Keris Pusaka Sang Megatantra ; Bagian 48


Setelah mendapat keterangan dari Sarti, Ki Patih Narotama sering melamun memikirkan Lasmini. Harus diakuinya, bahwa dia tidak dapat melupakan selir tercinta itu, kecantikan dan kelembutannya, kemanjaannya, semua kemesraan yang diberikan wanita itu dengan kejelitaan wajahnya, dengan keindahan tubuhnya, kepadanya dengan cinta yang menggebu gebu. Akan tetapi, Narotama tidak segera mengambil keputusan begitu saja. Dia ingat akan perasaan Listyarini, maka malam itu diajaknya Listyarini bicara tentang Lasmini.
"Diajeng, ketika Sang Prabu mengutus aku meminang kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu, dasar utamanya adalah untuk menghapus permusuhan antara kerajaan di pantai laut selatan itu terhadap Kerajaan Kahuripan. Kemudian setelah berhasil, Lasmini oleh Sang Prabu dihadiahkan kepadaku. Kini timbul persolan ini sehingga Lasmini agaknya pulang ke Parang Siluman. Kalau kudiamkan saja dan hal ini terdengar oleh Sang Prabu, sungguh amat tidak enak bagiku, diajeng. Seolah aku tidak mendukung keinginan Sang Prabu untuk berbaik dengan Parang Siluman. Diajeng, apakah engkau tetap menuduh Lasmini yang mengutus Nismara untuk menculikmu?"
Listyarini bukan seorang wanita yang pemarah, melainkan seorang yang berhati lembut. Ia memaklumi kedudukan suaminya, maka ia berkata dengan halus.
"Kakangmas, setelah mendengar semua keterangan paduka betapa Lasmini ikut sibuk mencari saya, dan tidak ada tanda tanda, tidak ada bukti atau saksi bahwa ia yang benar-benar menyuruh Nismara menculik saya, maka sayapun tidak yakin bahwa ia bersalah. Saya menyesal telah membuat ia marah dan meninggalkan kepatihan, kakangmas."
"Kalau begitu, engkau mau minta maaf kepadanya bahwa engkau pernah menuduhnya bersalah?"
Listyarini menghela napas panjang
"Demi kebahagiaan paduka dan demi kepentingan Kerajaan Kahuripan, saya mau melakukan apa saja, kakangmas. Baiklah, saya bersedia minta maaf kepadanya, akan tetapi saya harap paduka bersikap adil, yaitu iapun patut minta maaf kepada saya karena ia telah menuduh saya berbuat jina dengan Kakang Tejoranu."
Ki Patih Narotama mengangguk-angguk.
"Itu cukup adil, diajeng. Kalian berdua agaknya hanya salah duga dan salah paham saja. Baiklah, kalau begitu, aku akan menyusul diajeng Lasmini dan mengajaknya pulang ke kepatihan."

Demikianlah, pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Patih Narotama ke Kerajaan Parang Siluman karena dia telah mengirim penyelidik dan mendapatkan keterangan bahwa Puteri Lasmini berada di kerajaan pantai Laut Selatan itu. Ki Patih Narotama naik sebuah kereta untuk menjemput selirnya itu. Kedatangannya disambut dengan ramah dan hormat oleh Ratu Durgamala, yaitu ibu Lasmini dan Mandari. Setelah upacara penyambutan dan menyatakan maksud kunjungannya, sambil diam-diam ki patih ini merasa heran dan juga kagum melihat betapa ibu dari Lasmini yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu masih tampak seperti puteri-puterinya, seperti sebaya dengan Lasmini, Ki Patih Narotama lalu dipersilakan masuk keputren untuk menjumpai Lasmini yang sudah menanti dalam kamarnya. Narotama dipersilakan masuk oleh para dayang ke dalam sebuah kamar yang luas dan indah, bersih dan berbau harum melati, bunga kesukaan Lasmini. Ketika dia masuk, dia melihat selirnya itu rebah menelungkup di atas pembaringan dan menangis perlahan. Mukanya ditanamkan dalam bantal dan pundaknya hergoyang-goyang. Tubuh yang indah padat itu bergoyang perlahan, membuat hati sang patih dipenuhi kerinduan kepada selir terkasih ini. Dia menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, disentuhnya pundak Lasmini dengan lembut.
"Diajeng ....."
Lasmini tetap menelungkup dan tangisnya kini tersedu-sedu. Beberapa saat lamanya Narotama membiarkan Lasmini menangis, dan setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak selirnya dan berkata lagi dengan lembut.
"Diajeng, jauh-jauh aku datang menjemputmu, mengapa engkau tidak keluar menyambut kedatanganku, malah berdiam dalam kamar dan menangis?"
Dielusnya tengkuk indah dengan anak rambut melingkar lingkar itu karena rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas. Biasanya, belaian seperti ini amat disukai selir itu. Akan tetapi sekali ini, Lasmini menggerakkan tubuh menjauh tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menelungkup, akan tetapi terdengar ia berkata agak ketus namun lirih karena mukanya terbenam ke bantal.
"Mau apa paduka datang ke sini? Mau apa mengunjungi hamba yang rendah dan jahat ini?"
Narotama tersenyum.
"Diajeng, tentu saja aku datang untuk menjemputmu. Mari kita pulang ke kadipaten, diajeng."
"Apa perlunya hamba kembali ke sana? Hamba sudah tidak dipercaya lagi. Bukankah hamba orang jahat yang menyuruh Nismara menculik garwa paduka?"
"Diajeng Lasmini, aku tidak pernah menganggap engkau seperti itu."

Tiba-tiba Lasmini bangkit duduk. Gerakannya menggeliat dari tidur menelungkup menjadi duduk ini tampak begitu indah karena memperlihatkan gerakan tubuh yang meliuk dan lemah gemulai, juga padat dengan lekuk lengkung yang sempurna. Wajannya tampak membayangkan kesedihan, matanya sayu, rambutnya sebagian terjuntai, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, kecantikannya bahkan semakin menonjol. Hal ini tentu saja lebih diperkuat oleh perasaan rindu dalam hati Narotama.
"Mungkin paduka tidak, akan tetapi kakang-mbok Listyarini menuduh hamba begitu. Ia melempar fitnah kepada hamba,...” Bibir yang mungil merah segar itu meruncing dan tampak menantang.
"Itu adalah kesalah pahaman belaka diajeng. Yang menjatuhkan fitnah adalah jahanam Nismara yang telah mati itu. Sayang dia telah mati, kalau tidak tentu akan kuhukum seberat-beratnya."
Mendengar bahwa Nismara telah mati, hati Lasmini menjadi lega dan girang sekali, namun perasaan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya yang tetap sedih. Dengan matinya Nismara, maka tuduhan itu tidak ada artinya, tidak ada saksinya dan rahasianya tetap tertutup. Bagaimanapun juga, berita tentang kematian Nismara ini membuat ia sedemikian girangnya sehingga ia tidak dapat bicara untuk sejenak lamanya.
"Sudahlah, diajeng. Kita lupakan saja hal-hal yang terjadi di Telaga Sarangan itu dan marilah kembali dengan aku ke kepatihan. Engkau masih cinta kepadaku seperti aku mencintaimu, bukan?" Narotama kini merangkul dan Lasmini balas merangkul sambil membenamkan mukanya di dada sang patih. Tanpa mengangkat muka dari atas dada suaminya, Lasmini berkata lirih, seperti merajuk.
"Hamba hanya mau kembali dengan satu syarat, kakangmas."
Narotama mengelus dan membelai punggung selirnya.
"Katakanlah, apa syaratmu itu?"
"Kalau hamba sudah sampai di kepatihan, kakang-mbok Listyarini harus minta maaf kepada hamba. Dengan begitu kesalah pahaman ini baru dapat hamba lupakan."
Narotama tersenyum. Hal itu sudah dia duga sebelumnya, maka sebelum berangkat menjemput Lasmini dia sudah minta janji isterinya untuk minta maaf kepada Lasmini.
"Tentu saja. Akan kusuruh ia minta maaf kepadamu, Lasmini."
"Betul, kakangmas? Ah, baru senang hatiku!" Dan Lasmini menerima dengan penuh kepasrahan bahkan menyambut hangat ketika Narotama menciumnya.
"Akan tetapi, diajeng. Untuk membuat ketegangan antara kalian berdua benar benar mencair, engkaupun sudah sepantasnya minta maaf pula kepada dia|eng Listyarini, dengan demikian hubungan kalian akan menjadi akrab."
"Hamba? Minta maaf kepada kakang mbok Listyarini? Untuk apa?"
Narotama tersenyum.
"Diajeng, engkau juga mempunyai hutang kepadanya, Engkau menuduh ia melakukan penyelewengan dan berbuat jina dengan Ki Tejoranu."
"Akan tetapi kita melihat sendiri"
"Hemm, tampaknya saja begitu, akan tetapi sesungguhnya, Ki Tejoranu itulah yang telah menyelamatkan nyawa diajeng Listyarini dari tangan si jahanam Nismara." Narotama lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Ki Tejoranu dan apa yang dialami Listyarini.

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Lasmini terhadap Nismara. Baru sekarang ia tahu bahwa Nismara telah mengkhianatinya, tidak melaksanakan perintahnya, tidak membawa Listyarini ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman. Melainkan membawanya jauh ke barat, ia menjadi lebih gemas lagi mendengar bahwa Listyarini urung diperkosa Nismara karena tertolong oleh Ki Tejoranu keparat itu! Akan tetapi tentu saja ia tidak memperlihatkan apa yang bergolak dalam hatinya.
"Aah, begitukah, kakangmas? Kasihan kakang-mbok Listyarini yang mengalami nanyak penderitaan, masih kusangka yang bukan-bukan lagi. Baiklah, setelah tiba disana, hamba akan minta maaf kepadanya."

Demikianlah, Lasmini kembali ke kadipaten Kahuripan. Dengan sikapnya yang amat pandai membawa diri ia berbaik dengan Listyarini sehingga garwa padmi patih inipun terkecoh dan sejak itu menganggap Lasmini seorang yang ramah dan baik hati! Namun, di lubuk hatinya, Lasmini merasa penasaran sekali, la harus membalas dendam karena semua usahanya yang gagal itu ia anggap sebagai kekalahannya yang memalukan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa adiknya, Mandari yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga, juga sebegitu lama belum berhasil sama sekali.

Seperti juga Lasmini, Ni Mandari juga berhasil membuat Sang Prabu Erlangga terlena dan terbuai oleh rayuan dan sikapnya yang serba menyenangkan. Mandari juga pandai sekali mempergunakan segala kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya untuk membuat Sang Prabu Erlangga jatuh dengan cinta berahi yang menggebu-gebu. Namun, Sang Prabu Erlangga juga merupakan seorang yang arif dan bijaksana. Walaupun dia tidak mampu mengekang nafsu berahinya yang berkobar dibangkitkan oleh kecantikan Mandari, namun dia tetap waspada dan tahu benar bahwa cinta di antara dia dan selirnya itu hanyalah merupakan cinta nafsu berahi semata. Jiwa mereka tidak pernah saling bersentuhan. Oleh karena itu, dengan kesaktiannya, Sang Prabu Erlangga juga selalu menjaga agar hubungannya dengan selir terkasih ini jangan sampai menghasilkan seorang keturunan. Dia sama sekali tidak menginginkan keturunan dari Mandari. Sang Prabu Erlangga telah memiliki seorang permaisuri, yaitu Puteri Sekar Kedaton, puteri dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, dan seorang selir terkasih dan setia bernama Dyah Untari. Dari kedua orang isterinya itu, Sang Prabu Erlangga telah mendapatkan dua orang putera. Ketika dia meminang dua orang puteri Ratu Kerajaan Parang siluman, bukan semata karena dia mendengar akan kecantikan dua orang puteri itu, melainkan terutama sekali demi menjaga agar permusuhan antara kerajaan kecil itu dan Kahuripan dapat dipadamkan dan terdapat perdamaian. Akan tetapi setelah dia memilih Mandari menjadi selir dan menyerahkan Lasmini kepada Narotama, dia segera tenggelam kedalam pengaruh yang teramat kuat dari kecantikan dan kepandaian Mandari mengambil hatinya. Dalam waktu singkat Mandari menjadi selir yang tersayang. Hal Ini sebetulnya dianggap wajar saja oleh Sang Permaisuri dan juga oleh selir Dyah Untari yang setia. Pada jaman itu, raja manakah yang tidak memiliki banyak isteri? Dan wajar kalau Sang Prabu Erlangga amat menyayang Mandari, selir baru itu karena selain dara itu seorang puteri, yaitu puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman, juga memang puteri itu cantik jelita dan amat menggairahkan, baik Sang Permaisuri maupun Dyah Untari sama sekali tidak merasa cemburu atau khawatir, apalagi mereka berdua masing-masing telah mempunyai seorang putera! Memiliki putera ini berarti merupakan pengukuhan dan penguatan kedudukan mereka. Juga penguatan hubungan mereka dengan Sang Prabu Erlangga. Putera Sang Permaisuri diberi nama Pangeran Samarawijaya yang pada waktu itu sudah berusia dua tahun. Adapun putera Dyah Untari diberi nama Pangeran Budidharma dan berusia satu tahun.

Ni Mandari memang berhasil membuat Sang Prabu Erlangga mabuk kepayang dan tenggelam dalam lautan asmara, terpesona oleh kecantikan dan daya tariknya yang amat kuat. Akan tetapi ia kecewa sekali karena semua usahanya untuk mengacau keluarga Sang Prabu Erlangga selalu menemui kegagalan. Usaha pertama mengadu domba Sang Prabu Erlangga dengan Ki Patih Narotama sudah menemui kegagalan. Maka hatinya selalu merasa tidak senang. Apalagi melihat betapa para madunya, Sang Permaisuri dan Dyah Untari masing-masing telah mempunyai seorang putera sedangkan ia sendiri belum ada tanda-tanda hamil, hatinya menjadi semakin kesal. Kalau ia hendak membunuh Sang Prabu Erlangga, memang kesempatannya banyak sekali karena Sang Prabu Erlangga seringkali terlena dan tertidur pulas dalam pelukannya. Dalam keadaan seperti itu ia akan mudah dapat membunuh raja itu. Akan tetapi ada dua hal yang membuat ia tidak mau melakukan atau mencobanya. Pertama, ia tahu betapa sakti mandraguna Sang Prabu Erlangga sehingga ada kemungkinan usahanya untuk membunuh gagal, dan ke dua, diam-diam ia sendiri mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada pria yang menjadi suaminya itu. Sang Prabu bukan saja sakti mandraguna, akan tetapi juga tampan, gagah, dan pandai dalam olah asmara, pendeknya seorang pria yang sukar dicari bandingnya. Karena itu, ia memutar otak untuk mencari cara lain untuk menghancurkan dan melemahkan Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi sebelum ia mendapatkan cara terbaik untuk memenuhi keinginannya, datang persoalan lain yang membuat hati Mandari menjadi semakin penasaran dan marah sekali. Berita itu adalah berita tentang peminangan yang diajukan Sang Prabu Erlangga terhadap puteri Sribaginda Raja Sriwijaya, telah diterima dan sang puteri dari Sriwijaya itu akan segera datang, dijemput oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama! Juga pernikahan ini merupakan suatu tindakan untuk menjalin perdamaian dengan Kerajaan besar Sriwijaya itu, seperti halnya pernikahannya dengan Mandari. Hanya bedanya, karena Mandari hanya puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman yang merupakan kerajaan kecil saja, maka Mandari hanya menjadi seorang selir. Adapun puteri Kerajaan Sriwijaya yang merupakan saingan Mataram sejak dulu dan merupakan kerajaan besar, dinikahi secara besar-besaran dan diangkat menjadi permaisuri ke dua setelah Sang permaisuri yang dahulunya Puteri Sekar Kedaton, puteri mendiang Raja Teguh Dharmawangsa.

Hal inilah yang membuat hati Mandari menjadi semakin panas. Biarpun ia amat disayang Sang Prabu Erlangga dan Sang prabu lebih sering mengajak ia menemaninya tidur, namun tetap saja ia hanya seorang selir. Di atas ia masih ada Sang Permaisuri yang kedudukannya tentu saja lebih mulia dan lebih dihormati semua punggawa dan rakyat Kahuripan. Bahkan la masih kalah dalam hal kedudukannya dibandingkan selir Dyah Untari karena Dyah Untari telah mempunyai seorang putera dan merupakan selir terdahulu atau tertua. Juga Dyah Untari adalah puteri dari mendiang Pangeran Sepuh Hardagutama yang masih kakak tiri berlainan ibu dengan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dan telah diangkat menjadi patih oleh raja yang masih saudara tirinya itu.

<<<Bagian 47                                                                                         Bagian 49 >>>

No comments:

Post a Comment