"Pangeran, memang lebih baik kalau andika menyerah." katanya sambil menghadapi pangeran yang sudah nekat itu.
Melihat pemuda
yang dianggap menjadi gara-gara kegagalan ambisinya itu, Pangeran Hendratama
menjadi semakin marah dan dia mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari ilmu
tombaknya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dan membunuh
Nurseta. Akan tetapi, dengan ilmu meringankan tubuh yaitu Aji Bayu Sakti
Nurseta yang bertangan kosong memainkan ilmu silat Baka Denta. Tubuhnya
berkelebatan seperti berubah menjadi bayangan sehingga Pangeran Hendratama
menjadi bingung. Dia merasa seolah menyerang sebuah bayangan. Karena lawan
seolah tidak mungkin diserang, Pangeran Hendratama memutar tombak sehingga
sinar tombak itu menjadi perisai yang melindungi dirinya. Dengan demikian,
biarpun dia tidak dapat menyerang lawan, lawanpun sukar untuk dapat
menyerangnya. Kalau saja Nurseta menghendaki, tentu dia akan mampu merobohkan
pangeran itu dengan pukulan jarak jauh yang ampuh. Akan tetapi dia tidak ingin
membunuh atau melukai pangeran ini yang bagaimanapun juga adalah kakak ipar
Sang Prabu Erlangga sendiri. Bahkan Ki Patih Narotama saja tadi tampak enggan
bertanding melawan Pangeran Hendratama. Apalagi ki patih tadi menugaskan
kepadanya untuk menangkap pangeran yang berkhianat dan memberontak ini, maka
diapun bermaksud hendak menangkap tanpa melukainya. Melihat sang pangeran
pemberontak itu memutar tombak dengan dahsyat sehingga sinar tombak membuat dia
sukar untuk dapat menangkapnya, maka Nurseta terpaksa menggunakan satu di
antara aji-aji pamungkasnya yang tidak akan dipergunakan kalau tidak terpaksa
sekali. Tiba-tiba Pangeran Hendratama menjadi bingung karena bayangan Nurseta
kini hilang, tidak tampak lagi! Inilah Aji Sirnasarira yang dipergunakan
Nurseta untuk menangkap lawannya. Melihat pemuda itu hilang, Pangeran
Hendratama mengendurkan putaran tombaknya karena memutar tombak sekuat itu dalam
waktu lama akan menguras tenaganya. Begitu dia mengendurkan putaran tombak,
tiba-tiba tombak itu berhenti berputar dan tidak dapat digerakkan. Kini tampak
olehnya betapa Nurseta telah menangkap ujung tombaknya, dibawah mata tombak
yang runcing.
"Menyerahlah,
pangeran!"
Pangeran
Hendratama mengerahkan tenaga untuk melepaskan tombaknya dari pegangan lawan.
Namun sia-sia karena tombaknya seolah melekat pada tangan Nurseta. Dalam
kemarahan dan kenekatannya, Pangeran Hendratama melangkah maju dan menghantam
dengan tangan kirinya ke arah muka Nurseta. Kesempatan kini terbuka bagi
Nurseta. Dia menyambut pukulan tangan kiri itu dengan ketukan jarinya ke arah
bawah siku lengan kiri Pangeran Hendratama.
"Dukk!"
Seketika
Pangeran Hendratama merasa lengan kirinya lumpuh dan di detik berikutnya,
tangan Nurseta menepuk pundaknya dan tubuh pangeran itu terkulai lemas,
tombaknya terlepas dari pegangannya. Pangeran Hendratama roboh terguling dan
tidak mampu bangkit kembali. Dia tidak terluka dan tidak menderita nyeri, akan tetapi
tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. Nurseta memanggil seorang perwira,
menyerahkan pangeran itu agar ditawan dan dijaga agar jangan sampai dapat
melarikan diri atau ada orang yang membebaskannya. Kemudian Nurseta menyusuli
Ki Patih Narotama yang memimpin pasukan bersama para senopati menyerbu pasukan
Parang Siluman dan Wengker.
Sementara itu,
kedua pasukan yang baru tiba itu, menjadi terkejut bukan main ketika tiba-tiba
pasukan Kahuripan yang berada di sarang pemberontak itu, yang tadinya dianggap
sebagai sekutu untuk membuat persiapan menyerbu kota raja Kahuripan, tiba-tiba
keluar dari sarang dan menyerang mereka. Apalagi mendengar teriakan-teriakan
mereka yang menyerukan hidup Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Baik
mereka yang memimpin pasukan Wengker, yaitu Resi Bajrasakti dan Linggajaya,
maupun mereka yang memimpin pasukan Parang Siluman, yaitu Lasmini, Mandari dan
paman atau guru mereka, Ki Nagakumala, semua merasa gentar mendengar bahwa Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama turun tangan sendiri memimpin pasukan.
Apalagi mendengar bahwa pasukan pemberontak yang tadinya mendukung Pangeran
Hendratama kini berbalik mendukung Kerajaan Kahuripan. Bahkan dari para
penyelidik mereka mendengar bahwa Pangeran Hendratama tidak memiliki Sang Megatantra
dan sekarang sudah menjadi tawanan. Mereka menjadi gentar sekali dan ketika
pasukan Kahuripan menyerang, mereka hanya mempertahankan diri sambil mundur.
Melihat jumlah pasukan Kerajaan Kahuripan yang bergabung dengan bekas pendukung
Pangeran Hendratama jauh lebih besar dari jumlah mereka, apalagi karena sudah
merasa gentar karena di pihak Kahuripan terdapat Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama yang sakti mandraguna dibantu pula oleh Nurseta yang juga
memiliki kepandaian tinggi, nyali para pemimpin itu menciut dan akhirnya,
setelah terang tanah, mereka menarik mundur pasukan dan melarikan diri, kembali
ke daerah masing-masing. Usaha persekutuan empat kerajaan yang membantu
Pangeran Hendratama melaksanakan pemberontakan di Kahuripan itu gagal sama
sekali. Mengapa pasukan dua kerajaan lain yang juga bersekutu dengan mereka,
yaitu Kerajaan Siluman Laut Kidul dan Wura-Wuri, tidak muncul malam itu? Ini
adalah karena pasukan Siluman Laut Kidul yang paling jauh letaknya di pesisir
Laut Kidul, datangnya terlambat, yaitu pada keesokan harinya setelah siang.
Ketika mereka memasuki hutan, mereka melihat bekas pertempuran dan dari mereka
yang terluka mendengar bahwa pasukan Wengker dan Parang Siluman telah terpukul
mundur dan melarikan diri. Tentu saja mereka terkejut dan menjadi gentar, apa
lagi mendengar bahwa Pangeran Hendratama telah tertawan dan pasukannya membalik
dan membantu pasukan Kahuripan. Maka, Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman
Laut Kidul yang memimpin pasukan, lalu memerintahkan pasukannya untuk kembali
dan pulang ke selatan.
Sementara itu,
pasukan dari Wura-Wuri datangnya malah lebih lambat lagi, terlambat dua hari
dari malam yang ditentukan. Hal ini adalah Puspa Dewi memberi laporan yang
sengaja dibuat agar pasukan itu datangnya terlambat. Maka ketika pasukan itu
tiba di hutan, mereka tidak melihat sekutu mereka dan karenanya, Tri Kala yang
memimpin pasukan itu bersama Puspa Dewi lalu menarik pasukan untuk kembali.
Dalam gerakan ini, tiga orang senopati Wura wuri itu, Kalamuka, Kalamanik, dan
Kalateja tidak melihat Puspa Dewi. Setelah dicari mereka yakin bahwa gadis itu
telah meninggalkan pasukan Wura-Wuri dan pergi entah ke mana.
Dalam
perjalanan kembali ke kota raja, Nurseta berjalan disamping Ki Patih Narotama
dan mereka bercakap-cakap. Ki Patih Narotama merasa lega dan girang bahwa
pemberontakan itu dapat digagalkan tanpa pertumpahan darah yang besar dan hanya
mengakibatkan tewasnya beberapa puluh orang saja. Pangeran Hendratama juga
sudah dapat diringkus dan menjadi tawanan dan yang lebih membuat girang adalah
bahwa pasukan para senopati yang mendukung pemberontakan dapat disadarkan
sehingga akhirnya mereka membalik dan membela Kahuripan. Dia pasti akan
memintakan ampun kepada Sang Prabu Erlangga untuk para senopati yang terkena bujukan
Pangeran Hendratama itu sehingga mereka tidak dihukum terlalu berat. Akan
tetapi diam-diam Ki Patih Narotama mengakui bahwa yang paling besar jasanya
sehingga pemberontakan ini dapat dengan mudah ditumpas adalah Puspa Dewi!
"Nurseta,
aku ingin sekali mengetahui bagaimana nasib Puspa Dewi. Dara itu berjasa besar
terhadap Kahuripan. Kalau tidak ada Puspa Dewi yang membocorkan rahasia
persekutuan itu, tentu akan terjadi hal-hal yang lebih hebat lagi sehingga
mengakibatkan jatuhnya banyak korban."
"Paduka benar,
gusti patih. Puspa Dewi memang berjasa besar sekali. Ia telah menjadi puteri
istana Wura-Wuri, entah apa yang menimpa dirinya kalau Raja Wura-Wuri
mengetahui akan perbuatannya yang tentu dianggap sebagai pengkhianat oleh
Kerajaan Wura-Wuri."
"Ya, akupun
berpikir demikian dan mengkhawatirkan nasibnya. Akan tetapi, jasamu juga amat
besar, Nurseta. Maka, akan kuhaturkan kepada Gusti Sinuwun tentang semua jasamu
agar engkau mendapatkan kedudukan yang sepadan dengan jasamu."
"Maafkan
hamba, gusti patih. Akan tetapi apa yang hamba lakukan semua itu bukan untuk
membuat jasa dan mendapatkan imbalan, melainkan untuk melaksanakan kewajiban
hamba. Hamba tidak menghendaki imbalan apapun, gusti patih, apalagi kedudukan
yang mengikat hamba, padahal hamba masih harus melaksanakan tugas lain yang
amat penting."
"Tugas
apakah itu, Nurseta?"
"Hamba
harus mencari ayah ibu hamba dan mengajak mereka menghadap eyang, juga hamba
masih ingin bebas merantau untuk meluaskan pengalaman hamba."
"Hemm,
bagus, itukah kehendakmu?" Narotama mengangguk-angguk.
"Adalah
hakmu untuk memilih dan kalau engkau memilih hendak merantau mencari orang
tuamu, aku hanya titip pesan kalau engkau bertemu dengan Puspa Dewi agar
memberi tahu bahwa aku dan Gusti Sinuwun ingin bertemu dan bicara dengannya."
"Baik,
gusti patih."
"Dan
ingatlah selalu akan peristiwa pemberontakan Pangeran Hendratama, Nurseta.
Peristiwa itu dapat kita jadikan sebagai contoh betapa bahayanya kalau orang
mengejar cita-cita."
"Akan
tetapi, gusti patih. Bukankah seorang manusia, apalagi sewaktu muda, harus
mempunyai cita-cita yang baik agar mencapai kemakmuran dan kebahagiaan
hidup?"
Ki Patih
Narotama mengajak Nurseta berhenti di tepi jalan untuk bercakap-cakap.
"Justeru
pendapat itulah yang menjerumuskan banyak orang, Nurseta. Cita-cita adalah
tujuan, ambisi, cita-cita adalah harapan mendapatkan sesuatu yang belum
diperoleh, masa depan dan bukan kenyataan, melainkan bayangan. Baik buruknya
tujuan tergantung dari cara mendapatkan tujuan itu. Besar sekali bahayanya,
tujuan menghalalkan segala cara, sehingga untuk mencapai apa yang
dicita-citakan, orang tidak segan melakukan cara apapun. Jadi yang menentukan
bukanlah bercita-cita muluk, melainkan caranya, pelaksanaannya, pekerjaannya
dan sifat pekerjaannya itu. Yang baik atau buruk, benar atau salah, adalah
caranya. Tidak mungkin cara yang jahat menghasilkan sesuatu yang baik. Kalau
sedang bekerja mencari nafkah, bekerjalah yang baik dan benar, karena itulah
yang menentukan hasilnya dan yang melakukan cara yang baik dan benar, hasilnya
tentu baik dan benar pula. Sebaliknya kalau hanya mementingkan cita-cita atau
tujuan, orang dapat terseret ke dalam cara yang buruk dan salah seperti penipu,
korupsi, pengkhianatan seperti yang dilakukan Pangeran Hendratama. Dia
bercita-cita memperoleh kedudukan tinggi dan menggunakan cara yang jahat dan
buruk, berkhianat, memberontak dan bersekutu dengan musuh-musuh Kahuripan.
Kalau saja dia menggunakan cara yang baik, berjuang dan bekerja dengan setia
dan jujur untuk Kahuripan, tentu dengan sendirinya dia memperoleh kedudukan
yang tinggi."
"Akan
tetapi, gusti patih, hamba sering mendengar orang mengatakan bahwa tanpa
cita-cita hidup akan kosong dan tidak akan memperoleh kemajuan. Cita-cita
merupakan pendorong manusia untuk maju. Bagaimana pendapat paduka dengan
pernyataan itu, gusti patih?"
"Ucapan
seperti itu hanya dilakukan orang yang menganggap bahwa yang terpenting dalam
hidup ini adalah mencari kemajuan yang berarti kekayaan dan kedudukan. Orang
yang meningkat kekayaannya atau kedudukannya dianggap maju. Karena itu, dalam
mengejar cita-cita untuk memperbanyak kekayaan dan mempertinggi kedudukan orang
menjadi lupa diri, saling berebutan dan saling bermusuhan. Orang lupa bahwa
kedudukan tinggi atau kekayaan besar sama sekali bukan ukuran orang untuk hidup
berbahagia dan tenteram lahir batin. Cita-cita itu baru dapat dinilai bersih
kalau ditujukan untuk kepentingan orang banyak dalam hal ini rakyat jelata yang
hidupnya merana. Selama cita-cita itu untuk kepentingan pribadi, maka itu bukan
lain hanyalah kemurkaan dan menuruti dorongan nafsu yang condong selalu
mengejar kesenangan, mengejar yang serba enak dan menyenangkan jasmani. Orang
menilai maju untuk meningkatkan harta dan kedudukan, mendewa-dewakan harta
benda dan kekuasaan. Pengejaran keinginan nafsu berupa kesenangan jasmani
inilah yang menyeret kita melakukan segala macam perbuatan jahat demi mencapai
apa yang dicita-citakan itu."
Nurseta merasa
kagum. Pendapat yang dikemukakan Ki Patih Narotama ini sungguh berbeda, bahkan
berlawanan dengan pendapat umum tentang cita-cita, akan tetapi dia dapat
menangkap kebenaran yang terkandung di dalamnya. Karena dia ingin mengerti
lebih banyak, dia berkata lagi.
"Hamba
masih mempunyai sebuah pertanyaan tentang cita-cita, gusti patih, yang hamba
harap dapat menerima penjelasan dari paduka. Bagaimana kalau ada yang
bercita-cita menjadi orang yang baik? Apakah juga tidak ada gunanya dan juga
berbahaya karena menjurus ke arah menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan, yaitu kebaikan?"
Narotama
tersenyum.
"Apakah
andika pikir kebaikan atau kebajikan itu merupakan sesuatu yang dapat dicapai
melalui suatu cara atau pelajaran? Ah, Nurseta. Kebajikan adalah suatu sikap
hidup terhadap orang lain yang terpantul dari dalam perasaan hati sanubari.
Kebajikan yang dilakukan dengan cara yang disengaja adalah kebajikan yang
dibuatbuat. Mengejar cita-cita agar kita menjadi orang baik hanya akan membuat
kita menjadi seorang munafik yang hanya baik pada lahirnya belaka yang sering
bahkan berlawanan dengan keadaan batinnya. Mengejar kebaikan berarti kita
mengejar pendapat orang agar kita dianggap sebagai orang baik, dan kalau sudah
begitu, kita menghalalkan segala cara agar dapat dianggap baik. Tidak, Nurseta,
kebaikan bukan merupakan tujuan, kebaikan bukan pamrih, kebaikan adalah suatu
silat yang timbul dari hati sanubari. Hati sanubari yang sudah dihuni Kasih
Sejati akan memancarkan sikap dan perbuatan yang pasti baik. Marah adalah
buruk, sabar adalah baik. Dapatkah orang belajar sabar? Tidak mungkin. Selama
ada kemarahan dalam hati, kesabaran menjauh, yang dapat dicapai hanya kemarahan
yang bertopeng kesabaran atau kesabaran palsu. Kalau kemarahan tiada lagi di
hati, tidak perlu belajar sabar lagi. Kalau kejahatan tidak lagi mengeram dalam
hati, tidak perlu belajar baik lagi, kalau nafsu-nafsu daya rendah tidak lagi
menguasai hati sanubari seseorang, dia akan hidup sebagai seorang manusia
sebagaimana yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Kalau iblis tidak lagi
menguasai hati akal pikiran, Dewa Ruci (Sang Roh Suci) yang akan mengambil alih
dan membimbing ke jalan benar dan baik. Bukan cita-cita menjadi baik yang
penting, melainkan sekarang, saat ini, saat demi saat tidak ada lagi nafsu
jahat menguasai diri lahir batin. Mengertikah andika, Nurseta?"
Nurseta
menyembah.
"Aduh,
terima kasih, gusti patih. Semoga Hyang Widhi Wasa akan membimbing hamba
sehingga dapat terbuka mata hati hamba untuk melihat kebenaran itu. Sekarang
hamba mohon pamit, gusti. Hamba mohon sudilah kiranya paduka memberi tahu
kepada kanjeng eyang Sindukerta bahwa hamba melanjutkan perjalanan mencari
kedua orang tua hamba."
"Begitulah
kehendakmu, Nurseta. Baik, akan kusampaikan kepada Paman Senopati Sindukerta.
Selamat jalan dan semoga Sang Hyang Widhi selalu melimpahi Kasih Karunia dan
bimbingan kepadamu."
Nurseta menyembah
lagi lalu mengambil jalan simpang, meninggalkan Ki Patih Narotama yang
mengikuti kepergian pemuda itu sampai bayangannya menghilang. TAMAT