Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 52


Ia tahu bahwa pemuda itu telah mengambung (mencium dengan hidung) pipinya, suatu hal yang belum pernah ia alami sebelum atau selama ia menjadi selir Narotama, kecuali tentu saja oleh suaminya sendiri. Ia tersenyum-senyum dan membayangkan kemesraan dengan pemuda itu sehingga debar jantungnya menjadi semakin berdegup kencang. Demikianlah, setelah mendapatkan perkenan dari Narotama, Linggajaya diterima sebagai seorang juru taman baru di taman kepatihan. Tentu saja Linggajaya mengenakan pakaian penduduk biasa dan dia menyembunyikan keris yang diberikan oleh Adipati Wengker. Tepat seperti yang diramalkan oleh Empu Bharada, memang pada waktu itu Kerajaan Kahuripan secara rahasia diancam malapetaka dari segala jurusan, bagaikan awan-awan mendung yang datang dari segala penjuru, berkumpul di atas Kahuripan dan mengancam kerajaan ini dengan hujan malapetaka!

Diambilnya Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga, dan Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama, kemudian munculnya Linggajaya yang membantu kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman ini, sudah merupakan ancaman malapetaka yang mengancam raja dan patih Kahuripan itu. Dan ternyata bukan itu saja ancaman datang. Pada suatu hari, ada seorang tamu mohon diperkenankan menghadap Sang Prabu Erlangga. Dia mengaku sebagai misan dari Pangeran Hendratama yang masih berada di luar kota raja. Ketika perwira pengawal melapor kepada Sang Prabu Erlangga bahwa seorang utusan dari Pangeran Hendratama, kakak iparnya itu, mohon menghadap, tentu saja dengan girang dia memperkenankan utusan itu masuk dan menghadap padanya. Pangeran Hendratama adalah kakak tiri Permaisuri, putera mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dari seorang selir yang berkasta rendah. Ketika Erlangga terpilih menjadi raja, agaknya Pangeran Hendratama merasa kurang senang karena dia merasa sebagai keturunan langsung para raja Mataram dan merasa lebih berhak. Untuk menyatakan ketidak senangan hatinya, Pangeran Hendratama lolos dari istana dan pergi entah kemana. Sekarang dia mengirim seorang utusan dan Sang Prabu Erlangga yang bijaksana menyambut utusan itu dengan hati girang. Bagaimanapun juga, Pangeran Hendratama tidak pernah menyatakan ketidak-senangan hatinya itu dengan sikap atau tindakan, maka Sang Prabu Erlangga juga tidak menaruh dendam kepadanya, hanya rasa kasihan.
Sang Prabu Erlangga bahkan memanggil Permaisuri untuk hadir dan ikut menerima laporan utusan Pangeran Hendratama yang kakak tiri dari Permaisuri. Sang permaisuri juga merasa gembira akan mendengar berita dari kakak tirinya yang sudah lama tidak diketahui ke mana perginya itu.

Ketika utusan itu datang menghadap, berlutut dan duduk bersimpuh di depan sang Prabu Erlangga dan empat orang isterinya yang paling dekat, yaitu Sang Permaisuri pertama, Permaisuri ke dua, Dyah Untari, dan Mandari. Sang Prabu Erlangga dan empat orang isterinya itu tercengang. Kiranya utusan itu seorang wanita! Seorang gadis manis dengan tahi lalat di pipi kiri, kulitnya kuning, tubuhnya tinggi semampai, lehernya panjang dan sikapnya anggun. Usianya sekitar dua puluh dua tahun. Dengan penuh hormat ia menyembah kepada Sang Prabu dan empat orang isterinya.
"Hamba mohon beribu ampun bahwa hamba telah berani datang menghadap dan mengganggu waktu paduka tanpa dipanggil, gusti." katanya sambil menyembah.
Jelas bahwa gadis ini bukan orang biasa. Ia tahu betul akan tata cara dan kesusilaan menghadap raja dan agaknya ia sudah terlatih untuk itu. Hal ini tidak mengherankan gadis manis itu bukan lain adalah Sukarti yang merupakan garwa ampilan (isteri selir), juga pembantu setia, yang pertama dari Pangeran Hendratama.
"Siapakah andika dan laporkan dengan jelas apa maksud kedatanganmu menghadap kami." kata Sang Prabu Erlangga yang diam-diam girang menyaksikan sikap yang anggun dari utusan kakak iparnya itu.
Sukarti menyembah.
"Hamba bernama Sukarti, pembantu dan utusan Gusti Pangeran Hendratama. Hamba diutus menghadap paduka dan menghaturkan sepucuk surat dari beliau, kanjeng gusti”
"Hemm, bagus. Kalau begitu cepat serahkan surat itu kepada kami. Terimalah suratnya, diajeng." kata Sang Prabu Erlangga kepada Mandari.
Selir ini bangkit dari kursinya, menghampiri Sukarti dan menerima gulungan surat yang dihaturkan oleh gadis utusan itu. Ketika jari tangan Mandari menyentuh tangannya, Sukarti merasa betapa ada hawa getaran yang amat kuat dari tangan puteri jelita dan ia terkejut bukan main, maklum bahwa sang puteri itu memiliki kesaktian tinggi. Akan tetapi ia tidak membuat reaksi, hanya menundukkan mukanya dan diam-diam Sukarti dapat menduga bahwa puteri ini tentulah Puteri Mandari dari Kerajaan Parang Siluman yang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga. la memang sudah mendapat keterangan jelas tentang keadaan keluarga di istana Kahuripan itu. Bahkan kalau Pangeran Hendratama kini menghubungi Sang Prabu Erlangga dan hendak mendekatinya, hal itu juga terdorong oleh kehadiran dua orang puteri Parang Siluman yang kini menjadi selir sang prabu dan selir ki patih itu. Mereka ini akan dapat menjadi sekutu yang baik sekali!

Sang Prabu Erlangga membaca surat kakak iparnya itu dan dia mengangguk angguk, lalu menyerahkan surat itu kepada Permaisuri pertama yang adik tiri Pangeran Hendratama. Permaisuri Sekar Kedaton membaca surat kakaknya itu dan iapun ikut gembira, mengangguk- angguk, lalu menyerahkan surat itu kepada Permaisuri ke dua, yaitu Puteri Sri Sanggramawijaya dari Sriwijaya. Puteri inipun membaca surat itu lalu dioperkan kepada Dyah Untari. Kemudian yang terakhir kali Mandari juga membacanya. Mereka semua merasa ikut bergembira karena di dalam suratnya itu, Pangeran Hendratama mengirim hadiah berupa beberapa batang tombak dan keris pusaka ampuh untuk sang prabu, dan menyatakan keinginannya untuk kembali ke Kahuripan. Pangeran Hendratama tidak mohon untuk tinggal di istana, melainkan mohon perkenan sang prabu untuk tinggal di luar istana. Sang Prabu Erlangga lalu mengutus kepala pengawal untuk mengangkut sebuah peti berisi pusaka-pusaka itu, kemudian melalui Sukarti dia mengundang kakak iparnya itu agar datang berkunjung dan berbincang-bincang di istana. Setelah menghaturkan terima kasih dan hormat Sukarti mengundurkan diri keluar dari istana, hatinya senang karena ia tahu bahwa majikannya, juga suami dan junjungannya, tentu akan merasa gembira sekali mendengar sambutan keluarga Sang Prabu Erlangga yang demikian ramah.

Demikianlah, perpindahan Pangeran Hendratama ke kota raja setelah oleh Sang Prabu Erlangga dihadiahi sebuah gedung yang cukup besar dan megah di luar istana, diam-diam merupakan ancaman baru yang berbahaya. Pangeran Hendratama tidak pernah berhenti menaruh dendam dan keinginan hatinya untuk sewaktu-waktu dapat merebut kekuasaan dan menjadi raja Kahuripan sebagai penerus mendiang ramanya, yaitu Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Pangeran Hendratama tinggal bersama tiga orang selirnya yang setia di dalam sebuah gedung besar hadiah Sang Prabu Erlangga. Mulailah pangeran itu mengadakan kontak dengan para bangsawan yang diam-diam mendukungnya. Dia sengaja mendekati para bangsawan yang dalam pemerintahan Raja Erlangga tidak mendapatkan tempat yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang kecewa dan iri hati karena tidak kebagian kedudukan yang "basah", yang merasa berjasa akan tetapi tidak mendapatkan penghargan sebagaimana yang mereka inginkan. Para bangsawan ini memang oleh Sang Prabu Erlangga tidak diberi kedudukan penting karena raja yang arif ini mengenal watak mereka yang hanya mengejar kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang seperti ini kalau diberi kedudukan tinggi hanya akan mempergunakan kedudukan yang memberi kuasa kepada mereka itu untuk bertindak sewenang-wenang kepada bawahan dan rakyat, orang-orang yaitu biasa menjilat ke atas dan meludah kebawah. Mereka condong melakukan korupsi dan menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sendiri, kalau perlu berpijak kepada kesengsaraan orang-orang di bawah mereka. Pangeran Hendratama memang cerdik sekali. Dia tahu bahwa seperti juga dia sendiri yang tidak kebagian kedudukan orang-orang itu merasa iri dan membenci Sang Prabu Erlangga secara diam diam. Dia menghubungi mereka, mengobarkan semangat kebencian mereka dengan mengatakan bahwa Sang Prabu Erlangga yang mereka anggap sebagai seorang raja yang mata keranjang dan merendahkan kehormatan Kerajaan Kahuripan keturunan Mataram dengan mengawini dua orang puteri dari pihak musuh, yaitu puteri Mandari dari Parang siluman dan Puteri Sri Sanggramawijaya dari Sriwijaya!

Demikianlah, diam-diam Pangeran Hendratama telah menyusun kekuatan, sekongkol dengan banyak bangsawan yang secara rahasia menghimpun sebuah pasukan yang siap dipergunakan untuk tujuan terakhir mereka, yaitu memberontak dan menggulingkan Sang Prabu Erlangga dibawah pimpinan Pangeran Hendratama! Bagaikan seekor laba-laba, dengan sabar dan tekun Pangeran Hendratama mulai membentang jaring di sekitar diri Sang Prabu Erlangga. Tentu saja diapun sudah tahu akan isi hati puteri Mandari dari Parang Siluman, maka diam diam diapun mulai mendekati puteri ini untuk diajak bersekutu. Puteri Mandari membiasakan diri untuk pergi berburu binatang buas di hutan yang terdapat di luar kota raja. Ia tadinya melakukan perburuan itu bersama Sang Prabu Erlangga dan dengan dalih bahwa ia suka sekali berburu yang merupakan hiburan mengasyikan baginya maka Sang Prabu Erlangga memperkenankan selir ini terkadang melakukan perburuan seorang diri. Raja sama sekali tidak khawatir akan keselamatan selir itu, karena ia maklum Mandari memiliki kesaktian yang cukup tinggi untuk menjaga dirinya sendiri. Tentu saja kesukaan berburu sendiri itu hanya merupakan alasan Mandari agar ia mendapat kebebasan dan dengan demikian, ia dapat leluasa berhubungan dengan orang-orang di luar istana. Pangeran Hendratama yang mengetahui akan kebiasaan ini, segera mempergunakan kesempatan itu untuk diam-diam menjumpai Mandari dan mereka berduapun segera bersepakat untuk bersekutu dalam niat mereka menjatuhkan Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi, tentu saja keduanya tidak mau berterus terang akan alasan mereka memusuhi Sang Prabu Erlangga. Pangeran Hendratama tentu saja tidak mengatakan bahwa dia ingin merebut kekuasaan Sang Prabu Erlangga dan menjadi raja di Kahuripan dan Mandari juga tidak mengatakan tentang keinginan ratu Parang Siluman untuk menguasai Kahuripan. Bahkan Pangeran Hendratama kecelik dan menabrak batu ketika dia mencoba untuk menguasai Puteri Mandari yang cantik molek itu. Pangeran yang mata keranjang ini ingin sekali menarik sang puteri bukan saja sebagai sekutunya, melainkan juga sebagai kekasih gelapnya! Akan tetapi hampir saja dia tewas ketika dia mencoba untuk merayu Mandari. Puteri itu marah sekali dan menyerangnya dengan hebat ketika sang pangeran dalam pertemuan mereka berdua dalam hutan menyatakan cintanya dan merayunya. Pangeran Hendratama yang juga digdaya, membela diri bahkan ingin menundukkan sang puteri dengan aji kanuragaan yang dia kuasai. Akan tetapi dalam pertandingan singkat tanpa disaksikan siapapun juga itu, akhirnya Pangeran Hendratama terjungkal roboh oleh tamparan Mandari.
"Pangeran, mengingat andika bukan musuhku, maka aku masih mengampunimu dan tidak membunuhmu. Kita dapat bekerja sama menghadapi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Akan tetapi sekali lagi andika kurang ajar dan tidak bersusila terhadapku, aku akan membunuhmu!"
Sejak itu, Pangeran Hendratama bersikap hormat sekali kepada Puteri Mandari. Dia menganggap puteri itu amat berbahaya kalau dijadikan musuh, akan tetapi amat berguna untuk dijadikan sekutu. Apalagi mengingat betapa dekat sekali dengan Sang Prabu Erlangga. Melihat perubahan sikap Pangeran Hendratama terhadap dirinya, Mandari juga melupakan peristiwa itu dan iapun bersikap baik karena iapun maklum bahwa sang pangeran itu dapat menjadi sekutu yang berguna sekali. Pangeran itu mempunyai pengaruh yang cukup luas dan besar kemungkinan dengan kerja sama mereka, akhirnya akan tercapai rencananya, yaitu menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan menghancurkan Kerajaan Kahuripan.

Kita tinggalkan dulu mereka yang bersiap-siap menyusun kekuatan untuk mennjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, pendeknya untuk merebut kekuasaan di Kerajaan Kahuripan dan kita ikuti Nurseta. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Nurseta datang ke dusun Karang Tirta dan berhasil memaksa Ki Suramenggala, lurah Karang Tirta, untuk menceritakan tentang ayah ibunya yang meninggalkannya sejak dia berusia sepuluh tahun. Setelah dihajar keras, Ki Suramenggala mengaku bahwa orang tua Nurseta yang bernama Ki Darmaguna dan Nyi Sawitri, melarikan diri entah ke mana setelah tahu bahwa mereka dilaporkan oleh Suramenggala ke kota raja, yaitu kepada Senopati Sindukerta. Kemudian muncul Linggajaya dan Puspa Dewi yang membela Lurah Suramenggala sehingga Nurseta terpaksa melarikan diri karena tidak ingin permusuhan menjadi berlarut-larut. Kini dia tahu ke mana harus melacak untuk mengetahui tentang orang tuanya. Tiada lain ke kota raja, mencari Senopati Sindukerta yang agaknya ditakuti ayah ibunya itu dan menanyakan mengapa orang tuanya menjadi orang-orang buruan.

Pada suatu pagi, Nurseta menuju ke kota raja Kahuripan. Ketika dia menuruni sebuah lereng bukit kapur, dari tempat tinggi itu dia melihat serombongan orang mengawal sebuah kereta yang tampak mengkilap tertimpa cahaya matahari. Dilihat dari pakaian seragam dan tombak atau golok yang berada di tangan orang orang itu, mudah diduga bahwa mereka itu adalah sepasukan prajurit yang mengawal sebuah kereta yang pintunya tertutup tirai sehingga penumpangnya tidak tampak dari luar. Jumlah pasukan itu ada dua losin orang. Karena ingin sekali mendengar tentang kota raja Kahuripan dan menyangka bahwa penumpang kereta yang dikawal pasukan itu tentu seorang pembesar Kerajaan Kahuripan, maka Nurseta cepat menuruni bukit itu. Siapa tahu dari rombongan itu dia akan mendapatkan keterangan tentang Senopati Sindukerta yang dicarinya karena tentu Senopati yang ditakuti orang tuanya itu akan dapat memberi penjelasan tentang orang tuanya yang melarikan diri meninggalkan dia seorang diri. Akan tetapi ketika Nurseta yang mengerahkan Aji Bayu Sakti sehingga dia dapat berlari menuruni bukit itu seperti terbang sudah tiba di dekat jalan di bawah bukit yang dilalui rombongan itu, Dia melihat betapa ada dua orang laki-laki berdiri di tengah jalan menghadang rombongan itu. Kereta itu sudah berhenti dan seorang berpakaian perwira, komandan rombongan pengawal itu, sudah maju ke depan kereta menghadapi dua orang yang menghadang perjalanan mereka. Nurseta ingin tahu apa yang terjadi, Dia cepat mendekati dan bersembunyi dibalik sebatang pohon, menonton dan mendengarkan apa yang sedang terjadi. Dia memperhatikan dua orang yang menghadang rombongan itu. Mereka itu merupakan dua orang yang penampilannya tidak seperti orang biasa. Yang seorang adalah seorang laki laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bentuk tubuhnya yang tinggi kurus dan punggungnya agak bongkok itu membuat dia tampak ringkih. Pakaiannya berbentuk jubah panjang dan di tangan kirinya tergantung seuntai tasbih yang biji tasbihnya terbuat dari kayu hitam. Wajah orang itu membuat Nurseta tertegun heran.

<<<Bagian 51                                                                                          Bagian 53 >>>

No comments:

Post a Comment