Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 60

Kedua macam tugas yang diperintahkannya itu memang mengandung maksud yang tidak sehat dan tidak benar. Pertama, ia disuruh merampas keris pusaka Megatantra yang sama sekali bukan hak milik gurunya, melain kan hak milik Sang Prabu Erlangga dan ini berarti bahwa tugas itu menyuruh ia menjadi perampok atau pencuri! Kemudian tugas kedua, ia disuruh membunuh Ki Patih Narotama yang sama sekali tidak berdosa dan sifat tugas itu adalah pembalasan dendam yang angkara murka. Gurunya itu memang seorang wanita sesat, hal ini ia sendiri sudah mengetahuinya. Apakah ia harus pula menjadi seorang sesat, menjadi seorang penjahat? Tidak, ia bukan keturunan penjahat! Akan tetapi sebagai seorang yang sudah diangkat menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri, ia harus melaksanakan perintah Adipati Wura-Wuri dan ia harus membela Kerajaan Wura-wuri. Ia ditugaskan membantu dua orang puteri Parang Siluman Laut Kidul yang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan selir Ki Patih Narotama, membantu untuk menentang Kerajaan Kahuripan. Ia memilih menghubungi Puteri Mandari saja yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga. Ia tidak berani menghubungi Puteri Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama karena ia tidak berani bertemu lagi dengan ki patih yang tentu akan mencurigainya. Pula, biarpun ia membantu usaha Kerajaan Wura-Wuri untuk menentang Kerajaan Kahuripan, iapun tidak akan melakukannya dengan membuta. Ia tidak mau melakukan perbuatan yang sifatnya jahat.


Para prajurit penjaga di pintu gerbang kompleks istana Kahuripan mula-mula memandang dengan heran, kagum dan juga  penuh  curiga ketika menghadapi Puspa Dewi yang mengatakan bahwa ia ingin menghadap Sang Puteri Mandari. Heran melihat seorang gadis muda begitu berani seorang diri hendak memasuki kompleks istana, kagum melihat kecantikan dara itu, dan curiga melihat Puspa Dewi membawa sebatang pedang tergantung di punggungnya. Akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis itu hendak menghadap Sang Puteri Mandari, mereka tidak berani menolak. Puteri Mandari memang telah mereka kenal sebagai selir terkasih sang prabu dan selir itu adalah seorang yang sakti mandraguna, juga seorang yang galak dan tentu akan menghukum berat mereka kalau mereka menghalangi gadis ini. Siapa tahu gadis ini masih ada hubungan dekat dengan sang puteri. Maka sikap mereka segera berubah setelah Puspa Dewi menyebut nama Puteri Mandari. Tadinya, di antara mereka ada yang cengar cengir seperti biasa sekumpulan orang lelaki kalau melihat gadis cantik jelita, apalagi gadis itu datang seorang diri. Kini mereka bersikap hormat, tidak berani main-ma in.
"Silakan andika ikut petunjuk jalan menemui pengawal istana keputren," kata komandan jaga. Puspa Dewi lalu diantar dua orang prajurit menuju ke istana bagian keputren yang terletak di sebelah kiri bangunan induk istana. Setelah tiba dipintu bagian keputren, dua orang penjaga dari depan itu menyerahkan Puspa Dewi kepada empat orang perajurit pengawal yang berjaga di situ. Kembali di sini Puspa Dewi harus memperkenalkan diri  dan menjelaskan keperluan kunjungannya. Seperti juga para penjaga di depan tadi, ketika para prajurit pengawal mendengar bahwa Puspa Dewi ingin menghadap Puteri Mandari, merekapun bersikap hormat dan tidak berani melarang. Akan tetapi ternyata tidak terjadi seperti tadi. Puspa Dewi tidak diantar oleh prajurit yang berjaga di pintu gapura itu ke dalam. Seorang prajurit memberi isyarat ke dalam dengan memukul perlahan kentungan kecil.  Tak lama kemudian muncullah dua orang pengawal wanita, berlarian dari sebelah dalam. Mereka berdua adalah wanita-wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tegap dan berpakaian ringkas, di pinggang mereka tergantung sebatang pedang. Keduanya mendapat laporan dari prajurit pria yang berjaga di pintu gapura keputren tentang Puspa Dewi, mereka mengamati Puspa   Dewi penuh perhatian. Seperti juga yang lain, disebutnya nama Puteri Mandari yang hendak  dikunjungi Puspa Dewi membuat dua orang pengawal wanita ini bersikap hormat. Mereka semua takut belaka kepada sang puteri dan hal ini mulai diketahui Puspa Dewi melalui sikap mereka itu. la menduga bahwa keputren itu tentu memiliki pasukan pengawal wanita, sedangkan pasukan pengawal pria hanya menjaga di luar gedung, dibagi menjadi dua, yaitu pengawal luar dan pengawal dalam. Ketika seorang di antara pengawal wanita yang berkulit hitam manis melihat pedang yang menempel di punggung Puspa Dewi, ia lalu berkata dengan nada hormat.
"Maafkan kami, mas ayu. Di sini terdapat peraturan bahwa tamu yang datang berkunjung tidak diperkenankan membawa senjata. Oleh karena itu, harap andika menitipkan dulu pedang andika itu kepada kami. Nanti kalau andika hendak meninggalkan istana, tentu akan kami serahkan kembali."
Kalau pengawal wanita itu bicaranya kasar, tentu Puspa Dewi marah mendengar pedangnya diminta. Akan tetapi karena bicaranya sopan, maka ia tidak marah, hanya mengerutkan alisnya dan berkata sambil tersenyum mengejek.
"Aku mau menitipkan pedangku kepada kalian, akan tetapi apa hendak dikata, pusakaku Candrasa Langking ini tidak mau berpisah dariku."
"Apa maksud andika, mas ayu?" tanya pengawal wanita hitam manis itu dan kawannya juga memandang heran.
Puspa Dewi tersenyum dan ia mengambil pedang hitamnya, melepaskan talinya yang tergantung di punggung lalu menyerahkan pedang bersama sarungnya itu kepada pengawal wanita hitam manis itu.
"Kalau mau tahu, nah, buktikan sendiri dan terimalah pusakaku ini."
Dengan ragu pengawal itu menerima pedang. Akan tetapi begitu pedang dipegangnya, tiba-tiba saja pedang itu meluncur lepas dari tangannya seperti ada yang merenggutkan dan pedang ini melayang ke arah Puspa Dewi yang menyambutnya dengan tangan kiri.
"Nah, andika telah membuktikan sendiri!" kata Puspa Dewi yang tadi mempergunakan kekuatan sihirnya untuk menerbangkan pedangnya kembali kepadanya. Tentu saja ia tidak akan melakukannya kalau berhadapan dengan seorang yang sakti.

Pengawal wanita hitam manis itu terkejut sekali dan menjadi bingung, juga kawannya terbelalak heran dan kaget. Empat orang perajurit pengawal pria yang berjaga di luar gapura juga menyaksikan peristiwa itu dan merekapun terheran-heran!
"Ah, bagaimana baiknya ini?" kata pengawal wanita ke dua kepada kawannya.
Si hitam manis berkata,
"Cepat panggil Mbakayu Kanthi ke sini, biar ia yang menangani urusan ini." Kawannya mengangguk lalu berlari masuk dan si hitam manis berkata kepada Puspa Dewi.
"Harap mas ayu suka menanti sebentar, kami panggilkan pelayan pribadi Gusti Puteri Mandari untuk mengantar andika menghadap Gusti Puteri."
Puspa Dewi mengangguk dan menanti dengan sikap santai, diam-diam merasa geli melihat pengawal wanita dan pengawal pria itu melirik kepadanya dengan pandang mata jerih. Tak lama kemudian pengawal wanita itu datang bersama seorang wanita dan Puspa Dewi segera memandang wanita itu dengan penuh perhatian. Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, berpakaian sebagai emban pelayan, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya burik sehingga tampak jelek. Wanita ini adalah Kanthi dan ia bukanlah wanita lemah. Kanthi dan Sarti yang tinggi besar sengaja didatangkan oleh Mandari dan Lasmini. Sarti menjadi pengawal pribadi Lasmini dan Kanthi menjadi pengawal pribadi Mandari. Karena kedua orang wanita itu datang dari Kerajaan Parang Siluman, maka tentu saja mereka menjadi orang-orang kepercayaan kedua orang puteri itu. Dan mereka berdua juga merupakan orang-orang yang memiliki kesaktian, walaupun tidak setinggi kesaktian kedua orang puteri itu. Setelah berhadapan dengan Puspa Dewi, mata Kanthi yang tajam dapat melihat bahwa gadis muda belia itu, memang seorang yang sakti. Hal ini dapat ia lihat pada sinar mata Puspa Dewi yang mencorong penuh kekuatan batin. Ia tadi sudah mendengar cerita pengawal wanita yang memanggilnya tentang pedang milik tamu wanita itu. Ia lalu berkata dengan hormat kepada Puspa Dewi.
"Mas ayu, saya Kanthi, pelayan Gusti Puteri Mandari. Saya mengerti bahwa seseorang memang tidak dapat berpisah dari senjata pusakanya. Akan tetapi kalau andika menghadap Gusti Puteri dengan membawa pedang, tentu menimbulkan prasangka yang tidak baik. Oleh karena itu, marilah andika saya antar menghadap Gusti Puteri dan biarlah saya membawakan pedang andika itu sampai menghadap Gusti Puteri. Kalau nanti Gusti Puteri berkenan, tentu akan saya kembalikan pedang itu kepada andika disana juga."
Mendengar ucapan itu, Puspa Dewi tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mau menggunakan sihir lagi karena kalau wanita pelayan ini ternyata mampu menolak sihirnya, maka ia akan mendapat malu.
"Baiklah, engkau boleh membawakan pusakaku ini dan mari kita menghadap Gusti Puteri." katanya sambil menyerahkan pedang hitamnya. Kanthi menerima pedang itu sambil mengerahkan kekuatan batinnya, kalau-kalau pedang itu akan "terbang", akan tetapi tidak terjadi sesuatu sehingga hatinya lega. Dua orang pengawal wanita dan empat pengawal pria itupun memandang dengan hati tegang, akan tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu dan mereka hanya dapat mengikuti dengan pandang mata mereka ketika Kanthi, sambil membawa pedang, mengantar Puspa Dewi masuk ke dalam.

Mandari yang dikabari bahwa ada seorang gadis bernama Puspa Dewi mohon menghadap padanya, menerima gadis itu di dalam ruangan pribadinya. Dari seorang mata-matanya yang berada di Wura-Wuri, Puteri Mandari telah mendengar bahwa Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-Wuri telah mengutus puterinya Sekar Kedaton yang bernama Puspa Dewi untuk membantunya di Kahuripan. Oleh karena itu, mendengar laporan bahwa Puspa Dewi kini telah datang menghadap, ia merasa girang sekali dan cepat menyambutnya sendiri di ruangan pribadinya. Ketika Kanthi mengiringkan Puspa Dewi memasuki ruangan itu dan menutupkan kembali daun pintunya, Mandari telah duduk menanti di atas kursi, ia memandang kagum, ia sudah mendengar bahwa Sekar Kedaton Wura-Wuri ini adalah murid dan puteri angkat Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandraguna, yang kini menjadi permaisuri Wura-Wuri. Ternyata Puspa Dewi seorang gadis remaja yang cantik jelita.
Kanthi berlutut dan menyembah dengan hormat kepada majikannya. Puspa Dewi tetap berdiri dan memandang kepada Puteri Mandari dengan kagum. Tak disangkanya sang puteri itu sedemikian cantiknya dan tampaknya masih muda sekali. Ia mendengar bahwa puteri ini berusia sekitar dua puluh dua tahun lebih, akan tetapi tampaknya bahkan lebih muda dari pada ia yang baru berusia sembilan belas tahun! Melihat pedang di tangan pelayannya, Mandari tersenyum dan berkata,
"Kanthi, serahkan pedang itu kepada Gusti Puteri Puspa Dewi."
Kanthi terkejut dan menoleh kepada Puspa Dewi yang masih berdiri.
"Gusti ..... Gusti Puteri .....?" katanya bingung.
"Benar, Kanthi. Ia adalah Gusti Puteri Sekar Kedaton dari Kerajaan Wura-Wuri." kata Mandari.
"Sekarang haturkan kembali pedang itu lalu keluarlah. Jaga agar jangan ada yang mendengarkan kami bicara di dalam."
"Sendika, gusti." kata Kanthi lalu dengan hormat sekali ia menyerahkan kembali Candrasa Langking kepada Puspa Dewi, menyembah lalu keluar dari ruangan itu lalu menutupkan kembali daun pintunya.
Setelah Kanthi keluar, Mandari lalu menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya dan berkata,
"Puspa Dewi, duduklah. Di sini kita dapat bicara dengan leluasa."
Puspa Dewi memasang kembali pedangnya di punggung lalu duduk dan berkata,
"Gusti Puteri...."
"Ah, Puspa Dewi, kita sama-sama puteri istana. Aku puteri Kerajaan Parang Siluman dan engkau puteri Kerajaan Wura-Wuri. Jangan bersikap merendah dan jangan menyebut aku Gusti Puteri!"
"Hamba mergerti. Akan tetapi karena hamba datang bukan sebagai Puteri Wura-Wuri dan hendak membantu paduka dengan diam-diam dan rahasia, maka sebaiknya kalau mulai saat ini hamba membiasakan diri bersikap sebagai seorang pembantu paduka agar rahasia hamba tidak sampai bocor"
"Baiklah kalau begitu, Puspa Dewi. Tidak kusangka engkau yang semuda ini sudah dapat bersikap cerdik. Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari pembantuku. Sebagai murid dan juga anak angkat Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-Wuri, aku yakin engkau memiliki kesaktian yang boleh diandalkan. Aku girang sekali engkau bersedia untuk membantuku. Dengan adanya engkau di sini dan Linggajaya di kepatihan membantu Mbakayu Lasmini, kedudukan kita menjadi lebih kuat. Kukira engkau sudah tahu tentang Linggajaya."
Puspa Dewi mengangguk.
"Hamba telah mengenalnya dengan baik." katanya tanpa menjelaskan bahwa Linggajaya adalah kakak tirinya.
"Sekarang harap paduka jelaskan, bantuan apakah yang dapat hamba lakukan di sini dan tugas apa yang dapat hamba kerjakan?"
"Aku sedang memikirkan hal itu. Aku sudah mendengar bahwa engkau diutus oleh Adipati Wura-Wuri untuk membantu kami, akan tetapi tidak kusangka bahwa engkau hari ini akan datang menemui aku. Kedatanganmu yang tiba-tiba ini membuat aku harus berpikir-pikir dulu, tugas apa yang dapat kuserahkan kepadamu. Sementara ini, sebaiknya engkau menyamar sebagai seorang dayang pelayan pribadiku membantu Kanthi yang menjadi pelayan bawaan dan kepercayaanku. Dengan menjadi pelayan pribadiku, kita dapat mudah berhubungan dan tidak seorang pun berani menentangmu. Nanti perlahan-lahan kita atur apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Akan tetapi sebagai pelayan pribadi, tidak baik dan akan mencurigakan sekali kalau engkau membawa pedangmu. Maka, sebaiknya engkau sembunyikan pedangmu itu dalam kamar yang akan disediakan untukmu."
"Baik, akan hamba laksanakan." kata Puspa Dewi.
"Puspa Dewi, engkau harus berhati-hati. Ingat bahwa di dalam istana ini banyak orang yang diam-diam menentangku. Terutama sekali terhadap Sang Prabu Erlangga, engkau harus berhati-hati sekali. Beliau adalah seorang yang amat sakti mandraguna, sebaiknya kalau engkau tidak muncul di depannya, kecuali kalau terpaksa dan jangan memperlihatkan sikap mencolok agar beliau tidak menaruh curiga kepadamu."
Demikianlah, mulai hari itu Puspa Dewi tinggal di dalam istana bagian keputren dan menyamar sebagai seorang dayang pelayan pribadi Puteri Mandari. Ia memakai pakaian seperti yang dipakai para dayang istana dan menyimpan pusaka Candrasa Langking dalam kamarnya. Kehadirannya tidak mencolok, tidak mencurigakan karena di istana memang terdapat banyak dayang, gadis-gadis muda yang rata-rata memiliki wajah yang ayu dan manis. Dan seperti yang dikatakan Puteri Mandari, para dayang dan pelayan yang lain bersikap segan dan hormat kepada Puspa Dewi setelah mereka mendengar bahwa dara itu adalah pelayan pribadi Puteri Mandari.

Senopati Sindukerta adalah seorang senopati sepuh (tua) yang sudah menjadi senopati sejak muda, di bawah pimpinan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.

<<<Bagian 59                                                                                          Bagian 61 >>>

No comments:

Post a Comment