Ia tahu bahwa pemuda itu telah mengambung (mencium dengan hidung) pipinya, suatu hal yang belum pernah ia alami sebelum atau selama ia menjadi selir Narotama, kecuali tentu saja oleh suaminya sendiri. Ia tersenyum-senyum dan membayangkan kemesraan dengan pemuda itu sehingga debar jantungnya menjadi semakin berdegup kencang. Demikianlah, setelah mendapatkan perkenan dari Narotama, Linggajaya diterima sebagai seorang juru taman baru di taman kepatihan. Tentu saja Linggajaya mengenakan pakaian penduduk biasa dan dia menyembunyikan keris yang diberikan oleh Adipati Wengker. Tepat seperti yang diramalkan oleh Empu Bharada, memang pada waktu itu Kerajaan Kahuripan secara rahasia diancam malapetaka dari segala jurusan, bagaikan awan-awan mendung yang datang dari segala penjuru, berkumpul di atas Kahuripan dan mengancam kerajaan ini dengan hujan malapetaka!
Diambilnya Mandari sebagai selir
Sang Prabu Erlangga, dan Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama, kemudian
munculnya Linggajaya yang membantu kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman
ini, sudah merupakan ancaman malapetaka yang mengancam raja dan patih Kahuripan
itu. Dan ternyata bukan itu saja ancaman datang. Pada suatu hari, ada seorang
tamu mohon diperkenankan menghadap Sang Prabu Erlangga. Dia mengaku sebagai
misan dari Pangeran Hendratama yang masih berada di luar kota raja. Ketika
perwira pengawal melapor kepada Sang Prabu Erlangga bahwa seorang utusan dari
Pangeran Hendratama, kakak iparnya itu, mohon menghadap, tentu saja dengan
girang dia memperkenankan utusan itu masuk dan menghadap padanya. Pangeran
Hendratama adalah kakak tiri Permaisuri, putera mendiang Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa dari seorang selir yang berkasta rendah. Ketika Erlangga terpilih
menjadi raja, agaknya Pangeran Hendratama merasa kurang senang karena dia
merasa sebagai keturunan langsung para raja Mataram dan merasa lebih berhak.
Untuk menyatakan ketidak senangan hatinya, Pangeran Hendratama lolos dari
istana dan pergi entah kemana. Sekarang dia mengirim seorang utusan dan Sang
Prabu Erlangga yang bijaksana menyambut utusan itu dengan hati girang.
Bagaimanapun juga, Pangeran Hendratama tidak pernah menyatakan ketidak-senangan
hatinya itu dengan sikap atau tindakan, maka Sang Prabu Erlangga juga tidak
menaruh dendam kepadanya, hanya rasa kasihan.
Sang Prabu Erlangga bahkan memanggil
Permaisuri untuk hadir dan ikut menerima laporan utusan Pangeran Hendratama
yang kakak tiri dari Permaisuri. Sang permaisuri juga merasa gembira akan
mendengar berita dari kakak tirinya yang sudah lama tidak diketahui ke mana
perginya itu.
Ketika utusan itu datang menghadap,
berlutut dan duduk bersimpuh di depan sang Prabu Erlangga dan empat orang isterinya
yang paling dekat, yaitu Sang Permaisuri pertama, Permaisuri ke dua, Dyah
Untari, dan Mandari. Sang Prabu Erlangga dan empat orang isterinya itu
tercengang. Kiranya utusan itu seorang wanita! Seorang gadis manis dengan tahi
lalat di pipi kiri, kulitnya kuning, tubuhnya tinggi semampai, lehernya panjang
dan sikapnya anggun. Usianya sekitar dua puluh dua tahun. Dengan penuh hormat
ia menyembah kepada Sang Prabu dan empat orang isterinya.
"Hamba mohon beribu ampun bahwa
hamba telah berani datang menghadap dan mengganggu waktu paduka tanpa
dipanggil, gusti." katanya sambil menyembah.
Jelas bahwa gadis ini bukan orang
biasa. Ia tahu betul akan tata cara dan kesusilaan menghadap raja dan agaknya
ia sudah terlatih untuk itu. Hal ini tidak mengherankan gadis manis itu bukan
lain adalah Sukarti yang merupakan garwa ampilan (isteri selir), juga pembantu
setia, yang pertama dari Pangeran Hendratama.
"Siapakah andika dan laporkan
dengan jelas apa maksud kedatanganmu menghadap kami." kata Sang Prabu
Erlangga yang diam-diam girang menyaksikan sikap yang anggun dari utusan kakak
iparnya itu.
Sukarti menyembah.
"Hamba bernama Sukarti,
pembantu dan utusan Gusti Pangeran Hendratama. Hamba diutus menghadap paduka
dan menghaturkan sepucuk surat dari beliau, kanjeng gusti”
"Hemm, bagus. Kalau begitu
cepat serahkan surat itu kepada kami. Terimalah suratnya, diajeng." kata
Sang Prabu Erlangga kepada Mandari.
Selir ini bangkit dari kursinya,
menghampiri Sukarti dan menerima gulungan surat yang dihaturkan oleh gadis
utusan itu. Ketika jari tangan Mandari menyentuh tangannya, Sukarti merasa
betapa ada hawa getaran yang amat kuat dari tangan puteri jelita dan ia
terkejut bukan main, maklum bahwa sang puteri itu memiliki kesaktian tinggi.
Akan tetapi ia tidak membuat reaksi, hanya menundukkan mukanya dan diam-diam
Sukarti dapat menduga bahwa puteri ini tentulah Puteri Mandari dari Kerajaan
Parang Siluman yang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga. la memang sudah
mendapat keterangan jelas tentang keadaan keluarga di istana Kahuripan itu.
Bahkan kalau Pangeran Hendratama kini menghubungi Sang Prabu Erlangga dan
hendak mendekatinya, hal itu juga terdorong oleh kehadiran dua orang puteri
Parang Siluman yang kini menjadi selir sang prabu dan selir ki patih itu.
Mereka ini akan dapat menjadi sekutu yang baik sekali!
Sang Prabu Erlangga membaca surat
kakak iparnya itu dan dia mengangguk angguk, lalu menyerahkan surat itu kepada
Permaisuri pertama yang adik tiri Pangeran Hendratama. Permaisuri Sekar Kedaton
membaca surat kakaknya itu dan iapun ikut gembira, mengangguk- angguk, lalu
menyerahkan surat itu kepada Permaisuri ke dua, yaitu Puteri Sri
Sanggramawijaya dari Sriwijaya. Puteri inipun membaca surat itu lalu dioperkan
kepada Dyah Untari. Kemudian yang terakhir kali Mandari juga membacanya. Mereka
semua merasa ikut bergembira karena di dalam suratnya itu, Pangeran Hendratama
mengirim hadiah berupa beberapa batang tombak dan keris pusaka ampuh untuk sang
prabu, dan menyatakan keinginannya untuk kembali ke Kahuripan. Pangeran
Hendratama tidak mohon untuk tinggal di istana, melainkan mohon perkenan sang
prabu untuk tinggal di luar istana. Sang Prabu Erlangga lalu mengutus kepala
pengawal untuk mengangkut sebuah peti berisi pusaka-pusaka itu, kemudian
melalui Sukarti dia mengundang kakak iparnya itu agar datang berkunjung dan
berbincang-bincang di istana. Setelah menghaturkan terima kasih dan hormat
Sukarti mengundurkan diri keluar dari istana, hatinya senang karena ia tahu
bahwa majikannya, juga suami dan junjungannya, tentu akan merasa gembira sekali
mendengar sambutan keluarga Sang Prabu Erlangga yang demikian ramah.
Demikianlah, perpindahan Pangeran
Hendratama ke kota raja setelah oleh Sang Prabu Erlangga dihadiahi sebuah
gedung yang cukup besar dan megah di luar istana, diam-diam merupakan ancaman
baru yang berbahaya. Pangeran Hendratama tidak pernah berhenti menaruh dendam
dan keinginan hatinya untuk sewaktu-waktu dapat merebut kekuasaan dan menjadi
raja Kahuripan sebagai penerus mendiang ramanya, yaitu Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa. Pangeran Hendratama tinggal bersama tiga orang selirnya yang
setia di dalam sebuah gedung besar hadiah Sang Prabu Erlangga. Mulailah
pangeran itu mengadakan kontak dengan para bangsawan yang diam-diam
mendukungnya. Dia sengaja mendekati para bangsawan yang dalam pemerintahan Raja
Erlangga tidak mendapatkan tempat yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang
kecewa dan iri hati karena tidak kebagian kedudukan yang "basah",
yang merasa berjasa akan tetapi tidak mendapatkan penghargan sebagaimana yang
mereka inginkan. Para bangsawan ini memang oleh Sang Prabu Erlangga tidak
diberi kedudukan penting karena raja yang arif ini mengenal watak mereka yang
hanya mengejar kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang seperti ini kalau
diberi kedudukan tinggi hanya akan mempergunakan kedudukan yang memberi kuasa
kepada mereka itu untuk bertindak sewenang-wenang kepada bawahan dan rakyat,
orang-orang yaitu biasa menjilat ke atas dan meludah kebawah. Mereka condong
melakukan korupsi dan menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sendiri,
kalau perlu berpijak kepada kesengsaraan orang-orang di bawah mereka. Pangeran
Hendratama memang cerdik sekali. Dia tahu bahwa seperti juga dia sendiri yang
tidak kebagian kedudukan orang-orang itu merasa iri dan membenci Sang Prabu
Erlangga secara diam diam. Dia menghubungi mereka, mengobarkan semangat
kebencian mereka dengan mengatakan bahwa Sang Prabu Erlangga yang mereka anggap
sebagai seorang raja yang mata keranjang dan merendahkan kehormatan Kerajaan
Kahuripan keturunan Mataram dengan mengawini dua orang puteri dari pihak musuh,
yaitu puteri Mandari dari Parang siluman dan Puteri Sri Sanggramawijaya dari
Sriwijaya!
Demikianlah, diam-diam Pangeran
Hendratama telah menyusun kekuatan, sekongkol dengan banyak bangsawan yang
secara rahasia menghimpun sebuah pasukan yang siap dipergunakan untuk tujuan
terakhir mereka, yaitu memberontak dan menggulingkan Sang Prabu Erlangga
dibawah pimpinan Pangeran Hendratama! Bagaikan seekor laba-laba, dengan sabar
dan tekun Pangeran Hendratama mulai membentang jaring di sekitar diri Sang
Prabu Erlangga. Tentu saja diapun sudah tahu akan isi hati puteri Mandari dari
Parang Siluman, maka diam diam diapun mulai mendekati puteri ini untuk diajak
bersekutu. Puteri Mandari membiasakan diri untuk pergi berburu binatang buas di
hutan yang terdapat di luar kota raja. Ia tadinya melakukan perburuan itu
bersama Sang Prabu Erlangga dan dengan dalih bahwa ia suka sekali berburu yang
merupakan hiburan mengasyikan baginya maka Sang Prabu Erlangga memperkenankan
selir ini terkadang melakukan perburuan seorang diri. Raja sama sekali tidak
khawatir akan keselamatan selir itu, karena ia maklum Mandari memiliki
kesaktian yang cukup tinggi untuk menjaga dirinya sendiri. Tentu saja kesukaan
berburu sendiri itu hanya merupakan alasan Mandari agar ia mendapat kebebasan
dan dengan demikian, ia dapat leluasa berhubungan dengan orang-orang di luar
istana. Pangeran Hendratama yang mengetahui akan kebiasaan ini, segera
mempergunakan kesempatan itu untuk diam-diam menjumpai Mandari dan mereka
berduapun segera bersepakat untuk bersekutu dalam niat mereka menjatuhkan Sang
Prabu Erlangga. Akan tetapi, tentu saja keduanya tidak mau berterus terang akan
alasan mereka memusuhi Sang Prabu Erlangga. Pangeran Hendratama tentu saja
tidak mengatakan bahwa dia ingin merebut kekuasaan Sang Prabu Erlangga dan
menjadi raja di Kahuripan dan Mandari juga tidak mengatakan tentang keinginan
ratu Parang Siluman untuk menguasai Kahuripan. Bahkan Pangeran Hendratama
kecelik dan menabrak batu ketika dia mencoba untuk menguasai Puteri Mandari
yang cantik molek itu. Pangeran yang mata keranjang ini ingin sekali menarik
sang puteri bukan saja sebagai sekutunya, melainkan juga sebagai kekasih
gelapnya! Akan tetapi hampir saja dia tewas ketika dia mencoba untuk merayu
Mandari. Puteri itu marah sekali dan menyerangnya dengan hebat ketika sang
pangeran dalam pertemuan mereka berdua dalam hutan menyatakan cintanya dan
merayunya. Pangeran Hendratama yang juga digdaya, membela diri bahkan ingin
menundukkan sang puteri dengan aji kanuragaan yang dia kuasai. Akan tetapi
dalam pertandingan singkat tanpa disaksikan siapapun juga itu, akhirnya
Pangeran Hendratama terjungkal roboh oleh tamparan Mandari.
"Pangeran, mengingat andika
bukan musuhku, maka aku masih mengampunimu dan tidak membunuhmu. Kita dapat
bekerja sama menghadapi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Akan tetapi
sekali lagi andika kurang ajar dan tidak bersusila terhadapku, aku akan
membunuhmu!"
Sejak itu, Pangeran Hendratama
bersikap hormat sekali kepada Puteri Mandari. Dia menganggap puteri itu amat
berbahaya kalau dijadikan musuh, akan tetapi amat berguna untuk dijadikan
sekutu. Apalagi mengingat betapa dekat sekali dengan Sang Prabu Erlangga.
Melihat perubahan sikap Pangeran Hendratama terhadap dirinya, Mandari juga
melupakan peristiwa itu dan iapun bersikap baik karena iapun maklum bahwa sang
pangeran itu dapat menjadi sekutu yang berguna sekali. Pangeran itu mempunyai
pengaruh yang cukup luas dan besar kemungkinan dengan kerja sama mereka,
akhirnya akan tercapai rencananya, yaitu menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan
menghancurkan Kerajaan Kahuripan.
Kita tinggalkan dulu mereka yang
bersiap-siap menyusun kekuatan untuk mennjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama, pendeknya untuk merebut kekuasaan di Kerajaan Kahuripan dan
kita ikuti Nurseta. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Nurseta datang
ke dusun Karang Tirta dan berhasil memaksa Ki Suramenggala, lurah Karang Tirta,
untuk menceritakan tentang ayah ibunya yang meninggalkannya sejak dia berusia
sepuluh tahun. Setelah dihajar keras, Ki Suramenggala mengaku bahwa orang tua Nurseta
yang bernama Ki Darmaguna dan Nyi Sawitri, melarikan diri entah ke mana setelah
tahu bahwa mereka dilaporkan oleh Suramenggala ke kota raja, yaitu kepada
Senopati Sindukerta. Kemudian muncul Linggajaya dan Puspa Dewi yang membela
Lurah Suramenggala sehingga Nurseta terpaksa melarikan diri karena tidak ingin
permusuhan menjadi berlarut-larut. Kini dia tahu ke mana harus melacak untuk
mengetahui tentang orang tuanya. Tiada lain ke kota raja, mencari Senopati
Sindukerta yang agaknya ditakuti ayah ibunya itu dan menanyakan mengapa orang
tuanya menjadi orang-orang buruan.
Pada suatu pagi, Nurseta menuju ke
kota raja Kahuripan. Ketika dia menuruni sebuah lereng bukit kapur, dari tempat
tinggi itu dia melihat serombongan orang mengawal sebuah kereta yang tampak
mengkilap tertimpa cahaya matahari. Dilihat dari pakaian seragam dan tombak
atau golok yang berada di tangan orang orang itu, mudah diduga bahwa mereka itu
adalah sepasukan prajurit yang mengawal sebuah kereta yang pintunya tertutup
tirai sehingga penumpangnya tidak tampak dari luar. Jumlah pasukan itu ada dua
losin orang. Karena ingin sekali mendengar tentang kota raja Kahuripan dan
menyangka bahwa penumpang kereta yang dikawal pasukan itu tentu seorang
pembesar Kerajaan Kahuripan, maka Nurseta cepat menuruni bukit itu. Siapa tahu
dari rombongan itu dia akan mendapatkan keterangan tentang Senopati Sindukerta
yang dicarinya karena tentu Senopati yang ditakuti orang tuanya itu akan dapat
memberi penjelasan tentang orang tuanya yang melarikan diri meninggalkan dia
seorang diri. Akan tetapi ketika Nurseta yang mengerahkan Aji Bayu Sakti
sehingga dia dapat berlari menuruni bukit itu seperti terbang sudah tiba di
dekat jalan di bawah bukit yang dilalui rombongan itu, Dia melihat betapa ada
dua orang laki-laki berdiri di tengah jalan menghadang rombongan itu. Kereta
itu sudah berhenti dan seorang berpakaian perwira, komandan rombongan pengawal
itu, sudah maju ke depan kereta menghadapi dua orang yang menghadang perjalanan
mereka. Nurseta ingin tahu apa yang terjadi, Dia cepat mendekati dan
bersembunyi dibalik sebatang pohon, menonton dan mendengarkan apa yang sedang
terjadi. Dia memperhatikan dua orang yang menghadang rombongan itu. Mereka itu
merupakan dua orang yang penampilannya tidak seperti orang biasa. Yang seorang
adalah seorang laki laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bentuk tubuhnya yang
tinggi kurus dan punggungnya agak bongkok itu membuat dia tampak ringkih.
Pakaiannya berbentuk jubah panjang dan di tangan kirinya tergantung seuntai
tasbih yang biji tasbihnya terbuat dari kayu hitam. Wajah orang itu membuat
Nurseta tertegun heran.
No comments:
Post a Comment