Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 55


"Aku? Minta maaf padamu? Huh, tak tahu diri! Engkaulah yang harus minta maaf padaku karena engkau telah berani mengganggu dan mengancam hendak membunuh ayahku?"
"Siapa hendak membunuh ayahmu?"
"Engkau mengamuk di rumah ayahku dan engkau masih berani pura-pura bertanya lagi?"
"Hemm, aku mempunyai urusan dengan Ki Lurah Suramenggala, bagaimana mungkin engkau menuduh aku mengganggu ayahmu? Apakah Ki Lurah Suramenggala itu....."
"Dia ayahku dan jangan katakan dia jahat!"
"Tapi..... setahuku engkau adalah anak Bibi Lasmi yang telah janda ....."
"Ibuku telah menjadi isteri Ki Lurah Suramenggala, maka dia adalah ayahku."

Nurseta mengangguk-angguk. Sebagai orang yang pernah bekerja pada lurah itu, tentu saja dia tahu bahwa Ki Lurah Suramenggala sudah mempunyai isteri bahkan setahu dia lurah itu sudah mempunyai dua orang selir. Hemm, tentu Bibi Lasmi menjadi selirnya yang ke tiga, pikirnya.
"Oo, begitukah?" kata Nurseta sambil memandang wajah yang cantik jelita itu.
Memang Puspa Dewi kini telah menjadi seorang dara yang dewasa dan cantik jelita. Dulu, ia seorang gadis remaja yang sederhana seperti gadis desa pada umumnya, pakaiannya sederhana dan sikapnya lembut dan pemalu. Akan tetapi kini, sungguh perubahan besar telah terjadi pada diri dara itu. Dalam usianya yang sekitar Sembilan belas tahun itu, ia bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum. Kulitnya putih kuning mulus, tubuhnya sedang dan padat dengan lekuk lengkung sempurna dan menggairahkan. Rambutnya hitam panjang dan di dahinya serta pelipisnya, sinom (anak rambut) melingkar-lingkar indah. Alisnya melengkung melindungi sepasang mata yang bersinar-sinar seperti bintang, hidungnya kecil mancung dan bibirnya segar merah membasah. Tahi lalat hitam kecil di dagu itu menambah kemanisannya. Dan yang mencolok sekali, sikapnya yang dulu pendiam dan pemalu itu, kini sama sekali berubah. Kini ia menjadi seorang dara sakti mandraguna yang lincah dan tampak liar dan ganas! Juga pakaiannya serba mewah dan indah, seperti seorang puteri saja! Tentu saja ia sama sekali tidak menyangka bahwa memang Puspa Dewi telah menjadi seorang puteri, menjadi Puteri Sekar Kedaton (Puteri Bunga Istana) Kadipaten Wura wuri.
"Tadi engkau mengatakan bahwa engkau memang sedang mencari aku Nah, kita sekarang telah saling bertemu di tempat ini. Lalu apa yang kau inginkan dariku, Puspa Dewi?"
"Pertama, aku ingin membalaskan penghinaanmu terhadap ayahku ....."
"Ayah tirimu Ki Lurah Suramenggala itu?"
"Ya, ayah tiriku. Engkau telah bertindak sewenang-wenang dan menghinanya."
"Tenang dulu, Puspa Dewi. Sangat tidak adil kalau engkau hanya mendengarkan keterangan sepihak. Kau tahu apa yang telah dilakukan Ki Suramenggala padaku? Pertama, dia yang menyebabkan orang tuaku terpaksa melarikan diri dari Karang Tirta. Kedua, dia telah menipuku, membeli rumah dan pekarangan serta ladang orang tuaku hanya dengan memberi aku makan selama tiga tahun, itupun aku harus bekerja sebagai bujang untuknya. Ketiga, ketika aku datang untuk menanyakan tentang orang tuaku padanya, dia menyuruh para jagoannya untuk mengeroyok dan memukuli aku. Keempat, ternyata dia bersahabat dengan kepala gerombolan yang merampok di dusun Karang Sari. Nah, itulah sebabnya, aku menghajarnya, Puspa Dewi. Kalau engkau hendak membelanya, maka jelas bahwa engkau membela orang yang bersalah, engkau ikut salah juga. Kalau dia menjadi ayah tirimu, kewajibanmu adalah untuk menyadarkan dia agar kembali ke jalan benar, tidak memeras rakyatnya dan tidak bertindak sewenang-wenang."

Wajah gadis itu berubah merah, ia memang sudah menduga bahwa ayah tirinya bukan orang baik-baik dan sebetulnya ia sendiri juga menyesal dan kecewa mengapa ibunya mau dijadikan selir lurah itu.
"Hemm, akan kuselidiki dan kalau benar semua keteranganmu, aku pasti akan menyadarkannya. Akan tetapi ada sebuah hal lagi yang lebih penting, yaitu aku memenuhi pesan guruku agar mencarimu."
"Hemm, siapa gurumu itu? Kalau menyuruhmu mencariku berarti dia sudah mengenal aku. Dan mengapa dia menyuruh engkau mencariku, Puspa Dewi?"
"Guruku adalah ibu angkatku dan juga bernama Nyi Dewi Durgakumala dan kini menjadi Permaisuri Adipati Wura-wuri" kata Puspa Dewi dengan nada bangga.
Nurseta memandang ke arah pakaian dan perhiasan yang dipakai Puspa Dewi dan mengertilah dia kini. Keterangan ini sudah menjelaskan segalanya. Nyi Dewi Durgakumala adalah wanita cantik sakti yang dulu menculik Linggajaya. Kenapa malah sekarang Puspa Dewi yang dulu diculik oleh Resi Bajrasakti yang menjadi murid wanita itu? Dia teringat akan Linggajaya yang kini juga sakti mandraguna. Kalau begitu, tentu Linggajaya menjadi murid Resi Bajrasakti. Agaknya mereka berdua itu saling bertukar anak yang mereka culik. Dan diapun tidak heran melihat Puspa Dewi begitu berubah. Murid Nyi Dewi Durgakumala, datuk wanita sesat itu tentu saja menurunkan wataknya kepada muridnya, dan tidak aneh pula kalau Puspa Dewi memakai pakaian mewah dan perhiasan serba gemerlapan karena dara itu telah menjadi puteri Adipati Wura-wuri!
"Hemm, kiranya engkau sekarang telah menjadi anak lurah juga puteri adipati! Hebat! Lalu apa maksud Nyi Dewi Durgakumala,atau Gusti Permaisuri Adipati Wura-wuri itu mengutusmu mencari aku? ...”
"Serahkan keris pusaka Sang Megatantra kepadaku, Nurseta!" kata Puspa Dewi.
"Oh jadi itukah yang dikehendakinya? Apa hak gurumu dan engkau minta Sang Megatantra itu, Puspa Dewi? Pusaka itu bukan milikmu atau milik gurumu'"
"Jangan banyak cerewet. Serahkan Megatantra atau aku akan merampas dengan kekerasan!"
"Pusaka Megatantra adalah hak milik Sang Prabu Ertangga di Kahuripan."
“Tidak perduli, serahkan Megatantra padaku!" kata Puspa Dewi dengan alis berkerut.
"Bagaimana aku dapat menyerahkan Megatantra kepadamu kalau pusaka itu tidak berada di tanganku?"
"Bohong! Guruku mengatakan bahwa engkaulah yang menemukan pusaka itu daerah pantai Laut Kidul!"
"Benar, akan tetapi sekarang pusaka itu tidak berada padaku."
"Sudah kauserahkan kepada Sang Prabu Erlangga?"
"Belum, akan tetapi ....."
"Kalau begitu, berarti masih ada padamu?"
"Juga tidak, pusaka itu tidak ada padaku."
"Lalu di mana?"
Nurseta mepggeleng kepalanya. Sungguh aneh, pikirnya. Dara ini bersikap begini galak dan liar, akan tetapi dia sama sekali tidak menjadi tak senang atau marah. Agaknya tidak mungkin dia dapat marah kepada wajah yang manis dan yang amat menarik hatinya itu.
"Sayang, aku tidak dapat memberitahukan hal itu kepadamu."
"Nurseta! Kalau begitu engkau menantang aku?" bentak Puspa Dewi marah.
Nurseta tersenyum.
"Puspa Dewi, aku tidak pernah menantangmu. Di antara kita berdua tidak ada urusan apapun yang patut dipertentangkan. Kalau gurumu menghendaki Megatantra dariku, katakan saja bahwa Megatantra tidak ada padaku. Aku tidak berbohong dan selebihnya aku tidak dapat memberi tahu apa-apa lagi. Puspa Dewi, aku tahu bahwa engkau seorang dara perkasa yang baik hati, buktinya tadi engkau tidak suka melihat orang dikeroyok secara tidak adil dan membantu. Sadarilah bahwa Megatantra itu hak milik Kerajaan Kahuripan. Amat tidak baik menginginkan hak milik lain orang."
"Tidak perlu memberi wejangan! Cepat katakan di mana sekarang Sang Megatantra!" bentak Puspa Dewi jengkel
"Maaf, aku tidak dapat mengatakannya, Puspa Dewi."
"Keparat, kalau begitu aku harus menggunakan kekerasan memaksamu" kata dara itu dan ia lalu memasang kuda-kuda.

Kedua kaki agak ditekuk yang kanan di depan dan yang kiri ke belakang, kedua lengan dipentang seperti burung terbang. Itulah pembukaan dari Aji Guntur Geni. Melihat sikap dan gerakan gadis itu diam-diam Nurseta kagum. Sungguh dara itu tampak gagah bukan main.
"Terserah kepadamu, Puspa Dewi. Akan tetapi yang menghendaki perkelahian bukan aku, melainkan engkau." Kata Nurseta dengan sikap tenang dan dia berdiri santai saja, menanti gadis itu menyerang lebih dulu.
"Sambut seranganku Hyaaaaattt .....!"
Dara itu sudah membuka serangan. Cepat seperti kilat menyambar tubuhnya sudah menerjang ke depan, kedua lengan yang tadinya dipentang itu meluncur dengan cepat sekali, yang kanan memukul ke arah leher Nurseta dengan tangan miring, di susul tangan kiri yang mencengkeram ke arah perut pemuda itu! Bukan cengkraman biasa karena ia sudah menggunakan Aji Wisakenaka dalam cengkeraman itu sehingga kuku-kuku jarinya mengandung racun dan sekali menggores kulit lawan, kalau sampai terluka, dapat mendatangkan bahaya maut seperti gigitan ular berbisa!
"Hemm .....!" Nurseta melihat datangnya serangan yang berbahaya dan juga ganas itu. Dia telah menggunakan Aji Bayu Sakti dan tubuhnya sudah berkelebat, menghindar dari serangan kedua tangan gadis itu. Akan tetapi setelah serangan pertamanya luput dan gagal, Puspa Dewi sudah menyusulkan serangan beruntun dengan cepat dan kuat.
Setelah beberapa kali mengelak, Nurseta lalu melayani dara itu dengan gerakan silat Baka Denta. Tubuhnya berkelebatan dan terkadang melompat tinggi seperti seekor bangau terbang. Perkelahian berlangsung seru, saling serang dengan hebat. Namun sesungguhnya, Nurseta tentu saja tidak benar-benar dalam serangannya, tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya dan sama sekali tidak bermaksud melukai gadis itu. Dia hanya ingin mengalahkan tanpa melukai, akan tetapi hal ini sungguh amat sukar karena sepak terjang Puspa Dewi hebat dan ganas.
Setelah menahan semua serangan gadis itu dan terkadang membalas yang dapat pula dihindarkan Puspa Dewi, gadis itu menyerang dengan pukulan Guntur Geni yang mendatangkan hawa panas. Pukulan tangan kanan terbuka itu mengarah dada Nurseta. Melihat serangan ini, Nurseta mendapatkan kesempatan untuk mencapai maksudnya, yaitu mengalahkan tanpa melukai. Dia lalu mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan dari samping.
"Wuuuttt ..... dessss .....!!" Tubuh Puspa Dewi terdorong dari samping dengan kuatnya sehingga hampir saja ia terpelanting. Akan tetapi ia dapat berlompatan dan berjungkir balik tiga kali sehingga tidak sampai jatuh, hanya terhuyung saja. Namun hal itu sudah jelas menunjukkan bahwa ia kalah dalam pertandingan silat tangan kosong itu. Bukannya menerima dan mengakui kekalahannya, Puspa Dewi yang keras kepala dan keras hati itu malah menjadi semakin penasaran dan marah.
"Hemm, Nurseta! Aku belum kalah! Cabut senjatamu keris pusaka Megatantra dan coba lawan pedangku ini!" Gadis itu menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar hitam berkilauan dan tahu tahu Pedang Hitam Candrasa Langking sudah berada di tangannya.
"Sudah kukatakan bahwa Sang Megatantra tidak ada padaku dan aku tidak biasa menggunakan senjata, Puspa Dewi. Sudahlah, untuk apa kita bertanding? Biar aku mengaku kalah dan anggap saja engkau menang. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Puspa Dewi. Ingat, kita adalah orang-orang sedusun, sama sama berasal dari Karang Tirta." Nurseta membujuk.
"Kau pilih saja salah satu. Memberi tahu kepadaku di mana sekarang keris pusaka Sang Megatantra atau kalau engkau tidak mau mengatakannya, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan memaksamu dengan pedangku ini!"
"Wah, engkau ini nekat benar, Puspa Dewi. Sudah kukatakan bahwa keris pusaka itu tidak ada padaku dan keris pusaka itu adalah milik Sang Prabu Erlangga di Kahuripan karena itu merupakan pusaka Mataram yang harus diserahkan kepada keturunan raja Mataram. Untuk apa engkau nekat ingin memilikinya?"
"Tak perlu banyak cakap lagi. Aku hanya mentaati perintah guru atau ibu angkatku. Nah, katakan dimana Sang Megatantra!"
Nurseta menggeleng kepalanya.
"Tidak akan kukatakan kepada siapa juga."
"Kalau begitu sambutlah Candrasa Langking ini!" Puspa Dewi yang sudah merasa penasaran sekali karena tadi dalam pertandingan tangan kosong ia dikalahkan Nurseta, kini sudah maju dan menyerang dengan pedang hitamnya, tidak perduli bahwa Nurseta tidak membawa senjata. Pedangnya menyambar nyambar seperti kilat. Nurseta cepat menggerakkan tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti untuk mengatasi kecepatan sambaran pedang dan tubuhnya berkelebatan diantara gulungan sinar pedang hitam.

Permainan pedang dara itu memang hebat sekali dan akhirnya Nurseta terdesak juga karena dia tidak mau membalas dengan pukulan yang ampuh, takut kalau melukai gadis itu. Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri dengan mengelak, akhirnya dia akan terancam bahaya juga karena pedang hitam itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya. Terpaksa Nurseta lalu mengerahkan ajinya yang jarang dipergunakan, yaitu Aji Sirnasarira. Tiba-tiba saja Puspa Dewi mengeluarkan jeritan tertahan karena tiba-tiba ia kehilangan lawannya, tubuh Nurseta lenyap dan selagi ia meragu dan bingung mencari-cari bayangan Nurseta, siku kanannya ditepuk jari-jari tangan yang kuat sekali namun tidak tampak dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh dan tak dapat ditahannya lagi pedang hitam yang dipegangnya itupun terlepas dari tangannya. Ia terkejut sekali dan pada saat itu ia dapat melihat Nurseta lagi yang sudah berdiri sambil tersenyum kepadanya. Sejenak Puspa Dewi memandang nanar, tidak percaya akan apa yang dialaminya tadi. Tidak mungkin Nurseta menghilang lalu menyerangnya dengan tubuh yang tidak tampak! Akan tetapi kenyataannya, lengannya masih kesemutan dan pedangnya sudah menggeletak di atas tanah, terlepas dari pegangannya. Biarpun begitu, gadis yang berhati keras ini masih penasaran dan belum yakin bahwa dapat dikalahkan sedemikian mudahnya. Maka sambil menggigit bibir sendiri cepat menyambar pedangnya lagi dan kini mulutnya mengeluarkan jerit yang menggetarkan sekeliling tempat itu. Itulah Aji Jerit Guruh Bairawa! Dengan jerit ini saja, Puspa Dewi sudah mampu membuat lawannya tergetar hebat dan roboh. Dengan jeritnya yang dahsyat ini masih menyayat udara, ia sudah menggerakkan pedangnya lagi, menyerang dengan sekuat tenaga, pedangnya menyambar ke arah leher Nurseta!
"Singgg .....!" Pedang itu menyambar lebih dahsyat daripada tadi karena didukung dan didorong oleh Jerit Guruh Bairawa yang melengking nyaring! Namun dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Nurseta sudah menghindar dengan loncatan ringan ke belakang sehingga pedang itu hanya menyambar angin. Namun, Puspa Dewi yang sudah marah sekali dan hatinya dipenuhi rasa penasaran, sudah meloncat mengejar dan pedangnya berputar-putar sehingga berubah menjadi gulungan sinar yang berkelebatan mengirim serangan bertubi-tubi. Tubuh Nurseta melompat ke atas dan "lessss .....!" tubuh itu sudah lenyap lagi dari pandangan Puspa Dewi!

<<<Bagian 54                                                                                         Bagian 56 >>>

No comments:

Post a Comment