Mendiang ayahnya adalah Pangeran Tua
Hardogutama yang kemudian diangkat sebagai patih oleh mendiang Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa, mertua Sang Prabu Erlangga. Mendiang ayahnya itu dan mendiang
kakaknya memang melakukan pemberontakan, hendak menguasai kerajaan dan hendak
membunuh Sang Prabu Erlangga ketika belum menjadi raja. Namun usaha mereka itu
gagal, bahkan mereka sendiri tewas dalam perang, ia sendiri sama sekali tidak
membantu ayahnya, bahkan membantu Erlangga dengan setia sehingga setelah
Erlangga menjadi raja, dia diambil sebagai selir.
"Sudahlah, biyung emban,
ceritakan saja apa yang terjadi dan kami akan beri hadiah untuk menghibur hati
keluarga adikmu. Urusan ini kita habiskan di sini saja. Pembunuhan telah
dilakukan dan pembunuhnya juga sudah terbunuh, tidak perlu adanya curiga
mencurigai dan tuduh menuduh. Marilah, adinda Sri Sanggramawijaya, peristiwa
ini jangan sampai menjadi penghalang kebahagiaan kita."
Semua bubar. Para abdi dan perajurit
pengawal mengurus mayat perwira Sriwijaya dan mayat anak kecil itu oleh biyung
emban Darmi dibawa pulang ke rumah adiknya, disambut ratap tangis ibu anak itu.
Akan tetapi peristiwa yang terakhir ini seolah mulai menyadarkan Lasmini dan
Mandari bahwa mereka kini harus berhati-hati. Apalagi agaknya peristiwa itu
juga mendatangkan keraguan dalam hati Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama. Pandang mata Sang Prabu Erlangga terhadap Mandari, biarpun masih
mesra seperti dulu, namun mengandung sinar mata tajam menyelidik, seolah raja
itu ingin menjenguk isi hati yang paling dalam dari selirnya ini.
Demikian pula dengan Ki Patih
Narotama. Memang masih dapat dibakar gairahnya oleh Lasmini yang pandai merayu,
namun di saat saat tertentu tampak betapa sinar mata ki patih ini mencorong dan
memandang tajam kepada Lasmini, seperti hendak menyelidiki! Bahkan Lasmini
berhasil membujuk Ki patih Narotama untuk mengajarkan satu di antara
ilmu-ilmunya kepada selir itu. Narotama mengajarkan semacam ilmu silat Kukila
Sakti (Burung Sakti) pada Lasmini sehingga wanita ini menjadi semakin tangkas
saja. Ilmu silat ini membuat ia dapat bergerak laksana seekor burung srikatan,
lincah dan cepat bukan main.
"Kakangmas, setelah dua orang
juru taman kita dulu itu terbunuh orang, sampai sekarang belum ada penggantinya
yang tepat." kata Lasmini kepada Ki Patih Narotama dengan suara manja
sambil merapatkan duduknya di bangku taman mendekati suaminya.
Narotama tersenyum. Selirnya ini
kalau sudah bersikap manja seperti itu biasanya ada maunya. Akan tetapi sebelum
memenuhi kehendaknya itu, biasanya Lasmini bersikap amat mesra dan amat
menyenangkan hatinya. Dia lalu merangkul dan menarik tubuh yang bahenol itu.
Mendapat kesempatan ini Lasmini lalu mengangkat pinggulnya dan duduklah ia di
atas pangkuan Narotama. Ki patih tertawa dan merangkul pinggang yang ramping
itu. Bau melati semerbak dari rambut dan leher Lasmini dan dia menghirup
keharuman itu sambil mencium leher yang berkulit putih mulus itu. Lasmini
menggelijang dan tertawa lirih tertahan sehingga suara itu menimbulkan gairah
dalam hati Narotama.
"Kalau engkau ada usul mengenai
juru taman, katakan saja, sayang." kata Ki patih sambil mengamati wajah
yang berkulit putih halus kemerahan itu.
"Begini, kakangmas tentu
mengenal Sarti, pelayan pribadi hamba itu bukan"
"Tentu saja, abdimu yang ayu
manis merak ati itu?" Narotama menggoda sambil tertawa.
"Ih, ngenyek (mengejek) ini,
ya? Sarti memang berwajah buruk dan bentuk tubuhnya tinggi besar, akan tetapi
ia mempunyai seorang adik misan laki-laki yang menurut keterangannya terampil
dan pandai mengurus taman. Nah, Sarti yang minta kepada hamba agar adik
misannya itu diterima bekerja sebagai juru taman di sini dan hamba menyanggupi.
Akan tetapi tanpa perkenan dari paduka, mana hamba berani mengambil keputusan
menerimanya?"
Narotama tersenyum.
"Ah, urusan sekecil itu kenapa
harus minta perkenan dariku, diajeng? Urusan taman dan juru tamannya, putuskan
saja sendiri. Terserah kepadamu. Kalau engkau sudah menerima adik misan Sarti
itu sebagai juru taman, aku sih setuju saja. Asal dia dapat bekerja dengan
baik, menjaga agar taman kita selain bersih, terawat sehingga tampak indah dan
bunga-bunganya berkembang subur."
"Tentu saja, kakangmas, dan terima
kasih atas persetujuan paduka."
"O ya, siapa nama juru taman
baru itu, diajeng?"
"Namanya Linggajaya,
kakangmas."
"Hemm, nama yang indah, tentu
orangnya elok pula."
"Ih, kakangmas. Apakah itu
penting? yang penting adalah hasil pekerjaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga,
tentu lebih menyenangkan kalau pembantu pembantu kita berwajah elok daripada
berwajah buruk."
"Dan abdimu itu .....?"
Narotama kembali menggoda.
"Sarti? Ia lain, kakangmas. Ia
telah menjadi abdi di istana kanjeng ibu di istana Parang Siluman sejak hamba
masih bayi. Ia yang mengasuh hamba sejak kecil. Karena itu, biar ia buruk rupa,
ia merupakan pembantu setia yang sangat hamba sayangi."
Narotama tersenyum.
"Hemm, ingin aku melihat
bagaimana rupanya ketika engkau masih bayi. Ingin aku memondongmu, menimang dan
memandikanmu!"
"Memandikan hamba?"
Lasmini tertawa. Tawanya renyah dan merdu.
"Paduka ini aneh-aneh saja,
membuat hamba malu... "
Mereka bergurau dan sambil
bergandengan tangan mereka lalu masuk gedung kepatihan untuk melanjutkan senda
gurau mereka yang mesra.
Linggajaya memang datang ke
kepatihan seperti yang pernah diminta Lasmini ketika mereka bertemu di taman
istana Sang Prabu Erlangga. Seperti ketika memasuki taman istana kerajaan,
ketika memasuki taman kepatihan, Linggajaya juga mempergunakan aji kesaktian
untuk memasuki taman tanpa diketahui para penjaga dan para perajurit pengawal
kepatihan. Dengan mudah Linggajaya dapat bertemu dengan Lasmini yang memang
sudah menanti di taman malam itu karena ia telah memperoleh kabar rahasia dari
Mandari bahwa Linggajaya akan mengunjunginya di taman kepatihan. Ketika
Linggajaya muncul, Lasmini memerintahkan abdinya yang setia, Sarti untuk
berjaga di luar pondok demi keamanan pertemuan itu.
"Duduklah, Linggajaya,"
kata Lasmini dengan sikap anggun dan angkuh karena ia tidak mau merendah dan
masih "tahan harga" walaupun jantungnya berdebar tegang menerima
kunjungan seorang pemuda tampan dan amat digdaya itu. Ia menjadi selir Narotama
ketika masih seorang gadis dan belum pernah sebelumnya ia bergaul dengan pria.
Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama iapun belum pernah bercengkerama
dengan pria lain, apalagi mengadakan hubungan cinta. Maka kini berduaan saja
dengan Linggajaya, ia menjadi tegang sehingga jantungnya berdebar-debar.
"Terima kasih, gusti
puteri." kata Linggajaya dengan sopan dan hormat, lalu dia hendak duduk
bersila di atas lantai.
"Ah, jangan di lantai. Duduk di
kursi saja, agar lebih enak kita bicara." kata Lasmini.
"Akan tetapi ..... hamba .....
ah, takut, gusti puteri."
"Takut apa? Aku yang
memerintahmu duduk, kenapa takut? Duduklah, ingin aku bertanya kepadamu."
"Baiklah dan terima kasih,
gusti puteri. Maaf kalau hamba berani duduk di kursi ini."
Setelah pemuda itu duduk berhadapaan
dengannya, terpisah sebuah meja, Lasmini dapat memandang wajah pemuda yang
disinari lampu gantung itu dengan jelas. Memang tampan dan menawan, pikirnya.
Masih muda dan mata itu! Mulut dengan senyumnya yang mengejek itu!
Menggemaskan! Ki Patih Narotama juga tampan ganteng, akan tetapi karena telah
bergaul sebagai isterinya selama hampir tiga tahun, ia merasa bosan juga.
Lasmini tidak mengerti bahwa kebosanan tentu datang dalam hati orang yang
selalu dipengaruhi nafsu. Kalau ia tadinya merasa jatuh cinta kepada Narotama
yang tampan dan ganteng, ia tidak tahu bahwa cintanya itu adalah cinta nafsu
cinta karena ketampanan, kegantengan dan kekagumannya akan kesaktian Ki Patih
Narotama. Dan segala yang terdorong nafsu hanya merupakan kesenangan lahiriah
saja, hanya sebatas kulit dan kesenangan seperti ini sudah pasti mendatangkan
kebosanan! Kebosanan mendorong orang untuk mengejar yang baru, yang dianggap
lebih menarik dan lebih menyenangkan dan kalau yang baru itu sudah terdapat,
maka lambat laun dia akan bosan pula dan ingin mengejar yang lebih baru lagi!
"Linggajaya, engkau tentu tahu
bahwa bantuanmu kepada kami, kepada adikku Mandari dan aku, sama sekali telah
gagal dan hal ini amat mengecewakan kami. Bagaimana bisa sampai gagal begitu,
Linggajaya? Apakah engkau hanya pandai berjanji saja akan tetapi kenyataannya
sama sekali tidak menguntungkan kami?"
"Maaf, gusti puteri. Akan
tetapi kekeliruan telah terjadi sehingga hamba membunuh anak yang salah.
Kekeliruan itu sama sekali bukan salah hamba karena hamba hanya mendapat tugas
untuk membunuh anak yang diasuh oleh biyung emban Darmi itu dan perintah itu
telah hamba laksanakan dengan baik. Tentu saja hamba tidak tahu kalau anak itu
bukan sang pangeran, karena hamba belum pernah melihat pangeran yang
dimaksudkan."
"Hemm, kalau begitu Mandari
yang kurang teliti sehingga terjadi kekeliruan itu yang hampir saja malah
membuka rahasia kita! Akan tetapi sudahlah, karena kekeliruan itu kita harus
lebih berhati-hati. Sekarang maukah engkau membantuku di sini?"
"Memang tugas hamba untuk
membantu gusti puteri Lasmini dan gusti puteri Mandari. Katakan saja apa yang
harus hamba lakukan, gusti puteri."
"Pertama-tama, engkau harus
selalu dekat denganku agar mudah bagiku mengatur rencana dan menghubungimu
kalau saatnya yang baik tiba untuk bertindak. Dan untuk itu, engkau harus
tinggal di kepatihan ini dan menyamar menjadi juru taman."
"Juru taman?" tanya
Linggajaya heran. Masa dia, putera lurah, murid Resi Bajrasakti, bahkan dia
telah diangkat oleh Adipati Adhamapanuda raja Wengker sebagai senopati dan
diberi keris Candalamanik. Dia, senopati Wengker, kini harus menjadi seorang
juru taman kepatihan Kahuripan?
"Ya, menjadi juru taman
kepatihan, Linggajaya. Kenapa engkau tampak heran?"
“Menjadi juru taman, mencangkul
tanah dan menanam bunga?"
"Ya, menyirami dan menyapu, membersihkan
taman dan menjaga agar taman tetap tampak bersih dan rapi. Bagaimana, engkau
keberatan, Linggajaya?"
"Gusti puteri, hamba
jelek-jelek seorang senopati! Hamba belum pernah memegang tangkai pacul dan
sapu!"
Lasmini tersenyum dan giginya yang
putih mengkilap itu mengintai dari balik sepasang bibir yang merah basah ketika
senyuman yang bergelimang madu dan merekah dan terdengar suara tawa kecil
tertahan. Linggajaya sampai melongo, terpesona oleh keindahan wajah wanita yang
demikian menggairahkan. sepasang mata yang redup dan mulut yang indah itu,
demikian menantang!
"Aih, Linggajaya. Engkau memang
hanya sebagai juru taman, bukan menjadi tukang kebun benar-benar. Maksudnya
agar engkau selalu dekat denganku dan ....."
"Ah, jadi paduka juga ingin
selalu berdekatan dengan hamba? Kalau begitu sama benar keinginan perasaan
kita." kata Linggajaya sambil tersenyum dan pandang matanya mencorong
tajam seperti hendak menembus dada yang membusung itu dan menjenguk isi hati
yang terkandung di dalamnya.
"Hush! Maksudku agar selalu
dekat dan mudah bagiku untuk mengajak berunding kalau aku telah menemukan
sebuah rencana yang baik."
"Akan tetapi pekerjaan ini
berat sekali bagi hamba, gusti. Berat dan sekaligus juga merendahkan martabat
hamba. Jauh lebih ringan bagi hamba kalau paduka memberi perintah membunuh
seseorang atau berapa orangpun!"
"Hemm, kalau engkau benar-benar
ingin membantuku seperti yang ditugaskan kepadamu oleh Paman Adipati Wengker,
tentu engkau tidak akan keberatan untuk menyamar sebagai juru taman Linggajaya."
"Bagaimanapun juga, penyamaran
itu berat dan merendahkan martabat bagi hamba, akan tetapi..... kalau
imbalannya sepadan, agaknya hamba siap melakukannya!"
Linggajaya kembali memandang dengan
sinar mata mengandung penuh arti. Tentu saja Lasmini dapat memahami apa yang
tersirat di dalam ucapan pemuda yang telah berhasil menarik dan menggetarkan
gairah dalam hatinya itu. Jantungnya kembali berdebar tegang karena selain
dengan Ki Patih Narotama, belum pernah timbul berahinya ketika berhadapan dengan
pria lain. Mungkinkah Ini timbul karena kebosanannya kepada suaminya? Ataukah
karena Linggajaya merupakan seorang pemuda sakti mandraguna yang dapat
diharapkan bantuannya agar tugasnya di Kahuripan dapat berhasil? Ataukan karena
Linggajaya memang seorang pemuda tampan, gagah dan juga sakti mandraguna dan
merupakan wajah baru yang tentu saja memiliki daya tarik yang amat kuat?
Mungkin kesemuanya itulah yang mendorong bangkitnya gairah dalam hatinya
terhadap pemuda itu.
Lasmini tersenyum.
"Imbalan apakah yang kau
inginkan dariku agar engkau mau melaksanakan pekerjaan sebagai juru taman ini,
Linggajaya?"
Melihat senyum dan pandang mata yang
menantang itu, Linggajaya menjadi semakin berani.
"Gusti Puteri Lasmini paduka
laksana setangkai kembang indah sekali yang sedang mekar semerbak harum, adapun
hamba bagaikan seekor kumbang yang hina. Betapa akan bahagianya sang kumbang
ini kalau sang bunga sudi membuka kelopaknya dan memberikan kesempatan kepada
sang kumbang untuk hinggap, menghisap dan menikmati sedikit sari madunya."
Sepasang pipi yang halus itu menjadi
kemerahan seperti buah tomat matang dan sepasang bibir itu tersenyum malu malu.
Tentu saja Lasmini maklum betul apa yang dimaksudkan pemuda itu. Setelah agak
lama merasa canggung dan salah tingkah, akhirnya Lasmini berkata.
"Kita lihat saja nanti hasil
pekerjaanmu. Kalau engkau berhasil membuat rencanaku terlaksana dengan
baik..... heemm, aku tidak menjanjikan apa-apa, akan tetapi mungkin sekali
keinginan kumbang itu akan terlaksana."
Bukan main girangnya hati Linggajaya
mendengar ini. Berarti Lasmini sudah setengah menyambut dan menjanjikan
pemenuhan keinginannya itu. Dan pemuda yang sudah berpengalaman dengan wanita
itu hampir yakin bahwa selir Ki Patih Narotama ini juga "ada rasa"
kepadanya. Hal ini dapat dia lihat dari senyum dan sinar matanya.
"Sendika nglampahi (siap
melaksanakan ) perintah paduka, gusti puteri!" katanya dengan girang.
"Nah, sekarang pergilah. Jangan
terlalu lama di sini sebelum engkau diterima sebagai juru taman." kata
Lasmini.
Linggajaya lalu mempergunakan Aji
Panglimutan sehingga tubuhnya diselimuti semacam halimun atau kabut. Dalam
keadaan tidak tampak itu, tiba-tiba Lasmini merasa ada hidung yang hangat
menyentuh pipi kanannya. Hanya sentuhan lembut dan hangat dan pemuda itu lalu pergi
dari situ. Lasmini merasakan jantungnya berdebar tegang dan tak terasa lagi, ia
mengangkat tangan kirinya dan mengusap pipi kanannya.
No comments:
Post a Comment