Sesungguhnya, sudah lama sekali saya menaruh hati, jatuh cinta kepada puteri paman, yaitu Diajeng Endang Sawitri. Akan tetapi saya menunggu sampai ia menjadi dewasa. Setelah sekarang Diajeng Endang Sawitri dewasa, maka saya datang untuk mengajukan pinangan kepada paman dan bibi atas diri Diajeng Sawitri."
"Ahh .....!" Seruan
tertahan ini keluar dari mulut Endang Sawitri yang menjadi pucat wajahnya dan
gadis itu merangkul dan menyembunyikan mukanya di pundak ibunya.
Di dalam hatinya, tentu saja
Senopati Sindukerta tidak rela kalau puterinya dikawin pangeran ini, bukan
karena pangeran ini kurang tinggi kedudukannya atau kurang kaya. Sama sekali tidak!
Pangeran Hendratama adalah putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, biarpun bukan
putera mahkota namun tentu saja kedudukannya cukup tinggi dan diapun kaya raya.
Andaikata sang pangeran itu masih perjaka, atau setidaknya belum mempunyai
garwa padmi (isteri sah) tentu dia dan isterinya akan merasa girang mempunyai
mantu seorang pangeran! Akan tetapi kenyataannya, Pangeran Hendratama itu telah
mempunyai garwa padmi, bahkan mempunyai banyak garwa ampil (selir), maka tentu
saja mereka merasa keberatan. Endang Sawitri tentu hanya dijadikan garwa ampil,
itupun entah yang ke berapa! Melihat suami isteri itu saling pandang dengan
alis berkerut, tampak tidak gembira menyambut pinangannya, Pangeran Hendratama
lalu mengeluarkan segulung surat.
"Paman Senopati Sindukerta, ini
saya dititipi surat dari Kanjeng Rama untuk paman!"
Melihat surat dari Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa, tergopoh-gopoh dengan sembah sang senopati menerimanya lalu
membacanya. Isinya merupakan pernyataan mendukung pinangan itu dan sang prabu
mengharapkan agar Senopati Sindukerta menerima pinangan itu sehingga menjadi
besan sang prabu!
Setelah membaca surat itu, Ki
Sindukerta menghela napas. Kalau Sribaginda sendiri turun tangan, tentu tidak
mungkin baginya untuk menolak! Kemudian, dia memandang kepada Pangeran
Hendratama dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Pangeran, kami merasa
berbahagia dan mendapat kehormatan besar sekali bahwa paduka bermaksud meminang
puteri kami yang bodoh. Akan tetapi ....." Senopati itu tidak berani atau
meragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Akan tetapi, apa, paman?"
tanya Pangeran Hendratama sambil mengerutkan alisnya yang tebal.
"Akan tetapi, maafkan
sebelumnya, pangeran. Kami sebagai ayah ibu Endang Sawitri, terus terang saja
merasa kurang marem (puas) kalau puteri kami hanya dijadikan garwa ampil. Kami
sejak dahulu berkeinginan agar puteri kami menjadi garwa padmi yang
dihormati..... maafkan kami, pangeran. Bukan sekali-kali kami menolak pinangan
paduka, hanya..... bukankah paduka telah mempunyai garwa padmi?"
Pangeran Hendratama yang sudah
tergila-gila kepada Endang Sawitri tidak menjadi marah, malah tertawa.
"Ha-ha..hal itu jangan
dirisaukan, paman. Kala paman dan bibi sudah menerima pinangan saya, hari ini
juga saya akan pulangkan garwa padmi saya itu kepada orang tuanya dan Diajeng
Endang Sawitri saya angkat menjadi garwa padmi!"
Tentu saja hati Senopati Sindukerta
menjadi lega. Bagaimanapun juga, tidak mungkin dia berani menolak pinangan sang
pangeran yang sudah diperkuat oleh surat Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Surat
itu saja berarti sebuah perintah yang tidak mungkin dapat ia tolak. Kalau
puterinya diangkat menjadi garwa padmi pangeran, biarpun di dalam hatinya dia
tidak begitu suka kepada pangeran ini ia boleh merasa puas karena dia akan
menjadi besan Sang Prabu Teguh Dharmawangsa! Derajatnya akan naik tinggi
sekali. Dia menoleh kepada isterinya dan ternyata isterinya juga tersenyum
dengan wajah berseri. Sang senopati mengerutkan alisnya ketika dia melihat
puterinya menangis tanpa suara di pundak isterinya.
"Bagaimana jawaban andika,
paman senopati?" Tiba-tiba senopati itu terkejut mendengar pertanyaan
pangeran itu. Dia cepat menoleh dan memandang wajah Pangeran Hendratama.
"Oh, baik, Pangeran. Hamba
sekeluarga menerima pinangan paduka dengan gembira!"
Tiba-tiba terdengar isak dan Endang
Sawitri lalu melepaskan rangkulannya dari pundak ibunya dan ia berlari masuk ke
ruangan dalam meninggalkan ruangan itu. Terdengar isaknya ketika ia melarikan
diri itu. Pangeran Hendratama mengerutkan alisnya.
"Mengapa diajeng Endang Sawitri
menangis, paman?"
"Oh, maaf, Pangeran. Maklum
puteri kami itu masih amat muda, tentu ia merasa malu-malu. Biarlah nanti hamba
berdua yang akan membujuknya agar ia tidak takut-takut dan malu-malu
lagi."
Pangeran Hendratama tersenyum lega
mendengar ucapan senopati itu.
"Baiklah, paman dan bibi. Saya
mohon pamit dulu, akan saya urus perceraian saya dengan isteri saya. Besok saya
akan mengirim utusan untuk membicarakan tentang perayaan pesta pernikahan saya
dengan Diajeng Endang Sawitri."
"Terima kasih, pangeran, dan
selamat jalan." kata sang senopati yang mengantar pangeran itu sampai ke
pelataran rumahnya.
Sementara itu, Nyi Sindukerta
memasuki kamar puterinya dan ia mendapatkan puterinya rebah menelungkup di atas
pembaringan dan membenamkan mukanya pada bantal. Nyi Sindukerta lalu duduk di
tepi pembaringan dan menyentuh pundak puterinya.
"Nini, sudahlah jangan
menangis. Engkau akan dijadikan garwa padmi Pangeran Hendratama, mengapa engkau
menangis? Dia itu putera Sang Prabu, kedudukannya tinggi, kaya raya dan diapun
berwajah tampan dan gagah. Juga belum tua benar, paling banyak tiga puluh tahun
usianya. Engkau beruntung sekali menjadi mantu Sang Prabu, Endang Sawitri.
Kenapa menangis?"
"Ibu, aku tidak mau menjadi
isterinya, ibu ....." Endang Sawitri bangkit duduk dan merangkul ibunya
sambil menangis. Bantal di mana ia membenamkan mukanya tadi sudah basah air
mata.
"Akan tetapi kenapa, nini?
Engkau hanya anak senopati dan dia itu putera junjungan kita. Siapa tahu kelak
dia akan menjadi raja dan engkau menjadi permaisurinya!"
"Ibu, kenapa ibu tidak berpikir
secara mendalam dan berpemandangan jauh? Pangeran itu bukan suami yang baik,
bukan laki-laki yang bertanggung jawab! Aku akan celaka kelak kalau menjadi
isterinya!"
"Hemm, bagaimana engkau dapat
berpikir demikian?"
"Ibu, sekarang dia menginginkan
aku dan untuk terlaksananya keinginan itu, dia tega untuk menceraikan garwa
padminya yang tidak bersalah apa-apa! Apakah ibu berani memastikan bahwa kelak
aku tidak akan mengalami nasib yang sama kalau dia melihat gadis lain yang
lebih muda dan lebih cantik lalu meminangnya, apakah diapun tidak akan
menceraikan aku dan mengirim aku pulang kepada ayah dan ibu?"
Diserang ucapan seperti itu, Nyi
Sindukerta tidak dapat menjawab! Bahkan iapun mulai merasa khawatir kalau-kalau
apa yang ditakutkan puterinya itu kelak akan terjadi. Membayangkan betapa
puterinya terkasih itu kelak diceraikan begitu saja oleh Pangeran Hendratama
yang menjadi suaminya karena pangeran itu tergila gila kepada wanita lain, ibu
ini tak dapat menahan kesedihan hatinya dan iapun lalu merangkul puterinya
sambil menangis. Ibu dan anak itu bertangisan. Senopati Sindukerta memasuki
kamar itu dan dia marah sekali melihat isteri dan puterinya menangis.
"Heh, apa-apaan ini kalian
berdua bertangisan? Semestinya kalian berdua bergembira! Apa yang perlu
disedihkan? Endang Sawitri akan menjadi garwa padmi Pangeran Hendratama,
menjadi mantu Gusti Prabu! Adakah keberuntungan yang lebih besar daripada Itu?
Kenapa kalian malah menangis?"
Nyi Sindukerta dapat menguasai
perasaannya yang hanya merasa khawatir akan terjadinya apa yang tadi
dibayangkan puterinya. Ia menghapus air matanya dan membujuk puterinya.
"Sudahlah, nini, hentikan
tangismu. Ramamu benar, sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan
disedihkan."
"Dikhawatirkan? Apa yang perlu
dikhawatirkan?" Ki Sindukerta bertanya dengan suara membentak karena
penasaran.
"Begini, kakangmas. Endang
Sawitri merasa khawatir kalau-kalau kelak setelah menjadi isteri sang pangeran,
dia akan dicerai pula karena sang pangeran hendak menikah dengan gadis lain,
seperti yang dilakukannya pada garwanya yang sekarang."
"Omong kosong! Tidak mungkin
dia berani mempermainkan puteriku. Apalagi sang prabu sendiri yang ikut
mengajukan dukungan. Sang prabu sendiri yang meminang. Senopati Sindukerta
bukanlah orang yang boleh dipermainkan begitu saja. Tidak, aku berani tanggung
bahwa kelak engkau tidak akan diceraikan begitu saja, nini. Akan tetapi tahukah
kalian bagaimana akibatnya kalau aku menolak pinangan Pangeran Hendratama yang
didukung oleh Sang Prabu sendiri? Aku tentu akan dianggap menghina Sang Prabu
dan akan dicopot dari kedudukanku, bahkan mungkin sekali kita sekeluarga akan
mendapatkan hukuman berat! Nah, sekarang bergembiralah dan tidak perlu
bertangis-tangisan lagi!" Setelah berkata demikian, Senopati Sindukerta
meninggalkan kamar puterinya.
Nyi Sindukerta juga segera
meninggalkan puterinya untuk menyusul suaminya dan mencairkan kemarahan
suaminya setelah ia menasihati puterinya agar tidak membantah lagi dan menerima
dengan senang hati perjodohan yang sudah ditentukan ayahnya itu.
Setelah ditinggalkan seorang diri,
Endang Sawitri tidak menangis lagi. Ia harus cepat mengambil keputusan dan
bertindak. Urusan ini menyangkut nasib hidupnya di masa depan. Sekali ia keliru
mengambil keputusan, ia akan menderita selama hidupnya, Ia merasa yakin bahwa
menjadi isteri laki-laki yang pandang matanya penuh nafsu itu akan membuat
hidup sengsara selamanya, ia hanya akan menjadi permainan nafsu pangeran itu
yang kalau sudah bosan tentu akan menyepaknya. Kalau ia setuju dan ayahnya
menikahkannya dengan Pangeran Hendratama, ia akan sengsara selama hidupnya.
Akan tetapi sebaliknya kalau ia berkukuh menolak, ayahnya tentu akan memaksanya
karena kalau ayahnya menolak pinangan itu, ayahnya sekeluarga akan celaka
menerima kemarahan Sang Prabu. Tidak ada jalan lain, pikirnya. Menerima atau
menolak juga salah. Satu-satunya jalan keluar hanyalah minggat! Kalau ia
minggat dan pernikahan tidak jadi dilaksanakan, bukan berarti bahwa ayahnya
menolak pinangan! Ayahnya tidak dapat disalahkan. Ialah yang bersalah. Setelah
mengambil keputusan tetap, dengan nekat malam itu Endang Sawitri minggat dari
dalam kamarnya. Kamar itu pintunya masih terkunci dari dalam, Ia menanti sampai
rumah itu sepi dan semua orang sudah tidur, lalu ia keluar dari kamar melalui
jendela yang menghadap taman, kemudian berjingkat-jingkat ia menyeberangi taman
menuju ke belakang dan keluar melalui pintu belakang taman.
Tentu saja keluarga Senopati
Sindukerta menjadi geger dengan hilangnya Endang Sawitri. Sang senopati
mengerahkan anak buahnya untuk mencari. Dan tentu saja dia merasa curiga kepada
Dharmaguna, pemuda yang dulu bergaul akrab dengan putrinya. Ketika mendapat
kenyataan bahwa pemuda itupun menghilang dari rumahnya tanpa ada orang
mengetahui kemana dia pergi, tahulah Ki Sindukerta bahwa puterinya tentu
minggat dengan Dharmaguna. Dia marah sekali dan menyuruh banyak prajurit
mencari, namun tidak ada hasilnya. Endang Sawitri dan Dharmaguna lenyap seperti
ditelan bumi, tanpa meninggalkan jejak.
Sampai di situ ceritanya, Senopati
Sindukerta menghela napas panjang dan menatap wajah Nurseta yang sejak tadi
mendengarkan dengan tertarik sekali, senopati tua itu melihat betapa sepasang
mata pemuda itu memandangnya dengan sayu, seolah terharu sekali.
"Nah, begitulah ceritanya,
Nurseta. kau dapat membayangkan apa akibat perbuatan Dharmaguna yang membawa
minggat puteriku itu. Pangeran Hendratama amat marah kepadaku, menuduh aku
sengaja menyembunyikan Endang Sawitri. Sang Prabu Teguh Dharmawangsa juga marah
sehingga pangkatku sebagai senopati dicopot dan aku diusir keluar dari kota
raja. Masih untung bagiku bahwa aku membantu perjuangan Pangeran Erlangga
mengusir musuh-musuh kerajaan dan membangun kembali Kahuripan sehingga beliau
kini menjadi raja. Aku diangkatnya kembali menjadi senopati. Nah, engkau tahu
mengapa aku membenci Dharmaguna. Dia sudah menyebabkan kami kehilangan anak
kami dan juga kedudukan kami pada waktu itu."
Nurseta merasa terharu sekali, akan
tetapi dia mampu menahan perasaannya itu. Kini dia berhadapan dengan kakeknya.
Ibunya adalah Endang Sawitri, puteri kakek ini.
"Akan tetapi, eyang senopati,
saya kira Dharmaguna itu tidak bersalah. Adalah puteri paduka sendiri yang
melarikan diri dari rumah. Juga puteri paduka tidak bersalah, bahkan ia telah
memberi jalan keluar yang baik sekali."
"Eh? Apa maksudmu?" tanya
Senopati Sindukerta yang tidak merasa heran atau aneh mendengar pemuda itu
menyebutnya eyang senopati karena melihat usianya memang sudah sepatutnya kalau
pemuda itu sebaya dengan cucunya, andaikata dia mempunyai cucu.
"Begini maksud saya. Puteri
paduka tidak suka diperisteri Pangeran Hendratama yang saya juga tahu merupakan
orang yang buruk wataknya itu sehingga kalau ia menerima pinangan itu, ia akan
hidup sengsara. Sebaliknya kalau ia menolak, atau kalau paduka menolak
pinangan, tentu akan berakibat buruk bagi keluarga paduka. Oleh karena itu
puteri paduka memilih minggat karena kalau ia minggat, paduka tidak
dipersalahkan sebagai orang yang menolak pinangan dan kesalahan akan terjatuh
kepada puteri paduka sendiri."
"Hemm,
mungkin engkau benar, dia puteriku tidak dapat disalahkan. Akan tetapi si
Dharmaguna itu tetap bersalah. Kalau saja Endang Sawitri tidak saling mencinta
dengan dia, tentu puteriku itu tidak akan dapat melarikan diri sampai
sekarang."
"Maaf,
eyang senopati. Salahkah itu kalau ada dua orang muda saling jatuh cinta?
Mereka berdua saling jatuh cinta, hidup bersama sebagai suami isteri yang
berbahagia walaupun bukan kaya raya, dan mereka telah mempunyai seorang anak.
Kenapa paduka masih terus mencari dan membenci mereka. Kalau paduka berhasil
menemukan mereka, apakah paduka akan membunuh puteri, mantu, dan cucu paduka,
darah daging paduka sendiri?"
Senopati
Sindukerta itu terbelalak memandang kepada Nurseta.
"Anakku
Endang Sawitri mempunyai seorang anak Dhuh Jagad Dewa Bathara .....! Di mana
mereka sekarang berada? Nurseta, apa engkau kira aku telah gila? Aku mencinta
puteriku. Kalau saja si Dharmaguna itu datang bersama Endang Sawitri dan mohon
ampun kepada kami, tentu saja kami akan mengampuni semua kesalahannya. Engkau
tahu mengapa aku mencari mereka? Karena aku sudah rindu sekali kepada puteri
kami. Akan tetapi si jahanam Dharmaguna itu tidak pernah datang, bahkan dia
selalu membawa pergi anakku, selalu menghindar sehingga sampai saat ini, kami
belum juga dapat bertemu kembali dengan Endang. Apalagi sekarang ia telah
mempunyai seorang anak, tentu saja kami mau menerima Dharmaguna sebagai mantu
kami, sebagai ayah dari cucu kami. Akan tetapi di mana mereka kini berada? Di
mana? Katakan, dimana mereka?"
No comments:
Post a Comment