Juga Cekel Aksonolo dan Dibyo Mamangkoro tertegun melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda sederhana berdiri di situ.
"Kanjeng Ratu, seperti yang
saya dengar tadi, paduka adalah seorang ratu kerajaan Siluman Laut Kidul. Akan
tetapi mengapa paduka bertindak curang dan kejam, mengeroyok Eyang Empu
Dewamurti yang tidak bersalah apa-apa? Apakah perbuatan paduka itu dapat
dikatakan adil dan gagah? Eyang Empu Dewamurti sudah tua dan selalu
mengasingkan diri tidak pernah mengganggu yang lain, akan tetapi paduka dan
teman-teman paduka mengeroyoknya! Saya menuntut penjelasan dari paduka!"
Ratu Mayang Cupita mengamati pemuda
itu dan diam-diam ia merasa heran sekali. Pemuda yang usianya paling banyak dua
puluh dua tahun itu hanya seorang yang sederhana, pakaian maupun sikap dan
bicaranya, namun pandangan matanya mencorong penuh wibawa. Dari gerakan
pemunculannya tadi, sang ratu dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang
pemuda yang memiliki kepandaian tinggi. Maka ia bersikap hati hati dan menekan
kesombongannya.
"Hemm, orang muda. Sebelum kami
menjawab pertanyaanmu, katakan dulu siapa kamu dan mengapa engkau hendak
mengurus tentang kematian Empu Dewamurti! Hayo jawab."
"Kanjeng Ratu, nama saya
Nurseta dan sudah menjadi kewajiban saya untuk mengetahui sebab kematian Eyang
Empu Dewamurti karena beliau adalah guru saya."
"Bagus! Jadi andika ini
muridnya! Hemm, kalau begitu kami yakin bahwa engkau pasti tahu di mana adanya
Sang Megatantra, keris pusaka itu. Hayo katakan, di mana keris itu atau aku
akan mengirim engkau pergi menyusul gurumu!"
Ratu Mayang Gupita girang sekali
karena timbul pula harapannya akan dapat menemukan dan memiliki keris pusaka
Sang Megatantra yang diperebutkan semua kerajaan itu. Semua raja yakin bahwa
sekali mereka dapat menguasai sang Megatantra, berarti wahyu mahkota berada di
tangan mereka dan menjatuhkan Kahuripan merupakan hal yang mudah dan pasti!
Nurseta mengangguk-angguk.
"O, begitukan? Jadi paduka dan
wakil-wakil dari Wengker dan Wura wuri itu menyerang mendiang eyang guru karena
hendak mendapatkan Sang Megatantra?"
“Benar, karena dia tidak mau
menyerahkan Sang Megatantra, maka kami menyerangnya! Dan sekarang, kebetulan
andika muridnya berada di sini. Hayo, cepat katakan di mana adanya Sang
Megatantra. Kalau andika menyerahkan pusaka itu kepada kami, kami akan memberi
imbalan hadiah besar. Akan tetapi sebaliknya kalau tidak andika berikan, andika
akan disiksa sampai mati!"
'Hemm, terus terang saja, Sang
Megatantra tidak berada di tangan saya saat ini Akan tetapi, andaikata keris
pusaka itu berada di tangan saya, pusaka itu tidak akan saya berikan kepada
siapapun juga. Sang Megatantra adalah pusaka kerajaan Mataram atau yang
sekarang bernama Kerajaan Kahuripan. Maka,sudah seharusnya pusaka itu
dikembalikan kepada yang berhak, yaitu pada saat ini adalah Sang Prabu
Erlangga, raja Kahuripan. Jadi kalau paduka menghendaki Sang Megatantra,
berarti paduka hendak merampas hak milik orang lain!"
"Nurseta, jangan banyak cakap!
Katakan sekarang juga di mana adanya Sang Megatantra!" bentak Ratu Mayang
Gupita marah.
Nurseta tersenyum dan menggeleng
kepala.
"Terpaksa aku tidak dapat
mengatakan di mana!" katanya tegas.
"Jahanam keparat!
Hyaaaattt....”
Mayang Gupita sudah menyerangnya
dengan pukulan yang mengeluarkan bola api kearah Nurseta. Akan tetapi pemuda
ini sudah siap. Tadi dia sudah menyaksikan kedahsyatan pukulan itu ketika ratu
itu melawan kedua orang laki-laki yang saat itu masih berdiri sambil memandang
dan mendengarkan penuh perhatian.
Menghadapi serangan itu, Nurseta
tidak mau melawan dengan kekerasan. Dia lalu bergerak dengan ilmu silat Baka
Dewa dan tubuhnya berkelebat ke samping sehingga serangan tenaga sakti yang
membentuk bola api itu luput, tidak mengenai dirinya. Kemudian dari samping dia
menerjang ke depan dan menampar ke arah pundak Ratu Mayang Gupita, serangan ini
saja membuktikan bahwa Nurseta tidak dikuasai nafsu dendam. Tangannya bukan
merupakan serangan maut, dan sasarannya hanya pundak, berarti dia masih
menguasai perasaannya dan tidak digelapkan oleh nafsu amarah. Namun, karena dia
menggunakan tenaga sakti yang amat kuat, maka tamparan itu mendatangkan hawa
pukulan yang rasa panas oleh pundak Ratu Mayang Gupita sebelum jari tangan
Nurseta mengenai sasaran.
"Haiiiihhh .....!" Wanita
raksasa itu menggerakkan tangannya menangkis tamparan itu dengan pengerahan
tenaga sekuatnya.
"Wuuuttt ..... plakkk!"
Ratu Mayang Gupita terkejut bukan
main. Lengannya bertemu dengan tangan yang mengandung getaran dahsyat dan
terasa panas olehnya. Terpaksa ia melompat jauh ke belakang untuk menghentikan
getaran yang membuat tubuhnya terguncang. Diam-diam ia terkejut akan tetapi
tidak heran mengingat bahwa pemuda ini adalah murid mendiang Empu Dewamurti.
Tentu saja pemuda inipun memiliki kesaktian yang tak boleh dipandang ringan.
Betapapun juga, ia merasa penasaran dan juga malu. Di situ terdapat Dibyo
Mamangkoro dan Cekel Aksomolo yang menyaksikan pertandingan itu. Tentu saja amat
memalukan dan merendahkan kalau ia sampai kalah oleh seorang pemuda remaja!
Maka, sambil mengeluarkan bentakan nyaring yang mengandung kekuatan sihir, ia
menerjang lagi ke depan, kini membentuk cakar dengan kedua tangannya.
Jari-jarinya menjadi cakar harimau dan kuku-kukunya berubah menghitam. Setiap
ujung kuku jari itu mengandung hawa beracun dan ini merupakan aji yang amat
keji dan berbahaya. Baru bentakan melengking yang keluar dari mulutnya itu saja
sudah mampu mengguncangkan jantung lawan dan yang kurang kuat sudah dapat
dilumpuhkan oleh bentakan itu. Apalagi disusul terkaman dengan kuku-kuku jari
yang berbisa seperti itu. Sungguh merupakan serangan maut yang amat berbahaya.
Namun Nurseta bersikap tenang. Dia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Aji
Bayu Sakti sehingga tubuhnya dapat berkelebatan cepat sekali bagaikan angin
sehingga semua serangan berupa cengkeraman dan tamparan kedua tangan yang
kukunya berubah hitam itu tak pernah menyentuh kulit tubuhnya. Dan menghadapi
serangan maut bertubi-tubi itu tahulah Nurseta bahwa dia tidak mungkin hanya
menghindarkan diri saja karena hal ini membahayakan dirinya sendiri. Bela diri
yang baik bukan sekadar mempertahankan dan melindungi diri, melainkan balas
menyerang karenanya dengan demikian maka daya serangan lawan dapat dilumpuhkan
atau setidaknya dikurangi kehebatannya.
"Yaaaahhh!" Dia berseru
dan ketika tangan kanan Ratu Mayang Gupita mencengkeram ke arah kepalanya, dia
menggerakkan diri ke kiri, kemudian tangan kanannya bergerak memukul lengan
lawan itu dari samping dengan tangan dimiringkan.
"Wuuultt ..... desss!!"
Pukulan tangan Nurseta itu tepat
mengenai lengan lawan di bawah siku. Seketika tubuh Ratu Mayang Gupita
terjengkang ke belakang dan tubuhnya terhuyung-huyung. Lengannya terasa nyeri
bukan main, seolah tulangnya patah. Akan tetapi setelah meneliti ternyata
tulang lengannya tidak patah hanya terasa nyeri, ia terkejut sekali.
Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo
tadinya hanya menonton saja karena merasa hampir yakin bahwa ratu yang sakti
mandraguna, yang tadi mampu menandingi mereka, pasti akan dapat merobohkan
pemuda itu dalam waktu singkat. Akan tetapi alangkah heran dan kaget hati
mereka melihat betapa semua serangan Ratu Mayang Gupita tak pernah mengenai
sasaran, lebih lagi ketika kini melihat ratu itu terhuyung-huyung dan agaknya
kesakitan. Mereka berdua memang sudah condong memihak Ratu Mayang Gupita yang
menjadi musuh Kerajaan Kahuripan. Maka melihat wanita itu terdesak, sekali
saling pandang mereka sudah bersepakat untuk membantu Ratu Mayang Gupita.
Keduanya lalu tanpa mengeluarkan kata-kata lagi menerjang maju mengeroyok
Nurseta.
"Trik-rik-rik-tik .....!!"
Dengan mengeluarkan bunyi
berkeritikan yang mengandung getaran kuat, tasbih di tangan Cekel Aksomolo
berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung menyambar ke arah kepala Nurseta.
"Wuuussss .....!"
Hawa pukulan yang mengandung hawa
panas seperti api dan juga mengandung racun mematikan menyambar dari tangan
Dibyo Mamangkoro ketika raksasa ini menyerang dengan aji pukulan Wisangnolo,
meluncur ke arah dada pemuda itu. Nurseta yang waspada sejak semula, melihat
datangnya dua serangan ini dan cepat dia melompat dan menghindar dengan ilmu
meringankan tubuhnya, yaitu Aji Bayu Sakti. Melihat dua orang itu membantunya,
besarlah hati Ratu Mayang Gupita yang tadinya sudah merasa gentar, iapun
berteriak dan menerjang lagi, mengeroyok pemuda itu. Dikeroyok oleh tiga orang
yang memiliki kesaktian tinggi itu, tentu saja Nurseta menjadi kewalahan dan
dia hanya dapat menghindarkan diri mengandalkan Aji Bayu Sakti. Tubuhnya seolah
menjadi bayangan yang berkelebatan antara tiga orang pengeroyoknya. Selagi dia
hendak mempergunakan aji pamungkasnya yang amat hebat, yaitu Aji Tiwikrama yang
dapat membuat tubuhnya tampak besar sekali oleh lawan, atau Aji Sirnasarira
yang membuat tubuhnya tidak dapat tampak oleh lawan, tiba-tiba terdengar
teriakan melengking.
"Curang! Curang! Tiga orang
mengeroyok satu orang!"
Orang yang mencela ini bukan lain
adalah Puspa Dewi. Seperti kita ketahui, setelah tamat mempelajari aji-aji
kesaktian dari Nyi Dewi Durgakumala, kemudian menjadi puteri Raja Wura-wuri
karena Nyi Dewi Durgakumala diambil isteri dan menjadi permaisuri Raja atau
Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-wuri. la diangkat menjadi anak oleh Nyi Dewi
Durgakumala sehingga dengan sendirinya ia menjadi Puteri Sekar Keraton di
Wura-wuri! Kemudian ia mendapat tugas dari Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi
Durgakumala untuk mewakili Wura-wuri dan membantu gerakan yang dilakukan
kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama. Ia ditugaskan untuk bergabung dengan Puteri Lasmini dan Puteri
Mandari, dua orang Puteri dari Kerajaan Parang Siluman yang kini menjadi isteri
Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga dalam usaha mereka untuk meruntuhkan
kekuasaan raja dan patihnya yang dimusuhi itu. Juga ia ditugaskan untuk
merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta. Selain itu, ia juga
ditugaskan Nyi Dewi Durgakumala untuk membunuh Ki Patih Narotama yang pernah
membikin guru atau ibu angkatnya itu patah hati. Dalam perjalanannya itu,
ditengah jalan ia melihat seorang pemuda dikeroyok tiga orang dan mereka semua
mempergunakan aji kesaktian, maka ia merasa penasaran lalu terjun ke dalam
pertempuran tanpa bertanya lagi, membantu pemuda yang dikeroyok sesuai dengan
naluri jiwanya yang tidak senang melihat ketidak-adilan. Terjangan Puspa Dewi
dahsyat dan ganas sekali. Melihat kehebatan tiga orang yang mengeroyok pemuda
itu, sudah mencabut pedangnya. Begitu menerjang dengan pedang pusaka Candrasa
Langking, pedang itu berubah menjadi segulungan sinar hitam yang menyambar
nyambar!
"Tranggg .....!"
Tasbih di tangan Cekel Aksomolo
terpental ketika bertemu dengan pedang di tangan Puspa Dewi sehingga tokoh
sesat duplikat Durna itu terkejut dan melompat ke belakang. Puspa Dewi tidak
perduli dan ia sudah menyerang Ratu Mayang Gupita dengan pedang hitamnya.
Wanita raksasa itupun terkejut karena sambaran pedang itu dahsyat sekali,
mengeluarkan suara berdesing dan terasa hawanya yang panas karena mengandung
racun yang amat kuat. Iapun melompat ke belakang dan siap melontarkan pukulan
tangan yang mengeluarkan bola api. Namun, begitu ia mendorongkan tangannya,
Puspa Dewi sudah menyambut dengan dorongan tangan kiri dengan Aji Guntur Geni.
"Bresss .....!"
Dua aji pukulan dahsyat itu bertemu
di udara dan akibatnya tubuh Puspa Dewi terpental ke belakang. Akan tetapi
gadis ini dengan keras kepala sudah menerjang lagi dengan nekat. Pedangnya
diputar di depan tubuhnya seperti kitiran, membentuk sinar bergulung-gulung dan
menyerang ke arah tubuh Ratu Mayang Gupita. Diserang seperti itu, wanita
raksasa itu lalu cepat mencabut sebatang keris panjang dari pinggangnya dan
menangkis, lalu balas menyerang. Kedua orang wanita itu sudah saling serang.
Sementara itu, Dibyo Mamangkoro yang
menyerang Nurseta dengan pukulan Aji Wisangnolo, disambut oleh Nurseta dengan
dorongan tangan. Ketika dua pukulan itu bertemu, Dibyo Manmangkoro terhuyung ke
belakang. Bantuan Puspa Dewi mengejutkan tiga orang itu dan mereka merasa jerih.
Baru melawan Nurseta seorang diri saja mereka bertiga tadi belum mampu
mengalahkannya. Kini muncul gadis liar itu yang memiliki ilmu yang liar pula.
Maka Ratu Mayang Gupita lalu melompat dan memasuki keretanya yang lalu
dilarikan cepat. Ketika Puspa Dewi hendak mengejarnya, ia disambut oleh belasan
orang perajurit pengawal. Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo lalu maju
membantu para pengawal karena baru beberapa gebrakan saja, pedang hitam di
tangan Puspa Dewi telah merobohkan dua orang perajurit. Begitu dua orang sakti
ini maju dan menyerang, Dibyo Mamangkoro dengan pukulan jarak jauhnya dan Cekel
Aksomolo dengan tasbihnya, Puspa Dewi terkejut dan mau tidak mau harus
berlompatan ke belakang. Terlalu berbahaya serangan dua orang itu. Begitu ia
melompat kebelakang, dua orang tokoh sesat itu lalu melarikan diri bersama para
pengawal, mengejar kereta yang ditumpangi Ratu Mayang Gupita yang lari terlebih
dulu. Puspa Dewi yang nekat itu hendak melakukan pengejaran sambil memaki maki.
"Heh, orang-orang pengecut hina,
Hendak lari ke mana kalian?"
Akan tetapi terdengar suara di
belakangnya,
"Puspa Dewi, kukira tidak perlu
mengejar mereka."
Dara itu menahan langkahnya dan
berbalik dengan cepat, mengamati wajah Nurseta dan bertanya dengan ketus,
"Heh!! Dari mana engkau mengetahui
namaku, hah?"
Nurseta tersenyum. Kegalakan dara
itu baginya tampak lucu sekali, seperti melihat seorang anak kecil yang bandel.
"Puspa Dewi, tentu saja aku
mengenalmu karena engkau adalah seorang gadis tukang keroyok. Tanpa tahu
masalahnya engkau langsung saja mengeroyok dan menyerang!"
"He? Engkau..... tak tahu
diuntung, tak mengenal budi! Aku tadi bukan mengeroyokmu, malah membantu kamu
yang dikeroyok! Bagaimana engkau berani mengatakan bahwa aku tukang
keroyok?"
"Sekarang memang engkau membantu
aku dan untuk itu, biarlah kuucapkan terima kasih. Akan tetapi tempo hari,
didusun kita Karang Tirta, tiada hujan tiada angin engkau datang-datang
mengeroyok aku!"
"Di..... Karang Tirta.....? Eh,
oh, ingat aku sekarang. Engkau adalah Nurseta, kan?"
"Sekarang baru engkau ingat
padaku, Biarlah kesalahanmu yang sudah berlalu itu kubikin habis sampai di sini
saja karena kesalahan itu telah kau tebus hari ini dengan menolongku terlepas
dari ancaman bahaya."
Puspa Dewi menegakkan kepalanya dan
membusungkan dadanya sambil memandang wajah Nurseta dengan mata bersinar.
"Bagus sekali kita dapat
bertemu di sini, Nurseta. Memang aku sedang mencarimu!"
"Hemm, engkau mencari aku,
Puspa Dewi? Apakah untuk minta maaf bahwa engkau dahulu itu sudah mengeroyokku
bersama Linggajaya?"
No comments:
Post a Comment