"Aku? Minta maaf padamu? Huh, tak tahu diri! Engkaulah yang harus minta maaf padaku karena engkau telah berani mengganggu dan mengancam hendak membunuh ayahku?"
"Siapa hendak membunuh
ayahmu?"
"Engkau mengamuk di rumah
ayahku dan engkau masih berani pura-pura bertanya lagi?"
"Hemm, aku mempunyai urusan
dengan Ki Lurah Suramenggala, bagaimana mungkin engkau menuduh aku mengganggu
ayahmu? Apakah Ki Lurah Suramenggala itu....."
"Dia ayahku dan jangan katakan
dia jahat!"
"Tapi..... setahuku engkau
adalah anak Bibi Lasmi yang telah janda ....."
"Ibuku telah menjadi isteri Ki
Lurah Suramenggala, maka dia adalah ayahku."
Nurseta mengangguk-angguk. Sebagai
orang yang pernah bekerja pada lurah itu, tentu saja dia tahu bahwa Ki Lurah
Suramenggala sudah mempunyai isteri bahkan setahu dia lurah itu sudah mempunyai
dua orang selir. Hemm, tentu Bibi Lasmi menjadi selirnya yang ke tiga,
pikirnya.
"Oo, begitukah?" kata
Nurseta sambil memandang wajah yang cantik jelita itu.
Memang Puspa Dewi kini telah menjadi
seorang dara yang dewasa dan cantik jelita. Dulu, ia seorang gadis remaja yang
sederhana seperti gadis desa pada umumnya, pakaiannya sederhana dan sikapnya lembut
dan pemalu. Akan tetapi kini, sungguh perubahan besar telah terjadi pada diri
dara itu. Dalam usianya yang sekitar Sembilan belas tahun itu, ia bagaikan
setangkai bunga yang sedang mekar mengharum. Kulitnya putih kuning mulus,
tubuhnya sedang dan padat dengan lekuk lengkung sempurna dan menggairahkan.
Rambutnya hitam panjang dan di dahinya serta pelipisnya, sinom (anak rambut)
melingkar-lingkar indah. Alisnya melengkung melindungi sepasang mata yang
bersinar-sinar seperti bintang, hidungnya kecil mancung dan bibirnya segar
merah membasah. Tahi lalat hitam kecil di dagu itu menambah kemanisannya. Dan
yang mencolok sekali, sikapnya yang dulu pendiam dan pemalu itu, kini sama
sekali berubah. Kini ia menjadi seorang dara sakti mandraguna yang lincah dan tampak
liar dan ganas! Juga pakaiannya serba mewah dan indah, seperti seorang puteri
saja! Tentu saja ia sama sekali tidak menyangka bahwa memang Puspa Dewi telah
menjadi seorang puteri, menjadi Puteri Sekar Kedaton (Puteri Bunga Istana)
Kadipaten Wura wuri.
"Tadi engkau mengatakan bahwa
engkau memang sedang mencari aku Nah, kita sekarang telah saling bertemu di
tempat ini. Lalu apa yang kau inginkan dariku, Puspa Dewi?"
"Pertama, aku ingin membalaskan
penghinaanmu terhadap ayahku ....."
"Ayah tirimu Ki Lurah
Suramenggala itu?"
"Ya, ayah tiriku. Engkau telah
bertindak sewenang-wenang dan menghinanya."
"Tenang dulu, Puspa Dewi.
Sangat tidak adil kalau engkau hanya mendengarkan keterangan sepihak. Kau tahu
apa yang telah dilakukan Ki Suramenggala padaku? Pertama, dia yang menyebabkan
orang tuaku terpaksa melarikan diri dari Karang Tirta. Kedua, dia telah
menipuku, membeli rumah dan pekarangan serta ladang orang tuaku hanya dengan
memberi aku makan selama tiga tahun, itupun aku harus bekerja sebagai bujang untuknya.
Ketiga, ketika aku datang untuk menanyakan tentang orang tuaku padanya, dia
menyuruh para jagoannya untuk mengeroyok dan memukuli aku. Keempat, ternyata
dia bersahabat dengan kepala gerombolan yang merampok di dusun Karang Sari.
Nah, itulah sebabnya, aku menghajarnya, Puspa Dewi. Kalau engkau hendak
membelanya, maka jelas bahwa engkau membela orang yang bersalah, engkau ikut
salah juga. Kalau dia menjadi ayah tirimu, kewajibanmu adalah untuk menyadarkan
dia agar kembali ke jalan benar, tidak memeras rakyatnya dan tidak bertindak
sewenang-wenang."
Wajah gadis itu berubah merah, ia
memang sudah menduga bahwa ayah tirinya bukan orang baik-baik dan sebetulnya ia
sendiri juga menyesal dan kecewa mengapa ibunya mau dijadikan selir lurah itu.
"Hemm, akan kuselidiki dan
kalau benar semua keteranganmu, aku pasti akan menyadarkannya. Akan tetapi ada
sebuah hal lagi yang lebih penting, yaitu aku memenuhi pesan guruku agar
mencarimu."
"Hemm, siapa gurumu itu? Kalau
menyuruhmu mencariku berarti dia sudah mengenal aku. Dan mengapa dia menyuruh
engkau mencariku, Puspa Dewi?"
"Guruku adalah ibu angkatku dan
juga bernama Nyi Dewi Durgakumala dan kini menjadi Permaisuri Adipati
Wura-wuri" kata Puspa Dewi dengan nada bangga.
Nurseta memandang ke arah pakaian
dan perhiasan yang dipakai Puspa Dewi dan mengertilah dia kini. Keterangan ini
sudah menjelaskan segalanya. Nyi Dewi Durgakumala adalah wanita cantik sakti
yang dulu menculik Linggajaya. Kenapa malah sekarang Puspa Dewi yang dulu
diculik oleh Resi Bajrasakti yang menjadi murid wanita itu? Dia teringat akan
Linggajaya yang kini juga sakti mandraguna. Kalau begitu, tentu Linggajaya
menjadi murid Resi Bajrasakti. Agaknya mereka berdua itu saling bertukar anak
yang mereka culik. Dan diapun tidak heran melihat Puspa Dewi begitu berubah.
Murid Nyi Dewi Durgakumala, datuk wanita sesat itu tentu saja menurunkan
wataknya kepada muridnya, dan tidak aneh pula kalau Puspa Dewi memakai pakaian
mewah dan perhiasan serba gemerlapan karena dara itu telah menjadi puteri
Adipati Wura-wuri!
"Hemm, kiranya engkau sekarang
telah menjadi anak lurah juga puteri adipati! Hebat! Lalu apa maksud Nyi Dewi
Durgakumala,atau Gusti Permaisuri Adipati Wura-wuri itu mengutusmu mencari aku?
...”
"Serahkan keris pusaka Sang
Megatantra kepadaku, Nurseta!" kata Puspa Dewi.
"Oh jadi itukah yang
dikehendakinya? Apa hak gurumu dan engkau minta Sang Megatantra itu, Puspa
Dewi? Pusaka itu bukan milikmu atau milik gurumu'"
"Jangan banyak cerewet.
Serahkan Megatantra atau aku akan merampas dengan kekerasan!"
"Pusaka Megatantra adalah hak
milik Sang Prabu Ertangga di Kahuripan."
“Tidak perduli, serahkan Megatantra
padaku!" kata Puspa Dewi dengan alis berkerut.
"Bagaimana aku dapat
menyerahkan Megatantra kepadamu kalau pusaka itu tidak berada di
tanganku?"
"Bohong! Guruku mengatakan
bahwa engkaulah yang menemukan pusaka itu daerah pantai Laut Kidul!"
"Benar, akan tetapi sekarang
pusaka itu tidak berada padaku."
"Sudah kauserahkan kepada Sang
Prabu Erlangga?"
"Belum, akan tetapi ....."
"Kalau begitu, berarti masih ada
padamu?"
"Juga tidak, pusaka itu tidak
ada padaku."
"Lalu di mana?"
Nurseta mepggeleng kepalanya.
Sungguh aneh, pikirnya. Dara ini bersikap begini galak dan liar, akan tetapi
dia sama sekali tidak menjadi tak senang atau marah. Agaknya tidak mungkin dia dapat
marah kepada wajah yang manis dan yang amat menarik hatinya itu.
"Sayang, aku tidak dapat
memberitahukan hal itu kepadamu."
"Nurseta! Kalau begitu engkau
menantang aku?" bentak Puspa Dewi marah.
Nurseta tersenyum.
"Puspa Dewi, aku tidak pernah
menantangmu. Di antara kita berdua tidak ada urusan apapun yang patut
dipertentangkan. Kalau gurumu menghendaki Megatantra dariku, katakan saja bahwa
Megatantra tidak ada padaku. Aku tidak berbohong dan selebihnya aku tidak dapat
memberi tahu apa-apa lagi. Puspa Dewi, aku tahu bahwa engkau seorang dara
perkasa yang baik hati, buktinya tadi engkau tidak suka melihat orang dikeroyok
secara tidak adil dan membantu. Sadarilah bahwa Megatantra itu hak milik
Kerajaan Kahuripan. Amat tidak baik menginginkan hak milik lain orang."
"Tidak perlu memberi wejangan!
Cepat katakan di mana sekarang Sang Megatantra!" bentak Puspa Dewi jengkel
"Maaf, aku tidak dapat
mengatakannya, Puspa Dewi."
"Keparat, kalau begitu aku
harus menggunakan kekerasan memaksamu" kata dara itu dan ia lalu memasang
kuda-kuda.
Kedua kaki agak ditekuk yang kanan
di depan dan yang kiri ke belakang, kedua lengan dipentang seperti burung
terbang. Itulah pembukaan dari Aji Guntur Geni. Melihat sikap dan gerakan gadis
itu diam-diam Nurseta kagum. Sungguh dara itu tampak gagah bukan main.
"Terserah kepadamu, Puspa Dewi.
Akan tetapi yang menghendaki perkelahian bukan aku, melainkan engkau."
Kata Nurseta dengan sikap tenang dan dia berdiri santai saja, menanti gadis itu
menyerang lebih dulu.
"Sambut seranganku Hyaaaaattt
.....!"
Dara itu sudah membuka serangan.
Cepat seperti kilat menyambar tubuhnya sudah menerjang ke depan, kedua lengan
yang tadinya dipentang itu meluncur dengan cepat sekali, yang kanan memukul ke
arah leher Nurseta dengan tangan miring, di susul tangan kiri yang mencengkeram
ke arah perut pemuda itu! Bukan cengkraman biasa karena ia sudah menggunakan
Aji Wisakenaka dalam cengkeraman itu sehingga kuku-kuku jarinya mengandung
racun dan sekali menggores kulit lawan, kalau sampai terluka, dapat mendatangkan
bahaya maut seperti gigitan ular berbisa!
"Hemm .....!" Nurseta
melihat datangnya serangan yang berbahaya dan juga ganas itu. Dia telah
menggunakan Aji Bayu Sakti dan tubuhnya sudah berkelebat, menghindar dari
serangan kedua tangan gadis itu. Akan tetapi setelah serangan pertamanya luput
dan gagal, Puspa Dewi sudah menyusulkan serangan beruntun dengan cepat dan
kuat.
Setelah beberapa kali mengelak,
Nurseta lalu melayani dara itu dengan gerakan silat Baka Denta. Tubuhnya
berkelebatan dan terkadang melompat tinggi seperti seekor bangau terbang.
Perkelahian berlangsung seru, saling serang dengan hebat. Namun sesungguhnya,
Nurseta tentu saja tidak benar-benar dalam serangannya, tidak mengerahkan
tenaga sepenuhnya dan sama sekali tidak bermaksud melukai gadis itu. Dia hanya
ingin mengalahkan tanpa melukai, akan tetapi hal ini sungguh amat sukar karena
sepak terjang Puspa Dewi hebat dan ganas.
Setelah menahan semua serangan gadis
itu dan terkadang membalas yang dapat pula dihindarkan Puspa Dewi, gadis itu menyerang
dengan pukulan Guntur Geni yang mendatangkan hawa panas. Pukulan tangan kanan
terbuka itu mengarah dada Nurseta. Melihat serangan ini, Nurseta mendapatkan
kesempatan untuk mencapai maksudnya, yaitu mengalahkan tanpa melukai. Dia lalu
mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan dari samping.
"Wuuuttt ..... dessss
.....!!" Tubuh Puspa Dewi terdorong dari samping dengan kuatnya sehingga
hampir saja ia terpelanting. Akan tetapi ia dapat berlompatan dan berjungkir
balik tiga kali sehingga tidak sampai jatuh, hanya terhuyung saja. Namun hal
itu sudah jelas menunjukkan bahwa ia kalah dalam pertandingan silat tangan
kosong itu. Bukannya menerima dan mengakui kekalahannya, Puspa Dewi yang keras
kepala dan keras hati itu malah menjadi semakin penasaran dan marah.
"Hemm, Nurseta! Aku belum
kalah! Cabut senjatamu keris pusaka Megatantra dan coba lawan pedangku
ini!" Gadis itu menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar hitam
berkilauan dan tahu tahu Pedang Hitam Candrasa Langking sudah berada di
tangannya.
"Sudah kukatakan bahwa Sang
Megatantra tidak ada padaku dan aku tidak biasa menggunakan senjata, Puspa
Dewi. Sudahlah, untuk apa kita bertanding? Biar aku mengaku kalah dan anggap
saja engkau menang. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Puspa Dewi. Ingat,
kita adalah orang-orang sedusun, sama sama berasal dari Karang Tirta."
Nurseta membujuk.
"Kau pilih saja salah satu.
Memberi tahu kepadaku di mana sekarang keris pusaka Sang Megatantra atau kalau
engkau tidak mau mengatakannya, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan
memaksamu dengan pedangku ini!"
"Wah, engkau ini nekat benar,
Puspa Dewi. Sudah kukatakan bahwa keris pusaka itu tidak ada padaku dan keris
pusaka itu adalah milik Sang Prabu Erlangga di Kahuripan karena itu merupakan
pusaka Mataram yang harus diserahkan kepada keturunan raja Mataram. Untuk apa
engkau nekat ingin memilikinya?"
"Tak perlu banyak cakap lagi.
Aku hanya mentaati perintah guru atau ibu angkatku. Nah, katakan dimana Sang
Megatantra!"
Nurseta menggeleng kepalanya.
"Tidak akan kukatakan kepada
siapa juga."
"Kalau begitu sambutlah
Candrasa Langking ini!" Puspa Dewi yang sudah merasa penasaran sekali
karena tadi dalam pertandingan tangan kosong ia dikalahkan Nurseta, kini sudah
maju dan menyerang dengan pedang hitamnya, tidak perduli bahwa Nurseta tidak
membawa senjata. Pedangnya menyambar nyambar seperti kilat. Nurseta cepat
menggerakkan tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti untuk mengatasi kecepatan sambaran
pedang dan tubuhnya berkelebatan diantara gulungan sinar pedang hitam.
Permainan pedang dara itu memang
hebat sekali dan akhirnya Nurseta terdesak juga karena dia tidak mau membalas
dengan pukulan yang ampuh, takut kalau melukai gadis itu. Akan tetapi kalau
terus mempertahankan diri dengan mengelak, akhirnya dia akan terancam bahaya
juga karena pedang hitam itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.
Terpaksa Nurseta lalu mengerahkan ajinya yang jarang dipergunakan, yaitu Aji
Sirnasarira. Tiba-tiba saja Puspa Dewi mengeluarkan jeritan tertahan karena
tiba-tiba ia kehilangan lawannya, tubuh Nurseta lenyap dan selagi ia meragu dan
bingung mencari-cari bayangan Nurseta, siku kanannya ditepuk jari-jari tangan
yang kuat sekali namun tidak tampak dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh
dan tak dapat ditahannya lagi pedang hitam yang dipegangnya itupun terlepas
dari tangannya. Ia terkejut sekali dan pada saat itu ia dapat melihat Nurseta
lagi yang sudah berdiri sambil tersenyum kepadanya. Sejenak Puspa Dewi
memandang nanar, tidak percaya akan apa yang dialaminya tadi. Tidak mungkin
Nurseta menghilang lalu menyerangnya dengan tubuh yang tidak tampak! Akan
tetapi kenyataannya, lengannya masih kesemutan dan pedangnya sudah menggeletak
di atas tanah, terlepas dari pegangannya. Biarpun begitu, gadis yang berhati
keras ini masih penasaran dan belum yakin bahwa dapat dikalahkan sedemikian
mudahnya. Maka sambil menggigit bibir sendiri cepat menyambar pedangnya lagi
dan kini mulutnya mengeluarkan jerit yang menggetarkan sekeliling tempat itu.
Itulah Aji Jerit Guruh Bairawa! Dengan jerit ini saja, Puspa Dewi sudah mampu
membuat lawannya tergetar hebat dan roboh. Dengan jeritnya yang dahsyat ini
masih menyayat udara, ia sudah menggerakkan pedangnya lagi, menyerang dengan
sekuat tenaga, pedangnya menyambar ke arah leher Nurseta!
"Singgg .....!" Pedang itu
menyambar lebih dahsyat daripada tadi karena didukung dan didorong oleh Jerit
Guruh Bairawa yang melengking nyaring! Namun dengan gerakan yang lebih cepat
lagi, Nurseta sudah menghindar dengan loncatan ringan ke belakang sehingga
pedang itu hanya menyambar angin. Namun, Puspa Dewi yang sudah marah sekali dan
hatinya dipenuhi rasa penasaran, sudah meloncat mengejar dan pedangnya
berputar-putar sehingga berubah menjadi gulungan sinar yang berkelebatan
mengirim serangan bertubi-tubi. Tubuh Nurseta melompat ke atas dan "lessss
.....!" tubuh itu sudah lenyap lagi dari pandangan Puspa Dewi!
No comments:
Post a Comment