Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 58


Akan tetapi tiba tiba ia menahan serangannya dan mengeluarkan teriakan menyayat hati dan menjadi marah sekali karena ia melihat betapa tubuh sang bhagawan itu kini telah tumbuh menjadi besar sekali! Itulah Aji Triwikrama!

Begitu melangkah tiga kali, tubuh sang bhagawan tampak oleh Nini Bumigarbo berubah menjadi sebesar bukit! Sinar kilat yang meluncur dari kedua telapak tangan Nini Bumigarbo membalik ketika menghantam tubuh sang bhagawan, bahkan menghantam dirinya sendiri sehingga ia terjengkang dan jatuh terlentang. Melihat lawannya jatuh, Bhagawan Ekadenta kembali merasa kasihan karena begitu membentur tanah, tubuh leyak itu kembali menjadi tubuh Nini Bumigarbo. Iapun menyimpan ajiannya dan kembali menjadi Bhagawan Ekadenta. Nini Bumigarbo melompat bangun lagi sambil mengeluarkan jerit melengking kini ia menggoyang tubuhnya dan ketika tubuhnya diselimuti uap hitam sehingga tak tampak. Yang tampak hanyalah uap hitam itu yang kini bergerak cepat ke arah Bhagawan Ekadenta. Sang bhagawan juga menggoyang tubuhnya dan uap putih menyelubungi tubuhnya. Kalau ada orang kebetulan menyaksikan pertandingan itu, tentu dia akan merasa heran dan bingung karena kini tidak tampak ada orang bertanding, melainkan ada uap hitam dan uap putih yang saling terjang dan saling dorong! Tampaknya saja uap hitam dan uap putih yang saling dorong akan tetapi sebetulnya Nini Bumigarbo dan Bhagawan Ekadenta sedang bertarung sambil mengeluarkan ilmu masing-masing dan mengerahkan seluruh tenaga. Seperti juga tadi, Bhagawan Ekaderta banyak mengalah dan memberi kesempatan kepada Nini Bumigarbo untuk melancarkan serangan-serangannya, mengeluarkan semua ilmunya dan dia hanya mempertahankan. Setelah seratus jurus lebih, barulah dia menambah pengerahan tenaganya dan tampaklah awan atau uap hitam itu mulai terdesak mundur, bahkan semakin menyuram. Akhirnya, terdengar pekik melengking penuh kekecewaan dan kemarahan, dan uap hitam itu melayang pergi meninggalkan tempat itu. Awan putih juga lenyap dan tampak Bhagawan Ekadenta berdiri sambil menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Yayi Gayatri, jangan melanggar janjimu!" dia berseru.
"Bhagawan Ekadenta, aku tidak akan membunuh Erlangga dan Narotama, akan tetapi aku akan menurunkan ilmuku kepada seorang murid dan dialah yang akan mewakili aku memusuhi Kahuripan!" terdengar suara melengking dari jauh, suara Nini Bumigarbo.
Bhagawan Ekadenta menghela napas panjang, lalu berkata kepada diri sendiri.
"Sadhu-sadhu-sadhu, kehendak Sang Hyang Widhi pasti terjadi, tak dapat diubah oleh siapapun juga! Sudah sesuai dengan garisnya bahwa keturunan Mataram akan menghadapi banyak gangguan!" setelah berkata demikian, dengan langkah tenang sang bhagawan meninggalkan bukit itu.

Sementara itu, dengan hati yang mengkal, sakit dan penasaran, Nini Bumigarbo yang terpaksa tidak berani melanggar janjinya dan tidak melanjutkan niatnya untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, lalu mencari murid. Akhirnya ia menemukan seorang murid yang dianggapnya baik sekali untuk dapat melaksanakan niatnya yaitu membunuh atau setidaknya mencelakai sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sebagai murid-murid Sang Resi Satyadharma untuk membalaskan dendamnya terhadap sang resi yang dianggap sebagai penyebab kekasihnya, Ekadenta meninggalkannya. Murid itu adalah permaisuri dari Adipati Adhamapanuda, Raja Kerajaan Wengker, bernama Dewi Mayangsari. Permaisuri Wengker ini seorang wanita yang cantik jelita, genit dan cerdik, berusia dua puluh lima tahun. Sudah enam tahun ia menjadi permaisuri Adipati Adhamapanuda, akan tetapi belum mempunyai anak dan ia amat disayang oleh sang adipati karena selain cantik jelita dan pandai menyenangkan hati, juga Dewi Mayangsari ini sejak kecil telah mempelajari ilmu kanuragan sehingga ia memiliki kesaktian. Wanita ini dipilih oleh Nini Bumigarbo karena ia tahu bahwa Kerajaan Wengker merupakan musuh bebuyutan Mataram. Ia mengharap agar muridnya ini yang akan dapat mewakilinya, membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Permaisuri Dewi Mayangsari menyambut Nini Bumigarbo dengan girang dan selama tiga tahun ia digembleng oleh guru barunya itu sehingga Dewi Mayangsari menjadi semakin sakti. Dengan senang hati pula ia berjanji kepada Nini Bumigarbo untuk menentang Kahuripan dan berusaha untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Demikianlah, Dewi Mayangsari mendorong suaminya untuk selalu memusuhi Kahuripan dan permaisuri ini yang menganjurkan Adipati Adhamapanuda untuk mengangkat Linggajaya menjadi senopati muda dan mengutus pemuda murid Resi Bajrasakti untuk membantu usaha para puteri Kerajaan Parang Siluman mengadakan kekacauan di Kahuripan. Kini usia Dewi Mayangsari sudah dua puluh delapan tahun dan ia membantu suaminya untuk menyusun pasukan yang kuat, bersiap-siap dan melatih pasukan itu agar siap siaga kalau sewaktu-waktu pecah perang terbuka antara Kerajaan Wengker dan Kerajaan Kahuripan.

Ki Patih Narotama sering melakukan perjalanan seorang diri dengan menyamar sebagai penduduk biasa. Dengan cara seperti ini   dia dapat melakukan pemeriksaan terhadap keadaan rakyat jelata dan juga dapat mengawasi cara kerja para punggawa kerajaan. Pada suatu hari dia melakukan perjalanan seperti itu, berpakaian seperti seorang petani biasa dan keluar masuk pedusunan, mendengarkan keterangan dari rakyat tentang keadaan mereka dan tentang sikap para lurah atau demang yang menjadi penguasa di dusun mereka. Kalau terdapat laporan tentang seorang kepala dusun yang bersikap tidak baik dalam melakukan tugasnya, sewenang-wenang dan menindas rakyat, maka Ki Patih Narotama cepat mendatangi kepala dusun itu dan mengambil tindakan. Kalau masih dapat diperbaiki ahlak punggawa itu, maka hanya akan diberi peringatan keras. Kalau sekiranya tidak dapat diperbaiki lagi, langsung dipecat dan diganti orang lain. Kalau ada  laporan tentang kepala dusun yang baik, Ki Patih Narotama juga tidak tinggal diam. Dikunjunginya kepala dusun itu dan beri pujian, serta dicatat jasa-jasanya untuk kemungkinan kenaikan pangkat, akan tetapi pelaporan apapun yang didengarnya dari rakyat, Ki Patih tidak tergesa-gesa menerima kebenaran laporan begitu saja. Dia akan me lakukan penyelidikan dengan teliti sebelum mengambil keputusan apakah penguasa itu benar-benar seperti yang dilaporkan rakyat ataukah tidak.

Hari itu hati Ki Patih Narotama merasa gembira. Di dusun Pakis itu dia dapat laporan dari rakyat bahwa kepala dusun itu amat  baik. Bijaksana dan murah terhadap rakyat, suka membimbing dan menolong rakyat sehingga kehidupan rakyat di dusun itu dapat dikatakan cukup makmur dan sejahtera, cukup sandang pangan dan kepala dusun juga memperhatikan pembangunan perumahan bagi   rakyat sehingga rumah-rumah di dusun Pakis itu rata-rata tampak rapi dan bersih, walaupun tidak me wah. Karena itu, dia mengunjungi ki lurah dengan berterang walaupun masih berpakaian sebagai petani. Ki Lurah dan para pamong dusun menyambut Ki Patih Narotama dengan penuh penghormatan dan sebentar saja penduduk dusun Pakis mendengar bahwa dusun mereka dikunjungi Ki   Patih Narotama. Sebentar saja berita itu sudah terdengar semua orang dan cukup menggemparkan karena nama besar Ki Patih Narotama sudah amat terkenal. Para pamong dusun lalu mengadakan pesta makan seadanya untuk menyambut dan menghormati Ki Patih  Narotama yang menerima sambutan mereka dengan gembira. Dia memuji ki lurah dan para pamong.
"Aku sudah mendengar laporan penduduk dusun Pakis ini tentang pekerjaan andika sekalian dan aku merasa senang dan lega.  Begitulah seharusnya, seorang pamong haruslah seperti bapak yang momong (mengasuh) penduduk sebagai anak-anaknya. Membantu   mereka yang patut dibantu, menghukum mereka yang pantas dihukum, bertindak dan bersikap adil sehingga pantas dijadikan panutan (tauladan). Ingatlah selalu bahwa rakyat itu yang terpenting dan semua kebutuhannya harus dipentingkan. Tanpa rakyat, apa artinya penguasa? Rajapun tidak akan ada tanpa rakyat. Sebaliknya rakyat akan tetap ada walaupun tidak ada raja! Namun penguasa memang diperlukan untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan rakyat. Karena itu sudah sepatutnya ada timbal-balik, jangan kalian sebsgai penguasa hanya minta dilayani, akan tetapi juga harus melayani, jangan hanya minta disenangkan akan tetapi harus juga menyenangkan. Usahakanlah demikian rupa agar rakyat menaruh hormat, merasa segan kepada kalian dan mencinta  kalian karena kebaikan kalian, jangan sekali-kali sampai rakyat merasa takut kepada kalian dan membenci kalian karena kesewenang-wenangan kalian."

Demikian antara lain nasihat yang diberikan oleh Ki Patih Narotama kepada para pamong yang berkumpul di rumah kepala dusun dan semua orang menerima nasihat itu dengan hati terbuka. Setelah puas berbincang-bincang dengan para pamong, Ki Patih Narotama siang hari itu juga meninggalkan dusun Pakis. Ketika dia tiba di jalan yang sepi agak jauh di luar dusun Pakis, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu tahu di depannya telah berdiri seorang gadis cantik jelita. Gadis itu berdiri di tengah jalan, bertolak pinggang dengan kedua kaki dibentangkan, dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia memang sengaja menghadang perjalanan Ki Patih Narotama. Narotama memandang dengan penuh perhatian sambil menahan langkahnya. Seorang dara yang masih muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, wajahnya cantik jelita, kulitnya putih kuning, terutama mata dan  mulutnya amat indah menggairahkan. Akan tetapi pandang matanya mencorong dan mengandung kegalakan dan dari sikapnya yang berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, kedua kaki agak dibentangkan, kepala ditegakkan dan dada dibusungkan, pandang matanya penuh tantangan dan keberanian maka Ki Patih Narotama menarik kesimpulan bahwa dara ini berwatak liar dan bebas. Dan pakaiannya yang mewah itu diapun maklum bahwa dara itu bukanlah gadis dusun biasa. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia tentu seorang dara bangsawan, maka tentu saja hatinya merasa heran sekali.
"Nimas, andika siapakah dan mengapa andika menghadang perjalananku?" Narotama bertanya dengan ramah dan lembut.
Dara itu memandang penuh selidik lalu berkata.
"Aku mendengar desas-desus penduduk dusun Pakis bahwa engkau adalah Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Benarkah itu? Engkau Ki Patih Narotama?"
Narotama melakukan perjalanan menyamar hanya agar dia dapat melakukan pemeriksaan ke dusun-dusun dengan leluasa. Akan tetapi dia tidak merasa perlu untuk berbohong kepada dara yang tidak dikenalnya ini. Dia tersenyum dan mengangguk. Wajah tampan dan gagah Narotama tampak semakin menarik ketika tersenyum.
"Benar sekali, aku memang Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Lalu siapakah andika dan apa maksud andika menghadang perjalananku?"
"Engkau tidak perlu tahu siapa aku akan tetapi aku mencarimu untuk membunuhmu, Ki Patih Narotama!" kata dara itu yang bukan lain adalah Puspa Dewi. Seperti kita ketahui, dara ini gagal memenuhi perintah Nyi Dewi Durgakumala untuk merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta, bahkan ia mendengar bahwa pusaka itu telah dicuri oleh Pangeran Hendratama dan ia  menyadari bahwa perintah merampas pusaka itu adalah tidak benar sehingga ia sudah berjanji kepada Nurseta untuk membatalkan niatnya memenuhi perintah gurunya untuk merampas Sang Megatantra. Akan tetapi untuk membalas budi baik gurunya yang juga menjadi ibu angkatnya itu masih ada tugas yang kiranya akan dapat ia penuhi dengan hasil baik, yaitu membunuh Ki Patih Narotama untuk membalas dendam sakit hati gurunya.

Mendengar ucapan itu, hampir saja Ki Patih Narotama tertawa terbahak. Memang bagi dia terdengar lucu sekali kalau dara yang masih muda remaja ini mengatakan hendak membunuhnya! Akan tetapi dia menahan diri dan tidak tertawa, hanya tersenyum dan berkata dengan sikap tenang.
"Nimas, engkau berhak untuk tidak memperkenalkan nama padaku, juga engkau boleh saja mengatakan hendak membunuh aku. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau engkau tidak memberitahu kepadaku mengapa engkau hendak membunuhku. Bagaimana kalau sampai engkau membunuhku dan aku mati tanpa mengetahui apa sebabnya aku dibunuh orang? Nyawaku tentu akan menjadi setan penasaran  dan akan selalu mengejar mu! Karena itu, jelaskan dulu mengapa engkau hendak membunuhku sehingga aku mengetahui apakah memang   sudah adil dan benar kalau engkau membunuhku."
Mendengar ucapan ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Benar juga, pikirnya, tidak adil kalau Ki Patih Narotama tidak tahu mengapa ia akan membunuhnya. Juga ia merasa ngeri mendengar ancaman bahwa kalau tidak diberitahu sebabnya, kalau mati Ki Patih Narotama akan menjadi setan penasaran dan akan selalu mengejar-ngejarnya! Ih, ngeri juga membayangkan dikejar-kejar hantu penasaran!
"Aku harus membunuhmu untuk mentaati perintah guruku kepadamu!"
"He mm, siapa gurumu itu? Dan mengapa dia mendendam kepadaku?"
"Guruku adalah Nyi Dewi Durgakumala."
"Ah, datuk wanita dari Wura-wuri itu? Akan tetapi kenapa ia mendendam kepadaku?"
"Ki Patih Narotama, tidak perlu engkau pura-pura tanya dan hendak menyembunyikan perbuatanmu yang jahat kepadanya!" Puspa Dewi membentak.
"Lho! Perbuatan jahat kepada Nyi Dewi Durgakumala? Apa maksudmu, nimas ?"
"Dulu, engkau pernah membunuh anak yang berada dalam gendongannya! Apa itu bukan perbuatan yang amat jahat dan karenanya engkau pantas dihukum mati?"
Narotama menggeleng kepalanya
"Ah, nimas, agaknya engkau belum mengenal betul siapa itu Nyi Dewi Durgakumala."
"Aku belum mengenal siapa ia? hemm, selama lima tahun lebih aku  menjadi  muridnya, menerima pendidikannya dan menerima budinya. Ia seorang yang bagiku amat baik dan aku harus membalas budinya, ia menceritakan kepadaku tentang kejahatanmu, dan mengutus aku untuk membunuhmu! Bersiaplah engkau, Ki Patih Narotama!"

Setelah berkata demikian, Puspa Dewi mengerahkan tenaga saktinya lalu ia mengeluarkan Pekik Guruh Bairawa. Jerit melengking keluar dari mulutnya, mengandung getaran yang dahsyat. Orang yang hanya memiliki kesaktian tanggung tanggung saja dapat roboh dan mungkin tewas menghadapi gelombang suara yang mengandung getaran yang dapat mengguncang isi dada dan kepala ini. Namun Ki  Patih Narotama tetap berdiri tenang sambil tersenyum, sama sekali tidak terpengaruh oleh jerit itu laksana angin keras menyerang batu karang dan lewat begitu saja tanpa dapat menggoyang batu karang itu sedikitpun. Melihat betapa ajinya yang biasanya dapat diandalkan itu sama sekali tidak mempengaruhi Ki Patih Narotama, seolah-olah jeritan itu tidak pernah ada Puspa Dewi menjadi terkejut akan tetapi juga penasaran dan marah. Dalam anggapannya, Ki Patih Narotama adalah seorang yang amat jahat dan sudah sepatutnya dihukum mati. Ia lalu mulai menyerang dengan kedua tangannya sambil membentak nyaring.
"Aji Guntur Geni!" Kedua lengannya dipentang seperti burung terbang dan tiba-tiba kedua tangan itu bersatu ke depan dan mendorong ke arah dada Narotama.

<<<Bagian 57                                                                                          Bagian 59 >>>

No comments:

Post a Comment