Dia membelalakkan matanya dan baru tampak jelas olehnya bahwa wanita di depannya itu sama sekali bukan Mei Hwa, melainkan Listyarini, isteri Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan! Wajahnya berubah merah sekali dan sambil menundukkan kepalanya dia berkata gagap.
"Maaf..... maafkan aku, Mas ayu
Lini..... engkau tadi..... sama benal dengan ia..... dan aku amat lindu
kepadanya"
"Sama dengan siapa Maksudmu,
sama dengan Mei Hwa tunanganmu itu?"
Hati Ki Tejoranu mengangguk, akan
tetapi dia memaksa diri menggeleng kepala kuat-kuat. Hatinya bilang ya akan
tetapi mulutnya cepat berkata,
"Tidak, tidak! Aku tadi melihat
engkau seperti..... adikku, The Kim Lan. Aku..... aku sudah lindu sekali
padanya..... maafkan aku, Mas ayu ....."
Pandang mata Listyarini melembut,
mulutnya tersenyum dan ia memandang penuh iba kepada laki-laki itu.
"Kalau begitu, anggap saja aku
ini pengganti adikmu dan jangan sebut Mas ayu lagi kepadaku. Sebut saja namaku,
Listyarini dan aku akan menyebutmu, Tejo!"
Ucapan ini keluar dari hati yang
tulus, hati yang penuh belas kasihan kepada laki-laki penolongnya itu.
"Betulkah itu? Benal-benal aku
boleh menganggap engkau seperti adik dan menyebutmu..... eh, Lini saja?"
"Tentu saja boleh, Tejo. Aku
senang dan bangga mempunyai seorang saudara seperti engkau."
"Telima kasih, Lini. Telima
kasih. Aku tadi..... eh, memegang tanganmu..... sebenalnya aku hendak memeliksa
denyut nadi pelgelangan tanganmu, untuk memeliksa kesehatanmu. Bolehkah
sekalang kulakukan?"
"Tentu saja, Tejo."
Listyarini lalu menjulurkan lengan kirinya yang berkulit putih mulus itu kepada
Ki Tejoranu.
Tanpa ragu dan bebas sama sekali
dari gairah nafsu, Ki Tejoranu lalu memegang pergelangan tangan kiri itu dan
menyentuh urat nadinya sambil memperhatikan denyutnya. Tak lama kemudian dia
berseru lirih dengan suara menyatakan kekagetannya.
"Hayaaa ....., Lini! Engkau
..... engkau ..... hamil ......!"
Kini Listyarini yang merasa heran.
Sambil tersenyum ia bertanya.
"Bagaimana engkau bisa tahu
akan hal itu, Tejo?"
"Tentu saja aku tahu. Aku sudah
biasa mengetahui keadaan kesehatan olang melalui pemeliksaan denyut nadi. Akan
tetapi..... engkau malah telsenyum. Engkau hamil, Lini!"
Listyarini tertawa.
"Heh-heh, aku sudah tahu Tejo.
Dan kenapa aku tidak boleh tersenyum? Aku merasa bahagia bahwa kini aku telah
hamil dua bulan Suamiku juga sudah mengetahuinya dan kami berbahagia
sekali."
"Oohh, begitukah? Aku.....
aku... ikut melasa belbahagia, Lini." kata Ki Tejoranu dengan suara yang
tidak terdengar begitu gembira karena sebetulnya pada saat itu hatinya merasa
suatu kenyataan yang amat pahit baginya. Listyarini, wanita ini, yang dia
merasa setelah menggantikan Mei Hwa dalam hati yang bukan saja sudah menjadi
isteri Ki Patih Narotama, bahkan lebih lagi, la sudah menjadi seorang calon
ibu!
Demikianlah, hubungan antara dua
orang ini semakin akrab dan terdapat ikatan batin antara mereka seperti dua
orang saudara sendiri. Listyarini benar benar merasakan kebaikan sikap dan budi
Ki Tejoranu dan menganggapnya seperti seorang kakak yang selalu melindunginya.
Sebaliknya, biarpun pada lahirnya Ki Tejoranu bersikap seperti saudara, namun
di dalam batinnya dia menganggap Listyarini sebagai pengganti Mei Hwa, sebagai
wanita ke dua yang pernah dia cintai sepenuh jiwanya. Akan tetapi
kebijaksanaannya menyadarkannya bahwa dia tidak boleh mengharap terlalu banyak
karena Listyarini adalah milik orang lain dan diapun tahu betapa besar cinta
kasih wanita itu terhadap pria yang menjadi suaminya dan ayah dari anak yang di
kandungnya. Betapapun juga, keakraban antara mereka bagaikan secercah cahaya
yang membahagiakan keduanya. Bagi Listyarini, Ki Tejoranu merupakan jaminan
atas keselamatannya, dan merupakan hiburan besar baginya, memperbesar
harapannya untuk segera dapat berkumpul kembali dengan suaminya tercinta. Dan
bagi Ki Tejaranu, kehadiran Listyarini bagaikan sinar cemerlang yang menerangi
hidupnya yang selama ini terasa gelap dan hampa. Dengan adanya keakraban ini,
walaupun Listyarini senantiasa mengharap-harapkan munculnya suaminya untuk
menjemputnya, namun waktu tidak terasa terlalu lama dan kosong. Setiap hari
mereka berdua memancing ikan dan ini merupakan kegemaran baru yang amat
menghibur bagi Listyarini. Apalagi kalau ada ikan yang menyambar umpan pada
mata kailnya. Ia bersorak, menjerit dan berteriak kegirangan sehingga Ki
Tejoranu ikut pula terbahak-bahak. Belasan hari, tepatnya delapan belas hari
lewat tanpa terasa. Pada pagi hari itu, kembali mereka memancing ikan di
telaga. Mereka duduk di atas batu-batu dan memegang tangkai pancing dengan
tenang dan sabar menunggu ikan yang akan menyambar umpan mereka. Listyarini
mengenakan kain dan baju sederhana, pakaian wanita dusun biasa, yang didapatkan
Ki Tejoranu di dusun-dusun kaki Gunung Lawu. Di daerah sepi sekitar pegunungan
itu tentu saja sukar untuk membeli pakaian mewah seperti yang dipakai
Listyarini ketika ia diculik Nismara. Akan tetapi, dengan pakaian sederhana
serba hitam, rambutnya digelung biasa tanpa perhiasan, ia tampak semakin cantik
jelita, bahkan kemulusan kulitnya semakin tampak dan keayuannya tampak aseli.
Wajahnya, seperti biasa wajah seorang calon ibu, bercahaya segar. Adapun Ki
Tejoranu, walaupun memakai pakaian biasa seperti yang dipakai para petani
sekitar pegunungan itu, namun tetap saja masih tampak jelas keasingan sebagai
seorang Cina karena bentuk matanya, bentuk ikatan rambutnya dan terutama sekali
ucapannya yang pelo, tidak dapat mengeluarkan suara "r" dan selalu diubah
menjadi suara "l".
Demikian asyiknya mereka menunggu
korban umpan mereka sehingga agaknya untuk bernapaspun mereka berhati-hati agar
tangkai pancingnya tidak banyak bergerak dan dalam keasyikan itu mereka tidak
melihat adanya tiga bayangan orang berkelebat dan kini mereka bertiga sudah
berdiri dalam jarak sepuluh meter dari mereka! Mereka itu adalah tiga orang
laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dari wajah dan pakaian
mereka jelas sekali dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang asing, yaitu
orang-orang Cina! Seorang dari mereka, yang paling tua, sekitar lima puluh lima
tahun usianya, berpakaian serba putih dan rambutnya yang digelung ke atas dan
memakai pita putih juga sudah penuh uban. Tubuhnya tinggi kurus dan di
punggungnya tampak sebatang pedang. Adapun dua orang yang lain bertubuh sedang,
yang seorang wajahnya penuh brewok dan yang seorang lagi wajahnya bersih bahkan
agak pucat. Juga mereka berdua itu membawa pedang di punggung mereka. Usia
mereka sekitar lima puluh tahun. Tiga orang itu memandang dengan sinar mata
mencorong ke arah Ki Tejoranu! Karena asyik memperhatikan tangkai pancingnya,
Ki Tejoranu belum juga melihat munculnya tiga orang itu. Hal ini bukan hanya
karena Ki Tejoranu sedang asyik memancing, akan tetapi terutama sekali karena
gerakan tiga orang itu memang ringan dan cepat bukan main. Melihat KI Tejoranu
seperti tidak memperdulikan mereka, seorang di antara mereka lalu berteriak
dengan suara lantang karena dia berseru dengan pengerahan tenaga sin-kang
(tenaga sakti).
"The Jiauw Lan .....!!"
Ki Tejoranu dan Listyarini terkejut
bukan main. Suara itu menggeledek dan bahkan membuat jantung Listyarini
terguncang seolah mendengar halilintar menyambar dekat telinganya sehingga
tangkai pancing yang dipegangnya terlepas. Keduanya cepat menoleh dan kini Ki
Tejoranu yang terkejut sekali karena dia segera mengenal siapa adanya tiga
orang itu! Kakek berpakaian serba putih itu adalah gurunya sendiri, sedangkan
dua orang yang lain adalah paman guru pertama dan ke dua!
"Suhu (guru), toa-susiok (paman
guru pertama) dan jisusiok (paman guru ke dua)!" katanya dan dia cepat
turun dari atas batu, lalu menghampiri mereka dan menjatuhkan diri berlutut di
depan mereka.
Gurunya, kakek berpakaian putih itu
berjuluk Pek I Kiamsian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat. Adapun dua
orang yang lain adalah adik-adik seperguruan Pek I Kiamsian Souw Kiat. Yang
pertama bernama Gan Hok berusia lima puluh dua tahun, bertubuh sedang, mukanya
brewok. Adapun yang ke dua bernama Giam Lun, berusia lima puluh tahun, bermuka
bersih agak kepucatan. Biarpun ilmu mereka tidak setinggi tingkat kepandaian
Pek I Kiam-sian, namun dua orang itupun terkenal di Cina sebagai pakar-pakar
ilmu pedang yang lihai bukan main.
Listyarini yang juga terkejut
melihat datangnya tiga orang asing itu, menjadi terheran-heran melihat Ki
Tejoranu kini berlutut di depan kaki tiga orang itu. Ia lalu turun dari atas
batu pula dan menonton dengan hati tegang. Ki Tejoranu bercakap-cakap dengan
tiga orang Itu dalam bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti. Akan tetapi
melihat sikap Ki Tejoranu yang begitu hormat dan tampak takut-takut, hati
Listyarini menjadi tidak enak dan gelisah, dan ia setengah menduga dengan
khawatir bahwa mereka bertiga itu adalah orang-orang dari Negeri Cina yang
datang mencari Ki Tejoranu yang menjadi buronan!
"Jiauw Lan, engkau tentu tahu
mengapa kami hari ini muncul di sini!" kata Pek I Kiam-sian dengan wajah
dan suara dingin.
"Suhu, sudah lebih dari lima
tahun teecu (murid) merantau dan tinggal di negeri ini, sama sekali tidak
pernah menduga bahwa suhu dan ji-wi susiok (paman guru berdua) hari ini muncul
dengan tiba-tiba mengunjungi teecu. Harap suhu memberi penjelasan kepada
teecu."
"Hemm, engkau masih
berpura-pura tidak tahu? Apakah engkau tidak merasa telah berbuat dosa yang
amat besar di Cina sana?"
"Teecu tidak merasa berbuat
dosa, tidak merasa melakukan kejahatan melainkan menegakkan kebenaran dan
keadilan seperti yang suhu pernah ajarkan kepada teecu." kata Ki Tejoranu
atau The Jiauw Lan dengan suara mantap dan tegas karena di dasar hatinya dia
memang tidak merasa bersalah.
"Hah! Engkau telah membunuh
Bhong Kongcu (Tuan muda Bhong), putera Bhong Tai-jin (Pembesar Bhong) di
Nan-king, dan engkau masih berpura-pura tidak merasa berdosa?"
Dengan masih berlutut Ki Tejoranu
menjawab, suaranya tetap mantap dan tegas,
"Sama sekali tidak, suhu, teecu
tidak merasa berdosa! Barangkali suhu belum mengetahui apa yang telah dilakukan
Bhong Kongcu itu kepada keluarga teecu? Dia dengan anak buahnya telah mengamuk
di rumah kami, membunuh ayah dan ibu sehingga adik teecu juga tidak ketahuan
hilang ke mana. Tidakkah pantas kalau teecu lalu mencari dan membunuhnya untuk
membalaskan kematian ayah ibu dan hilangnya adik teecu?"
"Akan tetapi engkau yang
mencari gara-gara lebih dulu!" bentak Gan Hok yang brewok, suaranya
mengandung kemarahan karena dia sudah merasa kesal dan jengkel sekali membuang
waktu sampai hampir dua tahun mencari-cari The Jiauw Lan di semua pelosok pulau
ini.
"Ya, engkau berani menghajar
Bhong Kongcu dan anak buahnya." kata pula Giam Lun yang bermuka pucat,
yang juga merasa gemas kepada murid keponakan ini.
"Akan tetapi, ji-wi susiok
(paman guru berdua), teecu terpaksa menghajar mereka karena mereka mengganggu
seorang gadis dan bertindak kurang ajar dan tidak sopan, bahkan agaknya mereka
hendak memaksa gadis itu ikut dengan mereka untuk diganggu." Ki Tejoranu
memrotes.
"Jiauw Lan, itu bukan urusanmu,
kenapa engkau mencampuri urusan orang lain? Kalau engkau tidak lancang
mencampuri urusan Bhong Kongcu kemudian malah menghajarnya, tentu saja tidak
terjadi perkara yang berlarut-larut seperti Ini. Engkau membuat kami, guru dan
paman-paman gurumu yang sudah bersahabat baik dengan Bhong Tai-jin, merasa
tidak enak sekali dan terpaksa kami jauh-jauh datang dari negeri kita untuk mencarimu."
Ki Tejoranu mengerutkan alisnya.
Dalam pelariannya, pernah dia mendengar dari seorang yang baru datang dari Cina
bahwa gurunya telah terbujuk oleh Pembesar Bhong untuk mencarinya! Gurunya,
yang terkenal sebagai seorang datuk pendekar berjuluk Kiam-sian (Dewa Pedang),
kini berpihak kepada pihak yang sewenang-wenang dan jahat. Hal ini membuktikan
betapa kuatnya pengaruh uang terhadap diri manusia, atau betapa lemahnya
manusia kalau dihadapkan kepada kesenangan duniawi melalui harta!" Hatinya
menjadi penasaran sekali, dan juga kecewa melihat guru dan kedua orang paman
gurunya.
"Dan setelah sekarang suhu
menemukan teecu, lalu apa yang harus teecu lakukan?"
"Bukan apa yang harus
kaulakukan, melainkan apa yang akan kulakukan terhadap dirimu, Jiauw Lan!
Semestinya aku menghukum mati padamu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah
menjadi muridku selama bertahun-tahun, biarlah aku akan membuat engkau
kehilangan kekuatanmu agar kelak engkau tidak akan dapat membunuh orang
lagi!"
Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit
berdiri.
"Suhu, dahulu suhu mengajarkan
kepada teecu agar selama masih mampu, teecu harus membela diri sekuat tenaga.
Maka, sekarangpun teecu harus membela diri semampu teecu!"
Setelah berkata demikian Ki Tejoranu
mencabut goloknya dan berdiri dalam posisi siap menghadapi serangan.
Kuda-kudanya tampak kokoh dan kuat karena ilmu silatnya dimatangkan oleh
pengalaman selama bertahun-tahun merantau dan menghadapi kekerasan dan
kesukaran.
"Hemm, Jiauw Lan! Engkau berani
hendak melawan gurumu sendiri?" tanya Pek I Kiam-sian.
"Suhu pernah mengatakan, lebih
baik tewas sebagai harimau dalam perlawanan daripada mati konyol seperti babi
di tangan penjagal!"
"Suheng!" Gan Hok berseru.
"Jangan merendahkan diri
melawan orang yang pernah menjadi murid sendiri. Biarlah aku yang memberi
hajaran kepada bocah ini!"
"Aku juga ingin mewakilimu,
suheng (kakak seperguruan)!" kata Giam Lun.
Kedua orang itu sudah siap dan
mencabut pedang siap menyerang Ki Tejoranu. Pek I Kiam-sian mengangguk-angguk.
"Kalian boleh maju mewakili
aku, akan tetapi jangan membunuhnya. Aku sudah berjanji tidak membunuhnya,
hanya membuat dia kehilangan kekuatan untuk selamanya."
Dua orang itu mengangguk tanda bahwa
mereka mengerti, kemudian keduanya maju menghampiri Ki Tejoranu. Ki Tejoranu
tersenyum mengejek. Kini dia mulai memandang guru dan para paman gurunya dengan
penilaian lain. Dia dulu bukan hanya berguru kepada Pek I Kiam sian, melainkan
mempelajari ilmu-ilmu silat aliran lain. Dengan mengkombinasikan semua ilmu
itu, dia akhirnya dapat merangkai ilmu sepasang golok yang selama ini menjadi
senjata-senjata andalannya sehingga dia dijuluki "Sha-liong Siang-to
(Sepasang Golok Pembunuh Naga) ketika masih di Cina sana. Sambil melintangkan
sepasang goloknya di depan dada, Ki Tejoranu berkata,
"Hemm, dua orang pendekar
hendak mengeroyok seorang keponakan murid, sungguh lucu!"
Dua orang itu merasa disindir dan
mereka menjadi marah. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu menyerang dengan
pedang mereka.
No comments:
Post a Comment