Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 56


Dara itu kembali menjadi bingung akan tetapi kemarahannya makin berkobar, la mengamuk dan mengobat-abitkan pedangnya, membacok ke sana-sini dengan ngawur.
"Keparat kau, Nurseta! Hayo perlihatkan dirimu, jangan pergunakan ilmu setan!"
Akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangannya ditangkap tangan yang tak tampak dan tahu-tahu pedangnya telah dirampas. Pedang itu kini melayang dan tampaklah tubuh Nurseta dan pemuda itu berdiri di depannya sambil memegang pedang hitam yang sudah dirampasnya!
"Puspa Dewi, untuk apa kita lanjutkan pertandingan ini? Ilmu pedangmu hebat sekali, aku tidak kuat melawannya. sudahlah, aku mengaku kalah!" Setelah berkata demikian, Nurseta melemparkan pedang itu ke arah Puspa Dewi.
Dara itu terkejut melihat pedangnya meluncur dan mengancam dirinya, akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba pedang itu membalik meluncur ke arahnya dengan gagang depan. Hatinya menjadi lega dan cepat ia menyambut pedang itu dan menyimpannya kembali ke sarung pedang. Percuma saja menyerang lagi. Kalau Nurseta dapat menghilang seperti itu, bagaimana mungkin ia akan mampu mengalahkannya?
"Huh, kau ..... curang!" Dara Itu menggerutu dengan bibir meruncing cemberut dan matanya dilebarkan. Dalam keadaan begitu dara itu malah tampak semakin manis dalam pandangan Nurseta.
"Jangan kau menggunakan ilmu setan yang membuat engkau bisa menghilang seperti setan!"
Nurseta tersenyum.
"Puspa Dewi, ilmu disebut ilmu setan kalau penggunanya untuk mencelakai orang. Engkau sendiri mempergunakan ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun, bahkan pedangmu itupun beracun sehingga kalau seranganmu mengenai lawan, lawan akan tewas atau setidaknya terluka parah. Akan tetapi aku sama sekali tidak mencelakaimu. Sekarang kuingatkan engkau sekali lagi, Puspa Dewi. Engkau seorang dara muda namun telah menguasai banyak aji yang dahsyat, sayang kalau engkau menjadi orang sesat yang mempergunakan ilmumu untuk membunuh atau melukai orang yang tidak bersalah. Ketahuilah bahwa keris pusaka Megatantra memang aku yang menemukan, dan aku hendak mengembalikan kepada yang berhak, yaitu Sang Prabu Erlangga dari Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi sungguh celaka, dalam perjalananku, keris pusaka itu dicuri orang karena kelengahanku. Aku tertipu dan Pusaka itu dilarikan orang. Akan tetapi aku harus merampasnya kembali dari tangan si pencuri."

Mendengar semua ucapan Nurseta, di lubuk hatinya Puspa Dewi membenarkan kata-kata pemuda itu. Kebenaran yang tak dapat dibantah, Pikir gadis yang pada dasarnya memiliki hati yang condong membela kebenaran itu. Hanya karena pengaruh sifat gurunya dan pengaruh lingkungan, maka menjadi liar dan ganas. Namun tetap saja ia selalu mempertahankan keadilan maka mendengar ucapan Nurseta itu ia diam-diam menbenarkan.
"Akan tetapi aku hanya menaati perintah guruku yang juga ibu angkatku, Permaisuri Kadipaten Wura-wuri .....!" katanya, seolah membantah suara hatinya yang membenarkan Nurseta.
"Bukankah seorang murid harus berbakti dan setia pada gurunya yang telah melepas banyak budi?"
"Benar sekali kata-katamu itu, Puspa Dewi. Seorang murid harus berbakti kepada gurunya, itu merupakan suatu kewajiban seorang murid yang baik dan tahu membalas budi. Akan tetapi ada kewajiban lain yang lebih penting lagi, Puspa, yaitu kewajiban sebagai seorang manusia. Karena itu, setiap tugas harus diperhitungkan dengan prikemanusiaan. Kalau tugas yang diberikan guru itu menyimpang dari kemanusiaan, maka kita tidak perlu melaksanakannya. Menyimpang dari prikemanusiaan berarti kejahatan dan haruskah seseorang membantu orang lain melakukan kejahatan, biarpun orang lain itu gurunya sendiri? Tidak, Puspa, engkau bukan seorang gadis yang jahat. Karena itu, tugas yang bersifat jahat amat tidak cocok dan tidak pantas kaulakukan!"
Puspa Dewi menjadi semakin bimbang, ia lalu mengangguk-angguk.
"Baiklah, aku akan mengatakan kepada guruku bahwa perintahnya untuk merampas Megatantra yang menjadi hak milik orang lain itu adalah tidak benar dan jahat sehingga aku berani melanggar perintahnya. Masih ada tugas lain yang tidak kalah pentingnya dan dapat kulakukan dengan berhasil baik."
Senang hati Nurseta mendengar ucapan ini. Kata-kata dara itu menunjukkan bahwa Puspa Dewi belum rusak betul masih mampu menyadari kesalahannya dan dapat mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah.
"Bagus! Aku girang mendengar bahwa engkau tidak akan membantu guru memperebutkan Sang Megatantra lagi Puspa Dewi."
Kini Puspa Dewi menatap wajah Nurseta dan sinar matanya bersinar-sinar,
"Nurseta, engkau ..... engkau percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya padamu Puspa Dewi. Engkau tadi sudah begitu baik menolongku dari pengeroyokan tiga orang itu. Ratu Mayang Gupita tadi sungguh berbahaya, sakti dan kejam sekali. Juga dua orang yang membantunya, Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo, memiliki ilmu kepandaian yang hebat."
"Hemm, jadi raksasa wanita tadi adalah Ratu Mayang Gupita?"
"Ya, ia ratu dari Kerajaan Siluman laut Kidul."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya, Adipati Bhismaprabhawa yang menjadi ayah angkatnya itu berpesan kepadanya agar bekerja sama dengan para kadipaten, termasuk Kadipaten Siluman Laut Kidul untuk menentang Kahuripan. Hemm, tak senang hatinya diharuskan bekerja sama dengan orang seperti raksasa wanita tadi!
"Dan kenapa mereka bertiga itu menyerang dan mengeroyokmu?"
"Mula-mula Ratu Mayang Gupita itu yang menyerangku karena seperti juga gurumu, ia ingin minta Sang Megatantra dariku. Lalu kedua orang yang merupakan tokoh-tokoh sesat itu membantunya."
"Nurseta, sekali lagi aku bertanya, apakah engkau benar percaya kepadaku bahwa aku tidak akan memperebutkan keris pusaka Megatantra lagi?"
Nurseta mengangguk. "Aku percaya padamu, Puspa."
"Kalau begitu, buktikan kepercayaanmu padaku itu dengan mengatakan siapa orangnya yang sudah mencuri pusaka itu dari tanganmu." Ia berhenti sebentar memandang tajam lalu melanjutkan
"Kalau engkau tidak mau berterus terang, itu menandakan bahwa engkau berbohong dan sebetulnya engkau masih tidak percaya kepadaku."
Nurseta mengerutkan alisnya. Gadis ini sungguh cerdik, pikirnya. Ucapan itu menyudutkannya dan membuat dia tidak berdaya. Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh, maka dia cepat berbalik mengajukan pertanyaan.
"Hemm, jawablah dulu pertanyaaanku ini, Puspa Dewi. Kalau engkau mengetahui siapa pencurinya, kemudian pada suatu saat engkau bertemu dengannya lalu apa yang akan kaulakukan? kaurampas Sang Megatantra itu lalu kau serahkan kepada gurumu?"
"Hemm, bukankah aku sudah berjanji tidak akan merampas keris pusaka untuk guruku? Andaikata aku merampasnya dari pencuri itu, tentu bukan kepada guruku pusaka itu kuserahkan, melainkan kepadamu!"
"Benarkah itu, Puspa Dewi? Ah, aku girang sekali! Akan tetapi kenapa tidak langsung saja kauhaturkan kepada Sang Prabu Erlangga, andaikata keris pusaka itu dapat kaurampas dari si pencuri?"
"Hemm, tidak mungkin. Aku bukan punggawa Kahuripan, dan ingat, aku adalah Sekar Kedaton Kerajaan Wura-wuri!"
"Ah, benar juga. Nah, dengarkan baik-baik. Dalam perjalanan aku bertemu dengan Raden Hendratama yang ternyata adalah seorang pangeran, masih keluarga sang Prabu Erlangga sendiri. Dialah yang menipuku dan mencuri keris pusaka Sang megatantra itu."
"Hemm, Pangeran Hendratama? Belum pernah aku mendengar nama itu. Betapa pun juga, terima kasih, Nurseta. Ternyata engkau benar-benar percaya kepadaku."
"Ada satu hal yang ingin kuketahui, Puspa Dewi. Kalau aku tidak keliru, dulu engkau diculik oleh Resi Bajrasakti, sedangkan Linggajaya diculik oleh Nyi Dewi Durgakumala. Akan tetapi mengapa tahu-tahu engkau dan Linggajaya yang ketika itu sudah kusuruh melarikan diri dapat tertangkap lagi dan engkau menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala?”
Puspa Dewi menghela napas panjang,
"Aku dan Linggajaya melarikan diri dan saking takutnya kami berpencar. Tiba-tiba aku ditawan oleh Nyi Durgakumala dan diambil sebagai murid. Aku bersyukur sekali. Aku masih merasa ngeri membayangkan tertawan oleh raksasa Resi Bajrasakti itu. Setelah aku bertemu Linggajaya, aku mendengar dari dia bahwa ternyata diapun tertawan Resi Bajrasakti dan menjadi muridnya. Kemudian aku diambil anak angkat oleh Nyi Durgakumala dan ketika ia menjadi permaisuri Raja Bhismaprabhawa dari Kerajaan Wura-wuri, aku menjadi Sekar Kedaton”
"Wah, hebat sekali engkau, Puspa Dewi. Sudah menjadi murid seorang sakti mandraguna, masih diangkat menjadi puteri istana lagi! Dan sekarang, engkau hendak pergi kemanakah?"
Puspa Dewi tersenyum.
"Tidak perlu aku menceritakan semua urusanku, Nurseta. Aku masih mempunyai tugas-tugas lain yang harus kulaksanakan dengan baik setelah tugas merampas keris pusaka Megatantra kubatalkan. Nah, selamat berpisah, Nurseta."
"Selamat berpisah, Puspa Dewi. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa dalam keadaan yang lebih baik, tidak perlu kita harus saling bermusuhan."

Kedua orang muda itu lalu berpisah. Puspa Dewi melompat ke atas punggung Bajradenta, kuda putih pemberian Adipati Wura-Wuri yang tadi ia tambatkan tak jauh dari situ. Nurseta mengikuti bayangan dara perkasa yang membalapkan kuda putihnya itu dan dia menghela napas panjang. Biarpun baru sebentar dia mengenal Puspa Dewi, namun dia telah dapat meraba watak gadis yang menarik hatinya itu. Seorang gadis yang memiliki dasar watak yang baik dan gagah, pembela keadilan, namun sifatnya dipengaruhi gurunya sehingga menjadi binal, ganas dan galak. Sayang kalau gadis seperti itu tidak mendapatkan bimbingan yang baik, bisa saja menjadi sesat. Dan dia..... dia akan senang sekali kalau mendapat kesempatan memberi bimbingan kepada Puspa Dewi! Perasaan cintakah ini? Dia sendiri tidak tahu. Yang jelas, belum pernah dia merasakan seperti ini. Tiga orang selir Pangeran Hendratama dengan genit berusaha merayunya, namun dia sama sekali tidak tertarik, tidak bergairah, bahkan dia merasa muak dengan sikap mereka yang genit. Kepada Widarti, selir termuda Pangeran Hendratama yang bersikap baikpun dia tidak tertarik, hanya merasa iba kepada gadis yang terpaksa menjadi selir pangeran itu. Kemudian Ki Lurah Warsita, lurah dusun Karang Sari, ingin menjodohkan dia dengan Kartiyah, puterinya, akan tetapi diapun sama sekali tidak tertarik. Baru sekarang dia merasa tertarik sekali kepada seorang gadis, yaitu kepada Puspa Dewi. Nurseta mengusir semua lamunan itu dari hati dan pikirannya dan melanjutkan perjalanannya. Masih ada dua buah tugas yang harus dia selesaikan sebelum tugas terakhir, yaitu membantu Kerajaan Kahuripan. Kedua buah tugas itu ialah, pertama mencari Senopati Sindukerta yang pernah dilapori tentang orang tuanya sehingga orang tuanya ketakutan dan melarikan diri. Dari senopati ini agaknya dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang orang tuanya. Kedua, dia harus mencari Pangeran Hendratama untuk merampas kembali keris pusaka Megatantra untuk dihaturkan kepada Sang Prabu Erlangga seperti yang dipesan oleh mendiang Empu Dewamurti. Teringat akan tugas-tugasnya ini, Nurseta mempercepat jalannya.

Dua orang itu berdiri saling berhadapan di sebuah puncak sebuah bukit kapur gersang di daerah pegunungan Kidul yang memiliki ratusan, bahkan ribuan bukit itu. Bukit itu tandus karena tanahnya mengandung banyak kapur dan jauh dari pedusunan. Siapa mau tinggal di daerah yang gersang dan tidak dapat ditanami apa-apa itu? Dua orang itu berdiri di situ, sejak tadi tak bergerak seperti arca. Suasananya sepi karena selain mereka berdua, di bukit itu dan sekitarnya, di pegunungan kapur itu memang jarang dikunjungi manusia. Yang seorang adalah seorang wanita yang usianya sudah lima puluh tahun, namun wajahnya masih tampak cantik, belum tampak dihias keriput. Juga tubuhnya masih padat dan sehat sehingga bagi yang tidak mengenalnya, tentu mengira ia berusia sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan serba hitam, meskipun terhias coretan kembang di sana-sini. Rambutnya di gelung seperti kebiasaan wanita Bali, digelung dan ditekuk dengan ciri khas, masih dihias ronce-ronce kembang melati, sepasang matanya mencorong sehingga melihat sinar matanya saja mudah diduga bahwa wanita ini bukanlah orang sembarangan. Memang ia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang sakti mandraguna, seorang yang menguasai banyak aji kanuragan dan sihir, yang selama puluhan tahun ia latih dari para pendeta dan pertapa di Nusa Bali. Adapun yang berdiri dengan sikap tenang di depannya adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh dua tahun. Kalau wanita itu berpakaian serba hitam, maka pria itu berpakaian serba putih bersih dan sederhana sekali. Hanya merupakan kain putih yang dilibat-libatkan di tubuhnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai lepas di pundak dan punggungnya. Kumis dan jenggotnya juga panjang namun terawat bersih dan rapi. Wajah laki-laki inipun masih memperlihatkan bekas ketampanan, pandangan matanya lembut namun penuh wibawa, mulutnya terhias senyuman penuh kesabaran dan gerak geriknya lembut. Sungguh merupakan kebalikan dari wajah wanita itu yang tampak muram dan murung, seperti wajah orang yang sakit hati atau sedang susah dan muram.
"Yayi Gayatri ....." terdengar suara laki-laki itu lembut. Akan tetapi segera dipotong oleh suara wanita itu yang terdengar ketus.
"Kakang Ekadenta, namaku sekarang bukan lagi Gayatri. Gayatri sudah mati dan yang ada ialah Nini Bumigarbo!"
Pria itu tersenyum sabar.
"Baik sekali, Nini Bumigarbo dan ketahuilah, aku sendiri sekarang juga memakai nama Bhagawan Jitendriya. Nini Bumigarbo, mengapa engkau tiada henti-hentinya berusaha untuk menentang bahkan membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kahuripan?"
"Hemm, Bhagawan Jitendriya, engkau masih berpura-pura tanya sebabnya kalau engkau sendiri terlibat di dalamnya? Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah murid-murid Sang Resi Satyadharma di Gunung Agung Nusa Bali. Karena tidak mungkin aku dapat membunuh Resi Satyadharma yang sakti mandraguna seperti dewa, maka satu satunya jalan untuk membalas dendam dan menghilangkan rasa penasaran di hatiku hanyalah membunuh kedua orang muridnya itu."
"Aduh, yayi (dinda) Gayatri .....! Eh, maksudku Nini Bumigarbo, kenapa engkau yang dulu amat membanggakan hatiku memiliki adik seperguruan yang cantik lahir batin, sakti mandraguna, kini dapat tersesat dan membiarkan racun kebencian mengeram di dalam hatimu? Sudah berulang kali kujelaskan kepadamu bahwa Sang Resi Satyadharma sama sekali tidak berdosa, sama sekali tidak mempunyai kesalahan terhadap dirimu. Mengapa engkau menanam dendam kebencian sedemikian mendalam terhadap dia? Engkau akan kesiku (bersalah) kepada para dewata, yayi!"

<<<Bagian 55                                                                                          Bagian 57 >>>

No comments:

Post a Comment