Bagian 46


Keduanya adalah ahli-ahli pedang yang mahir, maka serangan mereka itupun dahsyat, cepat dan kuat sekali datangnya. Ki Tejoranu menggerakkan sepasang goloknya. Segera terjadi perkelahian yang amat seru. Bayangan tubuh ketiga orang itu berkelebatan di antara dua gulungan sinar golok dan dua gulungan sinar pedang. Terdengar suara berdentang berkali-kali dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata.

Listyarini yang menonton perkelahian itu, terbelalak dengan hati penuh ketegangan. Karena mereka bicara dalam bahasa asing, ia tidak mengerti persoalannya akan tetapi dapat menduga bahwa ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di Negeri Cina seperti pernah diceritakan Ki Tejoranu kepadanya. Ia menjadi khawatir sekali, la tidak tahu bagaimana keadaan perkelahian itu, apakah K i Tejoranu terdesak ataukah sebaliknya karena mengikuti bayangan mereka saja sudah amat sukar. Yang tampak hanya bayangan berkelebatan, sinar bergulung-gulung, percikan bunga api dan bentakan-bentakan mereka. Tentu saja di dalam hatinya, Listyarini berdoa agar Ki Tejoranu yang sudah diakuinya sebagai kakaknya itu, akan dapat menang dalam pertandingan itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa dua orang yang bertanding melawan Ki Tejoranu adalah paman guru Ki Tejoranu sendiri, sedangkan kakek berpakaian serba putih itu, yang kini berdiri menonton dengan sikap tenang dan wajah dingin, malah guru Ki Tejoranu. Kalau ia mengetahui hal ini, tentu saja hati Listyarini akan merasa gelisah sekali. Namun, kenyataannya ternyata jauh berbeda dengan harapannya, walaupun ini terjadi di luar pengetahuannya. Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Ki Tejoranu sekarang sudah banyak maju sehingga dia mampu menyamai dan menandingi tingkat kepandaian seorang paman gurunya. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang paman gurunya, sungguh terlalu berat baginya. Dia berusaha keras melawan mati-matian, namun karena memang berat sebelah, perlahan lahan dia mulai terdesak dan terkurung ketat oleh sinar dua pedang yang menyambar-nyambar dan bergulung-gulung itu.

Setelah Ki Tejoranu berada dalam titik yang paling lemah terdesak, dua orang itu membentak nyaring dan tahu-tahu ujung pedang mereka telah mengenai kedua lengan Ki Tejoranu. Dia mengeluh lirih dan kedua goloknya terlepas dari pegangan, terpental dan pada saat itu, kedua batang pedang  sudah menempel di lehernya!
"Tahan....!" Seru Pek Kiam-sian kepada dua orang sutenya (adik seperguruannya).
Dua orang itu mundur dan Peki Kiam-sian maju menghampiri Ki Tejoranu.
"Sekarang terimalah hukumanmu! Ciaaaattt .....!" Kakek berpakaian putih itu memukul dengan telapak tangannya ke arah dada Ki Tejoranu yang tidak dapat menghindar lagi.
"Wuuuttt ..... desss .....I" Tubuh Ki Tejoranu terjengkang roboh. Akan tetapi dia teringat akan Listyarini yang sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Dia cepat bangkit dan mundur, mengembangkan kedua lengannya seperti melindungi Listyarini yang kini berada di belakangnya. Dengan wajah berubah pucat sekali dan napasnya terengah-engah, kedua lengannya berdarah karena terluka dua pedang kedua orang paman gurunya tadi, dia berkata.
"Harap kalian jangan mengganggu wanita ini! Ia tidak tahu apa-apa, ia tidak bersalah apa-apa. Jangan ganggu ia!!"
Melihat sikap Ki Tejoranu seperti menantang itu, Gan Hok dan Giam Lun menjadi penasaran dan mereka berdua menghampiri dengan sikap mengancam.
"Cukup, sute, mundurlah kalian. Dia sudah terkena Hwetok-ciang (Tangan Racun Api), dalam waktu satu dua hari semua kekuatannya akan musnah dan itu merupakan hukuman yang tepat baginya." kata Peki Kiam-sian.
"Akan tetapi, suheng. Wanita itu, ia tentu sekutunya....." kata Gan Hok.
"Jangan, toa-susiok (paman guru tertua), jangan ganggu Lini! Ia tidak bersalah apa-apa. Kalau diganggu, aku akan melawan sampai mati!" kata Ki Tejoranu sambil mengembangkan kedua tangan menahan rasa nyeri di dadanya yang membuat dadanya sesak, siap untuk membela Listyarini.
Wanita itu tidak mengerti ucapan mereka, akan tetapi dari sikap Ki Tejoranu ia tahu laki-laki yang diaku sebagai kakaknya itu agaknya mati-matian hendak membelanya.
"Sudah cukup, sute. Mari kita pergi." kata Peki Kiam-sian dan dua orang adik seperguruannya tidak berani membantah.

Ketiganya lalu berlompatan seperti terbang cepatnya, meninggalkan tempat itu. Setelah tiga orang itu tak tampak lagi bayangan mereka, Ki Tejoranu juga tidak kuat lagi menahan rasa nyeri yang menusuk-nusuk jantungnya dan diapun mengeluh panjang lalu tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan di depan kaki Listyarini yang tadi berdiri di belakangnya, dan dilindunginya. Melihat para musuhnya sudah pergi dan penolongnya roboh dan tidak bergerak lagi, telentang dengan muka pucat sekali dan mata terpejam, Listyarini lalu berlutut dan menggoyang-goyangkan pundak Ki Tejoranu.
"Tejo! Tejo .....I Ahh, Tejo, sadarlah .....!" Listyarini merasa bingung dan takut. Ia melihat wajah itu pucat seperti mayat dan kedua lengan itupun terluka bacokan mengeluarkan darah. Ia merasa takut sekali kalau-kalau Ki Tejoranu mati! Padahal di situ hanya ada ia dan Ki Tejoranu. la menoleh ke kanan kiri. Sunyi dan menakutkan sekali pada saat seperti itu. la seolah melihat bayangan Nismara yang kembali dari kematian untuk membalas dendam! Ia ingin menjerit, ingin menangis, dan kembali diguncangnya kedua pundak Ki Tejoranu. Kemudian ia teringat. Luka di kedua lengan itu! Harus dicuci bersih. Ia teringat betapa suaminya, Ki Patih Narotama pernah memberitahu bahwa kalau ada yang terluka, yang lebih dulu harus dilakukan adalah mencuci luka itu sampai bersih, lalu membalutnya dengan kain bersih untuk menghentikan keluarnya darah. Seperti mendapat tenaga baru, Listyarini lalu mencari daun lompong yang lebar untuk mengambil air di telaga, lalu dengan hati-hati kembali kepada Ki Tejoranu agar air di daun lompong tidak tumpah dan dengan air itu ia mulai mencuci kedua lengan yang terluka. Kemudian, ia mengambil sehelai kain yang ia pergunakan sebagai saputangan, mencoba untuk merobek kain itu menjadi dua. Akan tetapi ia tidak kuat melakukannya, maka ia lalu mempergunakan giginya yang rapi dan kuat. Digigitnya kain itu lalu dirobeknya menjadi dua dan dibalutnya luka di lengan itu. Ki Tejoranu mengeluh lirih. Timbul harapan dalam hati Listyarini. Dia tidak mati, pikirnya dan diguncangnya perlahan kedua pundak Ki Tejaranu.
"Tejo....., Tejo..... sadarlah, Tejo.....!" ia memanggil.
Ki Tejoranu membuka kedua matanya yang sipit itu dan memandang wajah Listyarini. Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya, diusapnya kedua pipi Listyarini dengan kedua tangannya, lembut sekali dan dia berkata dalam bahasa Cina,
"Mei Hwa..... Mei Hwa..... aku cinta padamu, jangan tinggalkan aku, Mei Hwa".
Tentu saja Listyarini tidak mengerti maksud ucapan itu, akan tetapi mendengar disebutnya nama Mei Hwa berkali kali, ia dapat menduga bahwa agaknya Ki Tejoranu menduga ia Mei Hwa, tunangan laki-laki itu yang direbut orang, ia menjadi terharu sekali, dapat membayangkan betapa duka nestapa membuat pria ini hidup sengsara lahir batin. Tak tertahankan lagi iapun mencucurkan air mata, menangis karena merasa kasihan.
"Tejo, kakang Tejo ..... ini aku, Listyarini ..... aku, Lini ....."
Mendengar ucapan bahasa daerah ini, agaknya pikiran Ki Tejoranu yang belum sadar betul masih terbawa hanyut oleh kenangannya tentang kekasih atau tunangannya dulu, maka diapun berkata lirih.
“Jangan tinggalkan aku ..... jangan.... "
Listyarini memegang kedua tangan laki-laki yang dianggapnya seperti kakaknya itu, menggenggamnya dan dengan air mata menetes-netes ia berkata.
"Tidak, kakang Tejo, aku tidak akan neninggalkanmu sebelum ada bantuan datang ....."
Listyarini yang masih menggenggam kedua tangan Ki Tejoranu yang baru setengah sadar itu sama sekali tidak tahu bahwa saat itu ada dua pasang mata mengamatinya dari jarak yang tidak berapa jauh. Kedua orang itu bukan lain adalah..... Ki Patih Narotama dan Lasmini! Seperti kita ketahui, Ki Tejoranu telah menyuruh seorang penduduk di sebuah dusun kaki Gunung Lawu sebelah timur yang bernama Sukardi untuk pergi menghadap Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan dan memberitahukan bahwa Sang Puteri Listyarini berada di Telaga Sarangan.

Sukardi menunggang kuda dan agar dipercaya oleh Ki Patih Narotama, Sukardi membawa sebuah cincin yang biasa dipakai oleh Listyarini. Setelah Sukardi berhasil menghadap Ki Patih Narotama dan menyampaikan kabar itu, dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Ki Patih Narotama. Akan tetapi sebaliknya Lasmini yang ikut mendengarkan ketika Sukardi membawa berita itu, diam-diam merasa terkejut, kecewa dan juga gelisah sekali, la mencoba untuk memompa keterangan dari Sukardi, akan tetapi Sukardi yang memang tidak tahu menahu akan halnya Puteri Listyarini dan hanya membawa perintah itu, tidak dapat menceritakan apa-apa. Hal ini membuat Lasmini menjadi semakin gelisah dan menduga-duga apa yang telah dilakukan Nismara dan apa yang telah terjadi. Bagaimana mungin Listyarini yang telah dilarikan Nismara dengan tujuan ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman, tiba-tiba kini bisa berada di Telaga Sarangan di Gunung Lawu?
Ki Patih Narotama, ditemani Lasmini, segera menunggang kuda dan bersama Sukardi mereka berangkat ke Gunung Lawu. Karena kuda tunggangan kedua orang bangsawan ini jauh lebih baik daripada yang ditunggangi Sukardi, apalagi karena keduanya juga lebih tangkas menunggang kuda, maka ketika tiba di jalan tanjakan yang berat, Lasmini dan Narotama dapat lebih dulu tiba di telaga dan mereka dapat melihat ketika Listyarini menangisi Ki Tejaranu. Melihat pemandangan ini, sejenak Narotama tercengang dan hatinya mengandung penuh pertanyaan. Akan tetapi Lasmini sudah menjebikan bibirnya yang mungil dan merah, berkata lirih.
"Sungguh memalukan sekali..... tidak pantas..... melanggar kesusilaan..... tak pernah kubayangkan ia dapat melakukan perbuatan kotor dan hina ini....."
Ki Patih Narotama yang sedang bimbang ragu melihat pemandangan itu, tidak tahan mendengar bisikan Lasmini yang seolah api yang menyulut dan membakar hatinya. Maka dia lalu memanggil isterinya dengan nada suara mengandung teguran.
"Diajeng Listyarini....."

Listyarini yang masih memegang kedua tangan Ki Tejoranu itu terkejut dan menoleh, akan tetapi ia tidak melepaskan pegangannya karena memang tidak ada perasaan-bersalah sedikitpun di hatinya. Akan tetapi melihat Lasmini dating bersama suaminya, ia berseru, suaranya mengandung tangis, sisa yang tadi dan juga karena girang dan terharu melihat suaminya sudah datang menjemputnya, bercampur kemarahan melihat Lasmini.
"Kakangmas Narotama! Berhati-hatilah dengan wanita itu! Yang menculikku adalah Nismara dan yang menyuruhnya adalah Lasmini itu!" Listyarini menudingkan telunjuknya kearah muka Lasmini.
Lasmini membentak marah.
"Listyarini, jangan asal membuka mulut kau! Mana buktinya, mana saksinya kalau betul Nismara yang menculikmu atas suruhanku. Mana, suruh Nismara menghadap di sini dan mengaku! Huh, engkau melempar fitnah setelah tertangkap basah, ya? Jelas bahwa engkau telah melarikan diri dengan laki-laki itu, engkau melarikan diri bersama kekasihmu itu dan kami melihat sendiri betapa engkau berkasih-kasihan dengannya. Laki-laki jahanam itu harus mampus, mencemarkan nama baik Ki Patih Narotama yang terhormat dan mulia! Dan engkau juga isteri tidak setia dan nyeleweng, tidak pantas dibiarkan hidup. Haiiiiitttt.....!!"
Lasmini sudah melangkah maju dan mendorongkan kedua tangannya ke arah listyarini dan Ki Tejoranu! Ia tidak mau tanggung-tanggung dalam penyerangannya karena ia mengambil keputusan untuk sekali pukul membunuh Listyarini dan laki-laki itu. Mumpung ada kesempatan dan ada alasan, pikirnya. Ki Patih Narotama pasti tidak dapat mengampuni isterinya yang menyeleweng, berjina dengan laki-laki lain!
"Siuuuuttt ..... tappp .....!" Tubuh Lasmini tergetar, pukulannya membalik sehingga ia agak menggigil sedikit. Aji pukulannya tadi memang dahsyat sekali, berhawa dingin karena itu adalah Aji Ampak-ampak yang dapat membuat darah dalam tubuh lawan membeku kalau terlanda pukulan ini. Akan tetapi sebelum pukulan itu mengenai sasaran, dari samping Narotama menangkis dengan dorongan tangan dan tiupan angin dahsyat menangkis pukulan itu tadi.
"Kakangmas Narotama! Mengapa paduka menangkis pukulanku dan melindungi perempuan yang menyeleweng itu? Jelas bahwa ia menjatuhkan fitnah atas diriku dan ia telah melakukan penyelewengan. Apakah semua yang tampak ini bukan merupakan bukti? Dan paduka masih melindunginya! Mustahil paduka lebih percaya ia daripada aku!"
"Tenang dan bersabarlah, diajeng. Kalau ada persoalan sebaiknya dibicarakan dulu." kata Narotama yang menahan kesabarannya walaupun hatinya juga terbakar oleh pemandangan yang menimbulkan cemburu itu.
"Paduka memang selalu melindungi Listyarini dan menyudutkan saya! Lebih baik aku pulang saja!" Setelah berkata demikian, Lasmini cepat memutar tubuhnya dan lari menuruni lereng, lalu melompat ke atas punggung kudanya dan dilarikan cepat meninggalkan tempat itu. Narotama menghela napas panjang lalu sekali melompat dia sudah tiba di dekat Listyarini yang masih berlutut dekat tubuh Ki Tejoranu yang belum sadar betul.
"Kakangmas, agaknya paduka juga meragukan kesetiaan saya....." Listyarini menangis lirih.
"Lini..... kenapa engkau menangis.....?" tanya Ki Tejoranu dengan suara lirih, lalu ia melihat Ki Patih Narotama, maka dengan pandangan mata heran dia bertanya,
".....dan siapakah kisanak ini, Lini .....?"
"Kakang Tejo, ini adalah junjunganku, suamiku, Gusti Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan." kata Listyarini sambil melepaskan tangan Ki Tejoranu, akan tetapi tetap saja berlutut. Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit duduk dan hendak berdiri, akan tetapi dia jatuh terduduk lagi lalu bersila.
"Gusti Patih....., hamba Teiolanu menghaturkan sembah."

Ki Patih Narotama dapat melihat dengan jelas bahwa orang yang bicaranya pelo ini bukan orang pribumi dan sedang dalam keadaan luka dalam yang parah dan keracunan.
"Duduk sajalah, andika terluka. Diajeng Listyarini, aku tidak akan membiarkan hatiku terseret oleh prasangka buruk dan cemburu, asal engkau cepat menceritakan apa artinya semua ini?"
"Aduh, kakangmas, biarlah para dewata mengutuk hamba sekiranya saya berdusta kepada paduka. Ketika itu, saya sedang duduk seorang diri di pondok dalam taman seperti biasa, setelah saya memotongi bunga yang sudah layu dengan tang pisau dapur. Tiba-tiba muncul Nismara dan entah mengapa dia berubah seperti iblis. Dia hendak membawa saya pergi. Saya menyerangnya dengan pisau dapur, akan tetapi dia dapat meringkus saya dan memanggul saya lalu membawa saya lari."

<<<Bagian 45                                                                                          Bagian 47 >>>

No comments:

Post a Comment