"Tidak berdosa, tidak bersalah kepadaku? Itu adalah pendapat mu, karena engkau tidak merasakan, Kakang Ekadenta! Sejak muda remaja kita telah saling mencinta. Sejak dulu aku mendambakan engkau sebagai calon jodohku dan aku menolak semua pinangan pria, para pendekar, bahkan pangeran dan adipati kutolak semua karena hanya engkaulah satu-satunya pria di dunia ini yang kuinginkan menjadi suamiku. Engkaupun telah menyatakan cintamu kepadaku dan kita sudah sama berjanji untuk menjadi suami isteri. Akan tetapi engkau bertemu dan berguru kepada Resi Satyadharma dan dia yang membujuk dan mengajarmu agar engkau tidak menikah selama hidup, sejak itu engkau memutuskan hubungan cinta kita. Dan engkau kini mengatakan bahwa dia tidak bersalah padaku?"
"Benar, yayi, beliau sama
sekali tidak bersalah. Sang Resi Satyadharma hanya menasihatkan agar aku tidak
menikah dan mengikat diriku dengan keluarga, sama sekali beliau tidak
menyinggung tentang dirimu karena beliau tidak mengenalmu dan tidak tahu bahwa
dulu kita saling mencinta. Jadi yang memutuskan hubungan itu adalah aku
sendiri. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa aku tidak cinta padamu, yayi.
Cinta tidak harus dihubungkan dengan pernikahan, dengan berahi. Cintaku padamu
lebih murni, lebih mendalam dan lebih tinggi."
"Omong kosong! Engkau tentu
tahu bahwa karena penolakanmu itu, karena engkau menjauhi aku, engkau telah
membuat aku patah hati, engkau telah membuat hidupku merana, kecewa, dan
penasaran. Karena itu, bagaimanapun juga aku sekarang akan pergi membunuh
Erlangga dan Narotama "
"Itu tidak adil, yayi. Kalau
engkau menganggap Resi Satyadharma yang bersalah, kenapa tidak kau kunjungi
beliau di Gunung Agung dan berhitungan dengan beliau?"
"Huh, aku bukan seorang tolol,
kakang! Aku tahu, biar aku menambah ilmu-ilmu sampai seratus tahun lagi, aku
tidak akan mampu mengalahkan Resi Satyadharma. Karena itu, aku akan membunuh
dua orang muridnya itu!"
"Yayi, kalau engkau merasa
hidupmu merana karena aku, mengapa engkau tidak membunuh aku saja?"
"Tidak, aku harus membunuh dua
orang murid resi itu agar dia merasai betapa pedihnya kehilangan orang yang
dicintanya!" kata Gayatri atau Nini Bumigarbo dengan kukuh.
"Hemm, karena aku tahu benar
bahwa tindakanmu itu menyimpang dari kebenaran dan keadilan, maka terpaksa aku
menentangmu, Yayi Gayatri. Aku yang akan menghalangi kalau engkau hendak
membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama."
Sepasang mata itu berkilat dan sepasang
alis yang masih hitam melengkung Itu bergerak-gerak.
"Babo-babo, Kakang Ekodento,
engkau menantangku? Engkau, yang dulu menjadi kekasihku yang amat mencintaku
dan menjadi kakak seperguruanku, kini hendak memusuhi aku? Kau kira aku takut
padamu, kakang? Ingat, aku bukan Gayatri yang dulu. Aku telah memperdalam
ilmu-ilmuku. Sekarang begini saja, kakang, daripada kita bermusuhan, mari kita
putuskan begini saja. Sekarang kita mengadu kesaktian. Kalau kau kalah, maka
engkau harus lepas tangan dan tidak mencampuri urusanku dengan Erlangga dan
Narotama. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku akan mundur dan berjanji tidak
akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Bagaimana, kakang?"
Bhagawan Ekadenta atau Bhagawan
Jitendriya menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Yayi Gayatri, engkau adalah
adik seperguruanku. Sudah berapa kali selama tiga puluhan tahun ini engkau
dalam kemarahanmu menyerangku? Engkau selalu kalah. Sekarangpun engkau tidak
akan menang melawan aku yayi. Untuk apa kita bertanding lagi? Sudahlah, lebih
baik buang semua dendam kebencian itu dan mari ikut aku bertapabrata. Aku akan
menuntunmu ke jalan kebenaran yang akan menerangi kehidupanmu."
"Babo-babo, kakang! Jangan
memandang rendah Gayatri! Sekarang engkau tidak akan menang dan aku pasti akan
dapat membunuh Erlangga dan Narotama..heh-heh-hi-hi-hik!"
Wanita itu tertawa terus, cekikikan
dan diam-diam Bhagawan Ekadenta terkejut dan cepat dia mengerahkan tenaga
saktinya untuk melindungi telinga dan jantungnya. Suara tawa Nini Bumigarbo
demikian dahsyat makin lama semakin kuat menimbulkan getaran amat kuat, seperti
gelombang lautan yang makin lama makin mengganas. Bahkan beberapa ekor burung
derkuku yang sedang berada dibalik batu-batu kapur, terkejut mendengar suara
yang menggetarkan udara itu. Mereka terbang ke atas akan tetapi getaran suara
tawa itu menyerang mereka dan burung-burung itu berjatuhan dan mati seketika!
Hebat bukan main serangan Nini Bumigarbo melalui getaran suara tawanya itu.
Bhagawan Ekadenta sudah melindungi dirinya dengan tenaga saktinya. Dia berdiri
tegak dan memejamkan dua matanya. Namun, betapapun juga, tubuhnya
bergoyang-goyang saking hebatnya serangan melalui suara tawa itu. Nini
Bumigarbo yang memandang dengan sinar mata tajam ke arah Bhagawan Ekadenta, menjadi
penasaran sekali melihat tubuh bekas kakak seperguruan dan kekasihnya itu hanya
bergoyang-goyang tubuhnya akan tetapi tidak roboh. Banyak tokoh sakti yang
roboh hanya oleh serangan suara tawanya itu. Akan tetapi Bhagawan Ekadenta
hanya bergoyang goyang tubuhnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, tawanya
semakin melengking dan getarannya semakin dahsyat, namun tetap saja Bhagawan
Ekadenta tidak roboh. Akhirnya Nini Bumigarbo menjadi kelelahan sendiri dan
menghentikan tawanya. Getaran yang timbul dari suara tawa yang amat dahsyat
itu, begitu dihentikan secara tiba-tiba juga mendatangkan pengaruh kuat.
Telinga yang tadinya digetarkan oleh suara melengking-lengking itu, tiba-tiba
menjadi kosong dan perubahan mendadak ini menimbulkan suara berdenging dalam telinga.
Bhagawan Ekadenta menarik napas
panjang tiga kali dan dengingan itu lenyap dari pendengarannya. Dia membuka
matanya dan memandang kepada Nini Bumigarbo sambil tersenyum. Akan tetapi
hatinya disentuh rasa iba melihat wanita itu menggunakan sehelai saputangan
untuk menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Yayi Gayatri, cukuplah
main-main ini, untuk apa dilanjutkan?" kata Bhagawan Ekadenta lembut.
“Hemm, aku belum kalah, kakang! Kita
sudah sepakat, siapa kalah harus mematuhi janjinya! Nah, sambutlah ini!
Hyaaaaahhh" Nini Bumigarbo membaca mantera, lalu kedua tangannya diangkat
ke atas kemudian dilambaikan dan tiba tiba dari kedua telapak tangannya keluar
asap hitam membubung ke atas. Asap itu makin tebal dan besar, kemudian dari
dalam asap itu beterbangan keluar puluhan ekor kelelawar hitam sebesar kucing.
Puluhan ekor kelelawar itu dengan suara bercicitan, dengan matanya yang merah,
bergigi bertaring terbang meluncur ke arah Bhagawan Ekadenta, siap mencakar dan
menggigit!
"Sadhu-sadhu-sadhu ..... Mahluk
jadi-jadian, kembalilah ke dalam kegelapan. Sinar terang mengalahkan
kegelapan!" kata Bhagawan Ekadenta dan begitu dia menggerakkan tangannya
menadah ke atas lalu sinar matahari seolah menimpa telapak tangannya lalu
membias dengan terang sekali ke arah segerombolan kelelawar itu. Diterjang
sinar matahari yang membias dari telapak tangan Bhagawan Ekadenta,
mahluk-mahluk mengerikan itu tersentak dan tertolak ke belakang, mencicit-cicit
ketakutan, saling bertabrakan ketika terbang kembali ke dalam asap hitam. Kini
sinar terang itu menerjang asap hitam dan asap itu perlahan-lahan mengecil dan
meluncur turun kembali ke telapak kedua tangan Nini Bumigarbo. Wajah wanita itu
menjadi agak pucat dan napasnya memburu, la merasa penasaran dan marah bukan
main. Hampir tiap tahun sekali sejak ia merasa dibuat patah hati oleh kakak
seperguruannya yang memutuskan tali percintaan mereka, ia mencoba untuk
mengalahkan Bhagawan Ekadenta, namun ia selalu gagal. Setelah gagal, ia cepat
memperdalam ilmu-ilmunya dengan mempelajari segala macam aji kesaktian dan ilmu
sihir, ilmu hitam, santet dan tenung. Namun setiap kali ia mencoba
kepandaiannya, Bhagawan Ekadenta selalu dapat mengalahkannya. Agaknya kakak
seperguruannya yang mengasingkan diri dari dunia ramai itupun makin memperdalam
ilmu-ilmunya sehingga menjadi semakin sakti mandraguna! Dua macam ilmu baru
tadipun ternyata dapat dibuyarkan oleh Bhagawan Ekadenta. Ia masih memiliki aji
pamungkas yang baru saja dipelajarinya di Nusa Bali, akan tetapi masih merasa
ragu untuk mengeluarkannya karena ajinya itu berbahaya sekali dan bagaimanapun
juga ia tidak ingin membunuh pria yang sampai sekarang masih dicintanya itu. Ia
hanya ingin mengalahkannya.
"Sudah cukup main-majn ini,
yayi"
"Aku belum kalah! Sambut
serangan ini!" Nini Bumigarbo menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu
ia sudah memegang sebatang ranting sedepa panjangnya, sebatang ranting hitam.
"Haamtt!" Ranting itu
seperti hidup di tangannya, meluncur dengan kecepatan kilat menyerang ke arah
leher Bhagawan Ekadenta. Pria yang usianya sekitar lima puluh dua tahun ini
melompat ke belakang untuk mengelak, tangannya merogoh di balik jubahnya dan
mengeluarkan sehelai kain putih yang biasa dia pergunakan untuk mengikat
rambutnya. Sehelai kain yang panjangnya selengan, tampak sederhana lemas. Akan
tetapi ketika ranting itu menyambar lagi, dia menangkis dengan kain putih itu
yang tiba-tiba menjadi kaku seperti sebatang kayu.
"Takkk!" Ranting hitam
bertemu kain putih dan sungguh luar biasa, pertemuan dua benda sederhana itu
menimbulkan bunga api dan asap. Lalu keduanya saling serang dengan kecepatan
kilat sehingga ranting itu berubah menjadi gulungan sinar hitam sedangkan kain
itu berubah menjadi gulungan sinar putih. Kedua sinar itu berkelebatan saling
mendesak dan saling mengurung. Kalau kebetulan ada orang menyaksikan
pertandingan ini, dia tentu akan takjub melihat dua orang itu hanya tampak
sebagai bayang-bayang saja yang terkurung dua gulungan sinar hitam dan putih.
Bukan main hebatnya pertandingan ini. Gerakan keduanya mendatangkan angin
bersiutan yang membuat tanah dan debu berhamburan lalu membubung naik seolah di
situ ada dua mahluk raksasa yang amat kuat sedang berlaga. Kadang-kadang
terdengar suara keras dan batu pecah berhamburan terkena pukulan ujung ranting
atau kain. Bahkan orang-orang yang memiliki kesaktianpun akan tercengang
menyaksikan pertandingan dahsyat ini. Keadaan sekeliling tempat pertandingan,
dalam jarak belasan tombak terlanda gelombang tenaga mereka yang akan dapat
merobohkan orang dari jarak jauh. Memang tingkat kepandaian dua orang ini sudah
amat tinggi, maka pertandingan itupun hebat bukan main. Ilmu silat yang mereka
pelajari dan latih selama puluhan tahun telah mendarah daging di tubuh mereka.
Gerakan mereka sudah otomatis seolah tanpa dikendalikan pikiran lagi, tangan
kaki sudah bergerak sendiri dan seolah olah mempunyai mata sendiri. Dan setiap
gerakan mengandung tenaga dalam yang dahsyat dan sakti. Kedua orang sakti
mandraguna itu dahulunya adalah kakak dan adik seperguruan. Bersama mendiang
Empu Dewamurti, mereka bertiga merupakan murid murid terkasih dari Sang Mahatma
Budhi Dharma, pendeta perantau yang tak diketahui asal-usulnya dan tidak
diketahui pula ke mana perginya. Sebagian besar ilmu-ilmunya diserap oleh tiga
orang muridnya itu, ialah Empu Dewamurti, Bhagawan Ekadenta dan Nini Bumigarbo
Hanya kalau Empu Dewamurti lalu mengasingkan diri dan bertapa, kedua orang ini,
terutama Nini Bumigarbo, memperdalam ilmu-ilmu mereka dengan belajar kepada
para pendeta sakti mandraguna dan mereka yang mengasingkan diri dari dunia
ramai. Maka dapat dibayangkan betapa saktinya dua orang kakak beradik ini.
Dua orang yang tadinya saling
mencinta dan sudah berjanji untuk menjadi suami isteri itu mulai pecah ketika
Bhagawan Ekadenta menyatakan bahwa dia ingin memperdalam kerohanian dan
metutuskan untuk tidak menikah. Nini Bumigarbo yang dulu bernama Gayatri
menjadi kecewa dan patah hati. Apalagi dalam mencari tambahan ilmu, ia bertemu
dengan datuk-datuk sesat sehingga ia masuk ke dalam lingkungan dunia hitam,
wataknya menjadi keras dan pendendam. Karena untuk memaksa kakak seperguruannya
jelas tidak mungkin, maka ia melampiaskan kemarahan dan dendamnya dengan cara
mengajak Bhagawan Ekadenta bertanding hampir setiap tahun. Akan tetapi selalu
ia kalah sehingga hatinya menjadi semakin kecewa dan penasaran. Kemudian timbul
bencinya kepada Resi Satyadharma yang dianggapnya sebagai biang keladi sehingga
kakak seperguruan atau kekasihnya itu berubah pikiran dan tidak mau menikah!
Maka, tidak mengherankan kalau kali ini Nini Bumigarbo mengeluarkan seluruh
kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengalahkan Bhagawan
Ekadenta. Namun, sampai seratus jurus lebih mereka bertanding belum juga ia
mampu mendesak bekas kekasihnya itu. Semua tenaga sakti, tenaga hitam dan sihir,
telah ia kerahkan namun semua mental, tidak mampu menembus pertahanan Bhagawan
Ekadenta yang senantiasa sabar dan lembut terhadapnya itu. Bhagawan Ekadenta
yang banyak mengalah dalam pertandingan itu merasa sudah cukup lama memberi
kelonggaran kepada Nini Bumigarbo. Sebetulnya dia merasa kasihan kepada
kekasihnya itu bahkan sampai kini masih ada rasa kasih itu dalam hatinya, namun
bukan seperti cinta kasih yang diharapkan Nini Bumigarbo. Dia lalu membuat
gerakan kuat dengan kain putih pengikat rambutnya dan tiba-tiba ujung kain itu
seperti seekor ular dapat membelit ranting di tangan Nini Bumigarbo dan dengan
sentakan kuat, kain itu telah berhasil membetot ranting terlepas dari tangan
Nini Bumigarbo. Bhagawan Ekadenta melompat ke belakang, lalu melemparkan
ranting yang dirampasnya itu ke arah Nini Bumigarbo yang menyambut dan
menangkap rantingnya.
"Cukup sekian saja kita
main-main, Yayi Gayatri!" kata Bhagawan Ekadenta.
"Tidak, memang rantingku dapat
kau rampas, akan tetapi itu belum berarti bahwa aku sudah kalah! Coba lawan aji
pamungkasku ini! " Nini Bumigarbo lalu bersedakap (melipat lengan di depan
dada) dan memejamkan matanya, mulutnya berkemak-kemik membaca mantra. Tiba-tiba
tubuhnya bergetar hebat dan perlahan-lahan tubuhnya berubah! Wajahnya, rambutnya,
tubuhnya, semua berubah menjadi leyak, menjadi wujud setan betina dan gimbal
(lekat) wajahnya menakutkan dengan mata besar mencorong seperti mengeluarkan
sinar berapi, hidungnya besar pesek dan mulutnya lebar dengan gigi bercaling
dan lidahnya panjang terjulur keluar. Buah dadanya besar dan panjang, keluar
dari bajunya, tergantung sampai perut. Jari-jari tangannya berkuku panjang.
"jagad Dewa Bathara! Sadhu,
sadhu..sadhu .....!"
Bhagawan Ekadenta mengerahkan tenaga
saktinya untuk menggetarkan iblis jadi-jadian itu. Akan tetapi ternyata iblis
jadi-jadian yang ini amat kuat dan sakti, juga kebal sehingga serangan tenaga
sakti yang dikerahkan Bhagawan Ekadenta tidak dapat mengenyahkannya, bahkan
iblis betina itu mengangkat kedua tangan berkuku panjang itu ke atas. Dari
kedua telapak tangan leyak itu menyambar keluar sinar kilat ke arah tubuh
Bhagawan Ekadenta. Sang bhagawan mengerahkan tenaga sakti menyambut.
"Blarrr .....!" Tubuh sang
bhagawan sempoyongan ke belakang.
Leyak yang menyeramkan itu terkekeh,
suara tawanya mendirikan bulu roma. Bhagawan Ekadenta mengerutkan alisnya.
Sungguh ilmu hitam yang amat tangguh dan berbahaya, pikirnya. Kalau Nini
Bumigarbo mempergunakan ilmu sesat macam itu, mau tidak mau dia harus
mengeluarkan aji simpanannya. Leyak itu terlalu kuat untuk dilawan dengan
kekuatan biasa. Bhagawan Ekadenta lalu bersedakap dan memejamkan kedua matanya,
mengheningkan cipta. Nini Bumigarbo yang merasa di atas angin sambil terkekeh
sudah hendak menyerang lagi dengan sinar kilat dari kedua telapak tangannya.
No comments:
Post a Comment