Baru menghadapi dua orang "saingan" ini saja dia sudah merasa berat untuk berebutan pengaruh, dan sekarang malah ditambah datangnya seorang permaisuri ke dua.
Sang Prabu Erlangga menyambut
kedatangan sang puteri dari Sriwijaya yang nama lengkapnya adalah Sri Sanggrama
Wijaya Dharmaprasadatunggadewi. Untuk menghormati sang puteri, tentu saja
terutama sekali untuk menyenangkan Sri baginda Raja di Sriwijaya, Sang Prabu
Erlangga mengadakan pesta besar-besar untuk merayakan pernikahannya dengan
Puteri Sriwijaya itu. Bahkan perkawinan agung yang mempersatukan dua kerajaan
besar itu kemudian ditulis oleh Pujangga Empu Kanwa sebagai kitab kekawin junawiwaha
yang mengisahkan pernikahan Sang Arjuna dengan seorang bidadari bernama Dewi
Supraba, setelah Sang Arjuna lulus dari segala macam cobaan ujian berupa godaan
berat dalam pondok pengasingannya melakukan tapabrata.
Pesta besar diadakan selama tujuh hari
tujuh malam dan bukan hanya istana Kahuripan yang merayakan pesta pernikahan
besar-besaran ini, bahkan seluruh rakyat juga ikut merayakannya. Akan tetapi
kalau semua orang bergembira dan berpesta pora, dua orang merasa ngelangsa.
Mereka memang ikut juga berpesta dan tampak gembira, namun semua itu hanya
sandiwara. Di dalam hati mereka, Lasmini yang datang sebagai tamu bersama
keluarga Ki Patih Narotama dan Mandari yang bertindak sebagai keluarga tuan
rumah yang empunya kerja, kedua orang kakak beradik ini merasa penasaran dan
marah sekali. Setelah perayaan berjalan tiga hari, Mandari berpamit kepada Sang
Prabu Erlangga untuk beristirahat karena merasa lelah dan ia ingin menggunakan
kesempatan itu untuk melepas rindu dengan kakaknya, yaitu Ni Lasmini yang datang
sebagai tamu. Kedua orang puteri jelita ini lalu mengundurkan diri dan tak lama
kemudian mereka sudah berada dalam sebuah kamar. Mereka berdua bercakap-cakap
di kamar itu dan menutup pintu dan jendela-jendela. Biarpun semua jendela dan
pintu sudah tertutup rapat, dua orang kakak beradik itu masih bicara lirih agar
jangan sampai pembicaraan mereka terdengar orang lain.
"Aduh, bagaimana ini, mbakayu
Lasmini? Apakah keadaan kita terus begini saja? Sampai sekarang kita belum juga
dapat melakukan sesuatu yang berarti. Ah, tentu kita akan menjadi buah
tertawaan di Parang Siluman, semua orang akan mengira kita karena keenakan
disini lalu melupakan tugas dan tidak berbuat apa-apa!" kata Mandari
gemas.
Lasmini mengepal kedua tangannya
dengan gemas.
"Akupun merasa gemas sekali,
Mandari. Usahaku berulang kali tak pernah berhasil. Bahkan paling akhir ini aku
telah berhasil menyuruh orang menculik Listyarini, akan tetapi sial, ada saja
orang yang menyelamatkannya sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Ki Patih Narotama.
Malah nyaris rahasiaku terbuka. Sekarang ini, apa rencanamu Mandari?"
"Begini, mbakayu Lasmini. Kita
tahu bahwa dengan pernikahan Sang Prabu Erlangga dengan puteri Sriwijaya ini,
maka kedudukan Kahuripan menjadi semakin kuat karena dia dapat menarik Kerajaan
Sriwijaya menjadi keluarga. Maka, hal ini harus kita cegah dengan jalan
membunuh puteri Sriwijaya itu sehingga Raja Sriwijaya tentu akan marah dan
timbul permusuhan antara Kahuripan dan Sriwijaya."
"Hemm, kurasa rencana itu baik
sekali, akan tetapi pelaksanaan ....."
"Ssttt .....!" Mandari
memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir sehingga Lasmini tidak
melanjutkan ucapannya yang berbisik itu. Mereka berdua mendengar langkah kaki
lewat di depan kamar dan setelah langkah itu tidak terdengar lagi Mandari
berkata.
"Itu tadi tentu langkah
pengawal yang meronda. Bicara disini tidak aman, mbakayu. Sebaiknya kita masuk
ke taman saja dan bicara di sana dapat dilakukan dengan leluasa karena tidak
ada orang lain yang mungkin dapat mendengar kita. Mari!" Mandari lalu
mengajak Lasmini memasuki tamansari, taman istana yang indah dan luas.
Taman ini lebih indah daripada taman
kepatihan dan di sana-sini diterangi lampu warna-warni. Agaknya taman itupun
dihias dalam rangka pesta pernikahan yang meriah itu. Dua orang puteri itu
memasuki taman dan Mandari mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah tempat
peristirahatan terbuka. Tempat itu berpayon namun tanpa dinding dan di situ
terdapat meja kursi ukiran indah, prabot-prabot hiasan dan juga digantungi
sebuah lampu. Di sekitar bangunan peristirahatan itupun diterangi lampu
sehingga kalau ada orang mendekati tempat itu, mereka akan dapat melihatnya.
Setelah kedua orang puteri itu duduk berhadapan di bangunan mungil itu dan
memandang ke sekeliling, yakin bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada
orang lain, mereka lalu melanjutkan percakapan yang tadi terpotong.
"Mandari, bagaimana cara
melaksanakan rencanamu itu? Kurasa pelaksanaannya tidak mudah, bahkan berbahaya
sekali."
"Memang tidak mudah, mbakayu
Lasmini, akan tetapi mari kau bantu aku mencari jalan yang baik. Selain itu,
masih ada rencana lain yang sudah lama ingin kulaksanakan akan tetapi belum
juga menemukan cara terbaik."
"Rencana apa itu?"
"Begini, Puteri Sriwijaya itu
akan diangkat menjadi permaisuri ke dua. Akan tetapi sekarang, permaisuri
pertama telah mempunyai seorang putera berusia dua tahun, yaitu Pangeran
Samarawijaya yang tentu saja sebagai putera pertama permaisuri akan menjadi
putera mahkota. Nah, kalau saja putera ini dapat dibunuh ....."
"Mandari, hati-hati kau!
Rencanamu Itu lebih berbahaya lagi dan amat sukar dilaksanakan'" bisik
Lasmini.
Tiba-tiba terdengar suara pria yang
lirih namun terdengar jelas di telinga dua orang puteri itu. Sebagai
orang-orang sakti, dua orang puteri itu segera mengetahui bahwa suara itu
diucapkan lirih, namun didorong tenaga sakti sehingga dapat mencapai telinga
mereka dengan cukup jelas.
"Duhai sepasang puteri juita
yang cantik jelita dan sakti mandraguna mengapa risau kalau di sini ada hamba
yang akan membikin terang semua perkara yang menggelapkan hati paduka"
Lasmini dan Mandari sudah melompat
berdiri dengan sigapnya dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka
terkejut sekali ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria muda yang keluar dari
balik batang pohon sawo yang tumbuh tak jauh dari tempat peristirahatan itu!
Tempat orang itu bersembunyi begitu dekat dan tentu dia tadi telah mendengar
semua percakapan mereka! Akan tetapi dari mana datangnya laki-laki ini?
Bagaimana dia dapat tiba dan bersembunyi di balik batang pohon itu? Padahal
kalau dia datang, tentu sebelum tiba di situ mereka berdua sudah melihatnya!
Lasmini dan Mandari mempunyai
pikiran yang sama pada saat itu. Laki laki ini harus dibunuh karena dialah satu
satunya orang yang tadi mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui
rahasia mereka. Ini berbahaya sekali
"Haiiiiittt .....!"
Dua orang puteri yang ketika duduk
bercakap-cakap tadi tampak cantik jelita dan lemah gemulai, kini tiba-tiba
berubah tangkas sekali. Keduanya sudah melompat keluar, bagaikan melayang dan
keduanya sudah menyerang laki-laki itu dengan pengerahan tenaga sakti mereka
karena mereka memang menyerang untuk membunuh! Dari tangan-tangan mungil halus
itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, menyerang ke arah tubuh laki-laki
yang tiba-tiba muncul itu. Akan tetapi laki-laki muda itu tidak menjadi gentar.
Diapun menggerakkan dua tangannya menyambut dan menangkis serangan dua orang
puteri itu.
"Wuuuttt ..... desss
.....!"
Dua orang puteri itu terkejut bukan
main karena tubuh mereka terpental ketika serangan mereka bertemu dengan
tolakan pemuda itu. Ternyata laki-laki muda itu memiliki tenaga sakti vang amat
kuat! Kini pemuda itu berdiri tepat di bawah sinar lampu sehingga kedua orang
puteri itu dapat melihat wajahnya dengan jelas dan keduanya tertegun. Pemuda
itu masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, tubuhnya tinggi
tegap, matanya lebar dan tajam mencorong, hidungnya mancung, mulutnya
mengandung senyum ejekan dan penampilannya gagah. Akan tetapi mereka sama
sekali tidak mengenalnya, maka Lasmini dan Mandari sudah siap untuk menyerang
lagi karena orang itu merupakan bahaya besar bagi mereka. Akan tetapi pemuda
itu sudah melangkah maju dan mengangkat kedua buah tangannya ke atas seperti
hendak mencegah mereka melakukan serangan.
"Perlahan dulu, harap paduka
ketahui bahwa hamba bukanlah musuh, melainkan seorang sahabat yang datang
hendak membantu agar apa yang paduka berdua rencanakan itu dapat terlaksana
dengan baik."
Mendengar ini, dua orang puteri itu
saling pandang dan Lasmini yang tertarik oleh ucapan pemuda itu cepat bertanya,
"Siapakah andika dan apa maksud
ucapanmu tadi?"
"Hamba bernama Linggajaya,
murid bapa guru Sang Resi Bajrasakti."
"Sang Resi Bajrasakti,
penasihat Kerajaan Wengker? Lalu apa maksudmu datang memasuki taman ini?"
tanya Mandari sambil menatap wajah tampan pesolek itu dengan kagum.
Baik Lasmini maupun Mandari memiliki
dasar watak mata keranjang, akan tetapi selama ini mereka berdua belum melihat
adanya kesempatan untuk menuruti gairah nafsu yang memperbudak mereka. Apalagi,
suami mereka merupakan pria-pria yang tampan gagah, yang cukup memenuhi
kehausan mereka yang selalu bergelora.
"Hamba menerima perintah Sang
Adipati Adhamapanuda, raja kerajaan Wengker untuk membantu paduka berdua dalam
usaha mengacau dan melemahkan kerajaan Kahuripan."
"Ah, baik sekali kalau begitu.
Akan tetapi, Linggajaya, kita tidak ada kesempatan untuk berunding karena
andika tidak boleh terlalu lama di sini. Kalau sampai terlihat seorang
perajurit pengawal yang meronda, bisa celaka!" kata Mandari.
Linggajaya tersenyum.
"Harap paduka jangan khawatir,
gusti puteri. Tadi hamba memasuki taman juga tidak ada yang dapat melihat
hamba. Kalau ada orang datang, hamba dapat mempergunakan Aji Panglimutan dan
tidak ada yang dapat melihat kehadiran hamba di sini."
"Hemm, bagaimana kami bisa
yakin bahwa andika tidak hanya membual kalau kami tidak melihatnya
sendiri?" tiba-tiba Lasmini berkata.
Linggajaya kembali tersenyum,
kemudian dia berkata,
"Kalau begitu, harap paduka
berdua buktikan sendiri sekarang!" Dia telah mengerahkan ajiannya, yaitu
Aji Panglirnutan. Tiba-tiba tampak halimun tebal menyelubungi tubuh pemuda itu
dan kedua orang puteri itupun tidak dapat melihatnya lagi! Mereka berdua merasa
kagum sekali dan biarpun mereka memperhatikan dengan pandang mata mereka, tetap
saja pemuda itu tidak tampak. Tiba-tiba Lasmini merasa ada tangan mengusap
lengannya dengan sentuhan mesra dan ada napas hangat terasa pekat sekali dengan
tengkuknya! Tahulah dia bahwa pemuda itu dengan ajiannya yang hebat telah
melakukan hal ini kepadanya dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa
pemuda itu tertarik sekali kepadanya seperti juga ia yang tertarik kepada
Linggajaya! Dua orang puteri itu lalu memperlihatkan pula kesaktian mereka.
Keduanya bersedakap dan mengerahkan kekuatan batin mereka untuk membuyarkan Aji
panglimutan itu dan perlahan-lahan halimun itupun makin menipis dan tampaklah
Linggajaya sudah berdiri di dekat mereka sambil tersenyum manis.
"Hebat paduka berdua memang
sakti dan dapat membuyarkan ajian hamba, akan tetapi para perajurit pengawal
biasa itu tidak akan mampu melakukan itu karenanya harap paduka jangan khawatir
dan harap suka memberi petunjuk, apa yang harus hamba lakukan agar rencana
gusti Puteri Mandari tadi dapat dilaksanakan dengan baik."
"Hemm, andika juga sudah
mengenal nama kami?" Tanya Lasmini.
Linggajaya memandang kepada Lasmini,
tersenyum dan pandang matanya jelas memperlihatkan perasaan hatinya terhadap
selir patih ini.
"Tentu saja hamba sudah
diberitahu dan mengenal paduka berdua, Gusti Puteri Lasmini yang menjadi garwa
Ki Patih Narotama dan Gusti Puteri Mandari yang menjadi garwa Sang Prabu
Erlangga. Paduka berdua adalah kakak beradik puteri-puteri Gusti Ratu Kerajaan
Parang Siluman yang bertugas untuk menyingkirkan raja dan patih Kahuripan, atau
mengadu domba di antara mereka, atau mengusahakan apa saja agar Kerajaan
Kahuripan menjadi lemah. Bukankah demikian seperti yang hamba dengar?"
"Benar sekali, Linggajaya. Nah,
kalau begitu, dengarlah baik-baik. Aku mempunyai rencana ....."
"Hamba tadi sudah mendengar
akan kedua rencana paduka itu, gusti puteri. Kalau menurut hamba, hamba dapat
bertindak sebagai pedang bermata dua, sekali bergerak mendapatkan dua hasil
yang baik."
"Apa maksudmu Linggajaya?"
tanya Lasmini dengan tertarik.
"Begini, maksud hamba. Kalau
hamba sudah diberitahu tentang tempat, waktu atau saat yang tepat untuk
bertindak, hamba dapat membunuh pangeran kecil itu dan sekaligus diusahakan
agar yang disangka melakukan perbuatan itu adalah sang puteri dari Sriwijaya!
Masuk diakal kalau puteri Sriwijaya itu ingin melenyapkan putera pertama yang
akan menjadi putera mahkota itu, bukan? Tentu saja dengan keinginan agar kelak,
kalau ia melahirkan seorang putera, puteranya itu yang akan menjadi pangeran mahkota.
Dengan demikian, sekali bertindak, mendapatkan dua hasil. Pertama, kematian
Pangeran pertama itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi keluarga Sang
Prabu Erlangga dan ke dua, kalau Puteri Sriwijaya dituduh melakukan pembunuhan
dan ditindak, maka kerukunan antara Kahuripan dan Sriwijaya menjadi
rusak."
"Ah, bagus sekali!"
Lasmini berseru girang dan ia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata
yang mengandung kegairahan. Pemuda seperti inilah yang dapat dijadikan sekutu,
juga patut untuk menjadi teman untuk memuaskan gairahnya yang berkobar.
Linggajaya tersenyum dan menyambut
pujian Lasmini itu dengan pandang mata yang penuh arti, pandang mata yang
merayu dan seolah dengan pandang matanya itu dia membelai tubuh selir Kepatihan
itu!
"Sekarang tinggal Gusti Puteri
Mandari yang dapat memberi petunjuk kepada hamba tentang cara, tempat dan saat
hamba harus bertindak karena tentu saja paduka yang lebih mengetahui keadaan
dalam istana ini," kata Linggajaya.
“Aku sudah pikirkan hal itu,"
kata Mandari dengan suara yang bernada gembira.
"Sebaiknya diatur begini."
Ia lalu berbisik-bisik lirih sekali sehingga terpaksa Lasmini dan Linggajaya
mendekatkan telinga mereka untuk menangkap apa yang dikatakan selir Sang Prabu
Erlangga Itu. Dan tanpa disengaja, ketika mendekatkan telinga, muka Linggajaya
berlekatan sekali dengan muka Lasmini sehingga keduanya dapat merasakan tiupan
napas masing-masing di pipi mereka. Kembali mereka bertukar pandang yang penuh
arti, penuh daya tarik dan sekaligus penuh tantangan!
"Nah, sudah mengerti benarkah
andika, Linggajaya?" Tanya Mandari setelah selesai berkasak-kusuk.
Linggajaya mengangguk.
"Hamba sudah mengerti, gusti
puteri.” Akan tetapi mata pemuda itu mengerling ke arah Lasmini.
"Kalau begitu, aku akan
mempersiapkan perlengkapan yang kaubutuhkan. Besok malam, datanglah ke sini
untuk menerima barang-barang itu."
No comments:
Post a Comment