Dia pernah mendengar dongeng tentang seorang pendeta dalam dongeng Mahabarata yang disebut Bagawan Durna! Wajah orang tinggi kurus bongkok itu persis wajah Bagawan Durna seperti yang digambarkan dalam dongeng! Nurseta memperhatikan orang ke dua dan dia merasa kagum. Orang ini sungguh gagah menyeramkan. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi besar dengan otot melingkar-lingkar di kedua lengan dan dadanya yang bajunya terbuka bagian depan. Bulu lebat tumbuh di dadanya, kulitnya hitam legam. Baik bentuk tubuh yang tinggi besar dan kokoh kuat itu maupun wajahnya yang gagah, dengan mata, hidung, mulut serba besar, mengingatkan Nurseta akan tokoh lain dalam Mahabarata, yaitu Raden Bratasena atau yang kemudian bernama Werkudara. Begitu gagah dan jantan!
Nurseta mendengarkan percakapan
antara perwira pasukan pengawal dan dua orang itu. Perwira itu juga bertubuh
tinggi besar walaupun tidak sebesar orang yang seperti Bratasena itu. Bahkan
semua prajurit yang dua puluh empat orang banyaknya itupun rata-rata memiliki
bentuk tubuh yang kokoh kuat dan wajah merekapun membayangkan kebengisan dan
kekerasan.
"Heh, siapa kalian berdua dan
apa mau kalian menghadang di tengah jalan. Hayo minggir!" demikian bentak
sang Perwira dengan suara menggeledek.
Orang yang mirip Bagawan Durna itu
tertawa dan mau tak mau Nurseta tersenyum sendiri. Bahkan suaranyapun seperti
suara Bagawan Durna, tawanya terkekeh dan kecil seperti suara wanita.
"Heh-heh-hi-hi-hi .....! Andika
tidak mengenal kami berdua? Heh-heh-kalau begitu jelas andika ini seorang yang
tolol!"
"Keparat, jangan
main-main!" bentak sang perwira.
"Kami adalah pasukan pengawal
Kerajaan Siluman Laut Kidul yang sedang mengawal gusti ratu kami. Hayo cepat
kalian menepi dan berlutut, Gusti ratu kami hendak lewat!"
Kini orang ke dua yang hitam tinggi
besar itu yang menjawab dan ketika mengeluarkan suara, seperti yang diduga oleh
Nurseta, terdengar suaranya besar parau menggelegar.
"Perwira coromeo (kecoa) jangan
banyak tingkah. Kami sudah lelah berjalan kaki. Serahkan kereta itu kepada kami
berdua, baru kalian boleh lewat dengan aman!"
Perwira yang memimpin dua losin
prajurit itu menjadi marah sekali, tangan kanannya bergerak dan dia sudah
mencabut sebatang pedang dan inipun merupakan isyarat karena dua losin anak
buahnya segera mencabut senjata mereka mengepung dua orang penghadang itu.
Dengan garang perwira itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah dua orang itu
dan membentak.
"Heh, dua orang biadab! Apakah
mata kalian buta dan telinga kalian tuli? Berani kalian menghadang pasukan yang
sedang mengawal gusti kami, Kanjeng Ratu Mayang Gupita, ratu dari Kerajaan
Siluman Laut Kidul? Siapakah kalian yang nekat dan bosan hidup ini? Hayo
akuilah siapa kalian, jangan mampus tanpa meninggalkan nama!"
"Heh-heh-heh-hi-hi!"
Duplikat Durna itu terkekeh genit seperti wanita, atau lebih tepat, seperti
seorang banci.
"Benar- benar kamu tidak
mengenal kami? Heh, menyebalkan. Buka matamu dan pandang baik-baik, buka
telingamu dan dengar baik-baik. Aku adalah Sang Cekel Aksomolo, yang mbaureksa
(menguasai) Hutan Werdo dilereng Gunung Wilis, gegedug tanpa tanding yang
namanya membuat bumi langit gonjang ganjing, dan engkau, perwira coromeo,
prajurit ceremende tidak mengenal aku? Wah, payah, engkau tak pantas menjadi
perwira, harus turun pangkat menjadi pengurus kandang kuda"
"Aku adalah Dibyo
Mamangkoro!" kata orang ke dua yang suaranya besar lantang, sesuai dengan
tubuhnya yang hitam tinggi besar.
Akan tetapi, perwira itu memang
belum pernah mendengar nama dua orang yang mengaku sebagai orang-orang terkenal
itu. Mereka itu masih muda, Cekel Aksomolo berusia kurang lebih tiga puluh
tahun dan Dibyo Mamangkoro baru sekitar dua puluh lima tahun. Tentu saja
perwira yang hidup didaerah Kerajaan Siluman Laut Kidul itu belum pernah
mendengar nama-nama itu.
"Kalian berdua yang bermata
buta bertelinga tuli, berani mengganggu perjalanan ratu kami!" kata
perwira itu dan diapun memberi isyarat kepada anak buahnya. Para perajurit
pengawal segera bergerak menyerang kedua orang yang hendak merampok kereta itu.
Akan tetapi Dibyo Mamangkoro menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan
begitu kedua lengan itu menyambar, ada angin pukulan bersiutan dan angin itu
melanda para Pengepungnya. Beberapa orang perajurit pengawal berteriak kaget
karena mereka dilanda angin dan berpelantingan!
Cekel Aksomolo tertawa
terkekeh-kekeh, tasbih di tangannya digerakkan, terdengar suara berkerotokan
dan empat orang yang terdekat dengannya roboh sambil menutupi telinga mereka
dengan kedua tangan! Suara berkerotokan dari biji-biji tasbih itu menimbulkan
getaran hebat pada telinga mereka! Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Kalian mundur semua!" Dan
tirai yang menutupi pintu kereta terbuka dan dari dalam kereta meluncur sesosok
tubuh dan tahu-tahu seorang wanita telah berdiri di hadapan dengan Cekel
Aksomolo dan Dibya Mamangkoro! Dua orang sakti itu memandang dan mereka
terkejut. Wanita itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, pakaiannya serba
mewah indah gemerlapan, tubuhnya tinggi besar, bahkan tidak kalah tinggi
dibandingkan Dibyo Mamangkoro. Perutnya gendut, wajahnya dibedaki tebal dan
memakai pemerah bibir dan pipi, tubuhnya penuh perhiasan emas permata. Wajahnya
serba bulat gemuk dan ada dua ujung taring muncul dari celah-celah bibirnya.
Inilah Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul yang bernama Ratu Mayang Gupita, bekas
isteri Ki Nagakumala. Wanita raseksi (raksasa wanita) ini selain menjadi ratu,
juga terkenal sebagai seorang tokoh yang sakti mandraguna. Ialah seorang di
antara mereka yang dulu mengeroyok Sang Empu Dewamurti di Gunung Arjuna.
Bersama Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker, dan Tri Kala, yaitu Kalamuka
Kalamanik, dan Kalateja dari Kerajaaan Wura-wuri, mereka berlima mengeroyok
Sang Empu Dewamurti. Biarpun mereka berlima menjadi ketakutan dan melarikan
diri, namun mereka juga berhasil membuat sang empu maha sakti itu terluka berat
sehingga meninggal dunia.
Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro
adalah dua orang tokoh yang mengambil jalan sesat. Dibyo Mamangkoro yang baru
saja pulang dari pengembaraannya di daerah Blambangan di mana dia mencari
guru-guru untuk memperdalam ilmu-ilmunya setelah selama beberapa tahun dia
mencari ilmu dan aji kesaktian di Banten, ingin mendapatkan sebuah tempat untuk
bertapa dan memperkuat diri. Dia mendengar tentang Pulau Nusakambangan, maka
pergilah dia ke sana. Ketika tiba di sana, dia disambut oleh bekas anak buah
bajak laut yang sebagian masih tinggal di situ dan sebagian pula ikut pimpinan
mereka pindah di laut Jawa bagian utara. Dua puluh lebih anak buah bajak laut
itu mengeroyoknya akan tetapi mereka semua dikalahkan sehingga tunduk dan
menerima Dibyo Mamangkoro sebagai pimpinan mereka. Sejak saat itu, Dibyo
Mamangkoro menjadi orang yang menguasai Nusakambangan. Pada suatu hari Cekel
Aksomolo yang pernah dikenalnya di daerah Banten datang berkunjung dan Dibyo
Mamangkoro dapat terbujuk oleh Cekel Aksomolo untuk mencari kedudukan dan
kemuliaan di dalam kemelut yang sedang dihadapi Kerajaan Kahuripan. Pada hari
itu, kebetulan mereka bertemu dengan kereta indah yang dikawal
perajurit-perajurit itu. Melihat kereta yang indah itu, keduanya mengambil
keputusan untuk merampasnya karena mereka merasa lelah melakukan perjalanan
jauh dengan jalan kaki saja.
Melihat munculnya wanita yang
menyeramkan itu, dua orang sakti yaitu biasanya melakukan kekerasan dan
kejahatan itu merasa terkejut. Mereka pernah mendengar bahwa ratu Kerajaan
Siluman Laut Kidul adalah seorang yang memiliki kesaktian. Akan tetapi mereka
tidak pernah membayangkan bahwa ratu itu demikian menyeramkan. Bagaimanapun
juga, Cekel Aksomolo apalagi Dibyo Mamangkoro, adalah dua orang yang sakti
mandraguna, bahkan menganggap diri sendiri terlalu tinggi sehingga mereka itu
biasanya memandang rendah orang lain. Biarpun penampilan Ratu Mayang Cupita
tampak menyeramkan, namun mereka tidak gentar, bahkan ingin sekali menguji
sampai di mana kehebatan ratu yang namanya terkenal sekali itu.
"Hemm, bocah-bocah bagus
kemarin sore besar kepala lebar mulut! Berani kalian menyombongkan diri di
depan kami. Sambutlah ini!" kata Ratu Mayang Gupita dan dia sudah
memutar-mutar kedua lengannya di depan dada lalu mendorongkan kedua telapak
tangan itu ke arah Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro. Tiba-tiba dari kedua
telapak tangannya itu keluar bola-bola api menyambar ke arah dua orang itu.
Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro
terkejut, maklum akan dahsyatnya serangan yang tenaga saktinya dapat
mengeluarkan bola api itu. Maka mereka pun menyambut dengan cepat. Cekel
Aksomolo memutar tasbihnya dan membaca mantera, sedangkan Dibyo Mamangkoro
sudah mengerahkan tenaga saktinya, dadanya membusung penuh hawa, kemudian kedua
tangannya didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka. Angin yang amat
kuat menyambar dari telapak tangannya itu, menyambut bola api yang meluncur ke
arah dirinya.
"Dar-dar-dar-dar .....!"
Beberapa bola api itu meledak ketika
bertemu dorongan kedua tangan Dibyo Mamangkoro dan bertemu dengan sambaran
sinar hitam dari tasbih Cekel Aksomolo. Benturan tenaga sakti yang dahsyat ini
menggetarkan bumi di sekitarnya dan akibatnya Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul
itu mundur dua langkah, akan tetapi Dibyo Mamangkoro undur empat langkah dan
Cekel Aksomolo malah terhuyung ke belakang. Ini membuktikan bahwa tenaga sakti
wanita raksasa itu masih lebih kuat dan tenaga Cekel Aksomolo yang paling lemah
di antara mereka bertiga.
Tadi ketika mendengar dari perwira
pasukan pengawal bahwa kereta itu ditumpangi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul,
dua orang sakti itu diam-diam sudah terkejut. Akan tetapi karena watak mereka
sombong, mereka masih belum percaya bahwa seorang ratu, seorang wanita akan
memiliki kedigdayaan yang patut diperhitungkan. Akan tetapi setelah kini mereka
membuktikan sendiri akan kehebatan wanita raksasa itu, mereka terkejut dan juga
kagum. Bagaimanapun juga, raja wanita ini merupakan seorang di antara
musuh-musuh Sang Prabu Erlangga, berarti masih satu golongan dengan mereka.
Apalagi Cekel Aksomolo telah mendengar bahwa ratu ini merupakan seorang di
antara mereka yang telah menyerang Sang Empu Dewamurti yang mengakibatkan
tewasnya empu sakti mandraguna itu.
'Bojleng iblis laknat" Dibyo
Mamangkoro mencaci dengan suaranya yang besar.
"Kiranya bukan omong kosong
yang kudengar bahwa Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul adalah seorang wanita yang
sakti mandraguna!" Raksasa ini memuji dengan jujur karena dia harus
mengaku bahwa saat itu tenaganya sendiri yang sudah jarang dapat ditemukan
tandingannya itu ternyata masih kalah setingkat dibandingkan wanita itu.
"Heh-heh-heh-hi-hi-hik, apa
anehnya. Ki Dibyo Mamangkoro? Apa andika belum mendengar bahwa Kanjeng Ratu
Mayang Gupita inilah yang telah menewaskan Sang Empu Dewamurti yang terkenal
itu!" kata Cekel Aksomolo dengan suaranya yang tinggi seperti suara
wanita.
Mendengar ini, Dibyo Mamangkoro
terkejut.
"Ah, benarkah? Kanjeng Ratu,
benarkah bahwa paduka yang telah menewaskan Sang Empu Dewamurti?"
Ratu yang bertubuh raksasa wanita
itu kini berdongak dan tertawa. Suaranya lantang dan ketika tertawa, mulutnya
terbuka sehingga tampak jelas buah taringnya yang runcing mengkilap.
"Heh-he-he-he-heh! Siapa lagi
yang mampu membunuh Empu Dewamurti kecuali kami?" Wanita itu terbahak dan
tampak bangga sekali.
"Akan tetapi, Kanjeng Ratu.
Saya mendengar bahwa paduka masih dibantu oleh wakil dari Kerajaan Wengker dan
kerajaan Wura-wuri. Benarkah itu?" Cela Aksomolo bertanya.
Wajah wanita yang tadinya terbahak
itu kini mengkerut dan cemberut.
"Huh, mereka itu hanya untuk
menambah semangat saja. Memang benar Resi Bajrasakti dari Wengker membantu, dan
Tri Kala dari Wura-wuri, akan tetapi andai kata tidak ada aku, mereka mana
mampu menandingi Empu Dewamurti?" kata Ratu Mayang Gupita menyombong.
Nurseta yang bersembunyi, mengintai
peristiwa itu mula-mula merasa kagum karena dia tidak mengira sama sekali akan
bertemu orang-orang yang sungguh sakti mandraguna. Dia semakin kagum ketika
melihat wanita raksasa yang ternyata Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu mampu
menandingi dua orang laki-laki digdaya itu, bahkan dalam adu tenaga sakti tadi
wanita raksasa itu membuktikan dirinya lebih kuat daripada mereka berdua. Akan
tetapi ketika mendengar pengakuan Ratu Mayang Gupita, dia terkejut bukan main.
Kini tahulah dia siapa yang telah menyebabkan gurunya terluka dan tewas.
Ternyata ada lima orang yaitu Resi Bajrasakti, Ratu Mayang Gupita dan Tri Kala
dari Kerajaan Wura wuri. Hal ini berarti bahwa gurunya telah dimusuhi oleh para
jagoan dari tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Siluman Laut Kidul, Kerajaan Wengker,
dan Kerajaan Wura-wuri! Kini mengertilah dia. Tiga kerajaan itu, di samping
kerajaan kecil lainnya seperti Kerajaan Parang Siluman dan lain-lainnya, adalah
musuh-musuh yang tidak mau tunduk kepada Mataram dan sampai sekarang tidak mau
tunduk kepada Sang Prabu Erlangga, raja Kerajaan Kahuripan yang menjadi
keturunan Mataram. Adapun gurunya, Sang Empu Dewamurti adalah seorang yang amat
setia kepada Mataram. Maka dia dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka itu
membunuh Empu Dewamurti untuk melenyapkan orang sakti mandraguna yang setia kepada
Mataram, tentu dengan maksud untuk melemahkan Mataram, gurunya sudah berpesan
kepadanya agar ia tidak bertindak menurutkan dendam sakit hati karena dendam
merupakan nafsu yang dapat mendorong manusia untuk melakukan
perbuatan-perbuatan kejam dan hal itu bertentangan dengan jiwa ksatria! Seorang
ksatria akan selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, namun dengan cara yang
benar pula, dan mengumbar kekejaman karena dendam sama sekali bukan sikap dan
tindakan benar. Namun, Nurseta bagaimanapun juga adalah seorang manusia biasa.
Biarpun dia sudah berlatih di bawah gemblengan seorang arif bijaksana seperti
mendiang Empu Dewamurti, dan dia telah dapat menanamkan kesabaran dalam
hatinya, selalu ingat dan waspada, yaitu ingat kepada Sang Hyang Widhi yang
sudah menggariskan jalan kebenaran yang harus diikutinya, namun terkadang nafsu
dalam dirinya masih sempat mengusik kesadarannya sehingga dia yang selalu
waspada untuk mengikuti setiap gerak gerik hati pikirannya sendiri, terkadang
hanyut dalam gelombang nafsu keakuannya.
Mendengar dan melihat bahwa orang
yang telah melukai dan membunuh gurunya terkasih itu kini berada di depannya,
dia tidak mampu menahan gejolak hatinya. Biarpun belum tersentuh dendam yang
akan menghancurkan semua pertimbangannya, namun sempat menggugah rasa penasaran
di dalam hatinya. Dia harus mencari keterangan dari pembunuh itu mengapa ia
membunuh Empu Dewamurti yang tidak mempunyai kesalahan apapun! Maka, tanpa
dapat menahan gejolak hatinya, Nurseta melompat dan bagaikan kilat menyambar, tubuhnya
sudah berkelebat dan tahu-tahu tiba di depan Ratu Mayang Gupita!
Wanita raksasa ini terkejut bukan
main ketika tiba-tiba saja ada seorang pemuda muncul di depannya tanpa dapat
diketahui dari mana datangnya.
No comments:
Post a Comment