Ketika Erlangga menjadi raja menggantikan kedudukan mendiang Teguh Dharmawangsa, dia mengikut-sertakan bekas punggawa ayah mertuanya itu dan di antaranya dia memberi kedudukan yang sama kepada Senopati Sindukerta. Senopati Sindukerta tinggal dalam sebuah gedung di kota raja bersama keluarganya. Usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih tampak sehat dan gagah. Biarpun sudah tergolong tua, namun Senopati Sindukerta masih disegani karena dia pandai mengatur barisan, pandai memimpin pasukan dalam perang dan sudah banyak jasanya menghadapi musuh-musuh Kerajaan Mataram sejak dia masih muda dulu. Tidak mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga menaruh kepercayaan kepadanya sungguhpun kini tugasnya lebih banyak sebagai penasihat yang memberi petunjuk dan pelajaran kepada para senopati muda.
Malam itu terang bulan. Bulan
purnama amat indahnya bertahta di angkasa raya. Bintang-bintang menjadi suram
bahkan banyak yang tidak tampak terhalang sinar bulan yang terang keemasan.
Bulan purnama bulat penuh dan di langit yang cerah itu tampak lingkaran putih
di sekeliling bulan. Bulan ndadari, bulan kalangan, begitu indahnya sehingga
menciptakan suasana sejuk gembira di muka bumi. Banyak orang betah berada di
luar rumah karena sinar bulan memandikan segala sesuatu yang berada di
permukaan bumi dengan sinarnya yang menenteramkan hati, membuat semua tampak
gemilang dan indah, juga aneh penuh rahasia. Segala sesuatu seperti diselimuti
cahaya keemasan. Kanak-kanak memenuhi pelataran rumah dan bermain-main dengan
bertembang riuh rendah. Orang-orang tua bercengkerama di luar rumah. Banyak
pula yang menggelar tikar di pelataran dan bercakap-cakap membicarakan masa lalu.
Bulan purnama mendatangkan kenangan lama yang indah-indah. Para muda juga
bergembira ria. Sinar bulan agaknya mengobarkan gairah dan semangat hidup
mereka. Terutama sekali mereka yang sedang dimabuk asmara dan mengadakan
pertemuan dengan kekasih mereka dibawah sinar bulan purnama. Pada saat seperti
itu, kekasih mereka tampak lebih cantik, lebih tampan, lebih menarik dan
menggairahkan.
Senopati Sindukerta duduk seorang
diri di dalam taman bunganya yang cukup luas. Harum bunga melati yang tumbuh di
sekeliling kolam ikan memperindah suasana. Akan tetapi Senopati Sindukerta yang
duduk tak jauh dari kolam ikan, di atas bangku panjang, sama sekali tidak
tampak gembira. Bahkan berulang kali dia menghela napas panjang dan wajahnya
tampak muram, seolah dia menanggung derita kesedihan yang mendalam. Di atas
sebuah meja kecil didepannya terdapat sebuah poci dan sebuah cangkir. Tadi
pelayan datang menghidangkan air teh panas manis itu dan dia suruh pelayan itu
pergi meninggalkannya dan berpesan agar jangan ada yang datang mengganggunya di
dalam taman karena dia ingin bersendirian di situ. Wajahnya yang masih
memperlihatkan bekas ketampanan itu berkerut. Tidak ada kumis dan jenggot di
wajahnya. Rambutnya sudah banyak yang putih. Tubuhnya sedang, akan tetapi
tampak kurus. Dari keadaan jasmaninya dapat diduga bahwa Senopati Sindukerta
banyak mengalami penderitaan batin. Tentu saja hal ini tidak disangka orang.
Dia adalah seorang senopati tua yang berkedudukan tinggi, cukup kaya, terhormat
dan tidak kekurangan sesuatu. Bagaimana mungkin seorang punggawa tinggi seperti
dia hidup mengalami penderitaan batin?
Senopati Sindukerta duduk di situ
sejak tadi, sudah lebih dari dua jam dia duduk melamun seorang diri. Sementara
itu bulan purnama naik semakin tinggi. Keadaan di luar gedung senopati itu
sudah mulai berkurang keramaiannya. Anak-anak sudah disuruh masuk dan tidur.
Hanya tinggal beberapa orang tua saja yang masih tinggal di luar. Malam mulai
larut. Senopati Sindukerta mulai merasa kedinginan. Makin tinggi bulan purnama naik,
makin larut malam, makin dinginlah hawa udara. Pada saat dia merasakan
kedinginan dan minum air teh dari poci dituangkan ke cangkir dan air teh itu
masih hangat, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu di depannya,
dalam jarak tiga meter, telah berdiri seorang pemuda.
Senopati Sindukerta terkejut dan
meletakkan kembali cangkirnya di atas cawan, lalu menatap wajah pemuda itu
dengan alis berkerut. Dia terkejut, akan tetapi sama sekali tidak takut, hanya
merasa heran bagaimana ada seorang pemuda yang begitu berani datang
mengganggunya, dan kemunculannya begitu tiba-tiba.
"Siapa engkau? Mau apa engkau
menggangguku, datang tanpa diundang?" bentak Senopati Sindukerta sambil
menatap tajam wajah tampan pemuda yang pakaian dan sikapnya sederhana itu.
Pemuda itu memberi hormat dengan membungkuk, lalu bertanya dengan suara lembut
dan hormat.
"Maafkan saya, apakah saya
berhadapan dengan Senopati Sindukerta?"
"Hemm, benar aku Senopati
Sindukerta. Siapa engkau?"
"Maafkan saya. Nama saya
Nurseta dan saya sengaja menghadap paduka untuk menanyakan sesuatu yang teramat
penting dan hanya paduka saja yang dapat menjawab pertanyaan saya itu.” Kerut
alis Senopati Sindukerta semakin mendalam.
"Sungguh engkau seorang pemuda
yang tidak tahu aturan, bagaimana engkau berani kurang ajar menemui aku
malam-malam begini dan memasuki tamanku seperti seorang pencuri?"
"Sudah dua kali saya minta maaf
kalau saya mengganggu. Akan tetapi, pertanyaan saya ini penting sekali dan saya
harap paduka tidak menolak untuk menjawabnya."
"Sudahlah, coba katakan, apa
yang ingin kauketahui dariku?"
"Saya ingin bertanya, apa yang
paduka ketahui tentang orang yang bernama Dharmaguna?"
Senopati Sindukerta terbelalak dan
dia bangkit berdiri dengan cepat.
"Keparat" Telunjuknya
menuding ke arah Nurseta.
"Kiranya engkau ini suruhan si
jahanam Dharmaguna? Mampuslah!" Tiba-tiba Senopati Sindukerta menendang
meja kecil di depannya dan meja itu meluncur ke arah Nurseta. Poci dan cangkir
tadi terlempar jauh.
Nurseta menggerakkan tangannya,
menangkap kaki meja yang menyambar ke arahnya dan menaruh meja itu di atas
tanah, di sampingnya. Akan tetapi Senopati Sindukerta sudah mencabut kerisnya
dan melompat maju, menyerang Nurseta dengan tusukan kerisnya. Agaknya dia marah
sekali mendengar disebutnya nama Dharmaguna tadi.
"Wuutt ..... tukk!"
Senopati Sindukerta terkejut setengah mati ketika keris yang dia tusukkan itu
mengenai dada pemuda itu, dia merasa betapa kerisnya itu bertemu dengan benda
yang lunak namun kenyal dan kuat sekali sehingga kerisnya membalik dan tidak
dapat menembus. Sebelum hilang rasa kagetnya tahu-tahu keris itu telah
direnggut lepas dari pegangannya dan pemuda itu melangkah mundur sambil berkata
ejekan lembut.
"Harap paduka bersabar dan
tenang. Saya sama sekali tidak datang untuk memusuhi paduka, melainkan hanya
untuk minta keterangan. terimalah kembali pusaka paduka ini."
Nurseta menjulurkan tangan dan
menyerahkan keris itu kepada pemiliknya. Senopati Sindukerta terkejut bukan
main. Keris pusakanya itu bukan keris biasa, melainkan pusaka ampuh sekali.
Akan tetapi pemuda itu memiliki kekebalan yang luar biasa, membuktikan bahwa
dia seorang yang sakti mandraguna. Maka mendengar ucapan Nurseta, dia menerima
keris, mundur lalu duduk kembali ke atas bangku, mengawasi pemuda itu penuh
perhatian.
"Orang muda. sebetulnya apakah
yang kaukehendaki? Siapa namamu tadi?"
"Nama saya Nurseta dan saya
hanya ingin mengetahui mengapa paduka memusuhi Dharmaguna, mengapa paduka
membencinya dan di mana adanya dia sekarang?"
Senopati Sindukerta memandang heran,
"jadi engkau bukan suruhan dia?
Engkau juga menanyakan di mana dia? Ah, kalau saja aku tahu di mana dia, si
keparat itu!"
"Harap paduka suka menceritakan
kepada saya mengapa paduka begitu membencinya."
"Engkau mau tahu mengapa aku
membencinya? Huh, dia sudah merampas kebahagiaan kami sudah dua puluh dua tahun
ini dia membuat aku selalu merasa berduka. Bawalah meja itu dekat sini dan
duduklah di atas meja kalau engkau ingin mendengarkan persoalannya."
Nurseta menurut. Dia mengambil meja,
membawanya ke depan Senopati Sindukerta lalu duduk di atas meja kecil yang
rendah itu. Senopati Sindukerta lalu bercerita dan Nurseta mendengarkan dengan
penuh perhatian. Senopati Sindukerta menghela napas panjang lalu berkata,
"Peristiwa itu telah lama
terjadi, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, akan tetapi rasanya baru
kemarin saja terjadinya." Kemudian senopati tua itu lalu bercerita.
Senopati Sindukerta telah menjadi
senopati pada waktu Teguh Dharmawangsa menjadi raja. Senopati yang setia ini
hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Endang Sawitri. Pada waktu
itu Endang Sawitri berusia delapan belas tahun, ia terkenal sebagai seorang
dara yang selain cantik jelita, juga baik budi bahasanya dan berbakti kepada
ayah ibunya. Tidak mengherankan kalau Senopati Sindukerta dan isterinya merasa
amat sayang kepada Endang Sawitri. Tentu saja, seperti para orang tua lainnya
Senopati Sindukerta dan isterinya mengharapkan agar puteri mereka itu
mendapatkan suami yang tinggi kedudukannya, kaya raya, dan baik budi serta bijaksana.
Dengan demikian maka selain puteri mereka itu akan hidup bahagia juga mereka
sebagai orang tuanya akan merasa senang dan terangkat derajat dan martabatnya.
Akan tetapi, dalam kehidupan ini, lebih sering harapan manusia tidak terpenuhi,
kenyataan yang terjadi sering berlawanan dengan apa yang diinginkan, apa yang
diharapkan, sehingga banyak kekecewaan dan duka melanda kehidupan manusia.
Pada suatu pagi, seorang tamu yang
di hormati datang berkunjung ke rumah Senopati Sindukerta. Sang senopati dan isterinya
menyambut kedatangan tamu ini dengan ramah dan hormat karena tamu itu adalah
seorang pangeran yang terkenal gagah perkasa. Dia adalah Pangeran Hendratama
yang pada waktu itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Seorang pria yang tampan
dan gagah, apalagi karena pakaiannya amat indah, mewah dan mentereng. Sebagai
seorang pangeran, putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa yang beribu seorang
wanita berkasta rendah, Pangeran Hendratama tentu saja mempunyai hubungan baik
dengan para pamong-praja dan juga mengenal baik Senopati Sindukerta.
"Selamat datang,
Pangeran." sambut Senopati Sindukerta ramah. Isterinya juga menyambut
dengan senyum ramah.
"Silakan masuk, kita duduk di
ruangan dalam agar lebih leluasa bercakap-cakap."
"Terima kasih, paman senopati
dan bibi." kata Pangeran Hendratama dengan sikap halus.
Mereka memasuki ruangan dalam dan
dua orang selir sang senopati juga menyambut dan memberi hormat kepada pangeran
itu, akan tetapi mereka segera mengundurkan diri, tidak berani mengganggu.
Pangeran Hendratama hanya duduk berhadapan dengan Ki Sindukerta dan garwa
padminya.
"Paman dan bibi, di mana
diajeng Endang Sawitri? Tanpa kehadirannya, rumah paman ini tampak sepi."
"Endang sedang sibuk di dapur,
membantu para abdi mempersiapkan makan, Pangeran." kata Nyi Sindukerta.
"Begitukah? Sayang, saya ingin
sekali melihatnya, walaupun sebentar saja, bibi."
Nyi Sindukerta lalu memanggil
pelayan dan memberi perintah agar pelayan itu memberitahu kepada puterinya
bahwa Pangeran Hendratama datang berkunjung.
"Minta kepada Den Ajeng Endang
agar keluar dan menemui Gusti Pangeran Hendratama sebentar!" perintahnya.
Pelayan itu menyembah lalu pergi.
Tak lama kemudian, selagi Pangeran Hendratama bercakap-cakap dengan Ki
Sindukerta dan isterinya, muncullah seorang gadis cantik jelita mengiringkan
seorang pelayan wanita yang membawa baki terisi makanan dan minuman yang
dihidangkan di atas meja.
Gadis itu berusia sekitar delapan
belas tahun, cantik jelita dan manis merak ati, dengan sikap dan gerak-gerik
lembut menawan. Itulah Endang Sawitri, puteri tunggal Senopati Sindukerta yang
terkenal sebagai seorang di antara para puteri yang cantik di kota raja.
Bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum memancing datangnya banyak
kumbang, Endang Sawitri juga membuat banyak pemuda bangsawan maupun bukan
bangsawan tergila gila.
Akan tetapi Endang Sawitri tidak
menyambut rayuan mereka, bahkan menolak pinangan beberapa orang pemuda
bangsawan. Semua ini karena dara jelita itu sudah mempunyai pilihan hati
sendiri, yaitu seorang pemuda bernama Dharmaguna. Akan tetapi Senopati
Sindukerta marah-marah dan melarang puterinya melanjutkan pergaulannya dengan
pemuda itu. Bukan karena pemuda pilihan puteri mereka itu kurang tampan.
Sebaliknya, Dharmaguna adalah seorang pemuda yang tampan dan lemah lembut, baik
budi pekertinya. Akan tetapi dia hanya putera seorang pendeta yang miskin,
sudah tidak beribu lagi karena ibunya sudah meninggal dunia. Dharmaguna hanya
tinggal di padepokan ayahnya, sebuah bangunan yang reyot. Bagaimana mungkin
sang senopati dan isterinya mau menyerahkan puteri mereka yang merupakan anak
tunggal kepada seorang pemuda miskin, tidak memiliki kedudukan apapun? Mereka
mengidamkan seorang mantu yang berpangkat tinggi dan kaya raya! Ketika Endang
Sawitri muncul. Pangeran Hendratama segera bangkit dari tempat duduknya dan
tersenyum memandang kepada dara yang telah mengobarkan gairah berahinya itu.
"Diajeng Endang Sawitri
.....!" sapanya, tanpa menyembunyikan kekagumannya walaupun ayah ibu gadis
itu berada di situ.
"Selamat datang, Gusti
Pangeran. Hamba menghaturkan hormat." kata gadis itu dengan sikap hormat.
"Ah, diajeng Endang! Jangan
menyebut gusti padaku, sebut saja Kakangmas Pangeran!"
"Hamba..... tidak
berani....." kata gadis itu sambil menundukkan mukanya, ngeri melihat pandang
mata pangeran itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.
"Kenapa tidak berani? Takut?
Aku bukan harimau yang perlu ditakuti, diajeng. Mari, duduklah. Aku ingin
meyampaikan suatu berita kepada orang tuamu dan engkaupun perlu mendengarkan
dan menyaksikan berita yang amat menggembirakan ini."
Endang Sawitri meragu. Ia sudah lama
merasa tidak senang dan tidak aman kalau pangeran itu datang berkunjung.
Biarpun pangeran itu tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan
bahkan sangat ramah kepadanya, namun pandang mata pangeran itu selalu seolah
menggerayangi seluruh bagian tubuhnya. la menoleh kepada orang tuanya dan
Senopati Sindukerta mengangguk kepadanya.
"Duduklah, Endang." kata
ayahnya.
Terpaksa gadis itu mengambil tempat
duduk di dekat ibunya. Ibu yang menyayang puterinya ini lalu merangkulnya.
"Sebetulnya, kepentingan apakah
yang hendak paduka sampaikan kepada kami sekeluarga, pangeran?" Tanya
senopati itu dengan hati merasa tidak enak karena sungguh aneh kalau untuk
kepentingan kerajaan misalnya, puterinya diharuskan menjadi saksi.
"Apakah paduka membawa perintah
dari Gusti Prabu?"
"Sesungguhnya memang saya
membawa surat dari Ramanda Prabu, paman."
"Tugas apakah yang
diperintahkan Sribaginda kepada hamba?"
Pangeran Hendratama tersenyum.
"Sebetulnya tidak ada
hubungannya sama sekali dengan tugas pemerintahan, paman. Ini adalah urusan
pribadi saya.
No comments:
Post a Comment