Memang sebagai seorang puteri istana Kerajaan Wura-Wuri, sudah sepantasnya kalau ia membela kerajaan itu. Akan tetapi caranya ini yang ia tidak suka. Kalau Wura-Wuri diserang oleh kerajaan manapun, termasuk Kahuripan, tentu ia akan membela Wura-Wuri dengan suka rela, bahkan sebagai puteri angkat raja ia sudah sepatutnya siap untuk membela dengan taruhan nyawa. Akan tetapi cara licik seperti yang mereka lakukan sekarang ini, sungguh berlawanan dengan watak dan suara hatinya. Ini sungguh tidak adil, tidak sepantasnya dilakukan orang gagah, hanya patut dilakukan orang-orang pengecut yang suka mempergunakan kecurangan dan kelicikan. Akan tetapi, dua tugas pertama telah gagal dan bahkan ia hiraukan, apakah untuk tugas terakhir ini ia harus mundur juga? Hal inilah yang membuat Puspa Dewi termenung dalam keraguan. Apalagi sekarang ia diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu Pangeran Hendratama, menjaga keselamatan pangeran itu dari ancaman musuh-musuhnya. Tugas ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Parang Siluman! Akan tetapi karena Adipati Bhismaprahhawa sebagai Raja Wura-Wuri dan ayah angkatnya, dan Ratu Dewi Durgakumala sebagai guru dan ibu angkatnya menugaskan ia harus membantu Puteri Mandari, maka ia harus mentaati semua perintahnya. Diam-diam Puspa Dewi menjadi penasaran, dan tidak senang karena pekerjaan ini dilakukan dengan terpaksa, walaupun tidak disukainya. Akhirnya iapun meninggalkan taman-sari dan kembali ke kamarnya dalam istana pangeran itu.
Malam itu
udara dingin sekali. Segala sesuatu yang berada di luar rumah basah kuyup
karena sore tadi hujan turun dengan derasnya. Namun malam ini udara cerah dan
bulan yang hampir penuh tersenyum di langit. Kalau saja malam tidak sedingin
itu, tentu semua orang lebih senang berada di luar rumah menikmati malam terang
bulan yang mendatangkan suasana menggembirakan itu. Akan tetapi udara terlalu
dingin sehingga di jalan jalan, di luar rumah, tampak sepi. Nurseta berjalan
perlahan di atas jalan besar dalam kesepian itu. Dia menuju ke istana tempat
tinggal Pangeran Hendratama yang siang tadi sudah dia selidiki dimana letaknya.
Siang tadi, Senopati Sindukerta sudah melakukan penyelidikan dan memastikan
bahwa Pangeran Hendratama berada di istananya dan menurut penyelidikan itu,
sang pangeran tidak ada rencana untuk pergi keluar istana.
"Akan
tetapi aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama mengumpulkan sedikitnya tujuh
orang jagoan yang digdaya untuk menjadi pengawalnya, belum lagi para perajurit
anggota pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari dua losin, menjaga di
sekeliling istananya. Karena itu, amat berbahaya kalau engkau mengunjungi
istana itu, Nurseta."
"Harap
kanjeng eyang tenang. Saya dapat menjaga diri. Bagaimanapun juga, saya harus
dapat merampas kembali Sang Megatantra dari tangannya, apalagi mengingat
seperti dugaan eyang bahwa dia akan menggunakan Sang Megatantra untuk mencari
pengaruh dan dukungan bagi niatnya untuk memberontak."
"Bukti-bukti
bahwa dia akan memberontak belum ada, Nurseta. Kalau sudah ada buktinya, tentu
aku akan melaporkannya kepada Sang Prabu."
"Kanjeng
eyang, buktinya ada, yaitu bahwa dia telah mencuri Sang Megatantra dari saya.
Itu saja sudah membuktikan bahwa dia ingin memiliki Sang Megatantra untuk
memperkuat kedudukannya sehingga dia kelak dapat menjadi raja setelah berhasil
menggulingkan sang prabu. Saya dapat menjadi saksinya, eyang!"
Ki Sindukerta
tersenyum.
"Ingatlah,
Nurseta. Pangeran Hendratama adalah kakak tiri sang permaisuri, dia adalah
kakak ipar Sang Prabu Erlangga. Bukti itu belum cukup dan lemah. Bayangkan,
apakah Sang Prabu akan lebih percaya kepada kesaksian seorang pemuda seperti
engkau yang tidak dikenalnya daripada kepercayaannya terhadap kakak iparnya
sendiri?"
Nurseta
mengangguk-angguk, melihat kebenaran ucapan kakeknya.
"Kalau
begitu, saya akan mencoba mencari buktinya, eyang, di samping mencari dan
merampas kembali Sang Megatantra."
"Baiklah,
kalau niatmu sudah teguh. akan tetapi benar-benar engkau harus berhati-hati,
Nurseta."
"Baik,
kanjeng eyang. Semua nasihat eyang akan saya perhatikan dan saya mohon doa
restu kanjeng eyang."
Demikianlah,
malam hari itu kebetulan hawa udara yang dingin sekali memaksa orang-orang
tinggal di dalam rumah masing-masing sehingga kota raja menjadi sepi. Hal ini
memudahkan Nurseta melaksanakan rencananya berkunjung ke istana Pangeran
Hendratama. Tentu saja hawa udara yang amat dingin itu sama sekali tidak
mengganggu tubuhnya yang terlatih. Dengan tenaga saktinya dia dapat membuat
tubuhnya terasa hangat. Dengan tenang dia berjalan menuju ke istana pangeran
dan setelah tiba di luar istana, dia melihat betapa pintu gerbang yang
memisahkan jalan raya dengan halaman rumah yang luas itu dijaga oleh tiga orang
perajurit. Dari eyangnya dia sudah mendapat keterangan bahwa pintu gerbang itu
dijaga siang malam secara bergiliran. Juga para perajurit pengawal selalu
melakukan perondaan di balik pagar tembok yang mengelilingi Istana itu.
Memasuki pintu gerbang itu tentu akan memancing datangnya para perajurit dan
jagoan pengawal. Menurut keterangan eyangnya, satu-satunya jalan yang agak aman
dan tidak begitu terjaga ketat adalah melalui taman yang berada di belakang
istana, akan tetapi untuk memasuki taman itu dia harus dapat melewati pagar
tembok yang tingginya dua kali tinggi manusia dewasa dan di atasnya di pasangi
ujung tombak-tombak runcing. Nurseta mengambil jalan memutar mengelilingi
setengah lingkaran perumahan istana itu dan tiba di bagian belakang. Pagar tembok
di situ memang tinggi dan di bagian atas, terlihat di bawah sinar bulan
tombak-tombak runcing menjulang ke atas, berjejer rapat. Nurseta memejamkan
kedua matanya sejenak, menyatukan perhatiannya, menghimpun tenaga saktinya lalu
menyalurkan ke dalam kakinya dan mengerahkan tenaganya. Begitu dia menggenjot
kedua kakinya, tubuhnya meluncur ke atas dan dengan ringannya kedua kakinya
hinggap di atas dua batang ujung tombak! Bagaikan seekor burung raksasa Nurseta
berdiri seenak di atas dua batang ujung tombak, mengamati ke dalam dan sudah
siap siaga untuk melompat keluar lagi apabila terdapat penjaga-penjaga di
sebelah dalam. Akan tetapi di sebelah dalam pagar tembok itu hanya penuh dengan
tumbuh-tumbuhan berbagai macam bunga, tidak tampak seorangpun manusia. Dia
merasa lega dan cepat melompat ke dalam taman.
Dengan
hati-hati Nurseta menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman itu, menghampiri
bangunan yang tampak megah, walaupun tampak dari belakang. Lampu-lampu gantung
di bagian belakang gedung itu menambah terang sinar bulan yang kini sudah
berada tepat di atas kepala. Ketika Nurseta tiba dekat bangunan dia berhenti
sebentar dan berpikir untuk merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Dia harus dapat memasuki istana itu dan menangkap Pangeran Hendratama. Kalau
dia sudah dapat menguasai sang pangeran, maka para jago dan pasukan pengawal
tidak akan berani menyerangnya. Dia dapat menggunakan sang pangeran sebagai
sandera dan akan memaksa Pangeran Hendratama untuk menyerahkan kembali Sang
Megatantra. Dengan ancaman membunuhnya pangeran itu tentu akan memenuhi
permintaannya dan dengan menggunakan pangeran itu sebagai perisai, dia akan
dapat keluar lagi dengan aman! Setelah mengatur rencananya, Nurseta maju lagi.
Kini dia tiba di tempat terbuka antara taman dan bangunan, sebuah lapangan
rumput yang cukup luas. Dia berhenti di tengah-tengah lapangan rumput itu,
memandang ke atas untuk memilih bagian mana yang paling rendah dan paling mudah
untuk dilompati. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan bertubi-tubi dari
sekelilingnya dan muncullah banyak sekali prajurit yang membawa tombak, pedang
atau golok di tangan. Mereka muncul dari depan, kanan kiri dan belakang dan dia
sudah terkepung! semua ini terjadi begitu tiba-tiba dan cepat sehingga Nurseta
menduga bahwa memang kedatangannya sudah diketahui dan mereka memang sudah siap
menjebaknya sehingga kini dia terkepung oleh sedikitnya tiga puluh orang yang
semua memegang senjata! Tujuh orang yang berpakaian biasa, tidak seperti yang
lain, yang mengenakan pakaian seragam perajurit, maju menghadapi Nurseta dan
seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar berkumis melintang, berusia
sekitar tiga puluh tahun dan memegang sebatang golok besar, menyeringai dengan
pandang mata mengejek kepada Nurseta.
Orang itu
bukan lain adalah Lembara yang sudah pulih kesehatannya. Untung baginya bahwa
siang tadi Puspa Dewi membatasi tenaganya ketika menyerangnya dengan Aji Guntur
Geni sehingga hanya bajunya saja yang hangus dan hancur. Dadanya tidak terluka
hanya terguncang dan membuatnya sesak napas sebentar. Kini, mengepung pemuda
itu bersama enam orang rekannya dan dua losin perajurit, dia merasa bahwa tak
mungkin pemuda yang sejak melompat pagar taman memang sudah diketahui itu akan
dapat lolos.
"Heh-he-he-heh!
Maling busuk, menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!" bentak Ki
Lembara sambil mengamangkan goloknya.
Karena sudah
terkepung dan merasa kepalang, Nurseta menjawab dengan tenang.
"Aku
bukan maling, aku ingin bertemu dan bicara dengan Pangeran Hendratama. Minta
dia keluar menemui aku"
"Kurang
ajar! Orang rendah macam kamu berani menyuruh Gusti Pangeran keluar untuk
menemuimu? Kamu yang harus menyerah untuk kami belenggu dan kami seret ke
hadapan Gusti Pangeran"
"Aku
bukan penjahat dan tidak melakukan pencurian, hadapkan aku kepada Pangeran
Hendratama, akan tetapi aku tidak mau menjadi tangkapan dan dibelenggu!"
"Jahanam,
berani kamu, ya? Tangkap dia, serang!" perintah Ki Lembara kepada anak
buahnya.
Para pengepung
itu segera bergerak, seolah hendak berlumba merobohkan Nurseta. Melihat begitu
banyak orang mengepung dan menerjangnya dengan senjata runcing dan tajam,
Nurseta cepat mengerahkan Aji Sirna Sarira. Tubuhnya berkelebat menjadi
bayangan lalu tiba-tiba lenyap dari pandang mata para pengeroyoknya. Kemudian,
para pengeroyok itu berteriak mengaduh dan mereka brrpelantingan karena
ditampar oleh tangan yang tidak tampak Tentu saja mereka menjadi geger dan
panik, juga seram dan merinding (meremang) karena merasa seolah-olah mereka
melawan setan!
Ki Lembara dan
enam orang rekannya adalah jagoan-jagoan yang tangguh. Biarpun mereka tidak
dapat memunahkan ilmu yang dipergunakan Nurseta dan tidak dapat melihat
bayangan pemuda itu, namun mereka dapat mengelak dan menangkis tamparan Nurseta
dengan mendengarkan suara sambaran tangan yang tidak tampak itu. Juga mereka
bertujuh memutar pedang atau golok mereka, menyerang sekeliling tubuh mereka
sehingga Nurseta tentu saja tidak dapat mendekati mereka dan hanya merobohkan
para perajurit. Dia bermaksud memancing munculnya Pangeran Hendratama dan kalau
pangeran itu muncul, akan ditawannya dan dijadikan sandera. Akan tetapi yang
muncul bukannya Pangeran Hendratama, melainkan orang yang sama sekali tidak
diduganya akan berada di situ dan ikut menyerangnya.
"Siapa
berani mengacau di sini?" terdengar Puspa Dewi membentak dan ia lalu mengerahkan
tenaga saktinya dan mempergunakan pekik Aji Guruh Bairawa.
"Hyaaaaaaaaaahhhhh!"
Pekik ini
memang hebat sekali, dan dilanda getaran lengkingan ini Aji Sirna Sarira yang
dipergunakan Nurseta menjadi buyar dan tubuhnya tampak lagi!
Mereka berdua
saling pandang dan sama-sama terkejut. Puspa Dewi tidak mengira bahwa yang
datang pada waktu tengah malam itu adalah Nurseta. Seketika ia tahu bahwa
Nurseta tentu datang untuk merampas kembali Sang Megatantra. Sebaliknya,
Nurseta juga terkejut melihat Puspa Dewi. Bagaimana gadis ini sekarang menjadi
pengawal Pangeran Hendratama? Akan tetapi melihat munculnya gadis itu, Nurseta
maklum bahwa usahanya akan gagal, maka dia lalu mempergunakan Aji Bayu Sakti
dan tubuhnya berkelebat cepat sekali meninggalkan tempat itu. Kalau dia
menggunakan Aji Sirna Sarira atau Triwikrama, mungkin dia masih akan mampu
menangkap Pangeran Hendratama. Akan tetapi Puspa Dewi berada di situ dan dia
tidak mau terlibat permusuhan dengan gadis itu. Para perajurit yang masih panik
tidak berani mengejar. Bahkan tujuh orang jagoan itupun agaknya jerih.
"Biar aku
yang mengejarnya!" kata Puspa Dewi dan iapun mempergunakan tenaga saktinya
untuk melompat dan mengejar dengan cepat sekali ke dalam taman.
"Nurseta!"
Puspa Dewi
berseru ketika melihat bayangan pemuda itu sudah mendekati pagar tembok.
Mendengar seruan ini, Nurseta berhenti dan memutar tubuh Dengan cepat Puspa
Dewi sudah berada di depannya.
"Puspa
Dewi, engkau mengejar hendak menangkap aku?" Nurseta bertanya
"Tidak,
Nurseta. Aku tahu bahwa engkau datang pasti hendak merampas kembali Sang
Megatantra dari tangan pangeran itu."
"Baik
sekali kalau engkau mengetahui hal itu, Puspa Dewi. Akan tetapi kenapa engkau
berada di sini, menjadi pengawal pangeran jahat itu?"
"Aku
bukan pengawalnya. Aku hanya terpaksa karena diutus oleh Puteri Mandari untuk
membantu. Akan tetapi engkau tidak mungkin akan dapat merampas pusaka itu,
Nurseta. Penjagaan amat kuatnya, bahkan sebelum engkau masuk ke sini, pangeran
itu sudah tahu dan sudah melakukan penjagaan ketat. Pusaka itu tentu
disembunyikan, entah dimana. Sekarang pergilah, biar aku membantumu menyelidiki
dimana dia menyimpan pusaka itu."
"Terima
kasih, Puspa Dewi. Aku tahu dan yakin engkau bukan gadis sesat. Karena itu tadi
aku memilih melarikan diri daripada harus bertanding melawanmu. Selamat
berpisah!"
Nurseta lalu
mengerahkan tenaganya, melompat ke atas pagar tembok dan hinggap di atas dua
ujung tombak yang runcing, lalu menoleh, melambaikan tangan dan meloncat
keluar. Puspa Dewi menghela napas, merasa kagum bukan main. Ia sendiri harus
mengakui bahwa ia tidak berani melompat ke atas pagar tembok setinggi itu dan
hinggap di atas ujung tombak! Terlalu berbahaya. Ia mendengar suara orang-orang
berlarian di belakangnya. Ia tahu bahwa itu adalah para jagoan dan perajurit.
la lalu berteriak.
"Maling
jahat, hendak lari ke mana kau?"
Ketika para
pengejar tiba di bawah pagar tembok, mereka melihat gadis itu memegang
pedangnya yang hitam dan mengacung-acungkan ke atas pagar tembok.
"Di mana
malingnya?" tanya mereka
"Ah,
sungguh luar biasa. Dia pandai terbang ke atas pagar tembok dan hinggap di atas
ujung tombak-tombak itu, Terpaksa aku hanya dapat mengejar sampai di
sini." Kata Puspa Dewi. Para jagoan dan para perajurit sibuk membicarakan
"maling" yang pandai menghilang dan pandai terbang itu. Tujuh orang
jagoan bersama Puspa Dewi lalu menghadap Pangeran Hendratama yang bersembunyi
di dalam kamar rahasia. Pangeran ini memang merasa jerih pada Nurseta, maka dia
merasa lebih aman untuk bersembunyi dan mengharapkan tujuh orang jagoannya
ditambah Puspa Dewi dan pasukan pengawalnya akan mampu menangkap atau membunuh
pemuda sakti mandraguna itu.
No comments:
Post a Comment