Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 66


Memang sebagai seorang puteri istana Kerajaan Wura-Wuri, sudah sepantasnya kalau ia membela kerajaan itu. Akan tetapi caranya ini yang ia tidak suka. Kalau Wura-Wuri diserang oleh kerajaan manapun, termasuk Kahuripan, tentu ia akan membela Wura-Wuri dengan suka rela, bahkan sebagai puteri angkat raja ia sudah sepatutnya siap untuk membela dengan taruhan nyawa. Akan tetapi cara licik seperti yang mereka lakukan sekarang ini, sungguh berlawanan dengan watak dan suara hatinya. Ini sungguh tidak adil, tidak sepantasnya dilakukan orang gagah, hanya patut dilakukan orang-orang pengecut yang suka mempergunakan kecurangan dan kelicikan. Akan tetapi, dua tugas pertama telah gagal dan bahkan ia hiraukan, apakah untuk tugas terakhir ini ia harus mundur juga? Hal inilah yang membuat Puspa Dewi termenung dalam keraguan. Apalagi sekarang ia diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu Pangeran Hendratama, menjaga keselamatan pangeran itu dari ancaman musuh-musuhnya. Tugas ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Parang Siluman! Akan tetapi karena Adipati Bhismaprahhawa sebagai Raja Wura-Wuri dan ayah angkatnya, dan Ratu Dewi Durgakumala sebagai guru dan ibu angkatnya menugaskan ia harus membantu Puteri Mandari, maka ia harus mentaati semua perintahnya. Diam-diam Puspa Dewi menjadi penasaran, dan tidak senang karena pekerjaan ini dilakukan dengan terpaksa, walaupun tidak disukainya. Akhirnya iapun meninggalkan taman-sari dan kembali ke kamarnya dalam istana pangeran itu.

Malam itu udara dingin sekali. Segala sesuatu yang berada di luar rumah basah kuyup karena sore tadi hujan turun dengan derasnya. Namun malam ini udara cerah dan bulan yang hampir penuh tersenyum di langit. Kalau saja malam tidak sedingin itu, tentu semua orang lebih senang berada di luar rumah menikmati malam terang bulan yang mendatangkan suasana menggembirakan itu. Akan tetapi udara terlalu dingin sehingga di jalan jalan, di luar rumah, tampak sepi. Nurseta berjalan perlahan di atas jalan besar dalam kesepian itu. Dia menuju ke istana tempat tinggal Pangeran Hendratama yang siang tadi sudah dia selidiki dimana letaknya. Siang tadi, Senopati Sindukerta sudah melakukan penyelidikan dan memastikan bahwa Pangeran Hendratama berada di istananya dan menurut penyelidikan itu, sang pangeran tidak ada rencana untuk pergi keluar istana.
"Akan tetapi aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama mengumpulkan sedikitnya tujuh orang jagoan yang digdaya untuk menjadi pengawalnya, belum lagi para perajurit anggota pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari dua losin, menjaga di sekeliling istananya. Karena itu, amat berbahaya kalau engkau mengunjungi istana itu, Nurseta."
"Harap kanjeng eyang tenang. Saya dapat menjaga diri. Bagaimanapun juga, saya harus dapat merampas kembali Sang Megatantra dari tangannya, apalagi mengingat seperti dugaan eyang bahwa dia akan menggunakan Sang Megatantra untuk mencari pengaruh dan dukungan bagi niatnya untuk memberontak."
"Bukti-bukti bahwa dia akan memberontak belum ada, Nurseta. Kalau sudah ada buktinya, tentu aku akan melaporkannya kepada Sang Prabu."
"Kanjeng eyang, buktinya ada, yaitu bahwa dia telah mencuri Sang Megatantra dari saya. Itu saja sudah membuktikan bahwa dia ingin memiliki Sang Megatantra untuk memperkuat kedudukannya sehingga dia kelak dapat menjadi raja setelah berhasil menggulingkan sang prabu. Saya dapat menjadi saksinya, eyang!"
Ki Sindukerta tersenyum.
"Ingatlah, Nurseta. Pangeran Hendratama adalah kakak tiri sang permaisuri, dia adalah kakak ipar Sang Prabu Erlangga. Bukti itu belum cukup dan lemah. Bayangkan, apakah Sang Prabu akan lebih percaya kepada kesaksian seorang pemuda seperti engkau yang tidak dikenalnya daripada kepercayaannya terhadap kakak iparnya sendiri?"
Nurseta mengangguk-angguk, melihat kebenaran ucapan kakeknya.
"Kalau begitu, saya akan mencoba mencari buktinya, eyang, di samping mencari dan merampas kembali Sang Megatantra."
"Baiklah, kalau niatmu sudah teguh. akan tetapi benar-benar engkau harus berhati-hati, Nurseta."
"Baik, kanjeng eyang. Semua nasihat eyang akan saya perhatikan dan saya mohon doa restu kanjeng eyang."

Demikianlah, malam hari itu kebetulan hawa udara yang dingin sekali memaksa orang-orang tinggal di dalam rumah masing-masing sehingga kota raja menjadi sepi. Hal ini memudahkan Nurseta melaksanakan rencananya berkunjung ke istana Pangeran Hendratama. Tentu saja hawa udara yang amat dingin itu sama sekali tidak mengganggu tubuhnya yang terlatih. Dengan tenaga saktinya dia dapat membuat tubuhnya terasa hangat. Dengan tenang dia berjalan menuju ke istana pangeran dan setelah tiba di luar istana, dia melihat betapa pintu gerbang yang memisahkan jalan raya dengan halaman rumah yang luas itu dijaga oleh tiga orang perajurit. Dari eyangnya dia sudah mendapat keterangan bahwa pintu gerbang itu dijaga siang malam secara bergiliran. Juga para perajurit pengawal selalu melakukan perondaan di balik pagar tembok yang mengelilingi Istana itu. Memasuki pintu gerbang itu tentu akan memancing datangnya para perajurit dan jagoan pengawal. Menurut keterangan eyangnya, satu-satunya jalan yang agak aman dan tidak begitu terjaga ketat adalah melalui taman yang berada di belakang istana, akan tetapi untuk memasuki taman itu dia harus dapat melewati pagar tembok yang tingginya dua kali tinggi manusia dewasa dan di atasnya di pasangi ujung tombak-tombak runcing. Nurseta mengambil jalan memutar mengelilingi setengah lingkaran perumahan istana itu dan tiba di bagian belakang. Pagar tembok di situ memang tinggi dan di bagian atas, terlihat di bawah sinar bulan tombak-tombak runcing menjulang ke atas, berjejer rapat. Nurseta memejamkan kedua matanya sejenak, menyatukan perhatiannya, menghimpun tenaga saktinya lalu menyalurkan ke dalam kakinya dan mengerahkan tenaganya. Begitu dia menggenjot kedua kakinya, tubuhnya meluncur ke atas dan dengan ringannya kedua kakinya hinggap di atas dua batang ujung tombak! Bagaikan seekor burung raksasa Nurseta berdiri seenak di atas dua batang ujung tombak, mengamati ke dalam dan sudah siap siaga untuk melompat keluar lagi apabila terdapat penjaga-penjaga di sebelah dalam. Akan tetapi di sebelah dalam pagar tembok itu hanya penuh dengan tumbuh-tumbuhan berbagai macam bunga, tidak tampak seorangpun manusia. Dia merasa lega dan cepat melompat ke dalam taman.

Dengan hati-hati Nurseta menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman itu, menghampiri bangunan yang tampak megah, walaupun tampak dari belakang. Lampu-lampu gantung di bagian belakang gedung itu menambah terang sinar bulan yang kini sudah berada tepat di atas kepala. Ketika Nurseta tiba dekat bangunan dia berhenti sebentar dan berpikir untuk merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia harus dapat memasuki istana itu dan menangkap Pangeran Hendratama. Kalau dia sudah dapat menguasai sang pangeran, maka para jago dan pasukan pengawal tidak akan berani menyerangnya. Dia dapat menggunakan sang pangeran sebagai sandera dan akan memaksa Pangeran Hendratama untuk menyerahkan kembali Sang Megatantra. Dengan ancaman membunuhnya pangeran itu tentu akan memenuhi permintaannya dan dengan menggunakan pangeran itu sebagai perisai, dia akan dapat keluar lagi dengan aman! Setelah mengatur rencananya, Nurseta maju lagi. Kini dia tiba di tempat terbuka antara taman dan bangunan, sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Dia berhenti di tengah-tengah lapangan rumput itu, memandang ke atas untuk memilih bagian mana yang paling rendah dan paling mudah untuk dilompati. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan bertubi-tubi dari sekelilingnya dan muncullah banyak sekali prajurit yang membawa tombak, pedang atau golok di tangan. Mereka muncul dari depan, kanan kiri dan belakang dan dia sudah terkepung! semua ini terjadi begitu tiba-tiba dan cepat sehingga Nurseta menduga bahwa memang kedatangannya sudah diketahui dan mereka memang sudah siap menjebaknya sehingga kini dia terkepung oleh sedikitnya tiga puluh orang yang semua memegang senjata! Tujuh orang yang berpakaian biasa, tidak seperti yang lain, yang mengenakan pakaian seragam perajurit, maju menghadapi Nurseta dan seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar berkumis melintang, berusia sekitar tiga puluh tahun dan memegang sebatang golok besar, menyeringai dengan pandang mata mengejek kepada Nurseta.

Orang itu bukan lain adalah Lembara yang sudah pulih kesehatannya. Untung baginya bahwa siang tadi Puspa Dewi membatasi tenaganya ketika menyerangnya dengan Aji Guntur Geni sehingga hanya bajunya saja yang hangus dan hancur. Dadanya tidak terluka hanya terguncang dan membuatnya sesak napas sebentar. Kini, mengepung pemuda itu bersama enam orang rekannya dan dua losin perajurit, dia merasa bahwa tak mungkin pemuda yang sejak melompat pagar taman memang sudah diketahui itu akan dapat lolos.
"Heh-he-he-heh! Maling busuk, menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!" bentak Ki Lembara sambil mengamangkan goloknya.
Karena sudah terkepung dan merasa kepalang, Nurseta menjawab dengan tenang.
"Aku bukan maling, aku ingin bertemu dan bicara dengan Pangeran Hendratama. Minta dia keluar menemui aku"
"Kurang ajar! Orang rendah macam kamu berani menyuruh Gusti Pangeran keluar untuk menemuimu? Kamu yang harus menyerah untuk kami belenggu dan kami seret ke hadapan Gusti Pangeran"
"Aku bukan penjahat dan tidak melakukan pencurian, hadapkan aku kepada Pangeran Hendratama, akan tetapi aku tidak mau menjadi tangkapan dan dibelenggu!"
"Jahanam, berani kamu, ya? Tangkap dia, serang!" perintah Ki Lembara kepada anak buahnya.
Para pengepung itu segera bergerak, seolah hendak berlumba merobohkan Nurseta. Melihat begitu banyak orang mengepung dan menerjangnya dengan senjata runcing dan tajam, Nurseta cepat mengerahkan Aji Sirna Sarira. Tubuhnya berkelebat menjadi bayangan lalu tiba-tiba lenyap dari pandang mata para pengeroyoknya. Kemudian, para pengeroyok itu berteriak mengaduh dan mereka brrpelantingan karena ditampar oleh tangan yang tidak tampak Tentu saja mereka menjadi geger dan panik, juga seram dan merinding (meremang) karena merasa seolah-olah mereka melawan setan!

Ki Lembara dan enam orang rekannya adalah jagoan-jagoan yang tangguh. Biarpun mereka tidak dapat memunahkan ilmu yang dipergunakan Nurseta dan tidak dapat melihat bayangan pemuda itu, namun mereka dapat mengelak dan menangkis tamparan Nurseta dengan mendengarkan suara sambaran tangan yang tidak tampak itu. Juga mereka bertujuh memutar pedang atau golok mereka, menyerang sekeliling tubuh mereka sehingga Nurseta tentu saja tidak dapat mendekati mereka dan hanya merobohkan para perajurit. Dia bermaksud memancing munculnya Pangeran Hendratama dan kalau pangeran itu muncul, akan ditawannya dan dijadikan sandera. Akan tetapi yang muncul bukannya Pangeran Hendratama, melainkan orang yang sama sekali tidak diduganya akan berada di situ dan ikut menyerangnya.
"Siapa berani mengacau di sini?" terdengar Puspa Dewi membentak dan ia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan mempergunakan pekik Aji Guruh Bairawa.
"Hyaaaaaaaaaahhhhh!"
Pekik ini memang hebat sekali, dan dilanda getaran lengkingan ini Aji Sirna Sarira yang dipergunakan Nurseta menjadi buyar dan tubuhnya tampak lagi!
Mereka berdua saling pandang dan sama-sama terkejut. Puspa Dewi tidak mengira bahwa yang datang pada waktu tengah malam itu adalah Nurseta. Seketika ia tahu bahwa Nurseta tentu datang untuk merampas kembali Sang Megatantra. Sebaliknya, Nurseta juga terkejut melihat Puspa Dewi. Bagaimana gadis ini sekarang menjadi pengawal Pangeran Hendratama? Akan tetapi melihat munculnya gadis itu, Nurseta maklum bahwa usahanya akan gagal, maka dia lalu mempergunakan Aji Bayu Sakti dan tubuhnya berkelebat cepat sekali meninggalkan tempat itu. Kalau dia menggunakan Aji Sirna Sarira atau Triwikrama, mungkin dia masih akan mampu menangkap Pangeran Hendratama. Akan tetapi Puspa Dewi berada di situ dan dia tidak mau terlibat permusuhan dengan gadis itu. Para perajurit yang masih panik tidak berani mengejar. Bahkan tujuh orang jagoan itupun agaknya jerih.
"Biar aku yang mengejarnya!" kata Puspa Dewi dan iapun mempergunakan tenaga saktinya untuk melompat dan mengejar dengan cepat sekali ke dalam taman.
"Nurseta!"
Puspa Dewi berseru ketika melihat bayangan pemuda itu sudah mendekati pagar tembok. Mendengar seruan ini, Nurseta berhenti dan memutar tubuh Dengan cepat Puspa Dewi sudah berada di depannya.
"Puspa Dewi, engkau mengejar hendak menangkap aku?" Nurseta bertanya
"Tidak, Nurseta. Aku tahu bahwa engkau datang pasti hendak merampas kembali Sang Megatantra dari tangan pangeran itu."
"Baik sekali kalau engkau mengetahui hal itu, Puspa Dewi. Akan tetapi kenapa engkau berada di sini, menjadi pengawal pangeran jahat itu?"
"Aku bukan pengawalnya. Aku hanya terpaksa karena diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu. Akan tetapi engkau tidak mungkin akan dapat merampas pusaka itu, Nurseta. Penjagaan amat kuatnya, bahkan sebelum engkau masuk ke sini, pangeran itu sudah tahu dan sudah melakukan penjagaan ketat. Pusaka itu tentu disembunyikan, entah dimana. Sekarang pergilah, biar aku membantumu menyelidiki dimana dia menyimpan pusaka itu."
"Terima kasih, Puspa Dewi. Aku tahu dan yakin engkau bukan gadis sesat. Karena itu tadi aku memilih melarikan diri daripada harus bertanding melawanmu. Selamat berpisah!"

Nurseta lalu mengerahkan tenaganya, melompat ke atas pagar tembok dan hinggap di atas dua ujung tombak yang runcing, lalu menoleh, melambaikan tangan dan meloncat keluar. Puspa Dewi menghela napas, merasa kagum bukan main. Ia sendiri harus mengakui bahwa ia tidak berani melompat ke atas pagar tembok setinggi itu dan hinggap di atas ujung tombak! Terlalu berbahaya. Ia mendengar suara orang-orang berlarian di belakangnya. Ia tahu bahwa itu adalah para jagoan dan perajurit. la lalu berteriak.
"Maling jahat, hendak lari ke mana kau?"
Ketika para pengejar tiba di bawah pagar tembok, mereka melihat gadis itu memegang pedangnya yang hitam dan mengacung-acungkan ke atas pagar tembok.
"Di mana malingnya?" tanya mereka
"Ah, sungguh luar biasa. Dia pandai terbang ke atas pagar tembok dan hinggap di atas ujung tombak-tombak itu, Terpaksa aku hanya dapat mengejar sampai di sini." Kata Puspa Dewi. Para jagoan dan para perajurit sibuk membicarakan "maling" yang pandai menghilang dan pandai terbang itu. Tujuh orang jagoan bersama Puspa Dewi lalu menghadap Pangeran Hendratama yang bersembunyi di dalam kamar rahasia. Pangeran ini memang merasa jerih pada Nurseta, maka dia merasa lebih aman untuk bersembunyi dan mengharapkan tujuh orang jagoannya ditambah Puspa Dewi dan pasukan pengawalnya akan mampu menangkap atau membunuh pemuda sakti mandraguna itu.

<<<Bagian 65                                                                                          Bagian 67 >>>

No comments:

Post a Comment