Bagian 47


"Hemm, keparat Nismara. Mengapa dia berani berbuat seperti itu?" kata Narotama karena diapun merasa heran karena biarpun Nismara pernah dihukum karena perbuatannya yang kurang baik, namun selama ini tampaknya sudah berubah baik dan setia.
"Dia membawa saya berlari terus sampai beberapa hari lamanya. Saya hanya dapat berdoa, memohon perlindungan Sang Hyang Widhi dan agaknya doa saya terkabul karena selama beberapa hari itu dia sama sekali tidak pernah mengganggu saya. Kemudian dia membawa saya sampai ke pegunungan ini. Baru setelah tiba di sini dia berusaha untuk menggangguku. Dia mengaku bahwa dia melakukan ini atas perintah Lasmini, kakangmas ....."
Narotama mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia adalah seorang yang bijaksana, tidak mudah begitu saja terpengaruh keterangan sepihak. Dia percaya bahwa Listyarini tidak mungkin berbohong, akan tetapi jahanam yang bernama Nismara itu mungkin sekali berbohong dan menjatuhkan fitnah untuk mengadu domba.
"Hemm, lalu bagaimana?" tanyanya.
"Pada saat yang amat gawat itu, muncullah Kakang Tejoranu ini..... eh, nama aselinya adalah Te.... Te....."
Listyarini merasa sukar sekali mengingat nama aseli Ki Tejoranu. Melihat ini Ki Tejoranu menyambung.
"Nama aseli hamba adalah The Jiauw Lan, Gusti Patih."
Narotama mengangguk-angguk. Tahulah dia kini bahwa laki-laki itu adalah seorang bangsa Cina dari sebuah negeri yang jauh di seberang lautan.
"Teruskan ceritamu, diajeng."
"Saya mengubah nama yang sukar disebut itu menjadi Tejoranu, kakangmas. Dia muncul pada saat yang gawat itu dan dia membebaskan saya dari kekejian Nismara. Jahanam itu melarikan diri, akan tetapi dia datang lagi bersama dua orang kawannya dan mereka hendak merampas saya lalu mengeroyok Kakang Tejo. Saya menyebutnya kakang karena dia menganggap saya sebagai adik sendiri, kakangmas. Kakang Tejo berhasil membunuh Nismara dan dua orang penjahat yang lain melarikan diri."
"Hemm, sayang si keparat Nismara itu telah tewas sehingga dia tidak dapat menjadi saksi apakah benar yang menyuruhnya berbuat jahat itu adalah diajeng Lasmini."
"Begitulah menurut pengakuan Nismara, kakangmas. Kakang Tejo ini adalah penolong saya. Kalau tidak ada dia, tentu saya sudah..... mati, tak sudi saya hidup lebih lama lagi kalau saya dijamah pria lain!" Teringat akan dakwaan Lasmini yang kotor dan menghina tadi, Listyarini tak dapat menahan keluarnya air matanya lagi, namun ia menahan tangisnya.
"Akan tetapi, kenapa dia sekarang terluka separah ini?" tanya Narotama, menahan kerinduannya kepada isterinya.

Sebetulnya sudah sejak tadi dia ingin merangkul dan menghibur isterinya, menyatakan kegembiraan hatinya mendapatkan isterinya dalam keadaan selamat. Namun keadaan dan dakwaan Lasmini tadi membuat dia terpaksa menahan perasaannya.
"Saya sendiri tidak mengerti urusannya, kakangmas. Ada muncul tiga orang asing, Kakang Tejo dan mereka bicara dalam bahasa yang tidak kumengerti, lalu kakang Tejo dikeroyok dua di antara mereka, kemudian yang seorang lagi memukulnya dan kakang Tejo masih tetap melindungi saya dari tiga orang itu. Setelah mereka pergi, kakang Tejo lalu roboh pingsan. Dia sendiri yang dapat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Ki Tejoranu, coba ceritakan apa yang telah terjadi dengan dirimu. Aku tahu bahwa engkau adalah seorang Cina dan bagaimana engkau dapat berada di sini dan apa pula urusanmu dengan tiga orang yang membuatmu terluka ini."
Dengan suaranya yang lemah lirih karena menahan rasa nyeri di dadanya, dan ucapannya yang pelo, Ki Tejoranu lalu bercerita tentang dirinya yang tersiksa melarikan diri dari Negeri Cina karena membunuh putera seorang bangsawan yang membunuh kedua orang tuanya. Betapa kemudian bangsawan itu menyuruh gurunya sendiri dan dua orang paman gurunya untuk mengejarnya.
"Gulu dan paman-gulu menemukan saya di sini. Saya melawan akan tetapi kalah dan gulu memukul saya..... pukulan ini akan melenyapkan semua kekuatan saya..... aughhh ....." Ki Tejoranu yang memaksa dirinya bercerita banyak itu terkulai dan roboh pingsan lagi. Melihat ini, Listyarini bangkit berdiri dan menubruk kedua kaki suaminya.
"Duh, kakangmas. Ampunkan saya..... saya bersumpah tidak ada hubungan kotor antara saya dan kakang Tejo. Dia..... dia seorang yang baik budi dan sopan, kakangmas. Saya berhutang budi, berhutang nyawa padanya. Percayalah, kakangmas dan mohon paduka suka menolongnya untuk membalas budi kebaikannya kepada saya ....."

Narotama tidak dapat menahan rasa cinta kasihnya yang sudah menggelora sejak tadi. Dia mengangkat tubuh isterinya itu, mendekap dan menciuminya.
"Diajeng ..... diajeng Listyarini. Dijauhkan Sang Hyang Widhi kiranya aku dari perasaan cemburu dan tidak percaya kepadamu. Kasihan engkau telah menderita sengsara selama beberapa hari ini karena kealpaanku. Akan tetapi Hyang Widhi agaknya telah memunculkan orang ini untuk menolongmu. Sekarang aku mengerti mengapa engkau begitu menyayangnya seperti seorang kakak sendiri. Dia memang patut mendapatkan kasih sayangmu, diajeng."
"Kakang Tejo seorang yang sengsara hidupnya, kakangmas. Kehilangan orang tua yang terbunuh, kehilangan tunangan yang dirampas orang, kehilangan adik kandung yang hilang tak diketahui di mana. Setelah dia tahu bahwa saya adalah isteri paduka dan telah mengandung, dia lalu menganggap saya sebagai pengganti adiknya yang hilang itu....." Listyarini membela Ki Tejoranu sambil menangis dalam rangkulan suaminya, hatinya penuh kebahagiaan karena suaminya tidak termakan oleh hasutan Lasmini tadi.
"Minggirlah dulu, diajeng. Biar akan kucoba untuk menyembuhkan dia."
Mendengar ucapan ini, Listyarini demikian gembiranya sehingga ia mencium pipi suaminya dengan mesra sebelum melepaskan rangkulannya dan ia lalu duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari situ untuk menonton suaminya mengobati Ki Tejoranu. Narotama berjongkok dan memeriksa tubuh Ki Tejoranu. Luka kedua lengannya itu tidak berarti, akan tetapi ketika dia membuka baju memeriksa dada, dia terkejut bukan main. Ada bekas tapak lima jari tangan di dada itu yang kulitnya seperti terbakar dan dada itu terasa panas bukan main. Setelah memeriksa sejenak, tahulah Narotama bahwa Ki Tejooranu telah terkena aji pukulan yang amat ampuh, pukulan yang mengandung hawa panas seperti api. Narotama mengambil tongkat pusaka Tunggul Manik yang tergantung di pinggangnya. Dia memang sengaja membawa tongkat pusaka ini untuk berjaga-jaga kalau kalau Listyarini ditemukan dalam keadaan keracunan seperti tempo hari. Dan ternyata kini tongkat itu memang dibutuhkan, walaupun bukan untuk mengobati Listyarini. Khasiat tongkat Tunggul Manik adalah terutama untuk menyedot keluar segala macam racun dari tubuh manusia. Narotama menggunakan tongkat itu, menggosok-gosokkan ke dada Ki Tejoranu. Perlahan-lahan, tanda tapak lima jari menghitam di dada yang kulitnya kekuning-kuningan itu perlahan-lahan hilang, tinggal hawa panas itu saja yang masih terasa. Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna lalu menempelkan telapak tangan kirinya ke dada Ki Tejoranu, menggunakan kekuatan saktinya untuk mendorong dan mengusir hawa panas itu dari dalam tubuh Ki Tejoranu. Beberapa saat kemudian, hawa panas itupun terusir keluar dari dalam dada Ki Tejoranu dan dia mengeluh perlahan lalu membuka kedua matanya. Ketika dia melihat betapa Ki Patih Narotama berada di dekatnya dan menempelkan tangan yang terasa dingin sejuk di dadanya, dan mendapat kenyataan betapa luka di dalam dadanya sembuh sama sekali, dia menjadi kagum bukan main.
"Thian ..... (Ya Tuhan), paduka telah ..... menyembuhkan hamba ....." Ki Tejoranu segera bangkit duduk dan berlutut sambil menyembah ke arah ki patih.
"Paduka sungguh seolang yang sakti mandlaguna dapat menyembuhkan akibat pukulan Tangan Lacun Api! Paduka telah menyelamatkan nyawa hamba"

Narotama tersenyum, bangkit berdiri dan mengangkat kedua lengan Ki Tejoranu agar bangkit berdiri pula. Listyarini merasa girang sekali, la menghampiri dan memegang tangan Ki Tejoranu.
"Ah, syukur engkau telah dapat disembuhkan, kakang Tejo .....!"
Ki Tejoranu dengan halus merenggutkan tangannya dan melangkah ke belakang, lalu membungkuk dengan hormat kepada Listyarini.
"Gusti Puteli, seolang sepelti hamba tidak pantas beldekatan dengan paduka. Maafkan hamba yang selama ini kulang holmat kepada paduka ....." Kata-kata pelo itu diucapkan dengan nada hormat, namun dalam suaranya terkandung kepedihan hati.
"Ah Kakang Tejo, jangan begitu. Engkau bagiku tetap Kakang Tejoranu yang baik hati dan aku tetap Lini bagimu!" kata Listyarini, kini mendekati suaminya dan memegang tangan suaminya, seolah minta dukungan pendapat suaminya.
Ki Patih Narotama tersenyum.
"Garwaku (isteriku) benar, Ki Tejoranu, manusia hanya dibagi menjadi dua golongan, yaitu manusia yang berbudi baik penyembah Sang Hyang Widhi dan manusia yang berwatak jahat penyembah setan. Harta, kedudukan, kekuatan dan kepandaian tidak masuk hitungan. Engkau adalah seorang manusia berbudi baik, sudah sepatutnya kalau garwaku menganggap engkau seorang kakak."
"Hayaaa, Gusti Patih, paduka telah menyelamatkan nyawa hamba, hamba menghatulkan telima kasih ....."
"Ki Tejoranu, engkaupun telah menyelamatkan nyawa garwaku, semua pertolongan itu datang dari kekuasaan Sang Hyang Tunggal (Yang Maha Esa) melalui engkau dan aku, maka marilah kita menghaturkan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi saja."
Ki Tejoranu membungkuk dan menyembah.
"Paduka amat bijaksana, gusti."
"Hanya sayang sekali engkau telah terlanjur membunuh Nismara, Ki Tejoranu. Andaikata tidak, tentu dia dapat menceritakan yang sebenarnya mengapa dia melakukan perbuatan terkutuk menculik diajeng Listyarini dan membawanya sampai di sini."
"Kakangmas, penjahat itu sudah mengaku bahwa dia melakukan itu atas perintah Lasmini." kata Listyarini.
Ki Patih Narotama tersenyum.
"Itu hanya pengakuannya, diajeng, dan kini dia tidak ada sehingga aku tidak dapat memaksa dia mengaku terus terang. Tidak ada bukti dan saksinya bahwa diajeng Lasmini yang menyuruhnya. Tidak adil kalau kita mengambil kesimpulan bahwa pengakuan penjahat itu benar. Bisa saja dia sengaja melempar fitnah untuk mengadu domba. Ketahuilah bahwa sejak engkau hilang, diajeng Lasmini berusaha mati-matian untuk mencarimu."
Mendengar ucapan suaminya, Listyarini menghela napas panjang. Ia sendiri sudah yakin bahwa keterangan atau pengakuan Nismara itu benar.
"Hamba serahkan kepada kebijaksanaan paduka, kakangmas."

Mendengar nada kecewa dalam suara isterinya, Narotama merangkulnya. Ki Tejoranu juga melihat suasana itu dan dia berkata,
"Gusti Puteli, apa yang dikatakan Gusti Patih itu bijaksana dan benal sekali. Menuduh olang tanpa bukti dan saksi itu namanya fitnah."
"Ki Tejoranu, kalau engkau mau, mari ikut dengan kami ke Kahuripan dan aku akan mintakan pangkat bagimu kepada Sang Prabu. Orang seperti engkau ini dibutuhkan kerajaan kami." kata Narotama sambil menatap wajah yang kuning sekali itu. Wajah itu kini menjadi kuning dan tidak wajar, semua itu merupakan akibat dari luka oleh pukulan Hwe-tokcia (Tangan Racun Api) tadi.
Ki Tejoranu memberi hormat.
"Telima kasih, gusti. Akan tetapi hamba lebih suka melantau dan bebas dali semua ikatan."
Ki Patih Narotama tentu saja tidak dapat memaksa dan dia memaklumi pendirian orang itu. Dia tahu Ki Tejoranu adalah seorang yang berjiwa petualang. Dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, bahkan untuk kembali ke kampong halamannya di tanah airnya sana dia tidak berani. Dia sudah kehilangan segala-galanya dan hal ini membuatnya putus asa dan tidak tertarik lagi akan segala urusan duniawi. Dia hanya ingin menyendiri di tempat-tempat yang sunyi seperti di Telaga Sarangan itu. Diam diam Narotama merasa iba kepada Ki Tejoranu. Kepada orang yang tertekan jiwanya seperti ini, dia tidak dapat menawarkan apa-apa. Maka, diapun berpamit dan ketika berpamit, Listyarini memandang Ki Tejoranu dengan kedua mata basah.
"Engkau tidak mau ikut ke Kahuripan, Kakang Tejo? Kalau begitu, selamat tinggal dan jaga dirimu baik-baik, kakang. Sebaiknya, engkau pindah saja ke tempat lain, jangan tetap tinggal di sini karena kalau orang-orang jahat itu datang lagi....."
Ki Tejoranu tersenyum mengangguk.
"jangan khawatil, Gusti Puteli, saya akan pelgi melantau. Selamat jalan dan semoga paduka hidup belbahagia."

Suami isteri itu pergi meninggalkan telaga, kemudian berboncengan kuda dan perlahan-lahan menuruni lereng Gunung Lawu. Semua punggawa kepatihan menyambut kembalinya Listyarini dengan gembira karena lenyapnya sang puteri itu sungguh membuat semua punggawa menjadi gelisah. Memang sebelum Sukardi datang membawa cincin Sang Puteri dan mengabarkan bahwa Listyarini dalam keadaan selamat di Telaga Sarangan, Narotama sudah menduga bahwa Nismara tentu tersangkut dengan peristiwa hilangnya isterinya itu. Hal ini dapat diketahui karena Nismara juga tidak dapat ditemukan jejaknya dan tak seorangpun mengetahui ke mana perginya. Namun, Ki Patih Narotama tidak menghukum keluarga Nismara yang terdiri dari ibunya dan dua orang adiknya karena mereka dianggap sama sekali tidak tahu menahu akan perbuatan Nirmara yang kini telah tewas itu. Kembalinya Listyarini membuat semua orang gembira, kecuali Narotama sendiri yang terkejut melihat bahwa Lasmini tidak berada di kepatihan! Beberapa orang dayangnya hanya mengatakan bahwa Lasmini yang pergi bersama Ki Patih Narotama itu kembali seorang diri beberapa hari kemudian akan tetapi pada hari itu juga lalu pergi lagi. Narotama memanggil Sarti, wanita berwajah buruk bertubuh tinggi besar yang menjadi pelayan pribadi Lasmini.
"Sarti, ceritakan ke mana gusti puterimu pergi dan kenapa pergi. Engkau pasti tahu karena engkau adalah pelayan pribadinya." kata Ki Patih Narotama.
Sarti menyembah lalu menjawab.
"Kamnggihan (benar), gusti, hamba adalah pelayan pribadi gusti puteri. Akan tetapi gusti puteri hanya bicara sedikit paada hamba. Sekembalinya seorang diri gusti puteri hanya muwun (menangis) dan berkata bahwa tidak ada gunanya beliau tinggal di sini karena sudah tidak dipercaya lagi."
Patih Narotama mengerutkan alisnya yang hitam tebal berhentak golok itu.
"Hemm, lalu ke mana perginya?" Dia bertanya dan maklum bahwa Lasmini agaknya merasa sakit hati dengan peristiwa di Telaga Sarangan itu. Ia merasa tidak dipercaya, bahkan dituduh menyuruh Nismara membunuh Listyarini!
"beliau hanya mengatakan bahwa beliau hendak pulang. Entah yang dimaksudkan pulang ke Bukit Junggringslaka tempat tinggal Gusti Nagakumala, ataukah ke istana Parang Siluman."
"Apa yang kauketahui selanjutnya?"
"Hanya itulah yang hmba ketahui, gusti."

<<<Bagian 46                                                                                         Bagian 48 >>>

No comments:

Post a Comment