Para prajurit
penjaga di pintu gerbang kompleks istana Kahuripan mula-mula memandang dengan
heran, kagum dan juga penuh curiga ketika menghadapi Puspa Dewi yang
mengatakan bahwa ia ingin menghadap Sang Puteri Mandari. Heran melihat seorang
gadis muda begitu berani seorang diri hendak memasuki kompleks istana, kagum
melihat kecantikan dara itu, dan curiga melihat Puspa Dewi membawa sebatang
pedang tergantung di punggungnya. Akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis itu
hendak menghadap Sang Puteri Mandari, mereka tidak berani menolak. Puteri
Mandari memang telah mereka kenal sebagai selir terkasih sang prabu dan selir
itu adalah seorang yang sakti mandraguna, juga seorang yang galak dan tentu
akan menghukum berat mereka kalau mereka menghalangi gadis ini. Siapa tahu
gadis ini masih ada hubungan dekat dengan sang puteri. Maka sikap mereka segera
berubah setelah Puspa Dewi menyebut nama Puteri Mandari. Tadinya, di antara
mereka ada yang cengar cengir seperti biasa sekumpulan orang lelaki kalau
melihat gadis cantik jelita, apalagi gadis itu datang seorang diri. Kini mereka
bersikap hormat, tidak berani main-ma in.
"Silakan
andika ikut petunjuk jalan menemui pengawal istana keputren," kata
komandan jaga. Puspa Dewi lalu diantar dua orang prajurit menuju ke istana
bagian keputren yang terletak di sebelah kiri bangunan induk istana. Setelah
tiba dipintu bagian keputren, dua orang penjaga dari depan itu menyerahkan
Puspa Dewi kepada empat orang perajurit pengawal yang berjaga di situ. Kembali
di sini Puspa Dewi harus memperkenalkan diri
dan menjelaskan keperluan kunjungannya. Seperti juga para penjaga di
depan tadi, ketika para prajurit pengawal mendengar bahwa Puspa Dewi ingin
menghadap Puteri Mandari, merekapun bersikap hormat dan tidak berani melarang.
Akan tetapi ternyata tidak terjadi seperti tadi. Puspa Dewi tidak diantar oleh
prajurit yang berjaga di pintu gapura itu ke dalam. Seorang prajurit memberi
isyarat ke dalam dengan memukul perlahan kentungan kecil. Tak lama kemudian muncullah dua orang
pengawal wanita, berlarian dari sebelah dalam. Mereka berdua adalah
wanita-wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tegap dan
berpakaian ringkas, di pinggang mereka tergantung sebatang pedang. Keduanya
mendapat laporan dari prajurit pria yang berjaga di pintu gapura keputren
tentang Puspa Dewi, mereka mengamati Puspa
Dewi penuh perhatian. Seperti juga yang lain, disebutnya nama Puteri
Mandari yang hendak dikunjungi Puspa
Dewi membuat dua orang pengawal wanita ini bersikap hormat. Mereka semua takut
belaka kepada sang puteri dan hal ini mulai diketahui Puspa Dewi melalui sikap
mereka itu. la menduga bahwa keputren itu tentu memiliki pasukan pengawal
wanita, sedangkan pasukan pengawal pria hanya menjaga di luar gedung, dibagi menjadi
dua, yaitu pengawal luar dan pengawal dalam. Ketika seorang di antara pengawal
wanita yang berkulit hitam manis melihat pedang yang menempel di punggung Puspa
Dewi, ia lalu berkata dengan nada hormat.
"Maafkan
kami, mas ayu. Di sini terdapat peraturan bahwa tamu yang datang berkunjung
tidak diperkenankan membawa senjata. Oleh karena itu, harap andika menitipkan
dulu pedang andika itu kepada kami. Nanti kalau andika hendak meninggalkan
istana, tentu akan kami serahkan kembali."
Kalau pengawal
wanita itu bicaranya kasar, tentu Puspa Dewi marah mendengar pedangnya diminta.
Akan tetapi karena bicaranya sopan, maka ia tidak marah, hanya mengerutkan
alisnya dan berkata sambil tersenyum mengejek.
"Aku mau
menitipkan pedangku kepada kalian, akan tetapi apa hendak dikata, pusakaku
Candrasa Langking ini tidak mau berpisah dariku."
"Apa
maksud andika, mas ayu?" tanya pengawal wanita hitam manis itu dan
kawannya juga memandang heran.
Puspa Dewi
tersenyum dan ia mengambil pedang hitamnya, melepaskan talinya yang tergantung
di punggung lalu menyerahkan pedang bersama sarungnya itu kepada pengawal
wanita hitam manis itu.
"Kalau
mau tahu, nah, buktikan sendiri dan terimalah pusakaku ini."
Dengan ragu
pengawal itu menerima pedang. Akan tetapi begitu pedang dipegangnya, tiba-tiba
saja pedang itu meluncur lepas dari tangannya seperti ada yang merenggutkan dan
pedang ini melayang ke arah Puspa Dewi yang menyambutnya dengan tangan kiri.
"Nah,
andika telah membuktikan sendiri!" kata Puspa Dewi yang tadi mempergunakan
kekuatan sihirnya untuk menerbangkan pedangnya kembali kepadanya. Tentu saja ia
tidak akan melakukannya kalau berhadapan dengan seorang yang sakti.
Pengawal wanita hitam manis itu
terkejut sekali dan menjadi bingung, juga kawannya terbelalak heran dan kaget.
Empat orang perajurit pengawal pria yang berjaga di luar gapura juga
menyaksikan peristiwa itu dan merekapun terheran-heran!
"Ah, bagaimana baiknya
ini?" kata pengawal wanita ke dua kepada kawannya.
Si hitam manis berkata,
"Cepat panggil Mbakayu Kanthi
ke sini, biar ia yang menangani urusan ini." Kawannya mengangguk lalu
berlari masuk dan si hitam manis berkata kepada Puspa Dewi.
"Harap mas ayu suka menanti
sebentar, kami panggilkan pelayan pribadi Gusti Puteri Mandari untuk mengantar
andika menghadap Gusti Puteri."
Puspa Dewi mengangguk dan menanti
dengan sikap santai, diam-diam merasa geli melihat pengawal wanita dan pengawal
pria itu melirik kepadanya dengan pandang mata jerih. Tak lama kemudian
pengawal wanita itu datang bersama seorang wanita dan Puspa Dewi segera
memandang wanita itu dengan penuh perhatian. Seorang wanita berusia kurang
lebih tiga puluh lima tahun, berpakaian sebagai emban pelayan, tubuhnya tinggi
kurus dan mukanya burik sehingga tampak jelek. Wanita ini adalah Kanthi dan ia
bukanlah wanita lemah. Kanthi dan Sarti yang tinggi besar sengaja didatangkan
oleh Mandari dan Lasmini. Sarti menjadi pengawal pribadi Lasmini dan Kanthi
menjadi pengawal pribadi Mandari. Karena kedua orang wanita itu datang dari
Kerajaan Parang Siluman, maka tentu saja mereka menjadi orang-orang kepercayaan
kedua orang puteri itu. Dan mereka berdua juga merupakan orang-orang yang
memiliki kesaktian, walaupun tidak setinggi kesaktian kedua orang puteri itu.
Setelah berhadapan dengan Puspa Dewi, mata Kanthi yang tajam dapat melihat
bahwa gadis muda belia itu, memang seorang yang sakti. Hal ini dapat ia lihat
pada sinar mata Puspa Dewi yang mencorong penuh kekuatan batin. Ia tadi sudah
mendengar cerita pengawal wanita yang memanggilnya tentang pedang milik tamu
wanita itu. Ia lalu berkata dengan hormat kepada Puspa Dewi.
"Mas ayu, saya Kanthi, pelayan
Gusti Puteri Mandari. Saya mengerti bahwa seseorang memang tidak dapat berpisah
dari senjata pusakanya. Akan tetapi kalau andika menghadap Gusti Puteri dengan
membawa pedang, tentu menimbulkan prasangka yang tidak baik. Oleh karena itu,
marilah andika saya antar menghadap Gusti Puteri dan biarlah saya membawakan
pedang andika itu sampai menghadap Gusti Puteri. Kalau nanti Gusti Puteri
berkenan, tentu akan saya kembalikan pedang itu kepada andika disana
juga."
Mendengar ucapan itu, Puspa Dewi
tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mau menggunakan sihir lagi karena kalau
wanita pelayan ini ternyata mampu menolak sihirnya, maka ia akan mendapat malu.
"Baiklah, engkau boleh
membawakan pusakaku ini dan mari kita menghadap Gusti Puteri." katanya
sambil menyerahkan pedang hitamnya. Kanthi menerima pedang itu sambil
mengerahkan kekuatan batinnya, kalau-kalau pedang itu akan "terbang",
akan tetapi tidak terjadi sesuatu sehingga hatinya lega. Dua orang pengawal
wanita dan empat pengawal pria itupun memandang dengan hati tegang, akan tetapi
ternyata tidak terjadi sesuatu dan mereka hanya dapat mengikuti dengan pandang
mata mereka ketika Kanthi, sambil membawa pedang, mengantar Puspa Dewi masuk ke
dalam.
Mandari yang dikabari bahwa ada
seorang gadis bernama Puspa Dewi mohon menghadap padanya, menerima gadis itu di
dalam ruangan pribadinya. Dari seorang mata-matanya yang berada di Wura-Wuri,
Puteri Mandari telah mendengar bahwa Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-Wuri
telah mengutus puterinya Sekar Kedaton yang bernama Puspa Dewi untuk
membantunya di Kahuripan. Oleh karena itu, mendengar laporan bahwa Puspa Dewi
kini telah datang menghadap, ia merasa girang sekali dan cepat menyambutnya
sendiri di ruangan pribadinya. Ketika Kanthi mengiringkan Puspa Dewi memasuki
ruangan itu dan menutupkan kembali daun pintunya, Mandari telah duduk menanti
di atas kursi, ia memandang kagum, ia sudah mendengar bahwa Sekar Kedaton
Wura-Wuri ini adalah murid dan puteri angkat Nyi Dewi Durgakumala yang sakti
mandraguna, yang kini menjadi permaisuri Wura-Wuri. Ternyata Puspa Dewi seorang
gadis remaja yang cantik jelita.
Kanthi berlutut dan menyembah dengan
hormat kepada majikannya. Puspa Dewi tetap berdiri dan memandang kepada Puteri
Mandari dengan kagum. Tak disangkanya sang puteri itu sedemikian cantiknya dan
tampaknya masih muda sekali. Ia mendengar bahwa puteri ini berusia sekitar dua
puluh dua tahun lebih, akan tetapi tampaknya bahkan lebih muda dari pada ia
yang baru berusia sembilan belas tahun! Melihat pedang di tangan pelayannya,
Mandari tersenyum dan berkata,
"Kanthi, serahkan pedang itu
kepada Gusti Puteri Puspa Dewi."
Kanthi terkejut dan menoleh kepada
Puspa Dewi yang masih berdiri.
"Gusti ..... Gusti Puteri
.....?" katanya bingung.
"Benar, Kanthi. Ia adalah Gusti
Puteri Sekar Kedaton dari Kerajaan Wura-Wuri." kata Mandari.
"Sekarang haturkan kembali
pedang itu lalu keluarlah. Jaga agar jangan ada yang mendengarkan kami bicara
di dalam."
"Sendika, gusti." kata
Kanthi lalu dengan hormat sekali ia menyerahkan kembali Candrasa Langking
kepada Puspa Dewi, menyembah lalu keluar dari ruangan itu lalu menutupkan
kembali daun pintunya.
Setelah Kanthi keluar, Mandari lalu
menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya dan berkata,
"Puspa Dewi, duduklah. Di sini
kita dapat bicara dengan leluasa."
Puspa Dewi memasang kembali
pedangnya di punggung lalu duduk dan berkata,
"Gusti Puteri...."
"Ah, Puspa Dewi, kita sama-sama
puteri istana. Aku puteri Kerajaan Parang Siluman dan engkau puteri Kerajaan
Wura-Wuri. Jangan bersikap merendah dan jangan menyebut aku Gusti Puteri!"
"Hamba mergerti. Akan tetapi
karena hamba datang bukan sebagai Puteri Wura-Wuri dan hendak membantu paduka
dengan diam-diam dan rahasia, maka sebaiknya kalau mulai saat ini hamba
membiasakan diri bersikap sebagai seorang pembantu paduka agar rahasia hamba
tidak sampai bocor"
"Baiklah kalau begitu, Puspa
Dewi. Tidak kusangka engkau yang semuda ini sudah dapat bersikap cerdik. Aku
sudah banyak mendengar tentang dirimu dari pembantuku. Sebagai murid dan juga
anak angkat Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-Wuri, aku
yakin engkau memiliki kesaktian yang boleh diandalkan. Aku girang sekali engkau
bersedia untuk membantuku. Dengan adanya engkau di sini dan Linggajaya di
kepatihan membantu Mbakayu Lasmini, kedudukan kita menjadi lebih kuat. Kukira
engkau sudah tahu tentang Linggajaya."
Puspa Dewi mengangguk.
"Hamba telah mengenalnya dengan
baik." katanya tanpa menjelaskan bahwa Linggajaya adalah kakak tirinya.
"Sekarang harap paduka
jelaskan, bantuan apakah yang dapat hamba lakukan di sini dan tugas apa yang
dapat hamba kerjakan?"
"Aku sedang memikirkan hal itu.
Aku sudah mendengar bahwa engkau diutus oleh Adipati Wura-Wuri untuk membantu
kami, akan tetapi tidak kusangka bahwa engkau hari ini akan datang menemui aku.
Kedatanganmu yang tiba-tiba ini membuat aku harus berpikir-pikir dulu, tugas
apa yang dapat kuserahkan kepadamu. Sementara ini, sebaiknya engkau menyamar
sebagai seorang dayang pelayan pribadiku membantu Kanthi yang menjadi pelayan
bawaan dan kepercayaanku. Dengan menjadi pelayan pribadiku, kita dapat mudah
berhubungan dan tidak seorang pun berani menentangmu. Nanti perlahan-lahan kita
atur apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Akan tetapi sebagai pelayan
pribadi, tidak baik dan akan mencurigakan sekali kalau engkau membawa pedangmu.
Maka, sebaiknya engkau sembunyikan pedangmu itu dalam kamar yang akan
disediakan untukmu."
"Baik, akan hamba
laksanakan." kata Puspa Dewi.
"Puspa Dewi, engkau harus
berhati-hati. Ingat bahwa di dalam istana ini banyak orang yang diam-diam
menentangku. Terutama sekali terhadap Sang Prabu Erlangga, engkau harus
berhati-hati sekali. Beliau adalah seorang yang amat sakti mandraguna,
sebaiknya kalau engkau tidak muncul di depannya, kecuali kalau terpaksa dan
jangan memperlihatkan sikap mencolok agar beliau tidak menaruh curiga
kepadamu."
Demikianlah, mulai hari itu Puspa
Dewi tinggal di dalam istana bagian keputren dan menyamar sebagai seorang
dayang pelayan pribadi Puteri Mandari. Ia memakai pakaian seperti yang dipakai
para dayang istana dan menyimpan pusaka Candrasa Langking dalam kamarnya.
Kehadirannya tidak mencolok, tidak mencurigakan karena di istana memang
terdapat banyak dayang, gadis-gadis muda yang rata-rata memiliki wajah yang ayu
dan manis. Dan seperti yang dikatakan Puteri Mandari, para dayang dan pelayan
yang lain bersikap segan dan hormat kepada Puspa Dewi setelah mereka mendengar
bahwa dara itu adalah pelayan pribadi Puteri Mandari.
Senopati Sindukerta adalah seorang
senopati sepuh (tua) yang sudah menjadi senopati sejak muda, di bawah pimpinan
mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.
No comments:
Post a Comment