Setelah dapat membunuh tuan muda Bong itu barulah kemarahannya mereda dan karena tahu bahwa kalau dia melanjutkan, amukannya, akhirnya dia akan mati dikeroyok banyak prajurit, akhirnya dia melarikan diri.
"Begitulah, Mas ayu Lini. Aku
dikejal pasukan, telpaksa melalikan dili ke sini, ikut pelahu jong bekelja
menjadi kuli dan melantau, kalena takut pembesal Bong mengilim olang-olang
pandai mencali, aku belpindah pindah dan akhilnya aku belsembunyi di daelah
ini, dekat telaga sana." Ki Tejoranu mengakhiri ceritanya.
Sejak tadi Listyarini mendengarkan
dengan penuh perhatian. Biarpun bicaranya pelo, namun ternyata Ki Tejoranu
sudah fasih berbahasa daerah sehingga ia dapat menangkap semua ceritanya. Ia
menghela napas panjang, membayangkan betapa besar persamaan kejahatan orang
dinegeri Cina dan di sini. Orang-orang berkuasa condong untuk memiliki watak
hadigang hadigung-hadiguna, memegang aji mumpung, menggunakan kekuasaan, harta
dan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang. Ketenangan kehidupan di Kahuripan
sendiri hanya terlaksana karena kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dengan
bantuan suaminya, Ki Patih Narotama. Karena raja dan patihnya itu berwatak adil,
berbudi bawa laksana, maka para pembesarnya takut untuk melakukan pelanggaran,
tidak berani bertindak sewenang wenang mengandalkan kedudukan dan kekuasaan
mereka. Akan tetapi di daerah daerah yang agak jauh dari kota raja, sering
terdengar penindasan dan kesewenangan seperti yang menimpa diri Ki Tejoranu
itu.
"Ah, kasihan sekali engkau, Ki
lejoranu. Jadi, sudah lima tahun engkau meninggalkan negerimu? Lalu bagaimana
kabarnya dengan adikmu, siapa namanya tadi, Kim Lan?"
"Ya, The Kim Lan. Sebelum aku
pelgi, aku sudah belusaha mencalinya, namun sia-sia. Dan aku mendengal kabal
yang lebih menyedihkan lagi, yaitu .....tunanganku..... yang belnama Mei Hwa,
telah dipaksa, diambil menjadi isteli ke tiga dali Pembesal Bong, untuk balas
dendam padaku!" Setelah berkata demikian, Ki Tejoranu mengayun tangannya
ke atas batu.
"Brakkk!" Tepi batu itu
pecah berhamburan dan Listyarini melihat pemuda Cina itu mengusap beberapa
butir air mata dengan punggung tangannya.
Listyarini merasa terharu.
"Ah, Ki Tejoranu, penderitaanmu
sungguh berat. Akan tetapi percayalah. Sang Hyang Widhi akhirnya akan
melindungi yang benar dan akan menghukum yang jahat. Sekarang aku semakin yakin
bahwa engkau adalah seorang yang baik dan aku makin percaya padamu, Ki
Tejoranu." Listyarini bangkit, menghampiri laki-laki itu dan menyentuh
pundaknya dengan lembut. Ki Tejoranu meletakkan tangannya diatas tangan
Listyarini yang menyentuh pundaknya. Hanya sebentar saja dan dia sudah menarik
kembali tangannya.
"Telima kasih, Mas ayu Lini,
telima kasih. Hatiku sudah tidak sedih lagi sekalang." Dan untuk
membuktikan ini, Ki Tejoranu tersenyum.
"Duduklah, Mas ayu dan sekalang
celitakan tentang dilimu."
Listyarini lalu kembali ke tempat
luduknya semula. Setelah ia menarik napas panjang beberapa kali, mulailah ia
menceritakan tentang dirinya.
"Aku berasal dari Nusa Bali
bernama Ni Nogati. Setelah aku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama dari
Kerajaan Kahuripan, namaku diganti menjadi Listyarini. Aku hidup bahagia dengan
suamiku, hidup saling mencinta dan mulia di Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi
semenjak suamiku, Ki Patih Narotama mengambil seorang puteri Kerajaan Parang
Siluman yang bernama Lasmini menjadi selir, datanglah gangguan dalam hidupku.
Pertama aku diracuni orang sampai hampir mati. Untung suamiku seorang pandai
sehingga aku dapat disembuhkan. Kami semua tidak tahu siapa pelakunya karena
Tarni, dayang yang membawakan jamu yang diisi racun itu telah dibunuh oleh
Lasmini. Diam-diam aku curiga kepadanya, akan tetapi tidak ada bukti, maka aku
tak dapat berbuat apa-apa. Kemudian datanglah malapetaka itu ....."
Listyarini menghela napas panjang.
"Apa yang teljadi, Mas ayu
Lini?"
"Pada suatu sore, ketika aku
seorang diri dalam taman, seorang perwira pasukan pengawal kepatihan bernama
Nismara, menculik aku dan melarikan aku keluar dari kepatihan. Dia membawaku
lari sampai berhari-hari lamanya. Selama itu dia tidak berani menggangguku
karena agaknya dia dicekam ketakutan kalau-kalau sampai dapat dikejar suamiku
yang sakti mandraguna. Menurut keterangan dan pengakuannya dalam perjalanan dia
menculikku karena disuruh oleh Lasmini dengan tujuan agar Lasmini dapat
menggantikan kedudukanku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama. Setelah tiba di
sini, dia merasa aman dan bebas dari pengejaran suamiku, maka dia mempunyai
niat keji untuk menggangguku. Untung engkau datang dan menolongku, Ki
Tejoranu."
Mendengar kisah ini, Ki Tejoranu
melompat dari atas batu yang didudukinya, mencabut sepasang goloknya dan
mencaci maki dalam bahasa Cina yang sama sekali tidak dimengerti oleh
Listyarini sambil memainkan sepasang goloknya. Dua gulungan sinar
menyambar-nyambar dahsyat dan daun-daun pohon di dekatnya rontok berhamburan
seperti hujan daun! Melihat ini, Listyarini merasa kagum akan tetapi juga
ngeri. Orang itu tidak tampak lagi, hanya bayangannya saja yang terbungkus dua
sinar yang bergulung-gulung.
"Sudahlah, K i Tejoranu, jangan
mengamuk. Aku ngeri melihatnya." katanya halus. Ki Tejoranu menghentikan
permainan silatnya dan sepasang golok itu sudah kembali ke tempatnya semula, tersilang
di belakang punggungnya.
"Maaf, Mas ayu, aku membuat
engkau kaget dan ngeli." katanya sambil merangkap kedua tangan di depan
dada dengan sikap hormat.
"Tadi engkau bicara apa, Ki
Tejoranu! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kaukatakan." Listyarini
bertanya sambil tersenyum.
Ki Tejoranu tersenyum malu.
"Aku ..... ah, tidak apa-apa,
Mas ayu, aku malah dan memaki-maki Nismala itu dan aku melasa menyesal
membialkan dia lolos. Kalau aku tahu dia begitu jahat tentu sudah kubunuh
dia!"
"Engkau tidak perlu merepotkan
hal itu, Ki Tejoranu. Suamiku sendiri tentu akan mengambil tindakan tegas
terhadap dua orang yang merencanakan penculikan terhadap diriku itu. Sekarang
aku hendak minta bantuanmu, Ki Tejoranu. Engkau tentu mau membantu dan
menolongku bukan?"
"Tentu saja, Mas ayu Lini.
Bantuan apa yang dapat kubelikan untukmu?"
"Begini, Ki Tejoranu. Maukah
engkau mengantar aku pulang ke Kepatihan Kerajaan Kahuripan? Ketika penjahat
itu melarikan aku sampai ke sini, perjalanan memakan waktu kurang lebih sepuluh
hari. Itupun sebagian dilakukan dengan jalan kaki dan dia memondongku. Kalau
dilakukan dengan menunggang kuda, tentu lebih cepat lagi. Di sana dua ekor kuda
itu masih ada, dapat kita pergunakan."
Mendengar permintaan ini, Ki
Tejoranu tampak tertegun dan sejenak dia bengong tak mampu menjawab sehingga
Listyarini mendesaknya.
"Bagaimana, Ki Tejoranu? Engkau
tentu tidak berkeberatan untuk mengantarku, bukan? Suamiku tentu akan memberi
imbalan yang memadai, bahkan aku akan minta kepadanya agar engkau diberi
kedudukan tinggi dalam pasukannya."
"Hayaa....." Ki Tejoranu
mengeluh, lalu berkata,
"Tentu saja aku selalu mau
membantumu, Mas ayu, akan tetapi aku..... aku ..... bukan tidak mau, melainkan
tidak belani."
"Tidak berani? Engkau yang
memiliki kepandaian begitu tinggi?"
"Sudah kucelitakan padamu, aku
selama ini melantau, belpindah-pindah, sekalang sembunyi di sini. Aku memang
takut kalena aku tahu bahwa Pembesal Bong mengutus olang-olang pandai mencaliku
dan akan membunuhku."
"Tapi engkau dapat melawan
mereka! Apalagi kalau engkau sudah berada di Kepatihan, suamiku tentu akan
melindungimu!"
Ki Tejoranu menggeleng kepala.
"Engkau tidak tahu, Mas ayu,
olang-olang yang diutus itu lihai-lihai sekali, bahkan aku dengal bahwa
Pembesal Bong sudah dapat membujuk guluku untuk ikut mencali aku. Aku takut
pelgi jauh dali sini Mas ayu. Maafkan aku." Ki Tejoranu mengangkat kedua
tangan ke depan dada dan memberi hormat berulang-ulang sehingga Listyarini
merasa tidak enak untuk memaksanya, la mengerti bahwa orang ini benar-benar
ketakutan, dan hal itu tidak aneh kalau diingat bahwa gurunya sendiri ikut
mencari untuk membunuhnya!
"Kalau begitu, menurut
pendapatmu bagaimana baiknya? Apa yang harus ku lakukan sekarang, Ki
Tejoranu?" Ia berhenti sebentar.
"Bagaimana kalau aku menunggang
kuda dan mencoba untuk kembali sendiri ke Kahuripan?"
"Aihh! Jangan, jangan Mas Lini!
Jangan lakukan itu, belbahaya sekali, sebelum sampai di sana, engkau bisa
celaka. Banyak sekali olang jahat dalam peljalananmu itu!"
"Lalu bagaimana baiknya? Pulang
sendiri tidak boleh dan engkau tidak berani mengantarku!"
"Begini saja, Mas ayu. Aku
sudah membangun sebuah pondok yang kokoh di dekat telaga. Tempatnya indah
telsembunyi dan aman. Tanahnya subul dan tidak kekulangan makanan, banyak pula
ikan di ail telaga. Kau tinggal di sana pasti aman. Aku akan
nnelindungimu."
Tiba-tiba Listyarini mendapat
pikiran yang dianggapnya amat baik.
"Ah, engkau benar, Ki Tejoranu!
Untuk sementara aku tinggal di sana, lalu kita mengutus seseorang yang tinggal
di dusun terdekat untuk memberi kabar kepada Ki Patih Narotama bahwa aku berada
di sana. Tentu suamiku akan segera datang menjemputku!"
Dalam suara wanita itu terkandung
harapan dan kegembiraan besar. Ki Tejoranu tersenyum sehingga matanya yang
sipit hampir terpejam.
"Bagus! Bagus dan baik sekali
pikilan itu, Mas ayu. Sebaiknya diatul begitu. Nanti aku yang mencali olang
untuk diutus membeli kabal ke Kepatihan Kahulipan! Kalau begitu, mali, Mas ayu,
mali kita pulang!" Laki-laki itupun tampak gembira bukan main.
"Pulang .....?" Listyarini
bertanya, sejenak termangu kata-kata itu membuat ia terbayang kepada gedung
kepatihan dan keluarganya.
"Ya, pulang ..... maksudku
..... pelgi ke pondokku .....!" kata Ki Tejoranu, lalu dia menghampiri dua
ekor kuda yang tadi ditambatkan pada batang pohon dan membawa dua ekor kuda itu
dengan menuntunnya.
Listyarini mengikuti dari belakang
dan mereka menuruni lembah menuju ke Telaga Sarangan yang tidak begitu jauh
dari tempat itu. Ketika mereka tiba di pondok, Listyarini melihat sebuah pondok
yang memang kokoh kuat, terbuat dari balok balok kayu besar. Namun pondok itu
sederhana sekali, walaupun tampak bersih dan terawat baik-baik. Meja kursinya
juga buatan sendiri, kasar namun kokoh. Akan tetapi di dapur terdapat bahan
makanan yang cukup banyak. Jagung, ketela, bahkan beras, buah-buahan dan segala
macam bumbu masak. Perabotan dapurnya terbuat dari tanah liat, juga serba tebal
dan kuat. Ada beberapa buah guci Cina yang indah, juga tempayan besar berisi
air jernih. Ada dua buah kamar di pondok itu dan begitu sampai di situ, Ki
Tejoranu sibuk membersihkan sebuah kamar yang tadinya tidak terpakai,
dipersiapkan untuk Listyarini. Senang juga hati Listyarini tinggal untuk
sementara di tempat itu, biarpun serba sederhana namun bersih dan udaranya sejuk,
penuh dengan pohon-pohon dan terutama sekali yang menyenangkan hatinya, sikap
Ki Tejoranu terhadap dirinya bahkan melebihi apa yang dia bayangkan. Ramah dan
sopan, bahkan penuh pengartian dan lembut sehingga terkadang ia merasa terharu
sekali.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi
sekali Ki Tejoranu sudah menuruni lereng menuju ke sebuah dusun kecil di kaki
Gunung Lawu sebelah timur. Dengan memberikan sedikit perhiasan berupa sebuah
cincin bermata mirah milik Listyarini dan seekor kuda, Ki Tejoranu berhasil
membujuk seorang laki-laki dusun berusia empat puluh tahun bernama Sukardi
untuk pergi ke kepatihan Kerajaan Kahuripan dan melapor kepada Patih Narotama
bahwa Gusti Puteri Listyarini berada di Telaga Sarangan dan minta dijemput.
"Selahkan cincin ini kepada Ki
Patih dan dia akan pelcaya ketelanganmu, dan kuda ini boleh kau miliki. Setelah
selesai tugasmu, aku akan membeli hadiah lain lagi padamu." Pesan Ki
Tejoranu dan Sukardi menyanggupi.
Hari itu juga dia menunggang kuda
menuju ke timur, Kerajaan Kahuripan. Mendengar laporan Ki Tejoranu bahwa dia
berhasil menyuruh seseorang pergi melapor ke Ki Patih Narotama, hati Listyarini
merasa gembira bukan main. Saking girangnya ia lalu berjanji kepada Ki Tejoranu
bahwa siang hari itu ia akan membuat masakan lezat untuk penolongnya itu. Ki
Tejoranu segera pergi memancing ikan dan sebentar saja dia sudah pulang membawa
empat ekor bader yang gemuk dan besar. Lalu dipotongnya leher seekor ayam gemuk
dan besar. Listyarini lalu sibuk memasak nasi dan masakan daging ayam dan ikan
itu. la sibuk di dapur dan sama sekali menolak bantuan Ki Tejoranu. Laki-laki
itu tersenyum dan duduk di luar, termenung dan merasa betapa indahnya hari itu,
betapa bahagianya hatinya. Belum pernah sejak dia melarikan diri dari Cina dia
merasa berbahagia seperti pada hari itu! Akan tetapi, selagi sibuk memasak
tiba-tiba Listyarini mendengar suara gaduh di luar pondok, disusul
teriakan-teriakan orang dan beradunya senjata berdentingan. La terkejut dan
cepat berlari ke depan, lalu mengintai dari balik daun pintu depan. Alangkah
terkejutnya ketika ia melihat Ki Tejoranu berkelahi dikeroyok tiga orang.
Seorang di antara para pengeroyok itu bukan lain adalah Nismara! Adapun yang
dua orang lagi, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya serba hitam, sikapnya kasar,
yang seorang memegang sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi-besi
kecil dan yang seorang lagi bersenjatakan sepasang ujung kolor berwarna merah
yang panjang. Mereka adalah dua orang jagoan warok yang dimintai bantuan oleh
Nismara dari daerah Ponorogo. Seperti juga para jagoan di dunia persilatan
lainnya, para warok dari Ponorogo pun terpisah menjadi dua bagian, sebagian
terkenal sebagai warok yang hidup sesat, mengandalkan kesaktian dan kekuatan
mereka untuk melakukan penindasan dan kekerasan memaksakan kehendak mereka
sendiri, mengejar kesenangan dan gairah nafsu daya rendah sendiri. Sedangkan
yang sebagian lagi terkenal sebagai para warok pendekar yang selalu menegakkan
kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang yang jahat.
Dua orang warok yang datang membantu
Nismara ini adalah dua orang warok golongan sesat yang dimintai bantuan oleh
Nismara dengan imbalan emas. Setelah perbuatannya yang tidak senonoh terhadap
Listyarini digagalkan Ki Tejoranu dan dia merasa tidak mampu menandingi
kesaktiannya, Nismara lalu melarikan diri. Tentu saja dia tidak mau kehilangan
Listyarini setelah bersusah payah menculiknya dari Kepatihan Kahuripan.
No comments:
Post a Comment