Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 57


"Tidak berdosa, tidak bersalah kepadaku? Itu adalah pendapat mu, karena engkau tidak merasakan, Kakang Ekadenta! Sejak muda remaja kita telah saling mencinta. Sejak dulu aku mendambakan engkau sebagai calon jodohku dan aku menolak semua pinangan pria, para pendekar, bahkan pangeran dan adipati kutolak semua karena hanya engkaulah satu-satunya pria di dunia ini yang kuinginkan menjadi suamiku. Engkaupun telah menyatakan cintamu kepadaku dan kita sudah sama berjanji untuk menjadi suami isteri. Akan tetapi engkau bertemu dan berguru kepada Resi Satyadharma dan dia yang membujuk dan mengajarmu agar engkau tidak menikah selama hidup, sejak itu engkau memutuskan hubungan cinta kita. Dan engkau kini mengatakan bahwa dia tidak bersalah padaku?"
"Benar, yayi, beliau sama sekali tidak bersalah. Sang Resi Satyadharma hanya menasihatkan agar aku tidak menikah dan mengikat diriku dengan keluarga, sama sekali beliau tidak menyinggung tentang dirimu karena beliau tidak mengenalmu dan tidak tahu bahwa dulu kita saling mencinta. Jadi yang memutuskan hubungan itu adalah aku sendiri. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa aku tidak cinta padamu, yayi. Cinta tidak harus dihubungkan dengan pernikahan, dengan berahi. Cintaku padamu lebih murni, lebih mendalam dan lebih tinggi."
"Omong kosong! Engkau tentu tahu bahwa karena penolakanmu itu, karena engkau menjauhi aku, engkau telah membuat aku patah hati, engkau telah membuat hidupku merana, kecewa, dan penasaran. Karena itu, bagaimanapun juga aku sekarang akan pergi membunuh Erlangga dan Narotama "
"Itu tidak adil, yayi. Kalau engkau menganggap Resi Satyadharma yang bersalah, kenapa tidak kau kunjungi beliau di Gunung Agung dan berhitungan dengan beliau?"
"Huh, aku bukan seorang tolol, kakang! Aku tahu, biar aku menambah ilmu-ilmu sampai seratus tahun lagi, aku tidak akan mampu mengalahkan Resi Satyadharma. Karena itu, aku akan membunuh dua orang muridnya itu!"
"Yayi, kalau engkau merasa hidupmu merana karena aku, mengapa engkau tidak membunuh aku saja?"
"Tidak, aku harus membunuh dua orang murid resi itu agar dia merasai betapa pedihnya kehilangan orang yang dicintanya!" kata Gayatri atau Nini Bumigarbo dengan kukuh.
"Hemm, karena aku tahu benar bahwa tindakanmu itu menyimpang dari kebenaran dan keadilan, maka terpaksa aku menentangmu, Yayi Gayatri. Aku yang akan menghalangi kalau engkau hendak membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama."
Sepasang mata itu berkilat dan sepasang alis yang masih hitam melengkung Itu bergerak-gerak.
"Babo-babo, Kakang Ekodento, engkau menantangku? Engkau, yang dulu menjadi kekasihku yang amat mencintaku dan menjadi kakak seperguruanku, kini hendak memusuhi aku? Kau kira aku takut padamu, kakang? Ingat, aku bukan Gayatri yang dulu. Aku telah memperdalam ilmu-ilmuku. Sekarang begini saja, kakang, daripada kita bermusuhan, mari kita putuskan begini saja. Sekarang kita mengadu kesaktian. Kalau kau kalah, maka engkau harus lepas tangan dan tidak mencampuri urusanku dengan Erlangga dan Narotama. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku akan mundur dan berjanji tidak akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Bagaimana, kakang?"
Bhagawan Ekadenta atau Bhagawan Jitendriya menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Yayi Gayatri, engkau adalah adik seperguruanku. Sudah berapa kali selama tiga puluhan tahun ini engkau dalam kemarahanmu menyerangku? Engkau selalu kalah. Sekarangpun engkau tidak akan menang melawan aku yayi. Untuk apa kita bertanding lagi? Sudahlah, lebih baik buang semua dendam kebencian itu dan mari ikut aku bertapabrata. Aku akan menuntunmu ke jalan kebenaran yang akan menerangi kehidupanmu."
"Babo-babo, kakang! Jangan memandang rendah Gayatri! Sekarang engkau tidak akan menang dan aku pasti akan dapat membunuh Erlangga dan Narotama..heh-heh-hi-hi-hik!"

Wanita itu tertawa terus, cekikikan dan diam-diam Bhagawan Ekadenta terkejut dan cepat dia mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi telinga dan jantungnya. Suara tawa Nini Bumigarbo demikian dahsyat makin lama semakin kuat menimbulkan getaran amat kuat, seperti gelombang lautan yang makin lama makin mengganas. Bahkan beberapa ekor burung derkuku yang sedang berada dibalik batu-batu kapur, terkejut mendengar suara yang menggetarkan udara itu. Mereka terbang ke atas akan tetapi getaran suara tawa itu menyerang mereka dan burung-burung itu berjatuhan dan mati seketika! Hebat bukan main serangan Nini Bumigarbo melalui getaran suara tawanya itu. Bhagawan Ekadenta sudah melindungi dirinya dengan tenaga saktinya. Dia berdiri tegak dan memejamkan dua matanya. Namun, betapapun juga, tubuhnya bergoyang-goyang saking hebatnya serangan melalui suara tawa itu. Nini Bumigarbo yang memandang dengan sinar mata tajam ke arah Bhagawan Ekadenta, menjadi penasaran sekali melihat tubuh bekas kakak seperguruan dan kekasihnya itu hanya bergoyang-goyang tubuhnya akan tetapi tidak roboh. Banyak tokoh sakti yang roboh hanya oleh serangan suara tawanya itu. Akan tetapi Bhagawan Ekadenta hanya bergoyang goyang tubuhnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, tawanya semakin melengking dan getarannya semakin dahsyat, namun tetap saja Bhagawan Ekadenta tidak roboh. Akhirnya Nini Bumigarbo menjadi kelelahan sendiri dan menghentikan tawanya. Getaran yang timbul dari suara tawa yang amat dahsyat itu, begitu dihentikan secara tiba-tiba juga mendatangkan pengaruh kuat. Telinga yang tadinya digetarkan oleh suara melengking-lengking itu, tiba-tiba menjadi kosong dan perubahan mendadak ini menimbulkan suara berdenging dalam telinga.

Bhagawan Ekadenta menarik napas panjang tiga kali dan dengingan itu lenyap dari pendengarannya. Dia membuka matanya dan memandang kepada Nini Bumigarbo sambil tersenyum. Akan tetapi hatinya disentuh rasa iba melihat wanita itu menggunakan sehelai saputangan untuk menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Yayi Gayatri, cukuplah main-main ini, untuk apa dilanjutkan?" kata Bhagawan Ekadenta lembut.
“Hemm, aku belum kalah, kakang! Kita sudah sepakat, siapa kalah harus mematuhi janjinya! Nah, sambutlah ini! Hyaaaaahhh" Nini Bumigarbo membaca mantera, lalu kedua tangannya diangkat ke atas kemudian dilambaikan dan tiba tiba dari kedua telapak tangannya keluar asap hitam membubung ke atas. Asap itu makin tebal dan besar, kemudian dari dalam asap itu beterbangan keluar puluhan ekor kelelawar hitam sebesar kucing. Puluhan ekor kelelawar itu dengan suara bercicitan, dengan matanya yang merah, bergigi bertaring terbang meluncur ke arah Bhagawan Ekadenta, siap mencakar dan menggigit!
"Sadhu-sadhu-sadhu ..... Mahluk jadi-jadian, kembalilah ke dalam kegelapan. Sinar terang mengalahkan kegelapan!" kata Bhagawan Ekadenta dan begitu dia menggerakkan tangannya menadah ke atas lalu sinar matahari seolah menimpa telapak tangannya lalu membias dengan terang sekali ke arah segerombolan kelelawar itu. Diterjang sinar matahari yang membias dari telapak tangan Bhagawan Ekadenta, mahluk-mahluk mengerikan itu tersentak dan tertolak ke belakang, mencicit-cicit ketakutan, saling bertabrakan ketika terbang kembali ke dalam asap hitam. Kini sinar terang itu menerjang asap hitam dan asap itu perlahan-lahan mengecil dan meluncur turun kembali ke telapak kedua tangan Nini Bumigarbo. Wajah wanita itu menjadi agak pucat dan napasnya memburu, la merasa penasaran dan marah bukan main. Hampir tiap tahun sekali sejak ia merasa dibuat patah hati oleh kakak seperguruannya yang memutuskan tali percintaan mereka, ia mencoba untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta, namun ia selalu gagal. Setelah gagal, ia cepat memperdalam ilmu-ilmunya dengan mempelajari segala macam aji kesaktian dan ilmu sihir, ilmu hitam, santet dan tenung. Namun setiap kali ia mencoba kepandaiannya, Bhagawan Ekadenta selalu dapat mengalahkannya. Agaknya kakak seperguruannya yang mengasingkan diri dari dunia ramai itupun makin memperdalam ilmu-ilmunya sehingga menjadi semakin sakti mandraguna! Dua macam ilmu baru tadipun ternyata dapat dibuyarkan oleh Bhagawan Ekadenta. Ia masih memiliki aji pamungkas yang baru saja dipelajarinya di Nusa Bali, akan tetapi masih merasa ragu untuk mengeluarkannya karena ajinya itu berbahaya sekali dan bagaimanapun juga ia tidak ingin membunuh pria yang sampai sekarang masih dicintanya itu. Ia hanya ingin mengalahkannya.
"Sudah cukup main-majn ini, yayi"
"Aku belum kalah! Sambut serangan ini!" Nini Bumigarbo menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang ranting sedepa panjangnya, sebatang ranting hitam.
"Haamtt!" Ranting itu seperti hidup di tangannya, meluncur dengan kecepatan kilat menyerang ke arah leher Bhagawan Ekadenta. Pria yang usianya sekitar lima puluh dua tahun ini melompat ke belakang untuk mengelak, tangannya merogoh di balik jubahnya dan mengeluarkan sehelai kain putih yang biasa dia pergunakan untuk mengikat rambutnya. Sehelai kain yang panjangnya selengan, tampak sederhana lemas. Akan tetapi ketika ranting itu menyambar lagi, dia menangkis dengan kain putih itu yang tiba-tiba menjadi kaku seperti sebatang kayu.
"Takkk!" Ranting hitam bertemu kain putih dan sungguh luar biasa, pertemuan dua benda sederhana itu menimbulkan bunga api dan asap. Lalu keduanya saling serang dengan kecepatan kilat sehingga ranting itu berubah menjadi gulungan sinar hitam sedangkan kain itu berubah menjadi gulungan sinar putih. Kedua sinar itu berkelebatan saling mendesak dan saling mengurung. Kalau kebetulan ada orang menyaksikan pertandingan ini, dia tentu akan takjub melihat dua orang itu hanya tampak sebagai bayang-bayang saja yang terkurung dua gulungan sinar hitam dan putih. Bukan main hebatnya pertandingan ini. Gerakan keduanya mendatangkan angin bersiutan yang membuat tanah dan debu berhamburan lalu membubung naik seolah di situ ada dua mahluk raksasa yang amat kuat sedang berlaga. Kadang-kadang terdengar suara keras dan batu pecah berhamburan terkena pukulan ujung ranting atau kain. Bahkan orang-orang yang memiliki kesaktianpun akan tercengang menyaksikan pertandingan dahsyat ini. Keadaan sekeliling tempat pertandingan, dalam jarak belasan tombak terlanda gelombang tenaga mereka yang akan dapat merobohkan orang dari jarak jauh. Memang tingkat kepandaian dua orang ini sudah amat tinggi, maka pertandingan itupun hebat bukan main. Ilmu silat yang mereka pelajari dan latih selama puluhan tahun telah mendarah daging di tubuh mereka. Gerakan mereka sudah otomatis seolah tanpa dikendalikan pikiran lagi, tangan kaki sudah bergerak sendiri dan seolah olah mempunyai mata sendiri. Dan setiap gerakan mengandung tenaga dalam yang dahsyat dan sakti. Kedua orang sakti mandraguna itu dahulunya adalah kakak dan adik seperguruan. Bersama mendiang Empu Dewamurti, mereka bertiga merupakan murid murid terkasih dari Sang Mahatma Budhi Dharma, pendeta perantau yang tak diketahui asal-usulnya dan tidak diketahui pula ke mana perginya. Sebagian besar ilmu-ilmunya diserap oleh tiga orang muridnya itu, ialah Empu Dewamurti, Bhagawan Ekadenta dan Nini Bumigarbo Hanya kalau Empu Dewamurti lalu mengasingkan diri dan bertapa, kedua orang ini, terutama Nini Bumigarbo, memperdalam ilmu-ilmu mereka dengan belajar kepada para pendeta sakti mandraguna dan mereka yang mengasingkan diri dari dunia ramai. Maka dapat dibayangkan betapa saktinya dua orang kakak beradik ini.

Dua orang yang tadinya saling mencinta dan sudah berjanji untuk menjadi suami isteri itu mulai pecah ketika Bhagawan Ekadenta menyatakan bahwa dia ingin memperdalam kerohanian dan metutuskan untuk tidak menikah. Nini Bumigarbo yang dulu bernama Gayatri menjadi kecewa dan patah hati. Apalagi dalam mencari tambahan ilmu, ia bertemu dengan datuk-datuk sesat sehingga ia masuk ke dalam lingkungan dunia hitam, wataknya menjadi keras dan pendendam. Karena untuk memaksa kakak seperguruannya jelas tidak mungkin, maka ia melampiaskan kemarahan dan dendamnya dengan cara mengajak Bhagawan Ekadenta bertanding hampir setiap tahun. Akan tetapi selalu ia kalah sehingga hatinya menjadi semakin kecewa dan penasaran. Kemudian timbul bencinya kepada Resi Satyadharma yang dianggapnya sebagai biang keladi sehingga kakak seperguruan atau kekasihnya itu berubah pikiran dan tidak mau menikah! Maka, tidak mengherankan kalau kali ini Nini Bumigarbo mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta. Namun, sampai seratus jurus lebih mereka bertanding belum juga ia mampu mendesak bekas kekasihnya itu. Semua tenaga sakti, tenaga hitam dan sihir, telah ia kerahkan namun semua mental, tidak mampu menembus pertahanan Bhagawan Ekadenta yang senantiasa sabar dan lembut terhadapnya itu. Bhagawan Ekadenta yang banyak mengalah dalam pertandingan itu merasa sudah cukup lama memberi kelonggaran kepada Nini Bumigarbo. Sebetulnya dia merasa kasihan kepada kekasihnya itu bahkan sampai kini masih ada rasa kasih itu dalam hatinya, namun bukan seperti cinta kasih yang diharapkan Nini Bumigarbo. Dia lalu membuat gerakan kuat dengan kain putih pengikat rambutnya dan tiba-tiba ujung kain itu seperti seekor ular dapat membelit ranting di tangan Nini Bumigarbo dan dengan sentakan kuat, kain itu telah berhasil membetot ranting terlepas dari tangan Nini Bumigarbo. Bhagawan Ekadenta melompat ke belakang, lalu melemparkan ranting yang dirampasnya itu ke arah Nini Bumigarbo yang menyambut dan menangkap rantingnya.
"Cukup sekian saja kita main-main, Yayi Gayatri!" kata Bhagawan Ekadenta.
"Tidak, memang rantingku dapat kau rampas, akan tetapi itu belum berarti bahwa aku sudah kalah! Coba lawan aji pamungkasku ini! " Nini Bumigarbo lalu bersedakap (melipat lengan di depan dada) dan memejamkan matanya, mulutnya berkemak-kemik membaca mantra. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan perlahan-lahan tubuhnya berubah! Wajahnya, rambutnya, tubuhnya, semua berubah menjadi leyak, menjadi wujud setan betina dan gimbal (lekat) wajahnya menakutkan dengan mata besar mencorong seperti mengeluarkan sinar berapi, hidungnya besar pesek dan mulutnya lebar dengan gigi bercaling dan lidahnya panjang terjulur keluar. Buah dadanya besar dan panjang, keluar dari bajunya, tergantung sampai perut. Jari-jari tangannya berkuku panjang.
"jagad Dewa Bathara! Sadhu, sadhu..sadhu .....!"
Bhagawan Ekadenta mengerahkan tenaga saktinya untuk menggetarkan iblis jadi-jadian itu. Akan tetapi ternyata iblis jadi-jadian yang ini amat kuat dan sakti, juga kebal sehingga serangan tenaga sakti yang dikerahkan Bhagawan Ekadenta tidak dapat mengenyahkannya, bahkan iblis betina itu mengangkat kedua tangan berkuku panjang itu ke atas. Dari kedua telapak tangan leyak itu menyambar keluar sinar kilat ke arah tubuh Bhagawan Ekadenta. Sang bhagawan mengerahkan tenaga sakti menyambut.
"Blarrr .....!" Tubuh sang bhagawan sempoyongan ke belakang.
Leyak yang menyeramkan itu terkekeh, suara tawanya mendirikan bulu roma. Bhagawan Ekadenta mengerutkan alisnya. Sungguh ilmu hitam yang amat tangguh dan berbahaya, pikirnya. Kalau Nini Bumigarbo mempergunakan ilmu sesat macam itu, mau tidak mau dia harus mengeluarkan aji simpanannya. Leyak itu terlalu kuat untuk dilawan dengan kekuatan biasa. Bhagawan Ekadenta lalu bersedakap dan memejamkan kedua matanya, mengheningkan cipta. Nini Bumigarbo yang merasa di atas angin sambil terkekeh sudah hendak menyerang lagi dengan sinar kilat dari kedua telapak tangannya.

<<<Bagian 56                                                                                         Bagian 58 >>>

No comments:

Post a Comment