Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 69


Sang Prabu Erlangga menanggapinya dengan senyum.
"Itu belum menjadi bukti, yayi. Baru kesaksian Kakang Pangeran Hendratama, berarti kesaksian satu pihak saja. Karena itu, Paman Senopati Sindukerta dan cucunya perlu ditangkap dan diperiksa di sini untuk didengar keterangan mereka. Sudahlah, yayi, jangan mencampuri urusan ini karena sudah kuserahkan kepada Kakang Narotama untuk menyelesaikannya. Kakang patih, sekarang siapkanlah pasukan dan tangkaplah Paman Senopati Sindukerta dan cucunya."
Mandari hanya cemberut dan diam saja. Wanita yang cerdik ini tahu kapan ia harus bersikap diam. Kalau ia berkelanjutan membantah, tentu akan menimbulkan kecurigaan Sang Prabu Erlangga dan terutama Ki Patih Narotama yang ia takuti itu.
"Hamba-akan pergi seorang diri dan mengajak Paman Senopati Sindukerta dan cucunya menghadap paduka, gusti”.
"Akan tetapi itu berbahaya sekali!" Mandari berseru, seolah ia mengkhawatirkan keselamatan Narotama. Tentu saja semua ini memang disengaja untuk mendatangkan kesan bahwa ia adalah seorang yang setia kepada Sribaginda dan membela patihnya.
"Ah, yayi. Bahaya adalah keadaan yang sudah biasa dihadapi Kakang Narotama. Karena purba-wisesa sudah kuserahkan kepadamu, kakang Narotama, maka terserah bagaimana sekehendakmu saja."
"Terima kasih, gusti. Hamba mohon doa restu."
"Berangkatlah, kakang patih dan laksanakan dengan baik."

Narotama lalu mengundurkan diri keluar dari istana. Dia tidak ingin membawa pasukan karena hal itu tentu akan menarik perhatian orang dan menghebohkan. Dia masih tidak percaya sedikitpun bahwa Senopati Sindukerta hendak melakukan pemberontakan. Dia mengenal baik kepribadian senopati tua itu. Bahkan kalau diharuskan membuat perbandingan antara Senopati Sindukerta dan Pangeran Hendratama, dia akan lebih mempercayai senopati tua itu. Tidak ada alasan kuat untuk mendorong Senopati Sindukerta untuk memberontak dan merebut singasana. Sebaliknya, amat kuat alasannya bagi Pangeran Hendratama untuk merebut kedudukan raja. Dia adalah putera mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa, walaupun terlahir dari seorang selir, bahkan dia putera tertua, kakak dari Puteri Sekar Kedaton yang kini menjadi permaisuri Sang Prabu Erlangga. Pangeran itu tentu merasa lebih berhak menjadi raja daripada Senopati Sindukerta yang hanya orang biasa, bukan keturunan raja. Kunjungan Ki Patih Narotama disambut dengan sikap hormat oleh Senopati Sindukerta. Senopati tua ini amat kagum kepada dua orang yang kini menjadi pucuk pimpinan Kerajaan Kahuripan, yaitu kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Dia merasa kagum dan hormat sekali karena tahu betul betapa sakti mandraguna dan bijaksana kedua orang pemimpin besar ini. Karena itu, kunjungan Ki Patih yang tidak terduga-duga itu segera disambutnya dengan penuh penghormatan. Setelah saling memberi salam dan mempersilakan tamu agungnya duduk dalam ruangan tamu, berhadapan dengannya, Senopati Sindukerta lalu berkata dengan ramah.
"Selamat datang, Gusti Patih Narotama. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi kami bahwa paduka berkenan mengunjungi kami hari ini. Entah angin baik apakah yang bertiup dan membawa paduka datang kesini?"
Ki Patih Narotama merasa rikuh sekali mendengar ucapan yang demikian ramah dari Ki Sindukerta. Diapun bersikap tenang dan sopan menghadapi senopati tua itu.
"Paman Senopati, kedatangan saya ini mengemban tugas dari istana. Saya diutus Gusti Sinuwun, Sang Prabu Erlangga untuk menemui paman. Pertama-tama saya ingin bertanya kepada paman, apakah paman mempunyai seorang cucu bernama Nurseta yang tinggal di sini bersama paman?"
Diam-Diam Ki Sindukerta terkejut. Bagaimana Ki Patih atau Sang Prabu dapat mengetahui bahwa cucunya Nurseta berada disitu? Padahal semalam Nurseta telah gagal merampas Sang Megatantra dari tangan Pangeran Hendratama karena dia ketahuan dan mendapatkan perlawanan, dikeroyok banyak pengawal? Seperti kilat memasuki pikirannya bahwa tentu Pangeran Hendratama yang melaporkan ke istana tentang penyerangan yang dilakukan Nurseta ke rumah pangeran itu.
"Benar, Gusti Patih. Memang cucu saya Nurseta tinggal dirumah kami." jawabnya jujur karena diapun merasa tidak perlu untuk menyembunyikan kenyataan ini, mengingat bahwa Nurseta tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kuharap paman suka memanggil dia ke sini karena ada yang hendak kutanyakan padanya." kata pula Narotama dengan sikap yang masih sopan dan suaranya lembut.
Senopati Sindukerta masih bersikap tenang pula. Andaikata telah diketahui bahwa malam tadi Nurseta mendatangi rumah dan membikin ribut di sana, itupun ada alasannya yang kuat dan cucunya itu tidak bermaksud jahat atau buruk. Dia lalu membuka pintu ruangan dan memanggil seorang pelayan dan disuruhnya pelayan itu mengundang Nurseta ke ruangan itu.

Nurseta mendapat keterangan dari pelayan bahwa dia dipanggil kakeknya yang sedang bercakap-cakap dengan Ki Patih Narotama di ruangan tamu. Diam diam dia merasa heran, lalu membereskan pakaiannya agar tampak sopan karena di sana ada seorang tamu agung, yaitu Ki Patih Narotama yang nama besarnya sudah dia dengar, bahkan dulu gurunya, Empu Dewamurti pernah menyatakan kekagumannya kepada Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga sebagai dua orang muda yang sakti mandraguna dan sekarang menjadi patih dan raja di Kahuripan yang terkenal bijaksana. Ketika dia memasuki ruangan tamu itu, Nurseta melihat seorang laki-laki masih muda, sekitar dua puluh delapan tahun usianya, duduk di atas kursi berhadapan dengan kakeknya yang bersikap sopan kepada tamunya itu. Laki-laki itu bertubuh tinggi, berwajah tampan dan pakaiannya bersih dan bagus, akan tetapi tidak terlalu mewah. Sepasang matanya mencorong penuh kewibawaan ketika memandang kepadanya. Kalau orang ini Ki Patih Narotama, alangkah sederhananya bagi seorang patih besar yang terkenal, pikir Nurseta kagum. Demi menjaga kesopanan, diapun bersikap seolah olah belum mengenal tamu itu dan menghampiri kakeknya, bertanya dengan halus.
"Eyang memanggil saya, apakah gerangan yang dapat saya lakukan untuk eyang?"
"Nurseta cucuku, kita mendapat kehormatan menerima kunjungan seorang tamu dan beliau ini adalah Gusti Patih Narotama."
Nurseta lalu bersembah simpuh di depan Ki Patih Narotama.
"Hampa Nurseta menghaturkan hormat kepada paduka, Gusti Patih."
Sejak tadi Narotama mengamati pemuda yang memasuki ruangan itu dengan sinar mata kagum. Pemuda itu bertubuh sedang, kulitnya agak gelap, wajah dan sikapnya amat sederhana seperti seorang pemuda petani biasa, juga pakaiannya bersih namun sederhana. Akan tetapi sepasang mata itu mempunyai sinar yang amat tajam dan dari sinar matanya saja Narotama dapat melihat bahwa pemuda itu memiliki kekuatan batin yang hebat, juga mulutnya terhias senyum ramah dan penuh pengertian. Baru melihat sepintas saja sudah timbul perasaan suka dalam hati Narotama dan dia semakin ragu akan kebenaran cerita Pangeran Hendratama yang didengarnya dari Sang Prabu Erlangga.
Melihat pemuda itu memberi sembah sungkem, Ki Patih Narotama cepat berkata.
"Cukup, duduklah di kursi, Nurseta. Aku datang sebagai tamu dan andika adalah tuan rumah, tidak perlu menggunakan segala upacara yang membuat percakapan kita tidak leluasa. Duduklah di kursi itu!"
Narotama menunjuk kepada sebuah kursi kosong di dekat tempat duduk Ki Sindukerta.
"Duduklah, Nurseta. Gusti Patih sudah memberi perkenan." kata pula kakeknya. Nurseta lalu menyembah.
"Terima kasih, gusti patih." Dia lalu bangkit dan duduk di atas kursi itu dengan sikap menunggu. Di dalam hatinya dia merasa bahwa kedatangan Ki Patih Narotama ini tentu membawa urusan penting dan kalau dia tidak keliru sangka, mungkin sekali ada hubungannya dengan peristiwa tadi malam di rumah gedung Pangeran Hendratama. Semenjak dia datang di kota raja, hanya peristiwa semalam itulah kiranya yang dapat menimbulkan urusan.
"Nurseta, aku mendengar bahwa andika adalah cucu Paman Senopati Sindukerta. Benarkah itu?" tanya sang patih.
"Benar, gusti patih. Eyang senopati adalah ayah dari ibu hamba"
"Cocok sekali kalau begitu. Sekarang sebuah pertanyaan lagi dan aku minta agar andika menjawab sejujurnya. Apakah keris pusaka Sang Megatantra ada padamu?" Setelah mengeluarkan pertanyaan ini sepasang mata Narotama menatap tajam penuh selidik sehingga Nurseta merasa seolah-olah sepasang mata itu menembus dan menjenguk isi hatinya. Akan tetapi dengan tenang dia menjawab.
"Tidak, gusti patih. Memang hamba pernah menemukan Sang Megatantra dan menaati perintah mendiang eyang guru, hamba hendak menghaturkan pusaka itu kepada Gusti Sinuwun yang berhak atas pusaka itu, akan tetapi dalam perjalanan hamba, Sang Megatantra dicuri orang."
Ki Patih Narotama mengerutkan alisnya.
"Hemm, siapa yang mencuri Sang Megatantra?"
"Yang mencurinya adalah Pangeran Hendratama, gusti."
Ki Patih Narotama mengangguk-angguk, dalam hatinya merasa heran. Pangeran Hendratama melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa dia menemukan Sang Megatantra akan tetapi keris pusaka itu dicuri Nurseta. Sebaliknya Nurseta mengaku bahwa dialah penemunya dan pusaka itu dicuri Pangeran Hendratama!
"Nurseta, siapa gurumu?"
"Guru hamba mendiang Eyang Empu Dewamurti."
"Eyang Dewamurti? Mendiang? Jadi..... beliau telah wafat?" Ki Patih Narotama bertanya. Dia mengenal sang empu sebagai seorang tokoh tua yang selain sakti mandraguna, juga setia kepada Mataram dan berbudi luhur.
"Benar, gusti. Eyang guru dikeroyok oleh para datuk dari Wengker, Wura-Wuri, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul. Para pengeroyok dapat dikalahkan dan melarikan diri, akan tetapi eyang guru terluka parah dan meninggal dunia."

Kembali Narotama mengangguk-angguk. Pemuda sederhana ini murid Sang Empu Dewamurti, menurut perasaan hatinya pemuda ini lebih dapat dipercaya daripada Pangeran Hendratama! Akan tetapi dia tidak berani mendahului keputusan Sang Prabu Erlangga, maka dia lalu berkata kepada Senopati Sindukerta.
"Paman senopati, seperti saya katakan tadi, kedatangan saya ini diutus Sang Prabu Erlangga. Saya ditugaskan untuk membawa paman dan Nurseta menghadap sang prabu sekarang juga."
Nurseta cepat berkata,
"Maaf, gusti patih! Kalau penangkapan ini ada hubungannya dengan penyerangan ke rumah Pangeran Hendratama, maka hambalah yang bertanggung jawab sepenuhnya. Hamba pelaku tunggalnya dan eyang senopati sama sekali tidak tersangkut. Tangkaplah hamba, hamba tidak akan melawan. Akan tetapi kalau paduka hendak menangkap eyang, maaf, terpaksa hamba mencegah paduka!"
Setelah berkata demikian, Nurseta bangkit berdiri dan menentang pandang mata Ki Patih Narotama dengan sepasang mata yang mencorong. Bibirnya tersenyum. Pemuda ini benar-benar memiliki watak ksatrya, berani menentangnya untuk membela eyangnya yang memang tidak berdosa. Sikap yang mengagumkan dan gagah perkasa sehingga membuat dia ingin sekali mengukur sampai di mana kesaktian pemuda ini yang menjadi murid Sang Empu Dewamurti.
"Nurseta, sambutlah ini!" Ki Patih Narotama juga bangkit berdiri dan tiba tiba tangan kanannya didorongkan ke arah pemuda itu. Dia mempergunakan pukulan jarah jauh dengan Aji Hasta Dibya yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat.
Nurseta maklum akan hebatnya serangan jarak jauh itu, maka diapun cepat mengerahkan tenaga saktinya, menyalurkan ke arah kedua tangannya yang didorongkan ke depan untuk menyambut serangan ki patih itu.
"Syuuuuttt ..... blaarrr ....."
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti itu. Dahsyat dan menggetarkan seluruh ruangan. Nurseta terdorong mundur satu depa. Narotama memandang kagum dan dia mengangguk-angguk. Dia sendiri merasa dirinya terguncang keras ketika tenaga saktinya bertemu dengan tenaga Nurseta. Walaupun pemuda itu terdorong mundur satu depa, namun kedua kakinya tidak pernah terangkat dari lantai, hanya tergeser ke belakang dan meninggalkan bekas pijakan kaki yang dalam dan panjang pada lantai? Hal ini membuktikan betapa kokoh pasangan kuda-kuda Nurseta, dan dalam hal tenaga sakti, pemuda itu hanya kalah setingkat dibandingkan tenaganya.

<<<Bagian 68                                                                                         Bagian 70 >>>

No comments:

Post a Comment