Bagian 44


Maka dia yang sudah mengenal beberapa orang warok sesat di daerah Ponorogo, lalu segera mengunjungi mereka dan berhasil mendapatkan bantuan dua orang bersaudara yang terkenal sebagai orang-orang digdaya dan pembunuh pembunuh bayaran. Mereka bernama Wirobento dan Wirobandrek, yang pertama terkenal sebagai ahli bersilat dengan senjata pecutnya dan yang ke dua seperti kebanyakan para warok, memiliki kolor yang merupakan senjata ampuh. Pada keesokan harinya, mereka bertiga mendaki Gunung Lawu dan tiba di Telaga Sarangan menjelang siang. Mereka menemukan pondok tempat bersembunyi Ki Tejoranu dan kebetulan sekali pada saat itu Ki Tejoranu sedang duduk termenung seorang diri di atas lincak (bangku) bambu di depan pondoknya. Melihat musuh besarnya itu, Nismara memberi isarat kepada dua orang kawannya dan mereka bertiga, tanpa mengeluarkan kata apapun, langsung saja menggunakan senjata mereka untuk menyerang Ki Tejoranu.
"Tarr-tarr ..... syuuuttt .....!" Ujung cambuk atau pecut di tangan Wirobento menyambar dahsyat ke arah dada Ki Tejoranu yang sedang duduk termenung. Ki Tejoranu terkejut dan cepat sekali, dengan refleks yang peka sekali, dia melempar tubuh ke bawah dan bergulingan di atas tanah.
"Pyarrr .....!" Ujung pecut menyambar lincak yang menjadi hancur berkeping-keping.
"Wuutt-wuuttt ..... blarrr .....!" Sepasang kolor merah dari Wirobento menyambar-nyambar ke arah kepala Ki Tejoranu yang baru saja melompat bangun. Akan tetapi pertapa muda Telaga Sarangan ini sekarang telah siap siaga dan maklum bahwa dia diserang orang-orang yang berbahaya. Cepat tubuhnya bergerak bagaikan seekor burung emprit lincah dan ringan sehingga sambaran sepasang kolor merah itu selalu mengenai tempat kosong dan ketika kolor itu mengenai sebatang pohon sebesar tubuh manusia, pohon itupun patah dan tumbang!

Demikian hebatnya dua orang warok itu memainkan senjata sehingga Ki Tejoranu cepat meraih dengan kedua tangannya ke belakang. Tampak dua sinar berkilau ketika dia sudah mencabut sepasang goloknya. Wirobento dan Wirobandrek merasa penasaran sekali karena serangan-serangan pertama mereka tadi tidak berhasil. Mereka sudah maju lagi mengeroyok dan Nismara juga tidak tinggal diam. Dia sudah mencabut kerisnya dan ikut mengeroyok sehingga Ki Tejoranu dikeroyok oleh tiga orang yang tangguh. Akan tetapi, kini Ki Tejoranu memegang sepasang goloknya yang merupakan senjata pamungkasnya yang ampuh. Dengan ilmu golok Sha-liong-siang-to (Sepasang Golok Pembunuh Naga) yang sangat hebat sehingga dia dahulu di Cina dijuluki Sha liong-to dia mempertahankan diri dengan gigih. Sepasang golok yang dimainkannya itu seolah berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga semua serangan tiga orang pengeroyok itu selalu terpental dan tertangkis oleh kekuatan dahsyat yang terkandung dalam gulungan dua sinar golok itu! Melihat ketangguhan Ki Tejoranu, Nismara menjadi tidak sabar dan khawatir kalau-kalau bantuan dua orang warok itu akan membuat dia gagal lagi merampas kembali Listyarini. Maka, dia lalu berseru,
"Adi Wirobento dan Wirobandrek, bunuh orang ini!"
Setelah berkata demikian, dia lalu melompat ke arah pondok. Listyarini yang sedang mengintai, menjadi terkejut setengah mati melihat Nismara lari ke arah pondok, la lari ke dapur ketika Nismara sudah menerobos pintu depan. Nismara melihat ia lari ke dapur lalu mengejar.
"Listyarini, hendak lari ke mana engkau?" bentaknya girang. Ketika dia mengejar sampai ke dapur, Listyarini sudah berada di situ. Wanita ini dengan nekat telah mengangkat ceret terisi air mendidih dan begitu Nismara muncul di dapur, ia segera menyiramkan air dari ceret itu ke arah muka Nismara! Nismara cepat menggunakan kedua lengannya untuk melindungi mukanya, akan tetapi masih ada air mendidih yang muncrat mengenai pipinya dan tentu saja lengan dan sebagian pundaknya terguyur air mendidih itu.
"Aduhhh .....!" Dia berteriak mengaduh. Bukan main panasnya air mendidih itu sehingga bagian yang terkena air mendidih itu melepuh. Hal ini membuat dia marah bukan main dan sekali sambar dia telah menangkap lengan kanan Listyarini lalu diseretnya wanita itu keluar dari dapur dan terus keluar dari pintu depan pondok itu.
Listyarini menjerit dan minta tolong, akan tetapi Nismara tidak perduli dan menyeretnya terus. Listyarini terjatuh berlutut, akan tetapi dengan sentakan kuat ia dibuat bangun kembali dan diseret sehingga terpaksa harus berlari terhuyung-huyung. Kedua lututnya berdarah karena terluka ketika jatuh berlutut dan diseret tadi.
"Tolooonggg .....!" Listyarini menjerit lagi.

Ki Tejoranu mendengar jeritan ini dan dia cepat menggerakkan sepasang goloknya sambil tiba-tiba mendekam ke atas tanah. Dua orang pengeroyoknya, Wirobento dan Wirobandrek terkejut sekali mendapat serangan golok yang membabat ke arah kaki mereka itu. Ini merupakan serangan berbahaya sekali. Mereka melompat ke belakang dan membalas dengan sambaran pecut dan kolor mereka.
"Wuuuttt ..... prat-pratt!!" Dua orang warok itu terkejut sekali melihat betapa dua gulungan sinar golok itu membuat gerakan menggunting dari kanan kiri dan ujung senjata mereka, pecut dan kolor itu, putus! Mereka kembali melangkah mundur, takut menerima serangan mendadak. Kesempatan ini dipergunakan Ki Tejoranu untuk mengejar Nismara yang masih menyeret Listyarini. Dia berlompatan mengejar dan setelah berada dalam jarak kurang lebih lima meter, dia menyambitkan golok kanannya ke arah punggung Nismara.
"Wirrr .....!" Golok meluncur seperti anak panah cepatnya dan tepat sekali menancap di punggung Nismara. Orang ini terkejut, mengaduh, pegangan tangannya pada lengan Listyarini terlepas dan dia roboh menelengkup, tewas seketika karena golok itu menancap dalam sekali sampai menembus ke dadanya!
Listyarini yang sudah bebas itu berdiri memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ke arah tubuh yang berlumuran darah itu. Hatinya merasa ngeri sekali, juga baru saja ia terlepas dari rasa takut yang amat sangat, maka ketika melihat Ki Tejoranu menghampirinya, Listyarini terkulai dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja Ki Tejoranu tidak cepat meloncat dan merangkulnya. Ki Tejoranu cepat menoleh, memandangi ke arah dua orang lawannya tadi. Kalau dia melindungi Listyarini seperti ini lalu diserang oleh dua orang lawan yang cukup tangguh itu, tentu akan membahayakan dia dan juga Listyarini. Kalau mereka menyerang, terpaksa dia akan meninggalkan Listyarini lebih dulu. Akan tetapi hatinya lega. Agaknya, melihat orang yang menyuruh mereka membantu itu telah menggeletak mati dengan punggung ditembus golok, dua orang itu lalu melarikan diri. Mereka merasa jerih melihat senjata mereka putus, apalagi melihat Nismara tewas.

Ki Tejoranu lalu memondong tubuh Listyarini dan membawanya masuk ke dalam pondok. Direbahkannya tubuh itu di atas pembaringan dalam kamar Listyarini. Setelah memeriksa sejenak dan mengetahui bahwa wanita itu hanya pingsan dan sama sekali tidak terluka parah kecuali hanya lecet berdarah pada kedua lututnya, hatinya merasa lega bukan main. Ia pingsan karena takut dan ngeri melihat Nismara mati di depannya, pikirnya. Sebaiknya aku singkirkan dulu mayat di depan pondok itu agar Listyarini tidak akan merasa ngeri kalau siuman nanti. Setelah berpikir demikian, Ki Tejoranu lalu keluar dengan cepat. Dia menghampiri mayat Nismara yang menelungkup, mencabut goloknya dari punggung orang itu, membersihkan golok dan menyarungkannya kembali di punggungnya. Kemudian dengan hati-hati agar pakaian dan tubuhnya tidak terkena darah, dia lalu membawa mayat itu menuruni lereng agak jauh dan dia lalu melemparkan mayat itu ke dalam sebuah jurang yang amat curam. Mayat itu meluncur ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya itu dan dia bergumam lirih dalam bahasanya sendiri,
'Maafkan aku. Karena harus segera menolong Listyarini, maka aku tidak mempunyai waktu untuk menguburkan jenazahmu baik-baik. Harap engkau tenang di alam baka dan semoga Thian (Tuhan) mengampunimu."

Kemudian Ki Tejoranu cepat kembali ke dalam pondok. Khawatir kalau sudah siuman Listyarini akan merasa malu mendapat pengobatan di lututnya dan dia dianggap tidak sopan, maka Ki Tejoranu sengaja membiarkan wanita itu dalam keadaan pingsan seperti tidur itu. Dia cepat mengambil air masak, lalu dicucinya luka lecet pada kedua lutut Listyarini. Kemudian dia mengambil daun Widoro-upas dan daun Pegagan, diremasnya lalu dibalurkan pada lutut yang luka itu. Sesudah itu baru ia memijat pusat otot di antara ibu jari dan telunjuk kedua tangan sampai akhirnya Listyarini mengeluh lirih dan membuka kedua matanya.
Dengan cepat Ki Tejoranu yang tadi ketika mengobati duduk di tepi pembaringan, pindah ke atas kursi yang agak jauh dari pembaringan. Listyarini membuka matanya dan ketika pandang matanya menemukan Ki Tejoranu duduk di atas kursi kayu, ia segera bangkit duduk. Akan tetapi ia mengeluh dan sambil duduk ia memegangi kedua lututnya dan menyingkap sedikit kain yang menutupi kedua lututnya.
"Kedua lututku ..... agak perih ..... mengapa?"
"Ah, tidak apa-apa, Mas ayu Lini. Hanya lecet sedikit."
"Dan ....., engkau mengobatinya?" tanya Listyarini sambil memandang wajah laki-laki itu. Wajah itu memerah. Tadi ketika mengobati, sama sekali tidak ada perhatiannya kepada lutut telanjang itu. Akan tetapi kini, seolah membayang lutut itu, bentuknya indah sekali dan kulitnya putih mulus kemerahan, halus lembut dengan betis indah memadi bunting. Begitu bayangan ini tergambar dalam benaknya, Ki Teroranu cepat mengerahkan kekuatan kemauannya untuk mengusirnya sehingga dia dapat menentang pandang mata Listyarini dengan tenang dan biasa kembali.
"Ya, aku mencuci lalu mengobatinya agal luka itu tidak menjadi palah dari kelacunan. Maafkan aku, Mas ayu."
"Kenapa aku harus memaafkanmu? Kenapa engkau minta maaf, Ki Tejoranu?"
"Aku takut..... engkau akan menganggap aku..... eh, kulang ajal dan tidak sopan, Mas ayu Lini."
Listyarini tersenyum dan dalam hatinya ia semakin kagum kepada penolongnya itu.
"Ucapanmu itu menunjukkan bahwa engkau seorang yang sopan dan baik budi, Ki Tejoranu. Lalu....." wanita itu bergidik, "bagaimana..... dengan Nismara yang jahat tadi? Dia..... dia tadi sudah mati, bukan? Dan bagaimana dengan dua orang temannya yang buas tadi?"
"Jangan takut, jenazahnya sudah kukubul, jauh dali sini, dan dua olang tadi sudah melalikan dili. Engkau sekalang sudah aman, Mas ayu Lini."
"Ohhh..... terima kasih, Gusti. Rupanya Sang Hyang Widhi masih melindungi kita." kata Listyarini. Tiba-tiba wanita itu mengernyitkan hidungnya, mencium cium. Ki Tejoranu juga menyedot-nyedot dengan hidungnya melihat tingkah Listyarini itu dan penciumannya juga menangkap bau tak wajar itu.
"Eh, bau apa ini?" tanyanya.
"Aduh celaka!" Listyarini berseru lalu meloncat turun dari pembaringan.
"Masakanku..... masakanku hangus.....!" la lalu berlari ke dapur, agaknya kedua lututnya tidak terasa perih lagi ia sudah melupakan itu. Ki Tejoranu juga berlari dan mereka berdua berlari sambil tertawa-tawa seperti dua orang anak kecil!

Kini mereka berdua duduk menghadapi makanan nasi dan dua macam lauk setengah hangus. Untung tidak hangus semua karena apinya keburu mati kekurangan kayu bakar. Listyarini kecewa sekali. Tadinya ia ingin membuatkan masakan yang lezat untuk penolongnya, tidak tahunya sekarang hanya dapat menghidangkan masakan hangus! Akan tetapi ia melihat Ki Tejoranu makan dengan lahap sekali. Nasinya banyak dan dia tampak menikmati masakan lauk daging bader dan daging ayam setengah hangus itu. Ketika Ki Tejoranu mengangkat muka dan melihat wanita itu memandangnya, dia tersenyum dan mengangguk-angguk sambil berkata,
"Wah, enak, enak, enak".
Listyarini menghela napas.
"Akan tetapi gosong!" katanya penuh sesal.
"Agak gosong akan tetapi enak, enak. kata pula Ki Tejoranu dengan suara pasti dan untuk membuktikan kata-katanya dia makan lagi dengan lahapnya.

Setelah selesai makan dan Listyarini membersihkan meja dan mencuci tempat hidangan, dibantu dengan paksa oleh Ki Tejoranu, mereka lalu duduk di serambi depan. Matahari telah condong ke arah barat. Pemandangan alamnya indah sekali, hawa udaranya tidak sangat dingin lagi, melainkan hangat-hangat sejuk. Melihat suasana begitu indah dan pemandangan di telaga yang tak begitu jauh dari pondok itu demikian gemilang, Listyarini mengajak Ki Tejoranu untuk mendekati telaga. Mereka berdua berjalan ke arah telaga lalu duduk di tepi telaga, di atas batu-batu gunung yang berada di sekitar telaga besar itu. Keduanya menikmati keindahan telaga, melihat baying-bayang awan di dalam telaga dan terkadang tampak ikan dengan kulitnya yang mengkilap meluncur di air. Telinga mereka menangkap gemercik air gerojokan (air terjun) yang berada agak jauh dari situ, mendengar pula ocehan burung-burung di hutan sekeliling telaga. Suasana amat tenteram, damai, membuat mereka terpesona dan tenggelam ke dalam lamunan sehingga tidak saling bicara. Dengan berdiam diri, orang dapat menikmati keindahan dan kebesaran alam, bahkan merasa dirinya bersatu dengan keindahan itu, menjadi bagian dari alam semesta.

Kalau pikiran sudah berjalan dan dikeluarkan melalui kata-kata, orang merasa terpisah dari semua itu, dari alam menjadi sesuatu yang asing dan di luar dirinya. Sampai lama mereka tenggelam dalam kesunyian. Listyarini tidak tahu betapa pada saat itu, diam-diam Ki Tejoranu menatap wajahnya penuh perhatian, bahkan penuh pesona. Ki Tejoranu menemukan sesuatu yang amat mengejutkannya. Dalam matanya, wajah Listyarini pada saat itu presis wajah tunangannya ketika di Negeri Cina dahulu, persis wajah Mei Hwa! Memang tidak sama benar. Mungkin mata Mei Hwa lebih sipit, kulit Mei Hwa lebih kuning. Akan tetapi kesemuanya itu dipadu menjadi satu, memiliki daya tarik yang sama, bahkan dalam keadaan termenung mulut Listyarini agak terbuka dan sepasang bibir itu serupa benar dengan bibir Mei Hwa! Timbul rasa rindunya yang amat kuat. Bangkit rasa cintanya yang mendalam. Teringat dia saat itu, ketika dia duduk berdua menyatakan kasih sayang dengan Mei Hwa, saling berpegangan tangan, mengutarakan cinta kasih melalui pertemuan jari-jari tangan. Tanpa disadari, Ki Tejoranu menggerakkan tangannya dan dengan lembut dia menyentuh tangan Listyarini. Merasa dipegang tangannya, Listyarini terkejut dan cepat ia menarik lepas tangannya sambil mengangkat muka memandang wajah Ki Tejoranu. Melihat betapa sepasang mata sipit itu memandangnya dengan sinar aneh, ia cepat menegur,
"Eh, Ki Tejoranu, ada apakah engkau ini? Kenapa..... kenapa engkau memandangku seperti itu .....?" Dalam teguran itu terkandung keraguan.
Ki Tejoranu merasa seolah baru bangun dari tidurnya, atau seperti diseret turun kembali ke bumi.

<<<Bagian 43                                                                                         Bagian 45 >>>

No comments:

Post a Comment