Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 65


Puspa Dewi bangkit berdiri, alisnya berkerut matanya bersinar mencorong akan tetapi mulutnya tersenyum manis. Bagi orang yang sudah mengenalnya dengan baik, akan merasa tegang melihat gadis itu tersenyum seperti ini. Senyum manis hanya bibirnya saja akan tetapi bagian muka yang lain sama sekali tidak tersenyum, terutama matanya yang mencorong menyeramkan itu. Hal ini menandakan bahwa gadis itu mulai terbakar kemarahan dan kalau sudah begitu ia dapat berbahaya sekali! Akan tetapi dasar sombong, Lembara bahkan menganggap gadis itu mulai mau melayaninya, maka dia berkata lagi dengan berlagak, bibirnya dicibirkan dengan mengira bahwa kalau sudah begitu dia tampak gagah dan tampan!
"Marilah, manis, kita menjadi sahabat yang akrab dan mesra. Menyenangkan sekali, bukan? Aku akan mengajarkan padamu bagaimana caranya menikmati kesenangan dalam hidup ini."
"Anjing busuk! Kamu ingin dipijit? Nah, rasakanlah ini!"
Tangan kiri Puspa Dewi bergerak cepat menepuk ke arah dada Lembara. Melihat betapa dara itu hanya menepuk seperti benar-benar hendak memijit atau membelai dadanya, Lembara menyeringai senang, bahkan membusungkan dadanya yang kokoh.
"Tukk .....!" Jari telunjuk tangan kiri Puspa Dewi hanya menyentuh dada itu, akan tetapi itu bukan sembarangan sentuhan karena sesungguhnya jari tangan kiri dara itu menotok jalan darah di dada.
Tiga orang teman Lembara terbelalak heran ketika melihat betapa Lembara yang tadinya menyeringai itu tiba-tiba berteriak mengaduh, wajahnya pucat, kedua tangan mendekap dada dan dia terkulai roboh! Puspa Dewi menggerakkan kaki kanannya yang mencuat sebagai tendangan.
"Bukk!"
Tubuh Lembara terlempar dan jatuh ke dalam kolam ikan yang berada tak jauh dari situ.
"Byuurrrr .....!"
Lembara merangkak naik dan keluar dari kolam ikan. Pakaian dan rambutnya basah kuyup akan tetapi rasa nyeri di dadanya lenyap, hanya masih terasa agak sesak kalau bernapas. Dia marah bukan main. Tiga orang temannya tak dapat menahan tawa mereka melihat kejadian yang mereka anggap lucu itu, walaupun mereka masih terheran-heran bagaimana dapat terjadi. Mereka tahu bahwa Lembara adalah seorang jagoan yang benar benar tangguh.
Pangeran Hendratama muncul keluar dari pintu belakang. Dia tadi mendengar teriakan Lembara dan karena suasana sudah amat mencekam baginya, dalam kekhawatirannya kalau kalau Nurseta datang menyerbu, dia cepat keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ketika dia keluar, dia melihat Lembara keluar dari kolam ikan dengan badan basah kuyup dan tiga orang jagoan lainnya menertawakan. Di depan Lembara berdiri Puspa Dewi. Gadis itu bertolak pinggang dan sikapnya tenang dan anggun. Sejak kedatangannya, Pangeran Hendratama memang sudah tergila-gila kepada Puspa Dewi. Hanya karena mengingat bahwa dara jelita itu adalah utusan Puteri Mandari, maka dia menahan diri dan belum berani main-main dengan Puspa Dewi. Kini melihat agaknya terjadi sesuatu antara Puspa Dewi dan Lembara bersama tiga orang jagoan lainnya, Pangeran Hendratama menyelinap di balik sebatang pohon dalam taman itu dan mengintai. Dia tidak mau memperlihatkan diri lebih dulu karena kalau dia lakukan itu, tentu mereka semua tidak berani melanjutkan pertikaian mereka.
Lembara semakin marah mendengar tiga orang temannya tertawa-tawa.
"Sialan! Kenapa kalian malah tertawa? Lihat aku akan menghajar wanita tak tahu diri ini!"
Setelah berkata demikian, dengan muka merah dan mata yang lebar itu terbelalak, Lembara yang agaknya nafsu berahinya telah didinginkan oleh air kolam, melompat ke depan Puspa Dewi,
"Puspa Dewi, aku mengajakmu bersahabat, sebaliknya engkau malah secara curang menyerang dan menghinaku. Akan tetapi mengingat bahwa aku adalah seorang pendekar yang jantan sedangkan engkau seorang perempuan, aku akan melupakan semua ini dan memaafkanmu kalau engkau suka minta maaf dan bersedia menjadi sahabat baikku!" Lembara yang tidak mengenal tingginya langit dalamnya lautan, yang menganggap kepandaiannya sendiri paling tinggi dan pengetahuannya sendiri paling dalam, masih bersikap seperti seorang jagoan yang gagah perkasa. Akan tetapi, kemarahan Puspa Dewi belum reda.
"Anjing buduk! Kamu yang harus minta maaf kepadaku atas kekurang-ajaranmu. Kalau tidak, aku akan memberi hajaran yang lebih keras lagi!"
Lembara tak dapat menahan lagi kemarahannya yang berkobar.
"Keparat, engkau memang tidak tahu disayang orang!"
"Habis, kamu mau apa?" tantang Puspa Dewi.
"Lihat pukulanku!"

Lembara lalu menyerang dengan tamparan bertubi-tubi, menggunakan kedua tangannya yang menyambar dari kanan kiri. Gerakan jagoan ini memang cepat dan juga tamparannya mengandung tenaga yang kuat. Lembara memang seorang jagoan yang cukup tangguh. Bahkan di antara para jagoan muda yang menghambakan diri kepada Pangeran Hendratama, dia adalah yang terkuat. Setelah kini Lembara menyerang dengan sungguh-sungguh, Puspa Dewi juga menyadari bahwa lawannya ini bukan orang lemah dan kalau tadi ia dapat merobohkannya dengan mudah adalah karena Lembara tadi memandang rendah kepadanya dan sama sekali tidak siap mengerahkan tenaga saktinya sehingga dengan mudah ia dapat menotok jalan darah dan merobohkannya. Memang, kelemahan yang paling berbahaya bagi seorang jagoan adalah kalau dia meremehkan kepandaian lawan dan karenanya menjadi lengah. Setelah kini Lembara menyerangnya dengan bertubi dan dengan pengerahan tenaga sakti, karena agaknya pria itu hendak membalas dendam karena dirobohkan dan ditendang masuk ke dalam kolam sehingga hal itu tentu saja dianggapnya sebagai penghinaan, Puspa Dewi juga melayaninya dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan ringan. Pada waktu itu, Puspa Dewi sudah mewarisi semua ilmu yang dikuasai Nyi Dewi Durgakumala. Tentu saja gurunya yang menjadi ibu angkatnya itu menang pengalaman, akan tetapi di lain pihak Puspa Dewi menang muda dan lebih kuat daya tahan dan pernapasannya sehingga kalau dibuat perbandingan, tingkat yang dimiliki Puspa Dewi seimbang dengan kepandaian Nyi Dewi Durgakumala sendiri.
Maka dapat dibayangkan betapa saktinya dara perkasa ini. Setelah bertanding saling serang selama lima puluh jurus lebih, Puspa Dewi tahu bahwa lawannya memang tangguh dan kokoh kuat pula pertahanannya. Kalau ia mau mengeluarkan aji pamungkasnya untuk membunuh, seperti pukulan beracun Wisa kenaka, tentu ia akan dapat merobohkan lawannya. Akan tetapi, ia tidak ingin membunuh jagoan anak buah Pangeran Hendratama karena hal itu tentu akan menimbulkan urusan besar yang menimbulkan geger dan tidak enak. Maka setelah mendapatkan saat lawannya mengerahkan semua tenaga dalamnya menyerang dengan pukulan lurus ke arah dadanya, Puspa Dewi cepat melompat ke kiri, kemudian ia balas menyerang dengan pekik melengking yang menggetarkan seluruh taman. Itulah Pekik Guruh Bairawa yang amat kuat getarannya, mengguncang jantung lawan. Diserang dengan pekik yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Lembara terkejut dan dia terhuyung. Kesempatan ini dipergunakan oleh Puspa Dewi untuk mengirim tendangan berantai dengan kedua kakinya bergantian. Lembara yang terhuyung masih dapat mengelakkan dua kali tendangan dan menangkis sekali tendangan, akan tetapi tendangan ke empat kalinya mengenai pahanya.
"Bukk .....!" Tak dapat dihindarkan lagi, Lembara jatuh terjengkang!
Pangeran Hendratama yang menyaksikan pertandingan itu kagum bukan main. Hampir sukar dipercaya bahwa gadis muda remaja itu mampu mengalahkan Lembara, jagoannya yang paling tangguh. Bahkan dia sendiri akan sukar mengalahkan Lembara! Kini dia melihat Lembara mencabut goloknya yang besar. Pangeran itu merasa tegang, akan tetapi dia membiarkan saja, ingin sekali melihat apakah Puspa Dewi akan mampu menandingi Lembara.

Ketika Puspa Dewi melihat lawannya yang sudah dua kali ia jatuhkan itu masih nekat, bahkan kini mencabut sebatang olok besar, ia membentak marah.
"Anjing tolol, apakah engkau masih belum mengaku kalah dan nekat?"
Lembara yang merasa malu sekali memang sudah nekat. Dia dipermalukan di depan tiga orang temannya. Maka tanpa menjawab dia sudah memutar mutar golok besarnya sehingga terdengar suara mengaung dan golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Akan tetapi Puspa Dewi sudah menekuk kedua lututnya yang berada di depan dan belakang, kedua lengan dipentang seperti burung hendak terbang. Itulah jurus pembukaan atau kuda-kuda dari Aji Guntur Geni. Begitu Lembara menerjang ke depan dengan goloknya, dara itu mendorongkan kedua tangannya ke depan. Akan tetapi karena tidak ingin membunuh, ia membatasi tenaganya.
"Wuuuuttt ..... desss .....!"
Tubuh Lembara yang menerjang ke depan itu tiba tiba terpental ke belakang dan terbanting keras. Goloknya terpental jauh dan dia jatuh pingsan oleh gempuran tenaga pukulan jarak jauh yang dahsyat itu. Tiga orang temannya segera berjongkok dan menolongnya. Pangeran Hendratama muncul dan berlari mendekat. Melihat munculnya Pangeran Hendratama, Puspa Dewi lalu memberi hormat dengan membungkuk.
"Maaf, pangeran. Orang itu kurang ajar dan hendak mengganggu saya, terpaksa saya memberi hajaran kepadanya."
Pangeran Hendratama mendekati Lembara yang pada saat itu baru siuman dari pingsannya dan bangkit dipapah tiga orang temannya. Baju di bagian dadanya hangus dan hancur, akan tetapi dia tidak terluka parah. Hanya guncangan akibat hawa pukulan dahsyat tadi saja yang membuatnya pingsan.
"Lembara, masih untung andika tidak tewas. Berani benar andika mengganggu puteri Nyi Dewi Durgakumala yang sekarang menjadi permaisuri Kerajaan Wira-Wuri. Hayo cepat mohon ampun kepada Ni Puspa Dewi." kata Pangeran Hendratama kepada Lembara.
Mendengar ini, Lembara terkejut bukan main. Baru mendengar nama Nyi Dewi Durgakumala saja, dia sudah merasa ngeri. Kiranya gadis itu puteri datuk wanita yang sakti mandraguna itu. Dan tadi dia telah mencoba untuk merayu gadis yang ternyata puteri sekar kedaton Kerajaan Wura-Wuri itu! Maka, biarpun dadanya masih terasa sesak dan kepalanya masih pening, dia segera merangkap kedua tangan ke depan hidungnya sambil membungkukkan badan, menyembah kepada Puspa Dewi.
"Ampunkan hamba yang tidak mengenal paduka dan berani bersikap tidak patut, gusti puteri....."
Puspa Dewi memang tidak ingin mencari keributan, maka ia hanya menjawab singkat,
"Sudah, pergilah!"
Sambil membungkuk-bungkuk Lembara dipapah tiga orang temannya, pergi dari taman itu. Setelah kini tinggal mereka berdua dalam taman, Pangeran Hendratama berkata kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi maafkanlah mereka. Mereka hanya orang orang kasar yang tidak tahu sopan santun."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan menjawab dengan suara halus namun kata-katanya cukup menggigit.
"Tidak apa, paman pangeran, akan tetapi seyogianya paduka memperingatkan mereka sikap sombong mereka dapat menyeret nama paduka menjadi celaan orang."

Wajah Hendratama menjadi kemerahan. Ucapan gadis itu sama saja dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah mengajarkan sikap baik kepada orang-orangnya. Akan tetapi setelah menyaksikan sendiri kesaktian Puspa Dewi, bukan saja sikapnya menjadi hati-hati dan hormat, juga gairahnya terhadap dara jelita itu dia hilangkan dari dalam hatinya.
"Aku akan memberi peringatan keras kepada mereka. Selain itu, Puspa Dewi, yang terpenting adalah bahwa malam ini kita harus waspada. Aku khawatir akan muncul orang-orang yang hendak mengancam nyawaku. Untuk memperkuat penjagaan menghadapi ancaman itulah maka kami minta bantuan Puteri Mandari yang mengutusmu."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Dari cerita yang didengarnya ketika Nurseta menceritakan tentang dicurinya pusaka Sang Megatantra oleh pangeran ini, ia tahu bahwa Pangeran Hendratama adalah seorang yang licik dan curang. Orang seperti ini tentu saja mempunyai banyak musuh.
"Paman, siapakah orang yang mengancam keselamatan paduka?" tanyanya.
"Wah, banyak orang yang memusuhi aku, Puspa Dewi."
"Mengapa banyak orang memusuhi paduka, paman pangeran?" tanya gadis itu. Dalam hatinya ia berkata: Hanya orang jahat yang dimusuhi banyak orang!
"Mereka itu merasa iri hati kepadaku. Mungkin karena aku kembali ke kota raja, mungkin karena kekayaanku."
"Saya melihat paduka memiliki koleksi pusaka yang amat banyak sehingga memenuhi sebuah gudang pusaka yang dijaga ketat. Apakah mereka itu memusuhi paduka untuk mencuri pusaka?" gadis itu memancing.
Ditanya tentang pusaka, Pangeran Hendratama menjawab singkat,
"Mungkin sekali. Siapa yang tidak ingin memiliki pusaka-pusaka yang ampuh? Sudahlah, Puspa Dewi, kuharap andika suka waspada malam ini. Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan."
Pangeran Hendratama lalu meninggalkannya, kembali ke dalam gedung. Setelah Pangeran Hendratama pergi, Puspa Dewi duduk lagi di atas bangku dan ia mengenang kembali apa yang telah terjadi. Pangeran Hendratama itu tampaknya bersikap ramah, lembut dan sopan. Akan tetapi hal ini tidak mendatangkan perasaan suka di hatinya karena ia sudah mendengar dari Nurseta tentang pangeran ini. Kehalusan sikapnya itu justeru berbahaya. Nurseta sendiri sampai lengah dan dapat tertipu karena percaya melihat sikap baik pangeran itu. Yang jelas, pangeran itu mempunyai jagoan-jagoan pengawal yang terdiri dari orang-orang yang kasar dan tidak sopan, la mulai merasa ragu akan tugas yang diberikan ibu angkatnya ini. Tugas pertama, merampas pusaka Megatantra dari tangan Nurseta gagal karena bukan saja keris pusaka itu memang sudah tidak berada pada pemuda itu, juga ia malah menyadari bahwa tugas yang diberikan gurunya itu tidak benar.
Pusaka Megatantra itu hak milik Sang Prabu Erlangga, mengapa harus direbut? Itu sama saja dengan pencuri atau perampok yang hendak mengambil hak milik orang lain. Maka ia telah memutuskan untuk menghiraukan tugas pertama itu. Kemudian tugas kedua bahwa ia harus membunuh Ki Patih Narotama. Tugas kedua inipun gagal ia lakukan karena selain Ki Patih Narotama terlalu sakti baginya dan sama sekali bukan lawannya, juga ia disadarkan oleh patih yang bijaksana itu. Malah menurut keterangan Ki Patih Narotama, gurunya atau ibu angkatnya itulah yang sesat dan jahat. Keterangan inipun terpaksa ia percaya karena ia melihat sendiri bahwa gurunya itu memang seorang wanita sesat, suka mempermainkan pemuda-pemuda remaja, kejam dan mudah membunuh orang. Maka, tugas kedua inipun ia hiraukan. Betapapun juga, ia harus mengakui bahwa gurunya yang sesat itu amat sayang kepadanya, telah mewariskan semua kesaktiannya kepadanya. Karena inilah maka ia mau melaksanakan perintahnya, sekadar untuk membalas budinya yang berlimpah. Kini tinggal tugas ketiga, tugas terakhir, yaitu membantu gerakan Puteri Lasmini dan Puteri Mandari, dari Kerajaan Parang Siluman untuk menghancurkan Kahuripan, musuh bebuyutan kerajaan-kerajaan kecil itu. Akan tetapi iapun mulai merasa ragu akan pelaksanaan tugas terakhir ini.

<<<Bagian 64                                                                                         Bagian 66 >>>

No comments:

Post a Comment