"Hemm, keparat Nismara. Mengapa dia berani berbuat seperti itu?" kata Narotama karena diapun merasa heran karena biarpun Nismara pernah dihukum karena perbuatannya yang kurang baik, namun selama ini tampaknya sudah berubah baik dan setia.
"Dia membawa saya berlari terus
sampai beberapa hari lamanya. Saya hanya dapat berdoa, memohon perlindungan
Sang Hyang Widhi dan agaknya doa saya terkabul karena selama beberapa hari itu
dia sama sekali tidak pernah mengganggu saya. Kemudian dia membawa saya sampai
ke pegunungan ini. Baru setelah tiba di sini dia berusaha untuk menggangguku.
Dia mengaku bahwa dia melakukan ini atas perintah Lasmini, kakangmas ....."
Narotama mengerutkan alisnya. Akan
tetapi dia adalah seorang yang bijaksana, tidak mudah begitu saja terpengaruh
keterangan sepihak. Dia percaya bahwa Listyarini tidak mungkin berbohong, akan
tetapi jahanam yang bernama Nismara itu mungkin sekali berbohong dan
menjatuhkan fitnah untuk mengadu domba.
"Hemm, lalu bagaimana?"
tanyanya.
"Pada saat yang amat gawat itu,
muncullah Kakang Tejoranu ini..... eh, nama aselinya adalah Te....
Te....."
Listyarini merasa sukar sekali
mengingat nama aseli Ki Tejoranu. Melihat ini Ki Tejoranu menyambung.
"Nama aseli hamba adalah The
Jiauw Lan, Gusti Patih."
Narotama mengangguk-angguk. Tahulah
dia kini bahwa laki-laki itu adalah seorang bangsa Cina dari sebuah negeri yang
jauh di seberang lautan.
"Teruskan ceritamu, diajeng."
"Saya mengubah nama yang sukar
disebut itu menjadi Tejoranu, kakangmas. Dia muncul pada saat yang gawat itu
dan dia membebaskan saya dari kekejian Nismara. Jahanam itu melarikan diri,
akan tetapi dia datang lagi bersama dua orang kawannya dan mereka hendak
merampas saya lalu mengeroyok Kakang Tejo. Saya menyebutnya kakang karena dia
menganggap saya sebagai adik sendiri, kakangmas. Kakang Tejo berhasil membunuh
Nismara dan dua orang penjahat yang lain melarikan diri."
"Hemm, sayang si keparat
Nismara itu telah tewas sehingga dia tidak dapat menjadi saksi apakah benar
yang menyuruhnya berbuat jahat itu adalah diajeng Lasmini."
"Begitulah menurut pengakuan
Nismara, kakangmas. Kakang Tejo ini adalah penolong saya. Kalau tidak ada dia,
tentu saya sudah..... mati, tak sudi saya hidup lebih lama lagi kalau saya
dijamah pria lain!" Teringat akan dakwaan Lasmini yang kotor dan menghina
tadi, Listyarini tak dapat menahan keluarnya air matanya lagi, namun ia menahan
tangisnya.
"Akan tetapi, kenapa dia
sekarang terluka separah ini?" tanya Narotama, menahan kerinduannya kepada
isterinya.
Sebetulnya sudah sejak tadi dia
ingin merangkul dan menghibur isterinya, menyatakan kegembiraan hatinya
mendapatkan isterinya dalam keadaan selamat. Namun keadaan dan dakwaan Lasmini
tadi membuat dia terpaksa menahan perasaannya.
"Saya sendiri tidak mengerti
urusannya, kakangmas. Ada muncul tiga orang asing, Kakang Tejo dan mereka
bicara dalam bahasa yang tidak kumengerti, lalu kakang Tejo dikeroyok dua di
antara mereka, kemudian yang seorang lagi memukulnya dan kakang Tejo masih
tetap melindungi saya dari tiga orang itu. Setelah mereka pergi, kakang Tejo
lalu roboh pingsan. Dia sendiri yang dapat menceritakan apa yang sebenarnya
terjadi."
"Ki Tejoranu, coba ceritakan
apa yang telah terjadi dengan dirimu. Aku tahu bahwa engkau adalah seorang Cina
dan bagaimana engkau dapat berada di sini dan apa pula urusanmu dengan tiga
orang yang membuatmu terluka ini."
Dengan suaranya yang lemah lirih
karena menahan rasa nyeri di dadanya, dan ucapannya yang pelo, Ki Tejoranu lalu
bercerita tentang dirinya yang tersiksa melarikan diri dari Negeri Cina karena
membunuh putera seorang bangsawan yang membunuh kedua orang tuanya. Betapa
kemudian bangsawan itu menyuruh gurunya sendiri dan dua orang paman gurunya
untuk mengejarnya.
"Gulu dan paman-gulu menemukan
saya di sini. Saya melawan akan tetapi kalah dan gulu memukul saya..... pukulan
ini akan melenyapkan semua kekuatan saya..... aughhh ....." Ki Tejoranu
yang memaksa dirinya bercerita banyak itu terkulai dan roboh pingsan lagi.
Melihat ini, Listyarini bangkit berdiri dan menubruk kedua kaki suaminya.
"Duh, kakangmas. Ampunkan
saya..... saya bersumpah tidak ada hubungan kotor antara saya dan kakang Tejo.
Dia..... dia seorang yang baik budi dan sopan, kakangmas. Saya berhutang budi,
berhutang nyawa padanya. Percayalah, kakangmas dan mohon paduka suka
menolongnya untuk membalas budi kebaikannya kepada saya ....."
Narotama tidak dapat menahan rasa
cinta kasihnya yang sudah menggelora sejak tadi. Dia mengangkat tubuh isterinya
itu, mendekap dan menciuminya.
"Diajeng ..... diajeng
Listyarini. Dijauhkan Sang Hyang Widhi kiranya aku dari perasaan cemburu dan
tidak percaya kepadamu. Kasihan engkau telah menderita sengsara selama beberapa
hari ini karena kealpaanku. Akan tetapi Hyang Widhi agaknya telah memunculkan
orang ini untuk menolongmu. Sekarang aku mengerti mengapa engkau begitu
menyayangnya seperti seorang kakak sendiri. Dia memang patut mendapatkan kasih
sayangmu, diajeng."
"Kakang Tejo seorang yang sengsara
hidupnya, kakangmas. Kehilangan orang tua yang terbunuh, kehilangan tunangan
yang dirampas orang, kehilangan adik kandung yang hilang tak diketahui di mana.
Setelah dia tahu bahwa saya adalah isteri paduka dan telah mengandung, dia lalu
menganggap saya sebagai pengganti adiknya yang hilang itu....." Listyarini
membela Ki Tejoranu sambil menangis dalam rangkulan suaminya, hatinya penuh
kebahagiaan karena suaminya tidak termakan oleh hasutan Lasmini tadi.
"Minggirlah dulu, diajeng. Biar
akan kucoba untuk menyembuhkan dia."
Mendengar ucapan ini, Listyarini
demikian gembiranya sehingga ia mencium pipi suaminya dengan mesra sebelum
melepaskan rangkulannya dan ia lalu duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari
situ untuk menonton suaminya mengobati Ki Tejoranu. Narotama berjongkok dan
memeriksa tubuh Ki Tejoranu. Luka kedua lengannya itu tidak berarti, akan
tetapi ketika dia membuka baju memeriksa dada, dia terkejut bukan main. Ada
bekas tapak lima jari tangan di dada itu yang kulitnya seperti terbakar dan dada
itu terasa panas bukan main. Setelah memeriksa sejenak, tahulah Narotama bahwa
Ki Tejooranu telah terkena aji pukulan yang amat ampuh, pukulan yang mengandung
hawa panas seperti api. Narotama mengambil tongkat pusaka Tunggul Manik yang
tergantung di pinggangnya. Dia memang sengaja membawa tongkat pusaka ini untuk
berjaga-jaga kalau kalau Listyarini ditemukan dalam keadaan keracunan seperti
tempo hari. Dan ternyata kini tongkat itu memang dibutuhkan, walaupun bukan
untuk mengobati Listyarini. Khasiat tongkat Tunggul Manik adalah terutama untuk
menyedot keluar segala macam racun dari tubuh manusia. Narotama menggunakan
tongkat itu, menggosok-gosokkan ke dada Ki Tejoranu. Perlahan-lahan, tanda
tapak lima jari menghitam di dada yang kulitnya kekuning-kuningan itu
perlahan-lahan hilang, tinggal hawa panas itu saja yang masih terasa. Ki Patih
Narotama yang sakti mandraguna lalu menempelkan telapak tangan kirinya ke dada
Ki Tejoranu, menggunakan kekuatan saktinya untuk mendorong dan mengusir hawa
panas itu dari dalam tubuh Ki Tejoranu. Beberapa saat kemudian, hawa panas
itupun terusir keluar dari dalam dada Ki Tejoranu dan dia mengeluh perlahan
lalu membuka kedua matanya. Ketika dia melihat betapa Ki Patih Narotama berada
di dekatnya dan menempelkan tangan yang terasa dingin sejuk di dadanya, dan
mendapat kenyataan betapa luka di dalam dadanya sembuh sama sekali, dia menjadi
kagum bukan main.
"Thian ..... (Ya Tuhan), paduka
telah ..... menyembuhkan hamba ....." Ki Tejoranu segera bangkit duduk dan
berlutut sambil menyembah ke arah ki patih.
"Paduka sungguh seolang yang
sakti mandlaguna dapat menyembuhkan akibat pukulan Tangan Lacun Api! Paduka
telah menyelamatkan nyawa hamba"
Narotama tersenyum, bangkit berdiri
dan mengangkat kedua lengan Ki Tejoranu agar bangkit berdiri pula. Listyarini
merasa girang sekali, la menghampiri dan memegang tangan Ki Tejoranu.
"Ah, syukur engkau telah dapat
disembuhkan, kakang Tejo .....!"
Ki Tejoranu dengan halus
merenggutkan tangannya dan melangkah ke belakang, lalu membungkuk dengan hormat
kepada Listyarini.
"Gusti Puteli, seolang sepelti
hamba tidak pantas beldekatan dengan paduka. Maafkan hamba yang selama ini
kulang holmat kepada paduka ....." Kata-kata pelo itu diucapkan dengan
nada hormat, namun dalam suaranya terkandung kepedihan hati.
"Ah Kakang Tejo, jangan begitu.
Engkau bagiku tetap Kakang Tejoranu yang baik hati dan aku tetap Lini
bagimu!" kata Listyarini, kini mendekati suaminya dan memegang tangan
suaminya, seolah minta dukungan pendapat suaminya.
Ki Patih Narotama tersenyum.
"Garwaku (isteriku) benar, Ki
Tejoranu, manusia hanya dibagi menjadi dua golongan, yaitu manusia yang berbudi
baik penyembah Sang Hyang Widhi dan manusia yang berwatak jahat penyembah
setan. Harta, kedudukan, kekuatan dan kepandaian tidak masuk hitungan. Engkau
adalah seorang manusia berbudi baik, sudah sepatutnya kalau garwaku menganggap
engkau seorang kakak."
"Hayaaa, Gusti Patih, paduka
telah menyelamatkan nyawa hamba, hamba menghatulkan telima kasih ....."
"Ki Tejoranu, engkaupun telah
menyelamatkan nyawa garwaku, semua pertolongan itu datang dari kekuasaan Sang
Hyang Tunggal (Yang Maha Esa) melalui engkau dan aku, maka marilah kita
menghaturkan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi saja."
Ki Tejoranu membungkuk dan
menyembah.
"Paduka amat bijaksana, gusti."
"Hanya sayang sekali engkau
telah terlanjur membunuh Nismara, Ki Tejoranu. Andaikata tidak, tentu dia dapat
menceritakan yang sebenarnya mengapa dia melakukan perbuatan terkutuk menculik
diajeng Listyarini dan membawanya sampai di sini."
"Kakangmas, penjahat itu sudah
mengaku bahwa dia melakukan itu atas perintah Lasmini." kata Listyarini.
Ki Patih Narotama tersenyum.
"Itu hanya pengakuannya,
diajeng, dan kini dia tidak ada sehingga aku tidak dapat memaksa dia mengaku
terus terang. Tidak ada bukti dan saksinya bahwa diajeng Lasmini yang
menyuruhnya. Tidak adil kalau kita mengambil kesimpulan bahwa pengakuan
penjahat itu benar. Bisa saja dia sengaja melempar fitnah untuk mengadu domba.
Ketahuilah bahwa sejak engkau hilang, diajeng Lasmini berusaha mati-matian
untuk mencarimu."
Mendengar ucapan suaminya,
Listyarini menghela napas panjang. Ia sendiri sudah yakin bahwa keterangan atau
pengakuan Nismara itu benar.
"Hamba serahkan kepada
kebijaksanaan paduka, kakangmas."
Mendengar nada kecewa dalam suara isterinya,
Narotama merangkulnya. Ki Tejoranu juga melihat suasana itu dan dia berkata,
"Gusti Puteli, apa yang
dikatakan Gusti Patih itu bijaksana dan benal sekali. Menuduh olang tanpa bukti
dan saksi itu namanya fitnah."
"Ki Tejoranu, kalau engkau mau,
mari ikut dengan kami ke Kahuripan dan aku akan mintakan pangkat bagimu kepada
Sang Prabu. Orang seperti engkau ini dibutuhkan kerajaan kami." kata
Narotama sambil menatap wajah yang kuning sekali itu. Wajah itu kini menjadi
kuning dan tidak wajar, semua itu merupakan akibat dari luka oleh pukulan
Hwe-tokcia (Tangan Racun Api) tadi.
Ki Tejoranu memberi hormat.
"Telima kasih, gusti. Akan
tetapi hamba lebih suka melantau dan bebas dali semua ikatan."
Ki Patih Narotama tentu saja tidak
dapat memaksa dan dia memaklumi pendirian orang itu. Dia tahu Ki Tejoranu
adalah seorang yang berjiwa petualang. Dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa
lagi, bahkan untuk kembali ke kampong halamannya di tanah airnya sana dia tidak
berani. Dia sudah kehilangan segala-galanya dan hal ini membuatnya putus asa
dan tidak tertarik lagi akan segala urusan duniawi. Dia hanya ingin menyendiri
di tempat-tempat yang sunyi seperti di Telaga Sarangan itu. Diam diam Narotama
merasa iba kepada Ki Tejoranu. Kepada orang yang tertekan jiwanya seperti ini,
dia tidak dapat menawarkan apa-apa. Maka, diapun berpamit dan ketika berpamit,
Listyarini memandang Ki Tejoranu dengan kedua mata basah.
"Engkau tidak mau ikut ke
Kahuripan, Kakang Tejo? Kalau begitu, selamat tinggal dan jaga dirimu
baik-baik, kakang. Sebaiknya, engkau pindah saja ke tempat lain, jangan tetap
tinggal di sini karena kalau orang-orang jahat itu datang lagi....."
Ki Tejoranu tersenyum mengangguk.
"jangan khawatil, Gusti Puteli,
saya akan pelgi melantau. Selamat jalan dan semoga paduka hidup
belbahagia."
Suami isteri itu pergi meninggalkan
telaga, kemudian berboncengan kuda dan perlahan-lahan menuruni lereng Gunung
Lawu. Semua punggawa kepatihan menyambut kembalinya Listyarini dengan gembira
karena lenyapnya sang puteri itu sungguh membuat semua punggawa menjadi
gelisah. Memang sebelum Sukardi datang membawa cincin Sang Puteri dan
mengabarkan bahwa Listyarini dalam keadaan selamat di Telaga Sarangan, Narotama
sudah menduga bahwa Nismara tentu tersangkut dengan peristiwa hilangnya isterinya
itu. Hal ini dapat diketahui karena Nismara juga tidak dapat ditemukan jejaknya
dan tak seorangpun mengetahui ke mana perginya. Namun, Ki Patih Narotama tidak
menghukum keluarga Nismara yang terdiri dari ibunya dan dua orang adiknya
karena mereka dianggap sama sekali tidak tahu menahu akan perbuatan Nirmara
yang kini telah tewas itu. Kembalinya Listyarini membuat semua orang gembira,
kecuali Narotama sendiri yang terkejut melihat bahwa Lasmini tidak berada di
kepatihan! Beberapa orang dayangnya hanya mengatakan bahwa Lasmini yang pergi
bersama Ki Patih Narotama itu kembali seorang diri beberapa hari kemudian akan
tetapi pada hari itu juga lalu pergi lagi. Narotama memanggil Sarti, wanita
berwajah buruk bertubuh tinggi besar yang menjadi pelayan pribadi Lasmini.
"Sarti, ceritakan ke mana gusti
puterimu pergi dan kenapa pergi. Engkau pasti tahu karena engkau adalah pelayan
pribadinya." kata Ki Patih Narotama.
Sarti menyembah lalu menjawab.
"Kamnggihan (benar), gusti,
hamba adalah pelayan pribadi gusti puteri. Akan tetapi gusti puteri hanya
bicara sedikit paada hamba. Sekembalinya seorang diri gusti puteri hanya muwun
(menangis) dan berkata bahwa tidak ada gunanya beliau tinggal di sini karena
sudah tidak dipercaya lagi."
Patih Narotama mengerutkan alisnya yang
hitam tebal berhentak golok itu.
"Hemm, lalu ke mana
perginya?" Dia bertanya dan maklum bahwa Lasmini agaknya merasa sakit hati
dengan peristiwa di Telaga Sarangan itu. Ia merasa tidak dipercaya, bahkan
dituduh menyuruh Nismara membunuh Listyarini!
"beliau hanya mengatakan bahwa
beliau hendak pulang. Entah yang dimaksudkan pulang ke Bukit Junggringslaka
tempat tinggal Gusti Nagakumala, ataukah ke istana Parang Siluman."
"Apa yang kauketahui
selanjutnya?"
"Hanya itulah yang hmba
ketahui, gusti."
No comments:
Post a Comment