"Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian berempat berlari seperti ketakutan? Sudah berhasilkah.....?" tanya sang puteri.
"Celaka,
kita gagal' Mereka itu sudah keluar dari dalam kamar tahanan!" kata Ratu
Mayang Gupita.
"Kita
harus cepat lari dari sini!" kata Puspa Dewi.
"Jangan
khawatir. Mari!" Puteri Mandari berkata dan mengajak mereka menyelinap di
belakang semak-semak tebal.
Di sana
ternyata terdapat sebuah pintu kecil yang memang disediakan untuk para abdi
kalau ada keperluan di luar istana dan pintu kecil ini hanya diketahui oleh
penghuni istana keputren. Biarpun tugas membunuh para tahanan itu gagal, namun
Puteri Mandari tidak merasa gentar karena mereka berempat itu berkerudung
sehingga Nurseta tentu tidak mengenal mereka dan kini mereka telah berhasil
melarikan diri dengan selamat. Keadaannya menjadi aman sudah walaupun rencana
ke dua itu gagal. Ia mengharapkan rencana pertama membunuh Ki Patih Narotama
berhasil dan terutama yang terpenting adalah rencana ketiga, yaitu mengerahkan
pasukan gabungan untuk menyerbu istana dan menggulingkan kedudukan Sang Prabu
Erlangga. Biarpun demi membela kerajaan ibunya ia tetap mencelakakan dan
membunuh Sang Prabu Erlangga akan tetapi kalau ingat akan kejantanan suaminya
itu, ingat akan ketampanan dan kegagahannya, kelembutannya kalau bermesraan, ia
menjadi sedih karena maklum bahwa akan sukar mencari seorang pria seperti Sang
Prabu Erlangga. Setelah empat orang pembunuh gagal itu keluar dari taman
melalui pintu kecil, Puteri Mandari masih berdiri termenung. Ia merasa kecewa
dan menyesal bahwa usaha empat orang itu gagal. Selagi ia hendak kembali ke
istana keputren, tiba-tiba ada bayangan berkelebat, ia sudah siap untuk
menyerang, akan tetapi niat itu urung ketika ia mengenal bahwa yang muncul di
depannya bukan lain adalah Lasmini, mbakayunya! Dari sinar lampu taman, ia
melihat wajah Lasmini pucat dan tegang.
"Mbakayu
Lasmini ....."
"Ketiwasan
(celaka), Mandari! Hayo cepat kita pergi dari sini. Cepat sebelum
terlambat!" kata Lasmini memotong ucapan adiknya.
"Eh, ada
apakah?" tanya Mandari terkejut dan heran.
"Jangan
banyak bertanya, nanti kuceritakan. Sekarang, mari kita cepat melarikan
diri!"
Mandari dengan
ragu menengok ke arah istana.
"Akan
tetapi aku harus mengambil pakaian..... dan perhiasan....."
"Aduh,
apa artinya semua itu dibandingkan keselamatan nyawamu? Cepat, sebentar lagi Ki
Patih Narotama datang dan Sang Prabu Erlangga mendengar tentang kita. Rahasia
kita telah pecah! Hayo kita lari!"
Mendengar ini,
Mandari terkejut dan iapun menjadi ketakutan. Jelas bahwa usaha Lasmini dan
Lingga jaya membunuh Narotama telah gagal. Kalau hanya gagal tidak mengapa,
akan tetapi kalau rahasia mereka berdua yang bersekutu dengan pemberontak, hal
itu sungguh berbahaya sekali. Maka, dengan hati tidak karuan rasanya mereka
cepat melarikan diri melalui pintu kecil itu yang juga diketahui Lasmini
sehingga ia tadi masuk dari situ. Dua orang puteri cantik jelita yang juga
sakti itu malam-malam terus melarikan diri menuju ke Kerajaan Parang Siluman di
selatan.
Tadi ketika
menerima surat dari Puspa Dewi, dan setelah mendengar para penjaga bicara
sambil tertawa-tawa karena menikmati minuman anggur kemudian suasana menjadi
sunyi, Nurseta lalu menggunakan tenaga saktinya untuk membongkar gembok yang
mengunci pintu besi kamar tahanan dengan mudah. Dia keluar dan membongkar
gembok di pintu kamar tahanan eyangnya, Ki Sindukerta. Mula-mula Senopati
Sindukerta hendak mencela perbuatan Nurseta karena dia tidak setuju kalau harus
melarikan diri dari tahanan atas perintah Sang Prabu Erlangga, kepada siapa dia
amat setia dan taat. Akan tetapi setelah Nurseta menjelaskan apa yang terjadi
dia terkejut bukan main bahkan mendesak kepada Nurseta agar cepat melaksanakan
apa yang diminta oleh Puspa Dewi, yaitu membantu Ki Patih Narotama menghadapi
musuh yang hendak membunuhnya. Nurseta menanti sampai para pembunuh datang. Dia
mendengar ucapan Puspa Dewi yang mengajak tiga orang pembunuh lainnya lari dan
dia sengaja tidak merobohkan mereka dan tidak melakukan pengejaran karena dia
dapat menduga bahwa tentu gadis itu mempunyai maksud tertentu dengan ucapan
itu. Akan tetapi setelah para pembunuh itu pergi, dia berkata kepada Senopati
Sindukerta yang tadi bersembunyi dalam kegelapan seperti yang dikehendaki
Nurseta karena dia tidak ingin eyangnya terancam bahaya maut.
"Eyang,
harap eyang tinggal saja disini karena saya kira bahaya telah lewat Saya harus
cepat melihat keadaan Ki Patih Narotama dan kalau perlu membantu beliau yang
terancam pembunuhan."
"Benar,
Nurseta, cepatlah pergi ke kepatihan!" kata Senopati Sindukerta.
Nurseta lalu
menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat memasuki taman. Karena dia tidak
tahu akan pintu kecil, maka dia keluar dari taman istana itu dengan jalan
melompat ke atas pagar tembok dan keluar dengan cepat. Malam telah berganti
pagi ketika Nurseta melangkah menuju kepatihan. Karena sudah banyak orang
berlalu lalang di jalan itu, Nurseta tidak berani berlari cepat, hanya berjalan
agak cepat sambil memperhatikan keadaan di luar istana. Akan tetapi tidak
tampak ada ketegangan dan wajah para penduduk kota raja, seolah tidak pernah
terjadi sesuatu yang menggemparkan.
Tiba-tiba
wajah Nurseta berseri dan hatinya lega karena dia melihat Ki Patih Narotama
berjalan dari depan. Ki Patih Narotama juga melihat Nurseta dan dia memanggil.
"Nurseta,
andika di sini?" Pertanyaan itu menunjukkan perasaan herannya melihat
Nurseta yang berada dalam tahanan istana, pagi ini dapat berkeliaran di situ.
"Ah,
betapa lega rasa hati hamba Gusti Patih, melihat paduka dalam keadaan selamat,
terhindar dari bahaya maut!"
"Apa?
Hemm, andika tahu bahwa aku terancam bahaya?" Narotama menjadi semakin
heran.
“Nurseta, mari
kita bicara di sana." Ki Patih Narotama mengajak Nurseta meninggalkan
jalan raya memasuki ladang yang sunyi. "Nah, ceritakan sekarang, bagaimana
andika yang ditahan di istana dapat berada di sini dan bagaimana pula andika
dapat mengetahui bahwa keselamatanku terancam?"
Nurseta lalu
menceritakan pengalamannya. Bagaimana ketika malam itu Puspa Dewi muncul di
depan kamar tahanan dan melemparkan surat dengan tulisan bahwa malam itu dia
dan eyangnya akan dibunuh, juga Ki Patih Narotama akan dibunuh orang. Maka dia
lalu meloloskan diri dan melihat empat orang bertopeng yang hendak membunuhnya.
Seorang di antara mereka adalah Puspa Dewi dan mereka berempat melarikan diri
ketika melihat kamar tahanan kosong.
"Hamba
memenuhi permintaan Puspa Dewi dalam surat itu agar hamba meninggalkan rumah
tahanan dan menolong paduka yang terancam bahaya." Nurseta mengakhiri
keterangannya sambil menyerahkan surat dari Puspa Dewi itu.
Ki Patih
Narotama menerima surat itu dan membacanya. Dia mengangguk angguk.
"Hemm,
syukurlah bahwa anak itu ternyata telah menyadari kesalahannya. Mari, Nurseta,
mari kita menghadap Gusti Sinuwun. Urusan ini mungkin masih ada ekornya.
Tampaknya ada persekutuan yang membahayakan kerajaan. Kita harus melapor kepada
Gusti Sinuwun."
Mereka berdua
lalu bergegas menuju ke istana. Mereka semakin tegang dan curiga karena sepagi
itu Sang Prabu Erlangga segera dapat menerima mereka, bahkan mereka diajak
bicara dalam sebuah ruangan tertutup tanpa dapat didengar orang luar Pasti
telah terjadi sesuatu di dalam istana, selain percobaan pembunuhan atas diri
Nurseta dan Ki Sindukerta! Akan tetapi sikap Sang Prabu Erlangga masih tenang,
walaupun alis matanya berkerut. Juga dia sama sekali tidak merasa heran melihat
Nurseta yang mestinya berada dalam kamar tahanan dapat bersama Ki Patih
Narotama menghadapnya.
"Kakang
Patih Narotama, urusan apakah yang mendorong kakang sepagi ini datang
menghadap? Dan andika, Nurseta, bagaimana andika dapat keluar dari tahanan dan
ikut menghadap?"
"Perkenankan
hamba yang melapor lebih dulu, gusti. Malam tadi, hamba diserang dan hendak dibunuh
dua orang pembunuh gelap. Hamba dapat menghindarkan diri dan dua orang pembunuh
gelap itu melarikan diri. Akan tetapi setelah hamba melakukan penyelidikan
ternyata bahwa dua orang pembunuh gelap itu bukan lain adalah juru taman baru
Linggajaya dan..... Lasmini. Mereka berdua telah melarikan diri dari kepatihan.
Hamba datang menghadap paduka untuk melapor karena hamba khawatir terjadi
sesuatu di sini."
Sang Prabu
Erlangga sama sekali tidak terkejut karena dia sudah mengetahui semua itu dari
laporan selirnya, Dyah Untari yang mendengar dari Puspa Dewi dan menyuruh
Bancak dan Doyok melapor kepadanya.
"Dan
andika, Nurseta, bagaimana ceritamu?" tanya Sang Prabu Erlangga kepada
pemuda itu.
"Ampun,
gusti, kalau hamba berani lancang ikut menghadap. Malam tadi juga terjadi
percobaan pembunuhan atas diri hamba dan Eyang Sindukerta. Baiknya sebelum itu,
Puspa Dewi telah memberi tahu hamba, sehingga hamba dan eyang dapat meloloskan
diri. Puspa Dewi juga memberitahu bahwa gusti patih juga terancam, maka hamba
bermaksud pergi ke kepatihan untuk membantu beliau, akan tetapi hamba bertemu
dengan gusti patih di jalan dan langsung menghadap paduka."
Kembali Sang
Prabu Erlangga mengangguk-angguk.
"Kami
sudah mengetahui semuanya dan ternyata Puspa Dewi tidak berbohong. Ketahuilah,
kakang Narotama ada persekutuan jahat yang hendak melakukan pemberontakan.
Persekutuan yang terdiri dari empat kerajaan Wura-Wuri, Wengker, Siluman Laut
Kidul, dan Parang Siluman yang bergabung dengan Pangeran Hendratama yang hendak
mengadakan pemberontakan. Yang menyedihkan, Mandari dan Lasmini juga terlibat
sebagai wakil dari Kerajaan Parang Siluman. Kini Mandari juga sudah lolos dari
istana”. Sang Prabu Erlangga menceritakan semua yang didengarnya tentang
rencana pemberontakan itu seperti yang diceritakan Puspa Dewi kepada Dyah
Untari.
"Syukur
bahwa rencana pertama dan kedua, yaitu membunuh kakang Narotama dan Nurseta
bersama eyangnya, telah dapat digagalkan. Akan tetapi yang berbahaya adalah
rencana ke tiga, yaitu penggabungan pasukan mereka yang akan berkumpul di hutan
selatan. Kami sudah mengutus Senopati Wiradana untuk mengerahkan pasukan untuk
menghadapi pemberontakan. Akan tetapi sebaiknya andika sendiri, Kakang Narotana
yang memimpin dan temuilah Senopati Wiradana. Ingat, Pangeran Hendratama
ternyata benar seperti cerita Nurseta, dia mempunyai pusaka Sang Megatantra,
maka ada juga para pengkhianat yang mendukungnya."
"Sendika,
gusti. Mari, Nurseta, engkau harus membantuku!" kata Narotama dan setelah
memberi hormat, mereka berdua bergegas meninggalkan istana.
Setelah tiba
di luar istana, Narotama berkata kepada Nurseta.
"Sekarang
kita membagi tugas. Aku akan menemui Senopati Wiradana dan mengatur pasukan,
sedangkan engkau, pergilah lebih dulu ke hutan selatan dan selidiki keadaan
mereka. Setelah mengetahui keadaan dan rencana mereka dengan baik, baru andika
menemui aku."
"Baik,
gusti patih!"
Mereka lalu
berpisah dan Nurseta keluar dari kota raja melalui pintu gerbang selatan.
Keadaan di kota raja masih tenang dan biasa saja karena tidak ada yang
mengetahui bahwa kota raja saat itu terancam serbuan pasukan pemberontak!
Matahari telah
naik tinggi ketika Nurseta tiba di tepi hutan selatan. Dia berhati-hati dan
memasuki hutan lebat itu dengan sembunyi-sembunyi, menyelinap di antara
pepohonan. Setelah tiba agak dalam di hutan itu, dia melihat betapa
prajurit-perajurit melakukan penjagaan sekeliling tengah hutan dimana terdapat
sebuah pondok besar dan beberapa pondok lain yang tampaknya baru saja dibangun.
Nurseta mengelilingi tempat itu dan melihat betapa penjagaan amat rapat dan
yang mengherankan hatinya, para prajurit itu adalah perajurit Kahuripan. Dia
menduga bahwa tentu ini pasukan Kahuripan yang dipimpin para senopati yang
mendukung Pangeran Hendratama! Karena penjagaan ketat dan berbahaya sekali
kalau sampai ketahuan, maka dia bersembunyi agak jauh, menanti datangnya malam.
Dia akan lebih leluasa bergerak di waktu malam gelap. Sementara itu, di kota
raja juga terjadi kesibukan. Ki Patih Narotama bertemu dengan senopati Wiradana
dan memberi petunjuk kepada senopati itu. Pasukan Kahuripan dikerahkan dan
diketahui bahwa beberapa orang senopati muda telah membawa pasukan mereka pergi
entah kemana. Narotama dapat menduga bahwa pasukan-pasukan yang menjadi
pendukung Pangeran Hendratama itu pasti sudah berangkat ke hutan selatan untuk
bergabung dengan pasukan dari empat kerajaan. Dia memerintahkan Senopati
Wiradana siap untuk diberangkatkan sewaktu-waktu untuk menyerbu para
pemberontak di hutan selatan, mendahului mereka sebelum mereka bergerak menyerang
kota raja agar tidak menggegerkan rakyat. Untuk itu, dia menanti berita dan
Nurseta yang sudah dikirim ke sana untuk melakukan penyelidikan. Kemudian,
Narotama membawa seregu pasukan dan memimpin sendiri pasukan itu menuju ke
gedung tempat tinggal Pangeran Hendratama. Akan tetapi, seperti sudah diduganya
terlebih dulu, gedung yang mewah seperti istana itu telah dikosongkan. Pangeran
Hendratama dengan semua selir dan pembantunya telah pergi. Narotama menduga
bahwa tentu pangeran itu juga pergi ke hutan selatan di mana pasukan-pasukan
para senopati Kahuripan yang mendukungnya sudah berkumpul.
Dugaan
Narotama memang benar. Begitu mendengar akan kegagalan usaha pembunuhan
terhadap Ki Patih Narotama, Nurseta dan Senopati Sindukerta sehingga
mengakibatkan Puteri Lasmini dan Puteri Mandari melarikan diri karena rahasia
mereka terbongkar, Pangeran Hendratama juga merasa lebih aman untuk segera
melarikan diri dari gedungnya di kota raja. Diapun membawa semua keluarga,
pelayan dan harta bendanya yang ringkas melarikan diri ke dalam hutan selatan
dimana pasukan para senopati yang mendukungnya sudah berkumpul dengan mereka.
Senopati Sindukerta juga sudah dibebaskan atas perintah Sang Prabu Erlangga
yang minta agar senopati tua itu membantu Ki Patih Narotama memimpin pasukan
menghadapi pemberontakan. Demikianlah, kedua pihak, pemberontak dan kerajaan
Kahuripan, telah membuat persiapan. Hanya perbedaannya yang menguntungkan
Kerajaan Kahuripan adalah bahwa kalau pihak kerajaan sudah megetahui akan
rencana pemberontakan yang menggabungkan pasukan di hutan selatan itu,
sebaliknya pihak pemberontak sama sekali tidak tahu pihak kerajaan sudah
mengetahui akan rencana mereka dan pihak pemberontak mengira bahwa Kerajaan
Kahuripan tidak mengadakan persiapan apa-apa sehingga dapat diserbu dengan
mendadak dan dapat dikalahkan!
Matahari mulai
condong ke barat. Nurseta masih menanti datangnya malam. Dia bersembunyi di
atas sebatang pohon besar yang berdaun lebat sehingga tidak akan tampak dari
bawah pohon sekalipun. Tiba-tiba dia yang mengintai dari atas pohon melihat
seorang gadis berlari terhuyung-huyungi. Di belakangnya, sekitar belasan depa
jauhnya tampak dua orang gadis lain mrngejarnya. Gadis Itu rambutnya terurai
lepas dari gelungnya berkibar dibelakangnya. pakaiannya sudah koyak koyak dan
melihat larinya yang terhuyung itu Nurseta menduga bahwa ia tentu terluka.
No comments:
Post a Comment