Bagian 43


Setelah dapat membunuh tuan muda Bong itu barulah kemarahannya mereda dan karena tahu bahwa kalau dia melanjutkan, amukannya, akhirnya dia akan mati dikeroyok banyak prajurit, akhirnya dia melarikan diri.

"Begitulah, Mas ayu Lini. Aku dikejal pasukan, telpaksa melalikan dili ke sini, ikut pelahu jong bekelja menjadi kuli dan melantau, kalena takut pembesal Bong mengilim olang-olang pandai mencali, aku belpindah pindah dan akhilnya aku belsembunyi di daelah ini, dekat telaga sana." Ki Tejoranu mengakhiri ceritanya.

Sejak tadi Listyarini mendengarkan dengan penuh perhatian. Biarpun bicaranya pelo, namun ternyata Ki Tejoranu sudah fasih berbahasa daerah sehingga ia dapat menangkap semua ceritanya. Ia menghela napas panjang, membayangkan betapa besar persamaan kejahatan orang dinegeri Cina dan di sini. Orang-orang berkuasa condong untuk memiliki watak hadigang hadigung-hadiguna, memegang aji mumpung, menggunakan kekuasaan, harta dan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang. Ketenangan kehidupan di Kahuripan sendiri hanya terlaksana karena kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dengan bantuan suaminya, Ki Patih Narotama. Karena raja dan patihnya itu berwatak adil, berbudi bawa laksana, maka para pembesarnya takut untuk melakukan pelanggaran, tidak berani bertindak sewenang wenang mengandalkan kedudukan dan kekuasaan mereka. Akan tetapi di daerah daerah yang agak jauh dari kota raja, sering terdengar penindasan dan kesewenangan seperti yang menimpa diri Ki Tejoranu itu.
"Ah, kasihan sekali engkau, Ki lejoranu. Jadi, sudah lima tahun engkau meninggalkan negerimu? Lalu bagaimana kabarnya dengan adikmu, siapa namanya tadi, Kim Lan?"
"Ya, The Kim Lan. Sebelum aku pelgi, aku sudah belusaha mencalinya, namun sia-sia. Dan aku mendengal kabal yang lebih menyedihkan lagi, yaitu .....tunanganku..... yang belnama Mei Hwa, telah dipaksa, diambil menjadi isteli ke tiga dali Pembesal Bong, untuk balas dendam padaku!" Setelah berkata demikian, Ki Tejoranu mengayun tangannya ke atas batu.
"Brakkk!" Tepi batu itu pecah berhamburan dan Listyarini melihat pemuda Cina itu mengusap beberapa butir air mata dengan punggung tangannya.
Listyarini merasa terharu.
"Ah, Ki Tejoranu, penderitaanmu sungguh berat. Akan tetapi percayalah. Sang Hyang Widhi akhirnya akan melindungi yang benar dan akan menghukum yang jahat. Sekarang aku semakin yakin bahwa engkau adalah seorang yang baik dan aku makin percaya padamu, Ki Tejoranu." Listyarini bangkit, menghampiri laki-laki itu dan menyentuh pundaknya dengan lembut. Ki Tejoranu meletakkan tangannya diatas tangan Listyarini yang menyentuh pundaknya. Hanya sebentar saja dan dia sudah menarik kembali tangannya.
"Telima kasih, Mas ayu Lini, telima kasih. Hatiku sudah tidak sedih lagi sekalang." Dan untuk membuktikan ini, Ki Tejoranu tersenyum.
"Duduklah, Mas ayu dan sekalang celitakan tentang dilimu."

Listyarini lalu kembali ke tempat luduknya semula. Setelah ia menarik napas panjang beberapa kali, mulailah ia menceritakan tentang dirinya.
"Aku berasal dari Nusa Bali bernama Ni Nogati. Setelah aku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan, namaku diganti menjadi Listyarini. Aku hidup bahagia dengan suamiku, hidup saling mencinta dan mulia di Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi semenjak suamiku, Ki Patih Narotama mengambil seorang puteri Kerajaan Parang Siluman yang bernama Lasmini menjadi selir, datanglah gangguan dalam hidupku. Pertama aku diracuni orang sampai hampir mati. Untung suamiku seorang pandai sehingga aku dapat disembuhkan. Kami semua tidak tahu siapa pelakunya karena Tarni, dayang yang membawakan jamu yang diisi racun itu telah dibunuh oleh Lasmini. Diam-diam aku curiga kepadanya, akan tetapi tidak ada bukti, maka aku tak dapat berbuat apa-apa. Kemudian datanglah malapetaka itu ....." Listyarini menghela napas panjang.
"Apa yang teljadi, Mas ayu Lini?"
"Pada suatu sore, ketika aku seorang diri dalam taman, seorang perwira pasukan pengawal kepatihan bernama Nismara, menculik aku dan melarikan aku keluar dari kepatihan. Dia membawaku lari sampai berhari-hari lamanya. Selama itu dia tidak berani menggangguku karena agaknya dia dicekam ketakutan kalau-kalau sampai dapat dikejar suamiku yang sakti mandraguna. Menurut keterangan dan pengakuannya dalam perjalanan dia menculikku karena disuruh oleh Lasmini dengan tujuan agar Lasmini dapat menggantikan kedudukanku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama. Setelah tiba di sini, dia merasa aman dan bebas dari pengejaran suamiku, maka dia mempunyai niat keji untuk menggangguku. Untung engkau datang dan menolongku, Ki Tejoranu."

Mendengar kisah ini, Ki Tejoranu melompat dari atas batu yang didudukinya, mencabut sepasang goloknya dan mencaci maki dalam bahasa Cina yang sama sekali tidak dimengerti oleh Listyarini sambil memainkan sepasang goloknya. Dua gulungan sinar menyambar-nyambar dahsyat dan daun-daun pohon di dekatnya rontok berhamburan seperti hujan daun! Melihat ini, Listyarini merasa kagum akan tetapi juga ngeri. Orang itu tidak tampak lagi, hanya bayangannya saja yang terbungkus dua sinar yang bergulung-gulung.
"Sudahlah, K i Tejoranu, jangan mengamuk. Aku ngeri melihatnya." katanya halus. Ki Tejoranu menghentikan permainan silatnya dan sepasang golok itu sudah kembali ke tempatnya semula, tersilang di belakang punggungnya.
"Maaf, Mas ayu, aku membuat engkau kaget dan ngeli." katanya sambil merangkap kedua tangan di depan dada dengan sikap hormat.
"Tadi engkau bicara apa, Ki Tejoranu! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kaukatakan." Listyarini bertanya sambil tersenyum.
Ki Tejoranu tersenyum malu.
"Aku ..... ah, tidak apa-apa, Mas ayu, aku malah dan memaki-maki Nismala itu dan aku melasa menyesal membialkan dia lolos. Kalau aku tahu dia begitu jahat tentu sudah kubunuh dia!"
"Engkau tidak perlu merepotkan hal itu, Ki Tejoranu. Suamiku sendiri tentu akan mengambil tindakan tegas terhadap dua orang yang merencanakan penculikan terhadap diriku itu. Sekarang aku hendak minta bantuanmu, Ki Tejoranu. Engkau tentu mau membantu dan menolongku bukan?"
"Tentu saja, Mas ayu Lini. Bantuan apa yang dapat kubelikan untukmu?"
"Begini, Ki Tejoranu. Maukah engkau mengantar aku pulang ke Kepatihan Kerajaan Kahuripan? Ketika penjahat itu melarikan aku sampai ke sini, perjalanan memakan waktu kurang lebih sepuluh hari. Itupun sebagian dilakukan dengan jalan kaki dan dia memondongku. Kalau dilakukan dengan menunggang kuda, tentu lebih cepat lagi. Di sana dua ekor kuda itu masih ada, dapat kita pergunakan."
Mendengar permintaan ini, Ki Tejoranu tampak tertegun dan sejenak dia bengong tak mampu menjawab sehingga Listyarini mendesaknya.
"Bagaimana, Ki Tejoranu? Engkau tentu tidak berkeberatan untuk mengantarku, bukan? Suamiku tentu akan memberi imbalan yang memadai, bahkan aku akan minta kepadanya agar engkau diberi kedudukan tinggi dalam pasukannya."
"Hayaa....." Ki Tejoranu mengeluh, lalu berkata,
"Tentu saja aku selalu mau membantumu, Mas ayu, akan tetapi aku..... aku ..... bukan tidak mau, melainkan tidak belani."
"Tidak berani? Engkau yang memiliki kepandaian begitu tinggi?"
"Sudah kucelitakan padamu, aku selama ini melantau, belpindah-pindah, sekalang sembunyi di sini. Aku memang takut kalena aku tahu bahwa Pembesal Bong mengutus olang-olang pandai mencaliku dan akan membunuhku."
"Tapi engkau dapat melawan mereka! Apalagi kalau engkau sudah berada di Kepatihan, suamiku tentu akan melindungimu!"
Ki Tejoranu menggeleng kepala.
"Engkau tidak tahu, Mas ayu, olang-olang yang diutus itu lihai-lihai sekali, bahkan aku dengal bahwa Pembesal Bong sudah dapat membujuk guluku untuk ikut mencali aku. Aku takut pelgi jauh dali sini Mas ayu. Maafkan aku." Ki Tejoranu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan memberi hormat berulang-ulang sehingga Listyarini merasa tidak enak untuk memaksanya, la mengerti bahwa orang ini benar-benar ketakutan, dan hal itu tidak aneh kalau diingat bahwa gurunya sendiri ikut mencari untuk membunuhnya!
"Kalau begitu, menurut pendapatmu bagaimana baiknya? Apa yang harus ku lakukan sekarang, Ki Tejoranu?" Ia berhenti sebentar.
"Bagaimana kalau aku menunggang kuda dan mencoba untuk kembali sendiri ke Kahuripan?"
"Aihh! Jangan, jangan Mas Lini! Jangan lakukan itu, belbahaya sekali, sebelum sampai di sana, engkau bisa celaka. Banyak sekali olang jahat dalam peljalananmu itu!"
"Lalu bagaimana baiknya? Pulang sendiri tidak boleh dan engkau tidak berani mengantarku!"
"Begini saja, Mas ayu. Aku sudah membangun sebuah pondok yang kokoh di dekat telaga. Tempatnya indah telsembunyi dan aman. Tanahnya subul dan tidak kekulangan makanan, banyak pula ikan di ail telaga. Kau tinggal di sana pasti aman. Aku akan nnelindungimu."
Tiba-tiba Listyarini mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik.
"Ah, engkau benar, Ki Tejoranu! Untuk sementara aku tinggal di sana, lalu kita mengutus seseorang yang tinggal di dusun terdekat untuk memberi kabar kepada Ki Patih Narotama bahwa aku berada di sana. Tentu suamiku akan segera datang menjemputku!"
Dalam suara wanita itu terkandung harapan dan kegembiraan besar. Ki Tejoranu tersenyum sehingga matanya yang sipit hampir terpejam.
"Bagus! Bagus dan baik sekali pikilan itu, Mas ayu. Sebaiknya diatul begitu. Nanti aku yang mencali olang untuk diutus membeli kabal ke Kepatihan Kahulipan! Kalau begitu, mali, Mas ayu, mali kita pulang!" Laki-laki itupun tampak gembira bukan main.
"Pulang .....?" Listyarini bertanya, sejenak termangu kata-kata itu membuat ia terbayang kepada gedung kepatihan dan keluarganya.
"Ya, pulang ..... maksudku ..... pelgi ke pondokku .....!" kata Ki Tejoranu, lalu dia menghampiri dua ekor kuda yang tadi ditambatkan pada batang pohon dan membawa dua ekor kuda itu dengan menuntunnya.

Listyarini mengikuti dari belakang dan mereka menuruni lembah menuju ke Telaga Sarangan yang tidak begitu jauh dari tempat itu. Ketika mereka tiba di pondok, Listyarini melihat sebuah pondok yang memang kokoh kuat, terbuat dari balok balok kayu besar. Namun pondok itu sederhana sekali, walaupun tampak bersih dan terawat baik-baik. Meja kursinya juga buatan sendiri, kasar namun kokoh. Akan tetapi di dapur terdapat bahan makanan yang cukup banyak. Jagung, ketela, bahkan beras, buah-buahan dan segala macam bumbu masak. Perabotan dapurnya terbuat dari tanah liat, juga serba tebal dan kuat. Ada beberapa buah guci Cina yang indah, juga tempayan besar berisi air jernih. Ada dua buah kamar di pondok itu dan begitu sampai di situ, Ki Tejoranu sibuk membersihkan sebuah kamar yang tadinya tidak terpakai, dipersiapkan untuk Listyarini. Senang juga hati Listyarini tinggal untuk sementara di tempat itu, biarpun serba sederhana namun bersih dan udaranya sejuk, penuh dengan pohon-pohon dan terutama sekali yang menyenangkan hatinya, sikap Ki Tejoranu terhadap dirinya bahkan melebihi apa yang dia bayangkan. Ramah dan sopan, bahkan penuh pengartian dan lembut sehingga terkadang ia merasa terharu sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Tejoranu sudah menuruni lereng menuju ke sebuah dusun kecil di kaki Gunung Lawu sebelah timur. Dengan memberikan sedikit perhiasan berupa sebuah cincin bermata mirah milik Listyarini dan seekor kuda, Ki Tejoranu berhasil membujuk seorang laki-laki dusun berusia empat puluh tahun bernama Sukardi untuk pergi ke kepatihan Kerajaan Kahuripan dan melapor kepada Patih Narotama bahwa Gusti Puteri Listyarini berada di Telaga Sarangan dan minta dijemput.
"Selahkan cincin ini kepada Ki Patih dan dia akan pelcaya ketelanganmu, dan kuda ini boleh kau miliki. Setelah selesai tugasmu, aku akan membeli hadiah lain lagi padamu." Pesan Ki Tejoranu dan Sukardi menyanggupi.
Hari itu juga dia menunggang kuda menuju ke timur, Kerajaan Kahuripan. Mendengar laporan Ki Tejoranu bahwa dia berhasil menyuruh seseorang pergi melapor ke Ki Patih Narotama, hati Listyarini merasa gembira bukan main. Saking girangnya ia lalu berjanji kepada Ki Tejoranu bahwa siang hari itu ia akan membuat masakan lezat untuk penolongnya itu. Ki Tejoranu segera pergi memancing ikan dan sebentar saja dia sudah pulang membawa empat ekor bader yang gemuk dan besar. Lalu dipotongnya leher seekor ayam gemuk dan besar. Listyarini lalu sibuk memasak nasi dan masakan daging ayam dan ikan itu. la sibuk di dapur dan sama sekali menolak bantuan Ki Tejoranu. Laki-laki itu tersenyum dan duduk di luar, termenung dan merasa betapa indahnya hari itu, betapa bahagianya hatinya. Belum pernah sejak dia melarikan diri dari Cina dia merasa berbahagia seperti pada hari itu! Akan tetapi, selagi sibuk memasak tiba-tiba Listyarini mendengar suara gaduh di luar pondok, disusul teriakan-teriakan orang dan beradunya senjata berdentingan. La terkejut dan cepat berlari ke depan, lalu mengintai dari balik daun pintu depan. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Ki Tejoranu berkelahi dikeroyok tiga orang. Seorang di antara para pengeroyok itu bukan lain adalah Nismara! Adapun yang dua orang lagi, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya serba hitam, sikapnya kasar, yang seorang memegang sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi-besi kecil dan yang seorang lagi bersenjatakan sepasang ujung kolor berwarna merah yang panjang. Mereka adalah dua orang jagoan warok yang dimintai bantuan oleh Nismara dari daerah Ponorogo. Seperti juga para jagoan di dunia persilatan lainnya, para warok dari Ponorogo pun terpisah menjadi dua bagian, sebagian terkenal sebagai warok yang hidup sesat, mengandalkan kesaktian dan kekuatan mereka untuk melakukan penindasan dan kekerasan memaksakan kehendak mereka sendiri, mengejar kesenangan dan gairah nafsu daya rendah sendiri. Sedangkan yang sebagian lagi terkenal sebagai para warok pendekar yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang yang jahat.

Dua orang warok yang datang membantu Nismara ini adalah dua orang warok golongan sesat yang dimintai bantuan oleh Nismara dengan imbalan emas. Setelah perbuatannya yang tidak senonoh terhadap Listyarini digagalkan Ki Tejoranu dan dia merasa tidak mampu menandingi kesaktiannya, Nismara lalu melarikan diri. Tentu saja dia tidak mau kehilangan Listyarini setelah bersusah payah menculiknya dari Kepatihan Kahuripan.

<<<Bagian 42                                                                                         Bagian 44 >>>

No comments:

Post a Comment