Keduanya adalah ahli-ahli pedang yang mahir, maka serangan mereka itupun dahsyat, cepat dan kuat sekali datangnya. Ki Tejoranu menggerakkan sepasang goloknya. Segera terjadi perkelahian yang amat seru. Bayangan tubuh ketiga orang itu berkelebatan di antara dua gulungan sinar golok dan dua gulungan sinar pedang. Terdengar suara berdentang berkali-kali dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata.
Listyarini yang menonton perkelahian
itu, terbelalak dengan hati penuh ketegangan. Karena mereka bicara dalam bahasa
asing, ia tidak mengerti persoalannya akan tetapi dapat menduga bahwa ini tentu
ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di Negeri Cina seperti pernah
diceritakan Ki Tejoranu kepadanya. Ia menjadi khawatir sekali, la tidak tahu
bagaimana keadaan perkelahian itu, apakah K i Tejoranu terdesak ataukah
sebaliknya karena mengikuti bayangan mereka saja sudah amat sukar. Yang tampak
hanya bayangan berkelebatan, sinar bergulung-gulung, percikan bunga api dan
bentakan-bentakan mereka. Tentu saja di dalam hatinya, Listyarini berdoa agar
Ki Tejoranu yang sudah diakuinya sebagai kakaknya itu, akan dapat menang dalam
pertandingan itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa dua orang yang bertanding
melawan Ki Tejoranu adalah paman guru Ki Tejoranu sendiri, sedangkan kakek
berpakaian serba putih itu, yang kini berdiri menonton dengan sikap tenang dan
wajah dingin, malah guru Ki Tejoranu. Kalau ia mengetahui hal ini, tentu saja
hati Listyarini akan merasa gelisah sekali. Namun, kenyataannya ternyata jauh
berbeda dengan harapannya, walaupun ini terjadi di luar pengetahuannya. Kalau
dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Ki Tejoranu sekarang sudah banyak maju
sehingga dia mampu menyamai dan menandingi tingkat kepandaian seorang paman
gurunya. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang paman gurunya, sungguh
terlalu berat baginya. Dia berusaha keras melawan mati-matian, namun karena
memang berat sebelah, perlahan lahan dia mulai terdesak dan terkurung ketat
oleh sinar dua pedang yang menyambar-nyambar dan bergulung-gulung itu.
Setelah Ki Tejoranu berada dalam
titik yang paling lemah terdesak, dua orang itu membentak nyaring dan tahu-tahu
ujung pedang mereka telah mengenai kedua lengan Ki Tejoranu. Dia mengeluh lirih
dan kedua goloknya terlepas dari pegangan, terpental dan pada saat itu, kedua
batang pedang sudah menempel di lehernya!
"Tahan....!" Seru Pek
Kiam-sian kepada dua orang sutenya (adik seperguruannya).
Dua orang itu mundur dan Peki
Kiam-sian maju menghampiri Ki Tejoranu.
"Sekarang terimalah hukumanmu!
Ciaaaattt .....!" Kakek berpakaian putih itu memukul dengan telapak
tangannya ke arah dada Ki Tejoranu yang tidak dapat menghindar lagi.
"Wuuuttt ..... desss
.....I" Tubuh Ki Tejoranu terjengkang roboh. Akan tetapi dia teringat akan
Listyarini yang sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Dia cepat bangkit dan
mundur, mengembangkan kedua lengannya seperti melindungi Listyarini yang kini
berada di belakangnya. Dengan wajah berubah pucat sekali dan napasnya
terengah-engah, kedua lengannya berdarah karena terluka dua pedang kedua orang
paman gurunya tadi, dia berkata.
"Harap kalian jangan mengganggu
wanita ini! Ia tidak tahu apa-apa, ia tidak bersalah apa-apa. Jangan ganggu
ia!!"
Melihat sikap Ki Tejoranu seperti
menantang itu, Gan Hok dan Giam Lun menjadi penasaran dan mereka berdua
menghampiri dengan sikap mengancam.
"Cukup, sute, mundurlah kalian.
Dia sudah terkena Hwetok-ciang (Tangan Racun Api), dalam waktu satu dua hari
semua kekuatannya akan musnah dan itu merupakan hukuman yang tepat
baginya." kata Peki Kiam-sian.
"Akan tetapi, suheng. Wanita
itu, ia tentu sekutunya....." kata Gan Hok.
"Jangan, toa-susiok (paman guru
tertua), jangan ganggu Lini! Ia tidak bersalah apa-apa. Kalau diganggu, aku
akan melawan sampai mati!" kata Ki Tejoranu sambil mengembangkan kedua
tangan menahan rasa nyeri di dadanya yang membuat dadanya sesak, siap untuk
membela Listyarini.
Wanita itu tidak mengerti ucapan
mereka, akan tetapi dari sikap Ki Tejoranu ia tahu laki-laki yang diaku sebagai
kakaknya itu agaknya mati-matian hendak membelanya.
"Sudah cukup, sute. Mari kita
pergi." kata Peki Kiam-sian dan dua orang adik seperguruannya tidak berani
membantah.
Ketiganya lalu berlompatan seperti
terbang cepatnya, meninggalkan tempat itu. Setelah tiga orang itu tak tampak
lagi bayangan mereka, Ki Tejoranu juga tidak kuat lagi menahan rasa nyeri yang
menusuk-nusuk jantungnya dan diapun mengeluh panjang lalu tubuhnya terkulai dan
jatuh pingsan di depan kaki Listyarini yang tadi berdiri di belakangnya, dan
dilindunginya. Melihat para musuhnya sudah pergi dan penolongnya roboh dan
tidak bergerak lagi, telentang dengan muka pucat sekali dan mata terpejam,
Listyarini lalu berlutut dan menggoyang-goyangkan pundak Ki Tejoranu.
"Tejo! Tejo .....I Ahh, Tejo,
sadarlah .....!" Listyarini merasa bingung dan takut. Ia melihat wajah itu
pucat seperti mayat dan kedua lengan itupun terluka bacokan mengeluarkan darah.
Ia merasa takut sekali kalau-kalau Ki Tejoranu mati! Padahal di situ hanya ada
ia dan Ki Tejoranu. la menoleh ke kanan kiri. Sunyi dan menakutkan sekali pada
saat seperti itu. la seolah melihat bayangan Nismara yang kembali dari kematian
untuk membalas dendam! Ia ingin menjerit, ingin menangis, dan kembali
diguncangnya kedua pundak Ki Tejoranu. Kemudian ia teringat. Luka di kedua
lengan itu! Harus dicuci bersih. Ia teringat betapa suaminya, Ki Patih Narotama
pernah memberitahu bahwa kalau ada yang terluka, yang lebih dulu harus dilakukan
adalah mencuci luka itu sampai bersih, lalu membalutnya dengan kain bersih
untuk menghentikan keluarnya darah. Seperti mendapat tenaga baru, Listyarini
lalu mencari daun lompong yang lebar untuk mengambil air di telaga, lalu dengan
hati-hati kembali kepada Ki Tejoranu agar air di daun lompong tidak tumpah dan
dengan air itu ia mulai mencuci kedua lengan yang terluka. Kemudian, ia
mengambil sehelai kain yang ia pergunakan sebagai saputangan, mencoba untuk
merobek kain itu menjadi dua. Akan tetapi ia tidak kuat melakukannya, maka ia
lalu mempergunakan giginya yang rapi dan kuat. Digigitnya kain itu lalu
dirobeknya menjadi dua dan dibalutnya luka di lengan itu. Ki Tejoranu mengeluh
lirih. Timbul harapan dalam hati Listyarini. Dia tidak mati, pikirnya dan diguncangnya
perlahan kedua pundak Ki Tejaranu.
"Tejo....., Tejo..... sadarlah,
Tejo.....!" ia memanggil.
Ki Tejoranu membuka kedua matanya
yang sipit itu dan memandang wajah Listyarini. Dengan perlahan dia mengangkat
kedua tangannya, diusapnya kedua pipi Listyarini dengan kedua tangannya, lembut
sekali dan dia berkata dalam bahasa Cina,
"Mei Hwa..... Mei Hwa..... aku
cinta padamu, jangan tinggalkan aku, Mei Hwa".
Tentu saja Listyarini tidak mengerti
maksud ucapan itu, akan tetapi mendengar disebutnya nama Mei Hwa berkali kali,
ia dapat menduga bahwa agaknya Ki Tejoranu menduga ia Mei Hwa, tunangan
laki-laki itu yang direbut orang, ia menjadi terharu sekali, dapat membayangkan
betapa duka nestapa membuat pria ini hidup sengsara lahir batin. Tak
tertahankan lagi iapun mencucurkan air mata, menangis karena merasa kasihan.
"Tejo, kakang Tejo ..... ini
aku, Listyarini ..... aku, Lini ....."
Mendengar ucapan bahasa daerah ini,
agaknya pikiran Ki Tejoranu yang belum sadar betul masih terbawa hanyut oleh
kenangannya tentang kekasih atau tunangannya dulu, maka diapun berkata lirih.
“Jangan tinggalkan aku .....
jangan.... "
Listyarini memegang kedua tangan
laki-laki yang dianggapnya seperti kakaknya itu, menggenggamnya dan dengan air
mata menetes-netes ia berkata.
"Tidak, kakang Tejo, aku tidak
akan neninggalkanmu sebelum ada bantuan datang ....."
Listyarini yang masih menggenggam
kedua tangan Ki Tejoranu yang baru setengah sadar itu sama sekali tidak tahu
bahwa saat itu ada dua pasang mata mengamatinya dari jarak yang tidak berapa
jauh. Kedua orang itu bukan lain adalah..... Ki Patih Narotama dan Lasmini!
Seperti kita ketahui, Ki Tejoranu telah menyuruh seorang penduduk di sebuah
dusun kaki Gunung Lawu sebelah timur yang bernama Sukardi untuk pergi menghadap
Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan dan memberitahukan bahwa Sang Puteri
Listyarini berada di Telaga Sarangan.
Sukardi menunggang kuda dan agar
dipercaya oleh Ki Patih Narotama, Sukardi membawa sebuah cincin yang biasa
dipakai oleh Listyarini. Setelah Sukardi berhasil menghadap Ki Patih Narotama
dan menyampaikan kabar itu, dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Ki Patih
Narotama. Akan tetapi sebaliknya Lasmini yang ikut mendengarkan ketika Sukardi
membawa berita itu, diam-diam merasa terkejut, kecewa dan juga gelisah sekali,
la mencoba untuk memompa keterangan dari Sukardi, akan tetapi Sukardi yang
memang tidak tahu menahu akan halnya Puteri Listyarini dan hanya membawa
perintah itu, tidak dapat menceritakan apa-apa. Hal ini membuat Lasmini menjadi
semakin gelisah dan menduga-duga apa yang telah dilakukan Nismara dan apa yang
telah terjadi. Bagaimana mungin Listyarini yang telah dilarikan Nismara dengan
tujuan ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman, tiba-tiba kini bisa
berada di Telaga Sarangan di Gunung Lawu?
Ki Patih Narotama, ditemani Lasmini,
segera menunggang kuda dan bersama Sukardi mereka berangkat ke Gunung Lawu.
Karena kuda tunggangan kedua orang bangsawan ini jauh lebih baik daripada yang
ditunggangi Sukardi, apalagi karena keduanya juga lebih tangkas menunggang
kuda, maka ketika tiba di jalan tanjakan yang berat, Lasmini dan Narotama dapat
lebih dulu tiba di telaga dan mereka dapat melihat ketika Listyarini menangisi
Ki Tejaranu. Melihat pemandangan ini, sejenak Narotama tercengang dan hatinya
mengandung penuh pertanyaan. Akan tetapi Lasmini sudah menjebikan bibirnya yang
mungil dan merah, berkata lirih.
"Sungguh memalukan sekali.....
tidak pantas..... melanggar kesusilaan..... tak pernah kubayangkan ia dapat
melakukan perbuatan kotor dan hina ini....."
Ki Patih Narotama yang sedang
bimbang ragu melihat pemandangan itu, tidak tahan mendengar bisikan Lasmini
yang seolah api yang menyulut dan membakar hatinya. Maka dia lalu memanggil
isterinya dengan nada suara mengandung teguran.
"Diajeng Listyarini....."
Listyarini yang masih memegang kedua
tangan Ki Tejoranu itu terkejut dan menoleh, akan tetapi ia tidak melepaskan
pegangannya karena memang tidak ada perasaan-bersalah sedikitpun di hatinya.
Akan tetapi melihat Lasmini dating bersama suaminya, ia berseru, suaranya
mengandung tangis, sisa yang tadi dan juga karena girang dan terharu melihat
suaminya sudah datang menjemputnya, bercampur kemarahan melihat Lasmini.
"Kakangmas Narotama!
Berhati-hatilah dengan wanita itu! Yang menculikku adalah Nismara dan yang
menyuruhnya adalah Lasmini itu!" Listyarini menudingkan telunjuknya kearah
muka Lasmini.
Lasmini membentak marah.
"Listyarini, jangan asal
membuka mulut kau! Mana buktinya, mana saksinya kalau betul Nismara yang
menculikmu atas suruhanku. Mana, suruh Nismara menghadap di sini dan mengaku!
Huh, engkau melempar fitnah setelah tertangkap basah, ya? Jelas bahwa engkau
telah melarikan diri dengan laki-laki itu, engkau melarikan diri bersama
kekasihmu itu dan kami melihat sendiri betapa engkau berkasih-kasihan
dengannya. Laki-laki jahanam itu harus mampus, mencemarkan nama baik Ki Patih
Narotama yang terhormat dan mulia! Dan engkau juga isteri tidak setia dan
nyeleweng, tidak pantas dibiarkan hidup. Haiiiiitttt.....!!"
Lasmini sudah melangkah maju dan
mendorongkan kedua tangannya ke arah listyarini dan Ki Tejoranu! Ia tidak mau
tanggung-tanggung dalam penyerangannya karena ia mengambil keputusan untuk
sekali pukul membunuh Listyarini dan laki-laki itu. Mumpung ada kesempatan dan
ada alasan, pikirnya. Ki Patih Narotama pasti tidak dapat mengampuni isterinya
yang menyeleweng, berjina dengan laki-laki lain!
"Siuuuuttt ..... tappp
.....!" Tubuh Lasmini tergetar, pukulannya membalik sehingga ia agak
menggigil sedikit. Aji pukulannya tadi memang dahsyat sekali, berhawa dingin
karena itu adalah Aji Ampak-ampak yang dapat membuat darah dalam tubuh lawan
membeku kalau terlanda pukulan ini. Akan tetapi sebelum pukulan itu mengenai
sasaran, dari samping Narotama menangkis dengan dorongan tangan dan tiupan
angin dahsyat menangkis pukulan itu tadi.
"Kakangmas Narotama! Mengapa
paduka menangkis pukulanku dan melindungi perempuan yang menyeleweng itu? Jelas
bahwa ia menjatuhkan fitnah atas diriku dan ia telah melakukan penyelewengan.
Apakah semua yang tampak ini bukan merupakan bukti? Dan paduka masih
melindunginya! Mustahil paduka lebih percaya ia daripada aku!"
"Tenang dan bersabarlah,
diajeng. Kalau ada persoalan sebaiknya dibicarakan dulu." kata Narotama
yang menahan kesabarannya walaupun hatinya juga terbakar oleh pemandangan yang
menimbulkan cemburu itu.
"Paduka memang selalu
melindungi Listyarini dan menyudutkan saya! Lebih baik aku pulang saja!"
Setelah berkata demikian, Lasmini cepat memutar tubuhnya dan lari menuruni
lereng, lalu melompat ke atas punggung kudanya dan dilarikan cepat meninggalkan
tempat itu. Narotama menghela napas panjang lalu sekali melompat dia sudah tiba
di dekat Listyarini yang masih berlutut dekat tubuh Ki Tejoranu yang belum
sadar betul.
"Kakangmas, agaknya paduka juga
meragukan kesetiaan saya....." Listyarini menangis lirih.
"Lini..... kenapa engkau
menangis.....?" tanya Ki Tejoranu dengan suara lirih, lalu ia melihat Ki
Patih Narotama, maka dengan pandangan mata heran dia bertanya,
".....dan siapakah kisanak ini,
Lini .....?"
"Kakang Tejo, ini adalah
junjunganku, suamiku, Gusti Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan." kata
Listyarini sambil melepaskan tangan Ki Tejoranu, akan tetapi tetap saja
berlutut. Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit duduk dan hendak berdiri, akan
tetapi dia jatuh terduduk lagi lalu bersila.
"Gusti Patih....., hamba
Teiolanu menghaturkan sembah."
Ki Patih Narotama dapat melihat
dengan jelas bahwa orang yang bicaranya pelo ini bukan orang pribumi dan sedang
dalam keadaan luka dalam yang parah dan keracunan.
"Duduk sajalah, andika terluka.
Diajeng Listyarini, aku tidak akan membiarkan hatiku terseret oleh prasangka
buruk dan cemburu, asal engkau cepat menceritakan apa artinya semua ini?"
"Aduh, kakangmas, biarlah para
dewata mengutuk hamba sekiranya saya berdusta kepada paduka. Ketika itu, saya
sedang duduk seorang diri di pondok dalam taman seperti biasa, setelah saya
memotongi bunga yang sudah layu dengan tang pisau dapur. Tiba-tiba muncul
Nismara dan entah mengapa dia berubah seperti iblis. Dia hendak membawa saya
pergi. Saya menyerangnya dengan pisau dapur, akan tetapi dia dapat meringkus
saya dan memanggul saya lalu membawa saya lari."
No comments:
Post a Comment