Puspa Dewi bangkit berdiri, alisnya berkerut matanya bersinar mencorong akan tetapi mulutnya tersenyum manis. Bagi orang yang sudah mengenalnya dengan baik, akan merasa tegang melihat gadis itu tersenyum seperti ini. Senyum manis hanya bibirnya saja akan tetapi bagian muka yang lain sama sekali tidak tersenyum, terutama matanya yang mencorong menyeramkan itu. Hal ini menandakan bahwa gadis itu mulai terbakar kemarahan dan kalau sudah begitu ia dapat berbahaya sekali! Akan tetapi dasar sombong, Lembara bahkan menganggap gadis itu mulai mau melayaninya, maka dia berkata lagi dengan berlagak, bibirnya dicibirkan dengan mengira bahwa kalau sudah begitu dia tampak gagah dan tampan!
"Marilah,
manis, kita menjadi sahabat yang akrab dan mesra. Menyenangkan sekali, bukan?
Aku akan mengajarkan padamu bagaimana caranya menikmati kesenangan dalam hidup
ini."
"Anjing
busuk! Kamu ingin dipijit? Nah, rasakanlah ini!"
Tangan kiri
Puspa Dewi bergerak cepat menepuk ke arah dada Lembara. Melihat betapa dara itu
hanya menepuk seperti benar-benar hendak memijit atau membelai dadanya, Lembara
menyeringai senang, bahkan membusungkan dadanya yang kokoh.
"Tukk .....!"
Jari telunjuk tangan kiri Puspa Dewi hanya menyentuh dada itu, akan tetapi itu
bukan sembarangan sentuhan karena sesungguhnya jari tangan kiri dara itu
menotok jalan darah di dada.
Tiga orang
teman Lembara terbelalak heran ketika melihat betapa Lembara yang tadinya
menyeringai itu tiba-tiba berteriak mengaduh, wajahnya pucat, kedua tangan
mendekap dada dan dia terkulai roboh! Puspa Dewi menggerakkan kaki kanannya
yang mencuat sebagai tendangan.
"Bukk!"
Tubuh Lembara
terlempar dan jatuh ke dalam kolam ikan yang berada tak jauh dari situ.
"Byuurrrr
.....!"
Lembara
merangkak naik dan keluar dari kolam ikan. Pakaian dan rambutnya basah kuyup
akan tetapi rasa nyeri di dadanya lenyap, hanya masih terasa agak sesak kalau
bernapas. Dia marah bukan main. Tiga orang temannya tak dapat menahan tawa
mereka melihat kejadian yang mereka anggap lucu itu, walaupun mereka masih
terheran-heran bagaimana dapat terjadi. Mereka tahu bahwa Lembara adalah
seorang jagoan yang benar benar tangguh.
Pangeran
Hendratama muncul keluar dari pintu belakang. Dia tadi mendengar teriakan
Lembara dan karena suasana sudah amat mencekam baginya, dalam kekhawatirannya
kalau kalau Nurseta datang menyerbu, dia cepat keluar untuk melihat apa yang
terjadi. Ketika dia keluar, dia melihat Lembara keluar dari kolam ikan dengan
badan basah kuyup dan tiga orang jagoan lainnya menertawakan. Di depan Lembara
berdiri Puspa Dewi. Gadis itu bertolak pinggang dan sikapnya tenang dan anggun.
Sejak kedatangannya, Pangeran Hendratama memang sudah tergila-gila kepada Puspa
Dewi. Hanya karena mengingat bahwa dara jelita itu adalah utusan Puteri
Mandari, maka dia menahan diri dan belum berani main-main dengan Puspa Dewi.
Kini melihat agaknya terjadi sesuatu antara Puspa Dewi dan Lembara bersama tiga
orang jagoan lainnya, Pangeran Hendratama menyelinap di balik sebatang pohon
dalam taman itu dan mengintai. Dia tidak mau memperlihatkan diri lebih dulu
karena kalau dia lakukan itu, tentu mereka semua tidak berani melanjutkan
pertikaian mereka.
Lembara
semakin marah mendengar tiga orang temannya tertawa-tawa.
"Sialan!
Kenapa kalian malah tertawa? Lihat aku akan menghajar wanita tak tahu diri
ini!"
Setelah
berkata demikian, dengan muka merah dan mata yang lebar itu terbelalak, Lembara
yang agaknya nafsu berahinya telah didinginkan oleh air kolam, melompat ke
depan Puspa Dewi,
"Puspa
Dewi, aku mengajakmu bersahabat, sebaliknya engkau malah secara curang
menyerang dan menghinaku. Akan tetapi mengingat bahwa aku adalah seorang
pendekar yang jantan sedangkan engkau seorang perempuan, aku akan melupakan
semua ini dan memaafkanmu kalau engkau suka minta maaf dan bersedia menjadi
sahabat baikku!" Lembara yang tidak mengenal tingginya langit dalamnya
lautan, yang menganggap kepandaiannya sendiri paling tinggi dan pengetahuannya
sendiri paling dalam, masih bersikap seperti seorang jagoan yang gagah perkasa.
Akan tetapi, kemarahan Puspa Dewi belum reda.
"Anjing
buduk! Kamu yang harus minta maaf kepadaku atas kekurang-ajaranmu. Kalau tidak,
aku akan memberi hajaran yang lebih keras lagi!"
Lembara tak
dapat menahan lagi kemarahannya yang berkobar.
"Keparat,
engkau memang tidak tahu disayang orang!"
"Habis,
kamu mau apa?" tantang Puspa Dewi.
"Lihat
pukulanku!"
Lembara lalu
menyerang dengan tamparan bertubi-tubi, menggunakan kedua tangannya yang
menyambar dari kanan kiri. Gerakan jagoan ini memang cepat dan juga tamparannya
mengandung tenaga yang kuat. Lembara memang seorang jagoan yang cukup tangguh.
Bahkan di antara para jagoan muda yang menghambakan diri kepada Pangeran
Hendratama, dia adalah yang terkuat. Setelah kini Lembara menyerang dengan
sungguh-sungguh, Puspa Dewi juga menyadari bahwa lawannya ini bukan orang lemah
dan kalau tadi ia dapat merobohkannya dengan mudah adalah karena Lembara tadi
memandang rendah kepadanya dan sama sekali tidak siap mengerahkan tenaga
saktinya sehingga dengan mudah ia dapat menotok jalan darah dan merobohkannya.
Memang, kelemahan yang paling berbahaya bagi seorang jagoan adalah kalau dia
meremehkan kepandaian lawan dan karenanya menjadi lengah. Setelah kini Lembara
menyerangnya dengan bertubi dan dengan pengerahan tenaga sakti, karena agaknya
pria itu hendak membalas dendam karena dirobohkan dan ditendang masuk ke dalam
kolam sehingga hal itu tentu saja dianggapnya sebagai penghinaan, Puspa Dewi
juga melayaninya dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan ringan. Pada waktu
itu, Puspa Dewi sudah mewarisi semua ilmu yang dikuasai Nyi Dewi Durgakumala.
Tentu saja gurunya yang menjadi ibu angkatnya itu menang pengalaman, akan
tetapi di lain pihak Puspa Dewi menang muda dan lebih kuat daya tahan dan
pernapasannya sehingga kalau dibuat perbandingan, tingkat yang dimiliki Puspa
Dewi seimbang dengan kepandaian Nyi Dewi Durgakumala sendiri.
Maka dapat
dibayangkan betapa saktinya dara perkasa ini. Setelah bertanding saling serang
selama lima puluh jurus lebih, Puspa Dewi tahu bahwa lawannya memang tangguh
dan kokoh kuat pula pertahanannya. Kalau ia mau mengeluarkan aji pamungkasnya
untuk membunuh, seperti pukulan beracun Wisa kenaka, tentu ia akan dapat
merobohkan lawannya. Akan tetapi, ia tidak ingin membunuh jagoan anak buah
Pangeran Hendratama karena hal itu tentu akan menimbulkan urusan besar yang
menimbulkan geger dan tidak enak. Maka setelah mendapatkan saat lawannya
mengerahkan semua tenaga dalamnya menyerang dengan pukulan lurus ke arah
dadanya, Puspa Dewi cepat melompat ke kiri, kemudian ia balas menyerang dengan
pekik melengking yang menggetarkan seluruh taman. Itulah Pekik Guruh Bairawa
yang amat kuat getarannya, mengguncang jantung lawan. Diserang dengan pekik
yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Lembara terkejut dan dia terhuyung.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Puspa Dewi untuk mengirim tendangan berantai
dengan kedua kakinya bergantian. Lembara yang terhuyung masih dapat mengelakkan
dua kali tendangan dan menangkis sekali tendangan, akan tetapi tendangan ke
empat kalinya mengenai pahanya.
"Bukk
.....!" Tak dapat dihindarkan lagi, Lembara jatuh terjengkang!
Pangeran
Hendratama yang menyaksikan pertandingan itu kagum bukan main. Hampir sukar
dipercaya bahwa gadis muda remaja itu mampu mengalahkan Lembara, jagoannya yang
paling tangguh. Bahkan dia sendiri akan sukar mengalahkan Lembara! Kini dia
melihat Lembara mencabut goloknya yang besar. Pangeran itu merasa tegang, akan
tetapi dia membiarkan saja, ingin sekali melihat apakah Puspa Dewi akan mampu
menandingi Lembara.
Ketika Puspa
Dewi melihat lawannya yang sudah dua kali ia jatuhkan itu masih nekat, bahkan
kini mencabut sebatang olok besar, ia membentak marah.
"Anjing
tolol, apakah engkau masih belum mengaku kalah dan nekat?"
Lembara yang
merasa malu sekali memang sudah nekat. Dia dipermalukan di depan tiga orang
temannya. Maka tanpa menjawab dia sudah memutar mutar golok besarnya sehingga
terdengar suara mengaung dan golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung.
Akan tetapi Puspa Dewi sudah menekuk kedua lututnya yang berada di depan dan
belakang, kedua lengan dipentang seperti burung hendak terbang. Itulah jurus
pembukaan atau kuda-kuda dari Aji Guntur Geni. Begitu Lembara menerjang ke
depan dengan goloknya, dara itu mendorongkan kedua tangannya ke depan. Akan
tetapi karena tidak ingin membunuh, ia membatasi tenaganya.
"Wuuuuttt
..... desss .....!"
Tubuh Lembara
yang menerjang ke depan itu tiba tiba terpental ke belakang dan terbanting
keras. Goloknya terpental jauh dan dia jatuh pingsan oleh gempuran tenaga
pukulan jarak jauh yang dahsyat itu. Tiga orang temannya segera berjongkok dan
menolongnya. Pangeran Hendratama muncul dan berlari mendekat. Melihat munculnya
Pangeran Hendratama, Puspa Dewi lalu memberi hormat dengan membungkuk.
"Maaf,
pangeran. Orang itu kurang ajar dan hendak mengganggu saya, terpaksa saya
memberi hajaran kepadanya."
Pangeran
Hendratama mendekati Lembara yang pada saat itu baru siuman dari pingsannya dan
bangkit dipapah tiga orang temannya. Baju di bagian dadanya hangus dan hancur,
akan tetapi dia tidak terluka parah. Hanya guncangan akibat hawa pukulan
dahsyat tadi saja yang membuatnya pingsan.
"Lembara,
masih untung andika tidak tewas. Berani benar andika mengganggu puteri Nyi Dewi
Durgakumala yang sekarang menjadi permaisuri Kerajaan Wira-Wuri. Hayo cepat
mohon ampun kepada Ni Puspa Dewi." kata Pangeran Hendratama kepada
Lembara.
Mendengar ini,
Lembara terkejut bukan main. Baru mendengar nama Nyi Dewi Durgakumala saja, dia
sudah merasa ngeri. Kiranya gadis itu puteri datuk wanita yang sakti mandraguna
itu. Dan tadi dia telah mencoba untuk merayu gadis yang ternyata puteri sekar
kedaton Kerajaan Wura-Wuri itu! Maka, biarpun dadanya masih terasa sesak dan
kepalanya masih pening, dia segera merangkap kedua tangan ke depan hidungnya
sambil membungkukkan badan, menyembah kepada Puspa Dewi.
"Ampunkan
hamba yang tidak mengenal paduka dan berani bersikap tidak patut, gusti
puteri....."
Puspa Dewi
memang tidak ingin mencari keributan, maka ia hanya menjawab singkat,
"Sudah,
pergilah!"
Sambil
membungkuk-bungkuk Lembara dipapah tiga orang temannya, pergi dari taman itu.
Setelah kini tinggal mereka berdua dalam taman, Pangeran Hendratama berkata
kepada Puspa Dewi.
"Puspa
Dewi maafkanlah mereka. Mereka hanya orang orang kasar yang tidak tahu sopan
santun."
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya dan menjawab dengan suara halus namun kata-katanya cukup
menggigit.
"Tidak
apa, paman pangeran, akan tetapi seyogianya paduka memperingatkan mereka sikap
sombong mereka dapat menyeret nama paduka menjadi celaan orang."
Wajah
Hendratama menjadi kemerahan. Ucapan gadis itu sama saja dengan mengatakan
bahwa dia tidak pernah mengajarkan sikap baik kepada orang-orangnya. Akan
tetapi setelah menyaksikan sendiri kesaktian Puspa Dewi, bukan saja sikapnya
menjadi hati-hati dan hormat, juga gairahnya terhadap dara jelita itu dia
hilangkan dari dalam hatinya.
"Aku akan
memberi peringatan keras kepada mereka. Selain itu, Puspa Dewi, yang terpenting
adalah bahwa malam ini kita harus waspada. Aku khawatir akan muncul orang-orang
yang hendak mengancam nyawaku. Untuk memperkuat penjagaan menghadapi ancaman
itulah maka kami minta bantuan Puteri Mandari yang mengutusmu."
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya. Dari cerita yang didengarnya ketika Nurseta menceritakan
tentang dicurinya pusaka Sang Megatantra oleh pangeran ini, ia tahu bahwa
Pangeran Hendratama adalah seorang yang licik dan curang. Orang seperti ini
tentu saja mempunyai banyak musuh.
"Paman,
siapakah orang yang mengancam keselamatan paduka?" tanyanya.
"Wah,
banyak orang yang memusuhi aku, Puspa Dewi."
"Mengapa
banyak orang memusuhi paduka, paman pangeran?" tanya gadis itu. Dalam
hatinya ia berkata: Hanya orang jahat yang dimusuhi banyak orang!
"Mereka
itu merasa iri hati kepadaku. Mungkin karena aku kembali ke kota raja, mungkin
karena kekayaanku."
"Saya
melihat paduka memiliki koleksi pusaka yang amat banyak sehingga memenuhi
sebuah gudang pusaka yang dijaga ketat. Apakah mereka itu memusuhi paduka untuk
mencuri pusaka?" gadis itu memancing.
Ditanya
tentang pusaka, Pangeran Hendratama menjawab singkat,
"Mungkin
sekali. Siapa yang tidak ingin memiliki pusaka-pusaka yang ampuh? Sudahlah,
Puspa Dewi, kuharap andika suka waspada malam ini. Aku masih mempunyai banyak
urusan yang harus kuselesaikan."
Pangeran
Hendratama lalu meninggalkannya, kembali ke dalam gedung. Setelah Pangeran
Hendratama pergi, Puspa Dewi duduk lagi di atas bangku dan ia mengenang kembali
apa yang telah terjadi. Pangeran Hendratama itu tampaknya bersikap ramah,
lembut dan sopan. Akan tetapi hal ini tidak mendatangkan perasaan suka di
hatinya karena ia sudah mendengar dari Nurseta tentang pangeran ini. Kehalusan
sikapnya itu justeru berbahaya. Nurseta sendiri sampai lengah dan dapat tertipu
karena percaya melihat sikap baik pangeran itu. Yang jelas, pangeran itu
mempunyai jagoan-jagoan pengawal yang terdiri dari orang-orang yang kasar dan
tidak sopan, la mulai merasa ragu akan tugas yang diberikan ibu angkatnya ini.
Tugas pertama, merampas pusaka Megatantra dari tangan Nurseta gagal karena
bukan saja keris pusaka itu memang sudah tidak berada pada pemuda itu, juga ia
malah menyadari bahwa tugas yang diberikan gurunya itu tidak benar.
Pusaka
Megatantra itu hak milik Sang Prabu Erlangga, mengapa harus direbut? Itu sama
saja dengan pencuri atau perampok yang hendak mengambil hak milik orang lain.
Maka ia telah memutuskan untuk menghiraukan tugas pertama itu. Kemudian tugas
kedua bahwa ia harus membunuh Ki Patih Narotama. Tugas kedua inipun gagal ia
lakukan karena selain Ki Patih Narotama terlalu sakti baginya dan sama sekali
bukan lawannya, juga ia disadarkan oleh patih yang bijaksana itu. Malah menurut
keterangan Ki Patih Narotama, gurunya atau ibu angkatnya itulah yang sesat dan
jahat. Keterangan inipun terpaksa ia percaya karena ia melihat sendiri bahwa
gurunya itu memang seorang wanita sesat, suka mempermainkan pemuda-pemuda
remaja, kejam dan mudah membunuh orang. Maka, tugas kedua inipun ia hiraukan.
Betapapun juga, ia harus mengakui bahwa gurunya yang sesat itu amat sayang
kepadanya, telah mewariskan semua kesaktiannya kepadanya. Karena inilah maka ia
mau melaksanakan perintahnya, sekadar untuk membalas budinya yang berlimpah.
Kini tinggal tugas ketiga, tugas terakhir, yaitu membantu gerakan Puteri
Lasmini dan Puteri Mandari, dari Kerajaan Parang Siluman untuk menghancurkan
Kahuripan, musuh bebuyutan kerajaan-kerajaan kecil itu. Akan tetapi iapun mulai
merasa ragu akan pelaksanaan tugas terakhir ini.
No comments:
Post a Comment