Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 51



Mendiang ayahnya adalah Pangeran Tua Hardogutama yang kemudian diangkat sebagai patih oleh mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, mertua Sang Prabu Erlangga. Mendiang ayahnya itu dan mendiang kakaknya memang melakukan pemberontakan, hendak menguasai kerajaan dan hendak membunuh Sang Prabu Erlangga ketika belum menjadi raja. Namun usaha mereka itu gagal, bahkan mereka sendiri tewas dalam perang, ia sendiri sama sekali tidak membantu ayahnya, bahkan membantu Erlangga dengan setia sehingga setelah Erlangga menjadi raja, dia diambil sebagai selir.

"Sudahlah, biyung emban, ceritakan saja apa yang terjadi dan kami akan beri hadiah untuk menghibur hati keluarga adikmu. Urusan ini kita habiskan di sini saja. Pembunuhan telah dilakukan dan pembunuhnya juga sudah terbunuh, tidak perlu adanya curiga mencurigai dan tuduh menuduh. Marilah, adinda Sri Sanggramawijaya, peristiwa ini jangan sampai menjadi penghalang kebahagiaan kita."
Semua bubar. Para abdi dan perajurit pengawal mengurus mayat perwira Sriwijaya dan mayat anak kecil itu oleh biyung emban Darmi dibawa pulang ke rumah adiknya, disambut ratap tangis ibu anak itu. Akan tetapi peristiwa yang terakhir ini seolah mulai menyadarkan Lasmini dan Mandari bahwa mereka kini harus berhati-hati. Apalagi agaknya peristiwa itu juga mendatangkan keraguan dalam hati Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Pandang mata Sang Prabu Erlangga terhadap Mandari, biarpun masih mesra seperti dulu, namun mengandung sinar mata tajam menyelidik, seolah raja itu ingin menjenguk isi hati yang paling dalam dari selirnya ini.

Demikian pula dengan Ki Patih Narotama. Memang masih dapat dibakar gairahnya oleh Lasmini yang pandai merayu, namun di saat saat tertentu tampak betapa sinar mata ki patih ini mencorong dan memandang tajam kepada Lasmini, seperti hendak menyelidiki! Bahkan Lasmini berhasil membujuk Ki patih Narotama untuk mengajarkan satu di antara ilmu-ilmunya kepada selir itu. Narotama mengajarkan semacam ilmu silat Kukila Sakti (Burung Sakti) pada Lasmini sehingga wanita ini menjadi semakin tangkas saja. Ilmu silat ini membuat ia dapat bergerak laksana seekor burung srikatan, lincah dan cepat bukan main.
"Kakangmas, setelah dua orang juru taman kita dulu itu terbunuh orang, sampai sekarang belum ada penggantinya yang tepat." kata Lasmini kepada Ki Patih Narotama dengan suara manja sambil merapatkan duduknya di bangku taman mendekati suaminya.
Narotama tersenyum. Selirnya ini kalau sudah bersikap manja seperti itu biasanya ada maunya. Akan tetapi sebelum memenuhi kehendaknya itu, biasanya Lasmini bersikap amat mesra dan amat menyenangkan hatinya. Dia lalu merangkul dan menarik tubuh yang bahenol itu. Mendapat kesempatan ini Lasmini lalu mengangkat pinggulnya dan duduklah ia di atas pangkuan Narotama. Ki patih tertawa dan merangkul pinggang yang ramping itu. Bau melati semerbak dari rambut dan leher Lasmini dan dia menghirup keharuman itu sambil mencium leher yang berkulit putih mulus itu. Lasmini menggelijang dan tertawa lirih tertahan sehingga suara itu menimbulkan gairah dalam hati Narotama.
"Kalau engkau ada usul mengenai juru taman, katakan saja, sayang." kata Ki patih sambil mengamati wajah yang berkulit putih halus kemerahan itu.
"Begini, kakangmas tentu mengenal Sarti, pelayan pribadi hamba itu bukan"
"Tentu saja, abdimu yang ayu manis merak ati itu?" Narotama menggoda sambil tertawa.
"Ih, ngenyek (mengejek) ini, ya? Sarti memang berwajah buruk dan bentuk tubuhnya tinggi besar, akan tetapi ia mempunyai seorang adik misan laki-laki yang menurut keterangannya terampil dan pandai mengurus taman. Nah, Sarti yang minta kepada hamba agar adik misannya itu diterima bekerja sebagai juru taman di sini dan hamba menyanggupi. Akan tetapi tanpa perkenan dari paduka, mana hamba berani mengambil keputusan menerimanya?"
Narotama tersenyum.
"Ah, urusan sekecil itu kenapa harus minta perkenan dariku, diajeng? Urusan taman dan juru tamannya, putuskan saja sendiri. Terserah kepadamu. Kalau engkau sudah menerima adik misan Sarti itu sebagai juru taman, aku sih setuju saja. Asal dia dapat bekerja dengan baik, menjaga agar taman kita selain bersih, terawat sehingga tampak indah dan bunga-bunganya berkembang subur."
"Tentu saja, kakangmas, dan terima kasih atas persetujuan paduka."
"O ya, siapa nama juru taman baru itu, diajeng?"
"Namanya Linggajaya, kakangmas."
"Hemm, nama yang indah, tentu orangnya elok pula."
"Ih, kakangmas. Apakah itu penting? yang penting adalah hasil pekerjaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga, tentu lebih menyenangkan kalau pembantu pembantu kita berwajah elok daripada berwajah buruk."
"Dan abdimu itu .....?" Narotama kembali menggoda.
"Sarti? Ia lain, kakangmas. Ia telah menjadi abdi di istana kanjeng ibu di istana Parang Siluman sejak hamba masih bayi. Ia yang mengasuh hamba sejak kecil. Karena itu, biar ia buruk rupa, ia merupakan pembantu setia yang sangat hamba sayangi."
Narotama tersenyum.
"Hemm, ingin aku melihat bagaimana rupanya ketika engkau masih bayi. Ingin aku memondongmu, menimang dan memandikanmu!"
"Memandikan hamba?" Lasmini tertawa. Tawanya renyah dan merdu.
"Paduka ini aneh-aneh saja, membuat hamba malu... "
Mereka bergurau dan sambil bergandengan tangan mereka lalu masuk gedung kepatihan untuk melanjutkan senda gurau mereka yang mesra.

Linggajaya memang datang ke kepatihan seperti yang pernah diminta Lasmini ketika mereka bertemu di taman istana Sang Prabu Erlangga. Seperti ketika memasuki taman istana kerajaan, ketika memasuki taman kepatihan, Linggajaya juga mempergunakan aji kesaktian untuk memasuki taman tanpa diketahui para penjaga dan para perajurit pengawal kepatihan. Dengan mudah Linggajaya dapat bertemu dengan Lasmini yang memang sudah menanti di taman malam itu karena ia telah memperoleh kabar rahasia dari Mandari bahwa Linggajaya akan mengunjunginya di taman kepatihan. Ketika Linggajaya muncul, Lasmini memerintahkan abdinya yang setia, Sarti untuk berjaga di luar pondok demi keamanan pertemuan itu.
"Duduklah, Linggajaya," kata Lasmini dengan sikap anggun dan angkuh karena ia tidak mau merendah dan masih "tahan harga" walaupun jantungnya berdebar tegang menerima kunjungan seorang pemuda tampan dan amat digdaya itu. Ia menjadi selir Narotama ketika masih seorang gadis dan belum pernah sebelumnya ia bergaul dengan pria. Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama iapun belum pernah bercengkerama dengan pria lain, apalagi mengadakan hubungan cinta. Maka kini berduaan saja dengan Linggajaya, ia menjadi tegang sehingga jantungnya berdebar-debar.
"Terima kasih, gusti puteri." kata Linggajaya dengan sopan dan hormat, lalu dia hendak duduk bersila di atas lantai.
"Ah, jangan di lantai. Duduk di kursi saja, agar lebih enak kita bicara." kata Lasmini.
"Akan tetapi ..... hamba ..... ah, takut, gusti puteri."
"Takut apa? Aku yang memerintahmu duduk, kenapa takut? Duduklah, ingin aku bertanya kepadamu."
"Baiklah dan terima kasih, gusti puteri. Maaf kalau hamba berani duduk di kursi ini."

Setelah pemuda itu duduk berhadapaan dengannya, terpisah sebuah meja, Lasmini dapat memandang wajah pemuda yang disinari lampu gantung itu dengan jelas. Memang tampan dan menawan, pikirnya. Masih muda dan mata itu! Mulut dengan senyumnya yang mengejek itu! Menggemaskan! Ki Patih Narotama juga tampan ganteng, akan tetapi karena telah bergaul sebagai isterinya selama hampir tiga tahun, ia merasa bosan juga. Lasmini tidak mengerti bahwa kebosanan tentu datang dalam hati orang yang selalu dipengaruhi nafsu. Kalau ia tadinya merasa jatuh cinta kepada Narotama yang tampan dan ganteng, ia tidak tahu bahwa cintanya itu adalah cinta nafsu cinta karena ketampanan, kegantengan dan kekagumannya akan kesaktian Ki Patih Narotama. Dan segala yang terdorong nafsu hanya merupakan kesenangan lahiriah saja, hanya sebatas kulit dan kesenangan seperti ini sudah pasti mendatangkan kebosanan! Kebosanan mendorong orang untuk mengejar yang baru, yang dianggap lebih menarik dan lebih menyenangkan dan kalau yang baru itu sudah terdapat, maka lambat laun dia akan bosan pula dan ingin mengejar yang lebih baru lagi!
"Linggajaya, engkau tentu tahu bahwa bantuanmu kepada kami, kepada adikku Mandari dan aku, sama sekali telah gagal dan hal ini amat mengecewakan kami. Bagaimana bisa sampai gagal begitu, Linggajaya? Apakah engkau hanya pandai berjanji saja akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak menguntungkan kami?"
"Maaf, gusti puteri. Akan tetapi kekeliruan telah terjadi sehingga hamba membunuh anak yang salah. Kekeliruan itu sama sekali bukan salah hamba karena hamba hanya mendapat tugas untuk membunuh anak yang diasuh oleh biyung emban Darmi itu dan perintah itu telah hamba laksanakan dengan baik. Tentu saja hamba tidak tahu kalau anak itu bukan sang pangeran, karena hamba belum pernah melihat pangeran yang dimaksudkan."
"Hemm, kalau begitu Mandari yang kurang teliti sehingga terjadi kekeliruan itu yang hampir saja malah membuka rahasia kita! Akan tetapi sudahlah, karena kekeliruan itu kita harus lebih berhati-hati. Sekarang maukah engkau membantuku di sini?"
"Memang tugas hamba untuk membantu gusti puteri Lasmini dan gusti puteri Mandari. Katakan saja apa yang harus hamba lakukan, gusti puteri."
"Pertama-tama, engkau harus selalu dekat denganku agar mudah bagiku mengatur rencana dan menghubungimu kalau saatnya yang baik tiba untuk bertindak. Dan untuk itu, engkau harus tinggal di kepatihan ini dan menyamar menjadi juru taman."
"Juru taman?" tanya Linggajaya heran. Masa dia, putera lurah, murid Resi Bajrasakti, bahkan dia telah diangkat oleh Adipati Adhamapanuda raja Wengker sebagai senopati dan diberi keris Candalamanik. Dia, senopati Wengker, kini harus menjadi seorang juru taman kepatihan Kahuripan?
"Ya, menjadi juru taman kepatihan, Linggajaya. Kenapa engkau tampak heran?"
“Menjadi juru taman, mencangkul tanah dan menanam bunga?"
"Ya, menyirami dan menyapu, membersihkan taman dan menjaga agar taman tetap tampak bersih dan rapi. Bagaimana, engkau keberatan, Linggajaya?"
"Gusti puteri, hamba jelek-jelek seorang senopati! Hamba belum pernah memegang tangkai pacul dan sapu!"

Lasmini tersenyum dan giginya yang putih mengkilap itu mengintai dari balik sepasang bibir yang merah basah ketika senyuman yang bergelimang madu dan merekah dan terdengar suara tawa kecil tertahan. Linggajaya sampai melongo, terpesona oleh keindahan wajah wanita yang demikian menggairahkan. sepasang mata yang redup dan mulut yang indah itu, demikian menantang!
"Aih, Linggajaya. Engkau memang hanya sebagai juru taman, bukan menjadi tukang kebun benar-benar. Maksudnya agar engkau selalu dekat denganku dan ....."
"Ah, jadi paduka juga ingin selalu berdekatan dengan hamba? Kalau begitu sama benar keinginan perasaan kita." kata Linggajaya sambil tersenyum dan pandang matanya mencorong tajam seperti hendak menembus dada yang membusung itu dan menjenguk isi hati yang terkandung di dalamnya.
"Hush! Maksudku agar selalu dekat dan mudah bagiku untuk mengajak berunding kalau aku telah menemukan sebuah rencana yang baik."
"Akan tetapi pekerjaan ini berat sekali bagi hamba, gusti. Berat dan sekaligus juga merendahkan martabat hamba. Jauh lebih ringan bagi hamba kalau paduka memberi perintah membunuh seseorang atau berapa orangpun!"
"Hemm, kalau engkau benar-benar ingin membantuku seperti yang ditugaskan kepadamu oleh Paman Adipati Wengker, tentu engkau tidak akan keberatan untuk menyamar sebagai juru taman Linggajaya."
"Bagaimanapun juga, penyamaran itu berat dan merendahkan martabat bagi hamba, akan tetapi..... kalau imbalannya sepadan, agaknya hamba siap melakukannya!"
Linggajaya kembali memandang dengan sinar mata mengandung penuh arti. Tentu saja Lasmini dapat memahami apa yang tersirat di dalam ucapan pemuda yang telah berhasil menarik dan menggetarkan gairah dalam hatinya itu. Jantungnya kembali berdebar tegang karena selain dengan Ki Patih Narotama, belum pernah timbul berahinya ketika berhadapan dengan pria lain. Mungkinkah Ini timbul karena kebosanannya kepada suaminya? Ataukah karena Linggajaya merupakan seorang pemuda sakti mandraguna yang dapat diharapkan bantuannya agar tugasnya di Kahuripan dapat berhasil? Ataukan karena Linggajaya memang seorang pemuda tampan, gagah dan juga sakti mandraguna dan merupakan wajah baru yang tentu saja memiliki daya tarik yang amat kuat? Mungkin kesemuanya itulah yang mendorong bangkitnya gairah dalam hatinya terhadap pemuda itu.
Lasmini tersenyum.
"Imbalan apakah yang kau inginkan dariku agar engkau mau melaksanakan pekerjaan sebagai juru taman ini, Linggajaya?"
Melihat senyum dan pandang mata yang menantang itu, Linggajaya menjadi semakin berani.
"Gusti Puteri Lasmini paduka laksana setangkai kembang indah sekali yang sedang mekar semerbak harum, adapun hamba bagaikan seekor kumbang yang hina. Betapa akan bahagianya sang kumbang ini kalau sang bunga sudi membuka kelopaknya dan memberikan kesempatan kepada sang kumbang untuk hinggap, menghisap dan menikmati sedikit sari madunya."
Sepasang pipi yang halus itu menjadi kemerahan seperti buah tomat matang dan sepasang bibir itu tersenyum malu malu. Tentu saja Lasmini maklum betul apa yang dimaksudkan pemuda itu. Setelah agak lama merasa canggung dan salah tingkah, akhirnya Lasmini berkata.
"Kita lihat saja nanti hasil pekerjaanmu. Kalau engkau berhasil membuat rencanaku terlaksana dengan baik..... heemm, aku tidak menjanjikan apa-apa, akan tetapi mungkin sekali keinginan kumbang itu akan terlaksana."
Bukan main girangnya hati Linggajaya mendengar ini. Berarti Lasmini sudah setengah menyambut dan menjanjikan pemenuhan keinginannya itu. Dan pemuda yang sudah berpengalaman dengan wanita itu hampir yakin bahwa selir Ki Patih Narotama ini juga "ada rasa" kepadanya. Hal ini dapat dia lihat dari senyum dan sinar matanya.
"Sendika nglampahi (siap melaksanakan ) perintah paduka, gusti puteri!" katanya dengan girang.
"Nah, sekarang pergilah. Jangan terlalu lama di sini sebelum engkau diterima sebagai juru taman." kata Lasmini.

Linggajaya lalu mempergunakan Aji Panglimutan sehingga tubuhnya diselimuti semacam halimun atau kabut. Dalam keadaan tidak tampak itu, tiba-tiba Lasmini merasa ada hidung yang hangat menyentuh pipi kanannya. Hanya sentuhan lembut dan hangat dan pemuda itu lalu pergi dari situ. Lasmini merasakan jantungnya berdebar tegang dan tak terasa lagi, ia mengangkat tangan kirinya dan mengusap pipi kanannya.

<<<Bagian 50                                                                                         Bagian 52 >>>

No comments:

Post a Comment