Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 64


"Eyang, guru saya mengajarkan bahwa setiap saya melakukan sesatu, saya harus menganggap bahwa apa yang saya lakukan itu sebagai suatu kewajiban. Melakukan kewajiban itu berarti tanpa pamrih untuk mendapatkan imbalan dalam bentuk apapun juga. Melakukan segala sesuatu yang baik dan benar merupakan kewajiban dan untuk itulah kita dilahirkan di dunia ini. Akan tetapi, eyang tentu akan mengetahui kalau pusaka itu sudah diserahkan kepada Sang Prabu Erlangga. Sudahkah hal itu terjadi, eyang?"
Senopati Sindukerta mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Berita yang kaubawa mengenai Sang Megatantra ini teramat penting sekali, Nurseta! Ini menguatkan dugaanku semula bahwa Pangeran Hendratama tentu mempunyai niat yang amat buruk sekali! Tidak salah lagi dugaanku sekarang bahwa dia pasti akan berkhianat dan memberontak kepada Sang Prabu Erlangga! Ini gawat sekali Nurseta!"
"Eh, apakah yang terjadi, eyang? Apakah Pangeran Hendratama berada di kota raja? Apakah eyang mengetahui dimana dia?"
"Tentu saja aku tahu, Nurseta. Sudah jelas dia berniat buruk. Baru beberapa bulan dia menghadap Sang Prabu Erlangga yang masih adik iparnya dan mohon diperkenankan tinggal di kota raja, di luar istana. Tentu saja Sang Prabu Erlangga memberi ijin dan kini dia tinggal di sebuah gedung mewah. Aku sudah merasa curiga karena dia menghubungi para pejabat, para perwira dan pamong yang berkedudukan tinggi, menjalin persahabatan dengan mereka. Juga dia pernah mengunjungi aku dan sikapnya memang ramah sekali. Agaknya dia hendak menanam pengaruh di kota raja dan mungkin dia akan melakukan pemberontakan kalau sudah menghimpun kekuatan dan..... tentu saja, dia dapat mempergunakan pengaruh Sang Megatantra yang dipercaya mengandung wahyu kraton yang memberi hak kepada seseorang untuk menjadi raja!"
"Hal ini harus dicegah, eyang! Kalau dia tinggal di kota raja, sungguh kebetulan sekali. Saya akan pergi ke sana sekarang juga untuk merampas kembali pusaka Sang Megatantra!"
"Tenang dulu, Nurseta. Engkau tidak boleh bertindak sembarangan tanpa perhitungan. Gedung Pangeran Hendratama merupakan bangunan yang kokoh dan dijaga ketat, begitu yang kudengar dari para perwira yang dekat dengannya. Dia mengumpulkan jagoan-jagoan untuk menjadi pengawal pribadinya, dan dia sendiri juga seorang yang tangguh. Kalau engkau ke sana malam ini juga, selain engkau mungkin menghadapi bahaya....."
"Kanjeng eyang, saya tidak gentar menghadapi semua itu." potong Nurseta, karena dia tidak ingin kakeknya mengkhawatirkan dirinya.
"Mungkin engkau memiliki kesaktian, hai ini sudah kubuktikan sendiri tadi. Akan tetapi bukan penjagaan ketat itu yang terpenting. Bagaimana kalau engkau datang ke sana akan tetapi kebetulan Pangeran Hendratama tidak berada di gedungnya? Nah, semua jerih payahmu yang mengandung resiko bahaya besar itu tidak ada gunanya, bukan?"
Nurseta tertegun. Apa yang diucapkan kakeknya itu memang bukan tak mungkin. Memang, kalau pangeran itu tidak berada di rumahnya, usahanya akan gagal karena pangeran itu tentu akan mengetahuinya dan dapat menyembunyikan diri atau pergi dari kota raja sehingga sulit baginya untuk menemukannya.
"Lalu, menurut paduka, bagaimana baiknya, kanjeng eyang?"
"Begini, Nurseta. Besok pagi, aku akan menyelidiki dan mencari keterangan apakah Pangeran Hendratama besok malam berada di gedungnya atau tidak. Kalau sudah pasti berada di rumahnya, nah, engkau boleh mendatanginya dan merampas kembali pusaka Sang Megatantra. Kalau ternyata besok dia bepergian dan malamnya tidak berada di rumahnya, tentu engkau harus menunda lagi usahamu. Bagaimana bukankah usulku ini baik?"
Nurseta memandang wajah kakeknya dengan mata bersinar dan wajah berseri.
"Wah, terima kasih banyak, kanjeng eyang. usul paduka itu memang baik sekali dan tepat. Memang segala tindakan harus diperhitungkan dengan matang lebih dulu agar tidak mengalami kegagalan. Pantas saja sejak dulu paduka menjadi senopati yang tentu saja harus mahir menggunakan siasat!"
Kakek itu tersenyum, senang mendapat pujian dari cucunya.
"Selain itu, besok pagi-pagi engkau akan kuperkenalkan kepada semua abdi (pelayan) di rumah ini agar mereka mengenal bahwa engkau adalah cucuku dan tidak menimbulkan keheranan dan pertanyaan karena tahu-tahu engkau tinggal di sini."
"Baiklah, eyang, dan terima kasih." Pada saat itu, Nyi Sindukerta muncul di pintu.
"Aeh, malam sudah begini larut dan kalian belum tidur? Kakangmas senopati, biarkan Nurseta beristirahat dan tidur. Dia tentu lelah. Nurseta, aku sudah mempersiapkan kamar untukmu. Hayo, istirahatlah dan tidur. Besok kan masih ada waktu untuk bercakap-cakap lebih lanjut!"
Senopati Sindukerta tertawa.
"Ha ha, aku sampai lupa. Benar nenekmu Nurseta. Sana, pergilah ke kamarmu dan tidur!"
Nurseta tidak membantah dan dia lalu mengikuti neneknya yang menunjukkan kamar yang dipersiapkan untuknya. Karena memang lelah, malam itu Nurseta tidur dengan nyenyak. Apalagi karena hatinya merasa senang. Pertama, secara tidak terduga-duga dia bertemu dengan kakek dan neneknya, orang tua ibunya. Kedua, dia mendapatkan bahwa Pangeran Hendratama tinggal di kota raja sehingga dia tidak perlu susah-susah mencari pangeran yang licik itu.

Pada keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan bersama kakek dan neneknya, Nurseta lalu diperkenalkan kepada semua pelayan dan juga perajurit-perajurit pengawal. Mereka semua tampak gembira ketika diberi tahu bahwa pemuda yang sikapnya lembut dan sederhana itu adalah cucu sang senopati dan yang mulai hari itu akan tinggal di gedung senopati itu. Baik Senopati Sindukerta maupun Nurseta sama sekali tidak menyadari bahwa Pangeran Hendratama pada pagi hari itu juga sudah mendengar dan mengetahui bahwa cucu Ki Sindukerta telah datang dan tinggal di rumah sang senopati. Pangeran Hendratama yang sudah bertekad bulat untuk merebut kekuasaan dan menjadi raja di Kahuripan, selain menjalin hubungan erat dengan para pembesar yang ambisius dan sekiranya dapat diajak bersekongkol, juga menyeludupkan seorang yang dapat dijadikan kaki tangannya ke dalam rumah setiap orang pembesar tinggi yang setia kepada Sang Prabu Erlangga. Tugas mata-mata ini, yang merupakan karyawan di rumah sang pembesar itu sendiri dan telah disuapnya dengan uang, adalah untuk memata-matai gerak gerik pembesar itu. Senopati Sindukerta adalah seorang di antara para pejabat tinggi yang selalu diamati gerak geriknya dan di dalam rumahnya terdapat seorang kaki tangan Pangeran Hendratama. Mata-mata itu adalah seorang yang sudah lama bekerja di gedung sang senopati, yaitu tukang kebun yang sudah dipercaya.
Begitu Nurseta diperkenalkan kepada semua pembantu di senopaten itu, kaki tangan Pangeran Hendratama ini segera memberi kabar kepada sang pangeran tentang kedatangan Nurseta sebagai cucu Senopati Sindukerta. Pangeran Hendratama terkejut sekali mendengar berita ini. Timbul rasa khawatir bercampur benci. Khawatir mengingat bahwa dia telah mencuri keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta dan timbul rasa benci di dalam hatinya mendengar bahwa Nurseta adalah cucu Senopati Sindukerta. Cucu sang senopati, berarti putera Endang Sawitri. Ini dia merasa yakin, mengingat bahwa Senopati Sindukerta tidak mempunyai anak lain kecuali Endang Sawitri yang dulu membuat dia tergila-gila, dan yang melarikan diri, tidak mau menjadi isterinya. Dia merasa khawatir membayangkan betapa saktinya pemuda itu. Tidak dapat diragukan lagi bahwa Nurseta pasti akan berusaha untuk merampas Sang Megatantra dari tangannya! Maka, begitu mendengar berita tentang Nurseta, Pangeran Hendratama cepat mempersiapkan penjagaan ketat di gedungnya. Bahkan diam-diam dia menghubungi selir Sang Prabu Erlangga, yaitu Mandari yang diam-diam sudah mengadakan persekutuan dengannya, dan mohon bantuan Mandari untuk melindunginya. Mandari cepat menanggapi permohonan ini dan ia lalu menugaskan Puspa Dewi untuk membantu sang pangeran. Puspa Dewi tidak dapat membantah dan ia lalu ikut utusan Pangeran Hendratama pergi ke gedung sang pangeran yang besar dan kokoh seperti istana berbenteng itu.

Kehadiran Puspa Dewi di tempat kediaman Pangeran Hendratama menarik banyak perhatian. Bahkan Pangeran Hendratama sendiri yang memang berwatak mata keranjang, terpesona dan tertarik sekali oleh kecantikan Puspa Dewi. Apa lagi para jagoan yang sudah diundang untuk menjadi pengawal-pengawalnya mereka terkagum-kagum melihat gadis yang masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, amat cantik jelita akan tetapi sudah menjadi kepercayaan Puteri Mandari sehingga dikirim untuk diperbantukan menjaga keselamatan Pangeran Hendratama? Akan tetapi, bagaimanapun juga, baik Pangeran Hendratama sendiri maupun para jagoan itu, merasa sangat sangsi dan memandang rendah kepada gadis ini. Sampai dimana sih kesaktian gadis muda seperti itu, demikian pikir mereka. Biarpun demikian, para jagoan itu merasa segan mengingat bahwa Puspa Dewi dikirim ke istana Pangeran Hendratama sebagai utusan Gusti Puteri Mandari, selir terkasih Sang Prabu Erlangga dan mereka semua mengetahui betapa saktinya selir yang merupakan puteri Kerajaan Parang Siluman itu. Maka, para jagoan itu bersikap hormat kepada Puspa Dewi dan menyimpan rasa kagum mereka di dalam hati, tidak berani bersikap kurang ajar. Akan tetapi, di antara mereka ada seorang jagoan yang merasa berani. Usianya lebih muda dibandingkan yang lain, sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat. Dia adalah seorang jagoan dari pesisir utara dan belum banyak mengenal para datuk di daerah selatan. Maka, tidak seperti yang lain, diapun belum mengenal betul ketenaran nama besar Puteri Mandari dan memandang rendah para jagoan yang lain. Maka, diapun memandang rendah Puspa Dewi yang dianggapnya seorang gadis remaja yang masih ingusan. Karena tertarik sekali oleh kecantikan Puspa Dewi, diapun tidak seperti yang lain, memandang dengan mata kurang ajar dan mulutnya menyeringai. Bahkan ketika Puspa Dewi baru datang dan diperkenalkan oleh Pangeran Hendratama kepada para jagoan itu sebagai utusan Gusti Puteri Mandari untuk memperkuat penjagaan di istananya, dia berani mengedipkan sebelah matanya kepada Puspa Dewi cara kurang ajar sekali. Akan tetapi Puspa Dewi pura-pura tidak melihatnya karena ia sebagai utusan Puteri Mandari tentu saja tidak ingin membikin ribut hanya karena urusan sekecil itu.

Banyak sudah dara perkasa ini bertemu dengan laki-laki seperti itu, yang suka berlagak melihat gadis cantik dan mengedipkan sebelah mata. Akan tetapi ketika ia berada di taman seorang diri, datanglah Ki Lembara, jagoan pesisir utara itu, bersama tiga orang jagoan lain yang usianya sedikit lebih tua, menghampirinya di dalam taman. Tiga orang jagoan lain ini diajak oleh Lembara untuk menggoda Puspa Dewi dan keberanian Lembara yang membuat mereka juga berani, walaupun hanya sekedar ingin menonton bagaimana jagoan pesisir itu menggoda dara cantik jelita utusan dari istana raja itu. Puspa Dewi yang sedang duduk seorang diri sambil termenung itu melihat empat orang yang memasuki taman dari sebelah kanannya, akan tetapi ia diam saja. la sedang memikirkan keadaannya. Ia memenuhi perintah gurunya atau ibu angkatnya untuk membantu dua orang Puteri Kerajaan Parang Siluman yang berusaha untuk menghancurkan Kahuripan dan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Ia berhasil masuk ke istana dan diterima sebagai dayang istana, akan tetapi ia belum tahu apa yang harus ia lakukan di sana. Kini, tiba-tiba ia diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu menjadi pengawal Pangeran Hendratama yang belum dikenalnya, akan tetapi yang sudah diketahui bahwa pangeran inilah yang telah mencuri Keris Pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta! Pangeran Hendratama inilah yang kini memegang Sang Megatantra, akan tetapi kenapa dia tidak menyerahkan kepada Sang Prabu Erlangga? Ketika ia disuruh oleh Gusti Puteri Mandari, selir Sang Prabu Erlangga untuk ikut menjadi pengawal pangeran itu, sudah menduga bahwa Pangeran Hendratama tentu merupakan sekutu dari Puteri Mandari. Berarti Pangeran Hendratama adalah orang yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Padahal, bukankah pangeran itu merupakan kakak dari Permaisuri atau kakak ipar sang prabu sendiri, Puspa Dewi diam-diam dapat mengambil kesimpulan bahwa tentu Pangeran Hendratama merencanakan pemberontakan dan untuk itu dia bergabung dengan kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga!

Puspa Dewi menjadi bimbang ragu. Di satu pihak, ia harus melaksanakan perintah ibu angkatnya dan juga sebagai puteri Sekar Kedaton, puteri Raja Wura wuri, ia harus membantu mereka yang memusuhi Kahuripan. Akan tetapi di lain pihak ia teringat akan pembicaraannya dengan Nurseta. Orang-orang yang memusuhi Sang Prabu Erlangga ini bukanlah orang baik-baik. Dua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu telah mengorbankan diri, menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, hanya agar mereka dapat berdekatan dengan musuh-musuh mereka sehingga memudahkan mereka untuk menyerang, kalau saatnya tiba. Sungguh merupakan perbuatan yang hina, menyerahkan dirinya menjadi selir untuk kemudian mencelakakan orang yang telah menjadi suaminya. Dan sekutu mereka, Pangeran Hendratama itu, juga bukan orang baik-baik melihat cara dia mencuri pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta. Sekumpulan orang-orang yang licik bersekutu untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang demikian bijaksana! Dan kini ia harus membantu orang-orang licik itu,
"Puspa Dewi yang cantik manis, kenapa andika melamun seorang diri dalam taman ini? Mari, kami temani agar engkau bergembira dan tidak kesepian!" kata Ki Lembara sambil cengar-cengir berdiri di depan Puspa Dewi.

Tiga orang temannya hanya berdiri di belakangnya dan mereka hanya menyeringai. Puspa Dewi tetap duduk di atas bangku, mengangkat muka memandang wajah yang dihias kumis tebal melintang dan mata yang lebar itu, lalu berkata dingin.
"Aku tidak mengenal kamu. Pergilah dan jangan ganggu aku!"
"Ha ha-ha. Tadi kita sudah saling diperkenalkan oleh Gusti Pangeran, apakah andika lupa lagi, Dewi? Aku boleh memanggilmu Dewi saja, bukan? Andika memang cantik seperti Dewi Kahyangan. Namaku Lembara, pendekar jagoan dari Pesisir Utara!"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Aku tidak perduli kamu jagoan atau bukan, dari pesisir atau dari gunung, aku tidak ingin berteman dengan kamu dan pergilah sebelum aku hilang sabar dan akan menghajarmu!"
Gertakan ini membuat tiga orang teman Lembara merasa tidak enak. Mereka teringat bahwa gadis ini adalah utusan Puteri Mandari, maka mereka mundur tiga langkah dan seorang di antara mereka memegang lengan Lembara dari belakang untuk menariknya mundur. Akan tetapi Lembara mengibaskan lengannya dan dia malah melangkah maju mendekati Puspa Dewi sambil tersenyum lebar.
"He-heh, andika hendak menghajarku? Bagaimana caranya, manis? Pukulan tanganmu yang halus itu seperti pijatan yang nyaman bagiku. Mari, nimas ayu, pijatilah tubuhku dengan pukulanmu. Kau boleh pilih, bagian mana yang hendak kaupijit, ha-ha!"

<<<Bagian 63                                                                                         Bagian 65 >>>

No comments:

Post a Comment