"Sendiko, gusti puteri. Kalau begitu hamba mohon diri. Sudah terlalu lama hamba di sini."
Kedua orang puteri itu mengangguk
dan ketika Linggajaya hendak melangkah pergi, Lasmini memanggilnya lirih,
"Linggajaya .....!"
Pemuda itu berhenti dan menghadapi
puteri itu.
"Kalau semua sudah dapat
terlaksana dengan baik, andika harus meninggalkan istana, akan tetapi jangan
pergi jauh. Datanglah ke kepatihan, kami membutuhkan seorang juru taman yang
pandai dan kalau engkau berada dekat sana, siapa tahu engkau dapat pula
membantuku."
"Sendika, gusti puteri, dan
terima kasih." jawab Linggajaya dengan wajah berseri dan dia lalu
menyelinap lenyap ditelan kegelapan malam di balik pohon-pohon dalam taman itu.
Dua orang puteri itu merasa gembira
sekali dan mereka lalu melangkah perlahan-lahan kembali ke istana. Ketika
memasuki bangunan yang megah itu, karena tidak melihat ada orang dan suara
perayaan pesta itu masih ramai terdengar di bagian depan dan luar istana,
Lasmini berkata kepada adiknya.
"Wah, Mandari, kalau anak itu
dapat dibunuh, akan berhasillah jerih payah kita selama ini."
"Ssttt ..... kita sudah di
sini, jangan bicarakan itu lagi," bisik Mandari memperingatkan kakaknya.
Mereka tertawa tawa dan tampak
gembira sekali ketika memasuki ruangan itu. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa
ketika mereka bicara tadi, ada sepasang telinga yang menangkap ucapan Lasmini
tadi. Pemilik sepasang telinga ini adalah Dyah Untari, selir pertama Sang Prabu
Erlangga. Tadinya, melihat dua orang puteri itu datang dari taman, Dyah Untari
hendak menyambut dan menyapa dengan ramah seperti biasanya, akan tetapi melihat
keduanya berbisik-bisik, ia merasa heran dan cepat menyelinap di balik tiang
besar. Ketika mendengar bisikan yang diucapkan Lasmini, ia makin terkejut pula
dan tidak memperlihatkan diri. Kecurigaan menyelinap dalam hatinya. Biarpun
Dyah Untari tidak cemburu kepada Mandari, namun dalam hatinya ia kurang suka kepada
selir termuda dan terkasih dari Sang Prabu Erlangga ini. Bukan karena cemburu,
melainkan karena sikap Mandari terkadang angkuh dan sering kali selir ini
memperlihatkan sikap kasar kepada para dayang, ringan tangan menampar dayang
hanya karena kesalahan kecil saja dan terutama sekali, di luar tahu sang prabu,
Mandari suka memaki dengan kata-kata yang tidak bersusila dan tidak pantas
dikeluarkan dari mulut seorang selir raja besar! Akan tetapi di depan Sang
Prabu Erlangga, Mandari selalu tampak lemah lembut, halus menyenangkan, seperti
seekor domba yang berbulu indah bersih dan jinak lembut. Seringkah Dyah Untari
melamun bahwa domba jinak itu tidak mustahil sewaktu waktu akan berubah menjadi
seekor serigala!
Malam terakhir pesta perayaan
pernikahan itu diliputi cuaca yang gelap. sejak sore tadi langit tertutup
mendung dan hujan gerimis mendatangkan hawa yang dingin. Akan tetapi perayaan
malam terakhir itu tetap meriah. Suara gamelan dipukul bertalu-talu mengiringi
suara tembang para waranggana. Sesosok bayangan berkelebat membayangi seorang
perwira berpakaian seperti perwira Sriwijaya. Perwira ini adalah Swandaru,
kepala pasukan pengawal sang Puteri Sri Sanggramawijaya dari sriwijaya. Tadinya
perwira inipun duduk di pendopo bersama para tamu lain, nonton para penari
srimpi. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang dayang menghampirinya dan
mengatakan dengan suara bisik bisik bahwa perwira dari Sriwijaya di dipanggil
oleh sang puteri Sri Sanggramawijaya agar masuk ke dalam keputren. Mendengar
panggilan ini, tentu saja Swandaru cepat meninggalkan tempat pesta dan pergi ke
arah keputren, sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat cepat dalam
kegelapan dan membayanginya. Ketika dia tiba di lorong yang menuju ke keputren,
tempat yang sepi karena semua orang sibuk luar, ada yang nonton, ada yang sibuk
melayani tamu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat di dekatnya. Sebuah tangan
halus meluncur dan sebuah tamparan mengenai tengkuknya. Tanpa mengeluarkan
suara Swandaru terkulai pingsan dan diseret ke dalam bagian taman yang gelap.
Sungguh luar biasa betapa perwira Sriwijaya yang bukan seorang lemah ini dapat
dirobohkan demikian mudahnya oleh sebuah tangan yang mungil dan halus.
Sementara itu, di ruangan samping yang masih menjadi bagian keputren menjadi
tempat para biyung emban (inang pengasuh) biasa mengasuh anak-anak keluarga
istana. Karena pada waktu itu Sang Prabu Erlangga baru mempunyai dua orang
putera, maka biasanya hanya dua orang putera ini yang diasuh oleh para biyung
emban. Akan tetapi pada malam itu, agaknya para biyung emban tidak ada
pekerjaan dan ikut nonton di tempat pesta. Yang berada di ruangan itu hanya
seorang biyung emban bernama Darmi yang dipercaya untuk mengasuh Pangeran
Samarawijaya. Biasanya, seorang pengasuh lain, Ginah, berada pula di situ dan
mengasuh Pangeran Budidharma yang lebih kecil. Akan tetapi malam itu yang
berada di situ hanya biyung emban Darmi yang bertubuh gemuk. la menggendong
seorang anak laki-laki dengan sehelai selendang. Agaknya anak itu sedang tidur
karena Darmi membawanya berjalan hilir mudik sambil bersenandung.
"Ah, semua menonton, bersenang
senang dan malas!" gerutunya di tengah senandungnya.
Memang, semua orang nonton dan ia
ditinggal seorang diri menggendong anak laki-laki itu. Agaknya selama perayaan
pesta itu berlangsung, di istana makanan berlimpah-limpah. Sambil
menidur-nidurkan anak itu, Darmi kadang berhenti di dekat sebuah meja dan
mengambil makanan dari piring lalu memakannya. Senandungnya menjadi sumbang
karena diseling makan. Pantas tubuhnya gemuk karena agaknya ia suka ngemil
(sering makan makanan kecil), Demikian asyiknya Darmi sehingga ia tidak melihat
betapa sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu. Pada saat dia
mendengar gerakan di belakangnya, ia menengok dan..... matanya terbelalak
melihat seorang laki-laki mengenakan topeng hitam sudah berdiri di depannya!
Laki-laki itu menggerakkan sebatang keris dan..... secepat kilat keris itu
ditusukkan ke tubuh anak yang digendong Darmi.
Anak yang malang itu hanya menjerit
satu kali, lalu diam tak bergerak karena keris itu telah menembus dadanya.
Orang yang menusuk anak itu lalu melompat dan keluar dari ruangan. Darmi masih
terbelalak. Ketika ia memandang ke arah anak dalam gendongannya, ia melihat
darah berlumuran dari tubuh anak itu! ia menjerit sekuatnya dan..... terkulai
jatuh pingsan dengan anak yang telah mati itu masih dalam gendongannya.
Akan tetapi jeritnya yang melengking
nyaring itu mengejutkan orang-orarg yang berada di keputren. Para dayang
berlarian memasuki ruangan itu dan sebentar saja keadaan menjadi gempar. Tak
lama kemudian, Sang Prabu Erlangga sendiri memasuki ruangan, diikuti permaisuri
yang baru, sang pengantin baru Puteri Sri Sanggramawijaya. Sepasang pengantin
ini terpaksa keluar dari kamar pengantin mereka ketika mendengar ada pembunuhan
di tempat pengasuh anak anak. Tidak ketinggalan Mandari juga mengikuti Sang
Prabu Erlangga, dan Dyah Untari. Ketika Sang Prabu Erlangga memasuki ruangan
itu dengan tiga orang isterinya yang paling terkemuka, semua dayang dan abdi
daiem (pelayan) berjongkok dipinggir dan menyembah. Sang Prabu Erlangga
menghampiri Darmi yang masih menangis meraung-raung setelah sadar dari
pingsannya dan memeluki anak yang berlumuran darah dan sudah mati itu.
"Biyung Emban, berhentilah
menangis dan ceritakan apa yang terjadi di sini." kata Sang Prabu Erlangga
dengan tenang setelah dia mengamati sebentar anak yang masih digendong Darmi
itu.
Mendengar suara sang prabu, agaknya
Darmi baru menyadari bahwa junjungannya telah berada di situ. la segera
menyembah nyembah dan menahan tangisnya.
"Aduh, gusti..... ketiwasan
(celaka), gusti..... ada..... ada orang masuk lalu menggunakan kerisnya
membunuh " katanya gagap.
"Hemm, seperti apa
orangnya?"
"Hamba tidak tahu, gusti .....
dia ..... dia memakai topeng hitam ....."
"Bagaimana pakaiannya?"
"Pakaiannya.....
pakaiannya..... seperti perwira pasukan pengawal Gusti Puteri
Pengantin.....dari Sriwijaya ....."
"Tidak mungkin.....!"
puteri Sri Sanggramawi berseru.
"Kenapa tidak mungkin? Ini
buktinya!" terdengar jawaban dari luar dan masuklah Lasmini mengiringkan
dua orang prajurit pengawal istana yang menggotong tubuh seorang tinggi besar
yang memakai pakaian perwira pasukan Sriwijaya dan orang itu sudah mati!
“Paman Swandaru.....!" Sang
Puteri Sri Sanggramawijaya berjongkok dekat mayat perwira pengawalnya itu,
matanya terbelalak dan mukanya pucat.
"Paman Swandaru..... andika
kenapakah..... siapa yang berani membunuh perwira pengawalku?" ia bangkit
berdiri dan memandang penasaran kepada Sang Prabu Erlangga.
Ki Patih Narotama juga sudah datang
ke tempat itu setelah dia yang tadi duduk di luar mendengar bahwa ada
pembunuhan di bagian keputren. Dia memandang dengan alis berkerut kepada
Lasmini karena sekali pandang ke arah muka mayat perwira Sriwijaya yang agak
kebiruan itu diapun dapat menduga bahwa perwira itu tentu tewas oleh pukulan
Aji Ampak-ampak yang ampuh dan dikuasai oleh selirnya itu.
"Tenanglah, adinda," kata
Sang Prabu Erlangga kepada permaisurinya yang baru. Kemudian dia memandang
kepada Lasmini yang membawa sebatang keris yang berlumuran darah lalu bertanya
dengan suara penuh wibawa.
"Lasmini, ceritakanlah apa yang
terjadi."
"Diajeng, berceritalah
sejujurnya, terus terang dan jangan ada yang disembunyikan!" terdengar
Narotama berkata kepada Lasmini dengan suara memerintah.
Dengan hormat Lasmini menyembah
kepada Sang Prabu Erlangga lalu menceritakan dengan suara lembut dan
sungguh-sungguh.
"Hamba sedang mencari angin di
taman dan hamba mendengar jeritan dari bangunan bagian keputren, maka hamba
segera hendak lari menghampiri. Akan tetapi setibanya di pintu taman, hampir
hamba bertabrakan dengan orang ini! Melihat dia lari keluar dari bagian
keputren, hamba menegurnya akan tetapi dia malah menyerang hamba dengan keris
ini." Ia menyerahkan keris itu kepada Sang Prabu Erlangga yang menerima
keris itu dan mengamatinya.
Kemudian dia berkata.
"Seterusnya bagaimana?"
"Hamba melawannya dan karena
dia juga cukup digdaya dan agaknya mati matian hendak menyerang hamba, terpaksa
hamba lalu mengeluarkan aji pukulan untuk merobohkannya. Sayang, agaknya hamba
memukul terlalu kuat sehingga dia tewas, padahal sesungguhnya hamba ingin
menangkap dia hidup-hidup agar dia dapat mengaku mengapa dia membunuh Pangeran
Samarawijaya dan siapa yang menyuruhnya."
"Siapa lagi yang
menyuruhnya?" tiba tiba Puteri Mandari berkata lantang
"Semua buktinya sudah lengkap
dan saksinya juga ada. Biyung-emban Darmi, coba lihat, bukankah ini laki-laki
yang melakukan pembunuhan tadi?" Puteri Mandari menuding ke arah mayat
Perwira Swandaru.
Biyung-emban Darmi sudah mMenjadi
gugup sekali karena menghadapi pemeriksaan oleh Sang Prabu Erlangga, bahkan Ki
Patih Narotama dan semua keluarga Istana. la memandang mayat itu dan berkata
gagap,
".....kasinggihan.....
pakaiannya..... begitu itulah..... tapi mukanya..... ditutupi topeng
....."
"Nah, itu sudah cukup, kakanda
prabu. Buktinya lengkap, saksinya ada. Jelas perwira Sriwijaya ini pembunuhnya
dan siapa lagi yang menyuruh dia melakukan pembunuhan itu kalau bukan Sang
Puteri Sri Sanggramawijaya" kata Mandari.
"Ampun, gusti. Kalau boleh
hamba ikut bicara, pembunuhan ini tentu dilakukan sebuah komplotan yang
mempunyai niat jahat tertentu, lalu menjatuhkan fitnah atas diri Sang Puteri
Sri Sanggrawijaya....."
"Kakangmbok Untari! Urusannya
sudah jelas dan andika bicara soal komplotan segala. Apakah sekarang masih ada
komplotan seperti yang dulu dilakukan mendiang Ki Patih Hardogutam ketika
berkelomplot untuk membunuh mendiang kanjeng rama prabu Teguh
Dharmawangsa?" bentak Mandari dengan suara mengandung penuh ejekan.
Pucat wajah Dyah Untari dan ia
merasa terkejut, marah dan malu sehingga tubuhnya gemetar dan kedua matanya
basah.
"Sudah cukup! Apa perlunya
ribut ribut ini?" bentak Sang Prabu Erlangga sambil mengerutkan alis dan
memandang Mandari dengan sinar mata mengandung teguran. Akan tetapi Mandari
membalas pandang mata Sang Prabu Erlangga dengan berani dan iapun membantah.
"Akan tetapi, kakanda prabu!
Putera paduka Pangeran Samarawijaya dibunuh orang dan hamba sekalian tidak
boleh ribut-ribut?"
"Hemm, siapa bilang puteraku
Pangeran Samarawijaya dibunuh orang? Anak yang terbunuh inipun aku tidak tahu
siapa! Heh, biyung-emban, siapakah anak dalam gendongan mu itu?"
"....ampun, gusti.... ini
adalah Kadrya, keponakan hamba. Karena hamba mengganggur dan ibu anak ini
sakit, maka malam ini dia dititipkan kepada hamba.... tidak tahunya..... dia
mati terbunuh..... hu-hu-huuhh..... bagaimana hamba harus memberitahu adik
hamba.....?"
Banyak orang menghela napas lega
mendengar bahwa yang terbunuh bukan Pangeran Samarawijaya, akan tetapi Lasmini
dan Mandari terkejut setengah mati! Sungguh tadinya mereka sudah merasa lega
karena sekali ini usaha mereka berhasil baik. Linggajaya yang menyamar dengan
pakaian perwira Sriwijaya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, membunuh
anak itu lalu menyerahkan keris yang dipakai membunuh kepada Lasmini yang
menanti di taman untuk dijadikan bukti. Siapa kira, yang diasuh biyung-emban
Darmi bukan sang pangeran, melainkan keponakan biyung-emban itu sendiri! Yang
tidak merasa heran adalah Dyah Untari karena ialah yang telah menggagalkan
usaha pembunuhan atas diri sang pangeran itu. Ketika ia mendengarkan bisikan
Lasmini dan Mandari yang mengatakan bahwa kalau anak itu dapat dibunuh maka
berhasillah usaha mereka, hatinya menjadi curiga dan juga ngeri. Siapa tahu yang
dimaksudkan anak oleh dua orang wanita kakak beradik puteri puteri Parang
Siluman itu adalah kedua orang pangeran, puteranya sendiri, Pangeran Budidharma
dan Pangeran Samarawijaya. Oleh karena itu, semenjak malam itu, ia minta kepada
kedua orang biyung emban pengasuh agar membawa kedua orang anak itu! Maka
terjadilah salah bunuh itu. Akan tetapi, Dyah Untari tidak berani mengemukakan
hal ini. Kecurigaannya bahwa dua orang puteri Parang Siluman itu yang mengatur
pembunuhan, tidak mempunyai bukti yang kuat dan ia tidak mau kalau nanti
Mandari kembali menghinanya dengan menceritakan tentang komplotan mendiang
ayahnya di depan orang banyak. Ia dapat menderita malu. Apalagi, biyung-emban
Darmi sendiri sudah bersaksi bahwa pembunuhnya memang perwira Sriwijaya itu.
Mungkinkah perwira Sriwijaya itu berkomplot dengan kakak beradik dari Parang
Siluman itu? Rasanya tidak mungkin dan urusannya menjadi bertambah ruwet.
Memang, keadaannya di Kahuripan, menjadi selir pertama dan tercinta dari Sang
Prabu Erlangga merupakan hal yang aneh.
No comments:
Post a Comment