Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 68


"Hal itu sudah saya selidiki, Yayi Prabu. Setelah saya mengetahui kemana larinya pencuri itu yang diam-diam diikuti oleh para pembantu saya, dan tahu apa yang berdiri di belakangnya, maka tidak aneh kalau dia hendak membunuh saya. Ada yang hendak mempergunakan Sang Megatantra untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja karena dikabarkan bahwa pusaka itu merupakan tanda turunnya wahyu kedaton (istana) sehingga berhak menjadi raja. Berarti, pemilik Sang Megatantra itu, si pencuri dan orang yang berada dibelakangnya, jelas merencanakan pemberontakan terhadap paduka, Yayi Prabu. Karena saya satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya, maka dia berusaha untuk membunuh saya."
Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya.
"Kakang Pangeran, katakan, siapa pencuri itu dan siapa pula yang berdiri di belakangnya, yang merencanakan pemberontakan?"
"Pencuri muda yang sakti mandraguna itu bernama Nurseta, Yayi Prabu, dan paduka tidak akan merasa heran karena pemuda itu adalah cucu dari Senopati Sindukerta! Senopati Sindukerta itu memang sejak mendiang Rama Prabu Teguh Dharmawangsa memimpin kerajaan ini sudah memperlihatkan wataknya yang memberontak. Yayi Prabu tentu sudah mendengar betapa dahulu dia menghina saya dan mendiang Ramanda Prabu dengan menyembunyikan puterinya yang sudah kami pinang dan sudah diterima. Nah, maling muda Nurseta itu adalah anak dan puterinya yang disembunyikan dan diam-diam melarikan diri dengan seorang laki-laki sesat."

Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya dengan hati panas. Berani benar senopati tua itu merencanakan pemberontakan, pikirnya. Dia lalu bertepuk tangan memberi isyarat dan dua orang perajurit pengawal yang berjaga di luar pintu ruangan segera berlari masuk dan berlutut menyembah.
"Cepat undang Kakang Patih Narotama ke sini, sekarang juga!" perintahnya.
Dua orang perajurit pengawal itu memberi hormat dan mereka berlari keluar. Melihat kemarahan Sang Prabu Erlangga, Pangeran Hendratama diam diam merasa girang. Muslihatnya berhasil. Mampuslah kau, Nurseta, begitu suara hatinya. Dia lalu berkata kepada Sang Prabu Erlangga.
"Saya merasa girang dan aman dari ancaman Nurseta dan Senopati Sindukerta setelah paduka hendak mengambil tindakan tegas. Sekarang perkenankan saya pulang untuk beristirahat karena semalam suntuk saya tidak dapat tidur, gelisah memikirkan ancaman terhadap nyawa saya."
"Baik, Kakang Pangeran. Terima kasih atas semua laporanmu, akan tetapi kalau pencuri dan kakeknya itu sudah kami tangkap, harap Kakang Pangeran bersedia untuk menjadi saksi bahwa dia mencuri sang Megatantra dan berusaha membunuh andika."
"Tentu saja, Yayi Prabu. Bahkan saksi-saksi mata yang paling mengetahui karena melihat sendiri maling itu, yaitu tiga orang selir saya yang juga bertugas bagai pengawal-pengawal pribadi, akan saya hadirkan sebagai saksi pula."
"Baik, terima kasih, Kakang Pangeran Hendratama."
"Mohon pamit, Yayi Prabu."
Pangeran Hendratama lalu keluar dari istana dan dengan pengawalan kuat dia kembali naik kereta pulang ke gedungnya. Di dalam kereta, dia menggosok gosok kedua telapak tangannya dan tersenyum-senyum gembira. Orang yang dia takuti sebentar lagi akan dihukum! Kini tinggal memikirkan siasat pemberontakan yang akan dia lakukan dengan bantuan para sekutunya dari Kerajaan Wengker, Wura-Wuri, Siluman Laut Kidul, dan Parang Siluman, dibantu pula oleh para pembesar sipil dan militer yang sudah jatuh di bawah pengaruhnya.

Ki Patih Narotama menerima panggilan Sang Prabu Erlangga yang disampaikan oleh perajurit pengawal. Kalau Sang Prabu memanggilnya di luar waktu persidangan, itu berarti ada terjadi hal-hal yang luar biasa dan penting, maka diapun bergegas menunggang kuda menuju ke istana. Seperti biasa, Ki Patih Narotama memasuki istana dengan leluasa. Semua perajurit pengawal mengenalnya dan tahu belaka bahwa Ki Patih Narotama dapat tiap saat memasuki istana menghadap Sang Prabu Erlangga, tidak usah dilaporkan lebih dulu seperti para pembesar lain kalau mohon menghadap sang prabu. Ki Patih Narotama membiarkan kudanya diurus oleh seorang perajurit dan dia hanya bertanya kepada perajurit pengawal dalam istana di mana adanya Sang Prabu Erlangga. Setelah mendapat keterangan bahwa sang prabu menantinya di ruangan persidangan, Ki Patih bergegas menuju ke ruangan itu lalu memasuki pintu ruangan yang dibukakan oleh dua orang prajurit pengawal.

Ketika dia memasuki ruangan persidangan, dia melihat Sang Prabu Erlangga telah duduk di atas singasana. Di sebelah kiri sang prabu duduk selir cantik jelita Mandari. Hanya puteri inilah yang menemani Sang Prabu Erlangga, tidak ada orang lain, bahkan para pengawal juga hanya menjaga di luar ruangan. Ini merupakan pertanda bahwa, sang prabu hendak membicarakan urusan yang dirahasiakan sehingga tidak boleh terdengar orang lain. Akan tetapi mengapa Mandari, puteri Ratu Durgamala Kerajaan Parang Siluman itu berada di situ, berdua saja dengan sang prabu, tanpa dihadiri dua orang permaisuri yang kedudukannya lebih tinggi? Ki Patih Narotama menduga bahwa urusan ini tentu ada sangkut-pautnya dengan Puteri Mandari. Lasmini dan Mandari memang selalu membuat ulah setelah menjadi selirnya dan selir sang prabu. Akan tetapi wajah cantik itu sama sekali tidak kelihatan tegang atau khawatir, bahkan senyumnya yang manis menunjukkan bahwa hatinya bergembira! Ki Patih Narotama memberi hormat dengan sembah dan hendak duduk bersila di atas lantai. Akan tetapi Sang Prabu Erlangga mencegahnya.
"Duduklah di kursi yang telah disediakan untukmu, Kakang Patih Narotama."
Narotama menurut. Memang biasanya kalau menghadap sang prabu secara pribadi, bukan dalam paseban, dia dipersilakan duduk di kursi. Akan tetapi saat itu, selir Mandari hadir di situ, maka tadinya dia hendak duduk bersila untuk menghormati sang prabu. Setelah melirik ke arah Mandari, dia menyembah lagi, lalu duduk.
"Terima kasih, gusti. Paduka memanggil hamba, perintah apakah yang harus hamba lakukan?"
"Ada urusan yang gawat sekali, kakang patih. Karena urusan ini amat penting, maka kami sengaja mengundangmu karena hanya andika saja yang akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Yayi Mandari kami hadirkan karena mengingat akan kemampuannya, ia dapat membantu pelaksanaan tugas ini, kakang."
Diam-diam Ki Patih Narotama merasa heran. Mengapa mendadak selir ini diajukan oleh sang prabu untuk membantunya? Tugas apakah gerangan yang harus dilaksanakan dengan bantuan Puteri Mandari? Ataukah, urusan ini mengenai diri puteri dari Kerajaan Parang Siluman itu?
"Hamba siap melaksanakan semua perintah paduka, Sinuwun."
Sang Prabu Erlangga memang sengaja membawa Mandari ke dalam persoalan ini karena dia hendak menguji sampai di mana kesetiaan selir tersayangnya yang terkadang menimbulkan rasa curiga dalam hatinya itu. Bagaimana selir itu akan menanggapi kalau terjadi pemberontakan terhadap kerajaannya? Maka, dia sengaja menghadirkan Puteri Mandari ketika dia memanggil patihnya.
"Kakang Patih Narotama, kerajaan kita sedang terancam pemberontakan!"

Baik Ki Patih Narotama maupun Mandari terkejut bukan main. Ki Patih Narotama tentu saja terkejut mendengar ada pemberontakan, sebaliknya Mandari terkejut juga, namun ia terkejut karena sesungguhnya ia dan sekutunya yang memusuhi kerajaan Kahuripan dan tentu saja merencanakan pemberontakan.
"Siapakah yang berani memberontak kepada paduka, gusti? Beritahukan kepada hamba. Hamba yang akan memberantasnya!" kata Narotama penuh semangat.
Puteri Mandari diam saja, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang.
"Aku mendengar hal itu dari Kakang Pangeran Hendratama. Pemberontakan itu memang belum terjadi, akan tetapi kami dapat menduganya dengan munculnya pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun lalu, yaitu Sang Megatantra."

Kini Ki Patih Narotama yang meragu walaupun dia terkejut mendengar bahwa sang Megatantra yang dinyatakan hilang puluhan tahun itu, kini muncul. Dia meraba gagang kerisnya sendiri yang terselip di pinggangnya. Keris pusakanya itu adalah keris pusaka Sang Megantoro, yang merupakan pasangan keris pusaka Sang Megatantra. Dia mendapatkan keris itu dari Sang Resi Satyadharma di Nusa Bali. Gurunya itu mengatakan bahwa keris Sang Megantoro adalah pasangan keris Sang Megatantra. Kalau Sang Megatantra mengandung wahyu bagi seorang raja, keris Megantoro mengandung wahyu bagi seorang pamongnya yang paling dekat dengan raja, yaitu patihnya. Kalau rajanya memegang Sang Megatantra dan patihnya memegang Sang Megantoro, maka kerajaan akan menjadi kuat sekali. Sayang, keris pusaka Sang Megatantra lenyap puluhan tahun yang lalu hingga Sang Prabu Erlangga tidak memilikinya. Akan tetapi kini keris itu muncul! Inilah yang mengejutkan dan juga menggirangkan hati Narotama. Akan tetapi mendengar bahwa pembawa kabar tentang pemberontakan itu Pangeran Hendratama hatinya menjadi ragu dan bimbang. Dia merasa tidak senang dan tidak percaya kepada pangeran ini, bahkan dia mulai curiga mendengar betapa pangeran yang baru pindah ke kota raja itu seringkali kasak-kusuk dengan para pembesar dan mengobral banyak hadiah kepada mereka. Sebaliknya, ketika mendengar bahwa pembawa berita itu adalah Pangeran Hendratama, hati Mandari menjadi girang sekali. Pangeran itu adalah sekutunya, Maka, ia cepat berkata penuh semangat,
"Kakanda Prabu, siapakah keparat yang hendak memberontak itu? Dia harus dihancurkan!"
Sang Prabu Erlangga tersenyum mendengar ucapan selirnya ini.
"Kalian dengarlah dulu apa yang diceritakan Kakang Pangeran Hendratama kepadaku tadi. Beberapa bulan yang lalu dia membeli sebuah keris dari seorang pengemis tua. Setelah keris itu dibersihkan, dia mengenalnya sebagai Sang Megatantra. Pengemis itu mengatakan bahwa dia menemukan keris pusaka itu di dekat pantai Laut Kidul. Akan tetapi agaknya pengemis itu menceritakan tentang keris itu kepada seorang penjahat muda yang sakti mandraguna. Penjahat itu mencuri Sang Megatantra dari Kakang Pangeran Hendratama dan menggantinya dengan sebuah keris palsu. Kakang pangeran lalu berusaha untuk mencari dan merampasnya kembali, namun usahanya sia-sia. Maksudnya untuk mendapatkan kembali pusaka itu dan menghaturkannya kepadaku. Nah, malam tadi, rumahnya didatangi pencuri keris itu dan dia nyaris dibunuh penjahat itu. Agaknya penjahat itu ingin merahasiakan penemuannya dan karena yang mengetahui tentang Sang Megatantra hanya kakang pangeran, maka penjahat itu hendak membunuhnya. Dari kenyataan ini dapat diduga bahwa pencuri itu hendak mempergunakan Sang Megatantra untuk mengangkat diri sendiri sebagai raja. Setelah para pembantu Kakang Pangeran Hendratama membayangi ke mana larinya pencuri yang malam tadi hendak membunuhnya itu, maka jelaslah bahwa memang ada usaha pemberontakan di kerajaan ini."
"Hemm, si keparat!" Mandari berseru marah.
"Kalau begitu, mohon penjelasan, Kakanda, siapakah pencuri itu? Biar hamba binasakan dia!"
Sang Prabu Erlangga tersenyum. Hatinya merasa lega karena selirnya ini ternyata bersemangat membela kerajaan Kahuripan!
"Hamba menanti penjelasan paduka, gusti." kata Narotama yang juga ingin sekali mengetahui siapa gerangan mereka yang hendak mengadakan pemberontakan itu.
"Setelah dibayangi orang-orangnya Kakang Pangeran Hendratama, ternyata bahwa pencuri itu melarikan diri kerumah Paman Senopati Sindukerta dan pencuri Sang Megatantra yang sakti mandraguna itu adalah cucunya yang bernama Nurseta."
"Paman Senopati Sindukerta? Bukankah dia itu kabarnya dahulu menjadi calon mertua Pangeran Hendratama?" Tanya Narotama.
"Benar, Kakang Narotama. Paman Senopati Sindukerta memang pernah kesalahan terhadap mendiang Romo Prabu Teguh Dharmawangsa dan Kakang Pangeran Hendratama karena menyembunyikan puterinya yang akan dijodohkan dengan Kakang Pangeran Hendratama sehingga dia dicopot dari kedudukannya sebagai senopati. Akan tetapi karena dia banyak membantuku mengusir musuh-musuh dari Kahuripan seperti andika sendiri mengetahui, maka aku mengangkatnya kembali menjadi senopati. Sungguh tidak kusangka dia mempunyai niat untuk memberontak. Hal ini mungkin karena cucunya itu telah mendapatkan Sang Megatantra."
Mandari bangkit dari tempat duduknya dan berkata lantang.
"Si keparat tak mengenal budi itu! Kakanda Prabu, biarlah hamba berangkat sekarang juga untuk membasmi keluarga Sindukerta! Hamba akan membawa pasukan pengawal untuk menghancurkan para pemberontak itu!"
"Tenanglah dan duduklah dulu, yayi. Kita rundingkan dulu bagaimana sebaiknya dan tindakan apa yang harus diambil." kata Sang Prabu Erlangga.

Mandari duduk kembali dan kedua pipinya masih kemerahan karena marah, bibirnya yang mungil itu cemberut.
"Hamba menanti perintah, apa yang harus hamba lakukan terhadap Paman Senopati Sindukerta dan cucunya itu gusti." kata Narotama dengan tenang. Bagaimanapun juga, cerita itu berasal dari Pangeran Hendratama yang tentu saja mendendam kepada Senopati Sindukerta karena niatnya memperisteri puteri senopati itu tidak tercapai dan dia memang meragukan kepribadian pangeran yang pernah ngambek bertahun-tahun meninggalkan kota raja karena Erlangga yang diangkat atau dipilih oleh para bangsawan untuk menjadi raja.
"Sekarang pimpinlah pasukan pilihanmu dan pergilah ketempat tinggal Paman Senopati Sindukerta. Andika telah mengetahui persoalannya dan aku memberi purbawisesa (kekuasaan penuh) kepadamu untuk bertindak bagaimana baiknya terhadap mereka."
"Bunuh saja mereka! Basmi pemberontak itu sampai keakar-akarnya. Binasakan seluruh keluarganya!" kata Mandari sambil mengepal tangannya.
"Hamba akan menangkap Paman Senopati Sindukerta dan cucunya yang bernama Nurseta itu dan membawa mereka menghadap paduka, gusti." kata Narotama dengan tenang.
"Hamba akan menyertai Ki Patih Narotama dan pasukannya!" seru Mandari.
“Kalau pencuri pusaka itu sakti mandraguna, hamba yang akan menandinginya!"
Sang Prabu Erlangga tersenyum.
“Tidak, Yayi Mandari. Justeru karena kekerasanmu itu, aku tidak mengijinkan engkau ikut pergi. Kakang Patih Narotama benar. Paman Senopati Sindukerta dan cucunya itu harus ditangkap dan akan kami periksa di sini."
"Akan tetapi, Kakanda Prabu, mereka itu sudah jelas hendak memberontak! Mereka itu pantas dibinasakan, tunggu apalagi?" kata Mandari.
"Bukan begitu sikap seorang penguasa yang bijaksana, yayi. Tidak benar menjatuhkan keputusan kepada seorang terdakwa tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri. Kalau sudah terbukti kesalahannya, barulah dijatuhi hukuman, itupun harus sesuai dengan peraturan, bukan hantam-kromo dibunuh dan dibasmi begitu saja."
"Akan tetapi buktinya sudah jelas kakanda! Buktinya Nurseta itu telah mencuri Sang Megatantra dan semalam berniat membunuh Pangeran Hendratama untuk menutupi rahasianya. Melihat kenyataan bahwa dia cucu Senopati Sindukerta, sudah jelas bahwa senopati itu yang menjadi dalangnya dan merencanakan pemberontakan terhadap paduka!"

<<<Bagian 67                                                                                         Bagian 69 >>>

No comments:

Post a Comment