Bagian 82


"Pangeran, memang lebih baik kalau andika menyerah." katanya sambil menghadapi pangeran yang sudah nekat itu.

Melihat pemuda yang dianggap menjadi gara-gara kegagalan ambisinya itu, Pangeran Hendratama menjadi semakin marah dan dia mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari ilmu tombaknya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dan membunuh Nurseta. Akan tetapi, dengan ilmu meringankan tubuh yaitu Aji Bayu Sakti Nurseta yang bertangan kosong memainkan ilmu silat Baka Denta. Tubuhnya berkelebatan seperti berubah menjadi bayangan sehingga Pangeran Hendratama menjadi bingung. Dia merasa seolah menyerang sebuah bayangan. Karena lawan seolah tidak mungkin diserang, Pangeran Hendratama memutar tombak sehingga sinar tombak itu menjadi perisai yang melindungi dirinya. Dengan demikian, biarpun dia tidak dapat menyerang lawan, lawanpun sukar untuk dapat menyerangnya. Kalau saja Nurseta menghendaki, tentu dia akan mampu merobohkan pangeran itu dengan pukulan jarak jauh yang ampuh. Akan tetapi dia tidak ingin membunuh atau melukai pangeran ini yang bagaimanapun juga adalah kakak ipar Sang Prabu Erlangga sendiri. Bahkan Ki Patih Narotama saja tadi tampak enggan bertanding melawan Pangeran Hendratama. Apalagi ki patih tadi menugaskan kepadanya untuk menangkap pangeran yang berkhianat dan memberontak ini, maka diapun bermaksud hendak menangkap tanpa melukainya. Melihat sang pangeran pemberontak itu memutar tombak dengan dahsyat sehingga sinar tombak membuat dia sukar untuk dapat menangkapnya, maka Nurseta terpaksa menggunakan satu di antara aji-aji pamungkasnya yang tidak akan dipergunakan kalau tidak terpaksa sekali. Tiba-tiba Pangeran Hendratama menjadi bingung karena bayangan Nurseta kini hilang, tidak tampak lagi! Inilah Aji Sirnasarira yang dipergunakan Nurseta untuk menangkap lawannya. Melihat pemuda itu hilang, Pangeran Hendratama mengendurkan putaran tombaknya karena memutar tombak sekuat itu dalam waktu lama akan menguras tenaganya. Begitu dia mengendurkan putaran tombak, tiba-tiba tombak itu berhenti berputar dan tidak dapat digerakkan. Kini tampak olehnya betapa Nurseta telah menangkap ujung tombaknya, dibawah mata tombak yang runcing.
"Menyerahlah, pangeran!"
Pangeran Hendratama mengerahkan tenaga untuk melepaskan tombaknya dari pegangan lawan. Namun sia-sia karena tombaknya seolah melekat pada tangan Nurseta. Dalam kemarahan dan kenekatannya, Pangeran Hendratama melangkah maju dan menghantam dengan tangan kirinya ke arah muka Nurseta. Kesempatan kini terbuka bagi Nurseta. Dia menyambut pukulan tangan kiri itu dengan ketukan jarinya ke arah bawah siku lengan kiri Pangeran Hendratama.
"Dukk!"
Seketika Pangeran Hendratama merasa lengan kirinya lumpuh dan di detik berikutnya, tangan Nurseta menepuk pundaknya dan tubuh pangeran itu terkulai lemas, tombaknya terlepas dari pegangannya. Pangeran Hendratama roboh terguling dan tidak mampu bangkit kembali. Dia tidak terluka dan tidak menderita nyeri, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. Nurseta memanggil seorang perwira, menyerahkan pangeran itu agar ditawan dan dijaga agar jangan sampai dapat melarikan diri atau ada orang yang membebaskannya. Kemudian Nurseta menyusuli Ki Patih Narotama yang memimpin pasukan bersama para senopati menyerbu pasukan Parang Siluman dan Wengker.

Sementara itu, kedua pasukan yang baru tiba itu, menjadi terkejut bukan main ketika tiba-tiba pasukan Kahuripan yang berada di sarang pemberontak itu, yang tadinya dianggap sebagai sekutu untuk membuat persiapan menyerbu kota raja Kahuripan, tiba-tiba keluar dari sarang dan menyerang mereka. Apalagi mendengar teriakan-teriakan mereka yang menyerukan hidup Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Baik mereka yang memimpin pasukan Wengker, yaitu Resi Bajrasakti dan Linggajaya, maupun mereka yang memimpin pasukan Parang Siluman, yaitu Lasmini, Mandari dan paman atau guru mereka, Ki Nagakumala, semua merasa gentar mendengar bahwa Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama turun tangan sendiri memimpin pasukan. Apalagi mendengar bahwa pasukan pemberontak yang tadinya mendukung Pangeran Hendratama kini berbalik mendukung Kerajaan Kahuripan. Bahkan dari para penyelidik mereka mendengar bahwa Pangeran Hendratama tidak memiliki Sang Megatantra dan sekarang sudah menjadi tawanan. Mereka menjadi gentar sekali dan ketika pasukan Kahuripan menyerang, mereka hanya mempertahankan diri sambil mundur. Melihat jumlah pasukan Kerajaan Kahuripan yang bergabung dengan bekas pendukung Pangeran Hendratama jauh lebih besar dari jumlah mereka, apalagi karena sudah merasa gentar karena di pihak Kahuripan terdapat Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna dibantu pula oleh Nurseta yang juga memiliki kepandaian tinggi, nyali para pemimpin itu menciut dan akhirnya, setelah terang tanah, mereka menarik mundur pasukan dan melarikan diri, kembali ke daerah masing-masing. Usaha persekutuan empat kerajaan yang membantu Pangeran Hendratama melaksanakan pemberontakan di Kahuripan itu gagal sama sekali. Mengapa pasukan dua kerajaan lain yang juga bersekutu dengan mereka, yaitu Kerajaan Siluman Laut Kidul dan Wura-Wuri, tidak muncul malam itu? Ini adalah karena pasukan Siluman Laut Kidul yang paling jauh letaknya di pesisir Laut Kidul, datangnya terlambat, yaitu pada keesokan harinya setelah siang. Ketika mereka memasuki hutan, mereka melihat bekas pertempuran dan dari mereka yang terluka mendengar bahwa pasukan Wengker dan Parang Siluman telah terpukul mundur dan melarikan diri. Tentu saja mereka terkejut dan menjadi gentar, apa lagi mendengar bahwa Pangeran Hendratama telah tertawan dan pasukannya membalik dan membantu pasukan Kahuripan. Maka, Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul yang memimpin pasukan, lalu memerintahkan pasukannya untuk kembali dan pulang ke selatan.

Sementara itu, pasukan dari Wura-Wuri datangnya malah lebih lambat lagi, terlambat dua hari dari malam yang ditentukan. Hal ini adalah Puspa Dewi memberi laporan yang sengaja dibuat agar pasukan itu datangnya terlambat. Maka ketika pasukan itu tiba di hutan, mereka tidak melihat sekutu mereka dan karenanya, Tri Kala yang memimpin pasukan itu bersama Puspa Dewi lalu menarik pasukan untuk kembali. Dalam gerakan ini, tiga orang senopati Wura wuri itu, Kalamuka, Kalamanik, dan Kalateja tidak melihat Puspa Dewi. Setelah dicari mereka yakin bahwa gadis itu telah meninggalkan pasukan Wura-Wuri dan pergi entah ke mana.

Dalam perjalanan kembali ke kota raja, Nurseta berjalan disamping Ki Patih Narotama dan mereka bercakap-cakap. Ki Patih Narotama merasa lega dan girang bahwa pemberontakan itu dapat digagalkan tanpa pertumpahan darah yang besar dan hanya mengakibatkan tewasnya beberapa puluh orang saja. Pangeran Hendratama juga sudah dapat diringkus dan menjadi tawanan dan yang lebih membuat girang adalah bahwa pasukan para senopati yang mendukung pemberontakan dapat disadarkan sehingga akhirnya mereka membalik dan membela Kahuripan. Dia pasti akan memintakan ampun kepada Sang Prabu Erlangga untuk para senopati yang terkena bujukan Pangeran Hendratama itu sehingga mereka tidak dihukum terlalu berat. Akan tetapi diam-diam Ki Patih Narotama mengakui bahwa yang paling besar jasanya sehingga pemberontakan ini dapat dengan mudah ditumpas adalah Puspa Dewi!
"Nurseta, aku ingin sekali mengetahui bagaimana nasib Puspa Dewi. Dara itu berjasa besar terhadap Kahuripan. Kalau tidak ada Puspa Dewi yang membocorkan rahasia persekutuan itu, tentu akan terjadi hal-hal yang lebih hebat lagi sehingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban."
"Paduka benar, gusti patih. Puspa Dewi memang berjasa besar sekali. Ia telah menjadi puteri istana Wura-Wuri, entah apa yang menimpa dirinya kalau Raja Wura-Wuri mengetahui akan perbuatannya yang tentu dianggap sebagai pengkhianat oleh Kerajaan Wura-Wuri."
"Ya, akupun berpikir demikian dan mengkhawatirkan nasibnya. Akan tetapi, jasamu juga amat besar, Nurseta. Maka, akan kuhaturkan kepada Gusti Sinuwun tentang semua jasamu agar engkau mendapatkan kedudukan yang sepadan dengan jasamu."
"Maafkan hamba, gusti patih. Akan tetapi apa yang hamba lakukan semua itu bukan untuk membuat jasa dan mendapatkan imbalan, melainkan untuk melaksanakan kewajiban hamba. Hamba tidak menghendaki imbalan apapun, gusti patih, apalagi kedudukan yang mengikat hamba, padahal hamba masih harus melaksanakan tugas lain yang amat penting."
"Tugas apakah itu, Nurseta?"
"Hamba harus mencari ayah ibu hamba dan mengajak mereka menghadap eyang, juga hamba masih ingin bebas merantau untuk meluaskan pengalaman hamba."
"Hemm, bagus, itukah kehendakmu?" Narotama mengangguk-angguk.
"Adalah hakmu untuk memilih dan kalau engkau memilih hendak merantau mencari orang tuamu, aku hanya titip pesan kalau engkau bertemu dengan Puspa Dewi agar memberi tahu bahwa aku dan Gusti Sinuwun ingin bertemu dan bicara dengannya."
"Baik, gusti patih."
"Dan ingatlah selalu akan peristiwa pemberontakan Pangeran Hendratama, Nurseta. Peristiwa itu dapat kita jadikan sebagai contoh betapa bahayanya kalau orang mengejar cita-cita."
"Akan tetapi, gusti patih. Bukankah seorang manusia, apalagi sewaktu muda, harus mempunyai cita-cita yang baik agar mencapai kemakmuran dan kebahagiaan hidup?"

Ki Patih Narotama mengajak Nurseta berhenti di tepi jalan untuk bercakap-cakap.
"Justeru pendapat itulah yang menjerumuskan banyak orang, Nurseta. Cita-cita adalah tujuan, ambisi, cita-cita adalah harapan mendapatkan sesuatu yang belum diperoleh, masa depan dan bukan kenyataan, melainkan bayangan. Baik buruknya tujuan tergantung dari cara mendapatkan tujuan itu. Besar sekali bahayanya, tujuan menghalalkan segala cara, sehingga untuk mencapai apa yang dicita-citakan, orang tidak segan melakukan cara apapun. Jadi yang menentukan bukanlah bercita-cita muluk, melainkan caranya, pelaksanaannya, pekerjaannya dan sifat pekerjaannya itu. Yang baik atau buruk, benar atau salah, adalah caranya. Tidak mungkin cara yang jahat menghasilkan sesuatu yang baik. Kalau sedang bekerja mencari nafkah, bekerjalah yang baik dan benar, karena itulah yang menentukan hasilnya dan yang melakukan cara yang baik dan benar, hasilnya tentu baik dan benar pula. Sebaliknya kalau hanya mementingkan cita-cita atau tujuan, orang dapat terseret ke dalam cara yang buruk dan salah seperti penipu, korupsi, pengkhianatan seperti yang dilakukan Pangeran Hendratama. Dia bercita-cita memperoleh kedudukan tinggi dan menggunakan cara yang jahat dan buruk, berkhianat, memberontak dan bersekutu dengan musuh-musuh Kahuripan. Kalau saja dia menggunakan cara yang baik, berjuang dan bekerja dengan setia dan jujur untuk Kahuripan, tentu dengan sendirinya dia memperoleh kedudukan yang tinggi."
"Akan tetapi, gusti patih, hamba sering mendengar orang mengatakan bahwa tanpa cita-cita hidup akan kosong dan tidak akan memperoleh kemajuan. Cita-cita merupakan pendorong manusia untuk maju. Bagaimana pendapat paduka dengan pernyataan itu, gusti patih?"
"Ucapan seperti itu hanya dilakukan orang yang menganggap bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah mencari kemajuan yang berarti kekayaan dan kedudukan. Orang yang meningkat kekayaannya atau kedudukannya dianggap maju. Karena itu, dalam mengejar cita-cita untuk memperbanyak kekayaan dan mempertinggi kedudukan orang menjadi lupa diri, saling berebutan dan saling bermusuhan. Orang lupa bahwa kedudukan tinggi atau kekayaan besar sama sekali bukan ukuran orang untuk hidup berbahagia dan tenteram lahir batin. Cita-cita itu baru dapat dinilai bersih kalau ditujukan untuk kepentingan orang banyak dalam hal ini rakyat jelata yang hidupnya merana. Selama cita-cita itu untuk kepentingan pribadi, maka itu bukan lain hanyalah kemurkaan dan menuruti dorongan nafsu yang condong selalu mengejar kesenangan, mengejar yang serba enak dan menyenangkan jasmani. Orang menilai maju untuk meningkatkan harta dan kedudukan, mendewa-dewakan harta benda dan kekuasaan. Pengejaran keinginan nafsu berupa kesenangan jasmani inilah yang menyeret kita melakukan segala macam perbuatan jahat demi mencapai apa yang dicita-citakan itu."
Nurseta merasa kagum. Pendapat yang dikemukakan Ki Patih Narotama ini sungguh berbeda, bahkan berlawanan dengan pendapat umum tentang cita-cita, akan tetapi dia dapat menangkap kebenaran yang terkandung di dalamnya. Karena dia ingin mengerti lebih banyak, dia berkata lagi.
"Hamba masih mempunyai sebuah pertanyaan tentang cita-cita, gusti patih, yang hamba harap dapat menerima penjelasan dari paduka. Bagaimana kalau ada yang bercita-cita menjadi orang yang baik? Apakah juga tidak ada gunanya dan juga berbahaya karena menjurus ke arah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, yaitu kebaikan?"
Narotama tersenyum.
"Apakah andika pikir kebaikan atau kebajikan itu merupakan sesuatu yang dapat dicapai melalui suatu cara atau pelajaran? Ah, Nurseta. Kebajikan adalah suatu sikap hidup terhadap orang lain yang terpantul dari dalam perasaan hati sanubari. Kebajikan yang dilakukan dengan cara yang disengaja adalah kebajikan yang dibuatbuat. Mengejar cita-cita agar kita menjadi orang baik hanya akan membuat kita menjadi seorang munafik yang hanya baik pada lahirnya belaka yang sering bahkan berlawanan dengan keadaan batinnya. Mengejar kebaikan berarti kita mengejar pendapat orang agar kita dianggap sebagai orang baik, dan kalau sudah begitu, kita menghalalkan segala cara agar dapat dianggap baik. Tidak, Nurseta, kebaikan bukan merupakan tujuan, kebaikan bukan pamrih, kebaikan adalah suatu silat yang timbul dari hati sanubari. Hati sanubari yang sudah dihuni Kasih Sejati akan memancarkan sikap dan perbuatan yang pasti baik. Marah adalah buruk, sabar adalah baik. Dapatkah orang belajar sabar? Tidak mungkin. Selama ada kemarahan dalam hati, kesabaran menjauh, yang dapat dicapai hanya kemarahan yang bertopeng kesabaran atau kesabaran palsu. Kalau kemarahan tiada lagi di hati, tidak perlu belajar sabar lagi. Kalau kejahatan tidak lagi mengeram dalam hati, tidak perlu belajar baik lagi, kalau nafsu-nafsu daya rendah tidak lagi menguasai hati sanubari seseorang, dia akan hidup sebagai seorang manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Kalau iblis tidak lagi menguasai hati akal pikiran, Dewa Ruci (Sang Roh Suci) yang akan mengambil alih dan membimbing ke jalan benar dan baik. Bukan cita-cita menjadi baik yang penting, melainkan sekarang, saat ini, saat demi saat tidak ada lagi nafsu jahat menguasai diri lahir batin. Mengertikah andika, Nurseta?"
Nurseta menyembah.
"Aduh, terima kasih, gusti patih. Semoga Hyang Widhi Wasa akan membimbing hamba sehingga dapat terbuka mata hati hamba untuk melihat kebenaran itu. Sekarang hamba mohon pamit, gusti. Hamba mohon sudilah kiranya paduka memberi tahu kepada kanjeng eyang Sindukerta bahwa hamba melanjutkan perjalanan mencari kedua orang tua hamba."
"Begitulah kehendakmu, Nurseta. Baik, akan kusampaikan kepada Paman Senopati Sindukerta. Selamat jalan dan semoga Sang Hyang Widhi selalu melimpahi Kasih Karunia dan bimbingan kepadamu."

Nurseta menyembah lagi lalu mengambil jalan simpang, meninggalkan Ki Patih Narotama yang mengikuti kepergian pemuda itu sampai bayangannya menghilang. TAMAT

<<<Bagian 81                                                      Nurseta,Satria Karangtirta >>>