Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 50


"Sendiko, gusti puteri. Kalau begitu hamba mohon diri. Sudah terlalu lama hamba di sini."
Kedua orang puteri itu mengangguk dan ketika Linggajaya hendak melangkah pergi, Lasmini memanggilnya lirih,
"Linggajaya .....!"
Pemuda itu berhenti dan menghadapi puteri itu.
"Kalau semua sudah dapat terlaksana dengan baik, andika harus meninggalkan istana, akan tetapi jangan pergi jauh. Datanglah ke kepatihan, kami membutuhkan seorang juru taman yang pandai dan kalau engkau berada dekat sana, siapa tahu engkau dapat pula membantuku."
"Sendika, gusti puteri, dan terima kasih." jawab Linggajaya dengan wajah berseri dan dia lalu menyelinap lenyap ditelan kegelapan malam di balik pohon-pohon dalam taman itu.

Dua orang puteri itu merasa gembira sekali dan mereka lalu melangkah perlahan-lahan kembali ke istana. Ketika memasuki bangunan yang megah itu, karena tidak melihat ada orang dan suara perayaan pesta itu masih ramai terdengar di bagian depan dan luar istana, Lasmini berkata kepada adiknya.
"Wah, Mandari, kalau anak itu dapat dibunuh, akan berhasillah jerih payah kita selama ini."
"Ssttt ..... kita sudah di sini, jangan bicarakan itu lagi," bisik Mandari memperingatkan kakaknya.
Mereka tertawa tawa dan tampak gembira sekali ketika memasuki ruangan itu. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ketika mereka bicara tadi, ada sepasang telinga yang menangkap ucapan Lasmini tadi. Pemilik sepasang telinga ini adalah Dyah Untari, selir pertama Sang Prabu Erlangga. Tadinya, melihat dua orang puteri itu datang dari taman, Dyah Untari hendak menyambut dan menyapa dengan ramah seperti biasanya, akan tetapi melihat keduanya berbisik-bisik, ia merasa heran dan cepat menyelinap di balik tiang besar. Ketika mendengar bisikan yang diucapkan Lasmini, ia makin terkejut pula dan tidak memperlihatkan diri. Kecurigaan menyelinap dalam hatinya. Biarpun Dyah Untari tidak cemburu kepada Mandari, namun dalam hatinya ia kurang suka kepada selir termuda dan terkasih dari Sang Prabu Erlangga ini. Bukan karena cemburu, melainkan karena sikap Mandari terkadang angkuh dan sering kali selir ini memperlihatkan sikap kasar kepada para dayang, ringan tangan menampar dayang hanya karena kesalahan kecil saja dan terutama sekali, di luar tahu sang prabu, Mandari suka memaki dengan kata-kata yang tidak bersusila dan tidak pantas dikeluarkan dari mulut seorang selir raja besar! Akan tetapi di depan Sang Prabu Erlangga, Mandari selalu tampak lemah lembut, halus menyenangkan, seperti seekor domba yang berbulu indah bersih dan jinak lembut. Seringkah Dyah Untari melamun bahwa domba jinak itu tidak mustahil sewaktu waktu akan berubah menjadi seekor serigala!

Malam terakhir pesta perayaan pernikahan itu diliputi cuaca yang gelap. sejak sore tadi langit tertutup mendung dan hujan gerimis mendatangkan hawa yang dingin. Akan tetapi perayaan malam terakhir itu tetap meriah. Suara gamelan dipukul bertalu-talu mengiringi suara tembang para waranggana. Sesosok bayangan berkelebat membayangi seorang perwira berpakaian seperti perwira Sriwijaya. Perwira ini adalah Swandaru, kepala pasukan pengawal sang Puteri Sri Sanggramawijaya dari sriwijaya. Tadinya perwira inipun duduk di pendopo bersama para tamu lain, nonton para penari srimpi. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang dayang menghampirinya dan mengatakan dengan suara bisik bisik bahwa perwira dari Sriwijaya di dipanggil oleh sang puteri Sri Sanggramawijaya agar masuk ke dalam keputren. Mendengar panggilan ini, tentu saja Swandaru cepat meninggalkan tempat pesta dan pergi ke arah keputren, sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat cepat dalam kegelapan dan membayanginya. Ketika dia tiba di lorong yang menuju ke keputren, tempat yang sepi karena semua orang sibuk luar, ada yang nonton, ada yang sibuk melayani tamu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat di dekatnya. Sebuah tangan halus meluncur dan sebuah tamparan mengenai tengkuknya. Tanpa mengeluarkan suara Swandaru terkulai pingsan dan diseret ke dalam bagian taman yang gelap. Sungguh luar biasa betapa perwira Sriwijaya yang bukan seorang lemah ini dapat dirobohkan demikian mudahnya oleh sebuah tangan yang mungil dan halus. Sementara itu, di ruangan samping yang masih menjadi bagian keputren menjadi tempat para biyung emban (inang pengasuh) biasa mengasuh anak-anak keluarga istana. Karena pada waktu itu Sang Prabu Erlangga baru mempunyai dua orang putera, maka biasanya hanya dua orang putera ini yang diasuh oleh para biyung emban. Akan tetapi pada malam itu, agaknya para biyung emban tidak ada pekerjaan dan ikut nonton di tempat pesta. Yang berada di ruangan itu hanya seorang biyung emban bernama Darmi yang dipercaya untuk mengasuh Pangeran Samarawijaya. Biasanya, seorang pengasuh lain, Ginah, berada pula di situ dan mengasuh Pangeran Budidharma yang lebih kecil. Akan tetapi malam itu yang berada di situ hanya biyung emban Darmi yang bertubuh gemuk. la menggendong seorang anak laki-laki dengan sehelai selendang. Agaknya anak itu sedang tidur karena Darmi membawanya berjalan hilir mudik sambil bersenandung.
"Ah, semua menonton, bersenang senang dan malas!" gerutunya di tengah senandungnya.
Memang, semua orang nonton dan ia ditinggal seorang diri menggendong anak laki-laki itu. Agaknya selama perayaan pesta itu berlangsung, di istana makanan berlimpah-limpah. Sambil menidur-nidurkan anak itu, Darmi kadang berhenti di dekat sebuah meja dan mengambil makanan dari piring lalu memakannya. Senandungnya menjadi sumbang karena diseling makan. Pantas tubuhnya gemuk karena agaknya ia suka ngemil (sering makan makanan kecil), Demikian asyiknya Darmi sehingga ia tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu. Pada saat dia mendengar gerakan di belakangnya, ia menengok dan..... matanya terbelalak melihat seorang laki-laki mengenakan topeng hitam sudah berdiri di depannya! Laki-laki itu menggerakkan sebatang keris dan..... secepat kilat keris itu ditusukkan ke tubuh anak yang digendong Darmi.
Anak yang malang itu hanya menjerit satu kali, lalu diam tak bergerak karena keris itu telah menembus dadanya. Orang yang menusuk anak itu lalu melompat dan keluar dari ruangan. Darmi masih terbelalak. Ketika ia memandang ke arah anak dalam gendongannya, ia melihat darah berlumuran dari tubuh anak itu! ia menjerit sekuatnya dan..... terkulai jatuh pingsan dengan anak yang telah mati itu masih dalam gendongannya.

Akan tetapi jeritnya yang melengking nyaring itu mengejutkan orang-orarg yang berada di keputren. Para dayang berlarian memasuki ruangan itu dan sebentar saja keadaan menjadi gempar. Tak lama kemudian, Sang Prabu Erlangga sendiri memasuki ruangan, diikuti permaisuri yang baru, sang pengantin baru Puteri Sri Sanggramawijaya. Sepasang pengantin ini terpaksa keluar dari kamar pengantin mereka ketika mendengar ada pembunuhan di tempat pengasuh anak anak. Tidak ketinggalan Mandari juga mengikuti Sang Prabu Erlangga, dan Dyah Untari. Ketika Sang Prabu Erlangga memasuki ruangan itu dengan tiga orang isterinya yang paling terkemuka, semua dayang dan abdi daiem (pelayan) berjongkok dipinggir dan menyembah. Sang Prabu Erlangga menghampiri Darmi yang masih menangis meraung-raung setelah sadar dari pingsannya dan memeluki anak yang berlumuran darah dan sudah mati itu.
"Biyung Emban, berhentilah menangis dan ceritakan apa yang terjadi di sini." kata Sang Prabu Erlangga dengan tenang setelah dia mengamati sebentar anak yang masih digendong Darmi itu.
Mendengar suara sang prabu, agaknya Darmi baru menyadari bahwa junjungannya telah berada di situ. la segera menyembah nyembah dan menahan tangisnya.
"Aduh, gusti..... ketiwasan (celaka), gusti..... ada..... ada orang masuk lalu menggunakan kerisnya membunuh " katanya gagap.
"Hemm, seperti apa orangnya?"
"Hamba tidak tahu, gusti ..... dia ..... dia memakai topeng hitam ....."
"Bagaimana pakaiannya?"
"Pakaiannya..... pakaiannya..... seperti perwira pasukan pengawal Gusti Puteri Pengantin.....dari Sriwijaya ....."
"Tidak mungkin.....!" puteri Sri Sanggramawi berseru.
"Kenapa tidak mungkin? Ini buktinya!" terdengar jawaban dari luar dan masuklah Lasmini mengiringkan dua orang prajurit pengawal istana yang menggotong tubuh seorang tinggi besar yang memakai pakaian perwira pasukan Sriwijaya dan orang itu sudah mati!
“Paman Swandaru.....!" Sang Puteri Sri Sanggramawijaya berjongkok dekat mayat perwira pengawalnya itu, matanya terbelalak dan mukanya pucat.
"Paman Swandaru..... andika kenapakah..... siapa yang berani membunuh perwira pengawalku?" ia bangkit berdiri dan memandang penasaran kepada Sang Prabu Erlangga.

Ki Patih Narotama juga sudah datang ke tempat itu setelah dia yang tadi duduk di luar mendengar bahwa ada pembunuhan di bagian keputren. Dia memandang dengan alis berkerut kepada Lasmini karena sekali pandang ke arah muka mayat perwira Sriwijaya yang agak kebiruan itu diapun dapat menduga bahwa perwira itu tentu tewas oleh pukulan Aji Ampak-ampak yang ampuh dan dikuasai oleh selirnya itu.
"Tenanglah, adinda," kata Sang Prabu Erlangga kepada permaisurinya yang baru. Kemudian dia memandang kepada Lasmini yang membawa sebatang keris yang berlumuran darah lalu bertanya dengan suara penuh wibawa.
"Lasmini, ceritakanlah apa yang terjadi."
"Diajeng, berceritalah sejujurnya, terus terang dan jangan ada yang disembunyikan!" terdengar Narotama berkata kepada Lasmini dengan suara memerintah.
Dengan hormat Lasmini menyembah kepada Sang Prabu Erlangga lalu menceritakan dengan suara lembut dan sungguh-sungguh.
"Hamba sedang mencari angin di taman dan hamba mendengar jeritan dari bangunan bagian keputren, maka hamba segera hendak lari menghampiri. Akan tetapi setibanya di pintu taman, hampir hamba bertabrakan dengan orang ini! Melihat dia lari keluar dari bagian keputren, hamba menegurnya akan tetapi dia malah menyerang hamba dengan keris ini." Ia menyerahkan keris itu kepada Sang Prabu Erlangga yang menerima keris itu dan mengamatinya.
Kemudian dia berkata.
"Seterusnya bagaimana?"
"Hamba melawannya dan karena dia juga cukup digdaya dan agaknya mati matian hendak menyerang hamba, terpaksa hamba lalu mengeluarkan aji pukulan untuk merobohkannya. Sayang, agaknya hamba memukul terlalu kuat sehingga dia tewas, padahal sesungguhnya hamba ingin menangkap dia hidup-hidup agar dia dapat mengaku mengapa dia membunuh Pangeran Samarawijaya dan siapa yang menyuruhnya."
"Siapa lagi yang menyuruhnya?" tiba tiba Puteri Mandari berkata lantang
"Semua buktinya sudah lengkap dan saksinya juga ada. Biyung-emban Darmi, coba lihat, bukankah ini laki-laki yang melakukan pembunuhan tadi?" Puteri Mandari menuding ke arah mayat Perwira Swandaru.
Biyung-emban Darmi sudah mMenjadi gugup sekali karena menghadapi pemeriksaan oleh Sang Prabu Erlangga, bahkan Ki Patih Narotama dan semua keluarga Istana. la memandang mayat itu dan berkata gagap,
".....kasinggihan..... pakaiannya..... begitu itulah..... tapi mukanya..... ditutupi topeng ....."
"Nah, itu sudah cukup, kakanda prabu. Buktinya lengkap, saksinya ada. Jelas perwira Sriwijaya ini pembunuhnya dan siapa lagi yang menyuruh dia melakukan pembunuhan itu kalau bukan Sang Puteri Sri Sanggramawijaya" kata Mandari.
"Ampun, gusti. Kalau boleh hamba ikut bicara, pembunuhan ini tentu dilakukan sebuah komplotan yang mempunyai niat jahat tertentu, lalu menjatuhkan fitnah atas diri Sang Puteri Sri Sanggrawijaya....."
"Kakangmbok Untari! Urusannya sudah jelas dan andika bicara soal komplotan segala. Apakah sekarang masih ada komplotan seperti yang dulu dilakukan mendiang Ki Patih Hardogutam ketika berkelomplot untuk membunuh mendiang kanjeng rama prabu Teguh Dharmawangsa?" bentak Mandari dengan suara mengandung penuh ejekan.
Pucat wajah Dyah Untari dan ia merasa terkejut, marah dan malu sehingga tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah.
"Sudah cukup! Apa perlunya ribut ribut ini?" bentak Sang Prabu Erlangga sambil mengerutkan alis dan memandang Mandari dengan sinar mata mengandung teguran. Akan tetapi Mandari membalas pandang mata Sang Prabu Erlangga dengan berani dan iapun membantah.
"Akan tetapi, kakanda prabu! Putera paduka Pangeran Samarawijaya dibunuh orang dan hamba sekalian tidak boleh ribut-ribut?"
"Hemm, siapa bilang puteraku Pangeran Samarawijaya dibunuh orang? Anak yang terbunuh inipun aku tidak tahu siapa! Heh, biyung-emban, siapakah anak dalam gendongan mu itu?"
"....ampun, gusti.... ini adalah Kadrya, keponakan hamba. Karena hamba mengganggur dan ibu anak ini sakit, maka malam ini dia dititipkan kepada hamba.... tidak tahunya..... dia mati terbunuh..... hu-hu-huuhh..... bagaimana hamba harus memberitahu adik hamba.....?"

Banyak orang menghela napas lega mendengar bahwa yang terbunuh bukan Pangeran Samarawijaya, akan tetapi Lasmini dan Mandari terkejut setengah mati! Sungguh tadinya mereka sudah merasa lega karena sekali ini usaha mereka berhasil baik. Linggajaya yang menyamar dengan pakaian perwira Sriwijaya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, membunuh anak itu lalu menyerahkan keris yang dipakai membunuh kepada Lasmini yang menanti di taman untuk dijadikan bukti. Siapa kira, yang diasuh biyung-emban Darmi bukan sang pangeran, melainkan keponakan biyung-emban itu sendiri! Yang tidak merasa heran adalah Dyah Untari karena ialah yang telah menggagalkan usaha pembunuhan atas diri sang pangeran itu. Ketika ia mendengarkan bisikan Lasmini dan Mandari yang mengatakan bahwa kalau anak itu dapat dibunuh maka berhasillah usaha mereka, hatinya menjadi curiga dan juga ngeri. Siapa tahu yang dimaksudkan anak oleh dua orang wanita kakak beradik puteri puteri Parang Siluman itu adalah kedua orang pangeran, puteranya sendiri, Pangeran Budidharma dan Pangeran Samarawijaya. Oleh karena itu, semenjak malam itu, ia minta kepada kedua orang biyung emban pengasuh agar membawa kedua orang anak itu! Maka terjadilah salah bunuh itu. Akan tetapi, Dyah Untari tidak berani mengemukakan hal ini. Kecurigaannya bahwa dua orang puteri Parang Siluman itu yang mengatur pembunuhan, tidak mempunyai bukti yang kuat dan ia tidak mau kalau nanti Mandari kembali menghinanya dengan menceritakan tentang komplotan mendiang ayahnya di depan orang banyak. Ia dapat menderita malu. Apalagi, biyung-emban Darmi sendiri sudah bersaksi bahwa pembunuhnya memang perwira Sriwijaya itu. Mungkinkah perwira Sriwijaya itu berkomplot dengan kakak beradik dari Parang Siluman itu? Rasanya tidak mungkin dan urusannya menjadi bertambah ruwet. Memang, keadaannya di Kahuripan, menjadi selir pertama dan tercinta dari Sang Prabu Erlangga merupakan hal yang aneh.

<<<Bagian 49                                                                                          Bagian 51 >>>

No comments:

Post a Comment