Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 61


Ketika Erlangga menjadi raja menggantikan kedudukan mendiang Teguh Dharmawangsa, dia mengikut-sertakan bekas punggawa ayah mertuanya itu dan di antaranya dia memberi kedudukan yang sama kepada Senopati Sindukerta. Senopati Sindukerta tinggal dalam sebuah gedung di kota raja bersama keluarganya. Usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih tampak sehat dan gagah. Biarpun sudah tergolong tua, namun Senopati Sindukerta masih disegani karena dia pandai mengatur barisan, pandai memimpin pasukan dalam perang dan sudah banyak jasanya menghadapi musuh-musuh Kerajaan Mataram sejak dia masih muda dulu. Tidak mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga menaruh kepercayaan kepadanya sungguhpun kini tugasnya lebih banyak sebagai penasihat yang memberi petunjuk dan pelajaran kepada para senopati muda.

Malam itu terang bulan. Bulan purnama amat indahnya bertahta di angkasa raya. Bintang-bintang menjadi suram bahkan banyak yang tidak tampak terhalang sinar bulan yang terang keemasan. Bulan purnama bulat penuh dan di langit yang cerah itu tampak lingkaran putih di sekeliling bulan. Bulan ndadari, bulan kalangan, begitu indahnya sehingga menciptakan suasana sejuk gembira di muka bumi. Banyak orang betah berada di luar rumah karena sinar bulan memandikan segala sesuatu yang berada di permukaan bumi dengan sinarnya yang menenteramkan hati, membuat semua tampak gemilang dan indah, juga aneh penuh rahasia. Segala sesuatu seperti diselimuti cahaya keemasan. Kanak-kanak memenuhi pelataran rumah dan bermain-main dengan bertembang riuh rendah. Orang-orang tua bercengkerama di luar rumah. Banyak pula yang menggelar tikar di pelataran dan bercakap-cakap membicarakan masa lalu. Bulan purnama mendatangkan kenangan lama yang indah-indah. Para muda juga bergembira ria. Sinar bulan agaknya mengobarkan gairah dan semangat hidup mereka. Terutama sekali mereka yang sedang dimabuk asmara dan mengadakan pertemuan dengan kekasih mereka dibawah sinar bulan purnama. Pada saat seperti itu, kekasih mereka tampak lebih cantik, lebih tampan, lebih menarik dan menggairahkan.

Senopati Sindukerta duduk seorang diri di dalam taman bunganya yang cukup luas. Harum bunga melati yang tumbuh di sekeliling kolam ikan memperindah suasana. Akan tetapi Senopati Sindukerta yang duduk tak jauh dari kolam ikan, di atas bangku panjang, sama sekali tidak tampak gembira. Bahkan berulang kali dia menghela napas panjang dan wajahnya tampak muram, seolah dia menanggung derita kesedihan yang mendalam. Di atas sebuah meja kecil didepannya terdapat sebuah poci dan sebuah cangkir. Tadi pelayan datang menghidangkan air teh panas manis itu dan dia suruh pelayan itu pergi meninggalkannya dan berpesan agar jangan ada yang datang mengganggunya di dalam taman karena dia ingin bersendirian di situ. Wajahnya yang masih memperlihatkan bekas ketampanan itu berkerut. Tidak ada kumis dan jenggot di wajahnya. Rambutnya sudah banyak yang putih. Tubuhnya sedang, akan tetapi tampak kurus. Dari keadaan jasmaninya dapat diduga bahwa Senopati Sindukerta banyak mengalami penderitaan batin. Tentu saja hal ini tidak disangka orang. Dia adalah seorang senopati tua yang berkedudukan tinggi, cukup kaya, terhormat dan tidak kekurangan sesuatu. Bagaimana mungkin seorang punggawa tinggi seperti dia hidup mengalami penderitaan batin?

Senopati Sindukerta duduk di situ sejak tadi, sudah lebih dari dua jam dia duduk melamun seorang diri. Sementara itu bulan purnama naik semakin tinggi. Keadaan di luar gedung senopati itu sudah mulai berkurang keramaiannya. Anak-anak sudah disuruh masuk dan tidur. Hanya tinggal beberapa orang tua saja yang masih tinggal di luar. Malam mulai larut. Senopati Sindukerta mulai merasa kedinginan. Makin tinggi bulan purnama naik, makin larut malam, makin dinginlah hawa udara. Pada saat dia merasakan kedinginan dan minum air teh dari poci dituangkan ke cangkir dan air teh itu masih hangat, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu di depannya, dalam jarak tiga meter, telah berdiri seorang pemuda.
Senopati Sindukerta terkejut dan meletakkan kembali cangkirnya di atas cawan, lalu menatap wajah pemuda itu dengan alis berkerut. Dia terkejut, akan tetapi sama sekali tidak takut, hanya merasa heran bagaimana ada seorang pemuda yang begitu berani datang mengganggunya, dan kemunculannya begitu tiba-tiba.
"Siapa engkau? Mau apa engkau menggangguku, datang tanpa diundang?" bentak Senopati Sindukerta sambil menatap tajam wajah tampan pemuda yang pakaian dan sikapnya sederhana itu. Pemuda itu memberi hormat dengan membungkuk, lalu bertanya dengan suara lembut dan hormat.
"Maafkan saya, apakah saya berhadapan dengan Senopati Sindukerta?"
"Hemm, benar aku Senopati Sindukerta. Siapa engkau?"
"Maafkan saya. Nama saya Nurseta dan saya sengaja menghadap paduka untuk menanyakan sesuatu yang teramat penting dan hanya paduka saja yang dapat menjawab pertanyaan saya itu.” Kerut alis Senopati Sindukerta semakin mendalam.
"Sungguh engkau seorang pemuda yang tidak tahu aturan, bagaimana engkau berani kurang ajar menemui aku malam-malam begini dan memasuki tamanku seperti seorang pencuri?"
"Sudah dua kali saya minta maaf kalau saya mengganggu. Akan tetapi, pertanyaan saya ini penting sekali dan saya harap paduka tidak menolak untuk menjawabnya."
"Sudahlah, coba katakan, apa yang ingin kauketahui dariku?"
"Saya ingin bertanya, apa yang paduka ketahui tentang orang yang bernama Dharmaguna?"
Senopati Sindukerta terbelalak dan dia bangkit berdiri dengan cepat.
"Keparat" Telunjuknya menuding ke arah Nurseta.
"Kiranya engkau ini suruhan si jahanam Dharmaguna? Mampuslah!" Tiba-tiba Senopati Sindukerta menendang meja kecil di depannya dan meja itu meluncur ke arah Nurseta. Poci dan cangkir tadi terlempar jauh.
Nurseta menggerakkan tangannya, menangkap kaki meja yang menyambar ke arahnya dan menaruh meja itu di atas tanah, di sampingnya. Akan tetapi Senopati Sindukerta sudah mencabut kerisnya dan melompat maju, menyerang Nurseta dengan tusukan kerisnya. Agaknya dia marah sekali mendengar disebutnya nama Dharmaguna tadi.
"Wuutt ..... tukk!" Senopati Sindukerta terkejut setengah mati ketika keris yang dia tusukkan itu mengenai dada pemuda itu, dia merasa betapa kerisnya itu bertemu dengan benda yang lunak namun kenyal dan kuat sekali sehingga kerisnya membalik dan tidak dapat menembus. Sebelum hilang rasa kagetnya tahu-tahu keris itu telah direnggut lepas dari pegangannya dan pemuda itu melangkah mundur sambil berkata ejekan lembut.
"Harap paduka bersabar dan tenang. Saya sama sekali tidak datang untuk memusuhi paduka, melainkan hanya untuk minta keterangan. terimalah kembali pusaka paduka ini."
Nurseta menjulurkan tangan dan menyerahkan keris itu kepada pemiliknya. Senopati Sindukerta terkejut bukan main. Keris pusakanya itu bukan keris biasa, melainkan pusaka ampuh sekali. Akan tetapi pemuda itu memiliki kekebalan yang luar biasa, membuktikan bahwa dia seorang yang sakti mandraguna. Maka mendengar ucapan Nurseta, dia menerima keris, mundur lalu duduk kembali ke atas bangku, mengawasi pemuda itu penuh perhatian.
"Orang muda. sebetulnya apakah yang kaukehendaki? Siapa namamu tadi?"
"Nama saya Nurseta dan saya hanya ingin mengetahui mengapa paduka memusuhi Dharmaguna, mengapa paduka membencinya dan di mana adanya dia sekarang?"
Senopati Sindukerta memandang heran,
"jadi engkau bukan suruhan dia? Engkau juga menanyakan di mana dia? Ah, kalau saja aku tahu di mana dia, si keparat itu!"
"Harap paduka suka menceritakan kepada saya mengapa paduka begitu membencinya."
"Engkau mau tahu mengapa aku membencinya? Huh, dia sudah merampas kebahagiaan kami sudah dua puluh dua tahun ini dia membuat aku selalu merasa berduka. Bawalah meja itu dekat sini dan duduklah di atas meja kalau engkau ingin mendengarkan persoalannya."

Nurseta menurut. Dia mengambil meja, membawanya ke depan Senopati Sindukerta lalu duduk di atas meja kecil yang rendah itu. Senopati Sindukerta lalu bercerita dan Nurseta mendengarkan dengan penuh perhatian. Senopati Sindukerta menghela napas panjang lalu berkata,
"Peristiwa itu telah lama terjadi, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, akan tetapi rasanya baru kemarin saja terjadinya." Kemudian senopati tua itu lalu bercerita.
Senopati Sindukerta telah menjadi senopati pada waktu Teguh Dharmawangsa menjadi raja. Senopati yang setia ini hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Endang Sawitri. Pada waktu itu Endang Sawitri berusia delapan belas tahun, ia terkenal sebagai seorang dara yang selain cantik jelita, juga baik budi bahasanya dan berbakti kepada ayah ibunya. Tidak mengherankan kalau Senopati Sindukerta dan isterinya merasa amat sayang kepada Endang Sawitri. Tentu saja, seperti para orang tua lainnya Senopati Sindukerta dan isterinya mengharapkan agar puteri mereka itu mendapatkan suami yang tinggi kedudukannya, kaya raya, dan baik budi serta bijaksana. Dengan demikian maka selain puteri mereka itu akan hidup bahagia juga mereka sebagai orang tuanya akan merasa senang dan terangkat derajat dan martabatnya. Akan tetapi, dalam kehidupan ini, lebih sering harapan manusia tidak terpenuhi, kenyataan yang terjadi sering berlawanan dengan apa yang diinginkan, apa yang diharapkan, sehingga banyak kekecewaan dan duka melanda kehidupan manusia.
Pada suatu pagi, seorang tamu yang di hormati datang berkunjung ke rumah Senopati Sindukerta. Sang senopati dan isterinya menyambut kedatangan tamu ini dengan ramah dan hormat karena tamu itu adalah seorang pangeran yang terkenal gagah perkasa. Dia adalah Pangeran Hendratama yang pada waktu itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Seorang pria yang tampan dan gagah, apalagi karena pakaiannya amat indah, mewah dan mentereng. Sebagai seorang pangeran, putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa yang beribu seorang wanita berkasta rendah, Pangeran Hendratama tentu saja mempunyai hubungan baik dengan para pamong-praja dan juga mengenal baik Senopati Sindukerta.
"Selamat datang, Pangeran." sambut Senopati Sindukerta ramah. Isterinya juga menyambut dengan senyum ramah.
"Silakan masuk, kita duduk di ruangan dalam agar lebih leluasa bercakap-cakap."
"Terima kasih, paman senopati dan bibi." kata Pangeran Hendratama dengan sikap halus.
Mereka memasuki ruangan dalam dan dua orang selir sang senopati juga menyambut dan memberi hormat kepada pangeran itu, akan tetapi mereka segera mengundurkan diri, tidak berani mengganggu. Pangeran Hendratama hanya duduk berhadapan dengan Ki Sindukerta dan garwa padminya.
"Paman dan bibi, di mana diajeng Endang Sawitri? Tanpa kehadirannya, rumah paman ini tampak sepi."
"Endang sedang sibuk di dapur, membantu para abdi mempersiapkan makan, Pangeran." kata Nyi Sindukerta.
"Begitukah? Sayang, saya ingin sekali melihatnya, walaupun sebentar saja, bibi."
Nyi Sindukerta lalu memanggil pelayan dan memberi perintah agar pelayan itu memberitahu kepada puterinya bahwa Pangeran Hendratama datang berkunjung.
"Minta kepada Den Ajeng Endang agar keluar dan menemui Gusti Pangeran Hendratama sebentar!" perintahnya.
Pelayan itu menyembah lalu pergi. Tak lama kemudian, selagi Pangeran Hendratama bercakap-cakap dengan Ki Sindukerta dan isterinya, muncullah seorang gadis cantik jelita mengiringkan seorang pelayan wanita yang membawa baki terisi makanan dan minuman yang dihidangkan di atas meja.
Gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, cantik jelita dan manis merak ati, dengan sikap dan gerak-gerik lembut menawan. Itulah Endang Sawitri, puteri tunggal Senopati Sindukerta yang terkenal sebagai seorang di antara para puteri yang cantik di kota raja. Bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum memancing datangnya banyak kumbang, Endang Sawitri juga membuat banyak pemuda bangsawan maupun bukan bangsawan tergila gila.

Akan tetapi Endang Sawitri tidak menyambut rayuan mereka, bahkan menolak pinangan beberapa orang pemuda bangsawan. Semua ini karena dara jelita itu sudah mempunyai pilihan hati sendiri, yaitu seorang pemuda bernama Dharmaguna. Akan tetapi Senopati Sindukerta marah-marah dan melarang puterinya melanjutkan pergaulannya dengan pemuda itu. Bukan karena pemuda pilihan puteri mereka itu kurang tampan. Sebaliknya, Dharmaguna adalah seorang pemuda yang tampan dan lemah lembut, baik budi pekertinya. Akan tetapi dia hanya putera seorang pendeta yang miskin, sudah tidak beribu lagi karena ibunya sudah meninggal dunia. Dharmaguna hanya tinggal di padepokan ayahnya, sebuah bangunan yang reyot. Bagaimana mungkin sang senopati dan isterinya mau menyerahkan puteri mereka yang merupakan anak tunggal kepada seorang pemuda miskin, tidak memiliki kedudukan apapun? Mereka mengidamkan seorang mantu yang berpangkat tinggi dan kaya raya! Ketika Endang Sawitri muncul. Pangeran Hendratama segera bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum memandang kepada dara yang telah mengobarkan gairah berahinya itu.
"Diajeng Endang Sawitri .....!" sapanya, tanpa menyembunyikan kekagumannya walaupun ayah ibu gadis itu berada di situ.
"Selamat datang, Gusti Pangeran. Hamba menghaturkan hormat." kata gadis itu dengan sikap hormat.
"Ah, diajeng Endang! Jangan menyebut gusti padaku, sebut saja Kakangmas Pangeran!"
"Hamba..... tidak berani....." kata gadis itu sambil menundukkan mukanya, ngeri melihat pandang mata pangeran itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.
"Kenapa tidak berani? Takut? Aku bukan harimau yang perlu ditakuti, diajeng. Mari, duduklah. Aku ingin meyampaikan suatu berita kepada orang tuamu dan engkaupun perlu mendengarkan dan menyaksikan berita yang amat menggembirakan ini."
Endang Sawitri meragu. Ia sudah lama merasa tidak senang dan tidak aman kalau pangeran itu datang berkunjung. Biarpun pangeran itu tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan bahkan sangat ramah kepadanya, namun pandang mata pangeran itu selalu seolah menggerayangi seluruh bagian tubuhnya. la menoleh kepada orang tuanya dan Senopati Sindukerta mengangguk kepadanya.
"Duduklah, Endang." kata ayahnya.
Terpaksa gadis itu mengambil tempat duduk di dekat ibunya. Ibu yang menyayang puterinya ini lalu merangkulnya.
"Sebetulnya, kepentingan apakah yang hendak paduka sampaikan kepada kami sekeluarga, pangeran?" Tanya senopati itu dengan hati merasa tidak enak karena sungguh aneh kalau untuk kepentingan kerajaan misalnya, puterinya diharuskan menjadi saksi.
"Apakah paduka membawa perintah dari Gusti Prabu?"
"Sesungguhnya memang saya membawa surat dari Ramanda Prabu, paman."
"Tugas apakah yang diperintahkan Sribaginda kepada hamba?"
Pangeran Hendratama tersenyum.
"Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan tugas pemerintahan, paman. Ini adalah urusan pribadi saya.

<<<Bagian 60                                                                                         Bagian 62 >>>

No comments:

Post a Comment