Maka dia yang sudah mengenal beberapa orang warok sesat di daerah Ponorogo, lalu segera mengunjungi mereka dan berhasil mendapatkan bantuan dua orang bersaudara yang terkenal sebagai orang-orang digdaya dan pembunuh pembunuh bayaran. Mereka bernama Wirobento dan Wirobandrek, yang pertama terkenal sebagai ahli bersilat dengan senjata pecutnya dan yang ke dua seperti kebanyakan para warok, memiliki kolor yang merupakan senjata ampuh. Pada keesokan harinya, mereka bertiga mendaki Gunung Lawu dan tiba di Telaga Sarangan menjelang siang. Mereka menemukan pondok tempat bersembunyi Ki Tejoranu dan kebetulan sekali pada saat itu Ki Tejoranu sedang duduk termenung seorang diri di atas lincak (bangku) bambu di depan pondoknya. Melihat musuh besarnya itu, Nismara memberi isarat kepada dua orang kawannya dan mereka bertiga, tanpa mengeluarkan kata apapun, langsung saja menggunakan senjata mereka untuk menyerang Ki Tejoranu.
"Tarr-tarr ..... syuuuttt
.....!" Ujung cambuk atau pecut di tangan Wirobento menyambar dahsyat ke
arah dada Ki Tejoranu yang sedang duduk termenung. Ki Tejoranu terkejut dan
cepat sekali, dengan refleks yang peka sekali, dia melempar tubuh ke bawah dan
bergulingan di atas tanah.
"Pyarrr .....!" Ujung
pecut menyambar lincak yang menjadi hancur berkeping-keping.
"Wuutt-wuuttt ..... blarrr
.....!" Sepasang kolor merah dari Wirobento menyambar-nyambar ke arah
kepala Ki Tejoranu yang baru saja melompat bangun. Akan tetapi pertapa muda
Telaga Sarangan ini sekarang telah siap siaga dan maklum bahwa dia diserang
orang-orang yang berbahaya. Cepat tubuhnya bergerak bagaikan seekor burung
emprit lincah dan ringan sehingga sambaran sepasang kolor merah itu selalu
mengenai tempat kosong dan ketika kolor itu mengenai sebatang pohon sebesar
tubuh manusia, pohon itupun patah dan tumbang!
Demikian hebatnya dua orang warok
itu memainkan senjata sehingga Ki Tejoranu cepat meraih dengan kedua tangannya
ke belakang. Tampak dua sinar berkilau ketika dia sudah mencabut sepasang
goloknya. Wirobento dan Wirobandrek merasa penasaran sekali karena
serangan-serangan pertama mereka tadi tidak berhasil. Mereka sudah maju lagi
mengeroyok dan Nismara juga tidak tinggal diam. Dia sudah mencabut kerisnya dan
ikut mengeroyok sehingga Ki Tejoranu dikeroyok oleh tiga orang yang tangguh.
Akan tetapi, kini Ki Tejoranu memegang sepasang goloknya yang merupakan senjata
pamungkasnya yang ampuh. Dengan ilmu golok Sha-liong-siang-to (Sepasang Golok
Pembunuh Naga) yang sangat hebat sehingga dia dahulu di Cina dijuluki Sha
liong-to dia mempertahankan diri dengan gigih. Sepasang golok yang dimainkannya
itu seolah berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya
sehingga semua serangan tiga orang pengeroyok itu selalu terpental dan
tertangkis oleh kekuatan dahsyat yang terkandung dalam gulungan dua sinar golok
itu! Melihat ketangguhan Ki Tejoranu, Nismara menjadi tidak sabar dan khawatir
kalau-kalau bantuan dua orang warok itu akan membuat dia gagal lagi merampas
kembali Listyarini. Maka, dia lalu berseru,
"Adi Wirobento dan Wirobandrek,
bunuh orang ini!"
Setelah berkata demikian, dia lalu
melompat ke arah pondok. Listyarini yang sedang mengintai, menjadi terkejut
setengah mati melihat Nismara lari ke arah pondok, la lari ke dapur ketika
Nismara sudah menerobos pintu depan. Nismara melihat ia lari ke dapur lalu
mengejar.
"Listyarini, hendak lari ke
mana engkau?" bentaknya girang. Ketika dia mengejar sampai ke dapur,
Listyarini sudah berada di situ. Wanita ini dengan nekat telah mengangkat ceret
terisi air mendidih dan begitu Nismara muncul di dapur, ia segera menyiramkan
air dari ceret itu ke arah muka Nismara! Nismara cepat menggunakan kedua
lengannya untuk melindungi mukanya, akan tetapi masih ada air mendidih yang
muncrat mengenai pipinya dan tentu saja lengan dan sebagian pundaknya terguyur
air mendidih itu.
"Aduhhh .....!" Dia
berteriak mengaduh. Bukan main panasnya air mendidih itu sehingga bagian yang
terkena air mendidih itu melepuh. Hal ini membuat dia marah bukan main dan
sekali sambar dia telah menangkap lengan kanan Listyarini lalu diseretnya
wanita itu keluar dari dapur dan terus keluar dari pintu depan pondok itu.
Listyarini menjerit dan minta
tolong, akan tetapi Nismara tidak perduli dan menyeretnya terus. Listyarini
terjatuh berlutut, akan tetapi dengan sentakan kuat ia dibuat bangun kembali
dan diseret sehingga terpaksa harus berlari terhuyung-huyung. Kedua lututnya
berdarah karena terluka ketika jatuh berlutut dan diseret tadi.
"Tolooonggg .....!"
Listyarini menjerit lagi.
Ki Tejoranu mendengar jeritan ini
dan dia cepat menggerakkan sepasang goloknya sambil tiba-tiba mendekam ke atas
tanah. Dua orang pengeroyoknya, Wirobento dan Wirobandrek terkejut sekali mendapat
serangan golok yang membabat ke arah kaki mereka itu. Ini merupakan serangan
berbahaya sekali. Mereka melompat ke belakang dan membalas dengan sambaran
pecut dan kolor mereka.
"Wuuuttt .....
prat-pratt!!" Dua orang warok itu terkejut sekali melihat betapa dua
gulungan sinar golok itu membuat gerakan menggunting dari kanan kiri dan ujung
senjata mereka, pecut dan kolor itu, putus! Mereka kembali melangkah mundur,
takut menerima serangan mendadak. Kesempatan ini dipergunakan Ki Tejoranu untuk
mengejar Nismara yang masih menyeret Listyarini. Dia berlompatan mengejar dan
setelah berada dalam jarak kurang lebih lima meter, dia menyambitkan golok
kanannya ke arah punggung Nismara.
"Wirrr .....!" Golok
meluncur seperti anak panah cepatnya dan tepat sekali menancap di punggung
Nismara. Orang ini terkejut, mengaduh, pegangan tangannya pada lengan
Listyarini terlepas dan dia roboh menelengkup, tewas seketika karena golok itu
menancap dalam sekali sampai menembus ke dadanya!
Listyarini yang sudah bebas itu
berdiri memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ke arah tubuh yang
berlumuran darah itu. Hatinya merasa ngeri sekali, juga baru saja ia terlepas
dari rasa takut yang amat sangat, maka ketika melihat Ki Tejoranu
menghampirinya, Listyarini terkulai dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja
Ki Tejoranu tidak cepat meloncat dan merangkulnya. Ki Tejoranu cepat menoleh,
memandangi ke arah dua orang lawannya tadi. Kalau dia melindungi Listyarini
seperti ini lalu diserang oleh dua orang lawan yang cukup tangguh itu, tentu
akan membahayakan dia dan juga Listyarini. Kalau mereka menyerang, terpaksa dia
akan meninggalkan Listyarini lebih dulu. Akan tetapi hatinya lega. Agaknya,
melihat orang yang menyuruh mereka membantu itu telah menggeletak mati dengan
punggung ditembus golok, dua orang itu lalu melarikan diri. Mereka merasa jerih
melihat senjata mereka putus, apalagi melihat Nismara tewas.
Ki Tejoranu lalu memondong tubuh
Listyarini dan membawanya masuk ke dalam pondok. Direbahkannya tubuh itu di
atas pembaringan dalam kamar Listyarini. Setelah memeriksa sejenak dan
mengetahui bahwa wanita itu hanya pingsan dan sama sekali tidak terluka parah
kecuali hanya lecet berdarah pada kedua lututnya, hatinya merasa lega bukan
main. Ia pingsan karena takut dan ngeri melihat Nismara mati di depannya,
pikirnya. Sebaiknya aku singkirkan dulu mayat di depan pondok itu agar
Listyarini tidak akan merasa ngeri kalau siuman nanti. Setelah berpikir
demikian, Ki Tejoranu lalu keluar dengan cepat. Dia menghampiri mayat Nismara
yang menelungkup, mencabut goloknya dari punggung orang itu, membersihkan golok
dan menyarungkannya kembali di punggungnya. Kemudian dengan hati-hati agar
pakaian dan tubuhnya tidak terkena darah, dia lalu membawa mayat itu menuruni
lereng agak jauh dan dia lalu melemparkan mayat itu ke dalam sebuah jurang yang
amat curam. Mayat itu meluncur ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya itu dan
dia bergumam lirih dalam bahasanya sendiri,
'Maafkan aku. Karena harus segera
menolong Listyarini, maka aku tidak mempunyai waktu untuk menguburkan jenazahmu
baik-baik. Harap engkau tenang di alam baka dan semoga Thian (Tuhan)
mengampunimu."
Kemudian Ki Tejoranu cepat kembali
ke dalam pondok. Khawatir kalau sudah siuman Listyarini akan merasa malu
mendapat pengobatan di lututnya dan dia dianggap tidak sopan, maka Ki Tejoranu
sengaja membiarkan wanita itu dalam keadaan pingsan seperti tidur itu. Dia
cepat mengambil air masak, lalu dicucinya luka lecet pada kedua lutut
Listyarini. Kemudian dia mengambil daun Widoro-upas dan daun Pegagan,
diremasnya lalu dibalurkan pada lutut yang luka itu. Sesudah itu baru ia
memijat pusat otot di antara ibu jari dan telunjuk kedua tangan sampai akhirnya
Listyarini mengeluh lirih dan membuka kedua matanya.
Dengan cepat Ki Tejoranu yang tadi
ketika mengobati duduk di tepi pembaringan, pindah ke atas kursi yang agak jauh
dari pembaringan. Listyarini membuka matanya dan ketika pandang matanya
menemukan Ki Tejoranu duduk di atas kursi kayu, ia segera bangkit duduk. Akan
tetapi ia mengeluh dan sambil duduk ia memegangi kedua lututnya dan menyingkap
sedikit kain yang menutupi kedua lututnya.
"Kedua lututku ..... agak perih
..... mengapa?"
"Ah, tidak apa-apa, Mas ayu
Lini. Hanya lecet sedikit."
"Dan ....., engkau
mengobatinya?" tanya Listyarini sambil memandang wajah laki-laki itu.
Wajah itu memerah. Tadi ketika mengobati, sama sekali tidak ada perhatiannya
kepada lutut telanjang itu. Akan tetapi kini, seolah membayang lutut itu,
bentuknya indah sekali dan kulitnya putih mulus kemerahan, halus lembut dengan
betis indah memadi bunting. Begitu bayangan ini tergambar dalam benaknya, Ki
Teroranu cepat mengerahkan kekuatan kemauannya untuk mengusirnya sehingga dia
dapat menentang pandang mata Listyarini dengan tenang dan biasa kembali.
"Ya, aku mencuci lalu
mengobatinya agal luka itu tidak menjadi palah dari kelacunan. Maafkan aku, Mas
ayu."
"Kenapa aku harus memaafkanmu?
Kenapa engkau minta maaf, Ki Tejoranu?"
"Aku takut..... engkau akan
menganggap aku..... eh, kulang ajal dan tidak sopan, Mas ayu Lini."
Listyarini tersenyum dan dalam
hatinya ia semakin kagum kepada penolongnya itu.
"Ucapanmu itu menunjukkan bahwa
engkau seorang yang sopan dan baik budi, Ki Tejoranu. Lalu....." wanita
itu bergidik, "bagaimana..... dengan Nismara yang jahat tadi? Dia..... dia
tadi sudah mati, bukan? Dan bagaimana dengan dua orang temannya yang buas
tadi?"
"Jangan takut, jenazahnya sudah
kukubul, jauh dali sini, dan dua olang tadi sudah melalikan dili. Engkau
sekalang sudah aman, Mas ayu Lini."
"Ohhh..... terima kasih, Gusti.
Rupanya Sang Hyang Widhi masih melindungi kita." kata Listyarini.
Tiba-tiba wanita itu mengernyitkan hidungnya, mencium cium. Ki Tejoranu juga
menyedot-nyedot dengan hidungnya melihat tingkah Listyarini itu dan
penciumannya juga menangkap bau tak wajar itu.
"Eh, bau apa ini?"
tanyanya.
"Aduh celaka!" Listyarini
berseru lalu meloncat turun dari pembaringan.
"Masakanku..... masakanku
hangus.....!" la lalu berlari ke dapur, agaknya kedua lututnya tidak
terasa perih lagi ia sudah melupakan itu. Ki Tejoranu juga berlari dan mereka
berdua berlari sambil tertawa-tawa seperti dua orang anak kecil!
Kini mereka berdua duduk menghadapi
makanan nasi dan dua macam lauk setengah hangus. Untung tidak hangus semua
karena apinya keburu mati kekurangan kayu bakar. Listyarini kecewa sekali.
Tadinya ia ingin membuatkan masakan yang lezat untuk penolongnya, tidak tahunya
sekarang hanya dapat menghidangkan masakan hangus! Akan tetapi ia melihat Ki
Tejoranu makan dengan lahap sekali. Nasinya banyak dan dia tampak menikmati
masakan lauk daging bader dan daging ayam setengah hangus itu. Ketika Ki
Tejoranu mengangkat muka dan melihat wanita itu memandangnya, dia tersenyum dan
mengangguk-angguk sambil berkata,
"Wah, enak, enak, enak".
Listyarini menghela napas.
"Akan tetapi gosong!"
katanya penuh sesal.
"Agak gosong akan tetapi enak,
enak. kata pula Ki Tejoranu dengan suara pasti dan untuk membuktikan
kata-katanya dia makan lagi dengan lahapnya.
Setelah selesai makan dan Listyarini
membersihkan meja dan mencuci tempat hidangan, dibantu dengan paksa oleh Ki
Tejoranu, mereka lalu duduk di serambi depan. Matahari telah condong ke arah
barat. Pemandangan alamnya indah sekali, hawa udaranya tidak sangat dingin
lagi, melainkan hangat-hangat sejuk. Melihat suasana begitu indah dan
pemandangan di telaga yang tak begitu jauh dari pondok itu demikian gemilang,
Listyarini mengajak Ki Tejoranu untuk mendekati telaga. Mereka berdua berjalan
ke arah telaga lalu duduk di tepi telaga, di atas batu-batu gunung yang berada
di sekitar telaga besar itu. Keduanya menikmati keindahan telaga, melihat
baying-bayang awan di dalam telaga dan terkadang tampak ikan dengan kulitnya
yang mengkilap meluncur di air. Telinga mereka menangkap gemercik air gerojokan
(air terjun) yang berada agak jauh dari situ, mendengar pula ocehan burung-burung
di hutan sekeliling telaga. Suasana amat tenteram, damai, membuat mereka
terpesona dan tenggelam ke dalam lamunan sehingga tidak saling bicara. Dengan
berdiam diri, orang dapat menikmati keindahan dan kebesaran alam, bahkan merasa
dirinya bersatu dengan keindahan itu, menjadi bagian dari alam semesta.
Kalau pikiran sudah berjalan dan
dikeluarkan melalui kata-kata, orang merasa terpisah dari semua itu, dari alam
menjadi sesuatu yang asing dan di luar dirinya. Sampai lama mereka tenggelam
dalam kesunyian. Listyarini tidak tahu betapa pada saat itu, diam-diam Ki
Tejoranu menatap wajahnya penuh perhatian, bahkan penuh pesona. Ki Tejoranu
menemukan sesuatu yang amat mengejutkannya. Dalam matanya, wajah Listyarini
pada saat itu presis wajah tunangannya ketika di Negeri Cina dahulu, persis
wajah Mei Hwa! Memang tidak sama benar. Mungkin mata Mei Hwa lebih sipit, kulit
Mei Hwa lebih kuning. Akan tetapi kesemuanya itu dipadu menjadi satu, memiliki
daya tarik yang sama, bahkan dalam keadaan termenung mulut Listyarini agak
terbuka dan sepasang bibir itu serupa benar dengan bibir Mei Hwa! Timbul rasa
rindunya yang amat kuat. Bangkit rasa cintanya yang mendalam. Teringat dia saat
itu, ketika dia duduk berdua menyatakan kasih sayang dengan Mei Hwa, saling berpegangan
tangan, mengutarakan cinta kasih melalui pertemuan jari-jari tangan. Tanpa
disadari, Ki Tejoranu menggerakkan tangannya dan dengan lembut dia menyentuh
tangan Listyarini. Merasa dipegang tangannya, Listyarini terkejut dan cepat ia
menarik lepas tangannya sambil mengangkat muka memandang wajah Ki Tejoranu.
Melihat betapa sepasang mata sipit itu memandangnya dengan sinar aneh, ia cepat
menegur,
"Eh, Ki Tejoranu, ada apakah
engkau ini? Kenapa..... kenapa engkau memandangku seperti itu .....?"
Dalam teguran itu terkandung keraguan.
Ki Tejoranu merasa seolah baru
bangun dari tidurnya, atau seperti diseret turun kembali ke bumi.
No comments:
Post a Comment