Ki Patih Narotama mengenal aji pukulan dahsyat, maka dia cepat menghindar dengan loncatan ke samping sehingga pukulan yang mengandung hawa panas seperti api itu lewat disamping tubuhnya. Gadis itu menyerang lagi, lebih ganas daripada tadi, bahkan kini Puspa Dewi menggunakan kuku-kuku jarinya yang mengandung racun untuk menyerang sehingga serangannya menjadi semakin ganas. Wisakenaka Kuku Beracun) merupakan ilmu sesat yang amat berbahaya, sedikit saja kulit lawan tergurat kuku dan terluka, sudah cukup untuk membunuh lawan.
Ki Patih
Narotama adalah seorang sakti mandraguna yang sudah banyak pengalaman. Diam-dia
m dia merasa iba kepada dara yang masih amat muda ini. Semuda itu sudah
memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat, hanya sayang ilmu-ilmu itu sifatnya sesat dan
keji. Padahal, kalau melihat sikap gadis itu, walaupun liar dan ganas, namun
gadis ini merasa bahwa tindakannya benar karena ia menganggap dia seorang yang
amat jahat, yang telah membunuh anak dalam gendongan Nyi Dewi Durgakumala!
Gadis ini tidak memiliki dasar yang jahat, hanya karena menjadi murid seorang
datuk wanita yang sesat maka selain
mewarasi ilmu-ilmu sesat, juga mewarisi watak yang ganas, ia tidak sadar
bahwa ia telah diperalat oleh Nyi Dewi Durgakumala. Menghadapi serangan
yang nekat dan ganas itu, dia hanya
mempertahankan diri dengan elakan-elakan dan terkadang dia menangkis dari
samping yang membuat tubuh Puspa Dewi terhuyung. Puspa Dewi juga bukan seorang
bodoh. Setelah menyerang bertubi-tubi dan terkadang ia sampai terhuyung ketika
ditangkis oleh Ki Patih Narotama, iapun maklum bahwa lawannya adalah seorang
yang amat sakti. Pantas saja gurunya tidak pernah dapat mengalahkannya. Akan
tetapi dia seorang yang keras hati dan keras kepala, tidak menyadari bahwa
sejak tadi Ki Patih Narotama telah banyak mengalah kepadanya. Karena semua
serangannya gagal dan kedua lengannya terasa nyeri setelah beberapa kali
bertemu dengan tangkisan tangan Ki Patih Narotama, Puspa Dewi menjadi semakin
marah.
"Sambut
pusakaku ini!" bentaknya dan di tangannya sudah tampak pedang hitam yang
amat ampuh itu. Ia sudah menerjang Ki Patih Narotama dengan pedangnya yang ia
gerakkan amat cepat sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam
yang menyambar-nyambar. Ki Patih Narotama merasa sudah cukup dia bersabar dan
mengalah. Gadis ini perlu diingatkan. Kalau sampai ia dipengaruhi Nyi Dewi
Durgakumala, ia dapat melakukan banyak kejahatan yang amat berbahaya tanpa
disadari bahwa ia berbuat jahat. Ketika pedang itu menusuk dengan luncuran
cepat seperti anak panah ke arah dadanya, dia miringkan tubuh dan ketika sinar
pedang hitam itu meluncur lewat samping tubuhnya, dia cepat menggerakkan
tangannya dan menangkap pedang itu!
Puspa Dewi
terkejut dan hampir tidak percaya ada orang mampu menangkap pusaka Candrasa
Langking yang beracun dan amat ampuh itu dengan tangan telanjang. Ia, berusaha
menarik pedangnya, akan tetapi sia-sia. Pedang itu seolah telah melekat dengan
tangan Ki Patih Narotama. Ia membetot lagi samb il mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba Ki Patih
Narotama melepaskan pegangannya pada pedang itu. Tak dapat dihindarkan lagi
tubuh Puspa Dewi terjengkang dan terbanting roboh telentang di atas tanah! Sebelum
gadis itu bangkit, Ki Patih Narotama cepat berkata dengan suara yang mengandung
wibawa kuat sekali karena dia mengerahkan tenaga batinnya.
"Nimas,
aku tidak mengenal siapa andika, akan tetapi sekarang aku mengerti bahwa engkau
telah dihasut oleh Nyi Dewi Durgakumala yang telah mendidikmu sebagai murid
sehingga engkau tidak menyadari bahwa engkau telah terjatuh ke dalam tangan
seorang iblis betina yang amat jahat dan kejam. Ketahuilah bahwa Nyi Dewi
Durgakumala adalah seorang datuk wanita sesat dan sesuai dengan namanya, ia
adalah seorang penyembah Bathari Durga, ratu para iblis itu. Ia memang memusuhi
aku, akan tetapi bukan karena aku membunuh anaknya. Sama sekali bohong
ceritanya itu. Ia tidak pernah mempunyai anak akan tetapi entah sudah berapa banyak
anak laki-laki yang menjadi korban kekejiannya. Ia pernah bertemu denganku dan
membujuk agar aku mau menerimanya sebagai isteri. Sungguh tidak tahu malu.
Sungguhpun ia masih tampak cantik, akan tetapi sesungguhnya ia jauh lebih tua
dariku. Aku menolak dan ia marah lalu ingin membunuhku. Akan tetapi beberapa
kali usahanya itu gagal dan ia selalu kalah olehku. Ini yang membuat ia
mendendam sakit hati dan sekarang membujukmu untuk membunuh aku. Mustahil
engkau sebagai muridnya tidak tahu akan watak dan perbuatannya yang jahat dan
keji tidak tahu malu itu!"
Puspa Dewi
sudah bangkit dan berdiri mematung dengan pedang masih di tangan. Ia mendengarkan semua ucapan
Narotama dan hatinya mulai meragu dan bimbang. Memang ia tahu bahwa gurunya
memiliki watak yang memalukan, suka menculik dan mempermainkan pemuda-pemuda remaja. Beberapa kali perbuatan
itu ia gagalkan dan ia sudah menegur sifat gurunya yang memalukan itu. Juga
ketika mau diambil permaisuri oleh Adipati Bhismaprabhawa dari Kerajaan Wura
wuri, gurunya itu menuntut agar Gendari selir sang adipati, dibunuh. Untung ia
masih dapat mencegahnya sehingga Gendari tidak jadi dihukum mati, melainkan
dipulangkan ke kampung halamannya. Melihat betapa tampan dan gagah Ki Patih
Narotama, maka cerita Ki Patih ini lebih patut dipercaya daripada cerita
gurunya. Akan tetapi ia sudah berhutang banyak budi kepada Nyi Dewi Durgakumala
dan ia harus membalas budi itu. Gurunya hanya memberi dua tugas, yang pertama
merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta dan yang kedua
membunuh Ki Patih Narotama. Tugas pertama terpaksa ia batalkan apakah tugas
kedua inipun harus gagal. Ia menjadi ragu dan serba bingung,
"Akan
tetapi, bukankah seorang murid harus tahu membalas budi gurunya? Bukankah
seorang murid harus setia dan berbakti kepada gurunya?" Pertanyaan ini
sebetulnya ia lontarkan untuk dirinya sendiri, akan tetapi terucapkan sehingga
seolah-olah ia bertanya kepada Ki Patih Narotama.
"Di atas
guru, bahkan di atas orang tua, masih ada yang lebih patut kita taati, yaitu Sang
Hyang Widhi Wasa. Yang Maha Kuasa itu juga Maha Besar dan Maha Suci, dan
menaatinya merupakan kewajiban utama diatas segala macam kewajiban bagi
manusia. Menaati Yang Maha Benar berarti harus menjunjung tinggi dan
melaksanakan kebenaran dan keadilan, yang berarti melaksanakan kebaikan. Karena
itu, hanya tugas yang baik dan benar saja yang harus kita laksanakan, karena
itu berarti menaati perintah Yang Maha Kuasa. Biarpun yang memberi tugas kepada
kita itu guru atau orang tua sekalipun, kalau tugas itu berlawanan dengan
kebenaran dan kebaikan, berarti melawan perintah Yang Maha Benar. Dan
pelaksanaan perintah yang tidak benar adalah kejahatan! Nah, kalau engkau sudah
memahami ini semua akan tetapi hendak melaksanakan perintah Nyi Dewi
Durgakumala yang tidak baik dan jahat itu, lakukanlah. Ini dadaku dan aku tidak
akan mengelak atau menangkis!”
Ki Patih
Narotama membusungkan dadanya, kedua tangannya tergantung di kanan kiri
tubuhnya, seolah dia sudah menyerah untuk dibunuh! Puspa Dewi terbelalak
memandang ke arah wajah Narotama. Pandang mata mereka bertemu. Pandang mata
Narotama tenang penuh pengertian, sebaliknya pandang mata Puspa Dewi gelisah
dan bingung. Ia melihat betapa mudahnya melaksanakan perintah kedua gurunya,
sekali tusuk ia akan dapat membunuh Ki Patih Narotama seperti yang dikehendaki
gurunya. Tangan kanannya bergerak, pedang itu sudah diangkat, siap ditusukkan
ke dada ki patih. Seluruh urat syarafnya menegang, dan tangan yang memegang
pedang hitam itu gemetar. Kemudian, ia melangkah maju sehingga tiba dekat dan
getaran di tangannya makin menjadi-jadi. Getaran itu menjalar ke seluruh
tubuhnya dan tak lama kemudian seluruh tubuhnya gemetar. Ia memaksa tangannya
hendak menusuk, akan tetapi tidak jadi. Ia menggeleng kepala keras-keras dan
tubuhnya terguncang, lalu kedua kakinya lemas dan ia terkulai dan jatuh
berlutut melepaskan pedang hitam ke atas tanah dan Puspa Dewi menangis!
Ki Patih
Narotama tersenyum. Dia telah memperoleh kemenangan besar, menang tanpa
menaklukkan dengan kekerasan. Tentu saja dia tidak ingin membunuh diri dengan
nekat ketika mengucapkan kalimat terakhir untuk menerima serangan pedang hitam
di tangan gadis itu tanpa menangkis atau mengelak. Memang, dia tidak akan
menangkis atau mengelak, dan merasa yakin bahwa kekebalannya akan mampu menahan
bacokan atau tusukan pedang, dan seandainya dia terkena hawa beracun pedang
itu, iapun tidak khawatir karena dia membawa tongkat pusakanya, Tunggul Manik,
yang dapat menyembuhkan segala keracunan badan. Dia terlindung oleh kekebalan
kulitnya dan keampuhan pusaka Tunggul Manik. Kini melihat gadis itu duduk
mendeprok di atas tanah sambil menangis, dia merasa semakin kasihan. Anak ini
membutuhkan bimbingan, pikirnya. Pada dasarnya, anak ini berjiwa bersih dan
dengan mudah dapat melihat kebenaran.
"Nimas,
sudahlah jangan menangis. Engkau sudah mampu mengalahkan nafsu daya rendah
didalam dirimu sendiri, hal itu semestinya disambut tawa gembira dan bersyukur
kepada Sang Hyang Widhi, bukan dengan menangis."
"Tapi
..... tapi ..... aku tak dapat melaksanakan perintah guru, aku ..... aku
menjadi murid yang tidak berbakti .... hu- hu-huuu!" Puspa Dewi masih
menangis.
"Nimas
yang baik, dengarlah. Berbakti kepada guru atau orang tua ada dua macam.
Pertama, melaksanakan segala perintah guru yang
berlandaskan kebenaran dan
kebaikan, dengan taat dan dengan taruhan nyawa sekalipun. Ke dua,
mencegah guru melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan,
membujuknya agar ia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan benar. Itulah
yang dimaksudkan dengan kebaktian bukan menaati segala perintahnya dengan
membuta sehingga dapat menyeret kita ke dalam kejahatan."
Puspa Dewi
menghentikan tangisnya, mengusap air matanya dan timbul kagum dan hormat dalam
hatinya yang keras terhadap pria itu. Ia sudah dapat melihat kenyataan bahwa
laki-laki yang dianggap jahat oleh gurunya itu sesungguhnya merupakan seorang
yang gagah perkasa, sakti mandraguna dan bijaksana. Kalau tidak bijaksana,
tentu ia yang tadinya ingin membunuh orang itu, kini sudah menggeletak mati
atau setidaknya terluka. Akan tetapi Ki Patih Narotama sama sekali tidak
melakukan itu, dia mengalahkannya tanpa melukainya sama sekali! Dan semua
ucapannya itu membuka hati dan pikirannya dan membuat ia dapat melihat dengan
jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Akan tetapi ia menjadi bingung
sekali. Apakah mungkin ia harus menentang gurunya, berarti menentang pula
Adipati Wura-wuri yang menugaskannya
untuk menentang Kahuripan?
"Aduh,
gusti patih ....." keluhnya,
"lalu apa
yang harus saya lakukan? Hidup ini begini membingungkan, semuanya serba
berlawanan. Berilah petunjuk, gusti patih, dan saya ..... Puspa Dewi akan
berterima kasih sekali."
Senyum di
bibir Narotama semakin berseri.
"Baiklah,
Nimas Puspa Dewi. Betapapun sukar pelaksanaannya, akan tetapi ada baiknya kalau
pelajaran ini dapat tertanam dalam batinmu untuk mengemudikan jalan hidupmu.
Segala macam kebajikan itu tidak ada gunanya kalau hanya menjadi hapalan, hanya
dipikir dan diucap kan. Yang penting itu prilakunya karena prilaku merupakan
bukti, merupakan persembahan, merupakan ibadah. Usahakanlah untuk melangkah
dalam kehidupan melalui jalan kebenaran dengan pedoman seperti berikut :
Pertama :
Dharma atau prilaku kebajikan, semua pikiran, kata dan perbuatan yang didasari
kasih sayang kepada sesama manusia, bahkan sesama mahluk hidup di dunia ini.
Kedua : Satya,
yaitu kesetiaan yang didasari keadilan dan kebenaran, siap membela kebenaran
dan keadilan dengan setia.
Ketiga : Tapa,
berarti dapat mengekang dan mengalahkan nafsu daya rendah yang berada dalam
diri sendiri, mengembalikan kedudukan segala macam nafsu itu menjadi hamba
kita, bukan sebagai majikan kita.
Keempat: Dama,
yaitu sikap menghormat, sopan santun lahir batin terhadap sesama manusia,
rendah hati.
Kelima :
Wimatsari-twa atau tidak menaruh iri hati terhadap keberhasilan orang lain,
ikut merasa bahagia melihat orang lain berbahagia dan ikut prihatin melihat
orang lain prihatin.
Keenam : Rih
atau mengenal rasa malu, malu terhadap Yang Maha Kuasa, malu terhadap orang
lain dan terhadap diri sendiri atas kesesatannya.
Ketujuh :
Titiksa, yaitu dapat menguasai nafsu amarah.
Kedelapan :
Hanasuya, yaitu tidak membalas dendam kepada orang lain dengan cara
menyakitinya.
Kesembilan :
Yadnya, artinya tekun memuja dan mengagungkan Yang Maha Agung.
Kesepuluh :
Dana, yaitu suka mengalah, berkorban dan beramal.
Kesebelas :
Drati, berarti selalu tenang, membersihkan isi hati dan pikiran.
Kedua belas :
Ksama, yaitu memaafkan kesalahan orang lain, teguh dan tidak berputus asa.
Demikianlah,
Nimas Puspa Dewi, sifat manusia yang berbudi luhur."
"Aduh,
betapa sukarnya! Apakah ada manusia yang mampu melaksanakan semua itu, gusti
patih?" Puspa Dewi tertegun karena baru sekarang ia mendengarkan pelajaran
seperti itu.
"Ha-ha-ha,
pertanyaanmu itu tepat sekali. Memang tidak mudah menemukan seorang manusia
yang dapat melaksanakan itu semua. Manusia itu tidak sempurna, bahkan dewa
sekalipun tidak sempurna. Yang Maha Sempurna hanya Sang Hyang Widhi Wasa! Akan
tetapi setidaknya pengertian itu dapat kita jadikan obor, andaikata kita tidak
dapat melaksanakan sepenuhnya, ya sebagian kecil saja sudah cukup baik dan
dapat mengurangi dosa kita."
Hati Puspa
Dewi menjadi lega.
"Terima
kasih, gusti patih. Saya akan berusaha untuk mengikuti jalan kebenaran itu.
Terima kasih dan maafkan sikap dan perbuatan saya tadi."
"Sebaiknya
semua rasa terima kasih dan maaf itu kita panjatkan kehadiran sang Hyang Widhi,
bukan kepada sesama manusia, Puspa Dewi."
"Selamat
tinggal, gusti patih dan sekali lagi terima kasih." Entah apa yang mendorongnya,
baru pertama kali dalam hidupnya, Puspa Dewi memberi hormat dengan sembah
kepada Ki Patih Narotama. Bahkan kepada adipati Wura-wuri saja ia tidak pernah
memberi hormat dengan sembah.
"Selamat
berpisah, Puspa Dewi, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan
yang lebih baik." kata Ki Patih Narotama.
Puspa Dewi
lalu melompat dan mempergunakan kesaktiannya, berlari cepat bagaikan seekor
kijang muda meninggalkan tempat itu. Ki Patih Narotama mengikuti bayangan itu
sampai lenyap, lalu menghela napas panjang, tersenyum dan menggeleng kepalanya.
Dia sama sekali tidak mengira bahwa Puspa Dewi adalah Sekar Kedaton atau puteri
Adipati Wura-wuri satu di antara kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan.
Puspa Dewi memasuki kota raja Kahuripan. Selama beberapa hari dalam perjalanan
ini, hati dan pikirannya mengalami guncangan hebat. Peristiwa berturut-turut
yang dialaminya, pertama kali bertemu dengan Nurseta dan tugas pertamanya
merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta gagal lalu disusul
gagalnya melaksanakan tugas kedua, yaitu membunuh Ki Patih Narotama,
mengguncang hatinya dan membuatnya menjadi bingung. Namun perlahan-lahan ia
dapat mencerna nasihat Patih Narotama dan ia dapat menghibur hati sendiri.
Gurunya atau ibu angkatnya Nyi Dewi Durgakumala memang bersalah.
No comments:
Post a Comment