Akan tetapi tiba tiba ia menahan serangannya dan mengeluarkan teriakan menyayat hati dan menjadi marah sekali karena ia melihat betapa tubuh sang bhagawan itu kini telah tumbuh menjadi besar sekali! Itulah Aji Triwikrama!
Begitu melangkah tiga kali, tubuh
sang bhagawan tampak oleh Nini Bumigarbo berubah menjadi sebesar bukit! Sinar
kilat yang meluncur dari kedua telapak tangan Nini Bumigarbo membalik ketika
menghantam tubuh sang bhagawan, bahkan menghantam dirinya sendiri sehingga ia
terjengkang dan jatuh terlentang. Melihat lawannya jatuh, Bhagawan Ekadenta
kembali merasa kasihan karena begitu membentur tanah, tubuh leyak itu kembali
menjadi tubuh Nini Bumigarbo. Iapun menyimpan ajiannya dan kembali menjadi
Bhagawan Ekadenta. Nini Bumigarbo melompat bangun lagi sambil mengeluarkan
jerit melengking kini ia menggoyang tubuhnya dan ketika tubuhnya diselimuti uap
hitam sehingga tak tampak. Yang tampak hanyalah uap hitam itu yang kini
bergerak cepat ke arah Bhagawan Ekadenta. Sang bhagawan juga menggoyang
tubuhnya dan uap putih menyelubungi tubuhnya. Kalau ada orang kebetulan
menyaksikan pertandingan itu, tentu dia akan merasa heran dan bingung karena
kini tidak tampak ada orang bertanding, melainkan ada uap hitam dan uap putih
yang saling terjang dan saling dorong! Tampaknya saja uap hitam dan uap putih
yang saling dorong akan tetapi sebetulnya Nini Bumigarbo dan Bhagawan Ekadenta
sedang bertarung sambil mengeluarkan ilmu masing-masing dan mengerahkan seluruh
tenaga. Seperti juga tadi, Bhagawan Ekaderta banyak mengalah dan memberi
kesempatan kepada Nini Bumigarbo untuk melancarkan serangan-serangannya,
mengeluarkan semua ilmunya dan dia hanya mempertahankan. Setelah seratus jurus
lebih, barulah dia menambah pengerahan tenaganya dan tampaklah awan atau uap
hitam itu mulai terdesak mundur, bahkan semakin menyuram. Akhirnya, terdengar
pekik melengking penuh kekecewaan dan kemarahan, dan uap hitam itu melayang
pergi meninggalkan tempat itu. Awan putih juga lenyap dan tampak Bhagawan
Ekadenta berdiri sambil menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Yayi Gayatri, jangan melanggar
janjimu!" dia berseru.
"Bhagawan Ekadenta, aku tidak
akan membunuh Erlangga dan Narotama, akan tetapi aku akan menurunkan ilmuku
kepada seorang murid dan dialah yang akan mewakili aku memusuhi
Kahuripan!" terdengar suara melengking dari jauh, suara Nini Bumigarbo.
Bhagawan Ekadenta menghela napas
panjang, lalu berkata kepada diri sendiri.
"Sadhu-sadhu-sadhu, kehendak
Sang Hyang Widhi pasti terjadi, tak dapat diubah oleh siapapun juga! Sudah
sesuai dengan garisnya bahwa keturunan Mataram akan menghadapi banyak
gangguan!" setelah berkata demikian, dengan langkah tenang sang bhagawan
meninggalkan bukit itu.
Sementara itu, dengan hati yang
mengkal, sakit dan penasaran, Nini Bumigarbo yang terpaksa tidak berani
melanggar janjinya dan tidak melanjutkan niatnya untuk membunuh Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama, lalu mencari murid. Akhirnya ia menemukan
seorang murid yang dianggapnya baik sekali untuk dapat melaksanakan niatnya
yaitu membunuh atau setidaknya mencelakai sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama sebagai murid-murid Sang Resi Satyadharma untuk membalaskan dendamnya
terhadap sang resi yang dianggap sebagai penyebab kekasihnya, Ekadenta
meninggalkannya. Murid itu adalah permaisuri dari Adipati Adhamapanuda, Raja
Kerajaan Wengker, bernama Dewi Mayangsari. Permaisuri Wengker ini seorang
wanita yang cantik jelita, genit dan cerdik, berusia dua puluh lima tahun.
Sudah enam tahun ia menjadi permaisuri Adipati Adhamapanuda, akan tetapi belum
mempunyai anak dan ia amat disayang oleh sang adipati karena selain cantik
jelita dan pandai menyenangkan hati, juga Dewi Mayangsari ini sejak kecil telah
mempelajari ilmu kanuragan sehingga ia memiliki kesaktian. Wanita ini dipilih
oleh Nini Bumigarbo karena ia tahu bahwa Kerajaan Wengker merupakan musuh
bebuyutan Mataram. Ia mengharap agar muridnya ini yang akan dapat mewakilinya,
membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Permaisuri Dewi Mayangsari
menyambut Nini Bumigarbo dengan girang dan selama tiga tahun ia digembleng oleh
guru barunya itu sehingga Dewi Mayangsari menjadi semakin sakti. Dengan senang
hati pula ia berjanji kepada Nini Bumigarbo untuk menentang Kahuripan dan
berusaha untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Demikianlah,
Dewi Mayangsari mendorong suaminya untuk selalu memusuhi Kahuripan dan
permaisuri ini yang menganjurkan Adipati Adhamapanuda untuk mengangkat
Linggajaya menjadi senopati muda dan mengutus pemuda murid Resi Bajrasakti
untuk membantu usaha para puteri Kerajaan Parang Siluman mengadakan kekacauan
di Kahuripan. Kini usia Dewi Mayangsari sudah dua puluh delapan tahun dan ia
membantu suaminya untuk menyusun pasukan yang kuat, bersiap-siap dan melatih
pasukan itu agar siap siaga kalau sewaktu-waktu pecah perang terbuka antara
Kerajaan Wengker dan Kerajaan Kahuripan.
Ki Patih
Narotama sering melakukan perjalanan seorang diri dengan menyamar sebagai
penduduk biasa. Dengan cara seperti ini
dia dapat melakukan pemeriksaan terhadap keadaan rakyat jelata dan juga
dapat mengawasi cara kerja para punggawa kerajaan. Pada suatu hari dia
melakukan perjalanan seperti itu, berpakaian seperti seorang petani biasa dan
keluar masuk pedusunan, mendengarkan keterangan dari rakyat tentang keadaan
mereka dan tentang sikap para lurah atau demang yang menjadi penguasa di dusun
mereka. Kalau terdapat laporan tentang seorang kepala dusun yang bersikap tidak
baik dalam melakukan tugasnya, sewenang-wenang dan menindas rakyat, maka Ki
Patih Narotama cepat mendatangi kepala dusun itu dan mengambil tindakan. Kalau
masih dapat diperbaiki ahlak punggawa itu, maka hanya akan diberi peringatan
keras. Kalau sekiranya tidak dapat diperbaiki lagi, langsung dipecat dan
diganti orang lain. Kalau ada laporan
tentang kepala dusun yang baik, Ki Patih Narotama juga tidak tinggal diam.
Dikunjunginya kepala dusun itu dan beri pujian, serta dicatat jasa-jasanya
untuk kemungkinan kenaikan pangkat, akan tetapi pelaporan apapun yang
didengarnya dari rakyat, Ki Patih tidak tergesa-gesa menerima kebenaran laporan
begitu saja. Dia akan me lakukan penyelidikan dengan teliti sebelum mengambil
keputusan apakah penguasa itu benar-benar seperti yang dilaporkan rakyat
ataukah tidak.
Hari itu hati
Ki Patih Narotama merasa gembira. Di dusun Pakis itu dia dapat laporan dari
rakyat bahwa kepala dusun itu amat baik.
Bijaksana dan murah terhadap rakyat, suka membimbing dan menolong rakyat
sehingga kehidupan rakyat di dusun itu dapat dikatakan cukup makmur dan
sejahtera, cukup sandang pangan dan kepala dusun juga memperhatikan pembangunan
perumahan bagi rakyat sehingga
rumah-rumah di dusun Pakis itu rata-rata tampak rapi dan bersih, walaupun tidak
me wah. Karena itu, dia mengunjungi ki lurah dengan berterang walaupun masih
berpakaian sebagai petani. Ki Lurah dan para pamong dusun menyambut Ki Patih
Narotama dengan penuh penghormatan dan sebentar saja penduduk dusun Pakis
mendengar bahwa dusun mereka dikunjungi Ki
Patih Narotama. Sebentar saja berita itu sudah terdengar semua orang dan
cukup menggemparkan karena nama besar Ki Patih Narotama sudah amat terkenal.
Para pamong dusun lalu mengadakan pesta makan seadanya untuk menyambut dan
menghormati Ki Patih Narotama yang
menerima sambutan mereka dengan gembira. Dia memuji ki lurah dan para pamong.
"Aku
sudah mendengar laporan penduduk dusun Pakis ini tentang pekerjaan andika
sekalian dan aku merasa senang dan lega.
Begitulah seharusnya, seorang pamong haruslah seperti bapak yang momong
(mengasuh) penduduk sebagai anak-anaknya. Membantu mereka yang patut dibantu, menghukum mereka
yang pantas dihukum, bertindak dan bersikap adil sehingga pantas dijadikan
panutan (tauladan). Ingatlah selalu bahwa rakyat itu yang terpenting dan semua
kebutuhannya harus dipentingkan. Tanpa rakyat, apa artinya penguasa? Rajapun
tidak akan ada tanpa rakyat. Sebaliknya rakyat akan tetap ada walaupun tidak
ada raja! Namun penguasa memang diperlukan untuk mengatur tata tertib dalam
kehidupan rakyat. Karena itu sudah sepatutnya ada timbal-balik, jangan kalian
sebsgai penguasa hanya minta dilayani, akan tetapi juga harus melayani, jangan
hanya minta disenangkan akan tetapi harus juga menyenangkan. Usahakanlah
demikian rupa agar rakyat menaruh hormat, merasa segan kepada kalian dan
mencinta kalian karena kebaikan kalian,
jangan sekali-kali sampai rakyat merasa takut kepada kalian dan membenci kalian
karena kesewenang-wenangan kalian."
Demikian
antara lain nasihat yang diberikan oleh Ki Patih Narotama kepada para pamong
yang berkumpul di rumah kepala dusun dan semua orang menerima nasihat itu
dengan hati terbuka. Setelah puas berbincang-bincang dengan para pamong, Ki
Patih Narotama siang hari itu juga meninggalkan dusun Pakis. Ketika dia tiba di
jalan yang sepi agak jauh di luar dusun Pakis, tiba-tiba berkelebat sesosok
bayangan dan tahu tahu di depannya telah berdiri seorang gadis cantik jelita.
Gadis itu berdiri di tengah jalan, bertolak pinggang dengan kedua kaki
dibentangkan, dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia memang sengaja menghadang
perjalanan Ki Patih Narotama. Narotama memandang dengan penuh perhatian sambil
menahan langkahnya. Seorang dara yang masih muda, paling banyak sembilan belas
tahun usianya, wajahnya cantik jelita, kulitnya putih kuning, terutama mata
dan mulutnya amat indah menggairahkan.
Akan tetapi pandang matanya mencorong dan mengandung kegalakan dan dari
sikapnya yang berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, kedua kaki agak
dibentangkan, kepala ditegakkan dan dada dibusungkan, pandang matanya penuh
tantangan dan keberanian maka Ki Patih Narotama menarik kesimpulan bahwa dara
ini berwatak liar dan bebas. Dan pakaiannya yang mewah itu diapun maklum bahwa
dara itu bukanlah gadis dusun biasa. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia tentu
seorang dara bangsawan, maka tentu saja hatinya merasa heran sekali.
"Nimas,
andika siapakah dan mengapa andika menghadang perjalananku?" Narotama
bertanya dengan ramah dan lembut.
Dara itu
memandang penuh selidik lalu berkata.
"Aku mendengar
desas-desus penduduk dusun Pakis bahwa engkau adalah Ki Patih Narotama dari
Kerajaan Kahuripan. Benarkah itu? Engkau Ki Patih Narotama?"
Narotama
melakukan perjalanan menyamar hanya agar dia dapat melakukan pemeriksaan ke
dusun-dusun dengan leluasa. Akan tetapi dia tidak merasa perlu untuk berbohong
kepada dara yang tidak dikenalnya ini. Dia tersenyum dan mengangguk. Wajah
tampan dan gagah Narotama tampak semakin menarik ketika tersenyum.
"Benar
sekali, aku memang Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Lalu siapakah
andika dan apa maksud andika menghadang perjalananku?"
"Engkau
tidak perlu tahu siapa aku akan tetapi aku mencarimu untuk membunuhmu, Ki Patih
Narotama!" kata dara itu yang bukan lain adalah Puspa Dewi. Seperti kita
ketahui, dara ini gagal memenuhi perintah Nyi Dewi Durgakumala untuk merampas
keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta, bahkan ia mendengar bahwa
pusaka itu telah dicuri oleh Pangeran Hendratama dan ia menyadari bahwa perintah merampas pusaka itu
adalah tidak benar sehingga ia sudah berjanji kepada Nurseta untuk membatalkan
niatnya memenuhi perintah gurunya untuk merampas Sang Megatantra. Akan tetapi
untuk membalas budi baik gurunya yang juga menjadi ibu angkatnya itu masih ada
tugas yang kiranya akan dapat ia penuhi dengan hasil baik, yaitu membunuh Ki
Patih Narotama untuk membalas dendam sakit hati gurunya.
Mendengar
ucapan itu, hampir saja Ki Patih Narotama tertawa terbahak. Memang bagi dia
terdengar lucu sekali kalau dara yang masih muda remaja ini mengatakan hendak
membunuhnya! Akan tetapi dia menahan diri dan tidak tertawa, hanya tersenyum
dan berkata dengan sikap tenang.
"Nimas,
engkau berhak untuk tidak memperkenalkan nama padaku, juga engkau boleh saja
mengatakan hendak membunuh aku. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau engkau
tidak memberitahu kepadaku mengapa engkau hendak membunuhku. Bagaimana kalau
sampai engkau membunuhku dan aku mati tanpa mengetahui apa sebabnya aku dibunuh
orang? Nyawaku tentu akan menjadi setan penasaran dan akan selalu mengejar mu! Karena itu,
jelaskan dulu mengapa engkau hendak membunuhku sehingga aku mengetahui apakah
memang sudah adil dan benar kalau
engkau membunuhku."
Mendengar
ucapan ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Benar juga, pikirnya, tidak adil
kalau Ki Patih Narotama tidak tahu mengapa ia akan membunuhnya. Juga ia merasa
ngeri mendengar ancaman bahwa kalau tidak diberitahu sebabnya, kalau mati Ki
Patih Narotama akan menjadi setan penasaran dan akan selalu mengejar-ngejarnya!
Ih, ngeri juga membayangkan dikejar-kejar hantu penasaran!
"Aku
harus membunuhmu untuk mentaati perintah guruku kepadamu!"
"He mm,
siapa gurumu itu? Dan mengapa dia mendendam kepadaku?"
"Guruku
adalah Nyi Dewi Durgakumala."
"Ah,
datuk wanita dari Wura-wuri itu? Akan tetapi kenapa ia mendendam kepadaku?"
"Ki Patih
Narotama, tidak perlu engkau pura-pura tanya dan hendak menyembunyikan
perbuatanmu yang jahat kepadanya!" Puspa Dewi membentak.
"Lho!
Perbuatan jahat kepada Nyi Dewi Durgakumala? Apa maksudmu, nimas ?"
"Dulu,
engkau pernah membunuh anak yang berada dalam gendongannya! Apa itu bukan
perbuatan yang amat jahat dan karenanya engkau pantas dihukum mati?"
Narotama
menggeleng kepalanya
"Ah,
nimas, agaknya engkau belum mengenal betul siapa itu Nyi Dewi
Durgakumala."
"Aku
belum mengenal siapa ia? hemm, selama lima tahun lebih aku menjadi
muridnya, menerima pendidikannya dan menerima budinya. Ia seorang yang
bagiku amat baik dan aku harus membalas budinya, ia menceritakan kepadaku
tentang kejahatanmu, dan mengutus aku untuk membunuhmu! Bersiaplah engkau, Ki
Patih Narotama!"
Setelah
berkata demikian, Puspa Dewi mengerahkan tenaga saktinya lalu ia mengeluarkan
Pekik Guruh Bairawa. Jerit melengking keluar dari mulutnya, mengandung getaran
yang dahsyat. Orang yang hanya memiliki kesaktian tanggung tanggung saja dapat
roboh dan mungkin tewas menghadapi gelombang suara yang mengandung getaran yang
dapat mengguncang isi dada dan kepala ini. Namun Ki Patih Narotama tetap berdiri tenang sambil
tersenyum, sama sekali tidak terpengaruh oleh jerit itu laksana angin keras
menyerang batu karang dan lewat begitu saja tanpa dapat menggoyang batu karang
itu sedikitpun. Melihat betapa ajinya yang biasanya dapat diandalkan itu sama
sekali tidak mempengaruhi Ki Patih Narotama, seolah-olah jeritan itu tidak
pernah ada Puspa Dewi menjadi terkejut akan tetapi juga penasaran dan marah.
Dalam anggapannya, Ki Patih Narotama adalah seorang yang amat jahat dan sudah
sepatutnya dihukum mati. Ia lalu mulai menyerang dengan kedua tangannya sambil
membentak nyaring.
"Aji
Guntur Geni!" Kedua lengannya dipentang seperti burung terbang dan
tiba-tiba kedua tangan itu bersatu ke depan dan mendorong ke arah dada
Narotama.
No comments:
Post a Comment