Nalurinya mengatakan bahwa saat itu Nismara seperti kemasukan iblis dan ia memandang ngeri.
"Nismara, kau mau apa
.....?" tanyanya dan wajahnya sudah berubah pucat.
Nismara tersenyum, menyeringai
seperti seekor srigala memperlihatkan taringnya.
"Mari kubantu engkau turun,
Listyarini, kita melanjutkan perjalanan." katanya sambil menjulurkan
tangannya.
Listyarini merasa agak lega dan ia
menerima uluran tangan itu. Akan tetapi ketika ia sudah turun dari atas batu,
tiba-tiba saja kedua lengan Nismara mendekapnya dengan kuat dan muka laki laki
itu mendekati mukanya, berusaha untuk menciuminya.
"Jangan.....!
Tidaaak.....!" Listyarini menjerit dan mengelak dari ciuman dengan
memalingkan mukanya ke kanan kiri. Akan tetapi tentu saja ia kalah kuat dan
pada saat hidung Nismara mendarat di pipi kirinya, dalam kenekatannya
Listyarini mengangkat lututnya ke atas. Nismara berteriak mengaduh dan
rangkulannya mengendur karena lutut kaki Listyarini tepat menghantam bawah
pusarnya. Listyarini meronta sekuat tenaga sehingga terlepas dari rangkulan
lalu membalik dan melarikan diri. Akan tetapi hanya sebentar Nismara kesakitan.
Dia melompat dan mengejar. Akhirnya dia dapat menubruk dari belakang dan
memeluk Listyarini. Wanita itu terguling dan Nismara ikut pula terjatuh Mereka
bergulingan di atas rumput. Lityarini mencoba untuk memukul, mencakar bahkan
menggigit. Namun karena kalah kuat, akhirnya Nismara dapat menindihnya dan
memegangi kedua pergelangan tangannya.
Pada saat yang teramat gawat bagi
kehormatan Listyarini itu, tiba-tiba saja sebuah tangan mencengkeram rambut
kepala Nismara, menariknya ke belakang dengan sentakan yang demikian kuatnya
sehingga Nismara berteriak kesakitan dan tubuhnya terseret ke belakang. Sebuah
tendangan menyusul dan tubuh Nismara terpental bergulingan. Akan tetapi yang
paling nyeri adalah kepalanya. Rambutnya seolah tercabut copot semua, rasanya
pedih dan panas. Dia meraba kepalanya dan merasa lega bahwa rambutnya masih
ada. Dia melompat berdiri dan dengan mata merah dia memandang ke depan. Dia
melihat seorang laki-laki membantu Listyarini bangun dan berkata kepada wanita
itu.
"Ke sanalah, nona. Biar kuhajar
orang jahat ini."
Laki-laki itu bicara dengan suara
pelo. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya agak
pucat kekuningan, matanya sipit dan rambutnya digelung ke atas dan diikat
dengan pita biru. Dari raut wajahnya sampai bentuk baju dan celananya tahulah
Nismara bahwa, pemuda itu adalah seorang berbangsa Cina. Pernah dia melihat
beberapa orang Cina berkunjung ke Kahuripan, sebagian sebagai pedagang dan ada
pula yang menjadi tukang-tukang yang ahli dalam pembuatan perabot rumah tangga
dari kayu dan rotan atau dari bambu. Sungguh mengherankan sekali di tempat
sesunyi itu dia bertemu dengan seorang Cina. Akan tetapi orang Cina itu telah
berani mengganggunya, bahkan menyeret dan menendangnya sehingga dia gagal
memperkosa Listyarini. Dia bangkit dan mukanya berubah merah ketika dia
memandang kepada pemuda Cina itu dengan mata melotot.
”Setan alas keparat busuk! Siapa
engkau berani mencampuri urusanku?" ia menghardik dan tangan kanannya
meraba gagang keris yang terselip di pinggangnya. Dengan bahasa daerah yang
cukup jelas dan lancar namun yang diucapkannya dengan pelo, orang itu menjawab,
"Nama saya The Jiauw Lan
....."
"Siapa?" Nismara
menegaskan karena nama yang diucapkan orang itu tidak dapat ditangkap
telinganya dengan baik.
"The Jiauw Lan," Orang
Cina itu mengulang. Namun tetap saja Nismara tidak dapat menerima jelas.
"Sudahlah, persetan dengan
namamu! Kenapa engkau berani mencampuri urusanku dengan wanita itu? Hayo cepat
minggat dari sini, atau aku akan membunuhmu!" Dia mencabut kerisnya dan
mengancam.
The Jiauw Lan menggeleng-geleng
kepalanya.
"Aku tidak ingin berkelahi,
tidak ingin mencari musuh. Akan tetapi kau jangan ganggu pelempuan itu. Itu
tidak baik, salah dan jahat sekali! Kau pelgilah, jangan ganggu ia!"
"Babo-babo, keparat. Berani
engkau menghalang dan menantangku? Engkau sudah bosan hidup. Mampuslah!"
Nismara lalu menubruk sambil
menyerang dengan kerisnya. Gerakannya cukup cekatan dan mengandung tenaga kuat.
Dia merupakan seorang perwira kepatihan yang cukup tangguh. Namun, tusukan
keris itu hanya mengenai tempat kosong karena The Jiauw Lan dapat cepat
mengelak dengan geseran kakinya yang lincah sekali. Nismara menjadi semakin
marah. Dia cepat menyusulkan serangan kerisnya, lagi, dilanjutkan dengan
tamparan tangan kirinya. Ketika tusukan keris dan tamparan tangan itu kembali
hanya mengenai tempat kosong, dia menambahkan dengan tendangan bertubi-tubi.
Namun semua serangannya itu tidak mengenai sasaran. Lawannya ternyata memiliki
gerakan yang amat lincah, tubuhnya berkelebatan ke kanan kiri dan semakin cepat
dan gencar Nismara menyerang, semakin cepat pula dia bergerak menghindar.
”Aku tidak ingin belkelahi.
Pelgilah......!" The Jiauw Lan berseru lagi.
Akan tetapi karena merasa penasaran,
Nismara tetap saja menyerang secara bertubi-tubi. Ketika kerisnya meluncur ke
arah perut lawan, tiba-tiba orang Cina itu menepis dengan tangan kiri dari
samping. Tepisan dengan jari-jari tangan ini mengenai pergelangan tangan yang
memegang keris.
"Tukk!" Keris terlepas
dari pegangan dan di lain detik, sebuah tendangan mengenai perut Nismara.
"Bukk .....!" Tubuh
Nismara terjengkang. Dia merasa lengan kanannya nyeri dan perutnya mendadak
mulas. Terkejutlah dia dan sekarang baru dia menyadari bahwa dia berhadapan
dengan orang yang pandai dan tangguh. Maka cepat dia menyambar kerisnya yang
menggeletak di dekatnya, kemudian dia bangkit dan melarikan diri.
"Jahanam, kau tunggu
pembalasanku!" teriaknya mengancam sambil melanjutkan larinya. Orang Cina
itu hanya memandang sambil menggeleng-geleng kepala.
"Helan ..... di sana ..... di sini
..... dunia ini penuh olang jahat ....." Dia menghela napas panjang lalu
memutar tubuhnya untuk memandang wanita yang nyaris diperkosa penjahat tadi.
Listyarini berdiri di bawah pohon.
Sejak tadi ia menonton perkelahian itu. Dia mengerti bahwa orang yang bicaranya
pelo itu sedang membelanya, maka tentu saja diam-diam ia mendoakan kemenangan
bagi orang asing itu. Mula mula ia merasa ngeri melihat Nismara menyerang
bertubi-tubi dengan kerisnya dan agaknya orang asing itu terdesak. Ia sudah
mengambil keputusan nekat. Ada sebuah batu besar di bawah pohon didekatnya.
Kalau ia melihat pembelanya itu kalah, ia akan membunuh diri dengan
menghantamkan kepala sendiri kepada batu besar itu. Akan tetapi ternyata
pembelanya itu menang dan Nismara melarikan diri! Hal yang sama sekali tidak
disangkanya ini membuat wajahnya yang tadinya pucat berubah kemerahan berseri,
sinar mata yang tadinya layu kini bercahaya dan bibirnya yang mungil berkembang
dan muncullah senyumnya yang manis penuh rasa bahagia.
Tadi ketika melihat seorang
laki-laki hendak memperkosa seorang wanita, The Jiauw Lan tidak dapat tinggal
diam saja dan cepat dia mencegah. Pada saat itu, dia sama sekali tidak
memperhatikan wajah Listyarini. Baru sekarang dia bertatap muka dengan
Listyarini, melihat wajah yang berseri, mata yang indah bercahaya serta
senyuman yang manis itu. Dia terbelalak heran, terpesona, lalu tiba-tiba dia
menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah sambil berucap penuh hormat.
"Kwan Im Pouwsat .....!"
Kwan Im Pouwsat atau Dewi Kwan Im
adalah sebutan seorang dewi kahyangan yang juga disebut Dewi Kebajikan, Dewi
Penolong atau Dewi Welas Asih yang terkenal cantik jelita dan sakti mandraguna.
Dalam dongeng di Negeri Cina, sang dewi ini sering kali muncul di dunia untuk
menyelamatkan manusia, dan tidak jarang pula ia menjelma manusia biasa untuk
menguji budi pekerti orang. Jadi, menurut kepercayaan The Jiauw Lan, bukan
mustahil kalau tadi Kwan Im Pouwsat sengaja menyamar sebagai wanita yang hendak
diperkosa penjahat untuk mengujinya! The Jiauw Lan percaya sekali sang dewi
yang menjadi pujaan seluruh rakyat di Negeri Cina itu, maka melihat Listyarini
yang demikian cantik jelita, anggun dan penuh wibawa serta merta dia
menganggapnya Dewi Kwan Im dan memberi hormat sambil mohon ampun dan menghaturkan
terima kasih.
Listyarini tertegun. Penolongnya itu
tiba-tiba berlutut kepadanya, menyembah-yembah dan berkata-kata dalam bahasa
yang tidak dimengertinya sama sekali! Ia menengok ke belakangnya, untuk melihat
kalau-kalau di sana ada orang lain yang dihormati penolongnya itu. Akan tetapi
tidak ada siapa-siapa sehingga jelaslah bahwa ia yang disembah-sembah itu.
Maka, ia lalu melangkah maju menghampiri penolongnya dan menyentuh pundak orang
itu.
"Ki sanak, bangkitlah dan
bicaralah dengan bahasa yang kumengerti. Jangan menyembah-nyembah seperti
ini."
Sentuhan lembut di pundaknya itu
terasa oleh The Jiauw Lan sebagai sentuhan yang mengandung getaran hebat, maka
makin gencar dia menyembah karena hatinya makin yakin bahwa yang menyentuhnya
itu benar-benar jari tangan Kwan Im Pouwsat yang sakti.
"Paduka Kwan Im Pouwsat .....
Kwan Im Pouwsat ..... saya holmati ....."
"Kwan Im Pouwsat? Siapa itu
....." Listyarini bertanya heran.
"Dewi pujaan kami, Dewi Solga
yang bijaksana, penyelamat manusia. Paduka Dewi Kebajikan, maafkan saya
....."
Kini mengertilah Listyarini. Ia
merasa geli dan tertawa. Tawanya lembut tertahan dan sopan.
"Heh-heh, aku sama sekali bukan
dewi kahyangan, ki sanak. Aku manusia biasa. Bangkitlah dan mari kita bicara.
Engkaulah yang menolongku dan aku berterima kasih sekali kepadamu."
Mendengar ini, The Jiauw Lan
mengangkat mukanya dan memandang heran. Kini baru dia melihat bahwa yang
berdiri di depannya adalah seorang wanita Jawa yang sudah pasti seorang
bangsawan tinggi, cantik jelita dan anggun. Mungkin saja Kwan Im Pouwsat yang
menyamar, akan tetapi wanita itu mengaku bahwa ia seorang manusia biasa. Maka
diapun bangkit berdiri.
"Engkau ..... seolang manusia
biasa? Benalkah itu? Akan tetapi, bagaimana bisa belada di tempat ini dan siapa
pula olang jahat tadi? Siapakah engkau dan dali mana?"
Pertanyaannya meluncur bagaikan
hujan dan Listyarini tersenyum. Biarpun laki-laki ini asing dan bicaranya lucu
dan pelo, namun ia dapat merasakan dan tahu dari pandang matanya bahwa orang
ini bukan orang jahat hamba nafsu.
"Ceritanya panjang, ki sanak.
Marilah duduk dan akan kuceritakan semua untuk menjawab pertanyaanmu itu."
Listyarini duduk di atas batu dan
laki-laki itu duduk di atas batu lain tak jauh darinya.
"Ki sanak, sebelum aku
menceritakan keadaan diriku, kuharap engkau suka lebih dulu menceritakan
tentang dirimu. Memang aku telah menerima pertolongan darimu dan aku percaya
sepenuhnya kepadamu, namun kiranya tidaklah pantas bagi seorang wanita
menceritakan keadaan dirinya kepada seorang pria yang tidak dikenalnya sama
sekali. Ki sanak, maukah engkau bercerita tentang dirimu kepadaku?"
"Tentu, tentu saja, nona.
Namaku adalah The Jiauw Lan." kata laki-laki itu dengan nada gembira.
"Tejo ..... siapa?"
"The Jiauw Lan."
"Wah, sulit sekali namamu.
Tejoranu begitukah?"
Sepasang mata itu menjadi semakin
sipit ketika dia tertawa.
"Tejolanu Begitu juga
baiklah."
"Baik, mulai sekarang aku akan
menyebutmu Ki Tejoranu. Setujukah engkau?"
"Ki Tejolanu? Ha-ha-ha, Ki
Tejolanu! Bagus sekali, aku suka nama itu. Mulai sekalang, aku adalah Ki
Tejolanu!" kata lakilaki itu sambil tertawa senang. Ketika tertawa,
wajahnya yang tadinya tampak asing karena matanya yang sipit itu kelihatan
cerah dan menyenangkan, sehingga Listyarini juga ikut tertawa.
"Nah, sekarang ceritakan tentang
dirimu, riwayatmu, Ki Tejoranu. Aku tahu bahwa engkau tentu seorang asing. Dari
mana engkau datang dan bagaimana engkau dapat berada di sini?"
"Aku belasal dali
Tiongkok."
"Tiongkok? Di mana itu?"
"Aku bangsa Cina, dali Negeli
Cina, nona."
"Jangan sebut aku nona. Aku
sudah bersuami, namaku Listyarini."
"Listyalini?"
"Ya, jangan sebut nona, sebut
aku dengan mas ayu Listyarini."
"Mas ayu Lini, begitu lebih
mudah dan tidak telalu panjang. Bolehkah?"
"Baiklah, Ki Tejoranu. Nah,
teruskan ceritamu. Engkau berasal dari Negeri Cina? Aku pernah mendengar
tentang negara dan kerajaan besar di seberang itu, akan tetapi baru sekarang
aku bertemu dengan seorang Cina."
Ki Tejoranu lalu menceritakan
riwayatnya. The Jiauw Lan atau yang kini kita kenal sebagai Ki Tejoranu itu
tadinya tinggal di sebuah dusun dekat kota Nan-king. Lima tahun yang lalu,
ketika itu dia berusia dua puluh tahun, dia seorang yang dikenal sebagai
seorang pendekar yang cukup lihai dan ditakuti golongan sesat karena permainan
sepasang goloknya yang hebat sehingga dia dijuluki Sha-Jiong-to (Golok Pembunuh
Naga). Karena dia selalu bersikap menentang kejahatan, pada suatu hari dia
menghajar seorang pemuda dari Nan-king yang mencoba mengganggu dan menculik
seorang gadis dusun, dibantu beberapa orang jagoannya. Ki Tejoranu menghajar
kongcu (tuan muda) hidung belang itu bersama para jagoannya sehingga mereka
kocar kacir melarikan diri pulang ke Nan-king. Ki Tejoranu sama sekali tidak
tahu bahwa yang dihajarnya itu adalah putera seorang pejabat tinggi, bahkan
masih keponakan dari seorang pangeran!
Ketika beberapa hari kemudian dia
mengetahui akan hal ini, dia terkejut dan khawatir, akan tetapi telah
terlambat. Dia mendengar dari seorang teman ketika dia keluar rumah. Karena
khawatir akan akibat peristiwa itu, dia cepat pulang, akan tetapi apa yang
ditemukannya di rumahnya? Ayah dan ibunya telah tewas terbunuh, adiknya,
seorang gadis kecil berusia empat belas tahun, telah hilang entah ke mana dan
rumah mereka porak poranda dihancurkan sejumlah perajurit yang dipimpin oleh
Bong-kongcu (tuan muda Bong) yang dihajarnya beberapa hari yang lalu. Dari para
tetangganya dia mendengar bahwa pasukan itu mencarinya lalu mengamuk dan
merusak rumah, membunuh ayah ibunya. Adapun tentang adiknya, The Kim Lan, tidak
ada yang mengetahuinya. Menurut para tetangga, tidak ada yang melihat gadis
cilik itu dibawa lari para prajurit. Mungkin anak itu sempat melarikan diri
entah ke mana. The Jiauw Lan atau Ki Tejoranu marah sekali. Sambil membawa
sepasang goloknya, dia segera pergi ke rumah keluarga Pembesar Bong dan di situ
dia mengamuk. Puluhan orang prajurit pengawal dibunuhnya dan akhirnya dia
berhasil juga membunuh Bong Kongcu.
No comments:
Post a Comment