Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 54


Juga Cekel Aksonolo dan Dibyo Mamangkoro tertegun melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda sederhana berdiri di situ.
"Kanjeng Ratu, seperti yang saya dengar tadi, paduka adalah seorang ratu kerajaan Siluman Laut Kidul. Akan tetapi mengapa paduka bertindak curang dan kejam, mengeroyok Eyang Empu Dewamurti yang tidak bersalah apa-apa? Apakah perbuatan paduka itu dapat dikatakan adil dan gagah? Eyang Empu Dewamurti sudah tua dan selalu mengasingkan diri tidak pernah mengganggu yang lain, akan tetapi paduka dan teman-teman paduka mengeroyoknya! Saya menuntut penjelasan dari paduka!"
Ratu Mayang Cupita mengamati pemuda itu dan diam-diam ia merasa heran sekali. Pemuda yang usianya paling banyak dua puluh dua tahun itu hanya seorang yang sederhana, pakaian maupun sikap dan bicaranya, namun pandangan matanya mencorong penuh wibawa. Dari gerakan pemunculannya tadi, sang ratu dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi. Maka ia bersikap hati hati dan menekan kesombongannya.
"Hemm, orang muda. Sebelum kami menjawab pertanyaanmu, katakan dulu siapa kamu dan mengapa engkau hendak mengurus tentang kematian Empu Dewamurti! Hayo jawab."
"Kanjeng Ratu, nama saya Nurseta dan sudah menjadi kewajiban saya untuk mengetahui sebab kematian Eyang Empu Dewamurti karena beliau adalah guru saya."
"Bagus! Jadi andika ini muridnya! Hemm, kalau begitu kami yakin bahwa engkau pasti tahu di mana adanya Sang Megatantra, keris pusaka itu. Hayo katakan, di mana keris itu atau aku akan mengirim engkau pergi menyusul gurumu!"
Ratu Mayang Gupita girang sekali karena timbul pula harapannya akan dapat menemukan dan memiliki keris pusaka Sang Megatantra yang diperebutkan semua kerajaan itu. Semua raja yakin bahwa sekali mereka dapat menguasai sang Megatantra, berarti wahyu mahkota berada di tangan mereka dan menjatuhkan Kahuripan merupakan hal yang mudah dan pasti!
Nurseta mengangguk-angguk.
"O, begitukan? Jadi paduka dan wakil-wakil dari Wengker dan Wura wuri itu menyerang mendiang eyang guru karena hendak mendapatkan Sang Megatantra?"
“Benar, karena dia tidak mau menyerahkan Sang Megatantra, maka kami menyerangnya! Dan sekarang, kebetulan andika muridnya berada di sini. Hayo, cepat katakan di mana adanya Sang Megatantra. Kalau andika menyerahkan pusaka itu kepada kami, kami akan memberi imbalan hadiah besar. Akan tetapi sebaliknya kalau tidak andika berikan, andika akan disiksa sampai mati!"
'Hemm, terus terang saja, Sang Megatantra tidak berada di tangan saya saat ini Akan tetapi, andaikata keris pusaka itu berada di tangan saya, pusaka itu tidak akan saya berikan kepada siapapun juga. Sang Megatantra adalah pusaka kerajaan Mataram atau yang sekarang bernama Kerajaan Kahuripan. Maka,sudah seharusnya pusaka itu dikembalikan kepada yang berhak, yaitu pada saat ini adalah Sang Prabu Erlangga, raja Kahuripan. Jadi kalau paduka menghendaki Sang Megatantra, berarti paduka hendak merampas hak milik orang lain!"
"Nurseta, jangan banyak cakap! Katakan sekarang juga di mana adanya Sang Megatantra!" bentak Ratu Mayang Gupita marah.
Nurseta tersenyum dan menggeleng kepala.
"Terpaksa aku tidak dapat mengatakan di mana!" katanya tegas.
"Jahanam keparat! Hyaaaattt....”
Mayang Gupita sudah menyerangnya dengan pukulan yang mengeluarkan bola api kearah Nurseta. Akan tetapi pemuda ini sudah siap. Tadi dia sudah menyaksikan kedahsyatan pukulan itu ketika ratu itu melawan kedua orang laki-laki yang saat itu masih berdiri sambil memandang dan mendengarkan penuh perhatian.

Menghadapi serangan itu, Nurseta tidak mau melawan dengan kekerasan. Dia lalu bergerak dengan ilmu silat Baka Dewa dan tubuhnya berkelebat ke samping sehingga serangan tenaga sakti yang membentuk bola api itu luput, tidak mengenai dirinya. Kemudian dari samping dia menerjang ke depan dan menampar ke arah pundak Ratu Mayang Gupita, serangan ini saja membuktikan bahwa Nurseta tidak dikuasai nafsu dendam. Tangannya bukan merupakan serangan maut, dan sasarannya hanya pundak, berarti dia masih menguasai perasaannya dan tidak digelapkan oleh nafsu amarah. Namun, karena dia menggunakan tenaga sakti yang amat kuat, maka tamparan itu mendatangkan hawa pukulan yang rasa panas oleh pundak Ratu Mayang Gupita sebelum jari tangan Nurseta mengenai sasaran.
"Haiiiihhh .....!" Wanita raksasa itu menggerakkan tangannya menangkis tamparan itu dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
"Wuuuttt ..... plakkk!"
Ratu Mayang Gupita terkejut bukan main. Lengannya bertemu dengan tangan yang mengandung getaran dahsyat dan terasa panas olehnya. Terpaksa ia melompat jauh ke belakang untuk menghentikan getaran yang membuat tubuhnya terguncang. Diam-diam ia terkejut akan tetapi tidak heran mengingat bahwa pemuda ini adalah murid mendiang Empu Dewamurti. Tentu saja pemuda inipun memiliki kesaktian yang tak boleh dipandang ringan. Betapapun juga, ia merasa penasaran dan juga malu. Di situ terdapat Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo yang menyaksikan pertandingan itu. Tentu saja amat memalukan dan merendahkan kalau ia sampai kalah oleh seorang pemuda remaja! Maka, sambil mengeluarkan bentakan nyaring yang mengandung kekuatan sihir, ia menerjang lagi ke depan, kini membentuk cakar dengan kedua tangannya. Jari-jarinya menjadi cakar harimau dan kuku-kukunya berubah menghitam. Setiap ujung kuku jari itu mengandung hawa beracun dan ini merupakan aji yang amat keji dan berbahaya. Baru bentakan melengking yang keluar dari mulutnya itu saja sudah mampu mengguncangkan jantung lawan dan yang kurang kuat sudah dapat dilumpuhkan oleh bentakan itu. Apalagi disusul terkaman dengan kuku-kuku jari yang berbisa seperti itu. Sungguh merupakan serangan maut yang amat berbahaya. Namun Nurseta bersikap tenang. Dia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya dapat berkelebatan cepat sekali bagaikan angin sehingga semua serangan berupa cengkeraman dan tamparan kedua tangan yang kukunya berubah hitam itu tak pernah menyentuh kulit tubuhnya. Dan menghadapi serangan maut bertubi-tubi itu tahulah Nurseta bahwa dia tidak mungkin hanya menghindarkan diri saja karena hal ini membahayakan dirinya sendiri. Bela diri yang baik bukan sekadar mempertahankan dan melindungi diri, melainkan balas menyerang karenanya dengan demikian maka daya serangan lawan dapat dilumpuhkan atau setidaknya dikurangi kehebatannya.
"Yaaaahhh!" Dia berseru dan ketika tangan kanan Ratu Mayang Gupita mencengkeram ke arah kepalanya, dia menggerakkan diri ke kiri, kemudian tangan kanannya bergerak memukul lengan lawan itu dari samping dengan tangan dimiringkan.
"Wuuultt ..... desss!!"
Pukulan tangan Nurseta itu tepat mengenai lengan lawan di bawah siku. Seketika tubuh Ratu Mayang Gupita terjengkang ke belakang dan tubuhnya terhuyung-huyung. Lengannya terasa nyeri bukan main, seolah tulangnya patah. Akan tetapi setelah meneliti ternyata tulang lengannya tidak patah hanya terasa nyeri, ia terkejut sekali.

Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo tadinya hanya menonton saja karena merasa hampir yakin bahwa ratu yang sakti mandraguna, yang tadi mampu menandingi mereka, pasti akan dapat merobohkan pemuda itu dalam waktu singkat. Akan tetapi alangkah heran dan kaget hati mereka melihat betapa semua serangan Ratu Mayang Gupita tak pernah mengenai sasaran, lebih lagi ketika kini melihat ratu itu terhuyung-huyung dan agaknya kesakitan. Mereka berdua memang sudah condong memihak Ratu Mayang Gupita yang menjadi musuh Kerajaan Kahuripan. Maka melihat wanita itu terdesak, sekali saling pandang mereka sudah bersepakat untuk membantu Ratu Mayang Gupita. Keduanya lalu tanpa mengeluarkan kata-kata lagi menerjang maju mengeroyok Nurseta.
"Trik-rik-rik-tik .....!!"
Dengan mengeluarkan bunyi berkeritikan yang mengandung getaran kuat, tasbih di tangan Cekel Aksomolo berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung menyambar ke arah kepala Nurseta.
"Wuuussss .....!"
Hawa pukulan yang mengandung hawa panas seperti api dan juga mengandung racun mematikan menyambar dari tangan Dibyo Mamangkoro ketika raksasa ini menyerang dengan aji pukulan Wisangnolo, meluncur ke arah dada pemuda itu. Nurseta yang waspada sejak semula, melihat datangnya dua serangan ini dan cepat dia melompat dan menghindar dengan ilmu meringankan tubuhnya, yaitu Aji Bayu Sakti. Melihat dua orang itu membantunya, besarlah hati Ratu Mayang Gupita yang tadinya sudah merasa gentar, iapun berteriak dan menerjang lagi, mengeroyok pemuda itu. Dikeroyok oleh tiga orang yang memiliki kesaktian tinggi itu, tentu saja Nurseta menjadi kewalahan dan dia hanya dapat menghindarkan diri mengandalkan Aji Bayu Sakti. Tubuhnya seolah menjadi bayangan yang berkelebatan antara tiga orang pengeroyoknya. Selagi dia hendak mempergunakan aji pamungkasnya yang amat hebat, yaitu Aji Tiwikrama yang dapat membuat tubuhnya tampak besar sekali oleh lawan, atau Aji Sirnasarira yang membuat tubuhnya tidak dapat tampak oleh lawan, tiba-tiba terdengar teriakan melengking.
"Curang! Curang! Tiga orang mengeroyok satu orang!"

Orang yang mencela ini bukan lain adalah Puspa Dewi. Seperti kita ketahui, setelah tamat mempelajari aji-aji kesaktian dari Nyi Dewi Durgakumala, kemudian menjadi puteri Raja Wura-wuri karena Nyi Dewi Durgakumala diambil isteri dan menjadi permaisuri Raja atau Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-wuri. la diangkat menjadi anak oleh Nyi Dewi Durgakumala sehingga dengan sendirinya ia menjadi Puteri Sekar Keraton di Wura-wuri! Kemudian ia mendapat tugas dari Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala untuk mewakili Wura-wuri dan membantu gerakan yang dilakukan kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Ia ditugaskan untuk bergabung dengan Puteri Lasmini dan Puteri Mandari, dua orang Puteri dari Kerajaan Parang Siluman yang kini menjadi isteri Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga dalam usaha mereka untuk meruntuhkan kekuasaan raja dan patihnya yang dimusuhi itu. Juga ia ditugaskan untuk merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta. Selain itu, ia juga ditugaskan Nyi Dewi Durgakumala untuk membunuh Ki Patih Narotama yang pernah membikin guru atau ibu angkatnya itu patah hati. Dalam perjalanannya itu, ditengah jalan ia melihat seorang pemuda dikeroyok tiga orang dan mereka semua mempergunakan aji kesaktian, maka ia merasa penasaran lalu terjun ke dalam pertempuran tanpa bertanya lagi, membantu pemuda yang dikeroyok sesuai dengan naluri jiwanya yang tidak senang melihat ketidak-adilan. Terjangan Puspa Dewi dahsyat dan ganas sekali. Melihat kehebatan tiga orang yang mengeroyok pemuda itu, sudah mencabut pedangnya. Begitu menerjang dengan pedang pusaka Candrasa Langking, pedang itu berubah menjadi segulungan sinar hitam yang menyambar nyambar!
"Tranggg .....!"
Tasbih di tangan Cekel Aksomolo terpental ketika bertemu dengan pedang di tangan Puspa Dewi sehingga tokoh sesat duplikat Durna itu terkejut dan melompat ke belakang. Puspa Dewi tidak perduli dan ia sudah menyerang Ratu Mayang Gupita dengan pedang hitamnya. Wanita raksasa itupun terkejut karena sambaran pedang itu dahsyat sekali, mengeluarkan suara berdesing dan terasa hawanya yang panas karena mengandung racun yang amat kuat. Iapun melompat ke belakang dan siap melontarkan pukulan tangan yang mengeluarkan bola api. Namun, begitu ia mendorongkan tangannya, Puspa Dewi sudah menyambut dengan dorongan tangan kiri dengan Aji Guntur Geni.
"Bresss .....!"
Dua aji pukulan dahsyat itu bertemu di udara dan akibatnya tubuh Puspa Dewi terpental ke belakang. Akan tetapi gadis ini dengan keras kepala sudah menerjang lagi dengan nekat. Pedangnya diputar di depan tubuhnya seperti kitiran, membentuk sinar bergulung-gulung dan menyerang ke arah tubuh Ratu Mayang Gupita. Diserang seperti itu, wanita raksasa itu lalu cepat mencabut sebatang keris panjang dari pinggangnya dan menangkis, lalu balas menyerang. Kedua orang wanita itu sudah saling serang.

Sementara itu, Dibyo Mamangkoro yang menyerang Nurseta dengan pukulan Aji Wisangnolo, disambut oleh Nurseta dengan dorongan tangan. Ketika dua pukulan itu bertemu, Dibyo Manmangkoro terhuyung ke belakang. Bantuan Puspa Dewi mengejutkan tiga orang itu dan mereka merasa jerih. Baru melawan Nurseta seorang diri saja mereka bertiga tadi belum mampu mengalahkannya. Kini muncul gadis liar itu yang memiliki ilmu yang liar pula. Maka Ratu Mayang Gupita lalu melompat dan memasuki keretanya yang lalu dilarikan cepat. Ketika Puspa Dewi hendak mengejarnya, ia disambut oleh belasan orang perajurit pengawal. Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo lalu maju membantu para pengawal karena baru beberapa gebrakan saja, pedang hitam di tangan Puspa Dewi telah merobohkan dua orang perajurit. Begitu dua orang sakti ini maju dan menyerang, Dibyo Mamangkoro dengan pukulan jarak jauhnya dan Cekel Aksomolo dengan tasbihnya, Puspa Dewi terkejut dan mau tidak mau harus berlompatan ke belakang. Terlalu berbahaya serangan dua orang itu. Begitu ia melompat kebelakang, dua orang tokoh sesat itu lalu melarikan diri bersama para pengawal, mengejar kereta yang ditumpangi Ratu Mayang Gupita yang lari terlebih dulu. Puspa Dewi yang nekat itu hendak melakukan pengejaran sambil memaki maki.
"Heh, orang-orang pengecut hina, Hendak lari ke mana kalian?"
Akan tetapi terdengar suara di belakangnya,
"Puspa Dewi, kukira tidak perlu mengejar mereka."
Dara itu menahan langkahnya dan berbalik dengan cepat, mengamati wajah Nurseta dan bertanya dengan ketus,
"Heh!! Dari mana engkau mengetahui namaku, hah?"
Nurseta tersenyum. Kegalakan dara itu baginya tampak lucu sekali, seperti melihat seorang anak kecil yang bandel.
"Puspa Dewi, tentu saja aku mengenalmu karena engkau adalah seorang gadis tukang keroyok. Tanpa tahu masalahnya engkau langsung saja mengeroyok dan menyerang!"
"He? Engkau..... tak tahu diuntung, tak mengenal budi! Aku tadi bukan mengeroyokmu, malah membantu kamu yang dikeroyok! Bagaimana engkau berani mengatakan bahwa aku tukang keroyok?"
"Sekarang memang engkau membantu aku dan untuk itu, biarlah kuucapkan terima kasih. Akan tetapi tempo hari, didusun kita Karang Tirta, tiada hujan tiada angin engkau datang-datang mengeroyok aku!"
"Di..... Karang Tirta.....? Eh, oh, ingat aku sekarang. Engkau adalah Nurseta, kan?"
"Sekarang baru engkau ingat padaku, Biarlah kesalahanmu yang sudah berlalu itu kubikin habis sampai di sini saja karena kesalahan itu telah kau tebus hari ini dengan menolongku terlepas dari ancaman bahaya."
Puspa Dewi menegakkan kepalanya dan membusungkan dadanya sambil memandang wajah Nurseta dengan mata bersinar.
"Bagus sekali kita dapat bertemu di sini, Nurseta. Memang aku sedang mencarimu!"
"Hemm, engkau mencari aku, Puspa Dewi? Apakah untuk minta maaf bahwa engkau dahulu itu sudah mengeroyokku bersama Linggajaya?"

<<<Bagian 53                                                                                          Bagian 55 >>>

No comments:

Post a Comment