"Bagaimana hasilnya? Apakah dapat ditangkap atau dibunuh?" Pangeran Hendratama bertanya kepada Lembara ketika mereka semua menghadapnya. Dengan muka kemerahan karena merasa malu Lembara melaporkan.
"Harap
paduka memaafkan kami, Gusti Pangeran. Kami telah mengepung maling itu, akan
tetapi dia itu sangat sakti mandraguna, pandai menghilang dan terbang
....."
"Omong
kosong! Mana ada manusia pandai menghilang dan terbang? Laporkan yang
benar!" bentak Pangeran Hendratama dengan alis berkerut karena kecewa
mendengar laporan itu dan tidak melihat Nurseta tertawan atau terbunuh.
"Hamba
tidak berbohong, gusti. Maling itu telah kami kepung dan keroyok, tiga puluh
orang mengeroyoknya. Akan tetapi tiba-tiba dia menghilang dan kami dirobohkan
oleh tangan yang tidak tampak, baru setelah Puteri Puspa Dewi datang, pekik
saktinya dapat membuyarkan ilmu maling itu sehingga dia tampak. Akan tetapi dia
melarikan diri dikejar oleh puteri Puspa Dewi. Akan tetapi dia terbang ke atas
pagar tembok, hinggap di atas ujung tombak yang berada di atas pagar tembok
lalu melarikan diri keluar."
Diam-diam
Pangeran Hendratama terkejut. Memang dia sudah mendengar dari para selirnya
bahwa pemuda itu sakti, akan tetapi dia tidak menyangka bahwa Nurseta demikian
sakti mandraguna sehingga dikeroyok tiga puluh orang lebih termasuk tujuh orang
jagoannya dibantu pula oleh Puspa Dewi, masih dapat meloloskan diri. Dia
menjadi semakin gentar dan merasa sangat terancam keselamatannya selama pemuda
itu belum ditangkap atau dibunuh.
"Benarkah
apa yang diceritakan Lembara itu, Puspa Dewi?" tanyanya kepada Puspa Dewi.
"Benar,
Paman Pangeran. Maling ini memang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali
sehingga sayapun tidak berhasil menangkapnya." kata Puspa Dewi.
"Karena
itu, tidak ada gunanya lagi saya berada di sini. Harap paman mencari bantuan
orang-orang lain yang lebih pandai agar keselamatan paman terjamin."
Pangeran
Hendratama menghela panjang dan tampak gelisah.
"Kalau
andika sendiri dibantu semua pengawalku tidak dapat menandingi maling itu, lalu
siapa lagi yang dapat kumintai bantuan?"
Puspa Dewi
memandang pangeran itu dengan sinar mata tajam menyelidik, lalu bertanya,
"Paman
Pangeran, kalau saya boleh bertanya, siapakah gerangan maling sakti itu dan
mengapa pula dia datang mencari paman?"
Karena Puspa
Dewi adalah utusan dan orang kepercayaan Puteri Mandari, apalagi dara itu
adalah puteri angkat Raja Wura-Wuri, tentu saja dia percaya kepadanya sebagai
sekutu yang memusuhi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi dia tidak mau
menceritakan tentang Sang Megatantra yang berada padanya, hal ini masih dia
rahasiakan karena belum waktunya diberitahukan orang lain. Kelak dia dapat
mempergunakan Sang Megatantra sebagai alasan kuat yang mengesahkan dia untuk
menjadi Raja Kahuripan kalau saatnya untuk itu tiba.
"Maling
itu bernama Nurseta, seorang maling yang licik dan sakti."
"Akan
tetapi, kenapa dia malam malam datang dan mencari paman? Apa yang dikehendakinya?"
Puspa Dewi mengejar.
"Dia
datang untuk membunuhku." kata Pangeran Hendratama singkat.
"Eh? Akan
tetapi, kenapa?" desak Puspa Dewi yang maklum bahwa Nurseta mencari
pangeran itu bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk merampas kembali Sang Megatantra.
Mendengar
pertanyaan itu, Pangeran Hendratama termenung sejenak lalu menjawab.
"Ceritanya
panjang dan biarlah kalian semua mengetahui persoalannya agar tidak
bertanya-tanya. Kalian tahu bahwa aku adalah penggemar pusaka. Aku mengumpulkan
banyak pusaka. Banyak sudah harta kekayaan kuhamburkan untuk membeli
pusaka-pusaka itu dengan harga mahal. Beberapa bulan yang lalu, secara
kebetulan sekali aku membeli sebuah pusaka yang dibawa seorang kakek pengemis.
Aku terkejut dan girang melihat bahwa pusaka itu adalah Sang Megatantra, keris
pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu. Kakek pengemis itu
menemukan pusaka itu di dekat pantai Laut Selatan dan dia tidak tahu bahwa itu
adalah keris pusaka Sang Megatantra milik Mataram yang tak ternilai harganya.
Aku segera membelinya dengan harga yang murah."
"Menarik
sekali, paman. Lalu bagaimana?" desak Puspa Dewi ketika pangeran itu
berhenti bercerita dan seperti orang berpikir. Apalagi yang akan dikarangnya,
pikir Puspa Dewi.
"Sialnya,
agaknya kakek pengemis itu menceritakan penjualan keris pusaka itu kepada
seorang maling, yaitu Nurseta. Pada suatu malam, dia mencuri Sang Megatantra
dan sebagai gantinya, dia meninggalkan sebatang keris Megatantra palsu."
"Bagaimana
paman tahu bahwa pencuri itu adalah orang yang bernama Nurseta itu?" Puspa
Dewi mengejar.
"Tiga
orang selirku sempat memergoki dan dia mengakui namanya. Tiga orang selirku
lalu menyerangnya untuk merampas kembali keris pusaka, akan tetapi mereka
bertiga kalah dan maling itu membawa lari Sang Megatantra."
"Akan
tetapi kenapa sekarang dia yang mencari paman dan hendak membunuh paman?
Bukankah itu terbalik. Semestinya paman yang mencari dia untuk merampas kembali
keris pusaka itu!"
"Mengapa
dia ingin membunuhku. Mudah saja diduga! Karena aku mengetahui rahasianya bahwa
dia memiliki Sang Megatantra yang menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan, maka
dia ingin membunuhku agar jangan ada orang yang tahu bahwa dia memiliki pusaka
itu, Jelas, bukan?"
Kini wajah
Pangeran Hendratama berseri. Hatinya memang merasa girang karena kini dia
mendapatkan cara untuk menjatuhkan Nurseta yang ditakutinya itu. Ceritanya tadi
yang mendatangkan akal yang dianggapnya amat baik itu. Puspa Dewi tentu saja
lebih percaya kepada Nurseta. la tahu bahwa pangeran itu mengarang cerita dan
sengaja memutar balikkan kenyataan! Dia yang mencuri menjadi pemilik yang sah,
sedangkan Nurseta yang kehilangan pusaka malah dicap sebagai pencurinya. Siasat
apakah yang akan dilakukan pangeran ini? Ia tidak dapat menduga apa yang akan
dilakukannya.
"Gusti
Pangeran, kalau paduka menyetujui dan mengijinkan, hamba dapat mengajukan
permohonan bantuan kepada Sri Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul." kata
Lembara yang selain merasa gentar terhadap Nurseta dan ingin mendapatkan kawan
yang dapat diandalkan, juga dia ingin membuat jasa.
"Sri Ratu
Kerajaan Siluman Laut Kidul? Kaumaksudkan Ratu Mayang Gupita, Lembara?"
"Kasinggihan
(betul), gusti."
"Akan
tetapi, Ratu Mayang Gupita adalah seorang tokoh yang aneh dan sukar dihubungi.
Selain sukar minta bantuannya, juga salah-salah akan membuat ia marah dan kalau
raseksi (raksasa wanita) itu marah, siapa berani tanggung?"
Nama Ratu
Mayang Gupita memang terkenal sebagai seorang raksasa wanita yang berwatak
keras dan kejam sekali.
"Harap
paduka tidak khawatir tentang hal itu, gusti. Pertama, hamba pernah bekerja
kepada Sri Ratu Mayang Gupita sebagai seorang perwira pasukan pengawal dan
hamba mengundurkah diri dengan baik-baik sehingga hamba berani menghadap beliau
dan hamba yakin akan diterima baik. Kedua, bukan rahasia lagi bahwa Ratu Mayang
Gupita juga amat membenci dan memusuhi Sang Prabu Erlangga. Oleh karena itu,
hamba yakin beliau akan suka membantu, atau setidaknya mengirim orang yang
dapat diandalkan untuk memperkuat penjagaan di sini."
Wajah pangeran
itu berseri gembira mendengar ini.
"Baik
sekali! Kalau begitu, cepat laksanakan usulmu itu dan sampaikan salam hormatku
kepada Ratu Mayang Gupita. Nanti dulu, aku akan mengirimkan beberapa buah
senjata pusaka untuk dihadiahkan kepada Sri Ratu!"
"Kalau
begitu, saya mohon pamit, paman pangeran. Besok pagi-pagi saya akan kembali ke
istana, melapor kepada Puteri Mandari."
"Baiklah,
Puspa Dewi. Sampaikan terima kasihku kepada Puteri Mandari." Kemudian
Pangeran Hendratama memerintahkan para jagoan lain untuk menambah jumlah
perajurit sampai mendekati seratus orang untuk menjaga keamanan di situ karena
Puspa Dewi dan Lembara akan meninggalkan gedungnya. Pagi-pagi sekali Puspa Dewi
kembali ke istana, menyelinap melalui taman sari dan langsung ke keputren. Ia
diterima Puteri Mandari di kamar selir itu dan Puspa Dewi menceritakan apa yang
telah terjadi di gedung Pangeran Hendratama tanpa mengatakan bahwa ia telah
mengenal Nurseta.
Sang Prabu
Erlangga adalah seorang raja yang di waktu mudanya banyak bergaul dengan rakyat
kecil dan terkenal sebagai seorang ksatria, seorang pendekar yang gagah perkasa
dan baik budi. Setelah menjadi raja, diapun bijaksana, adil dan memperhatikan
kehidupan rakyat, bukan seperti kebanyakan penguasa yang hanya mementingkan
kesenangan diri pribadi, menumpuk harta benda untuk diri sendiri dan
keluarganya, sanak dan handai tautannya, tanpa memperdulikan penderitaan rakyat
miskin yang hidup sengsara. Diapun memiliki kewaspadaan dan kepekaan tinggi.
Namun semua perasaannya tidak pernah diperlihatkan pada sikap dan wajahnya.
Tentu saja sebagai manusia, dia memiliki kelemahan karena tidak ada seorangpun
manusia yang sempurna di dunia ini. Betapapun baiknya seorang manusia, pasti
mempunyai cacat. Adapun kelemahan Sang Prabu Erlangga adalah kelemahan pria,
pada umumnya, yaitu lemah terhadap rayuan wanita cantik.
Karena itu,
tidaklah mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga terlena dalam rayuan Mandari
yang memang cantik jelita dan pandai sekali merayu dan menyenangkan hati pria.
Tentu saja kewaspadaannya membuat dia merasa bahwa Mandari bukanlah seorang
wanita yang baik budi. Semua rayuan, kemanjaan, kecantikan wajah dan keindahan
tubuhnya itu hanya polesan atau indah diluar saja. Wanita ini tidak mempunyai
perasaan cinta kasih murni terhadap dirinya. Yang ada hanya cinta nafsu dan di
balik semua bagian tubuhnya yang serba menggairahkan itu, tersembunyi pamrih
untuk dirinya sendiri. Namun, dan inilah kelemahan pria pada umumnya, semua itu
tertutup oleh gairah dan kenikmatan nafsu kedagingan. Apa lagi ditambah dengan alasan
bahwa ditariknya Mandari sebagai selirnya berarti menanam perdamaian dengan
Kerajaan Parang Siluman. Sang Prabu juga mempunyai perasaan bahwa Pangeran
Hendratama adalah seorang yang tidak baik bahkan berbahaya. Biarpun sikapnya
ramah dan merendah, namun dari sinar matanya kadang dia menangkap getaran nafsu
kebencian terhadap dirinya. Namun raja yang bijaksana ini dapat memaafkannya,
dalam hatinya dia memaklumi bahwa nafsu kebencian itu timbul dari perasaan iri
hati karena pangeran itu merasa sebagai putera mendiang Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa lebih berhak menjadi raja Kahuripan daripada dia yang hanya
seorang mantu. Biarpun Sang Prabu Erlangga telah memaafkan, namun dia juga
tetap waspada.
Setelah
peristiwa kunjungan Nurseta di tengah malam digedung Pangeran Hendratama, pada
keesokan harinya, pagi-pagi Pangeran Hendratama telah naik kereta yang dikawal,
menuju ke istana raja. Dia mohon menghadap Sang Prabu Erlangga yang ketika itu
sedang hendak makan pagi. Mendengar laporan bahwa Pangeran Hendratama mohon
menghadap dan laporan itu didengar pula oleh Permaisuri Pertama dan Permaisuri
Ke Dua yang menemaninya makan pagi, sang Prabu Erlangga segera memerintahkan
pengawal untuk mengundang kakak iparnya itu untuk makan pagi bersama dan
ditunggu di ruangan makan. Hal ini dilakukan Sang Prabu Erlangga untuk
menyenangkan hati Permaisuri Pertama dan memang benar, Permaisuri Pertama
tampak gembira ketika mendengar bahwa kakak tirinya datang berkunjung dan
diundang makan pagi bersama.
Akan tetapi
Pangeran Hendratama memasuki ruangan makan dengan wajah muram dan lesu dan
setelah memberi salam dan dipersilakan duduk menghadapi meja makan, dia hanya
makan sedikit sekali dan selama makan tidak banyak bicara dan wajahnya
dibayangi kegelisahan. Sang Prabu Erlangga dapat menduga bahwa tentu ada urusan
yang membuat kakak iparnya itu gelisah. Akan tetapi dia cukup bijaksana untuk
tidak membicarakan atau menanyakan urusan itu kepada kakak iparnya di depan
kedua orang permaisurinya. Setelah selesai makan pagi, Sang Prabu Erlangga
mengajak Pangeran Hendratama ke ruangan tamu untuk bicara berdua saja. Para
pengawal dan pelayan disuruh meninggalkan ruangan itu sehingga mereka dapat
bicara berdua tanpa didengarkan orang lain.
"Nah,
Kakang Pangeran, sekarang ceritakanlah urusan apa yang merisaukan hati andika
dan yang membuat andika sepagi ini sudah datang berkunjung." kata Sang
Prabu Erlangga dengan nada suara lembut.
"Ah,
ketiwasan (celaka), Yayi (Adinda) Prabu .....!" Sang pangeran mengeluh
dimukanya tampak muram dan gelisah sekali.
"Tadi
malam hampir saja saya dibunuh orang ....."
Sang Prabu
Erlangga hanya merasa heran, namun tidak terkejut.
"Hemm,
siapa yang hendak membunuh andika, dan kenapa?"
"Sesungguhnya,
ceritanya panjang Yayi Prabu. Beberapa bulan yang lalu saya yang memang sejak
dahulu suka sekali mengumpulkan pusaka kuno, seorang pengemis tua menawarkan
sebuah pusaka kuno yang katanya didapatkannya di dekat pantai Laut Kidul. Saya
membeli keris pusaka itu dengan murah dan setelah penjual itu pergi dan saya
meneliti keris yang kotor itu, saya gosok-gosok bukan main kaget hati saya
karena keris pusaka itu ternyata adalah Sang Megatantra."
"Jagad
Dewa Bathara .....!" Sekali ini Sang Prabu Erlangga terkejut.
"Pusaka
Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu itu, Kakang Pangeran?"
"Benar,
Yayi Prabu. Karena benda keramat itu merupakan pusaka Mataram, maka saya
bermaksud menghaturkan Sang Megatantra kepada paduka. Akan tetapi ternyata
pengemis tua jahanam itu ....."
"Kakang
Pangeran, pengemis tua itu sudah berjasa besar menemukan Sang Megatantra!"
Sang Prabu Erlangga memotong dengan suara mencela mendengar Pangeran Hendratama
memaki pengemis tua itu.
"Maaf,
Yayi Prabu, hati saya masih mendongkol. Dia ternyata menceritakan tentang Sang
Megatantra kepada seorang maling muda yang sakti mandraguna. Maling itu mencuri
Sang Megatantra dan meninggalkan keris palsu ini sebagai gantinya."
Pangeran Hendratama mengeluarkan sebatang keris yang mirip Sang Megatantra dan
menyerahkannya kepada Sang Prabu Erlangga. Sang Prabu menerima keris itu dan
sekali jari-jari tangannya menekuk, keris itu patah-patah menjadi tiga potong!
"Hemm,
ini terbuat dari besi biasa, Kakang Pangeran."
"Memang
demikianlah. Setelah Sang Megatantra tercuri, saya mengerahkan segala daya
untuk mencari pencuri itu. Akan tetapi selalu gagal dan saya lalu pindah ke
kota raja setelah mendapat perkenan paduka."
"Kenapa
selama ini andika tidak memberitahukan kepada kami, Kakang Pangeran?"
"Maaf,
Yayi Prabu. Saya ingin mendapatkan kembali pusaka itu agar saya dapat menghaturkannya
kepada paduka, dan malam tadi, pencuri Sang Megatantra itu menyerbu rumah saya
dan nyaris membunuh saya. Masih beruntung bahwa para pengawal dapat melindungi
saya dan jahanam busuk itu dapat melarikan diri."
"Hemm,
ceritamu aneh, kakang. Kenapa pencuri itu hendak membunuhmu setelah dia
berhasil mencuri Sang Megatantra?"
No comments:
Post a Comment