Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 49


Baru menghadapi dua orang "saingan" ini saja dia sudah merasa berat untuk berebutan pengaruh, dan sekarang malah ditambah datangnya seorang permaisuri ke dua.

Sang Prabu Erlangga menyambut kedatangan sang puteri dari Sriwijaya yang nama lengkapnya adalah Sri Sanggrama Wijaya Dharmaprasadatunggadewi. Untuk menghormati sang puteri, tentu saja terutama sekali untuk menyenangkan Sri baginda Raja di Sriwijaya, Sang Prabu Erlangga mengadakan pesta besar-besar untuk merayakan pernikahannya dengan Puteri Sriwijaya itu. Bahkan perkawinan agung yang mempersatukan dua kerajaan besar itu kemudian ditulis oleh Pujangga Empu Kanwa sebagai kitab kekawin junawiwaha yang mengisahkan pernikahan Sang Arjuna dengan seorang bidadari bernama Dewi Supraba, setelah Sang Arjuna lulus dari segala macam cobaan ujian berupa godaan berat dalam pondok pengasingannya melakukan tapabrata.

Pesta besar diadakan selama tujuh hari tujuh malam dan bukan hanya istana Kahuripan yang merayakan pesta pernikahan besar-besaran ini, bahkan seluruh rakyat juga ikut merayakannya. Akan tetapi kalau semua orang bergembira dan berpesta pora, dua orang merasa ngelangsa. Mereka memang ikut juga berpesta dan tampak gembira, namun semua itu hanya sandiwara. Di dalam hati mereka, Lasmini yang datang sebagai tamu bersama keluarga Ki Patih Narotama dan Mandari yang bertindak sebagai keluarga tuan rumah yang empunya kerja, kedua orang kakak beradik ini merasa penasaran dan marah sekali. Setelah perayaan berjalan tiga hari, Mandari berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk beristirahat karena merasa lelah dan ia ingin menggunakan kesempatan itu untuk melepas rindu dengan kakaknya, yaitu Ni Lasmini yang datang sebagai tamu. Kedua orang puteri jelita ini lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka sudah berada dalam sebuah kamar. Mereka berdua bercakap-cakap di kamar itu dan menutup pintu dan jendela-jendela. Biarpun semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat, dua orang kakak beradik itu masih bicara lirih agar jangan sampai pembicaraan mereka terdengar orang lain.
"Aduh, bagaimana ini, mbakayu Lasmini? Apakah keadaan kita terus begini saja? Sampai sekarang kita belum juga dapat melakukan sesuatu yang berarti. Ah, tentu kita akan menjadi buah tertawaan di Parang Siluman, semua orang akan mengira kita karena keenakan disini lalu melupakan tugas dan tidak berbuat apa-apa!" kata Mandari gemas.
Lasmini mengepal kedua tangannya dengan gemas.
"Akupun merasa gemas sekali, Mandari. Usahaku berulang kali tak pernah berhasil. Bahkan paling akhir ini aku telah berhasil menyuruh orang menculik Listyarini, akan tetapi sial, ada saja orang yang menyelamatkannya sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Ki Patih Narotama. Malah nyaris rahasiaku terbuka. Sekarang ini, apa rencanamu Mandari?"
"Begini, mbakayu Lasmini. Kita tahu bahwa dengan pernikahan Sang Prabu Erlangga dengan puteri Sriwijaya ini, maka kedudukan Kahuripan menjadi semakin kuat karena dia dapat menarik Kerajaan Sriwijaya menjadi keluarga. Maka, hal ini harus kita cegah dengan jalan membunuh puteri Sriwijaya itu sehingga Raja Sriwijaya tentu akan marah dan timbul permusuhan antara Kahuripan dan Sriwijaya."
"Hemm, kurasa rencana itu baik sekali, akan tetapi pelaksanaan ....."
"Ssttt .....!" Mandari memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir sehingga Lasmini tidak melanjutkan ucapannya yang berbisik itu. Mereka berdua mendengar langkah kaki lewat di depan kamar dan setelah langkah itu tidak terdengar lagi Mandari berkata.
"Itu tadi tentu langkah pengawal yang meronda. Bicara disini tidak aman, mbakayu. Sebaiknya kita masuk ke taman saja dan bicara di sana dapat dilakukan dengan leluasa karena tidak ada orang lain yang mungkin dapat mendengar kita. Mari!" Mandari lalu mengajak Lasmini memasuki tamansari, taman istana yang indah dan luas.

Taman ini lebih indah daripada taman kepatihan dan di sana-sini diterangi lampu warna-warni. Agaknya taman itupun dihias dalam rangka pesta pernikahan yang meriah itu. Dua orang puteri itu memasuki taman dan Mandari mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah tempat peristirahatan terbuka. Tempat itu berpayon namun tanpa dinding dan di situ terdapat meja kursi ukiran indah, prabot-prabot hiasan dan juga digantungi sebuah lampu. Di sekitar bangunan peristirahatan itupun diterangi lampu sehingga kalau ada orang mendekati tempat itu, mereka akan dapat melihatnya. Setelah kedua orang puteri itu duduk berhadapan di bangunan mungil itu dan memandang ke sekeliling, yakin bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada orang lain, mereka lalu melanjutkan percakapan yang tadi terpotong.
"Mandari, bagaimana cara melaksanakan rencanamu itu? Kurasa pelaksanaannya tidak mudah, bahkan berbahaya sekali."
"Memang tidak mudah, mbakayu Lasmini, akan tetapi mari kau bantu aku mencari jalan yang baik. Selain itu, masih ada rencana lain yang sudah lama ingin kulaksanakan akan tetapi belum juga menemukan cara terbaik."
"Rencana apa itu?"
"Begini, Puteri Sriwijaya itu akan diangkat menjadi permaisuri ke dua. Akan tetapi sekarang, permaisuri pertama telah mempunyai seorang putera berusia dua tahun, yaitu Pangeran Samarawijaya yang tentu saja sebagai putera pertama permaisuri akan menjadi putera mahkota. Nah, kalau saja putera ini dapat dibunuh ....."
"Mandari, hati-hati kau! Rencanamu Itu lebih berbahaya lagi dan amat sukar dilaksanakan'" bisik Lasmini.

Tiba-tiba terdengar suara pria yang lirih namun terdengar jelas di telinga dua orang puteri itu. Sebagai orang-orang sakti, dua orang puteri itu segera mengetahui bahwa suara itu diucapkan lirih, namun didorong tenaga sakti sehingga dapat mencapai telinga mereka dengan cukup jelas.
"Duhai sepasang puteri juita yang cantik jelita dan sakti mandraguna mengapa risau kalau di sini ada hamba yang akan membikin terang semua perkara yang menggelapkan hati paduka"
Lasmini dan Mandari sudah melompat berdiri dengan sigapnya dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka terkejut sekali ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria muda yang keluar dari balik batang pohon sawo yang tumbuh tak jauh dari tempat peristirahatan itu! Tempat orang itu bersembunyi begitu dekat dan tentu dia tadi telah mendengar semua percakapan mereka! Akan tetapi dari mana datangnya laki-laki ini? Bagaimana dia dapat tiba dan bersembunyi di balik batang pohon itu? Padahal kalau dia datang, tentu sebelum tiba di situ mereka berdua sudah melihatnya!
Lasmini dan Mandari mempunyai pikiran yang sama pada saat itu. Laki laki ini harus dibunuh karena dialah satu satunya orang yang tadi mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui rahasia mereka. Ini berbahaya sekali
"Haiiiiittt .....!"
Dua orang puteri yang ketika duduk bercakap-cakap tadi tampak cantik jelita dan lemah gemulai, kini tiba-tiba berubah tangkas sekali. Keduanya sudah melompat keluar, bagaikan melayang dan keduanya sudah menyerang laki-laki itu dengan pengerahan tenaga sakti mereka karena mereka memang menyerang untuk membunuh! Dari tangan-tangan mungil halus itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, menyerang ke arah tubuh laki-laki yang tiba-tiba muncul itu. Akan tetapi laki-laki muda itu tidak menjadi gentar. Diapun menggerakkan dua tangannya menyambut dan menangkis serangan dua orang puteri itu.
"Wuuuttt ..... desss .....!"
Dua orang puteri itu terkejut bukan main karena tubuh mereka terpental ketika serangan mereka bertemu dengan tolakan pemuda itu. Ternyata laki-laki muda itu memiliki tenaga sakti vang amat kuat! Kini pemuda itu berdiri tepat di bawah sinar lampu sehingga kedua orang puteri itu dapat melihat wajahnya dengan jelas dan keduanya tertegun. Pemuda itu masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap, matanya lebar dan tajam mencorong, hidungnya mancung, mulutnya mengandung senyum ejekan dan penampilannya gagah. Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengenalnya, maka Lasmini dan Mandari sudah siap untuk menyerang lagi karena orang itu merupakan bahaya besar bagi mereka. Akan tetapi pemuda itu sudah melangkah maju dan mengangkat kedua buah tangannya ke atas seperti hendak mencegah mereka melakukan serangan.
"Perlahan dulu, harap paduka ketahui bahwa hamba bukanlah musuh, melainkan seorang sahabat yang datang hendak membantu agar apa yang paduka berdua rencanakan itu dapat terlaksana dengan baik."
Mendengar ini, dua orang puteri itu saling pandang dan Lasmini yang tertarik oleh ucapan pemuda itu cepat bertanya,
"Siapakah andika dan apa maksud ucapanmu tadi?"
"Hamba bernama Linggajaya, murid bapa guru Sang Resi Bajrasakti."
"Sang Resi Bajrasakti, penasihat Kerajaan Wengker? Lalu apa maksudmu datang memasuki taman ini?" tanya Mandari sambil menatap wajah tampan pesolek itu dengan kagum.

Baik Lasmini maupun Mandari memiliki dasar watak mata keranjang, akan tetapi selama ini mereka berdua belum melihat adanya kesempatan untuk menuruti gairah nafsu yang memperbudak mereka. Apalagi, suami mereka merupakan pria-pria yang tampan gagah, yang cukup memenuhi kehausan mereka yang selalu bergelora.
"Hamba menerima perintah Sang Adipati Adhamapanuda, raja kerajaan Wengker untuk membantu paduka berdua dalam usaha mengacau dan melemahkan kerajaan Kahuripan."
"Ah, baik sekali kalau begitu. Akan tetapi, Linggajaya, kita tidak ada kesempatan untuk berunding karena andika tidak boleh terlalu lama di sini. Kalau sampai terlihat seorang perajurit pengawal yang meronda, bisa celaka!" kata Mandari.
Linggajaya tersenyum.
"Harap paduka jangan khawatir, gusti puteri. Tadi hamba memasuki taman juga tidak ada yang dapat melihat hamba. Kalau ada orang datang, hamba dapat mempergunakan Aji Panglimutan dan tidak ada yang dapat melihat kehadiran hamba di sini."
"Hemm, bagaimana kami bisa yakin bahwa andika tidak hanya membual kalau kami tidak melihatnya sendiri?" tiba-tiba Lasmini berkata.
Linggajaya kembali tersenyum, kemudian dia berkata,
"Kalau begitu, harap paduka berdua buktikan sendiri sekarang!" Dia telah mengerahkan ajiannya, yaitu Aji Panglirnutan. Tiba-tiba tampak halimun tebal menyelubungi tubuh pemuda itu dan kedua orang puteri itupun tidak dapat melihatnya lagi! Mereka berdua merasa kagum sekali dan biarpun mereka memperhatikan dengan pandang mata mereka, tetap saja pemuda itu tidak tampak. Tiba-tiba Lasmini merasa ada tangan mengusap lengannya dengan sentuhan mesra dan ada napas hangat terasa pekat sekali dengan tengkuknya! Tahulah dia bahwa pemuda itu dengan ajiannya yang hebat telah melakukan hal ini kepadanya dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda itu tertarik sekali kepadanya seperti juga ia yang tertarik kepada Linggajaya! Dua orang puteri itu lalu memperlihatkan pula kesaktian mereka. Keduanya bersedakap dan mengerahkan kekuatan batin mereka untuk membuyarkan Aji panglimutan itu dan perlahan-lahan halimun itupun makin menipis dan tampaklah Linggajaya sudah berdiri di dekat mereka sambil tersenyum manis.
"Hebat paduka berdua memang sakti dan dapat membuyarkan ajian hamba, akan tetapi para perajurit pengawal biasa itu tidak akan mampu melakukan itu karenanya harap paduka jangan khawatir dan harap suka memberi petunjuk, apa yang harus hamba lakukan agar rencana gusti Puteri Mandari tadi dapat dilaksanakan dengan baik."
"Hemm, andika juga sudah mengenal nama kami?" Tanya Lasmini.
Linggajaya memandang kepada Lasmini, tersenyum dan pandang matanya jelas memperlihatkan perasaan hatinya terhadap selir patih ini.
"Tentu saja hamba sudah diberitahu dan mengenal paduka berdua, Gusti Puteri Lasmini yang menjadi garwa Ki Patih Narotama dan Gusti Puteri Mandari yang menjadi garwa Sang Prabu Erlangga. Paduka berdua adalah kakak beradik puteri-puteri Gusti Ratu Kerajaan Parang Siluman yang bertugas untuk menyingkirkan raja dan patih Kahuripan, atau mengadu domba di antara mereka, atau mengusahakan apa saja agar Kerajaan Kahuripan menjadi lemah. Bukankah demikian seperti yang hamba dengar?"
"Benar sekali, Linggajaya. Nah, kalau begitu, dengarlah baik-baik. Aku mempunyai rencana ....."
"Hamba tadi sudah mendengar akan kedua rencana paduka itu, gusti puteri. Kalau menurut hamba, hamba dapat bertindak sebagai pedang bermata dua, sekali bergerak mendapatkan dua hasil yang baik."
"Apa maksudmu Linggajaya?" tanya Lasmini dengan tertarik.
"Begini, maksud hamba. Kalau hamba sudah diberitahu tentang tempat, waktu atau saat yang tepat untuk bertindak, hamba dapat membunuh pangeran kecil itu dan sekaligus diusahakan agar yang disangka melakukan perbuatan itu adalah sang puteri dari Sriwijaya! Masuk diakal kalau puteri Sriwijaya itu ingin melenyapkan putera pertama yang akan menjadi putera mahkota itu, bukan? Tentu saja dengan keinginan agar kelak, kalau ia melahirkan seorang putera, puteranya itu yang akan menjadi pangeran mahkota. Dengan demikian, sekali bertindak, mendapatkan dua hasil. Pertama, kematian Pangeran pertama itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi keluarga Sang Prabu Erlangga dan ke dua, kalau Puteri Sriwijaya dituduh melakukan pembunuhan dan ditindak, maka kerukunan antara Kahuripan dan Sriwijaya menjadi rusak."
"Ah, bagus sekali!" Lasmini berseru girang dan ia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata yang mengandung kegairahan. Pemuda seperti inilah yang dapat dijadikan sekutu, juga patut untuk menjadi teman untuk memuaskan gairahnya yang berkobar.
Linggajaya tersenyum dan menyambut pujian Lasmini itu dengan pandang mata yang penuh arti, pandang mata yang merayu dan seolah dengan pandang matanya itu dia membelai tubuh selir Kepatihan itu!
"Sekarang tinggal Gusti Puteri Mandari yang dapat memberi petunjuk kepada hamba tentang cara, tempat dan saat hamba harus bertindak karena tentu saja paduka yang lebih mengetahui keadaan dalam istana ini," kata Linggajaya.
“Aku sudah pikirkan hal itu," kata Mandari dengan suara yang bernada gembira.
"Sebaiknya diatur begini." Ia lalu berbisik-bisik lirih sekali sehingga terpaksa Lasmini dan Linggajaya mendekatkan telinga mereka untuk menangkap apa yang dikatakan selir Sang Prabu Erlangga Itu. Dan tanpa disengaja, ketika mendekatkan telinga, muka Linggajaya berlekatan sekali dengan muka Lasmini sehingga keduanya dapat merasakan tiupan napas masing-masing di pipi mereka. Kembali mereka bertukar pandang yang penuh arti, penuh daya tarik dan sekaligus penuh tantangan!
"Nah, sudah mengerti benarkah andika, Linggajaya?" Tanya Mandari setelah selesai berkasak-kusuk.
Linggajaya mengangguk.
"Hamba sudah mengerti, gusti puteri.” Akan tetapi mata pemuda itu mengerling ke arah Lasmini.
"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan perlengkapan yang kaubutuhkan. Besok malam, datanglah ke sini untuk menerima barang-barang itu."

<<<Bagian 48                                                                                         Bagian 50 >>>

No comments:

Post a Comment