Bagian 81


"Widarti, berhenti kau! serahkan kembali Megatantra kepada kami" teriak wanita-wanita yang mengejanya dan seorang diantara dua pengejar iu meluncurkan anak panah.
Anak panah mengenai bahu gadis itu, menancap dan gadis itu mengaduh lalu terpelanting rubuh. Kini Nurseta teringat, gadis itu adalah Widarti, selir termuda dari Pangeran Hendratama, dan mereka yang mengejar adalah Sukarti dan Kenangasari, dua orang selir Pangeran Hendratama yang lain. Maka cepat Nurseta melayang turun dari atas pohon dan dengan lompatan yang jauh dan cepat, dia telah tiba lebih dulu di dekat Widarti. Sukarti dan Kenangasari terkejut bukan main ketika tiba-tiba mereka melihat Nurseta disitu. Tanpa banyak capak mereka sudah meluncurkan anak panah menyerang pemuda itu. Namun Nurseta bergerak maju menghampiri mereka dan ketika empat batang anak panah menyambar ke arah tubuhnya, dia menangkis dengan kibasan kedua tanga dan anak-anak panah itu rubuh. Akan tetapi dua orang gadis canti itu selir Pangeran Hendratama itu kini menyerang dengan keris mereka, menusukkan keris itu ke arah perut dan dada Nurseta. Nurseta menangkis dengan pengerahan tenaga.
"Plak.. Plak"
Dua orang gadis itu menjerit kesakitan, keris mereka terlepas dari pegangan mereka dan terlempar dan lengan kanan mereka terasa nyeri bukan main terkena tangkisan tangan Nurseta. Maklum bahwa mereka berdua bukan lawan pemuda itu, Sukarti dan Kenangasari lalu membalikkan tubuh mereka dan melarikan diri secepatnya.

Nurseta tidak memperdulikan mereka, cepat dia menghampiri Widarti, lalu berjongkok untuk memeriksa keadaan gadis itu. Widarti rebah telentang, memandang kepada Nurseta dan tersenyum, walaupun senyumnya tak dapat menyembunyikan rasa nyeri yang ditanggungnya. Nurseta terkejut melihat bahwa gadis ini bukan hanya terluka anak panah yang masih menancap di bahunya, akan tetapi juga lambungnya bercucuran darah, agaknya terluka tusukan keris. Luar biasa sekali bahwa gadis itu masih dapat bertahan dan melarikan diri.
"Nurseta..... terima kasih..... engkau datang..... aku memang mencarimu..... untuk menyerahkan ini....." dengan tangan gemetar Widarti mengambil keris dengan warangkanya yang terselip di pinggangnya dan menyerahkannya kepada Nurseta.
".....ini..... Megatantra, terimalah....."
Nurseta melihat keris itu memiliki gagang dan warangka yang indah. Dia lalu mencabutnya dan alangkah girangnya melihat bahwa keris itu memang Sang Megatantra yang dulu ditukar dengan keris palsu oleh Pangeran Hendratama.
"Ah, terima kasih Widarti. Jangan banyak bicara, aku akan mencoba mengobati lukamu.”
"tidak, Jangan.. Percuma.. aku tidak kuat lagi.. "
"Akan tetapi, kenapa engkau lakukan ini , Widarti? Mengapa engkau mengambil Megatantra dan menyerahkan kepadaku dengan mengorbankan dirimu? Mengapa?"
Napas gadis itu sudah empas empis. Agaknya ia sudah mengeluarkan terlalu banyak darah dari luka di lambungnya sehingga wajahnya pucat sekali.
"...aku... ayahku.. dibunuh jahanam Hendratama itu.. karena tidak mau ikut memberontak.. aku.. aku lalu mencuri Megatantra...hendak aku serahkan kepadamu... akan tetapi aku kepergok Sukarti dan Kenangasari.. aku terluka... mencoba lari.. dan... " Ia terkulai, tidak kuat bicara lagi.
"Widarti... !" Nurseta mengguncang lengannya. Widarti membuka kembali matanya yang sudah kehilangan cahayanya.
".....Nur..... Nurseta..... aku.....maafkan aku....." Ia terkulai lagi dan ketika Nurseta memeriksanya, ternyata wanita itu sudah menghembuskan napas terakhir.
Gadis malang, pikir Nurseta dengan hati terharu. Gadis ini terpaksa menjadi selir Pangeran Hendratama karena ayahnya seolah berada di tangan pangeran itu. ia terpaksa melayani dan bersikap setia kepada Pangeran Hendratama, akan tetapi akhirnya ayahnya dibunuh juga karena ayahnya tidak mau ikut memberontak. dan akhirnya, Widarti membalas dendam dengan mencuri Megatantra untuk dikembalikan kepadanya dan untuk itu ia harus menebus dengan nyawanya.
"Terima kasih, Widarti, semoga rohmu mendapatkan tempat yang jauh lebih membahagiakan daripada hidupnya di dunia ini." Nurseta berbisik dan menggunakan jari-jari tangannya untuk metutupkan sepasang mata yang agak terbuka itu.

Pada saat itu terdengar suara hiruk pikuk yang datangnya dari arah larinya dua orang selir Pangeran Hendratama tadi. Tentu dua orang selir itu memanggil bala bantuan. Nurseta cepat menyelipkan keris di pinggang, lalu memondong dan membawa lari jenazah Widarti pergi dari situ. Dia membawa jenazah itu cukup jauh memasuki kota raja sambil memondong jenazah sehingga orang-orang melihatnya dengan heran. Akan tetapi Nurseta langsung mencari Ki Patih Narotama di benteng pasukan. Setelah bertemu, diceritakannya tentang Widarti yang mencuri Sang Megatantra dari Pangeran Hendratama dan mengembalikannya kepadanya. Sore hari itu juga Ki Patih Narotama membawa Nurseta menghadap Sang Prabu Erlangga. Ketika Nurseta menceritakan tentang Widarti dan keris pusaka Sang Megatantra, lalu mempersembahkan keris pusaka itu, Sang Prabu Erlangga menerima dan mencabut keris pusaka itu. Dia menghela napas.
"Kasihan Widarti itu. Ia telah berjasa maka kakang patih, aturlah agar jenazah Widarti mendapatkan tempat pemakaman terhormat. Sekarang Sang Megatantra tidak berada di tangan Pangeran Hendratama lagi. Terimalah, Kakang Narotama dan pergunakan pusaka ini untuk diliatkan kepada para senopati yang mendukung Pangeran Hendratama untuk membuktikan bahwa wahyu kedaton tidak berada pada pemberontak itu."
Narotama mengerti akan maksud Sribaginda. Dia menerima keris pusaka itu lalu mohon diri, keluar dari istana bersama Nurseta.
"Nurseta, menurut hasil penyelidikanmu tadi, yang berada di dalam hutan selatan itu hanya pasukan Kahuripan? Apakah andika tidak melihat dari empat kerajaan yang bergabung dengan Pangeran Hendratama itu?"
"Hamba kira mereka belum datang, gusti patih. Hamba melihat betapa sarang mereka itu dikepung oleh para penjaga yang terdiri dari prajurit Kahuripan. Kalau mereka sudah datang, tentu akan ada prajurit mereka yang ikut melakukan penjagaan."
"Bagus, kalau begitu, kita serbu mereka sebelum pasukan dari empat kerajaan itu datang bergabung. Kalau diberi kesempatan mereka bergabung, mereka akan menjadi barisan yang kuat sekali. Yang menjadi pelopor adalah Pangeran Hendratama yang mengandalkan pengaruh Sang Megatantra. Kalau dia dihancurkan, kerajaan-kerajaan kecil itu pasti tidak akan berani menyerang sendiri-sendiri. Juga tanpa ada pelopor yang mengaturnya tidak mungkin mereka berempat dapat bersatu karena di antara mereka sendiri sering terjadi bentrokan."

Ki Patih Narotama lalu memimpin sendiri pasukan Kahuripan memasuki hutan selatan, dibantu oleh Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, Nurseta dan beberapa orang senopati lain yang setia kepada Sang Prabu Erlangga. Karena Ki Patih Narotama sudah mengetahui siapa-siapa di antara para senopati yang mendukung Pangeran Hendratama dan tahu berapa besar jumlah perajurit mereka, maka dia memimpin pasukan secukupnya saja agar kota raja tidak kosong dengan pasukan dan tetap terjaga. Setelah tiba di tengah hutan yang mereka datangi dengan diam-diam, Narotama mengatur barisannya mengepung sarang pemberontak itu. Setelah dikepung rapat, Narotama memberi isyarat dan para prajurit menyalakan obor dan menancapkan obor obor itu di atas tanah sedang mereka sendiri menjauhi penerangan obor agar jangan menjadi sasaran anak panah musuh. Begitu obor-obor dinyalakan, gegerlah pasukan yang berada di sarang pemberontak itu. Mereka sedang menanti datangnya pasukan empat kerajaan yang akan bergabung dan tiba-tiba saja kini mereka dikepung musuh. Pangeran Hendratama dan para senopati pendukungnya segera memimpin pasukan mereka untuk siap melakukan perlawanan. Pangeran Hendratama sedang marah-marah karena keris pusaka Sang Megatantra yang disimpannya telah hilang, padahal yang mengetahui tempat penyimpanan pusaka itu hanya dia sendiri dan tiga orang selirnya yang dia percaya akan kesetiaan mereka. Kemudian datang Sukarti dan Kenangasari yang melaporkan bahwa Widarti yang mencuri pusaka itu dan mereka berdua mengejarnya hanya berhasil merobohkan Widarti akan tetapi tidak dapat merampas kembali pusaka itu karena muncul Nurseta yang melindungi Widarti. Saking kecewa, penasaran dan marahnya, Pangeran Hendratama mengamuk, membunuh Sukarti dan Kenangasari yang dia anggap bersekongkol dengan Nurseta dan sengaja membiarkan Widarti melarikan pusaka itu. Dia sedang marah dan kebingungan karena hanya pusaka itulah yang menjadi andalannya untuk menarik para senopati untuk mendukungnya. Dia merasa telah menemukan pusaka yang menjadi wahyu kedaton sehingga dia sudah ditentukan oleh para dewa untuk menjadi raja. Dan kini pusaka itu hilang! Selagi dia marah dan kebingungan, terjadi geger bahwa sarang mereka dikepung balatentara Kahuripan! Para prajurit pasukan pemberontak menjadi panik dan karena ketakutan mereka lalu menyerang dengan anak panah secara ngawur karena biarpun di sekeliling sarang itu terang benderang oleh ribuan obor, namun pihak musuh tidak tampak. Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sekali sehingga terdengar oleh semua perajurit anak buah pemberontak.
"Dengar dan lihat baik-baik, para perwira dan tamtama Kahuripan yang memberontak! Aku Ki Patih Narotama memperingatkan bahwa kalian telah ditipu oleh pengkhianat Hendratama!" Suara Ki Patih Narotama terdengar lantang sekali karena patih yang sakti mandraguna ini mengerahkan tenaga saktinya sehingga suara itu terdengar nyaring dan jelas.

Pangeran Hendratama melihat Ki Patih Narotama berdiri di atas sebuah batu besar. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk menghujankan anak panah kepada Ki Patih Narotama. Puluhan batang anak panah meluncur ke arah patih yang berdiri di atas batu besar dan tampak jelas karena disinari beberapa batang obor yang ditancapkan di sekeliling batu besar. Akan tetapi, Nurseta yang sudah berada di situ dan memang bertugas melindungi Ki Patih Narotama, melompat dan memutar sebatang ranting. Tubuhnya berkelebatan seperti tatit dan ranting ditangannya itu menjadi gulungan sinar yang menangkis semua anak panah yang meluncur ke arah tubu Narotama. Patih ini yakin akan kemampuan Nurseta maka tidak mengacuhkan serangan itu dan melanjutkan kata-katanya yang nyaring.
"Dengar kalian semua! Pengkhianat Hendratama itu tidak memiliki keris pusaka Sang Megatantra. Lihat ini! Keris pusaka Sang Megatantra telah kembali kepada Gusti Sinuwun, Sang Prabu Erlangga. Ini buktinya, kalian lihat sendiri!" Narotama mengacungkan keris Megatantra ke atas sehingga dapat dilihat semua orang.
Para senopati yang mendukung Pangeran Hendratama terkejut melihat keris pusaka di tangan Ki Patih Narotama itu.
"Bohong, dia bohong! Sang Megatantra ada padaku!"
Pangeran Hendratama berteriak dengan khawatir dan bingung, tidak mengira bahwa pusaka yang dicuri oleh Widarti itu kini telah berada di tangan Ki Patih Narotama.
"Kalau dia bohong, coba perlihatkan Pusaka Megatantra itu, pangeran!" kata seorang senopati yang diturut oleh yang lain.
"Ada, ada kusimpan baik-baik!" kata Pangeran Hendratama.
"Mari kita gempur pasukan kerajaan itu!"
Pada saat itu terdengar sorak sorai dari arah selatan. Seorang perajurit yang bertugas jaga di bagian selatan, datang berlari-lari dan melaporkan kepada Ki Patih Narotama.
"Gusti Patih, pasukan Parang Siluman dan Wengker sudah datang dari arah selatan! Jumlah mereka semua sekitar tiga ribu orang lebih!"
Mendengar laporan ini, Narotama kembali berseru dengan suara lantang. "Dengarlah, para senopati yang tertipu oleh pengkhianat Hendratama. Kalau kalian membantu kami menyerang pasukan Parang Siluman dan Wengker yang datang itu, maka dosa kalian akan diampuni! Sebaliknya kalau kalian melanjutkan pemberontakan mendukung pengkhianat Hendratama dan bergabung dengan empat kerajaan musuh, kalian semua akan dibinasakan!"

Mendengar seruan lantang ini, para senopati merasa bimbang ragu. Sementara itu, pasukan Parang Siluman yang dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala, yaitu kakak Ratu Durgamala, ditemani kedua orang keponakan juga muridnya, yaitu Lasmini dan Mandari, sudah tiba di luar sarang itu dan terjadilah bentrokan perang dengan pasukan Kahuripan. Juga pasukan Kerajaan Wengker yang dipimpin oleh Resi Bajrasakti dan muridnya, Linggajaya, sudah bertempur melawan pasukan Kahuripan yang mengepung sarang itu dibagian Barat Daya. Tiba-tiba para senopati yang tadinya, mendukung Pangeran Hendratama, berseru memberi perintah kepada pasukan mereka. Terdengar teriakan-teriakan menggegap gempita.
"Hidup Ki Patih Narotama! Hidup Sang Prabu Ertangga'" Dan mereka sudah bergerak ke selatan dan barat daya untuk membantu pasukan Kerajaan Kahuripan menyambut dan menyerang pasukan Parang Siluman dan Wengker!
Ki Patih Narotama tersenyum lega. Siasatnya berhasil. Pasukan yang tadinya mendukung Pangeran Hendratama yang hendak memberontak itu telah dapat disadarkan dan kini mereka menambah kekuatan pasukannya untuk menghadapi pasukan kerajaan-kerajaan yang sejak dulu memang memusuhi Kahuripan. Maka dia lalu memberi aba-aba yang diteruskan para perwira untuk mengumpulkan pasukan dan menyerbu ke dalam sarang musuh. Dia sendiri bersama Nurseta memimpin paling depan. Karena yang berada di sarang itu hanya pasukan para senopati Kahuripan yang mendukung Pangeran Hendratama dan kini hampir semua pasukan telah membalik dan menyerang pasukan Parang Siluman dan Wengker yang baru tiba, maka pasukan Narotama yang memasuki sarang itu tidak mendapatkan perlawanan yang berarti. Sebagian dari mereka yang benar benar setia kepada Pangeran Hendratama dengan mudah dirobohkan atau ditawan. Pangeran Hendratama menjadi panik melihat pasukan yang mendukungnya kini membalik malah menyambut kedatangan pasukan Parang Siluman dan Wengker dengan serangan. Perasaan takut lebih besar daripada kemarahannya. Dia maklum bahwa usahanya merebut tahta kerajaan dari Sang Prabu Erlangga telah gagal total. Maklum akan bahaya yang mengancam dirinya, dia sudah bermaksud untuk melarikan diri, akan tetapi tiba tiba, di antara sinar obor obor yang begitu banyak sehingga cukup menerangi tempat itu, tahu-tahu Ki Patih Narotama sudah berdiri menghadang di depannya.
"Pangeran Hendratama, permainan andika sudah usai. Menyerahlah untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada Gusti Sinuwun!" kata Ki Patih Narotama.
Sesosok bayangan lain berkelebat dan Nurseta berdiri di samping ki patih. Melihat dua orang ini, Pangeran Hendratama menjadi pucat wajahnya. Apalagi melawan keduanya, baru melawan seorang di antara mereka saja dia takkan menang. Namun karena keadaan sudah membuat dia tersudut, dia menjadi nekat. Dengan tombak pusaka yang sejak tadi memang sudah dibawanya, dia menyerang Ki Patih Narotama sambil mengeluarkan suara gereng seperti seekor harimau marah. Ki Patih Narotama melompat ke belakang.
"Nurseta, kuserahkan dia kepadamu. Tangkaplah agar dapat kita hadapkan Gusti Sinuwun!"
"Sendika, gusti patih!" kata Nurseta yang maklum bahwa Ki Patih Narotama mempunyai tugas yang penting, yaitu mengatur pasukan untuk menghadapi dua pasukan musuh dari Parang Siluman dan Wengker.

<<<Bagian 80                                                                                         Bagian 82 >>>

No comments:

Post a Comment