Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 63


"Saya juga tidak tahu, Eyang Senopati. Mereka itu selalu melarikan diri dan bersembunyi bukan sekali-kali karena tidak lagi mau mengakui paduka sebagai ayah melainkan karena ketakutan kalau-kalau mereka akan dihukum berat dan dipaksa saling berpisah kalau paduka menemukan mereka. Saya sendiri juga tidak tahu dimana adanya mereka, bahkan kedatangan saya ini juga dalam usaha saya mencari mereka."
Senopati Sindukerta menatap wajah pemuda itu dengan penuh perhatian,
"orang muda, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa mereka takut bertemu dengan kami? Dan apa pula maksudmu mencari mereka? Ada urusan apakah kau dengan puteriku Endang Sawitri?"
Nurseta tidak dapat menyembunyikan kenyataan tentang dirinya lagi dan dia menganggap bahwa sudah tiba saatnya dia harus memperkenalkan diri kepada orang yang sesungguhnya menjadi kakeknya ini.
"Saya mencari mereka karena Endang Sawitri adalah ibu kandung saya dan Darmaguna adalah ayah saya, eyang."
Sepasang mata tua itu terbelalak, wajah tua itu menjadi pucat, lalu berubah merah.
"Kau ..... kau .....?"
"Saya Nurseta, cucu eyang ....."
"Cucuku .....!" Senopati Sindukerta lalu melompat berdiri, menubruk ke depan dan merangkul Nurseta. Lalu digandengnya lengan pemuda itu dan ditariknya
"Mari, mari cucuku, mari kita bicara didalam dan mari engkau menghadap nenekmu! Ah, betapa akan bahagianya nenekmu melihat cucunya!"
Nurseta dengan kedua mata basah karena terharu membiarkan dirinya ditarik memasuki gedung itu dari pintu belakang. Para pelayan tentu saja merasa terkejut dan heran melihat sang senopati masuk rumah dari pintu belakang sambil menggandeng dan menarik tangan seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Akan tetapi melihat wajah senopati itu berseri gembira, mereka tidak menyangka buruk dan tidak berani bertanya. Ki Sindukerta tidak memperdulikan para pelayan yang keheranan itu dan terus menarik tangan Nurseta, dibawa masuk ke ruangan paling dalam.
Nyi Sindukerta yang sedang duduk melamun di ruangan itu, tentu saja terkejut dan heran pula melihat suaminya memasuki ruangan menggandeng seorang pemuda. Akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Senopati Sindukerta sudah berseru dengan gembira.
"Diajeng, lihat siapa yang kuajak masuk ini! Dia ini anak Endang!"
Wanita yang usianya mendekati enam puluh tahun dan yang tampaknya lesu digerogoti kesedihan itu terbelalak, bangkit berdiri dan wajahnya seketika menjadi pucat.
"Anak..... anak..... Endang? Cucuku.....?"
Nurseta merasa terharu sekali. Dia cepat maju berlutut dan menyembah didepan wanita tua itu,
"Saya Nurseta, menghaturkan sembah hormat saya kepada eyang puteri."
"Cucuku .....!" Nenek itu merangkul pemuda yang masih berlutut dan ia menangis tersedu-sedu. Setelah beberapa saat ia menangis, suaminya lalu menepuk-nepuk pundaknya dan membantunya bangkit berdiri.
"Sudahlah, diajeng. Tenangkan hatimu dan mari kita dengarkan cucu kita bercerita tentang anak kita."
Nenek itu menurut dan mereka lalu duduk di atas kursi dan mempersilakan Nurseta duduk diatas kursi di depan mereka.
"Cucuku, di mana ibumu? Di mana anakku Endang Sawitri?" tanya Nyi Sindukerta dengan suara serak.
"Kenapa engkau kini mencari ayah Ibumu, Nurseta Apakah engkau berpisah dari mereka? Lalu kenapa berpisah? Dan bagaimana pula engkau mengetahui bahwa dahulu aku membenci Dharmaguna dan mencari mereka?" tanya Ki Sindukerta.
"Apakah engkau mempunyai kakak atau adik? Berapa anak Endang Sawitri? Bagaimana kehidupannya? Apa anakku itu sehat-sehat saja? Gemuk atau kurus ia sekarang?" tanya Nyi Sindukerta.

Dihujani pertanyaan bertubi oleh kakek dan neneknya itu, Nurseta merasa terharu. Dia tahu betapa suami isteri yang sudah tua ini amat menderita selama ini. Dia menghela napas panjang lalu berkata dengan lembut.
"Semua pertanyaan kanjeng eyang kakung dan eyang puteri itu akan terjawab dalam riwayat yang akan saya ceritakan kepada paduka berdua."
"Ceritakan, ceritakanlah, Nurseta!" kata sang senopati tidak sabar lagi
"Nanti dulu, Nurseta. Engkau harus minum dulu!" sela Nyi Sindukerta yang lalu memanggil pelayan dan menyuruh pelayan mengambilkan minuman. Setelah pelayan datang menghidangkan minuman air teh dan karena desakan neneknya Nurseta sudah minum, mulailah pemuda itu bercerita, didengarkan dengan penuh perhatian oleh kakek dan neneknya.
"Seingat saya, ketika saya masih kecil, ayah dan ibu se lalu berpindah pindah tempat. Saya adalah anak tunggal dan mereka tidak pernah bercerita tentang riwayat mereka kepada saya. Paling akhir, kami pindah ke dusun Karang Tirta di tepi Laut Kidul, dan tinggal sana. Ketika saya berusia kurang lebih sepuluh tahun, tiba-tiba saja ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya di rumah. Mereka pergi tanpa pamit dan saya sama sekali tidak tahu mengapa dan ke mana mereka pergi. Saya menjadi sebatang kara dan hidup seorang diri."
"Aduh kasihan sekali engkau cucuku!" kata Nyi Sindukerta sambil mengusap dua titik air mata yang membasahi pipinya.
"Kemudian di pantai Laut Kidul saya bertemu dengan Eyang Empu Dewamurti dan saya diambil sebagai murid. Saya mengikuti beliau, mempelajari ilmu kanuragan selama lima tahun. Ketika saya bertemu Eyang Empu, saya berusia enam belas tahun dan saya turun gunung setelah Eyang Empu wafat. Setelah saya memiliki aji kanuragan dan merasa kuat, mulailah saya menyelidiki tentang perginya kedua orang tua saya. Saya mendatangi kepala dusun Karang Tirta, yang bernama Ki Suramenggala."
"Hemm, Ki Suramenggala? rasanya pernah aku mendengar nama itu....., oya, dia pernah menjadi prajurit dalam pasukan yang kupimpin, malah menjadi perwira rendahan. Dia melakukan penyelewengan, mengganggu penduduk maka dikeluarkan dari pasukan."
Nurseta mengangguk.
"Agaknya benar dia, eyang. Ki Suramenggala memang bukan manusia baik-baik. Setelah saya melakukan penyelidikan, saya mendengar bahwa Ki Suramenggala mengirim utusan untuk melapor kepada paduka tentang ayah dan ibu yang tinggal di dusun itu”
"Ah, benar! Aku ingat sekarang. Lima tahun lebih yang lalu memang ada berita darinya bahwa puteriku tinggal di Karang Tirta. Akan tetapi ketika aku mengirim pasukan ke sana, ternyata mereka telah pergi dan tidak ada seorangpun mengetahui ke mana mereka pergi. Gilanya, Suramenggala itu tidak mau memberitahukan komandan pasukan bahwa anakku meninggalkan seorang cucuku di sana." kata Ki Sindukerta dengan marah. "Lalu bagaimana, Nurseta?"
"Saya lalu memaksa Ki Suramenggala untuk mengaku dan dari dialah saya mengetahui bahwa dia melaporkan tentang ayah dan ibu saya kepada paduka. Karena itulah maka saya sengaja datang berkunjung menemui kanjeng eyang untuk bertanya tentang ayah ibu saya itu”
"Akan tetapi, mengapa Endang sawitri dan suaminya itu melarikan diri dan meninggalkan engkau yang baru berusia sepuluh tahun seorang diri di Karang Tirta?" tanya Nyi Sindukerta.
"Kanjeng Eyang Puteri, sekarang saya dapat mengerti mengapa ayah dan ibu melarikan diri begitu mendengar berita bahwa Ki Lurah Suramenggala melaporkan kehadiran mereka di dusun itu kepada kanjeng eyang di sini. Mereka itu agaknya masih merasa takut kalau-kalau mereka akan dihukum dan diharuskan pisah. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa paduka berdua mencari mereka karena rindu dan ingin mereka kembali, bukan untuk menghukum."
"Akan tetapi kenapa mereka meninggalkan engkau seorang diri?" tanya Ki Sindukerta, mengulang pertanyaan isterinya tadi.
"Hal itupun tadinya membuat saya merasa penasaran, eyang. Akan tetapi sekarang saya mengerti. Mereka sengaja meninggalkan saya karena mereka tidak ingin membawa saya ikut-ikutan menjadi pelarian. Mereka tidak ingin saya juga terancam bahaya seperti yang mereka kira."
Dua orang tua itu mengangguk-angguk.
"Kasihan Endang....." kata Nyi Sindukerta dengan suara gemetar karena begitu teringat kepada puterinya, tangisnya sudah mendesak lagi.
"Ini semua gara-gara si Dharmaguna itu! Dia yang menyeret anak kita kedalam jurang kesengsaraan!" kata Ki Sindukerta dan kemarahannya muncul lagi. Dia memang selalu marah kalau teringat kepada Dharmaguna karena dialah yang menjadi gara-gara anaknya menghilang sampai dua puluh tahun lamanya!
Melihat kemarahan kakeknya, Nurseta dapat mengerti. Dia maklum kalau kakeknya mempunyai rasa benci kepada Dharmaguna karena ayahnya itu dianggap sebagai biang keladi terpisahnya kakek dan neneknya dari anak tunggal mereka.
"Kanjeng eyang berdua, sayalah yang mohonkan ampun untuk ayah saya karena saya yakin bahwa ayah saya itu sama sekali tidak bermaksud untuk melarikan dan memisahkan ibu saya dari paduka berdua. Ayah dan ibu saya selalu bersembunyi dan tidak mau kembali kepada paduka berdua hanyalah karena merasa takut. Biarlah saya yang akan mencari mereka sampai dapat dan kalau sudah dapat saya temukan, pasti saya akan menceritakan kepada mereka bahwa paduka berdua sesungguhnya amat rindu kepada ibu saya dan mengharapkan agar mereka berdua segera kembali ke sini."
'Benar, cucuku Nurseta. Cepat temui ibumu, aku sudah rindu sekali kepada anakku Endang Sawitri ....." kala Nyi sindukerta dengan suara gemetar. Ki Sindukerta mengangguk dan berkata kepada cucunya.
"Carilah mereka sampai dapat, Nurseta."
"Akan tetapi kanjeng eyang berdua sudi mengampuni ayah saya, bukan?" Nurseta memohon.
"Sudah lama kami mengampuninya, apalagi sekarang mereka berdua mempunyai putera. Dharmaguna adalah mantu kami. Dahulu kami hanya marah karena mereka berdua lari dan tidak pulang."
"Baik, saya akan mencari sampai dapat menemukan ayah dan ibu." Nurseta berpikir sejenak lalu bertanya.
"Apakah paduka sudah mencoba untuk minta petunjuk orang tua dari ayah Dharmaguna"
"Tentu saja sudah. Resi Jatimurti, ayah Dharmaguna juga tidak tahu kemana puteranya pergi dan keterangannya itu dapat dipercaya sepenuhnya karena Resi Jatimurti adalah seorang pertapa yang alim dan hidup sederhana. Setelah ditinggal pergi puteranya, dia hidup seorang diri dan lima tahun setelah Dharmaguna menghilang, Resi Jatimurti meninggal dunia."

Malam itu, Nurseta bercakap-cakap berdua saja dengan Senopati Sindukerta.
"Nurseta, kedatanganmu sungguh membahagiakan hatiku dan hati eyang puterimu, apalagi kalau engkau nanti berhasil mengajak ayah ibu pulang ke sini."
"Sayapun merasa amat berbahagia eyang. Tadinya saya sama sekali tidak mengira bahwa paduka adalah eyang saya, malah saya kira bahwa paduka adalah musuh ayah ibu saya."
Senopati itu menghela napas.
"Yah, agaknya Sang Hyang Widhi merasa kasihan kepada kami yang sudah menderita selama lebih dari dua puluh tahun ini, Aku sudah mendengar riwayatmu tadi, akan tetapi ceritakanlah tentang orang sakti mandraguna yang menjadi gurumu itu. Aku ingin sekali mendengarnya."
"Eyang Empu Dewamurti adalah seorang pertapa yang berbudi luhur, bijaksana dan sakti mandraguna. Akan tetapi sayang, beliau tewas karena luka-lukanya setelah dikeroyok para datuk besar dari Kerajaan Wura-wuri, Wengker, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul."
"Ahh! Orang-orang dari tiga kerajaan itu memang terkenal jahat dan sejak dulu memusuhi Mataram dan keturunannya sampai sekarang. Akan tetapi Empu Dewamurti tidak langsung mengabdi kepada Kahuripan, mengapa dikeroyok para datuk tiga kerajaan itu?"
"Eyang Empu Dewamurti dikeroyok bukan karena urusan kerajaan, eyang. Mereka itu mengeroyok guru saya untuk memaksa guru saya menyerahkan keris pusaka Sang Megatantra kepada mereka!"
"Ahli!" Senopati Sindukerta terbelalak terkejut dan heran.
"Sang Megatantra!.....? Kaumaksudkan, keris pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu itu? Jadi pusaka itu berada di tangan mendiang Empu Dewamurti?"
"Sesungguhnya bukan di tangan Empu Dewamurti, melainkan di tangan saya eyang. Sayalah yang menemukan pusaka itu ketika saya mencangkul dan menggali tanah, sebelum saya menjadi murid Eyang Empu Dewamurti. Setelah lima tahun lebih saya belajar kanuragan dari Eyang Empu Dewamurti, saya diperintahkan turun gunung dan pada waktu saya pergi itu, Eyang Empu Dewamurti didatangi para datuk yang mengeroyoknya. Para pengeroyok itu dapat dikalahkan dan melarikan diri, akan tetapi akibat pengeroyokan lima orang datuk dari tiga kerajaan itu, eyang guru yang sudah tua terluka parah dan akhirnya meninggal dunia."
Senopati Sindukerta mengangguk-Angguk.
"Dan bagaimana dengan keris pusaka Sang Megatantra itu?"
"Eyang Empu Dewamurti sebelum wafat menyerahkan Sang Megatantra kepada saya dan beliau mengutus saya untuk pertama menyerahkan Sang Megatantra yang dulu saya temukan itu kepada yang berhak memilikinya, yaitu Sang Prabu Erlangga."
"Wah, bijaksana dan tepat sekali itu!" seru Senopati Sindukerta girang.
"Kedua, saya harus mencari kedua orang tua saya dan ke tiga, saya diharuskan membantu Kahuripan yang menurut mendiang eyang guru akan menghadapi banyak cobaan dari Sang Hyang Widhi."
Senopati Sindukerta kembali mengangguk-angguk.
"Tugas yang harus engkau lakukan itu memang sudah tepat sekali. Dan bagaimana dengan pelaksanaannya. Sudahkah engkau menghaturkan sang Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga"
Kini Nurseta menghela napas.
"Itulah yang memusingkan kepala saya, eyang. Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Pangeran Hendratama. Tentu saja saya tidak tahu akan ulahnya yang membuat ibu saya melarikan diri. Saya mengira dia orang baik-baik karena sikapnya amat ramah dan baik. Tidak tahunya dia seorang jahat yang menipuku. Dia menawarkan untuk membuatkan gagang dan warangka yang indah untuk keris pusaka Megatantra. Tidak tahunya dia menukar Megatantra dengan sebuah keris palsu dan dia melarikan diri, membawa Sang Megatantra."
"Ahh .....! jadi sekarang pusaka itu berada di tangan Pangeran Hendratama?"
"Benar, eyang. Akan tetapi saya akan mencarinya dan akan merampasnya kembali pusaka itu dari tangannya, kecuali kalau dia sudah menyerahkan Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga, saya tidak akan memperpanjang urusannya. Siapa saja yang menghaturkan pusaka itu kepada Sang Prabu Erlangga, bukan masalah bagi saya. Yang terpenting pusaka itu kembali kepada yang berhak."
"Akan tetapi engkau yang menemukannya kembali pusaka yang hilang selama puluhan tahun itu, Nurseta. Engkau yang berhak mengembalikannya kepada Sang Prabu Erlangga dan menerima hadiah besar dari Sang Prabu !"
Nurseta menggeleng kepala sambil tersenyum.

<<<Bagian 62                                                                                         Bagian 64 >>>

No comments:

Post a Comment