Dara itu kembali menjadi bingung akan tetapi kemarahannya makin berkobar, la mengamuk dan mengobat-abitkan pedangnya, membacok ke sana-sini dengan ngawur.
"Keparat kau, Nurseta! Hayo
perlihatkan dirimu, jangan pergunakan ilmu setan!"
Akan tetapi tiba-tiba pergelangan
tangannya ditangkap tangan yang tak tampak dan tahu-tahu pedangnya telah
dirampas. Pedang itu kini melayang dan tampaklah tubuh Nurseta dan pemuda itu
berdiri di depannya sambil memegang pedang hitam yang sudah dirampasnya!
"Puspa Dewi, untuk apa kita
lanjutkan pertandingan ini? Ilmu pedangmu hebat sekali, aku tidak kuat
melawannya. sudahlah, aku mengaku kalah!" Setelah berkata demikian,
Nurseta melemparkan pedang itu ke arah Puspa Dewi.
Dara itu terkejut melihat pedangnya
meluncur dan mengancam dirinya, akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba pedang itu
membalik meluncur ke arahnya dengan gagang depan. Hatinya menjadi lega dan
cepat ia menyambut pedang itu dan menyimpannya kembali ke sarung pedang.
Percuma saja menyerang lagi. Kalau Nurseta dapat menghilang seperti itu,
bagaimana mungkin ia akan mampu mengalahkannya?
"Huh, kau ..... curang!"
Dara Itu menggerutu dengan bibir meruncing cemberut dan matanya dilebarkan.
Dalam keadaan begitu dara itu malah tampak semakin manis dalam pandangan
Nurseta.
"Jangan kau menggunakan ilmu
setan yang membuat engkau bisa menghilang seperti setan!"
Nurseta tersenyum.
"Puspa Dewi, ilmu disebut ilmu
setan kalau penggunanya untuk mencelakai orang. Engkau sendiri mempergunakan
ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun, bahkan pedangmu itupun beracun sehingga
kalau seranganmu mengenai lawan, lawan akan tewas atau setidaknya terluka
parah. Akan tetapi aku sama sekali tidak mencelakaimu. Sekarang kuingatkan
engkau sekali lagi, Puspa Dewi. Engkau seorang dara muda namun telah menguasai
banyak aji yang dahsyat, sayang kalau engkau menjadi orang sesat yang
mempergunakan ilmumu untuk membunuh atau melukai orang yang tidak bersalah.
Ketahuilah bahwa keris pusaka Megatantra memang aku yang menemukan, dan aku
hendak mengembalikan kepada yang berhak, yaitu Sang Prabu Erlangga dari
Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi sungguh celaka, dalam perjalananku, keris
pusaka itu dicuri orang karena kelengahanku. Aku tertipu dan Pusaka itu
dilarikan orang. Akan tetapi aku harus merampasnya kembali dari tangan si
pencuri."
Mendengar semua ucapan Nurseta, di
lubuk hatinya Puspa Dewi membenarkan kata-kata pemuda itu. Kebenaran yang tak
dapat dibantah, Pikir gadis yang pada dasarnya memiliki hati yang condong
membela kebenaran itu. Hanya karena pengaruh sifat gurunya dan pengaruh
lingkungan, maka menjadi liar dan ganas. Namun tetap saja ia selalu
mempertahankan keadilan maka mendengar ucapan Nurseta itu ia diam-diam
menbenarkan.
"Akan tetapi aku hanya menaati
perintah guruku yang juga ibu angkatku, Permaisuri Kadipaten Wura-wuri
.....!" katanya, seolah membantah suara hatinya yang membenarkan Nurseta.
"Bukankah seorang murid harus
berbakti dan setia pada gurunya yang telah melepas banyak budi?"
"Benar sekali kata-katamu itu,
Puspa Dewi. Seorang murid harus berbakti kepada gurunya, itu merupakan suatu
kewajiban seorang murid yang baik dan tahu membalas budi. Akan tetapi ada
kewajiban lain yang lebih penting lagi, Puspa, yaitu kewajiban sebagai seorang
manusia. Karena itu, setiap tugas harus diperhitungkan dengan prikemanusiaan.
Kalau tugas yang diberikan guru itu menyimpang dari kemanusiaan, maka kita
tidak perlu melaksanakannya. Menyimpang dari prikemanusiaan berarti kejahatan
dan haruskah seseorang membantu orang lain melakukan kejahatan, biarpun orang
lain itu gurunya sendiri? Tidak, Puspa, engkau bukan seorang gadis yang jahat.
Karena itu, tugas yang bersifat jahat amat tidak cocok dan tidak pantas
kaulakukan!"
Puspa Dewi menjadi semakin bimbang,
ia lalu mengangguk-angguk.
"Baiklah, aku akan mengatakan
kepada guruku bahwa perintahnya untuk merampas Megatantra yang menjadi hak
milik orang lain itu adalah tidak benar dan jahat sehingga aku berani melanggar
perintahnya. Masih ada tugas lain yang tidak kalah pentingnya dan dapat
kulakukan dengan berhasil baik."
Senang hati Nurseta mendengar ucapan
ini. Kata-kata dara itu menunjukkan bahwa Puspa Dewi belum rusak betul masih
mampu menyadari kesalahannya dan dapat mempertimbangkan mana yang benar dan
mana yang salah.
"Bagus! Aku girang mendengar
bahwa engkau tidak akan membantu guru memperebutkan Sang Megatantra lagi Puspa
Dewi."
Kini Puspa Dewi menatap wajah
Nurseta dan sinar matanya bersinar-sinar,
"Nurseta, engkau ..... engkau
percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya padamu
Puspa Dewi. Engkau tadi sudah begitu baik menolongku dari pengeroyokan tiga
orang itu. Ratu Mayang Gupita tadi sungguh berbahaya, sakti dan kejam sekali.
Juga dua orang yang membantunya, Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo, memiliki
ilmu kepandaian yang hebat."
"Hemm, jadi raksasa wanita tadi
adalah Ratu Mayang Gupita?"
"Ya, ia ratu dari Kerajaan
Siluman laut Kidul."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya,
Adipati Bhismaprabhawa yang menjadi ayah angkatnya itu berpesan kepadanya agar
bekerja sama dengan para kadipaten, termasuk Kadipaten Siluman Laut Kidul untuk
menentang Kahuripan. Hemm, tak senang hatinya diharuskan bekerja sama dengan
orang seperti raksasa wanita tadi!
"Dan kenapa mereka bertiga itu
menyerang dan mengeroyokmu?"
"Mula-mula Ratu Mayang Gupita
itu yang menyerangku karena seperti juga gurumu, ia ingin minta Sang Megatantra
dariku. Lalu kedua orang yang merupakan tokoh-tokoh sesat itu
membantunya."
"Nurseta, sekali lagi aku
bertanya, apakah engkau benar percaya kepadaku bahwa aku tidak akan
memperebutkan keris pusaka Megatantra lagi?"
Nurseta mengangguk. "Aku
percaya padamu, Puspa."
"Kalau begitu, buktikan
kepercayaanmu padaku itu dengan mengatakan siapa orangnya yang sudah mencuri
pusaka itu dari tanganmu." Ia berhenti sebentar memandang tajam lalu
melanjutkan
"Kalau engkau tidak mau
berterus terang, itu menandakan bahwa engkau berbohong dan sebetulnya engkau
masih tidak percaya kepadaku."
Nurseta mengerutkan alisnya. Gadis
ini sungguh cerdik, pikirnya. Ucapan itu menyudutkannya dan membuat dia tidak
berdaya. Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh, maka dia cepat berbalik
mengajukan pertanyaan.
"Hemm, jawablah dulu
pertanyaaanku ini, Puspa Dewi. Kalau engkau mengetahui siapa pencurinya,
kemudian pada suatu saat engkau bertemu dengannya lalu apa yang akan
kaulakukan? kaurampas Sang Megatantra itu lalu kau serahkan kepada
gurumu?"
"Hemm, bukankah aku sudah
berjanji tidak akan merampas keris pusaka untuk guruku? Andaikata aku
merampasnya dari pencuri itu, tentu bukan kepada guruku pusaka itu kuserahkan,
melainkan kepadamu!"
"Benarkah itu, Puspa Dewi? Ah,
aku girang sekali! Akan tetapi kenapa tidak langsung saja kauhaturkan kepada
Sang Prabu Erlangga, andaikata keris pusaka itu dapat kaurampas dari si
pencuri?"
"Hemm, tidak mungkin. Aku bukan
punggawa Kahuripan, dan ingat, aku adalah Sekar Kedaton Kerajaan
Wura-wuri!"
"Ah, benar juga. Nah, dengarkan
baik-baik. Dalam perjalanan aku bertemu dengan Raden Hendratama yang ternyata adalah
seorang pangeran, masih keluarga sang Prabu Erlangga sendiri. Dialah yang
menipuku dan mencuri keris pusaka Sang megatantra itu."
"Hemm, Pangeran Hendratama?
Belum pernah aku mendengar nama itu. Betapa pun juga, terima kasih, Nurseta.
Ternyata engkau benar-benar percaya kepadaku."
"Ada satu hal yang ingin
kuketahui, Puspa Dewi. Kalau aku tidak keliru, dulu engkau diculik oleh Resi
Bajrasakti, sedangkan Linggajaya diculik oleh Nyi Dewi Durgakumala. Akan tetapi
mengapa tahu-tahu engkau dan Linggajaya yang ketika itu sudah kusuruh melarikan
diri dapat tertangkap lagi dan engkau menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala?”
Puspa Dewi menghela napas panjang,
"Aku dan Linggajaya melarikan
diri dan saking takutnya kami berpencar. Tiba-tiba aku ditawan oleh Nyi Durgakumala
dan diambil sebagai murid. Aku bersyukur sekali. Aku masih merasa ngeri
membayangkan tertawan oleh raksasa Resi Bajrasakti itu. Setelah aku bertemu
Linggajaya, aku mendengar dari dia bahwa ternyata diapun tertawan Resi
Bajrasakti dan menjadi muridnya. Kemudian aku diambil anak angkat oleh Nyi
Durgakumala dan ketika ia menjadi permaisuri Raja Bhismaprabhawa dari Kerajaan
Wura-wuri, aku menjadi Sekar Kedaton”
"Wah, hebat sekali engkau,
Puspa Dewi. Sudah menjadi murid seorang sakti mandraguna, masih diangkat
menjadi puteri istana lagi! Dan sekarang, engkau hendak pergi kemanakah?"
Puspa Dewi tersenyum.
"Tidak perlu aku menceritakan
semua urusanku, Nurseta. Aku masih mempunyai tugas-tugas lain yang harus
kulaksanakan dengan baik setelah tugas merampas keris pusaka Megatantra
kubatalkan. Nah, selamat berpisah, Nurseta."
"Selamat berpisah, Puspa Dewi.
Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa dalam keadaan yang lebih
baik, tidak perlu kita harus saling bermusuhan."
Kedua orang muda itu lalu berpisah.
Puspa Dewi melompat ke atas punggung Bajradenta, kuda putih pemberian Adipati
Wura-Wuri yang tadi ia tambatkan tak jauh dari situ. Nurseta mengikuti bayangan
dara perkasa yang membalapkan kuda putihnya itu dan dia menghela napas panjang.
Biarpun baru sebentar dia mengenal Puspa Dewi, namun dia telah dapat meraba
watak gadis yang menarik hatinya itu. Seorang gadis yang memiliki dasar watak
yang baik dan gagah, pembela keadilan, namun sifatnya dipengaruhi gurunya
sehingga menjadi binal, ganas dan galak. Sayang kalau gadis seperti itu tidak
mendapatkan bimbingan yang baik, bisa saja menjadi sesat. Dan dia..... dia akan
senang sekali kalau mendapat kesempatan memberi bimbingan kepada Puspa Dewi!
Perasaan cintakah ini? Dia sendiri tidak tahu. Yang jelas, belum pernah dia
merasakan seperti ini. Tiga orang selir Pangeran Hendratama dengan genit
berusaha merayunya, namun dia sama sekali tidak tertarik, tidak bergairah,
bahkan dia merasa muak dengan sikap mereka yang genit. Kepada Widarti, selir
termuda Pangeran Hendratama yang bersikap baikpun dia tidak tertarik, hanya
merasa iba kepada gadis yang terpaksa menjadi selir pangeran itu. Kemudian Ki
Lurah Warsita, lurah dusun Karang Sari, ingin menjodohkan dia dengan Kartiyah,
puterinya, akan tetapi diapun sama sekali tidak tertarik. Baru sekarang dia
merasa tertarik sekali kepada seorang gadis, yaitu kepada Puspa Dewi. Nurseta
mengusir semua lamunan itu dari hati dan pikirannya dan melanjutkan
perjalanannya. Masih ada dua buah tugas yang harus dia selesaikan sebelum tugas
terakhir, yaitu membantu Kerajaan Kahuripan. Kedua buah tugas itu ialah,
pertama mencari Senopati Sindukerta yang pernah dilapori tentang orang tuanya
sehingga orang tuanya ketakutan dan melarikan diri. Dari senopati ini agaknya
dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang orang tuanya. Kedua, dia harus
mencari Pangeran Hendratama untuk merampas kembali keris pusaka Megatantra
untuk dihaturkan kepada Sang Prabu Erlangga seperti yang dipesan oleh mendiang
Empu Dewamurti. Teringat akan tugas-tugasnya ini, Nurseta mempercepat jalannya.
Dua orang itu berdiri saling
berhadapan di sebuah puncak sebuah bukit kapur gersang di daerah pegunungan
Kidul yang memiliki ratusan, bahkan ribuan bukit itu. Bukit itu tandus karena
tanahnya mengandung banyak kapur dan jauh dari pedusunan. Siapa mau tinggal di
daerah yang gersang dan tidak dapat ditanami apa-apa itu? Dua orang itu berdiri
di situ, sejak tadi tak bergerak seperti arca. Suasananya sepi karena selain
mereka berdua, di bukit itu dan sekitarnya, di pegunungan kapur itu memang
jarang dikunjungi manusia. Yang seorang adalah seorang wanita yang usianya
sudah lima puluh tahun, namun wajahnya masih tampak cantik, belum tampak dihias
keriput. Juga tubuhnya masih padat dan sehat sehingga bagi yang tidak
mengenalnya, tentu mengira ia berusia sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya
terbuat dari sutera halus dan serba hitam, meskipun terhias coretan kembang di
sana-sini. Rambutnya di gelung seperti kebiasaan wanita Bali, digelung dan
ditekuk dengan ciri khas, masih dihias ronce-ronce kembang melati, sepasang
matanya mencorong sehingga melihat sinar matanya saja mudah diduga bahwa wanita
ini bukanlah orang sembarangan. Memang ia bukan wanita sembarangan, melainkan
seorang wanita yang sakti mandraguna, seorang yang menguasai banyak aji
kanuragan dan sihir, yang selama puluhan tahun ia latih dari para pendeta dan
pertapa di Nusa Bali. Adapun yang berdiri dengan sikap tenang di depannya
adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh dua tahun. Kalau
wanita itu berpakaian serba hitam, maka pria itu berpakaian serba putih bersih
dan sederhana sekali. Hanya merupakan kain putih yang dilibat-libatkan di
tubuhnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai lepas di pundak dan
punggungnya. Kumis dan jenggotnya juga panjang namun terawat bersih dan rapi.
Wajah laki-laki inipun masih memperlihatkan bekas ketampanan, pandangan matanya
lembut namun penuh wibawa, mulutnya terhias senyuman penuh kesabaran dan gerak
geriknya lembut. Sungguh merupakan kebalikan dari wajah wanita itu yang tampak
muram dan murung, seperti wajah orang yang sakit hati atau sedang susah dan
muram.
"Yayi Gayatri ....."
terdengar suara laki-laki itu lembut. Akan tetapi segera dipotong oleh suara
wanita itu yang terdengar ketus.
"Kakang Ekadenta, namaku
sekarang bukan lagi Gayatri. Gayatri sudah mati dan yang ada ialah Nini
Bumigarbo!"
Pria itu tersenyum sabar.
"Baik sekali, Nini Bumigarbo
dan ketahuilah, aku sendiri sekarang juga memakai nama Bhagawan Jitendriya.
Nini Bumigarbo, mengapa engkau tiada henti-hentinya berusaha untuk menentang
bahkan membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kahuripan?"
"Hemm, Bhagawan Jitendriya,
engkau masih berpura-pura tanya sebabnya kalau engkau sendiri terlibat di
dalamnya? Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah murid-murid Sang
Resi Satyadharma di Gunung Agung Nusa Bali. Karena tidak mungkin aku dapat
membunuh Resi Satyadharma yang sakti mandraguna seperti dewa, maka satu satunya
jalan untuk membalas dendam dan menghilangkan rasa penasaran di hatiku hanyalah
membunuh kedua orang muridnya itu."
"Aduh, yayi (dinda) Gayatri
.....! Eh, maksudku Nini Bumigarbo, kenapa engkau yang dulu amat membanggakan
hatiku memiliki adik seperguruan yang cantik lahir batin, sakti mandraguna,
kini dapat tersesat dan membiarkan racun kebencian mengeram di dalam hatimu?
Sudah berulang kali kujelaskan kepadamu bahwa Sang Resi Satyadharma sama sekali
tidak berdosa, sama sekali tidak mempunyai kesalahan terhadap dirimu. Mengapa
engkau menanam dendam kebencian sedemikian mendalam terhadap dia? Engkau akan
kesiku (bersalah) kepada para dewata, yayi!"
No comments:
Post a Comment