"Saya juga tidak tahu, Eyang Senopati. Mereka itu selalu melarikan diri dan bersembunyi bukan sekali-kali karena tidak lagi mau mengakui paduka sebagai ayah melainkan karena ketakutan kalau-kalau mereka akan dihukum berat dan dipaksa saling berpisah kalau paduka menemukan mereka. Saya sendiri juga tidak tahu dimana adanya mereka, bahkan kedatangan saya ini juga dalam usaha saya mencari mereka."
Senopati
Sindukerta menatap wajah pemuda itu dengan penuh perhatian,
"orang
muda, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa mereka takut bertemu dengan kami?
Dan apa pula maksudmu mencari mereka? Ada urusan apakah kau dengan puteriku
Endang Sawitri?"
Nurseta tidak
dapat menyembunyikan kenyataan tentang dirinya lagi dan dia menganggap bahwa
sudah tiba saatnya dia harus memperkenalkan diri kepada orang yang sesungguhnya
menjadi kakeknya ini.
"Saya
mencari mereka karena Endang Sawitri adalah ibu kandung saya dan Darmaguna
adalah ayah saya, eyang."
Sepasang mata
tua itu terbelalak, wajah tua itu menjadi pucat, lalu berubah merah.
"Kau
..... kau .....?"
"Saya
Nurseta, cucu eyang ....."
"Cucuku
.....!" Senopati Sindukerta lalu melompat berdiri, menubruk ke depan dan
merangkul Nurseta. Lalu digandengnya lengan pemuda itu dan ditariknya
"Mari,
mari cucuku, mari kita bicara didalam dan mari engkau menghadap nenekmu! Ah,
betapa akan bahagianya nenekmu melihat cucunya!"
Nurseta dengan
kedua mata basah karena terharu membiarkan dirinya ditarik memasuki gedung itu
dari pintu belakang. Para pelayan tentu saja merasa terkejut dan heran melihat
sang senopati masuk rumah dari pintu belakang sambil menggandeng dan menarik
tangan seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Akan tetapi melihat wajah
senopati itu berseri gembira, mereka tidak menyangka buruk dan tidak berani
bertanya. Ki Sindukerta tidak memperdulikan para pelayan yang keheranan itu dan
terus menarik tangan Nurseta, dibawa masuk ke ruangan paling dalam.
Nyi Sindukerta
yang sedang duduk melamun di ruangan itu, tentu saja terkejut dan heran pula
melihat suaminya memasuki ruangan menggandeng seorang pemuda. Akan tetapi
sebelum ia sempat bertanya, Senopati Sindukerta sudah berseru dengan gembira.
"Diajeng,
lihat siapa yang kuajak masuk ini! Dia ini anak Endang!"
Wanita yang
usianya mendekati enam puluh tahun dan yang tampaknya lesu digerogoti kesedihan
itu terbelalak, bangkit berdiri dan wajahnya seketika menjadi pucat.
"Anak.....
anak..... Endang? Cucuku.....?"
Nurseta merasa
terharu sekali. Dia cepat maju berlutut dan menyembah didepan wanita tua itu,
"Saya
Nurseta, menghaturkan sembah hormat saya kepada eyang puteri."
"Cucuku
.....!" Nenek itu merangkul pemuda yang masih berlutut dan ia menangis
tersedu-sedu. Setelah beberapa saat ia menangis, suaminya lalu menepuk-nepuk
pundaknya dan membantunya bangkit berdiri.
"Sudahlah,
diajeng. Tenangkan hatimu dan mari kita dengarkan cucu kita bercerita tentang
anak kita."
Nenek itu
menurut dan mereka lalu duduk di atas kursi dan mempersilakan Nurseta duduk
diatas kursi di depan mereka.
"Cucuku,
di mana ibumu? Di mana anakku Endang Sawitri?" tanya Nyi Sindukerta dengan
suara serak.
"Kenapa
engkau kini mencari ayah Ibumu, Nurseta Apakah engkau berpisah dari mereka?
Lalu kenapa berpisah? Dan bagaimana pula engkau mengetahui bahwa dahulu aku
membenci Dharmaguna dan mencari mereka?" tanya Ki Sindukerta.
"Apakah
engkau mempunyai kakak atau adik? Berapa anak Endang Sawitri? Bagaimana
kehidupannya? Apa anakku itu sehat-sehat saja? Gemuk atau kurus ia
sekarang?" tanya Nyi Sindukerta.
Dihujani
pertanyaan bertubi oleh kakek dan neneknya itu, Nurseta merasa terharu. Dia
tahu betapa suami isteri yang sudah tua ini amat menderita selama ini. Dia
menghela napas panjang lalu berkata dengan lembut.
"Semua
pertanyaan kanjeng eyang kakung dan eyang puteri itu akan terjawab dalam
riwayat yang akan saya ceritakan kepada paduka berdua."
"Ceritakan,
ceritakanlah, Nurseta!" kata sang senopati tidak sabar lagi
"Nanti
dulu, Nurseta. Engkau harus minum dulu!" sela Nyi Sindukerta yang lalu
memanggil pelayan dan menyuruh pelayan mengambilkan minuman. Setelah pelayan
datang menghidangkan minuman air teh dan karena desakan neneknya Nurseta sudah
minum, mulailah pemuda itu bercerita, didengarkan dengan penuh perhatian oleh
kakek dan neneknya.
"Seingat
saya, ketika saya masih kecil, ayah dan ibu se lalu berpindah pindah tempat.
Saya adalah anak tunggal dan mereka tidak pernah bercerita tentang riwayat
mereka kepada saya. Paling akhir, kami pindah ke dusun Karang Tirta di tepi
Laut Kidul, dan tinggal sana. Ketika saya berusia kurang lebih sepuluh tahun,
tiba-tiba saja ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya di rumah. Mereka pergi
tanpa pamit dan saya sama sekali tidak tahu mengapa dan ke mana mereka pergi.
Saya menjadi sebatang kara dan hidup seorang diri."
"Aduh
kasihan sekali engkau cucuku!" kata Nyi Sindukerta sambil mengusap dua
titik air mata yang membasahi pipinya.
"Kemudian
di pantai Laut Kidul saya bertemu dengan Eyang Empu Dewamurti dan saya diambil
sebagai murid. Saya mengikuti beliau, mempelajari ilmu kanuragan selama lima
tahun. Ketika saya bertemu Eyang Empu, saya berusia enam belas tahun dan saya
turun gunung setelah Eyang Empu wafat. Setelah saya memiliki aji kanuragan dan
merasa kuat, mulailah saya menyelidiki tentang perginya kedua orang tua saya.
Saya mendatangi kepala dusun Karang Tirta, yang bernama Ki Suramenggala."
"Hemm, Ki
Suramenggala? rasanya pernah aku mendengar nama itu....., oya, dia pernah
menjadi prajurit dalam pasukan yang kupimpin, malah menjadi perwira rendahan.
Dia melakukan penyelewengan, mengganggu penduduk maka dikeluarkan dari
pasukan."
Nurseta
mengangguk.
"Agaknya
benar dia, eyang. Ki Suramenggala memang bukan manusia baik-baik. Setelah saya
melakukan penyelidikan, saya mendengar bahwa Ki Suramenggala mengirim utusan
untuk melapor kepada paduka tentang ayah dan ibu yang tinggal di dusun itu”
"Ah,
benar! Aku ingat sekarang. Lima tahun lebih yang lalu memang ada berita darinya
bahwa puteriku tinggal di Karang Tirta. Akan tetapi ketika aku mengirim pasukan
ke sana, ternyata mereka telah pergi dan tidak ada seorangpun mengetahui ke
mana mereka pergi. Gilanya, Suramenggala itu tidak mau memberitahukan komandan
pasukan bahwa anakku meninggalkan seorang cucuku di sana." kata Ki Sindukerta
dengan marah. "Lalu bagaimana, Nurseta?"
"Saya
lalu memaksa Ki Suramenggala untuk mengaku dan dari dialah saya mengetahui
bahwa dia melaporkan tentang ayah dan ibu saya kepada paduka. Karena itulah
maka saya sengaja datang berkunjung menemui kanjeng eyang untuk bertanya
tentang ayah ibu saya itu”
"Akan
tetapi, mengapa Endang sawitri dan suaminya itu melarikan diri dan meninggalkan
engkau yang baru berusia sepuluh tahun seorang diri di Karang Tirta?"
tanya Nyi Sindukerta.
"Kanjeng
Eyang Puteri, sekarang saya dapat mengerti mengapa ayah dan ibu melarikan diri
begitu mendengar berita bahwa Ki Lurah Suramenggala melaporkan kehadiran mereka
di dusun itu kepada kanjeng eyang di sini. Mereka itu agaknya masih merasa
takut kalau-kalau mereka akan dihukum dan diharuskan pisah. Mereka sama sekali
tidak menduga bahwa paduka berdua mencari mereka karena rindu dan ingin mereka
kembali, bukan untuk menghukum."
"Akan
tetapi kenapa mereka meninggalkan engkau seorang diri?" tanya Ki
Sindukerta, mengulang pertanyaan isterinya tadi.
"Hal
itupun tadinya membuat saya merasa penasaran, eyang. Akan tetapi sekarang saya
mengerti. Mereka sengaja meninggalkan saya karena mereka tidak ingin membawa
saya ikut-ikutan menjadi pelarian. Mereka tidak ingin saya juga terancam bahaya
seperti yang mereka kira."
Dua orang tua
itu mengangguk-angguk.
"Kasihan
Endang....." kata Nyi Sindukerta dengan suara gemetar karena begitu
teringat kepada puterinya, tangisnya sudah mendesak lagi.
"Ini
semua gara-gara si Dharmaguna itu! Dia yang menyeret anak kita kedalam jurang
kesengsaraan!" kata Ki Sindukerta dan kemarahannya muncul lagi. Dia memang
selalu marah kalau teringat kepada Dharmaguna karena dialah yang menjadi
gara-gara anaknya menghilang sampai dua puluh tahun lamanya!
Melihat
kemarahan kakeknya, Nurseta dapat mengerti. Dia maklum kalau kakeknya mempunyai
rasa benci kepada Dharmaguna karena ayahnya itu dianggap sebagai biang keladi
terpisahnya kakek dan neneknya dari anak tunggal mereka.
"Kanjeng
eyang berdua, sayalah yang mohonkan ampun untuk ayah saya karena saya yakin
bahwa ayah saya itu sama sekali tidak bermaksud untuk melarikan dan memisahkan
ibu saya dari paduka berdua. Ayah dan ibu saya selalu bersembunyi dan tidak mau
kembali kepada paduka berdua hanyalah karena merasa takut. Biarlah saya yang
akan mencari mereka sampai dapat dan kalau sudah dapat saya temukan, pasti saya
akan menceritakan kepada mereka bahwa paduka berdua sesungguhnya amat rindu
kepada ibu saya dan mengharapkan agar mereka berdua segera kembali ke
sini."
'Benar, cucuku
Nurseta. Cepat temui ibumu, aku sudah rindu sekali kepada anakku Endang Sawitri
....." kala Nyi sindukerta dengan suara gemetar. Ki Sindukerta mengangguk
dan berkata kepada cucunya.
"Carilah
mereka sampai dapat, Nurseta."
"Akan
tetapi kanjeng eyang berdua sudi mengampuni ayah saya, bukan?" Nurseta
memohon.
"Sudah
lama kami mengampuninya, apalagi sekarang mereka berdua mempunyai putera.
Dharmaguna adalah mantu kami. Dahulu kami hanya marah karena mereka berdua lari
dan tidak pulang."
"Baik,
saya akan mencari sampai dapat menemukan ayah dan ibu." Nurseta berpikir
sejenak lalu bertanya.
"Apakah
paduka sudah mencoba untuk minta petunjuk orang tua dari ayah Dharmaguna"
"Tentu
saja sudah. Resi Jatimurti, ayah Dharmaguna juga tidak tahu kemana puteranya
pergi dan keterangannya itu dapat dipercaya sepenuhnya karena Resi Jatimurti
adalah seorang pertapa yang alim dan hidup sederhana. Setelah ditinggal pergi
puteranya, dia hidup seorang diri dan lima tahun setelah Dharmaguna menghilang,
Resi Jatimurti meninggal dunia."
Malam itu,
Nurseta bercakap-cakap berdua saja dengan Senopati Sindukerta.
"Nurseta,
kedatanganmu sungguh membahagiakan hatiku dan hati eyang puterimu, apalagi
kalau engkau nanti berhasil mengajak ayah ibu pulang ke sini."
"Sayapun
merasa amat berbahagia eyang. Tadinya saya sama sekali tidak mengira bahwa
paduka adalah eyang saya, malah saya kira bahwa paduka adalah musuh ayah ibu
saya."
Senopati itu
menghela napas.
"Yah,
agaknya Sang Hyang Widhi merasa kasihan kepada kami yang sudah menderita selama
lebih dari dua puluh tahun ini, Aku sudah mendengar riwayatmu tadi, akan tetapi
ceritakanlah tentang orang sakti mandraguna yang menjadi gurumu itu. Aku ingin
sekali mendengarnya."
"Eyang
Empu Dewamurti adalah seorang pertapa yang berbudi luhur, bijaksana dan sakti mandraguna.
Akan tetapi sayang, beliau tewas karena luka-lukanya setelah dikeroyok para
datuk besar dari Kerajaan Wura-wuri, Wengker, dan Kerajaan Siluman Laut
Kidul."
"Ahh!
Orang-orang dari tiga kerajaan itu memang terkenal jahat dan sejak dulu
memusuhi Mataram dan keturunannya sampai sekarang. Akan tetapi Empu Dewamurti
tidak langsung mengabdi kepada Kahuripan, mengapa dikeroyok para datuk tiga
kerajaan itu?"
"Eyang
Empu Dewamurti dikeroyok bukan karena urusan kerajaan, eyang. Mereka itu
mengeroyok guru saya untuk memaksa guru saya menyerahkan keris pusaka Sang
Megatantra kepada mereka!"
"Ahli!"
Senopati Sindukerta terbelalak terkejut dan heran.
"Sang
Megatantra!.....? Kaumaksudkan, keris pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun
yang lalu itu? Jadi pusaka itu berada di tangan mendiang Empu Dewamurti?"
"Sesungguhnya
bukan di tangan Empu Dewamurti, melainkan di tangan saya eyang. Sayalah yang
menemukan pusaka itu ketika saya mencangkul dan menggali tanah, sebelum saya
menjadi murid Eyang Empu Dewamurti. Setelah lima tahun lebih saya belajar
kanuragan dari Eyang Empu Dewamurti, saya diperintahkan turun gunung dan pada
waktu saya pergi itu, Eyang Empu Dewamurti didatangi para datuk yang
mengeroyoknya. Para pengeroyok itu dapat dikalahkan dan melarikan diri, akan
tetapi akibat pengeroyokan lima orang datuk dari tiga kerajaan itu, eyang guru
yang sudah tua terluka parah dan akhirnya meninggal dunia."
Senopati
Sindukerta mengangguk-Angguk.
"Dan
bagaimana dengan keris pusaka Sang Megatantra itu?"
"Eyang
Empu Dewamurti sebelum wafat menyerahkan Sang Megatantra kepada saya dan beliau
mengutus saya untuk pertama menyerahkan Sang Megatantra yang dulu saya temukan
itu kepada yang berhak memilikinya, yaitu Sang Prabu Erlangga."
"Wah,
bijaksana dan tepat sekali itu!" seru Senopati Sindukerta girang.
"Kedua,
saya harus mencari kedua orang tua saya dan ke tiga, saya diharuskan membantu
Kahuripan yang menurut mendiang eyang guru akan menghadapi banyak cobaan dari
Sang Hyang Widhi."
Senopati
Sindukerta kembali mengangguk-angguk.
"Tugas
yang harus engkau lakukan itu memang sudah tepat sekali. Dan bagaimana dengan
pelaksanaannya. Sudahkah engkau menghaturkan sang Megatantra kepada Sang Prabu
Erlangga"
Kini Nurseta
menghela napas.
"Itulah
yang memusingkan kepala saya, eyang. Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan
Pangeran Hendratama. Tentu saja saya tidak tahu akan ulahnya yang membuat ibu
saya melarikan diri. Saya mengira dia orang baik-baik karena sikapnya amat
ramah dan baik. Tidak tahunya dia seorang jahat yang menipuku. Dia menawarkan
untuk membuatkan gagang dan warangka yang indah untuk keris pusaka Megatantra.
Tidak tahunya dia menukar Megatantra dengan sebuah keris palsu dan dia
melarikan diri, membawa Sang Megatantra."
"Ahh
.....! jadi sekarang pusaka itu berada di tangan Pangeran Hendratama?"
"Benar,
eyang. Akan tetapi saya akan mencarinya dan akan merampasnya kembali pusaka itu
dari tangannya, kecuali kalau dia sudah menyerahkan Megatantra kepada Sang
Prabu Erlangga, saya tidak akan memperpanjang urusannya. Siapa saja yang
menghaturkan pusaka itu kepada Sang Prabu Erlangga, bukan masalah bagi saya.
Yang terpenting pusaka itu kembali kepada yang berhak."
"Akan
tetapi engkau yang menemukannya kembali pusaka yang hilang selama puluhan tahun
itu, Nurseta. Engkau yang berhak mengembalikannya kepada Sang Prabu Erlangga
dan menerima hadiah besar dari Sang Prabu !"
Nurseta
menggeleng kepala sambil tersenyum.
No comments:
Post a Comment