Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 53


Dia pernah mendengar dongeng tentang seorang pendeta dalam dongeng Mahabarata yang disebut Bagawan Durna! Wajah orang tinggi kurus bongkok itu persis wajah Bagawan Durna seperti yang digambarkan dalam dongeng! Nurseta memperhatikan orang ke dua dan dia merasa kagum. Orang ini sungguh gagah menyeramkan. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi besar dengan otot melingkar-lingkar di kedua lengan dan dadanya yang bajunya terbuka bagian depan. Bulu lebat tumbuh di dadanya, kulitnya hitam legam. Baik bentuk tubuh yang tinggi besar dan kokoh kuat itu maupun wajahnya yang gagah, dengan mata, hidung, mulut serba besar, mengingatkan Nurseta akan tokoh lain dalam Mahabarata, yaitu Raden Bratasena atau yang kemudian bernama Werkudara. Begitu gagah dan jantan!

Nurseta mendengarkan percakapan antara perwira pasukan pengawal dan dua orang itu. Perwira itu juga bertubuh tinggi besar walaupun tidak sebesar orang yang seperti Bratasena itu. Bahkan semua prajurit yang dua puluh empat orang banyaknya itupun rata-rata memiliki bentuk tubuh yang kokoh kuat dan wajah merekapun membayangkan kebengisan dan kekerasan.
"Heh, siapa kalian berdua dan apa mau kalian menghadang di tengah jalan. Hayo minggir!" demikian bentak sang Perwira dengan suara menggeledek.
Orang yang mirip Bagawan Durna itu tertawa dan mau tak mau Nurseta tersenyum sendiri. Bahkan suaranyapun seperti suara Bagawan Durna, tawanya terkekeh dan kecil seperti suara wanita.
"Heh-heh-hi-hi-hi .....! Andika tidak mengenal kami berdua? Heh-heh-kalau begitu jelas andika ini seorang yang tolol!"
"Keparat, jangan main-main!" bentak sang perwira.
"Kami adalah pasukan pengawal Kerajaan Siluman Laut Kidul yang sedang mengawal gusti ratu kami. Hayo cepat kalian menepi dan berlutut, Gusti ratu kami hendak lewat!"
Kini orang ke dua yang hitam tinggi besar itu yang menjawab dan ketika mengeluarkan suara, seperti yang diduga oleh Nurseta, terdengar suaranya besar parau menggelegar.
"Perwira coromeo (kecoa) jangan banyak tingkah. Kami sudah lelah berjalan kaki. Serahkan kereta itu kepada kami berdua, baru kalian boleh lewat dengan aman!"
Perwira yang memimpin dua losin prajurit itu menjadi marah sekali, tangan kanannya bergerak dan dia sudah mencabut sebatang pedang dan inipun merupakan isyarat karena dua losin anak buahnya segera mencabut senjata mereka mengepung dua orang penghadang itu. Dengan garang perwira itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah dua orang itu dan membentak.
"Heh, dua orang biadab! Apakah mata kalian buta dan telinga kalian tuli? Berani kalian menghadang pasukan yang sedang mengawal gusti kami, Kanjeng Ratu Mayang Gupita, ratu dari Kerajaan Siluman Laut Kidul? Siapakah kalian yang nekat dan bosan hidup ini? Hayo akuilah siapa kalian, jangan mampus tanpa meninggalkan nama!"
"Heh-heh-heh-hi-hi!" Duplikat Durna itu terkekeh genit seperti wanita, atau lebih tepat, seperti seorang banci.
"Benar- benar kamu tidak mengenal kami? Heh, menyebalkan. Buka matamu dan pandang baik-baik, buka telingamu dan dengar baik-baik. Aku adalah Sang Cekel Aksomolo, yang mbaureksa (menguasai) Hutan Werdo dilereng Gunung Wilis, gegedug tanpa tanding yang namanya membuat bumi langit gonjang ganjing, dan engkau, perwira coromeo, prajurit ceremende tidak mengenal aku? Wah, payah, engkau tak pantas menjadi perwira, harus turun pangkat menjadi pengurus kandang kuda"
"Aku adalah Dibyo Mamangkoro!" kata orang ke dua yang suaranya besar lantang, sesuai dengan tubuhnya yang hitam tinggi besar.
Akan tetapi, perwira itu memang belum pernah mendengar nama dua orang yang mengaku sebagai orang-orang terkenal itu. Mereka itu masih muda, Cekel Aksomolo berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan Dibyo Mamangkoro baru sekitar dua puluh lima tahun. Tentu saja perwira yang hidup didaerah Kerajaan Siluman Laut Kidul itu belum pernah mendengar nama-nama itu.
"Kalian berdua yang bermata buta bertelinga tuli, berani mengganggu perjalanan ratu kami!" kata perwira itu dan diapun memberi isyarat kepada anak buahnya. Para perajurit pengawal segera bergerak menyerang kedua orang yang hendak merampok kereta itu. Akan tetapi Dibyo Mamangkoro menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan begitu kedua lengan itu menyambar, ada angin pukulan bersiutan dan angin itu melanda para Pengepungnya. Beberapa orang perajurit pengawal berteriak kaget karena mereka dilanda angin dan berpelantingan!

Cekel Aksomolo tertawa terkekeh-kekeh, tasbih di tangannya digerakkan, terdengar suara berkerotokan dan empat orang yang terdekat dengannya roboh sambil menutupi telinga mereka dengan kedua tangan! Suara berkerotokan dari biji-biji tasbih itu menimbulkan getaran hebat pada telinga mereka! Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Kalian mundur semua!" Dan tirai yang menutupi pintu kereta terbuka dan dari dalam kereta meluncur sesosok tubuh dan tahu-tahu seorang wanita telah berdiri di hadapan dengan Cekel Aksomolo dan Dibya Mamangkoro! Dua orang sakti itu memandang dan mereka terkejut. Wanita itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, pakaiannya serba mewah indah gemerlapan, tubuhnya tinggi besar, bahkan tidak kalah tinggi dibandingkan Dibyo Mamangkoro. Perutnya gendut, wajahnya dibedaki tebal dan memakai pemerah bibir dan pipi, tubuhnya penuh perhiasan emas permata. Wajahnya serba bulat gemuk dan ada dua ujung taring muncul dari celah-celah bibirnya. Inilah Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul yang bernama Ratu Mayang Gupita, bekas isteri Ki Nagakumala. Wanita raseksi (raksasa wanita) ini selain menjadi ratu, juga terkenal sebagai seorang tokoh yang sakti mandraguna. Ialah seorang di antara mereka yang dulu mengeroyok Sang Empu Dewamurti di Gunung Arjuna. Bersama Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker, dan Tri Kala, yaitu Kalamuka Kalamanik, dan Kalateja dari Kerajaaan Wura-wuri, mereka berlima mengeroyok Sang Empu Dewamurti. Biarpun mereka berlima menjadi ketakutan dan melarikan diri, namun mereka juga berhasil membuat sang empu maha sakti itu terluka berat sehingga meninggal dunia.

Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro adalah dua orang tokoh yang mengambil jalan sesat. Dibyo Mamangkoro yang baru saja pulang dari pengembaraannya di daerah Blambangan di mana dia mencari guru-guru untuk memperdalam ilmu-ilmunya setelah selama beberapa tahun dia mencari ilmu dan aji kesaktian di Banten, ingin mendapatkan sebuah tempat untuk bertapa dan memperkuat diri. Dia mendengar tentang Pulau Nusakambangan, maka pergilah dia ke sana. Ketika tiba di sana, dia disambut oleh bekas anak buah bajak laut yang sebagian masih tinggal di situ dan sebagian pula ikut pimpinan mereka pindah di laut Jawa bagian utara. Dua puluh lebih anak buah bajak laut itu mengeroyoknya akan tetapi mereka semua dikalahkan sehingga tunduk dan menerima Dibyo Mamangkoro sebagai pimpinan mereka. Sejak saat itu, Dibyo Mamangkoro menjadi orang yang menguasai Nusakambangan. Pada suatu hari Cekel Aksomolo yang pernah dikenalnya di daerah Banten datang berkunjung dan Dibyo Mamangkoro dapat terbujuk oleh Cekel Aksomolo untuk mencari kedudukan dan kemuliaan di dalam kemelut yang sedang dihadapi Kerajaan Kahuripan. Pada hari itu, kebetulan mereka bertemu dengan kereta indah yang dikawal perajurit-perajurit itu. Melihat kereta yang indah itu, keduanya mengambil keputusan untuk merampasnya karena mereka merasa lelah melakukan perjalanan jauh dengan jalan kaki saja.

Melihat munculnya wanita yang menyeramkan itu, dua orang sakti yaitu biasanya melakukan kekerasan dan kejahatan itu merasa terkejut. Mereka pernah mendengar bahwa ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul adalah seorang yang memiliki kesaktian. Akan tetapi mereka tidak pernah membayangkan bahwa ratu itu demikian menyeramkan. Bagaimanapun juga, Cekel Aksomolo apalagi Dibyo Mamangkoro, adalah dua orang yang sakti mandraguna, bahkan menganggap diri sendiri terlalu tinggi sehingga mereka itu biasanya memandang rendah orang lain. Biarpun penampilan Ratu Mayang Cupita tampak menyeramkan, namun mereka tidak gentar, bahkan ingin sekali menguji sampai di mana kehebatan ratu yang namanya terkenal sekali itu.
"Hemm, bocah-bocah bagus kemarin sore besar kepala lebar mulut! Berani kalian menyombongkan diri di depan kami. Sambutlah ini!" kata Ratu Mayang Gupita dan dia sudah memutar-mutar kedua lengannya di depan dada lalu mendorongkan kedua telapak tangan itu ke arah Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro. Tiba-tiba dari kedua telapak tangannya itu keluar bola-bola api menyambar ke arah dua orang itu.
Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro terkejut, maklum akan dahsyatnya serangan yang tenaga saktinya dapat mengeluarkan bola api itu. Maka mereka pun menyambut dengan cepat. Cekel Aksomolo memutar tasbihnya dan membaca mantera, sedangkan Dibyo Mamangkoro sudah mengerahkan tenaga saktinya, dadanya membusung penuh hawa, kemudian kedua tangannya didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka. Angin yang amat kuat menyambar dari telapak tangannya itu, menyambut bola api yang meluncur ke arah dirinya.
"Dar-dar-dar-dar .....!"
Beberapa bola api itu meledak ketika bertemu dorongan kedua tangan Dibyo Mamangkoro dan bertemu dengan sambaran sinar hitam dari tasbih Cekel Aksomolo. Benturan tenaga sakti yang dahsyat ini menggetarkan bumi di sekitarnya dan akibatnya Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu mundur dua langkah, akan tetapi Dibyo Mamangkoro undur empat langkah dan Cekel Aksomolo malah terhuyung ke belakang. Ini membuktikan bahwa tenaga sakti wanita raksasa itu masih lebih kuat dan tenaga Cekel Aksomolo yang paling lemah di antara mereka bertiga.

Tadi ketika mendengar dari perwira pasukan pengawal bahwa kereta itu ditumpangi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul, dua orang sakti itu diam-diam sudah terkejut. Akan tetapi karena watak mereka sombong, mereka masih belum percaya bahwa seorang ratu, seorang wanita akan memiliki kedigdayaan yang patut diperhitungkan. Akan tetapi setelah kini mereka membuktikan sendiri akan kehebatan wanita raksasa itu, mereka terkejut dan juga kagum. Bagaimanapun juga, raja wanita ini merupakan seorang di antara musuh-musuh Sang Prabu Erlangga, berarti masih satu golongan dengan mereka. Apalagi Cekel Aksomolo telah mendengar bahwa ratu ini merupakan seorang di antara mereka yang telah menyerang Sang Empu Dewamurti yang mengakibatkan tewasnya empu sakti mandraguna itu.
'Bojleng iblis laknat" Dibyo Mamangkoro mencaci dengan suaranya yang besar.
"Kiranya bukan omong kosong yang kudengar bahwa Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul adalah seorang wanita yang sakti mandraguna!" Raksasa ini memuji dengan jujur karena dia harus mengaku bahwa saat itu tenaganya sendiri yang sudah jarang dapat ditemukan tandingannya itu ternyata masih kalah setingkat dibandingkan wanita itu.
"Heh-heh-heh-hi-hi-hik, apa anehnya. Ki Dibyo Mamangkoro? Apa andika belum mendengar bahwa Kanjeng Ratu Mayang Gupita inilah yang telah menewaskan Sang Empu Dewamurti yang terkenal itu!" kata Cekel Aksomolo dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita.
Mendengar ini, Dibyo Mamangkoro terkejut.
"Ah, benarkah? Kanjeng Ratu, benarkah bahwa paduka yang telah menewaskan Sang Empu Dewamurti?"
Ratu yang bertubuh raksasa wanita itu kini berdongak dan tertawa. Suaranya lantang dan ketika tertawa, mulutnya terbuka sehingga tampak jelas buah taringnya yang runcing mengkilap.
"Heh-he-he-he-heh! Siapa lagi yang mampu membunuh Empu Dewamurti kecuali kami?" Wanita itu terbahak dan tampak bangga sekali.
"Akan tetapi, Kanjeng Ratu. Saya mendengar bahwa paduka masih dibantu oleh wakil dari Kerajaan Wengker dan kerajaan Wura-wuri. Benarkah itu?" Cela Aksomolo bertanya.
Wajah wanita yang tadinya terbahak itu kini mengkerut dan cemberut.
"Huh, mereka itu hanya untuk menambah semangat saja. Memang benar Resi Bajrasakti dari Wengker membantu, dan Tri Kala dari Wura-wuri, akan tetapi andai kata tidak ada aku, mereka mana mampu menandingi Empu Dewamurti?" kata Ratu Mayang Gupita menyombong.

Nurseta yang bersembunyi, mengintai peristiwa itu mula-mula merasa kagum karena dia tidak mengira sama sekali akan bertemu orang-orang yang sungguh sakti mandraguna. Dia semakin kagum ketika melihat wanita raksasa yang ternyata Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu mampu menandingi dua orang laki-laki digdaya itu, bahkan dalam adu tenaga sakti tadi wanita raksasa itu membuktikan dirinya lebih kuat daripada mereka berdua. Akan tetapi ketika mendengar pengakuan Ratu Mayang Gupita, dia terkejut bukan main. Kini tahulah dia siapa yang telah menyebabkan gurunya terluka dan tewas. Ternyata ada lima orang yaitu Resi Bajrasakti, Ratu Mayang Gupita dan Tri Kala dari Kerajaan Wura wuri. Hal ini berarti bahwa gurunya telah dimusuhi oleh para jagoan dari tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Siluman Laut Kidul, Kerajaan Wengker, dan Kerajaan Wura-wuri! Kini mengertilah dia. Tiga kerajaan itu, di samping kerajaan kecil lainnya seperti Kerajaan Parang Siluman dan lain-lainnya, adalah musuh-musuh yang tidak mau tunduk kepada Mataram dan sampai sekarang tidak mau tunduk kepada Sang Prabu Erlangga, raja Kerajaan Kahuripan yang menjadi keturunan Mataram. Adapun gurunya, Sang Empu Dewamurti adalah seorang yang amat setia kepada Mataram. Maka dia dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka itu membunuh Empu Dewamurti untuk melenyapkan orang sakti mandraguna yang setia kepada Mataram, tentu dengan maksud untuk melemahkan Mataram, gurunya sudah berpesan kepadanya agar ia tidak bertindak menurutkan dendam sakit hati karena dendam merupakan nafsu yang dapat mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan kejam dan hal itu bertentangan dengan jiwa ksatria! Seorang ksatria akan selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, namun dengan cara yang benar pula, dan mengumbar kekejaman karena dendam sama sekali bukan sikap dan tindakan benar. Namun, Nurseta bagaimanapun juga adalah seorang manusia biasa. Biarpun dia sudah berlatih di bawah gemblengan seorang arif bijaksana seperti mendiang Empu Dewamurti, dan dia telah dapat menanamkan kesabaran dalam hatinya, selalu ingat dan waspada, yaitu ingat kepada Sang Hyang Widhi yang sudah menggariskan jalan kebenaran yang harus diikutinya, namun terkadang nafsu dalam dirinya masih sempat mengusik kesadarannya sehingga dia yang selalu waspada untuk mengikuti setiap gerak gerik hati pikirannya sendiri, terkadang hanyut dalam gelombang nafsu keakuannya.

Mendengar dan melihat bahwa orang yang telah melukai dan membunuh gurunya terkasih itu kini berada di depannya, dia tidak mampu menahan gejolak hatinya. Biarpun belum tersentuh dendam yang akan menghancurkan semua pertimbangannya, namun sempat menggugah rasa penasaran di dalam hatinya. Dia harus mencari keterangan dari pembunuh itu mengapa ia membunuh Empu Dewamurti yang tidak mempunyai kesalahan apapun! Maka, tanpa dapat menahan gejolak hatinya, Nurseta melompat dan bagaikan kilat menyambar, tubuhnya sudah berkelebat dan tahu-tahu tiba di depan Ratu Mayang Gupita!
Wanita raksasa ini terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja ada seorang pemuda muncul di depannya tanpa dapat diketahui dari mana datangnya.

<<<Bagian 52                                                                                         Bagian 54 >>>

No comments:

Post a Comment