Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 67


"Bagaimana hasilnya? Apakah dapat ditangkap atau dibunuh?" Pangeran Hendratama bertanya kepada Lembara ketika mereka semua menghadapnya. Dengan muka kemerahan karena merasa malu Lembara melaporkan.
"Harap paduka memaafkan kami, Gusti Pangeran. Kami telah mengepung maling itu, akan tetapi dia itu sangat sakti mandraguna, pandai menghilang dan terbang ....."
"Omong kosong! Mana ada manusia pandai menghilang dan terbang? Laporkan yang benar!" bentak Pangeran Hendratama dengan alis berkerut karena kecewa mendengar laporan itu dan tidak melihat Nurseta tertawan atau terbunuh.
"Hamba tidak berbohong, gusti. Maling itu telah kami kepung dan keroyok, tiga puluh orang mengeroyoknya. Akan tetapi tiba-tiba dia menghilang dan kami dirobohkan oleh tangan yang tidak tampak, baru setelah Puteri Puspa Dewi datang, pekik saktinya dapat membuyarkan ilmu maling itu sehingga dia tampak. Akan tetapi dia melarikan diri dikejar oleh puteri Puspa Dewi. Akan tetapi dia terbang ke atas pagar tembok, hinggap di atas ujung tombak yang berada di atas pagar tembok lalu melarikan diri keluar."

Diam-diam Pangeran Hendratama terkejut. Memang dia sudah mendengar dari para selirnya bahwa pemuda itu sakti, akan tetapi dia tidak menyangka bahwa Nurseta demikian sakti mandraguna sehingga dikeroyok tiga puluh orang lebih termasuk tujuh orang jagoannya dibantu pula oleh Puspa Dewi, masih dapat meloloskan diri. Dia menjadi semakin gentar dan merasa sangat terancam keselamatannya selama pemuda itu belum ditangkap atau dibunuh.
"Benarkah apa yang diceritakan Lembara itu, Puspa Dewi?" tanyanya kepada Puspa Dewi.
"Benar, Paman Pangeran. Maling ini memang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali sehingga sayapun tidak berhasil menangkapnya." kata Puspa Dewi.
"Karena itu, tidak ada gunanya lagi saya berada di sini. Harap paman mencari bantuan orang-orang lain yang lebih pandai agar keselamatan paman terjamin."
Pangeran Hendratama menghela panjang dan tampak gelisah.
"Kalau andika sendiri dibantu semua pengawalku tidak dapat menandingi maling itu, lalu siapa lagi yang dapat kumintai bantuan?"
Puspa Dewi memandang pangeran itu dengan sinar mata tajam menyelidik, lalu bertanya,
"Paman Pangeran, kalau saya boleh bertanya, siapakah gerangan maling sakti itu dan mengapa pula dia datang mencari paman?"
Karena Puspa Dewi adalah utusan dan orang kepercayaan Puteri Mandari, apalagi dara itu adalah puteri angkat Raja Wura-Wuri, tentu saja dia percaya kepadanya sebagai sekutu yang memusuhi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi dia tidak mau menceritakan tentang Sang Megatantra yang berada padanya, hal ini masih dia rahasiakan karena belum waktunya diberitahukan orang lain. Kelak dia dapat mempergunakan Sang Megatantra sebagai alasan kuat yang mengesahkan dia untuk menjadi Raja Kahuripan kalau saatnya untuk itu tiba.
"Maling itu bernama Nurseta, seorang maling yang licik dan sakti."
"Akan tetapi, kenapa dia malam malam datang dan mencari paman? Apa yang dikehendakinya?" Puspa Dewi mengejar.
"Dia datang untuk membunuhku." kata Pangeran Hendratama singkat.
"Eh? Akan tetapi, kenapa?" desak Puspa Dewi yang maklum bahwa Nurseta mencari pangeran itu bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk merampas kembali Sang Megatantra.
Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Hendratama termenung sejenak lalu menjawab.
"Ceritanya panjang dan biarlah kalian semua mengetahui persoalannya agar tidak bertanya-tanya. Kalian tahu bahwa aku adalah penggemar pusaka. Aku mengumpulkan banyak pusaka. Banyak sudah harta kekayaan kuhamburkan untuk membeli pusaka-pusaka itu dengan harga mahal. Beberapa bulan yang lalu, secara kebetulan sekali aku membeli sebuah pusaka yang dibawa seorang kakek pengemis. Aku terkejut dan girang melihat bahwa pusaka itu adalah Sang Megatantra, keris pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu. Kakek pengemis itu menemukan pusaka itu di dekat pantai Laut Selatan dan dia tidak tahu bahwa itu adalah keris pusaka Sang Megatantra milik Mataram yang tak ternilai harganya. Aku segera membelinya dengan harga yang murah."
"Menarik sekali, paman. Lalu bagaimana?" desak Puspa Dewi ketika pangeran itu berhenti bercerita dan seperti orang berpikir. Apalagi yang akan dikarangnya, pikir Puspa Dewi.
"Sialnya, agaknya kakek pengemis itu menceritakan penjualan keris pusaka itu kepada seorang maling, yaitu Nurseta. Pada suatu malam, dia mencuri Sang Megatantra dan sebagai gantinya, dia meninggalkan sebatang keris Megatantra palsu."
"Bagaimana paman tahu bahwa pencuri itu adalah orang yang bernama Nurseta itu?" Puspa Dewi mengejar.
"Tiga orang selirku sempat memergoki dan dia mengakui namanya. Tiga orang selirku lalu menyerangnya untuk merampas kembali keris pusaka, akan tetapi mereka bertiga kalah dan maling itu membawa lari Sang Megatantra."
"Akan tetapi kenapa sekarang dia yang mencari paman dan hendak membunuh paman? Bukankah itu terbalik. Semestinya paman yang mencari dia untuk merampas kembali keris pusaka itu!"
"Mengapa dia ingin membunuhku. Mudah saja diduga! Karena aku mengetahui rahasianya bahwa dia memiliki Sang Megatantra yang menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan, maka dia ingin membunuhku agar jangan ada orang yang tahu bahwa dia memiliki pusaka itu, Jelas, bukan?"

Kini wajah Pangeran Hendratama berseri. Hatinya memang merasa girang karena kini dia mendapatkan cara untuk menjatuhkan Nurseta yang ditakutinya itu. Ceritanya tadi yang mendatangkan akal yang dianggapnya amat baik itu. Puspa Dewi tentu saja lebih percaya kepada Nurseta. la tahu bahwa pangeran itu mengarang cerita dan sengaja memutar balikkan kenyataan! Dia yang mencuri menjadi pemilik yang sah, sedangkan Nurseta yang kehilangan pusaka malah dicap sebagai pencurinya. Siasat apakah yang akan dilakukan pangeran ini? Ia tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya.
"Gusti Pangeran, kalau paduka menyetujui dan mengijinkan, hamba dapat mengajukan permohonan bantuan kepada Sri Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul." kata Lembara yang selain merasa gentar terhadap Nurseta dan ingin mendapatkan kawan yang dapat diandalkan, juga dia ingin membuat jasa.
"Sri Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul? Kaumaksudkan Ratu Mayang Gupita, Lembara?"
"Kasinggihan (betul), gusti."
"Akan tetapi, Ratu Mayang Gupita adalah seorang tokoh yang aneh dan sukar dihubungi. Selain sukar minta bantuannya, juga salah-salah akan membuat ia marah dan kalau raseksi (raksasa wanita) itu marah, siapa berani tanggung?"
Nama Ratu Mayang Gupita memang terkenal sebagai seorang raksasa wanita yang berwatak keras dan kejam sekali.
"Harap paduka tidak khawatir tentang hal itu, gusti. Pertama, hamba pernah bekerja kepada Sri Ratu Mayang Gupita sebagai seorang perwira pasukan pengawal dan hamba mengundurkah diri dengan baik-baik sehingga hamba berani menghadap beliau dan hamba yakin akan diterima baik. Kedua, bukan rahasia lagi bahwa Ratu Mayang Gupita juga amat membenci dan memusuhi Sang Prabu Erlangga. Oleh karena itu, hamba yakin beliau akan suka membantu, atau setidaknya mengirim orang yang dapat diandalkan untuk memperkuat penjagaan di sini."
Wajah pangeran itu berseri gembira mendengar ini.
"Baik sekali! Kalau begitu, cepat laksanakan usulmu itu dan sampaikan salam hormatku kepada Ratu Mayang Gupita. Nanti dulu, aku akan mengirimkan beberapa buah senjata pusaka untuk dihadiahkan kepada Sri Ratu!"
"Kalau begitu, saya mohon pamit, paman pangeran. Besok pagi-pagi saya akan kembali ke istana, melapor kepada Puteri Mandari."
"Baiklah, Puspa Dewi. Sampaikan terima kasihku kepada Puteri Mandari." Kemudian Pangeran Hendratama memerintahkan para jagoan lain untuk menambah jumlah perajurit sampai mendekati seratus orang untuk menjaga keamanan di situ karena Puspa Dewi dan Lembara akan meninggalkan gedungnya. Pagi-pagi sekali Puspa Dewi kembali ke istana, menyelinap melalui taman sari dan langsung ke keputren. Ia diterima Puteri Mandari di kamar selir itu dan Puspa Dewi menceritakan apa yang telah terjadi di gedung Pangeran Hendratama tanpa mengatakan bahwa ia telah mengenal Nurseta.

Sang Prabu Erlangga adalah seorang raja yang di waktu mudanya banyak bergaul dengan rakyat kecil dan terkenal sebagai seorang ksatria, seorang pendekar yang gagah perkasa dan baik budi. Setelah menjadi raja, diapun bijaksana, adil dan memperhatikan kehidupan rakyat, bukan seperti kebanyakan penguasa yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi, menumpuk harta benda untuk diri sendiri dan keluarganya, sanak dan handai tautannya, tanpa memperdulikan penderitaan rakyat miskin yang hidup sengsara. Diapun memiliki kewaspadaan dan kepekaan tinggi. Namun semua perasaannya tidak pernah diperlihatkan pada sikap dan wajahnya. Tentu saja sebagai manusia, dia memiliki kelemahan karena tidak ada seorangpun manusia yang sempurna di dunia ini. Betapapun baiknya seorang manusia, pasti mempunyai cacat. Adapun kelemahan Sang Prabu Erlangga adalah kelemahan pria, pada umumnya, yaitu lemah terhadap rayuan wanita cantik.
Karena itu, tidaklah mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga terlena dalam rayuan Mandari yang memang cantik jelita dan pandai sekali merayu dan menyenangkan hati pria. Tentu saja kewaspadaannya membuat dia merasa bahwa Mandari bukanlah seorang wanita yang baik budi. Semua rayuan, kemanjaan, kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya itu hanya polesan atau indah diluar saja. Wanita ini tidak mempunyai perasaan cinta kasih murni terhadap dirinya. Yang ada hanya cinta nafsu dan di balik semua bagian tubuhnya yang serba menggairahkan itu, tersembunyi pamrih untuk dirinya sendiri. Namun, dan inilah kelemahan pria pada umumnya, semua itu tertutup oleh gairah dan kenikmatan nafsu kedagingan. Apa lagi ditambah dengan alasan bahwa ditariknya Mandari sebagai selirnya berarti menanam perdamaian dengan Kerajaan Parang Siluman. Sang Prabu juga mempunyai perasaan bahwa Pangeran Hendratama adalah seorang yang tidak baik bahkan berbahaya. Biarpun sikapnya ramah dan merendah, namun dari sinar matanya kadang dia menangkap getaran nafsu kebencian terhadap dirinya. Namun raja yang bijaksana ini dapat memaafkannya, dalam hatinya dia memaklumi bahwa nafsu kebencian itu timbul dari perasaan iri hati karena pangeran itu merasa sebagai putera mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa lebih berhak menjadi raja Kahuripan daripada dia yang hanya seorang mantu. Biarpun Sang Prabu Erlangga telah memaafkan, namun dia juga tetap waspada.

Setelah peristiwa kunjungan Nurseta di tengah malam digedung Pangeran Hendratama, pada keesokan harinya, pagi-pagi Pangeran Hendratama telah naik kereta yang dikawal, menuju ke istana raja. Dia mohon menghadap Sang Prabu Erlangga yang ketika itu sedang hendak makan pagi. Mendengar laporan bahwa Pangeran Hendratama mohon menghadap dan laporan itu didengar pula oleh Permaisuri Pertama dan Permaisuri Ke Dua yang menemaninya makan pagi, sang Prabu Erlangga segera memerintahkan pengawal untuk mengundang kakak iparnya itu untuk makan pagi bersama dan ditunggu di ruangan makan. Hal ini dilakukan Sang Prabu Erlangga untuk menyenangkan hati Permaisuri Pertama dan memang benar, Permaisuri Pertama tampak gembira ketika mendengar bahwa kakak tirinya datang berkunjung dan diundang makan pagi bersama.

Akan tetapi Pangeran Hendratama memasuki ruangan makan dengan wajah muram dan lesu dan setelah memberi salam dan dipersilakan duduk menghadapi meja makan, dia hanya makan sedikit sekali dan selama makan tidak banyak bicara dan wajahnya dibayangi kegelisahan. Sang Prabu Erlangga dapat menduga bahwa tentu ada urusan yang membuat kakak iparnya itu gelisah. Akan tetapi dia cukup bijaksana untuk tidak membicarakan atau menanyakan urusan itu kepada kakak iparnya di depan kedua orang permaisurinya. Setelah selesai makan pagi, Sang Prabu Erlangga mengajak Pangeran Hendratama ke ruangan tamu untuk bicara berdua saja. Para pengawal dan pelayan disuruh meninggalkan ruangan itu sehingga mereka dapat bicara berdua tanpa didengarkan orang lain.
"Nah, Kakang Pangeran, sekarang ceritakanlah urusan apa yang merisaukan hati andika dan yang membuat andika sepagi ini sudah datang berkunjung." kata Sang Prabu Erlangga dengan nada suara lembut.
"Ah, ketiwasan (celaka), Yayi (Adinda) Prabu .....!" Sang pangeran mengeluh dimukanya tampak muram dan gelisah sekali.
"Tadi malam hampir saja saya dibunuh orang ....."
Sang Prabu Erlangga hanya merasa heran, namun tidak terkejut.
"Hemm, siapa yang hendak membunuh andika, dan kenapa?"
"Sesungguhnya, ceritanya panjang Yayi Prabu. Beberapa bulan yang lalu saya yang memang sejak dahulu suka sekali mengumpulkan pusaka kuno, seorang pengemis tua menawarkan sebuah pusaka kuno yang katanya didapatkannya di dekat pantai Laut Kidul. Saya membeli keris pusaka itu dengan murah dan setelah penjual itu pergi dan saya meneliti keris yang kotor itu, saya gosok-gosok bukan main kaget hati saya karena keris pusaka itu ternyata adalah Sang Megatantra."
"Jagad Dewa Bathara .....!" Sekali ini Sang Prabu Erlangga terkejut.
"Pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu itu, Kakang Pangeran?"
"Benar, Yayi Prabu. Karena benda keramat itu merupakan pusaka Mataram, maka saya bermaksud menghaturkan Sang Megatantra kepada paduka. Akan tetapi ternyata pengemis tua jahanam itu ....."
"Kakang Pangeran, pengemis tua itu sudah berjasa besar menemukan Sang Megatantra!" Sang Prabu Erlangga memotong dengan suara mencela mendengar Pangeran Hendratama memaki pengemis tua itu.
"Maaf, Yayi Prabu, hati saya masih mendongkol. Dia ternyata menceritakan tentang Sang Megatantra kepada seorang maling muda yang sakti mandraguna. Maling itu mencuri Sang Megatantra dan meninggalkan keris palsu ini sebagai gantinya." Pangeran Hendratama mengeluarkan sebatang keris yang mirip Sang Megatantra dan menyerahkannya kepada Sang Prabu Erlangga. Sang Prabu menerima keris itu dan sekali jari-jari tangannya menekuk, keris itu patah-patah menjadi tiga potong!
"Hemm, ini terbuat dari besi biasa, Kakang Pangeran."
"Memang demikianlah. Setelah Sang Megatantra tercuri, saya mengerahkan segala daya untuk mencari pencuri itu. Akan tetapi selalu gagal dan saya lalu pindah ke kota raja setelah mendapat perkenan paduka."
"Kenapa selama ini andika tidak memberitahukan kepada kami, Kakang Pangeran?"
"Maaf, Yayi Prabu. Saya ingin mendapatkan kembali pusaka itu agar saya dapat menghaturkannya kepada paduka, dan malam tadi, pencuri Sang Megatantra itu menyerbu rumah saya dan nyaris membunuh saya. Masih beruntung bahwa para pengawal dapat melindungi saya dan jahanam busuk itu dapat melarikan diri."
"Hemm, ceritamu aneh, kakang. Kenapa pencuri itu hendak membunuhmu setelah dia berhasil mencuri Sang Megatantra?"

<<<Bagian 66                                                                                         Bagian 68 >>>

No comments:

Post a Comment