Sang Prabu Erlangga menanggapinya dengan senyum.
"Itu
belum menjadi bukti, yayi. Baru kesaksian Kakang Pangeran Hendratama, berarti
kesaksian satu pihak saja. Karena itu, Paman Senopati Sindukerta dan cucunya
perlu ditangkap dan diperiksa di sini untuk didengar keterangan mereka.
Sudahlah, yayi, jangan mencampuri urusan ini karena sudah kuserahkan kepada
Kakang Narotama untuk menyelesaikannya. Kakang patih, sekarang siapkanlah
pasukan dan tangkaplah Paman Senopati Sindukerta dan cucunya."
Mandari hanya
cemberut dan diam saja. Wanita yang cerdik ini tahu kapan ia harus bersikap
diam. Kalau ia berkelanjutan membantah, tentu akan menimbulkan kecurigaan Sang
Prabu Erlangga dan terutama Ki Patih Narotama yang ia takuti itu.
"Hamba-akan
pergi seorang diri dan mengajak Paman Senopati Sindukerta dan cucunya menghadap
paduka, gusti”.
"Akan
tetapi itu berbahaya sekali!" Mandari berseru, seolah ia mengkhawatirkan
keselamatan Narotama. Tentu saja semua ini memang disengaja untuk mendatangkan
kesan bahwa ia adalah seorang yang setia kepada Sribaginda dan membela
patihnya.
"Ah,
yayi. Bahaya adalah keadaan yang sudah biasa dihadapi Kakang Narotama. Karena
purba-wisesa sudah kuserahkan kepadamu, kakang Narotama, maka terserah
bagaimana sekehendakmu saja."
"Terima
kasih, gusti. Hamba mohon doa restu."
"Berangkatlah,
kakang patih dan laksanakan dengan baik."
Narotama lalu
mengundurkan diri keluar dari istana. Dia tidak ingin membawa pasukan karena
hal itu tentu akan menarik perhatian orang dan menghebohkan. Dia masih tidak
percaya sedikitpun bahwa Senopati Sindukerta hendak melakukan pemberontakan.
Dia mengenal baik kepribadian senopati tua itu. Bahkan kalau diharuskan membuat
perbandingan antara Senopati Sindukerta dan Pangeran Hendratama, dia akan lebih
mempercayai senopati tua itu. Tidak ada alasan kuat untuk mendorong Senopati
Sindukerta untuk memberontak dan merebut singasana. Sebaliknya, amat kuat
alasannya bagi Pangeran Hendratama untuk merebut kedudukan raja. Dia adalah
putera mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa, walaupun terlahir dari seorang selir,
bahkan dia putera tertua, kakak dari Puteri Sekar Kedaton yang kini menjadi
permaisuri Sang Prabu Erlangga. Pangeran itu tentu merasa lebih berhak menjadi
raja daripada Senopati Sindukerta yang hanya orang biasa, bukan keturunan raja.
Kunjungan Ki Patih Narotama disambut dengan sikap hormat oleh Senopati
Sindukerta. Senopati tua ini amat kagum kepada dua orang yang kini menjadi
pucuk pimpinan Kerajaan Kahuripan, yaitu kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama. Dia merasa kagum dan hormat sekali karena tahu betul betapa
sakti mandraguna dan bijaksana kedua orang pemimpin besar ini. Karena itu,
kunjungan Ki Patih yang tidak terduga-duga itu segera disambutnya dengan penuh
penghormatan. Setelah saling memberi salam dan mempersilakan tamu agungnya
duduk dalam ruangan tamu, berhadapan dengannya, Senopati Sindukerta lalu
berkata dengan ramah.
"Selamat
datang, Gusti Patih Narotama. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi
kami bahwa paduka berkenan mengunjungi kami hari ini. Entah angin baik apakah
yang bertiup dan membawa paduka datang kesini?"
Ki Patih
Narotama merasa rikuh sekali mendengar ucapan yang demikian ramah dari Ki
Sindukerta. Diapun bersikap tenang dan sopan menghadapi senopati tua itu.
"Paman
Senopati, kedatangan saya ini mengemban tugas dari istana. Saya diutus Gusti
Sinuwun, Sang Prabu Erlangga untuk menemui paman. Pertama-tama saya ingin
bertanya kepada paman, apakah paman mempunyai seorang cucu bernama Nurseta yang
tinggal di sini bersama paman?"
Diam-Diam Ki
Sindukerta terkejut. Bagaimana Ki Patih atau Sang Prabu dapat mengetahui bahwa
cucunya Nurseta berada disitu? Padahal semalam Nurseta telah gagal merampas
Sang Megatantra dari tangan Pangeran Hendratama karena dia ketahuan dan
mendapatkan perlawanan, dikeroyok banyak pengawal? Seperti kilat memasuki
pikirannya bahwa tentu Pangeran Hendratama yang melaporkan ke istana tentang
penyerangan yang dilakukan Nurseta ke rumah pangeran itu.
"Benar,
Gusti Patih. Memang cucu saya Nurseta tinggal dirumah kami." jawabnya
jujur karena diapun merasa tidak perlu untuk menyembunyikan kenyataan ini,
mengingat bahwa Nurseta tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kuharap
paman suka memanggil dia ke sini karena ada yang hendak kutanyakan
padanya." kata pula Narotama dengan sikap yang masih sopan dan suaranya
lembut.
Senopati
Sindukerta masih bersikap tenang pula. Andaikata telah diketahui bahwa malam
tadi Nurseta mendatangi rumah dan membikin ribut di sana, itupun ada alasannya
yang kuat dan cucunya itu tidak bermaksud jahat atau buruk. Dia lalu membuka
pintu ruangan dan memanggil seorang pelayan dan disuruhnya pelayan itu
mengundang Nurseta ke ruangan itu.
Nurseta
mendapat keterangan dari pelayan bahwa dia dipanggil kakeknya yang sedang
bercakap-cakap dengan Ki Patih Narotama di ruangan tamu. Diam diam dia merasa
heran, lalu membereskan pakaiannya agar tampak sopan karena di sana ada seorang
tamu agung, yaitu Ki Patih Narotama yang nama besarnya sudah dia dengar, bahkan
dulu gurunya, Empu Dewamurti pernah menyatakan kekagumannya kepada Ki Patih
Narotama dan Sang Prabu Erlangga sebagai dua orang muda yang sakti mandraguna
dan sekarang menjadi patih dan raja di Kahuripan yang terkenal bijaksana.
Ketika dia memasuki ruangan tamu itu, Nurseta melihat seorang laki-laki masih
muda, sekitar dua puluh delapan tahun usianya, duduk di atas kursi berhadapan
dengan kakeknya yang bersikap sopan kepada tamunya itu. Laki-laki itu bertubuh
tinggi, berwajah tampan dan pakaiannya bersih dan bagus, akan tetapi tidak
terlalu mewah. Sepasang matanya mencorong penuh kewibawaan ketika memandang
kepadanya. Kalau orang ini Ki Patih Narotama, alangkah sederhananya bagi
seorang patih besar yang terkenal, pikir Nurseta kagum. Demi menjaga kesopanan,
diapun bersikap seolah olah belum mengenal tamu itu dan menghampiri kakeknya,
bertanya dengan halus.
"Eyang
memanggil saya, apakah gerangan yang dapat saya lakukan untuk eyang?"
"Nurseta
cucuku, kita mendapat kehormatan menerima kunjungan seorang tamu dan beliau ini
adalah Gusti Patih Narotama."
Nurseta lalu
bersembah simpuh di depan Ki Patih Narotama.
"Hampa
Nurseta menghaturkan hormat kepada paduka, Gusti Patih."
Sejak tadi
Narotama mengamati pemuda yang memasuki ruangan itu dengan sinar mata kagum.
Pemuda itu bertubuh sedang, kulitnya agak gelap, wajah dan sikapnya amat
sederhana seperti seorang pemuda petani biasa, juga pakaiannya bersih namun
sederhana. Akan tetapi sepasang mata itu mempunyai sinar yang amat tajam dan
dari sinar matanya saja Narotama dapat melihat bahwa pemuda itu memiliki
kekuatan batin yang hebat, juga mulutnya terhias senyum ramah dan penuh
pengertian. Baru melihat sepintas saja sudah timbul perasaan suka dalam hati
Narotama dan dia semakin ragu akan kebenaran cerita Pangeran Hendratama yang
didengarnya dari Sang Prabu Erlangga.
Melihat pemuda
itu memberi sembah sungkem, Ki Patih Narotama cepat berkata.
"Cukup,
duduklah di kursi, Nurseta. Aku datang sebagai tamu dan andika adalah tuan
rumah, tidak perlu menggunakan segala upacara yang membuat percakapan kita
tidak leluasa. Duduklah di kursi itu!"
Narotama
menunjuk kepada sebuah kursi kosong di dekat tempat duduk Ki Sindukerta.
"Duduklah,
Nurseta. Gusti Patih sudah memberi perkenan." kata pula kakeknya. Nurseta
lalu menyembah.
"Terima
kasih, gusti patih." Dia lalu bangkit dan duduk di atas kursi itu dengan
sikap menunggu. Di dalam hatinya dia merasa bahwa kedatangan Ki Patih Narotama
ini tentu membawa urusan penting dan kalau dia tidak keliru sangka, mungkin
sekali ada hubungannya dengan peristiwa tadi malam di rumah gedung Pangeran
Hendratama. Semenjak dia datang di kota raja, hanya peristiwa semalam itulah
kiranya yang dapat menimbulkan urusan.
"Nurseta,
aku mendengar bahwa andika adalah cucu Paman Senopati Sindukerta. Benarkah
itu?" tanya sang patih.
"Benar,
gusti patih. Eyang senopati adalah ayah dari ibu hamba"
"Cocok
sekali kalau begitu. Sekarang sebuah pertanyaan lagi dan aku minta agar andika
menjawab sejujurnya. Apakah keris pusaka Sang Megatantra ada padamu?"
Setelah mengeluarkan pertanyaan ini sepasang mata Narotama menatap tajam penuh
selidik sehingga Nurseta merasa seolah-olah sepasang mata itu menembus dan
menjenguk isi hatinya. Akan tetapi dengan tenang dia menjawab.
"Tidak,
gusti patih. Memang hamba pernah menemukan Sang Megatantra dan menaati perintah
mendiang eyang guru, hamba hendak menghaturkan pusaka itu kepada Gusti Sinuwun
yang berhak atas pusaka itu, akan tetapi dalam perjalanan hamba, Sang
Megatantra dicuri orang."
Ki Patih
Narotama mengerutkan alisnya.
"Hemm,
siapa yang mencuri Sang Megatantra?"
"Yang
mencurinya adalah Pangeran Hendratama, gusti."
Ki Patih
Narotama mengangguk-angguk, dalam hatinya merasa heran. Pangeran Hendratama
melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa dia menemukan Sang Megatantra akan
tetapi keris pusaka itu dicuri Nurseta. Sebaliknya Nurseta mengaku bahwa dialah
penemunya dan pusaka itu dicuri Pangeran Hendratama!
"Nurseta,
siapa gurumu?"
"Guru
hamba mendiang Eyang Empu Dewamurti."
"Eyang
Dewamurti? Mendiang? Jadi..... beliau telah wafat?" Ki Patih Narotama
bertanya. Dia mengenal sang empu sebagai seorang tokoh tua yang selain sakti
mandraguna, juga setia kepada Mataram dan berbudi luhur.
"Benar,
gusti. Eyang guru dikeroyok oleh para datuk dari Wengker, Wura-Wuri, dan
Kerajaan Siluman Laut Kidul. Para pengeroyok dapat dikalahkan dan melarikan
diri, akan tetapi eyang guru terluka parah dan meninggal dunia."
Kembali
Narotama mengangguk-angguk. Pemuda sederhana ini murid Sang Empu Dewamurti, menurut
perasaan hatinya pemuda ini lebih dapat dipercaya daripada Pangeran Hendratama!
Akan tetapi dia tidak berani mendahului keputusan Sang Prabu Erlangga, maka dia
lalu berkata kepada Senopati Sindukerta.
"Paman
senopati, seperti saya katakan tadi, kedatangan saya ini diutus Sang Prabu
Erlangga. Saya ditugaskan untuk membawa paman dan Nurseta menghadap sang prabu
sekarang juga."
Nurseta cepat
berkata,
"Maaf,
gusti patih! Kalau penangkapan ini ada hubungannya dengan penyerangan ke rumah
Pangeran Hendratama, maka hambalah yang bertanggung jawab sepenuhnya. Hamba
pelaku tunggalnya dan eyang senopati sama sekali tidak tersangkut. Tangkaplah
hamba, hamba tidak akan melawan. Akan tetapi kalau paduka hendak menangkap
eyang, maaf, terpaksa hamba mencegah paduka!"
Setelah
berkata demikian, Nurseta bangkit berdiri dan menentang pandang mata Ki Patih
Narotama dengan sepasang mata yang mencorong. Bibirnya tersenyum. Pemuda ini
benar-benar memiliki watak ksatrya, berani menentangnya untuk membela eyangnya
yang memang tidak berdosa. Sikap yang mengagumkan dan gagah perkasa sehingga
membuat dia ingin sekali mengukur sampai di mana kesaktian pemuda ini yang
menjadi murid Sang Empu Dewamurti.
"Nurseta,
sambutlah ini!" Ki Patih Narotama juga bangkit berdiri dan tiba tiba
tangan kanannya didorongkan ke arah pemuda itu. Dia mempergunakan pukulan jarah
jauh dengan Aji Hasta Dibya yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat.
Nurseta maklum
akan hebatnya serangan jarak jauh itu, maka diapun cepat mengerahkan tenaga
saktinya, menyalurkan ke arah kedua tangannya yang didorongkan ke depan untuk
menyambut serangan ki patih itu.
"Syuuuuttt
..... blaarrr ....."
Hebat bukan
main pertemuan dua tenaga sakti itu. Dahsyat dan menggetarkan seluruh ruangan.
Nurseta terdorong mundur satu depa. Narotama memandang kagum dan dia
mengangguk-angguk. Dia sendiri merasa dirinya terguncang keras ketika tenaga
saktinya bertemu dengan tenaga Nurseta. Walaupun pemuda itu terdorong mundur
satu depa, namun kedua kakinya tidak pernah terangkat dari lantai, hanya
tergeser ke belakang dan meninggalkan bekas pijakan kaki yang dalam dan panjang
pada lantai? Hal ini membuktikan betapa kokoh pasangan kuda-kuda Nurseta, dan
dalam hal tenaga sakti, pemuda itu hanya kalah setingkat dibandingkan
tenaganya.
No comments:
Post a Comment