Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 59


Ki Patih Narotama mengenal aji pukulan dahsyat, maka dia cepat menghindar dengan loncatan ke samping sehingga pukulan yang mengandung hawa panas seperti api itu lewat disamping tubuhnya. Gadis itu menyerang lagi, lebih ganas daripada tadi, bahkan kini Puspa Dewi menggunakan kuku-kuku jarinya yang mengandung racun untuk menyerang sehingga serangannya menjadi semakin ganas. Wisakenaka Kuku Beracun) merupakan ilmu sesat yang amat berbahaya, sedikit saja kulit lawan tergurat kuku dan terluka, sudah cukup untuk membunuh lawan.

Ki Patih Narotama adalah seorang sakti mandraguna yang sudah banyak pengalaman. Diam-dia m dia merasa iba kepada dara yang masih amat muda ini. Semuda itu sudah memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat, hanya sayang ilmu-ilmu itu sifatnya sesat dan keji. Padahal, kalau melihat sikap gadis itu, walaupun liar dan ganas, namun gadis ini merasa bahwa tindakannya benar karena ia menganggap dia seorang yang amat jahat, yang telah membunuh anak dalam gendongan Nyi Dewi Durgakumala! Gadis ini tidak memiliki dasar yang jahat, hanya karena menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat maka selain  mewarasi ilmu-ilmu sesat, juga mewarisi watak yang ganas, ia tidak sadar bahwa ia telah diperalat oleh Nyi Dewi Durgakumala. Menghadapi serangan yang  nekat dan ganas itu, dia hanya mempertahankan diri dengan elakan-elakan dan terkadang dia menangkis dari samping yang membuat tubuh Puspa Dewi terhuyung. Puspa Dewi juga bukan seorang bodoh. Setelah menyerang bertubi-tubi dan terkadang ia sampai terhuyung ketika ditangkis oleh Ki Patih Narotama, iapun maklum bahwa lawannya adalah seorang yang amat sakti. Pantas saja gurunya tidak pernah dapat mengalahkannya. Akan tetapi dia seorang yang keras hati dan keras kepala, tidak menyadari bahwa sejak tadi Ki Patih Narotama telah banyak mengalah kepadanya. Karena semua serangannya gagal dan kedua lengannya terasa nyeri setelah beberapa kali bertemu dengan tangkisan tangan Ki Patih Narotama, Puspa Dewi menjadi semakin marah.
"Sambut pusakaku ini!" bentaknya dan di tangannya sudah tampak pedang hitam yang amat ampuh itu. Ia sudah menerjang Ki Patih Narotama dengan pedangnya yang ia gerakkan amat cepat sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar. Ki Patih Narotama merasa sudah cukup dia bersabar dan mengalah. Gadis ini perlu diingatkan. Kalau sampai ia dipengaruhi Nyi Dewi Durgakumala, ia dapat melakukan banyak kejahatan yang amat berbahaya tanpa disadari bahwa ia berbuat jahat. Ketika pedang itu menusuk dengan luncuran cepat seperti anak panah ke arah dadanya, dia miringkan tubuh dan ketika sinar pedang hitam itu meluncur lewat samping tubuhnya, dia cepat menggerakkan tangannya dan menangkap pedang itu!

Puspa Dewi terkejut dan hampir tidak percaya ada orang mampu menangkap pusaka Candrasa Langking yang beracun dan amat ampuh itu dengan tangan telanjang. Ia, berusaha menarik pedangnya, akan tetapi sia-sia. Pedang itu seolah telah melekat dengan tangan Ki Patih Narotama. Ia membetot lagi samb il  mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba Ki Patih Narotama melepaskan pegangannya pada pedang itu. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Puspa Dewi terjengkang dan terbanting roboh telentang di atas tanah! Sebelum gadis itu bangkit, Ki Patih Narotama cepat berkata dengan suara yang mengandung wibawa kuat sekali karena dia mengerahkan tenaga batinnya.
"Nimas, aku tidak mengenal siapa andika, akan tetapi sekarang aku mengerti bahwa engkau telah dihasut oleh Nyi Dewi Durgakumala yang telah mendidikmu sebagai murid sehingga engkau tidak menyadari bahwa engkau telah terjatuh ke dalam tangan seorang iblis betina yang amat jahat dan kejam. Ketahuilah bahwa Nyi Dewi Durgakumala adalah seorang datuk wanita sesat dan sesuai dengan namanya, ia adalah seorang penyembah Bathari Durga, ratu para iblis itu. Ia memang memusuhi aku, akan tetapi bukan karena aku membunuh anaknya. Sama sekali bohong ceritanya itu. Ia tidak pernah mempunyai anak akan tetapi entah sudah berapa banyak anak laki-laki yang menjadi korban kekejiannya. Ia pernah bertemu denganku dan membujuk agar aku mau menerimanya sebagai isteri. Sungguh tidak tahu malu. Sungguhpun ia masih tampak cantik, akan tetapi sesungguhnya ia jauh lebih tua dariku. Aku menolak dan ia marah lalu ingin membunuhku. Akan tetapi beberapa kali usahanya itu gagal dan ia selalu kalah olehku. Ini yang membuat ia mendendam sakit hati dan sekarang membujukmu untuk membunuh aku. Mustahil engkau sebagai muridnya tidak tahu akan watak dan perbuatannya yang jahat dan keji tidak tahu malu itu!"
Puspa Dewi sudah bangkit dan berdiri mematung dengan pedang  masih di tangan. Ia mendengarkan semua ucapan Narotama dan hatinya mulai meragu dan bimbang. Memang ia tahu bahwa gurunya memiliki watak yang memalukan, suka menculik dan mempermainkan  pemuda-pemuda remaja. Beberapa kali perbuatan itu ia gagalkan dan ia sudah menegur sifat gurunya yang memalukan itu. Juga ketika mau diambil permaisuri oleh Adipati Bhismaprabhawa dari Kerajaan Wura wuri, gurunya itu menuntut agar Gendari selir sang adipati, dibunuh. Untung ia masih dapat mencegahnya sehingga Gendari tidak jadi dihukum mati, melainkan dipulangkan ke kampung halamannya. Melihat betapa tampan dan gagah Ki Patih Narotama, maka cerita Ki Patih ini lebih patut dipercaya daripada cerita gurunya. Akan tetapi ia sudah berhutang banyak budi kepada Nyi Dewi Durgakumala dan ia harus membalas budi itu. Gurunya hanya memberi dua tugas, yang pertama merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta dan yang kedua membunuh Ki Patih Narotama. Tugas pertama terpaksa ia batalkan apakah tugas kedua inipun harus gagal. Ia menjadi ragu dan serba bingung,
"Akan tetapi, bukankah seorang murid harus tahu membalas budi gurunya? Bukankah seorang murid harus setia dan berbakti kepada gurunya?" Pertanyaan ini sebetulnya ia lontarkan untuk dirinya sendiri, akan tetapi terucapkan sehingga seolah-olah ia bertanya kepada Ki Patih Narotama.
"Di atas guru, bahkan di atas orang tua, masih ada yang lebih patut kita taati, yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. Yang Maha Kuasa itu juga Maha Besar dan Maha Suci, dan menaatinya merupakan kewajiban utama diatas segala macam kewajiban bagi manusia. Menaati Yang Maha Benar berarti harus menjunjung tinggi dan melaksanakan kebenaran dan keadilan, yang berarti melaksanakan kebaikan. Karena itu, hanya tugas yang baik dan benar saja yang harus kita laksanakan, karena itu berarti menaati perintah Yang Maha Kuasa. Biarpun yang memberi tugas kepada kita itu guru atau orang tua sekalipun, kalau tugas itu berlawanan dengan kebenaran dan kebaikan, berarti melawan perintah Yang Maha Benar. Dan pelaksanaan perintah yang tidak benar adalah kejahatan! Nah, kalau engkau sudah memahami ini semua akan tetapi hendak melaksanakan perintah Nyi Dewi Durgakumala yang tidak baik dan jahat itu, lakukanlah. Ini dadaku dan aku tidak akan mengelak atau menangkis!”

Ki Patih Narotama membusungkan dadanya, kedua tangannya tergantung di kanan kiri tubuhnya, seolah dia sudah menyerah untuk dibunuh! Puspa Dewi terbelalak memandang ke arah wajah Narotama. Pandang mata mereka bertemu. Pandang mata Narotama tenang penuh pengertian, sebaliknya pandang mata Puspa Dewi gelisah dan bingung. Ia melihat betapa mudahnya melaksanakan perintah kedua gurunya, sekali tusuk ia akan dapat membunuh Ki Patih Narotama seperti yang dikehendaki gurunya. Tangan kanannya bergerak, pedang itu sudah diangkat, siap ditusukkan ke dada ki patih. Seluruh urat syarafnya menegang, dan tangan yang memegang pedang hitam itu gemetar. Kemudian, ia melangkah maju sehingga tiba dekat dan getaran di tangannya makin menjadi-jadi. Getaran itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan tak lama kemudian seluruh tubuhnya gemetar. Ia memaksa tangannya hendak menusuk, akan tetapi tidak jadi. Ia menggeleng kepala keras-keras dan tubuhnya terguncang, lalu kedua kakinya lemas dan ia terkulai dan jatuh berlutut melepaskan pedang hitam ke atas tanah dan Puspa Dewi menangis!
Ki Patih Narotama tersenyum. Dia telah memperoleh kemenangan besar, menang tanpa menaklukkan dengan kekerasan. Tentu saja dia tidak ingin membunuh diri dengan nekat ketika mengucapkan kalimat terakhir untuk menerima serangan pedang hitam di tangan gadis itu tanpa menangkis atau mengelak. Memang, dia tidak akan menangkis atau mengelak, dan merasa yakin bahwa kekebalannya akan mampu menahan bacokan atau tusukan pedang, dan seandainya dia terkena hawa beracun pedang itu, iapun tidak khawatir karena dia membawa tongkat pusakanya, Tunggul Manik, yang dapat menyembuhkan segala keracunan badan. Dia terlindung oleh kekebalan kulitnya dan keampuhan pusaka Tunggul Manik. Kini melihat gadis itu duduk mendeprok di atas tanah sambil menangis, dia merasa semakin kasihan. Anak ini membutuhkan bimbingan, pikirnya. Pada dasarnya, anak ini berjiwa bersih dan dengan mudah dapat melihat kebenaran.
"Nimas, sudahlah jangan menangis. Engkau sudah mampu mengalahkan nafsu daya rendah didalam dirimu sendiri, hal itu semestinya disambut tawa gembira dan bersyukur kepada Sang Hyang Widhi, bukan dengan menangis."
"Tapi ..... tapi ..... aku tak dapat melaksanakan perintah guru, aku ..... aku menjadi murid yang tidak berbakti .... hu- hu-huuu!" Puspa Dewi masih menangis.
"Nimas yang baik, dengarlah. Berbakti kepada guru atau orang tua ada dua macam. Pertama, melaksanakan segala perintah guru yang  berlandaskan  kebenaran  dan  kebaikan, dengan taat dan dengan taruhan nyawa sekalipun. Ke dua, mencegah guru melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan, membujuknya agar ia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan benar. Itulah yang dimaksudkan dengan kebaktian bukan menaati segala perintahnya dengan membuta sehingga dapat menyeret kita ke dalam kejahatan."

Puspa Dewi menghentikan tangisnya, mengusap air matanya dan timbul kagum dan hormat dalam hatinya yang keras terhadap pria itu. Ia sudah dapat melihat kenyataan bahwa laki-laki yang dianggap jahat oleh gurunya itu sesungguhnya merupakan seorang yang gagah perkasa, sakti mandraguna dan bijaksana. Kalau tidak bijaksana, tentu ia yang tadinya ingin membunuh orang itu, kini sudah menggeletak mati atau setidaknya terluka. Akan tetapi Ki Patih Narotama sama sekali tidak melakukan itu, dia mengalahkannya tanpa melukainya sama sekali! Dan semua ucapannya itu membuka hati dan pikirannya dan membuat ia dapat melihat dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Akan tetapi ia menjadi bingung sekali. Apakah mungkin ia harus menentang gurunya, berarti menentang pula Adipati Wura-wuri   yang menugaskannya untuk menentang Kahuripan?
"Aduh, gusti patih ....." keluhnya,
"lalu apa yang harus saya lakukan? Hidup ini begini membingungkan, semuanya serba berlawanan. Berilah petunjuk, gusti patih, dan saya ..... Puspa Dewi akan berterima kasih sekali."
Senyum di bibir Narotama semakin berseri.
"Baiklah, Nimas Puspa Dewi. Betapapun sukar pelaksanaannya, akan tetapi ada baiknya kalau pelajaran ini dapat tertanam dalam batinmu untuk mengemudikan jalan hidupmu. Segala macam kebajikan itu tidak ada gunanya kalau hanya menjadi hapalan, hanya dipikir dan diucap kan. Yang penting itu prilakunya karena prilaku merupakan bukti, merupakan persembahan, merupakan ibadah. Usahakanlah untuk melangkah dalam kehidupan melalui jalan kebenaran dengan pedoman seperti berikut :
Pertama : Dharma atau prilaku kebajikan, semua pikiran, kata dan perbuatan yang didasari kasih sayang kepada sesama manusia, bahkan sesama mahluk hidup di dunia ini.
Kedua : Satya, yaitu kesetiaan yang didasari keadilan dan kebenaran, siap membela kebenaran dan keadilan dengan setia.
Ketiga : Tapa, berarti dapat mengekang dan mengalahkan nafsu daya rendah yang berada dalam diri sendiri, mengembalikan kedudukan segala macam nafsu itu menjadi hamba kita, bukan sebagai majikan kita.
Keempat: Dama, yaitu sikap menghormat, sopan santun lahir batin terhadap sesama manusia, rendah hati.
Kelima : Wimatsari-twa atau tidak menaruh iri hati terhadap keberhasilan orang lain, ikut merasa bahagia melihat orang lain berbahagia dan ikut prihatin melihat orang lain prihatin.
Keenam : Rih atau mengenal rasa malu, malu terhadap Yang Maha Kuasa, malu terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri atas kesesatannya.
Ketujuh : Titiksa, yaitu dapat menguasai nafsu amarah.
Kedelapan : Hanasuya, yaitu tidak membalas dendam kepada orang lain dengan cara menyakitinya.
Kesembilan : Yadnya, artinya tekun memuja dan mengagungkan Yang Maha Agung.
Kesepuluh : Dana, yaitu suka mengalah, berkorban dan beramal.
Kesebelas : Drati, berarti selalu tenang, membersihkan isi hati dan pikiran.
Kedua belas : Ksama, yaitu memaafkan kesalahan orang lain, teguh dan tidak berputus asa.
Demikianlah, Nimas Puspa Dewi, sifat manusia yang berbudi luhur."
"Aduh, betapa sukarnya! Apakah ada manusia yang mampu melaksanakan semua itu, gusti patih?" Puspa Dewi tertegun karena baru sekarang ia mendengarkan pelajaran seperti itu.
"Ha-ha-ha, pertanyaanmu itu tepat sekali. Memang tidak mudah menemukan seorang manusia yang dapat melaksanakan itu semua. Manusia itu tidak sempurna, bahkan dewa sekalipun tidak sempurna. Yang Maha Sempurna hanya Sang Hyang Widhi Wasa! Akan tetapi setidaknya pengertian itu dapat kita jadikan obor, andaikata kita tidak dapat melaksanakan sepenuhnya, ya sebagian kecil saja sudah cukup baik dan dapat mengurangi dosa kita."
Hati Puspa Dewi menjadi lega.
"Terima kasih, gusti patih. Saya akan berusaha untuk mengikuti jalan kebenaran itu. Terima kasih dan maafkan sikap dan perbuatan saya tadi."
"Sebaiknya semua rasa terima kasih dan maaf itu kita panjatkan kehadiran sang Hyang Widhi, bukan kepada sesama manusia, Puspa Dewi."
"Selamat tinggal, gusti patih dan sekali lagi terima kasih." Entah apa yang mendorongnya, baru pertama kali dalam hidupnya, Puspa Dewi memberi hormat dengan sembah kepada Ki Patih Narotama. Bahkan kepada adipati Wura-wuri saja ia tidak pernah memberi hormat dengan sembah.
"Selamat berpisah, Puspa Dewi, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik." kata Ki Patih Narotama.

Puspa Dewi lalu melompat dan mempergunakan kesaktiannya, berlari cepat bagaikan seekor kijang muda meninggalkan tempat itu. Ki Patih Narotama mengikuti bayangan itu sampai lenyap, lalu menghela napas panjang, tersenyum dan menggeleng kepalanya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Puspa Dewi adalah Sekar Kedaton atau puteri Adipati Wura-wuri satu di antara kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan. Puspa Dewi memasuki kota raja Kahuripan. Selama beberapa hari dalam perjalanan ini, hati dan pikirannya mengalami guncangan hebat. Peristiwa berturut-turut yang dialaminya, pertama kali bertemu dengan Nurseta dan tugas pertamanya merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta gagal lalu disusul gagalnya melaksanakan tugas kedua, yaitu membunuh Ki Patih Narotama, mengguncang hatinya dan membuatnya menjadi bingung. Namun perlahan-lahan ia dapat mencerna nasihat Patih Narotama dan ia dapat menghibur hati sendiri. Gurunya atau ibu angkatnya Nyi Dewi Durgakumala memang bersalah.

<<<Bagian 58                                                                                         Bagian 60 >>>

No comments:

Post a Comment