"Eyang, guru saya mengajarkan bahwa setiap saya melakukan sesatu, saya harus menganggap bahwa apa yang saya lakukan itu sebagai suatu kewajiban. Melakukan kewajiban itu berarti tanpa pamrih untuk mendapatkan imbalan dalam bentuk apapun juga. Melakukan segala sesuatu yang baik dan benar merupakan kewajiban dan untuk itulah kita dilahirkan di dunia ini. Akan tetapi, eyang tentu akan mengetahui kalau pusaka itu sudah diserahkan kepada Sang Prabu Erlangga. Sudahkah hal itu terjadi, eyang?"
Senopati
Sindukerta mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Berita
yang kaubawa mengenai Sang Megatantra ini teramat penting sekali, Nurseta! Ini
menguatkan dugaanku semula bahwa Pangeran Hendratama tentu mempunyai niat yang
amat buruk sekali! Tidak salah lagi dugaanku sekarang bahwa dia pasti akan
berkhianat dan memberontak kepada Sang Prabu Erlangga! Ini gawat sekali
Nurseta!"
"Eh,
apakah yang terjadi, eyang? Apakah Pangeran Hendratama berada di kota raja?
Apakah eyang mengetahui dimana dia?"
"Tentu
saja aku tahu, Nurseta. Sudah jelas dia berniat buruk. Baru beberapa bulan dia
menghadap Sang Prabu Erlangga yang masih adik iparnya dan mohon diperkenankan
tinggal di kota raja, di luar istana. Tentu saja Sang Prabu Erlangga memberi
ijin dan kini dia tinggal di sebuah gedung mewah. Aku sudah merasa curiga
karena dia menghubungi para pejabat, para perwira dan pamong yang berkedudukan
tinggi, menjalin persahabatan dengan mereka. Juga dia pernah mengunjungi aku
dan sikapnya memang ramah sekali. Agaknya dia hendak menanam pengaruh di kota
raja dan mungkin dia akan melakukan pemberontakan kalau sudah menghimpun
kekuatan dan..... tentu saja, dia dapat mempergunakan pengaruh Sang Megatantra
yang dipercaya mengandung wahyu kraton yang memberi hak kepada seseorang untuk
menjadi raja!"
"Hal ini
harus dicegah, eyang! Kalau dia tinggal di kota raja, sungguh kebetulan sekali.
Saya akan pergi ke sana sekarang juga untuk merampas kembali pusaka Sang
Megatantra!"
"Tenang
dulu, Nurseta. Engkau tidak boleh bertindak sembarangan tanpa perhitungan.
Gedung Pangeran Hendratama merupakan bangunan yang kokoh dan dijaga ketat,
begitu yang kudengar dari para perwira yang dekat dengannya. Dia mengumpulkan
jagoan-jagoan untuk menjadi pengawal pribadinya, dan dia sendiri juga seorang
yang tangguh. Kalau engkau ke sana malam ini juga, selain engkau mungkin
menghadapi bahaya....."
"Kanjeng
eyang, saya tidak gentar menghadapi semua itu." potong Nurseta, karena dia
tidak ingin kakeknya mengkhawatirkan dirinya.
"Mungkin
engkau memiliki kesaktian, hai ini sudah kubuktikan sendiri tadi. Akan tetapi
bukan penjagaan ketat itu yang terpenting. Bagaimana kalau engkau datang ke
sana akan tetapi kebetulan Pangeran Hendratama tidak berada di gedungnya? Nah,
semua jerih payahmu yang mengandung resiko bahaya besar itu tidak ada gunanya,
bukan?"
Nurseta
tertegun. Apa yang diucapkan kakeknya itu memang bukan tak mungkin. Memang,
kalau pangeran itu tidak berada di rumahnya, usahanya akan gagal karena
pangeran itu tentu akan mengetahuinya dan dapat menyembunyikan diri atau pergi
dari kota raja sehingga sulit baginya untuk menemukannya.
"Lalu,
menurut paduka, bagaimana baiknya, kanjeng eyang?"
"Begini,
Nurseta. Besok pagi, aku akan menyelidiki dan mencari keterangan apakah
Pangeran Hendratama besok malam berada di gedungnya atau tidak. Kalau sudah
pasti berada di rumahnya, nah, engkau boleh mendatanginya dan merampas kembali
pusaka Sang Megatantra. Kalau ternyata besok dia bepergian dan malamnya tidak
berada di rumahnya, tentu engkau harus menunda lagi usahamu. Bagaimana bukankah
usulku ini baik?"
Nurseta
memandang wajah kakeknya dengan mata bersinar dan wajah berseri.
"Wah,
terima kasih banyak, kanjeng eyang. usul paduka itu memang baik sekali dan
tepat. Memang segala tindakan harus diperhitungkan dengan matang lebih dulu
agar tidak mengalami kegagalan. Pantas saja sejak dulu paduka menjadi senopati
yang tentu saja harus mahir menggunakan siasat!"
Kakek itu tersenyum,
senang mendapat pujian dari cucunya.
"Selain
itu, besok pagi-pagi engkau akan kuperkenalkan kepada semua abdi (pelayan) di
rumah ini agar mereka mengenal bahwa engkau adalah cucuku dan tidak menimbulkan
keheranan dan pertanyaan karena tahu-tahu engkau tinggal di sini."
"Baiklah,
eyang, dan terima kasih." Pada saat itu, Nyi Sindukerta muncul di pintu.
"Aeh,
malam sudah begini larut dan kalian belum tidur? Kakangmas senopati, biarkan
Nurseta beristirahat dan tidur. Dia tentu lelah. Nurseta, aku sudah
mempersiapkan kamar untukmu. Hayo, istirahatlah dan tidur. Besok kan masih ada
waktu untuk bercakap-cakap lebih lanjut!"
Senopati
Sindukerta tertawa.
"Ha ha,
aku sampai lupa. Benar nenekmu Nurseta. Sana, pergilah ke kamarmu dan
tidur!"
Nurseta tidak membantah
dan dia lalu mengikuti neneknya yang menunjukkan kamar yang dipersiapkan
untuknya. Karena memang lelah, malam itu Nurseta tidur dengan nyenyak. Apalagi
karena hatinya merasa senang. Pertama, secara tidak terduga-duga dia bertemu
dengan kakek dan neneknya, orang tua ibunya. Kedua, dia mendapatkan bahwa
Pangeran Hendratama tinggal di kota raja sehingga dia tidak perlu susah-susah
mencari pangeran yang licik itu.
Pada keesokan
harinya, setelah mandi dan sarapan bersama kakek dan neneknya, Nurseta lalu
diperkenalkan kepada semua pelayan dan juga perajurit-perajurit pengawal.
Mereka semua tampak gembira ketika diberi tahu bahwa pemuda yang sikapnya
lembut dan sederhana itu adalah cucu sang senopati dan yang mulai hari itu akan
tinggal di gedung senopati itu. Baik Senopati Sindukerta maupun Nurseta sama
sekali tidak menyadari bahwa Pangeran Hendratama pada pagi hari itu juga sudah
mendengar dan mengetahui bahwa cucu Ki Sindukerta telah datang dan tinggal di
rumah sang senopati. Pangeran Hendratama yang sudah bertekad bulat untuk
merebut kekuasaan dan menjadi raja di Kahuripan, selain menjalin hubungan erat
dengan para pembesar yang ambisius dan sekiranya dapat diajak bersekongkol,
juga menyeludupkan seorang yang dapat dijadikan kaki tangannya ke dalam rumah
setiap orang pembesar tinggi yang setia kepada Sang Prabu Erlangga. Tugas
mata-mata ini, yang merupakan karyawan di rumah sang pembesar itu sendiri dan
telah disuapnya dengan uang, adalah untuk memata-matai gerak gerik pembesar
itu. Senopati Sindukerta adalah seorang di antara para pejabat tinggi yang
selalu diamati gerak geriknya dan di dalam rumahnya terdapat seorang kaki
tangan Pangeran Hendratama. Mata-mata itu adalah seorang yang sudah lama
bekerja di gedung sang senopati, yaitu tukang kebun yang sudah dipercaya.
Begitu Nurseta
diperkenalkan kepada semua pembantu di senopaten itu, kaki tangan Pangeran
Hendratama ini segera memberi kabar kepada sang pangeran tentang kedatangan
Nurseta sebagai cucu Senopati Sindukerta. Pangeran Hendratama terkejut sekali
mendengar berita ini. Timbul rasa khawatir bercampur benci. Khawatir mengingat
bahwa dia telah mencuri keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta dan
timbul rasa benci di dalam hatinya mendengar bahwa Nurseta adalah cucu Senopati
Sindukerta. Cucu sang senopati, berarti putera Endang Sawitri. Ini dia merasa
yakin, mengingat bahwa Senopati Sindukerta tidak mempunyai anak lain kecuali
Endang Sawitri yang dulu membuat dia tergila-gila, dan yang melarikan diri,
tidak mau menjadi isterinya. Dia merasa khawatir membayangkan betapa saktinya
pemuda itu. Tidak dapat diragukan lagi bahwa Nurseta pasti akan berusaha untuk
merampas Sang Megatantra dari tangannya! Maka, begitu mendengar berita tentang
Nurseta, Pangeran Hendratama cepat mempersiapkan penjagaan ketat di gedungnya.
Bahkan diam-diam dia menghubungi selir Sang Prabu Erlangga, yaitu Mandari yang
diam-diam sudah mengadakan persekutuan dengannya, dan mohon bantuan Mandari
untuk melindunginya. Mandari cepat menanggapi permohonan ini dan ia lalu
menugaskan Puspa Dewi untuk membantu sang pangeran. Puspa Dewi tidak dapat
membantah dan ia lalu ikut utusan Pangeran Hendratama pergi ke gedung sang
pangeran yang besar dan kokoh seperti istana berbenteng itu.
Kehadiran
Puspa Dewi di tempat kediaman Pangeran Hendratama menarik banyak perhatian.
Bahkan Pangeran Hendratama sendiri yang memang berwatak mata keranjang,
terpesona dan tertarik sekali oleh kecantikan Puspa Dewi. Apa lagi para jagoan
yang sudah diundang untuk menjadi pengawal-pengawalnya mereka terkagum-kagum
melihat gadis yang masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya,
amat cantik jelita akan tetapi sudah menjadi kepercayaan Puteri Mandari
sehingga dikirim untuk diperbantukan menjaga keselamatan Pangeran Hendratama?
Akan tetapi, bagaimanapun juga, baik Pangeran Hendratama sendiri maupun para
jagoan itu, merasa sangat sangsi dan memandang rendah kepada gadis ini. Sampai
dimana sih kesaktian gadis muda seperti itu, demikian pikir mereka. Biarpun
demikian, para jagoan itu merasa segan mengingat bahwa Puspa Dewi dikirim ke
istana Pangeran Hendratama sebagai utusan Gusti Puteri Mandari, selir terkasih
Sang Prabu Erlangga dan mereka semua mengetahui betapa saktinya selir yang
merupakan puteri Kerajaan Parang Siluman itu. Maka, para jagoan itu bersikap
hormat kepada Puspa Dewi dan menyimpan rasa kagum mereka di dalam hati, tidak
berani bersikap kurang ajar. Akan tetapi, di antara mereka ada seorang jagoan
yang merasa berani. Usianya lebih muda dibandingkan yang lain, sekitar tiga
puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat. Dia adalah seorang jagoan
dari pesisir utara dan belum banyak mengenal para datuk di daerah selatan.
Maka, tidak seperti yang lain, diapun belum mengenal betul ketenaran nama besar
Puteri Mandari dan memandang rendah para jagoan yang lain. Maka, diapun
memandang rendah Puspa Dewi yang dianggapnya seorang gadis remaja yang masih
ingusan. Karena tertarik sekali oleh kecantikan Puspa Dewi, diapun tidak
seperti yang lain, memandang dengan mata kurang ajar dan mulutnya menyeringai.
Bahkan ketika Puspa Dewi baru datang dan diperkenalkan oleh Pangeran Hendratama
kepada para jagoan itu sebagai utusan Gusti Puteri Mandari untuk memperkuat
penjagaan di istananya, dia berani mengedipkan sebelah matanya kepada Puspa
Dewi cara kurang ajar sekali. Akan tetapi Puspa Dewi pura-pura tidak melihatnya
karena ia sebagai utusan Puteri Mandari tentu saja tidak ingin membikin ribut
hanya karena urusan sekecil itu.
Banyak sudah
dara perkasa ini bertemu dengan laki-laki seperti itu, yang suka berlagak
melihat gadis cantik dan mengedipkan sebelah mata. Akan tetapi ketika ia berada
di taman seorang diri, datanglah Ki Lembara, jagoan pesisir utara itu, bersama
tiga orang jagoan lain yang usianya sedikit lebih tua, menghampirinya di dalam
taman. Tiga orang jagoan lain ini diajak oleh Lembara untuk menggoda Puspa Dewi
dan keberanian Lembara yang membuat mereka juga berani, walaupun hanya sekedar
ingin menonton bagaimana jagoan pesisir itu menggoda dara cantik jelita utusan
dari istana raja itu. Puspa Dewi yang sedang duduk seorang diri sambil
termenung itu melihat empat orang yang memasuki taman dari sebelah kanannya,
akan tetapi ia diam saja. la sedang memikirkan keadaannya. Ia memenuhi perintah
gurunya atau ibu angkatnya untuk membantu dua orang Puteri Kerajaan Parang
Siluman yang berusaha untuk menghancurkan Kahuripan dan menjatuhkan Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama. Ia berhasil masuk ke istana dan diterima
sebagai dayang istana, akan tetapi ia belum tahu apa yang harus ia lakukan di
sana. Kini, tiba-tiba ia diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu menjadi
pengawal Pangeran Hendratama yang belum dikenalnya, akan tetapi yang sudah
diketahui bahwa pangeran inilah yang telah mencuri Keris Pusaka Sang Megatantra
dari tangan Nurseta! Pangeran Hendratama inilah yang kini memegang Sang
Megatantra, akan tetapi kenapa dia tidak menyerahkan kepada Sang Prabu
Erlangga? Ketika ia disuruh oleh Gusti Puteri Mandari, selir Sang Prabu
Erlangga untuk ikut menjadi pengawal pangeran itu, sudah menduga bahwa Pangeran
Hendratama tentu merupakan sekutu dari Puteri Mandari. Berarti Pangeran
Hendratama adalah orang yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Padahal,
bukankah pangeran itu merupakan kakak dari Permaisuri atau kakak ipar sang
prabu sendiri, Puspa Dewi diam-diam dapat mengambil kesimpulan bahwa tentu
Pangeran Hendratama merencanakan pemberontakan dan untuk itu dia bergabung
dengan kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu untuk menjatuhkan Sang
Prabu Erlangga!
Puspa Dewi
menjadi bimbang ragu. Di satu pihak, ia harus melaksanakan perintah ibu
angkatnya dan juga sebagai puteri Sekar Kedaton, puteri Raja Wura wuri, ia
harus membantu mereka yang memusuhi Kahuripan. Akan tetapi di lain pihak ia
teringat akan pembicaraannya dengan Nurseta. Orang-orang yang memusuhi Sang
Prabu Erlangga ini bukanlah orang baik-baik. Dua orang puteri Kerajaan Parang
Siluman itu telah mengorbankan diri, menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama, hanya agar mereka dapat berdekatan dengan musuh-musuh mereka
sehingga memudahkan mereka untuk menyerang, kalau saatnya tiba. Sungguh
merupakan perbuatan yang hina, menyerahkan dirinya menjadi selir untuk kemudian
mencelakakan orang yang telah menjadi suaminya. Dan sekutu mereka, Pangeran
Hendratama itu, juga bukan orang baik-baik melihat cara dia mencuri pusaka Sang
Megatantra dari tangan Nurseta. Sekumpulan orang-orang yang licik bersekutu
untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang demikian
bijaksana! Dan kini ia harus membantu orang-orang licik itu,
"Puspa
Dewi yang cantik manis, kenapa andika melamun seorang diri dalam taman ini?
Mari, kami temani agar engkau bergembira dan tidak kesepian!" kata Ki
Lembara sambil cengar-cengir berdiri di depan Puspa Dewi.
Tiga orang
temannya hanya berdiri di belakangnya dan mereka hanya menyeringai. Puspa Dewi
tetap duduk di atas bangku, mengangkat muka memandang wajah yang dihias kumis
tebal melintang dan mata yang lebar itu, lalu berkata dingin.
"Aku
tidak mengenal kamu. Pergilah dan jangan ganggu aku!"
"Ha
ha-ha. Tadi kita sudah saling diperkenalkan oleh Gusti Pangeran, apakah andika
lupa lagi, Dewi? Aku boleh memanggilmu Dewi saja, bukan? Andika memang cantik
seperti Dewi Kahyangan. Namaku Lembara, pendekar jagoan dari Pesisir
Utara!"
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya.
"Aku tidak
perduli kamu jagoan atau bukan, dari pesisir atau dari gunung, aku tidak ingin
berteman dengan kamu dan pergilah sebelum aku hilang sabar dan akan
menghajarmu!"
Gertakan ini
membuat tiga orang teman Lembara merasa tidak enak. Mereka teringat bahwa gadis
ini adalah utusan Puteri Mandari, maka mereka mundur tiga langkah dan seorang
di antara mereka memegang lengan Lembara dari belakang untuk menariknya mundur.
Akan tetapi Lembara mengibaskan lengannya dan dia malah melangkah maju
mendekati Puspa Dewi sambil tersenyum lebar.
"He-heh,
andika hendak menghajarku? Bagaimana caranya, manis? Pukulan tanganmu yang
halus itu seperti pijatan yang nyaman bagiku. Mari, nimas ayu, pijatilah
tubuhku dengan pukulanmu. Kau boleh pilih, bagian mana yang hendak kaupijit,
ha-ha!"
No comments:
Post a Comment