Setelah mendapat keterangan dari Sarti, Ki Patih Narotama sering melamun memikirkan Lasmini. Harus diakuinya, bahwa dia tidak dapat melupakan selir tercinta itu, kecantikan dan kelembutannya, kemanjaannya, semua kemesraan yang diberikan wanita itu dengan kejelitaan wajahnya, dengan keindahan tubuhnya, kepadanya dengan cinta yang menggebu gebu. Akan tetapi, Narotama tidak segera mengambil keputusan begitu saja. Dia ingat akan perasaan Listyarini, maka malam itu diajaknya Listyarini bicara tentang Lasmini.
"Diajeng, ketika Sang Prabu
mengutus aku meminang kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu, dasar
utamanya adalah untuk menghapus permusuhan antara kerajaan di pantai laut
selatan itu terhadap Kerajaan Kahuripan. Kemudian setelah berhasil, Lasmini
oleh Sang Prabu dihadiahkan kepadaku. Kini timbul persolan ini sehingga Lasmini
agaknya pulang ke Parang Siluman. Kalau kudiamkan saja dan hal ini terdengar
oleh Sang Prabu, sungguh amat tidak enak bagiku, diajeng. Seolah aku tidak
mendukung keinginan Sang Prabu untuk berbaik dengan Parang Siluman. Diajeng,
apakah engkau tetap menuduh Lasmini yang mengutus Nismara untuk
menculikmu?"
Listyarini bukan seorang wanita yang
pemarah, melainkan seorang yang berhati lembut. Ia memaklumi kedudukan
suaminya, maka ia berkata dengan halus.
"Kakangmas, setelah mendengar
semua keterangan paduka betapa Lasmini ikut sibuk mencari saya, dan tidak ada
tanda tanda, tidak ada bukti atau saksi bahwa ia yang benar-benar menyuruh
Nismara menculik saya, maka sayapun tidak yakin bahwa ia bersalah. Saya
menyesal telah membuat ia marah dan meninggalkan kepatihan, kakangmas."
"Kalau begitu, engkau mau minta
maaf kepadanya bahwa engkau pernah menuduhnya bersalah?"
Listyarini menghela napas panjang
"Demi kebahagiaan paduka dan
demi kepentingan Kerajaan Kahuripan, saya mau melakukan apa saja, kakangmas.
Baiklah, saya bersedia minta maaf kepadanya, akan tetapi saya harap paduka
bersikap adil, yaitu iapun patut minta maaf kepada saya karena ia telah menuduh
saya berbuat jina dengan Kakang Tejoranu."
Ki Patih Narotama mengangguk-angguk.
"Itu cukup adil, diajeng.
Kalian berdua agaknya hanya salah duga dan salah paham saja. Baiklah, kalau
begitu, aku akan menyusul diajeng Lasmini dan mengajaknya pulang ke
kepatihan."
Demikianlah, pada keesokan harinya,
berangkatlah Ki Patih Narotama ke Kerajaan Parang Siluman karena dia telah
mengirim penyelidik dan mendapatkan keterangan bahwa Puteri Lasmini berada di
kerajaan pantai Laut Selatan itu. Ki Patih Narotama naik sebuah kereta untuk
menjemput selirnya itu. Kedatangannya disambut dengan ramah dan hormat oleh
Ratu Durgamala, yaitu ibu Lasmini dan Mandari. Setelah upacara penyambutan dan
menyatakan maksud kunjungannya, sambil diam-diam ki patih ini merasa heran dan
juga kagum melihat betapa ibu dari Lasmini yang sudah berusia empat puluh tahun
lebih itu masih tampak seperti puteri-puterinya, seperti sebaya dengan Lasmini,
Ki Patih Narotama lalu dipersilakan masuk keputren untuk menjumpai Lasmini yang
sudah menanti dalam kamarnya. Narotama dipersilakan masuk oleh para dayang ke
dalam sebuah kamar yang luas dan indah, bersih dan berbau harum melati, bunga
kesukaan Lasmini. Ketika dia masuk, dia melihat selirnya itu rebah menelungkup
di atas pembaringan dan menangis perlahan. Mukanya ditanamkan dalam bantal dan
pundaknya hergoyang-goyang. Tubuh yang indah padat itu bergoyang perlahan,
membuat hati sang patih dipenuhi kerinduan kepada selir terkasih ini. Dia
menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, disentuhnya pundak Lasmini dengan
lembut.
"Diajeng ....."
Lasmini tetap menelungkup dan
tangisnya kini tersedu-sedu. Beberapa saat lamanya Narotama membiarkan Lasmini
menangis, dan setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak selirnya dan
berkata lagi dengan lembut.
"Diajeng, jauh-jauh aku datang
menjemputmu, mengapa engkau tidak keluar menyambut kedatanganku, malah berdiam
dalam kamar dan menangis?"
Dielusnya tengkuk indah dengan anak
rambut melingkar lingkar itu karena rambut yang hitam panjang itu digelung ke
atas. Biasanya, belaian seperti ini amat disukai selir itu. Akan tetapi sekali
ini, Lasmini menggerakkan tubuh menjauh tanpa mengubah posisi tubuhnya yang
menelungkup, akan tetapi terdengar ia berkata agak ketus namun lirih karena
mukanya terbenam ke bantal.
"Mau apa paduka datang ke sini?
Mau apa mengunjungi hamba yang rendah dan jahat ini?"
Narotama tersenyum.
"Diajeng, tentu saja aku datang
untuk menjemputmu. Mari kita pulang ke kadipaten, diajeng."
"Apa perlunya hamba kembali ke
sana? Hamba sudah tidak dipercaya lagi. Bukankah hamba orang jahat yang
menyuruh Nismara menculik garwa paduka?"
"Diajeng Lasmini, aku tidak
pernah menganggap engkau seperti itu."
Tiba-tiba Lasmini bangkit duduk. Gerakannya
menggeliat dari tidur menelungkup menjadi duduk ini tampak begitu indah karena
memperlihatkan gerakan tubuh yang meliuk dan lemah gemulai, juga padat dengan
lekuk lengkung yang sempurna. Wajannya tampak membayangkan kesedihan, matanya
sayu, rambutnya sebagian terjuntai, akan tetapi dalam keadaan seperti itu,
kecantikannya bahkan semakin menonjol. Hal ini tentu saja lebih diperkuat oleh
perasaan rindu dalam hati Narotama.
"Mungkin paduka tidak, akan
tetapi kakang-mbok Listyarini menuduh hamba begitu. Ia melempar fitnah kepada
hamba,...” Bibir yang mungil merah segar itu meruncing dan tampak menantang.
"Itu adalah kesalah pahaman
belaka diajeng. Yang menjatuhkan fitnah adalah jahanam Nismara yang telah mati
itu. Sayang dia telah mati, kalau tidak tentu akan kuhukum
seberat-beratnya."
Mendengar bahwa Nismara telah mati,
hati Lasmini menjadi lega dan girang sekali, namun perasaan itu sama sekali
tidak tampak pada wajahnya yang tetap sedih. Dengan matinya Nismara, maka
tuduhan itu tidak ada artinya, tidak ada saksinya dan rahasianya tetap
tertutup. Bagaimanapun juga, berita tentang kematian Nismara ini membuat ia
sedemikian girangnya sehingga ia tidak dapat bicara untuk sejenak lamanya.
"Sudahlah, diajeng. Kita
lupakan saja hal-hal yang terjadi di Telaga Sarangan itu dan marilah kembali
dengan aku ke kepatihan. Engkau masih cinta kepadaku seperti aku mencintaimu,
bukan?" Narotama kini merangkul dan Lasmini balas merangkul sambil
membenamkan mukanya di dada sang patih. Tanpa mengangkat muka dari atas dada suaminya,
Lasmini berkata lirih, seperti merajuk.
"Hamba hanya mau kembali dengan
satu syarat, kakangmas."
Narotama mengelus dan membelai
punggung selirnya.
"Katakanlah, apa syaratmu
itu?"
"Kalau hamba sudah sampai di
kepatihan, kakang-mbok Listyarini harus minta maaf kepada hamba. Dengan begitu
kesalah pahaman ini baru dapat hamba lupakan."
Narotama tersenyum. Hal itu sudah
dia duga sebelumnya, maka sebelum berangkat menjemput Lasmini dia sudah minta
janji isterinya untuk minta maaf kepada Lasmini.
"Tentu saja. Akan kusuruh ia
minta maaf kepadamu, Lasmini."
"Betul, kakangmas? Ah, baru
senang hatiku!" Dan Lasmini menerima dengan penuh kepasrahan bahkan
menyambut hangat ketika Narotama menciumnya.
"Akan tetapi, diajeng. Untuk
membuat ketegangan antara kalian berdua benar benar mencair, engkaupun sudah
sepantasnya minta maaf pula kepada dia|eng Listyarini, dengan demikian hubungan
kalian akan menjadi akrab."
"Hamba? Minta maaf kepada
kakang mbok Listyarini? Untuk apa?"
Narotama tersenyum.
"Diajeng, engkau juga mempunyai
hutang kepadanya, Engkau menuduh ia melakukan penyelewengan dan berbuat jina
dengan Ki Tejoranu."
"Akan tetapi kita melihat
sendiri"
"Hemm, tampaknya saja begitu,
akan tetapi sesungguhnya, Ki Tejoranu itulah yang telah menyelamatkan nyawa
diajeng Listyarini dari tangan si jahanam Nismara." Narotama lalu
menceritakan apa yang diketahuinya tentang Ki Tejoranu dan apa yang dialami
Listyarini.
Dapat dibayangkan betapa jengkelnya
hati Lasmini terhadap Nismara. Baru sekarang ia tahu bahwa Nismara telah mengkhianatinya,
tidak melaksanakan perintahnya, tidak membawa Listyarini ke selatan, ke daerah
Kerajaan Parang Siluman. Melainkan membawanya jauh ke barat, ia menjadi lebih
gemas lagi mendengar bahwa Listyarini urung diperkosa Nismara karena tertolong
oleh Ki Tejoranu keparat itu! Akan tetapi tentu saja ia tidak memperlihatkan
apa yang bergolak dalam hatinya.
"Aah, begitukah, kakangmas?
Kasihan kakang-mbok Listyarini yang mengalami nanyak penderitaan, masih
kusangka yang bukan-bukan lagi. Baiklah, setelah tiba disana, hamba akan minta
maaf kepadanya."
Demikianlah, Lasmini kembali ke
kadipaten Kahuripan. Dengan sikapnya yang amat pandai membawa diri ia berbaik
dengan Listyarini sehingga garwa padmi patih inipun terkecoh dan sejak itu
menganggap Lasmini seorang yang ramah dan baik hati! Namun, di lubuk hatinya,
Lasmini merasa penasaran sekali, la harus membalas dendam karena semua usahanya
yang gagal itu ia anggap sebagai kekalahannya yang memalukan. Apalagi ketika ia
mendengar bahwa adiknya, Mandari yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga, juga
sebegitu lama belum berhasil sama sekali.
Seperti juga Lasmini, Ni Mandari
juga berhasil membuat Sang Prabu Erlangga terlena dan terbuai oleh rayuan dan
sikapnya yang serba menyenangkan. Mandari juga pandai sekali mempergunakan
segala kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya untuk membuat Sang Prabu
Erlangga jatuh dengan cinta berahi yang menggebu-gebu. Namun, Sang Prabu
Erlangga juga merupakan seorang yang arif dan bijaksana. Walaupun dia tidak
mampu mengekang nafsu berahinya yang berkobar dibangkitkan oleh kecantikan
Mandari, namun dia tetap waspada dan tahu benar bahwa cinta di antara dia dan
selirnya itu hanyalah merupakan cinta nafsu berahi semata. Jiwa mereka tidak
pernah saling bersentuhan. Oleh karena itu, dengan kesaktiannya, Sang Prabu
Erlangga juga selalu menjaga agar hubungannya dengan selir terkasih ini jangan
sampai menghasilkan seorang keturunan. Dia sama sekali tidak menginginkan
keturunan dari Mandari. Sang Prabu Erlangga telah memiliki seorang permaisuri,
yaitu Puteri Sekar Kedaton, puteri dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa,
dan seorang selir terkasih dan setia bernama Dyah Untari. Dari kedua orang
isterinya itu, Sang Prabu Erlangga telah mendapatkan dua orang putera. Ketika
dia meminang dua orang puteri Ratu Kerajaan Parang siluman, bukan semata karena
dia mendengar akan kecantikan dua orang puteri itu, melainkan terutama sekali
demi menjaga agar permusuhan antara kerajaan kecil itu dan Kahuripan dapat
dipadamkan dan terdapat perdamaian. Akan tetapi setelah dia memilih Mandari
menjadi selir dan menyerahkan Lasmini kepada Narotama, dia segera tenggelam
kedalam pengaruh yang teramat kuat dari kecantikan dan kepandaian Mandari
mengambil hatinya. Dalam waktu singkat Mandari menjadi selir yang tersayang.
Hal Ini sebetulnya dianggap wajar saja oleh Sang Permaisuri dan juga oleh selir
Dyah Untari yang setia. Pada jaman itu, raja manakah yang tidak memiliki banyak
isteri? Dan wajar kalau Sang Prabu Erlangga amat menyayang Mandari, selir baru
itu karena selain dara itu seorang puteri, yaitu puteri Ratu Kerajaan Parang
Siluman, juga memang puteri itu cantik jelita dan amat menggairahkan, baik Sang
Permaisuri maupun Dyah Untari sama sekali tidak merasa cemburu atau khawatir,
apalagi mereka berdua masing-masing telah mempunyai seorang putera! Memiliki
putera ini berarti merupakan pengukuhan dan penguatan kedudukan mereka. Juga
penguatan hubungan mereka dengan Sang Prabu Erlangga. Putera Sang Permaisuri
diberi nama Pangeran Samarawijaya yang pada waktu itu sudah berusia dua tahun.
Adapun putera Dyah Untari diberi nama Pangeran Budidharma dan berusia satu
tahun.
Ni Mandari memang berhasil membuat
Sang Prabu Erlangga mabuk kepayang dan tenggelam dalam lautan asmara, terpesona
oleh kecantikan dan daya tariknya yang amat kuat. Akan tetapi ia kecewa sekali
karena semua usahanya untuk mengacau keluarga Sang Prabu Erlangga selalu
menemui kegagalan. Usaha pertama mengadu domba Sang Prabu Erlangga dengan Ki
Patih Narotama sudah menemui kegagalan. Maka hatinya selalu merasa tidak
senang. Apalagi melihat betapa para madunya, Sang Permaisuri dan Dyah Untari
masing-masing telah mempunyai seorang putera sedangkan ia sendiri belum ada
tanda-tanda hamil, hatinya menjadi semakin kesal. Kalau ia hendak membunuh Sang
Prabu Erlangga, memang kesempatannya banyak sekali karena Sang Prabu Erlangga
seringkali terlena dan tertidur pulas dalam pelukannya. Dalam keadaan seperti
itu ia akan mudah dapat membunuh raja itu. Akan tetapi ada dua hal yang membuat
ia tidak mau melakukan atau mencobanya. Pertama, ia tahu betapa sakti
mandraguna Sang Prabu Erlangga sehingga ada kemungkinan usahanya untuk membunuh
gagal, dan ke dua, diam-diam ia sendiri mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada
pria yang menjadi suaminya itu. Sang Prabu bukan saja sakti mandraguna, akan
tetapi juga tampan, gagah, dan pandai dalam olah asmara, pendeknya seorang pria
yang sukar dicari bandingnya. Karena itu, ia memutar otak untuk mencari cara
lain untuk menghancurkan dan melemahkan Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi sebelum
ia mendapatkan cara terbaik untuk memenuhi keinginannya, datang persoalan lain
yang membuat hati Mandari menjadi semakin penasaran dan marah sekali. Berita
itu adalah berita tentang peminangan yang diajukan Sang Prabu Erlangga terhadap
puteri Sribaginda Raja Sriwijaya, telah diterima dan sang puteri dari Sriwijaya
itu akan segera datang, dijemput oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Ki
Patih Narotama! Juga pernikahan ini merupakan suatu tindakan untuk menjalin
perdamaian dengan Kerajaan besar Sriwijaya itu, seperti halnya pernikahannya
dengan Mandari. Hanya bedanya, karena Mandari hanya puteri Ratu Kerajaan Parang
Siluman yang merupakan kerajaan kecil saja, maka Mandari hanya menjadi seorang
selir. Adapun puteri Kerajaan Sriwijaya yang merupakan saingan Mataram sejak
dulu dan merupakan kerajaan besar, dinikahi secara besar-besaran dan diangkat
menjadi permaisuri ke dua setelah Sang permaisuri yang dahulunya Puteri Sekar
Kedaton, puteri mendiang Raja Teguh Dharmawangsa.
Hal inilah yang membuat hati Mandari
menjadi semakin panas. Biarpun ia amat disayang Sang Prabu Erlangga dan Sang
prabu lebih sering mengajak ia menemaninya tidur, namun tetap saja ia hanya
seorang selir. Di atas ia masih ada Sang Permaisuri yang kedudukannya tentu
saja lebih mulia dan lebih dihormati semua punggawa dan rakyat Kahuripan.
Bahkan la masih kalah dalam hal kedudukannya dibandingkan selir Dyah Untari
karena Dyah Untari telah mempunyai seorang putera dan merupakan selir terdahulu
atau tertua. Juga Dyah Untari adalah puteri dari mendiang Pangeran Sepuh
Hardagutama yang masih kakak tiri berlainan ibu dengan mendiang Sang Prabu
Teguh Dharmawangsa dan telah diangkat menjadi patih oleh raja yang masih
saudara tirinya itu.
No comments:
Post a Comment