. Hati permaisuri ini masih tetap tidak merasa tenang kalau puteranya berdekatan dengan selir suaminya ini.
Mandari tersenyum manis.
"Ayunda permaisuri, saya datang membawa kabar yang amat mengejutkan dan amat penting untuk paduka ketahui."
Karena merasa dirinya juga puteri raja, maka Mandari tidak mau menyebut permaisuri itu dengan sebutan gusti seperti para selir lainnya dan menyebut ayunda atau kakang-mbok.
Sang permaisuri mengerutkah alisnya, bersikap waspada karena memang dalam hatinya sudah mempunyai perasaan curiga dan tidak percaya.
"Kabar apakah itu yang begitu penting dan mengejutkan?" tanyanya tenang.
"Apakah paduka sudah mendengar tentang peristiwa kemarin malam yang menimpa Rakanda Pangeran Hendratama dan hampir saja merenggut nyawanya?"
Sekali ini permaisuri itu benar-benar terkejut. Pangeran Hendratama adalah kakaknya, seayah berlainan ibu. Kalau ia beribu permaisuri dan menjadi puteri mahkota, Pangeran Hendratama lahir lebih dulu dari selir ayahnya. Maka, mendengar kakak tirinya terancam bahaya ia terkejut sekali.
"Apa yang terjadi dengan kakanda Pangeran Hendratama?"
"Ah, jadi paduka benar-benar belum mendengarnya? Rakanda Pangeran Hendratama nyaris tewas kemarin malam, gedungnya diserbu seorang yang bernama Nurseta."
"Siapa itu Nurseta?"
"Nurseta itu cucu Senopati Sindukerta yang dulu pernah memberontak dan dicopot kedudukannya oleh mendiang Ramanda Prabu Teguh Dharmawangsa, akan tetapi telah diangkat kembali menjadi senopati oleh Gusti Sinuwun. Agaknya Senopati Sindukerta yang mendalangi usaha pembunuhan itu karena dia rupanya hendak pemberontak lagi, didukung oleh cucunya yang kabarnya sakti mandraguna."
"Akan tetapi mengapa Paman Senopati Sindukerta berusaha membunuh Rakanda Pangeran Hendratama?"
"Begini ceritanya, ayunda. Semula Rakanda pangeran menemukan keris pusaka Megatantra dan dia hendak menyerahkan keris pusaka keturunan Mataram itu kepada Kanjeng Sinuwun. Akan tetapi dalam perjalanan ke sini, pusaka Megatantra itu dicuri oleh Nurseta. Karena keris pusaka itu mengandung wahyu mahkota, agaknya Senopati Sindukerta hendak mempergunakannya untuk mengangkat diri menjadi raja dan memberontak kepada Kanjeng Sinuwun. Dan oleh karena rahasia keris pusaka itu, yang dicuri oleh Nurseta, diketahui oleh Rakanda Pangeran Hendratama, maka Nurseta berusaha untuk membunuhnya! Kalau Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak cepat ditangkap dan dihukum, keselamatan Rakanda Pangeran Hendratama terancam, juga Kerajaan Kahuripan terancam pemberontakan."
"Wah, kalau begitu berbahaya sekali!" Sang permaisuri berseru dengan wajah khawatir.
"Memang amat berbahaya, ayunda. Akan tetapi saya khawatir Sang Prabu tidak akan mengambil tindakan keras karena agaknya beliau percaya kepada senopati tua yang pandai bermuka manis dan menjilat itu. Karena saya khawatir sekali, maka pagi ini saya menghadap agar dapat berusaha supaya Nurseta dan Senopati Sindukerta ditangkap dan dihukum mati!"
Sang permaisuri mengangguk-angguk.
"Aku akan segera mengingatkan Sang Prabu!"
Setelah Mandari pamit dan mundur, Sang Permaisuri segera menemui Sang Prabu Ertangga. Dengan wajah gelisah Sang Permaisuri lalu mohon kepada suaminya agar melindungi Pangeran Hendratama dan menghukum Nurseta dan Senopati Sindukerta yang mengancam keselamatan Pangeran Hendratama dan mempunyai niat hendak memberontak. Sang Prabu Erlangga bersikap tenang dan tersenyum mendengar permintaan permaisurinya.
"Jangan khawatir, yayi. Aku sedang memanggil Paman Senopati Sindukerta dan cucunya yang bernama Nurseta itu. Akan kuselidiki dengan seksama dan kalau memang benar tuduhan Itu, pasti mereka akan menerima hukuman berat."
"Karena urusan ini menyangkut diri Rakanda Pangeran Hendratama maka dalam persidangan nanti hamba mohon hadir, Rakanda Prabu." permaisuri itu menuntut.
Sang Prabu Erlangga menyanggupi. Dia menyadari bahwa sesungguhnya, mahkota kerajaan Kahuripan yang menjadi keturunan kerajaan Mataram adalah hak permaisurinya ini sebagai putera pertama dari permaisuri Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Hanya karena dia menjadi suami sang puteri itu, maka kini dia diangkat menjadi raja Kahuripan. Karena itu, permintaan yang pantas dari permaisurinya ini tentu saja tak dapat ditolaknya.

Pada keesokan harinya, Ki Patih Narotama menghadapkan Senopati Sindukerta dan Nurseta ke persidangan istana. Persidangan itu dihadiri oleh para pejabat tinggi dan hal ini memang disengaja oleh Sang Prabu Erlangga. Dia menghendaki agar persidangan itu dilakukan secara terbuka dan seadil-adilnya, maka dia memberi kesemapatan kepada para senapati dan pamong-praja yang berkedudukan tinggi untuk turut menyaksikan. Tentu saja Sang Permaisuri juga hadir, ditemani oleh Puteri Mandari. Permaisuri ke dua, yaitu puteri dari Sriwijaya dan selir pertama Dyah Untari, dan para selir lain, tidak menghadiri karena selain mereka tidak diperintahkan hadir, juga urusan itu tidak ada hubungannya dengan mereka.
Setelah memasuki persidangan, Senopati Sindukerto dan Nurseta duduk bersila di atas lantai dan menghaturkan sembah, ditonton oleh semua pejabat tinggi yang hadir. Sepasang mata Sang Prabu Erlangga yang tajam mencorong itu ditujukan kepada Nurseta dan seperti juga yang dirasakan Ki Patih Narotama pada pertemuan pertama, hati Sang Prabu Erlangga tertarik dan timbul rasa suka kepada pemuda sederhana yang tampan itu.
Di antara para pejabat tinggi yang hadir di persidangan itu, terdapat Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya yang cantik dan muda belia, yaitu Sukarti, Kenangasari, dan Widarti. Ketika melihat Nurseta menghadap, wajah Pangeran Hendratama berubah merah sekali dan sinar matanya berapi-api.
Juga Sukarti dan Kenangasari memandang dengan alis berkerut dan sinar mata membenci. Hanya Widarti yang menundukkan mukanya setelah memandang kepada Nurseta dan beberapa detik bertemu pandang dengan pemuda itu. Jantung dalam dada selir termuda dari Pangeran Hendratama ini berdebar dan ia merasa bersalah terhadap Nurseta dan malu. Tidak seperti para ponggawa yang duduk bersila di atas lantai, Pangeran Hendratama duduk di kursi. Bagaimanapun juga, dia adalah kakak tiri Sang Permaisuri, maka tentu saja mendapat penghargaan sebagai saudara tua. Setelah menerima penghormatan semua yang hadir, Ki Patih Narotama memberi laporan.
"Gusti Sinuwun, hamba telah memanggil dan menghadapkan Paman Senopati Sindukerta dan cucunya seperti yang paduka perintahkan."
Sang Prabu Erlangga mengangguk sambil tersenyum kepada patihnya.
"Terima kasih, kakang Patih Narotama." Lalu Sribaginda memandang kepada Senopati Sindukerta.
"Paman Senopati Sindukerta, kami minta andika memperkenalkan cucu andika ini."
Senopati Sindukerta menghaturkan sembah lalu berkata,
"Gusti Sinuwun, pemuda ini adalah cucu hamba bernama Nurseta. Dia baru beberapa hari datang berkunjung. Cucu hamba ini adalah anak dari puteri hamba Endang Sawitri yang pergi meninggalkan rumah hamba sejak dua puluh tahun yang lalu dan sampai sekarang tidak pernah pulang."
Sang Prabu Erlangga kini memandang kepada Nurseta.
”He, orang muda, benarkah namamu Nurseta?"
Nurseta menyembah dan menjawab, suaranya tenang dan tegas, sedikitpun tidak tampak takut atau gugup.
"Betul, kanjeng gusti sinuwun!"
"Nurseta, jawablah dengan sejujurnya. Benarkah pada tiga hari yang lalu, malam-malam engkau berkunjung ke rumah Kakang Pangeran Hendratama secara menggelap?"
Kembali Nurseta menjawab dengan mantap.
"Sesungguhnya benar begitu, gusti!"
Semua orang tertegun mendengar pengakuan yang mantap itu dan suasana mulai tegang. Bukan main beraninya anak ini, pikir para pejabat tinggi yang sudah tua.
"Dan engkau datang dengan niat untuk membunuh Kakang Pangeran Hendratama?"
Sekali ini Nurseta menyembah lagi dan menjawab lantang.
“Itu tidak benar, gusti!"
"Hemm, lalu mau apa engkau datang ke rumah orang malam-malam dengan cara menggelap kalau tidak berniat membunuh Kakang Pangeran Hendratama?"
"Hamba berkunjung malam-malam kesana dengan niat untuk merampas kembali keris pusaka Megatantra yang hamba temukan kemudian dicuri oleh Pangeran Hendratama, gusti."
"Bohong besar!" tiba-tiba Pangeran Hendratama berteriak.
"Dia malah yang mencuri keris pusaka Megatantra dari hamba, Yayi Prabu. Tiga orang selir hamba ini yang menjadi saksi. Betul tidak, Sukarti, Kenangasari, dan Widarti?"
Sukarti dan Kenangsari cepat menjawab,
"Betul sekali, hamba menjadi saksinya bahwa pusaka itu dicuri oleh Nurseta!"
Sementara itu Widarti hanya ikut menyembah, akan tetapi tidak berkata apa-apa dan hal ini tidak kentara karena dua orang rekannya sudah menjawab berbareng.
"Nurseta, maling kecil kau! Kembalikan pusakaku itu!" teriak Pangeran Hendratama.
Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya dan memandang Pangeran Hendratama lalu berkata, suaranya tegas berwibawa.
"Kakang Pangeran! Ini merupakan persidangan di istana! Tak seorangpun boleh membuka suara sebelum ditanya! Mengertikah andika?"
Pangeran Hendratama membungkuk dan duduk tegak kembali di kursinya.
"Mengerti, Yayi Prabu. Maaf!"
Sang Prabu Erlangga memandang kembali kepada Nurseta yang masih duduk bersila dengan tenang dan menundukkan muka dengan tertib dan sopan.
"Nurseta, ceritakan apa yang terjadi dengan keris pusaka Megatantra."

Nurseta menceritakan dengan suara tenang dan tegas, didengarkan oleh semua orang dengan penuh perhatian.
"Gusti Sinuwun, penemuan keris itu terjadi kurang lebih enam tahun yang lalu. Ketika hamba mencangkul kebun di dusun Karang Tirta, dekat Pantai Laut Kidul, hamba menemukan sebatang keris dalam tanah. Hamba lalu membawa keris itu kepada Eyang Empu Dewamurti, seorang pertapa yang hamba kenal di pantai. Beliau yang menerangkan bahwa keris itu adalah Pusaka Sang Megatantra buatan Sang Empu Bramakendali di jaman Medang Kamulan, pusaka yang kemudian menjadi milik Kerajaan Mataram dan hilang puluhan tahun lalu."
Pada saat itu, dua orang yang pakaiannya paling sederhana di antara para ponggawa dan duduknya di sudut, saling berbisik. Mereka adalah dua orang ponokawan (hamba) yang dahulu selalu mengikuti Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sebelum keduanya menjadi raja dan patih, ketika masih berkelana dari Bali-dwipa ke Jawa-dwipa. Dua orang hamba pengasuh yang amat setia dan amat dipercaya oleh sang prabu walaupun mereka tetap menjadi pamong pribadi sang raja. Mereka bernama Bancak, berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kecil, kurus dengan mata sipit, dan yang kedua, bernama Doyok, usianya lebih muda sedikit, bertubuh gendut pendek dengan suara besar parau seperti menangis, berbibir tebal. Karena dua orang ini amat setia, juga dalam kesederhanaan dan kebodohan mereka seperti orang-orang dusun terkandung kebijaksanaan dan kejujuran, maka Sang Prabu Erlangga amat sayang dan percaya kepada mereka. Ketika Nurseta bercerita tentang keris pusaka Sang Megatantra, keduanya saling berbisik. Hal ini tampak oleh Sang Prabu Erlangga. Dia mengangkat tangan memberi isyarat kepada Nurseta untuk menunda ceritanya lalu berkata kepada dua orang hamba setia itu.
"Paman Bancak dan Doyok, agaknya andika berdua hendak mengatakan sesuatu! Nah, katakanlah sekarang juga!"
Bancak dan Doyok saling sikut seperti saling menyalahkan dan saling minta agar rekannya bicara. Akhirnya Doyok yang lebih muda menjawab, suaranya seperti katak buduk.
"Ampunkan hamba berdua, gusti. Hamba berdua ingin mengatakan bahwa Sang Empu Dewamurti dapat dihadirkan sebagai saksi, maka akan terbukti siapa benar siapa salah karena hamba berdua sudah mendengar bahwa Sang Empu Dewamurti adalah seorang pertapa yang bijaksana dan tidak mungkin berdusta."

Semua orang mengangguk-angguk mendengar usul yang memang tepat sekali itu. Juga Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk, lalu berkata kepada Nurseta.
"Nurseta, dapatkah engkau mengundang Eyang Empu Dewamurti sebagai saksi akan kebenaran keteranganmu tadi?"
"Ampun, gusti. Lebih setahun yang lalu, Eyang Empu Dewamurti didatangi Resi Bajrasakti dari Wengker, Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dan tiga orang Kalamuka dari Wura-Wuri yang mendengar tentang Sang Megatantra dan bermaksud merebutnya mengeroyok Eyang Empu sehingga eyang yang sudah sepuh itu terluka dan meninggal dunia."
Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang. Di mana-mana, orang dari kerajaan-kerajaan kecil itu memang selalu bertindak sesat dan jahat.
"Kalau begitu, lanjutkan ceritamu Nurseta."

<<<Bagian 69                                                                                          Bagian 71 >>>

No comments:

Post a Comment