"Hal itu sudah saya selidiki, Yayi Prabu. Setelah saya mengetahui kemana larinya pencuri itu yang diam-diam diikuti oleh para pembantu saya, dan tahu apa yang berdiri di belakangnya, maka tidak aneh kalau dia hendak membunuh saya. Ada yang hendak mempergunakan Sang Megatantra untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja karena dikabarkan bahwa pusaka itu merupakan tanda turunnya wahyu kedaton (istana) sehingga berhak menjadi raja. Berarti, pemilik Sang Megatantra itu, si pencuri dan orang yang berada dibelakangnya, jelas merencanakan pemberontakan terhadap paduka, Yayi Prabu. Karena saya satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya, maka dia berusaha untuk membunuh saya."
Sang Prabu
Erlangga mengerutkan alisnya.
"Kakang
Pangeran, katakan, siapa pencuri itu dan siapa pula yang berdiri di
belakangnya, yang merencanakan pemberontakan?"
"Pencuri
muda yang sakti mandraguna itu bernama Nurseta, Yayi Prabu, dan paduka tidak
akan merasa heran karena pemuda itu adalah cucu dari Senopati Sindukerta!
Senopati Sindukerta itu memang sejak mendiang Rama Prabu Teguh Dharmawangsa
memimpin kerajaan ini sudah memperlihatkan wataknya yang memberontak. Yayi
Prabu tentu sudah mendengar betapa dahulu dia menghina saya dan mendiang
Ramanda Prabu dengan menyembunyikan puterinya yang sudah kami pinang dan sudah
diterima. Nah, maling muda Nurseta itu adalah anak dan puterinya yang
disembunyikan dan diam-diam melarikan diri dengan seorang laki-laki
sesat."
Sang Prabu
Erlangga mengerutkan alisnya dengan hati panas. Berani benar senopati tua itu
merencanakan pemberontakan, pikirnya. Dia lalu bertepuk tangan memberi isyarat
dan dua orang perajurit pengawal yang berjaga di luar pintu ruangan segera
berlari masuk dan berlutut menyembah.
"Cepat
undang Kakang Patih Narotama ke sini, sekarang juga!" perintahnya.
Dua orang
perajurit pengawal itu memberi hormat dan mereka berlari keluar. Melihat
kemarahan Sang Prabu Erlangga, Pangeran Hendratama diam diam merasa girang.
Muslihatnya berhasil. Mampuslah kau, Nurseta, begitu suara hatinya. Dia lalu
berkata kepada Sang Prabu Erlangga.
"Saya
merasa girang dan aman dari ancaman Nurseta dan Senopati Sindukerta setelah
paduka hendak mengambil tindakan tegas. Sekarang perkenankan saya pulang untuk
beristirahat karena semalam suntuk saya tidak dapat tidur, gelisah memikirkan
ancaman terhadap nyawa saya."
"Baik,
Kakang Pangeran. Terima kasih atas semua laporanmu, akan tetapi kalau pencuri
dan kakeknya itu sudah kami tangkap, harap Kakang Pangeran bersedia untuk
menjadi saksi bahwa dia mencuri sang Megatantra dan berusaha membunuh
andika."
"Tentu
saja, Yayi Prabu. Bahkan saksi-saksi mata yang paling mengetahui karena melihat
sendiri maling itu, yaitu tiga orang selir saya yang juga bertugas bagai
pengawal-pengawal pribadi, akan saya hadirkan sebagai saksi pula."
"Baik,
terima kasih, Kakang Pangeran Hendratama."
"Mohon
pamit, Yayi Prabu."
Pangeran
Hendratama lalu keluar dari istana dan dengan pengawalan kuat dia kembali naik
kereta pulang ke gedungnya. Di dalam kereta, dia menggosok gosok kedua telapak
tangannya dan tersenyum-senyum gembira. Orang yang dia takuti sebentar lagi
akan dihukum! Kini tinggal memikirkan siasat pemberontakan yang akan dia lakukan
dengan bantuan para sekutunya dari Kerajaan Wengker, Wura-Wuri, Siluman Laut
Kidul, dan Parang Siluman, dibantu pula oleh para pembesar sipil dan militer
yang sudah jatuh di bawah pengaruhnya.
Ki Patih
Narotama menerima panggilan Sang Prabu Erlangga yang disampaikan oleh perajurit
pengawal. Kalau Sang Prabu memanggilnya di luar waktu persidangan, itu berarti
ada terjadi hal-hal yang luar biasa dan penting, maka diapun bergegas
menunggang kuda menuju ke istana. Seperti biasa, Ki Patih Narotama memasuki istana
dengan leluasa. Semua perajurit pengawal mengenalnya dan tahu belaka bahwa Ki
Patih Narotama dapat tiap saat memasuki istana menghadap Sang Prabu Erlangga,
tidak usah dilaporkan lebih dulu seperti para pembesar lain kalau mohon
menghadap sang prabu. Ki Patih Narotama membiarkan kudanya diurus oleh seorang
perajurit dan dia hanya bertanya kepada perajurit pengawal dalam istana di mana
adanya Sang Prabu Erlangga. Setelah mendapat keterangan bahwa sang prabu
menantinya di ruangan persidangan, Ki Patih bergegas menuju ke ruangan itu lalu
memasuki pintu ruangan yang dibukakan oleh dua orang prajurit pengawal.
Ketika dia
memasuki ruangan persidangan, dia melihat Sang Prabu Erlangga telah duduk di
atas singasana. Di sebelah kiri sang prabu duduk selir cantik jelita Mandari.
Hanya puteri inilah yang menemani Sang Prabu Erlangga, tidak ada orang lain,
bahkan para pengawal juga hanya menjaga di luar ruangan. Ini merupakan pertanda
bahwa, sang prabu hendak membicarakan urusan yang dirahasiakan sehingga tidak
boleh terdengar orang lain. Akan tetapi mengapa Mandari, puteri Ratu Durgamala
Kerajaan Parang Siluman itu berada di situ, berdua saja dengan sang prabu,
tanpa dihadiri dua orang permaisuri yang kedudukannya lebih tinggi? Ki Patih
Narotama menduga bahwa urusan ini tentu ada sangkut-pautnya dengan Puteri
Mandari. Lasmini dan Mandari memang selalu membuat ulah setelah menjadi
selirnya dan selir sang prabu. Akan tetapi wajah cantik itu sama sekali tidak
kelihatan tegang atau khawatir, bahkan senyumnya yang manis menunjukkan bahwa
hatinya bergembira! Ki Patih Narotama memberi hormat dengan sembah dan hendak
duduk bersila di atas lantai. Akan tetapi Sang Prabu Erlangga mencegahnya.
"Duduklah
di kursi yang telah disediakan untukmu, Kakang Patih Narotama."
Narotama
menurut. Memang biasanya kalau menghadap sang prabu secara pribadi, bukan dalam
paseban, dia dipersilakan duduk di kursi. Akan tetapi saat itu, selir Mandari
hadir di situ, maka tadinya dia hendak duduk bersila untuk menghormati sang
prabu. Setelah melirik ke arah Mandari, dia menyembah lagi, lalu duduk.
"Terima
kasih, gusti. Paduka memanggil hamba, perintah apakah yang harus hamba
lakukan?"
"Ada
urusan yang gawat sekali, kakang patih. Karena urusan ini amat penting, maka
kami sengaja mengundangmu karena hanya andika saja yang akan dapat
menyelesaikannya dengan baik. Yayi Mandari kami hadirkan karena mengingat akan
kemampuannya, ia dapat membantu pelaksanaan tugas ini, kakang."
Diam-diam Ki
Patih Narotama merasa heran. Mengapa mendadak selir ini diajukan oleh sang
prabu untuk membantunya? Tugas apakah gerangan yang harus dilaksanakan dengan
bantuan Puteri Mandari? Ataukah, urusan ini mengenai diri puteri dari Kerajaan
Parang Siluman itu?
"Hamba
siap melaksanakan semua perintah paduka, Sinuwun."
Sang Prabu
Erlangga memang sengaja membawa Mandari ke dalam persoalan ini karena dia
hendak menguji sampai di mana kesetiaan selir tersayangnya yang terkadang
menimbulkan rasa curiga dalam hatinya itu. Bagaimana selir itu akan menanggapi
kalau terjadi pemberontakan terhadap kerajaannya? Maka, dia sengaja
menghadirkan Puteri Mandari ketika dia memanggil patihnya.
"Kakang
Patih Narotama, kerajaan kita sedang terancam pemberontakan!"
Baik Ki Patih
Narotama maupun Mandari terkejut bukan main. Ki Patih Narotama tentu saja
terkejut mendengar ada pemberontakan, sebaliknya Mandari terkejut juga, namun
ia terkejut karena sesungguhnya ia dan sekutunya yang memusuhi kerajaan
Kahuripan dan tentu saja merencanakan pemberontakan.
"Siapakah
yang berani memberontak kepada paduka, gusti? Beritahukan kepada hamba. Hamba
yang akan memberantasnya!" kata Narotama penuh semangat.
Puteri Mandari
diam saja, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang.
"Aku
mendengar hal itu dari Kakang Pangeran Hendratama. Pemberontakan itu memang
belum terjadi, akan tetapi kami dapat menduganya dengan munculnya pusaka
Mataram yang hilang puluhan tahun lalu, yaitu Sang Megatantra."
Kini Ki Patih
Narotama yang meragu walaupun dia terkejut mendengar bahwa sang Megatantra yang
dinyatakan hilang puluhan tahun itu, kini muncul. Dia meraba gagang kerisnya
sendiri yang terselip di pinggangnya. Keris pusakanya itu adalah keris pusaka
Sang Megantoro, yang merupakan pasangan keris pusaka Sang Megatantra. Dia
mendapatkan keris itu dari Sang Resi Satyadharma di Nusa Bali. Gurunya itu
mengatakan bahwa keris Sang Megantoro adalah pasangan keris Sang Megatantra. Kalau
Sang Megatantra mengandung wahyu bagi seorang raja, keris Megantoro mengandung
wahyu bagi seorang pamongnya yang paling dekat dengan raja, yaitu patihnya.
Kalau rajanya memegang Sang Megatantra dan patihnya memegang Sang Megantoro,
maka kerajaan akan menjadi kuat sekali. Sayang, keris pusaka Sang Megatantra
lenyap puluhan tahun yang lalu hingga Sang Prabu Erlangga tidak memilikinya.
Akan tetapi kini keris itu muncul! Inilah yang mengejutkan dan juga
menggirangkan hati Narotama. Akan tetapi mendengar bahwa pembawa kabar tentang
pemberontakan itu Pangeran Hendratama hatinya menjadi ragu dan bimbang. Dia
merasa tidak senang dan tidak percaya kepada pangeran ini, bahkan dia mulai
curiga mendengar betapa pangeran yang baru pindah ke kota raja itu seringkali kasak-kusuk
dengan para pembesar dan mengobral banyak hadiah kepada mereka. Sebaliknya,
ketika mendengar bahwa pembawa berita itu adalah Pangeran Hendratama, hati
Mandari menjadi girang sekali. Pangeran itu adalah sekutunya, Maka, ia cepat
berkata penuh semangat,
"Kakanda
Prabu, siapakah keparat yang hendak memberontak itu? Dia harus
dihancurkan!"
Sang Prabu
Erlangga tersenyum mendengar ucapan selirnya ini.
"Kalian
dengarlah dulu apa yang diceritakan Kakang Pangeran Hendratama kepadaku tadi.
Beberapa bulan yang lalu dia membeli sebuah keris dari seorang pengemis tua.
Setelah keris itu dibersihkan, dia mengenalnya sebagai Sang Megatantra.
Pengemis itu mengatakan bahwa dia menemukan keris pusaka itu di dekat pantai
Laut Kidul. Akan tetapi agaknya pengemis itu menceritakan tentang keris itu
kepada seorang penjahat muda yang sakti mandraguna. Penjahat itu mencuri Sang
Megatantra dari Kakang Pangeran Hendratama dan menggantinya dengan sebuah keris
palsu. Kakang pangeran lalu berusaha untuk mencari dan merampasnya kembali,
namun usahanya sia-sia. Maksudnya untuk mendapatkan kembali pusaka itu dan
menghaturkannya kepadaku. Nah, malam tadi, rumahnya didatangi pencuri keris itu
dan dia nyaris dibunuh penjahat itu. Agaknya penjahat itu ingin merahasiakan
penemuannya dan karena yang mengetahui tentang Sang Megatantra hanya kakang
pangeran, maka penjahat itu hendak membunuhnya. Dari kenyataan ini dapat diduga
bahwa pencuri itu hendak mempergunakan Sang Megatantra untuk mengangkat diri
sendiri sebagai raja. Setelah para pembantu Kakang Pangeran Hendratama
membayangi ke mana larinya pencuri yang malam tadi hendak membunuhnya itu, maka
jelaslah bahwa memang ada usaha pemberontakan di kerajaan ini."
"Hemm, si
keparat!" Mandari berseru marah.
"Kalau
begitu, mohon penjelasan, Kakanda, siapakah pencuri itu? Biar hamba binasakan
dia!"
Sang Prabu
Erlangga tersenyum. Hatinya merasa lega karena selirnya ini ternyata
bersemangat membela kerajaan Kahuripan!
"Hamba
menanti penjelasan paduka, gusti." kata Narotama yang juga ingin sekali
mengetahui siapa gerangan mereka yang hendak mengadakan pemberontakan itu.
"Setelah
dibayangi orang-orangnya Kakang Pangeran Hendratama, ternyata bahwa pencuri itu
melarikan diri kerumah Paman Senopati Sindukerta dan pencuri Sang Megatantra
yang sakti mandraguna itu adalah cucunya yang bernama Nurseta."
"Paman
Senopati Sindukerta? Bukankah dia itu kabarnya dahulu menjadi calon mertua
Pangeran Hendratama?" Tanya Narotama.
"Benar,
Kakang Narotama. Paman Senopati Sindukerta memang pernah kesalahan terhadap
mendiang Romo Prabu Teguh Dharmawangsa dan Kakang Pangeran Hendratama karena
menyembunyikan puterinya yang akan dijodohkan dengan Kakang Pangeran Hendratama
sehingga dia dicopot dari kedudukannya sebagai senopati. Akan tetapi karena dia
banyak membantuku mengusir musuh-musuh dari Kahuripan seperti andika sendiri
mengetahui, maka aku mengangkatnya kembali menjadi senopati. Sungguh tidak
kusangka dia mempunyai niat untuk memberontak. Hal ini mungkin karena cucunya
itu telah mendapatkan Sang Megatantra."
Mandari bangkit
dari tempat duduknya dan berkata lantang.
"Si
keparat tak mengenal budi itu! Kakanda Prabu, biarlah hamba berangkat sekarang
juga untuk membasmi keluarga Sindukerta! Hamba akan membawa pasukan pengawal
untuk menghancurkan para pemberontak itu!"
"Tenanglah
dan duduklah dulu, yayi. Kita rundingkan dulu bagaimana sebaiknya dan tindakan
apa yang harus diambil." kata Sang Prabu Erlangga.
Mandari duduk
kembali dan kedua pipinya masih kemerahan karena marah, bibirnya yang mungil
itu cemberut.
"Hamba menanti
perintah, apa yang harus hamba lakukan terhadap Paman Senopati Sindukerta dan
cucunya itu gusti." kata Narotama dengan tenang. Bagaimanapun juga, cerita
itu berasal dari Pangeran Hendratama yang tentu saja mendendam kepada Senopati
Sindukerta karena niatnya memperisteri puteri senopati itu tidak tercapai dan
dia memang meragukan kepribadian pangeran yang pernah ngambek bertahun-tahun
meninggalkan kota raja karena Erlangga yang diangkat atau dipilih oleh para
bangsawan untuk menjadi raja.
"Sekarang
pimpinlah pasukan pilihanmu dan pergilah ketempat tinggal Paman Senopati
Sindukerta. Andika telah mengetahui persoalannya dan aku memberi purbawisesa
(kekuasaan penuh) kepadamu untuk bertindak bagaimana baiknya terhadap
mereka."
"Bunuh
saja mereka! Basmi pemberontak itu sampai keakar-akarnya. Binasakan seluruh
keluarganya!" kata Mandari sambil mengepal tangannya.
"Hamba
akan menangkap Paman Senopati Sindukerta dan cucunya yang bernama Nurseta itu
dan membawa mereka menghadap paduka, gusti." kata Narotama dengan tenang.
"Hamba
akan menyertai Ki Patih Narotama dan pasukannya!" seru Mandari.
“Kalau pencuri
pusaka itu sakti mandraguna, hamba yang akan menandinginya!"
Sang Prabu
Erlangga tersenyum.
“Tidak, Yayi
Mandari. Justeru karena kekerasanmu itu, aku tidak mengijinkan engkau ikut
pergi. Kakang Patih Narotama benar. Paman Senopati Sindukerta dan cucunya itu
harus ditangkap dan akan kami periksa di sini."
"Akan
tetapi, Kakanda Prabu, mereka itu sudah jelas hendak memberontak! Mereka itu
pantas dibinasakan, tunggu apalagi?" kata Mandari.
"Bukan
begitu sikap seorang penguasa yang bijaksana, yayi. Tidak benar menjatuhkan
keputusan kepada seorang terdakwa tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk
membela diri. Kalau sudah terbukti kesalahannya, barulah dijatuhi hukuman,
itupun harus sesuai dengan peraturan, bukan hantam-kromo dibunuh dan dibasmi
begitu saja."
"Akan
tetapi buktinya sudah jelas kakanda! Buktinya Nurseta itu telah mencuri Sang
Megatantra dan semalam berniat membunuh Pangeran Hendratama untuk menutupi
rahasianya. Melihat kenyataan bahwa dia cucu Senopati Sindukerta, sudah jelas
bahwa senopati itu yang menjadi dalangnya dan merencanakan pemberontakan
terhadap paduka!"
No comments:
Post a Comment