Bagian 45


Dia membelalakkan matanya dan baru tampak jelas olehnya bahwa wanita di depannya itu sama sekali bukan Mei Hwa, melainkan Listyarini, isteri Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan! Wajahnya berubah merah sekali dan sambil menundukkan kepalanya dia berkata gagap.
"Maaf..... maafkan aku, Mas ayu Lini..... engkau tadi..... sama benal dengan ia..... dan aku amat lindu kepadanya"
"Sama dengan siapa Maksudmu, sama dengan Mei Hwa tunanganmu itu?"
Hati Ki Tejoranu mengangguk, akan tetapi dia memaksa diri menggeleng kepala kuat-kuat. Hatinya bilang ya akan tetapi mulutnya cepat berkata,
"Tidak, tidak! Aku tadi melihat engkau seperti..... adikku, The Kim Lan. Aku..... aku sudah lindu sekali padanya..... maafkan aku, Mas ayu ....."
Pandang mata Listyarini melembut, mulutnya tersenyum dan ia memandang penuh iba kepada laki-laki itu.
"Kalau begitu, anggap saja aku ini pengganti adikmu dan jangan sebut Mas ayu lagi kepadaku. Sebut saja namaku, Listyarini dan aku akan menyebutmu, Tejo!"
Ucapan ini keluar dari hati yang tulus, hati yang penuh belas kasihan kepada laki-laki penolongnya itu.
"Betulkah itu? Benal-benal aku boleh menganggap engkau seperti adik dan menyebutmu..... eh, Lini saja?"
"Tentu saja boleh, Tejo. Aku senang dan bangga mempunyai seorang saudara seperti engkau."
"Telima kasih, Lini. Telima kasih. Aku tadi..... eh, memegang tanganmu..... sebenalnya aku hendak memeliksa denyut nadi pelgelangan tanganmu, untuk memeliksa kesehatanmu. Bolehkah sekalang kulakukan?"
"Tentu saja, Tejo." Listyarini lalu menjulurkan lengan kirinya yang berkulit putih mulus itu kepada Ki Tejoranu.

Tanpa ragu dan bebas sama sekali dari gairah nafsu, Ki Tejoranu lalu memegang pergelangan tangan kiri itu dan menyentuh urat nadinya sambil memperhatikan denyutnya. Tak lama kemudian dia berseru lirih dengan suara menyatakan kekagetannya.
"Hayaaa ....., Lini! Engkau ..... engkau ..... hamil ......!"
Kini Listyarini yang merasa heran. Sambil tersenyum ia bertanya.
"Bagaimana engkau bisa tahu akan hal itu, Tejo?"
"Tentu saja aku tahu. Aku sudah biasa mengetahui keadaan kesehatan olang melalui pemeliksaan denyut nadi. Akan tetapi..... engkau malah telsenyum. Engkau hamil, Lini!"
Listyarini tertawa.
"Heh-heh, aku sudah tahu Tejo. Dan kenapa aku tidak boleh tersenyum? Aku merasa bahagia bahwa kini aku telah hamil dua bulan Suamiku juga sudah mengetahuinya dan kami berbahagia sekali."
"Oohh, begitukah? Aku..... aku... ikut melasa belbahagia, Lini." kata Ki Tejoranu dengan suara yang tidak terdengar begitu gembira karena sebetulnya pada saat itu hatinya merasa suatu kenyataan yang amat pahit baginya. Listyarini, wanita ini, yang dia merasa setelah menggantikan Mei Hwa dalam hati yang bukan saja sudah menjadi isteri Ki Patih Narotama, bahkan lebih lagi, la sudah menjadi seorang calon ibu!

Demikianlah, hubungan antara dua orang ini semakin akrab dan terdapat ikatan batin antara mereka seperti dua orang saudara sendiri. Listyarini benar benar merasakan kebaikan sikap dan budi Ki Tejoranu dan menganggapnya seperti seorang kakak yang selalu melindunginya. Sebaliknya, biarpun pada lahirnya Ki Tejoranu bersikap seperti saudara, namun di dalam batinnya dia menganggap Listyarini sebagai pengganti Mei Hwa, sebagai wanita ke dua yang pernah dia cintai sepenuh jiwanya. Akan tetapi kebijaksanaannya menyadarkannya bahwa dia tidak boleh mengharap terlalu banyak karena Listyarini adalah milik orang lain dan diapun tahu betapa besar cinta kasih wanita itu terhadap pria yang menjadi suaminya dan ayah dari anak yang di kandungnya. Betapapun juga, keakraban antara mereka bagaikan secercah cahaya yang membahagiakan keduanya. Bagi Listyarini, Ki Tejoranu merupakan jaminan atas keselamatannya, dan merupakan hiburan besar baginya, memperbesar harapannya untuk segera dapat berkumpul kembali dengan suaminya tercinta. Dan bagi Ki Tejaranu, kehadiran Listyarini bagaikan sinar cemerlang yang menerangi hidupnya yang selama ini terasa gelap dan hampa. Dengan adanya keakraban ini, walaupun Listyarini senantiasa mengharap-harapkan munculnya suaminya untuk menjemputnya, namun waktu tidak terasa terlalu lama dan kosong. Setiap hari mereka berdua memancing ikan dan ini merupakan kegemaran baru yang amat menghibur bagi Listyarini. Apalagi kalau ada ikan yang menyambar umpan pada mata kailnya. Ia bersorak, menjerit dan berteriak kegirangan sehingga Ki Tejoranu ikut pula terbahak-bahak. Belasan hari, tepatnya delapan belas hari lewat tanpa terasa. Pada pagi hari itu, kembali mereka memancing ikan di telaga. Mereka duduk di atas batu-batu dan memegang tangkai pancing dengan tenang dan sabar menunggu ikan yang akan menyambar umpan mereka. Listyarini mengenakan kain dan baju sederhana, pakaian wanita dusun biasa, yang didapatkan Ki Tejoranu di dusun-dusun kaki Gunung Lawu. Di daerah sepi sekitar pegunungan itu tentu saja sukar untuk membeli pakaian mewah seperti yang dipakai Listyarini ketika ia diculik Nismara. Akan tetapi, dengan pakaian sederhana serba hitam, rambutnya digelung biasa tanpa perhiasan, ia tampak semakin cantik jelita, bahkan kemulusan kulitnya semakin tampak dan keayuannya tampak aseli. Wajahnya, seperti biasa wajah seorang calon ibu, bercahaya segar. Adapun Ki Tejoranu, walaupun memakai pakaian biasa seperti yang dipakai para petani sekitar pegunungan itu, namun tetap saja masih tampak jelas keasingan sebagai seorang Cina karena bentuk matanya, bentuk ikatan rambutnya dan terutama sekali ucapannya yang pelo, tidak dapat mengeluarkan suara "r" dan selalu diubah menjadi suara "l".

Demikian asyiknya mereka menunggu korban umpan mereka sehingga agaknya untuk bernapaspun mereka berhati-hati agar tangkai pancingnya tidak banyak bergerak dan dalam keasyikan itu mereka tidak melihat adanya tiga bayangan orang berkelebat dan kini mereka bertiga sudah berdiri dalam jarak sepuluh meter dari mereka! Mereka itu adalah tiga orang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dari wajah dan pakaian mereka jelas sekali dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang asing, yaitu orang-orang Cina! Seorang dari mereka, yang paling tua, sekitar lima puluh lima tahun usianya, berpakaian serba putih dan rambutnya yang digelung ke atas dan memakai pita putih juga sudah penuh uban. Tubuhnya tinggi kurus dan di punggungnya tampak sebatang pedang. Adapun dua orang yang lain bertubuh sedang, yang seorang wajahnya penuh brewok dan yang seorang lagi wajahnya bersih bahkan agak pucat. Juga mereka berdua itu membawa pedang di punggung mereka. Usia mereka sekitar lima puluh tahun. Tiga orang itu memandang dengan sinar mata mencorong ke arah Ki Tejoranu! Karena asyik memperhatikan tangkai pancingnya, Ki Tejoranu belum juga melihat munculnya tiga orang itu. Hal ini bukan hanya karena Ki Tejoranu sedang asyik memancing, akan tetapi terutama sekali karena gerakan tiga orang itu memang ringan dan cepat bukan main. Melihat KI Tejoranu seperti tidak memperdulikan mereka, seorang di antara mereka lalu berteriak dengan suara lantang karena dia berseru dengan pengerahan tenaga sin-kang (tenaga sakti).
"The Jiauw Lan .....!!"

Ki Tejoranu dan Listyarini terkejut bukan main. Suara itu menggeledek dan bahkan membuat jantung Listyarini terguncang seolah mendengar halilintar menyambar dekat telinganya sehingga tangkai pancing yang dipegangnya terlepas. Keduanya cepat menoleh dan kini Ki Tejoranu yang terkejut sekali karena dia segera mengenal siapa adanya tiga orang itu! Kakek berpakaian serba putih itu adalah gurunya sendiri, sedangkan dua orang yang lain adalah paman guru pertama dan ke dua!
"Suhu (guru), toa-susiok (paman guru pertama) dan jisusiok (paman guru ke dua)!" katanya dan dia cepat turun dari atas batu, lalu menghampiri mereka dan menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.
Gurunya, kakek berpakaian putih itu berjuluk Pek I Kiamsian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat. Adapun dua orang yang lain adalah adik-adik seperguruan Pek I Kiamsian Souw Kiat. Yang pertama bernama Gan Hok berusia lima puluh dua tahun, bertubuh sedang, mukanya brewok. Adapun yang ke dua bernama Giam Lun, berusia lima puluh tahun, bermuka bersih agak kepucatan. Biarpun ilmu mereka tidak setinggi tingkat kepandaian Pek I Kiam-sian, namun dua orang itupun terkenal di Cina sebagai pakar-pakar ilmu pedang yang lihai bukan main.

Listyarini yang juga terkejut melihat datangnya tiga orang asing itu, menjadi terheran-heran melihat Ki Tejoranu kini berlutut di depan kaki tiga orang itu. Ia lalu turun dari atas batu pula dan menonton dengan hati tegang. Ki Tejoranu bercakap-cakap dengan tiga orang Itu dalam bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti. Akan tetapi melihat sikap Ki Tejoranu yang begitu hormat dan tampak takut-takut, hati Listyarini menjadi tidak enak dan gelisah, dan ia setengah menduga dengan khawatir bahwa mereka bertiga itu adalah orang-orang dari Negeri Cina yang datang mencari Ki Tejoranu yang menjadi buronan!
"Jiauw Lan, engkau tentu tahu mengapa kami hari ini muncul di sini!" kata Pek I Kiam-sian dengan wajah dan suara dingin.
"Suhu, sudah lebih dari lima tahun teecu (murid) merantau dan tinggal di negeri ini, sama sekali tidak pernah menduga bahwa suhu dan ji-wi susiok (paman guru berdua) hari ini muncul dengan tiba-tiba mengunjungi teecu. Harap suhu memberi penjelasan kepada teecu."
"Hemm, engkau masih berpura-pura tidak tahu? Apakah engkau tidak merasa telah berbuat dosa yang amat besar di Cina sana?"
"Teecu tidak merasa berbuat dosa, tidak merasa melakukan kejahatan melainkan menegakkan kebenaran dan keadilan seperti yang suhu pernah ajarkan kepada teecu." kata Ki Tejoranu atau The Jiauw Lan dengan suara mantap dan tegas karena di dasar hatinya dia memang tidak merasa bersalah.
"Hah! Engkau telah membunuh Bhong Kongcu (Tuan muda Bhong), putera Bhong Tai-jin (Pembesar Bhong) di Nan-king, dan engkau masih berpura-pura tidak merasa berdosa?"
Dengan masih berlutut Ki Tejoranu menjawab, suaranya tetap mantap dan tegas,
"Sama sekali tidak, suhu, teecu tidak merasa berdosa! Barangkali suhu belum mengetahui apa yang telah dilakukan Bhong Kongcu itu kepada keluarga teecu? Dia dengan anak buahnya telah mengamuk di rumah kami, membunuh ayah dan ibu sehingga adik teecu juga tidak ketahuan hilang ke mana. Tidakkah pantas kalau teecu lalu mencari dan membunuhnya untuk membalaskan kematian ayah ibu dan hilangnya adik teecu?"
"Akan tetapi engkau yang mencari gara-gara lebih dulu!" bentak Gan Hok yang brewok, suaranya mengandung kemarahan karena dia sudah merasa kesal dan jengkel sekali membuang waktu sampai hampir dua tahun mencari-cari The Jiauw Lan di semua pelosok pulau ini.
"Ya, engkau berani menghajar Bhong Kongcu dan anak buahnya." kata pula Giam Lun yang bermuka pucat, yang juga merasa gemas kepada murid keponakan ini.
"Akan tetapi, ji-wi susiok (paman guru berdua), teecu terpaksa menghajar mereka karena mereka mengganggu seorang gadis dan bertindak kurang ajar dan tidak sopan, bahkan agaknya mereka hendak memaksa gadis itu ikut dengan mereka untuk diganggu." Ki Tejoranu memrotes.
"Jiauw Lan, itu bukan urusanmu, kenapa engkau mencampuri urusan orang lain? Kalau engkau tidak lancang mencampuri urusan Bhong Kongcu kemudian malah menghajarnya, tentu saja tidak terjadi perkara yang berlarut-larut seperti Ini. Engkau membuat kami, guru dan paman-paman gurumu yang sudah bersahabat baik dengan Bhong Tai-jin, merasa tidak enak sekali dan terpaksa kami jauh-jauh datang dari negeri kita untuk mencarimu."

Ki Tejoranu mengerutkan alisnya. Dalam pelariannya, pernah dia mendengar dari seorang yang baru datang dari Cina bahwa gurunya telah terbujuk oleh Pembesar Bhong untuk mencarinya! Gurunya, yang terkenal sebagai seorang datuk pendekar berjuluk Kiam-sian (Dewa Pedang), kini berpihak kepada pihak yang sewenang-wenang dan jahat. Hal ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh uang terhadap diri manusia, atau betapa lemahnya manusia kalau dihadapkan kepada kesenangan duniawi melalui harta!" Hatinya menjadi penasaran sekali, dan juga kecewa melihat guru dan kedua orang paman gurunya.
"Dan setelah sekarang suhu menemukan teecu, lalu apa yang harus teecu lakukan?"
"Bukan apa yang harus kaulakukan, melainkan apa yang akan kulakukan terhadap dirimu, Jiauw Lan! Semestinya aku menghukum mati padamu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah menjadi muridku selama bertahun-tahun, biarlah aku akan membuat engkau kehilangan kekuatanmu agar kelak engkau tidak akan dapat membunuh orang lagi!"
Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit berdiri.
"Suhu, dahulu suhu mengajarkan kepada teecu agar selama masih mampu, teecu harus membela diri sekuat tenaga. Maka, sekarangpun teecu harus membela diri semampu teecu!"
Setelah berkata demikian Ki Tejoranu mencabut goloknya dan berdiri dalam posisi siap menghadapi serangan. Kuda-kudanya tampak kokoh dan kuat karena ilmu silatnya dimatangkan oleh pengalaman selama bertahun-tahun merantau dan menghadapi kekerasan dan kesukaran.
"Hemm, Jiauw Lan! Engkau berani hendak melawan gurumu sendiri?" tanya Pek I Kiam-sian.
"Suhu pernah mengatakan, lebih baik tewas sebagai harimau dalam perlawanan daripada mati konyol seperti babi di tangan penjagal!"
"Suheng!" Gan Hok berseru.
"Jangan merendahkan diri melawan orang yang pernah menjadi murid sendiri. Biarlah aku yang memberi hajaran kepada bocah ini!"
"Aku juga ingin mewakilimu, suheng (kakak seperguruan)!" kata Giam Lun.
Kedua orang itu sudah siap dan mencabut pedang siap menyerang Ki Tejoranu. Pek I Kiam-sian mengangguk-angguk.
"Kalian boleh maju mewakili aku, akan tetapi jangan membunuhnya. Aku sudah berjanji tidak membunuhnya, hanya membuat dia kehilangan kekuatan untuk selamanya."

Dua orang itu mengangguk tanda bahwa mereka mengerti, kemudian keduanya maju menghampiri Ki Tejoranu. Ki Tejoranu tersenyum mengejek. Kini dia mulai memandang guru dan para paman gurunya dengan penilaian lain. Dia dulu bukan hanya berguru kepada Pek I Kiam sian, melainkan mempelajari ilmu-ilmu silat aliran lain. Dengan mengkombinasikan semua ilmu itu, dia akhirnya dapat merangkai ilmu sepasang golok yang selama ini menjadi senjata-senjata andalannya sehingga dia dijuluki "Sha-liong Siang-to (Sepasang Golok Pembunuh Naga) ketika masih di Cina sana. Sambil melintangkan sepasang goloknya di depan dada, Ki Tejoranu berkata,
"Hemm, dua orang pendekar hendak mengeroyok seorang keponakan murid, sungguh lucu!"
Dua orang itu merasa disindir dan mereka menjadi marah. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu menyerang dengan pedang mereka.

<<<Bagian 44                                                                                         Bagian 46 >>>

No comments:

Post a Comment