Bagian 41


Setelah tiba di gedung kepatihan, dengan selalu diikuti Lasmini, Narotama mencari isterinya. Akan tetapi sia-sia, Listyarini tidak dapat ditemukan dan tidak ada seorangpun dayang tahu kemana perginya garwa padmi ki patih itu. Setahu mereka hanyalah bahwa Listyarini seorang diri memasuki taman membawa sebatang pisau dapur. Narotama berlari lagi memasuki taman, diikuti Lasmini. Kini mereka mencari sambil berteriak-teriak memanggil, bergantian.
"Diajeng Listyarini .....!"
"Kakangmbok Listyarini ......!"
Akan tetapi yang menjawab hanya suara gaung gema teriakan mereka. Mereka mencari keluar dan taman, akan tetapi karena tidak menemukan jejak, Narotama menjadi gelisah dan bingung, tidak tahu harus mengejar ke arah mana. Sementara itu, senja telah mulai gelap, malam mulai datang menguasai bumi. Setelah tiba jauh di luar daerah Kerajaan Kahuripan, Narotama mengajak Lasmini untuk mengambil jalan yang menuju ke selatan. Jantung Lasmini berdebar tegang, karena menurut seperti yang telah direncanakan, Nismara yang melarikan Listyarini tentu juga mengambil jalan itu. Dan betapapun cepat larinya Nismara, kalau Narotama melakukan pengejaran yang arahnya tepat, akhirnya Nismara tentu akan tersusul! Akan tetapi otaknya yang cerdik sudah membuat ia mengambil sikap yang amat tepat. Ia berlutut, menyembah dan merangkul kedua kaki Narotama sambil menangis!
Narotama cepat merangkul dan mengangkat bangun selirnya itu.
"Adinda Lasmini, apa yang kaulakukan ini? Apa artinya ini?"
"Aduh kakangmas pujaan hamba .... tidak tahukah paduka betapa remuk redam, betapa hancur luluh hati hamba biarkan paduka untuk mengejar penjahat yang menculik kakangmbok ke selatan? Aduh kakangmas sesembahan hamba, mengapa hati kakangmas begitu tega kepada hamba, menjatuhkan fitnah keji kepada hamba dan keluarga hamba?” Lasmini berkata di antara tangisnya.
"Diajeng Lasmini!" kata Narotama dengan alis berkerut dan memandang wajah selirnya di keremangan malam yang hanya diterangi bulan sepotong.
"Aku mengajak engkau mengejar penculik Listyarini untuk menyelamatkannya dari marabahaya. Aku sama sekali tidak pernah menduga atau mengatakan bahwa pelaku penculikan adalah keluargamu. Mungkin saja penjahat itu melarikan diri ke arah selatan sana! Jangan berkesimpulan yang bukan-bukan!"
Lasmini sudah tidak menangis, akan tetapi ia membiarkan dirinya didekap Narotama dan ia menyandarkan kepalanya yang semerbak harum melati itu didada suaminya.
"Akan tetapi, kakangmas. Semua orang tahu belaka bahwa di selatan sana termasuk wilayah Kerajaan Parang Siluman dimana ibu kandung hamba, Sang Ratu Durgakumala menjadi penguasanya. Penculik itu tentu mengetahui pula bahwa hamba, puteri Parang Siluman, telah menjadi garwa paduka. Bagaimana mungkin dia membawa lari Kakangmbok listyarini ke sana? Sama saja dengan ular menghampiri penggebuk. Kalau paduka melakukan pengejaran memasuki wilayah Kerajaan Parang Siluman, bukankah itu berarti bahwa paduka mencurigai kanjeng ibu ratu dan keluarganya? Tidak, kakangmas, paduka tidak boleh mengejar dalam wilayah Parang Siluman. Hamba malu, kakangmas, malu kepada kanjeng ibu, malu kepada kanjeng rama, malu kepada kanjeng paman yang juga guru hamba, malu kepada seluruh keluarga dan kawula Parang Siluman."

Narotama termenung sejenak. Ah..betulnya juga ucapan yang keluar mulut selirnya yang diseling isak tangis itu.
"Hemm, diajeng Lasmini, semua tuturmu itu dapat kuterima dan memang benarnya. Akan tetapi, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa Listyarini diculik orang memasuki daerah Parang Siluman?"
"Kakangmas, kalau sampai terjadi seperti itu, kalau kemudian ternyata bahwa penjahat itu melarikan Kakang mbok Listyarini ke dalam daerah Parang Siluman dan menyembunyikannya di sana, hamba mempertaruhkan nyawa ini. Hamba siap dipenggal leher hamba sebagai pertanggung jawaban. Akan tetapi sebaliknya, kakangmas, kalau sekarang paduka bersikeras untuk mengejar sampai memasuki perbatasan Parang Siluman, hamba akan membunuh diri sekarang juga di depan kaki paduka. Tidak kuat hamba menderita aib dan malu karena tidak paduka percaya."
Narotama menghela napas panjang dan mengusap rambut kepala selirnya yang masin dipeluknya itu.
"Baiklah, diAjeng. Kalau begitu janji dan tanggung jawabmu, aku tidak akan mengejar ke dalam daerah Kerajaan Parang Siluman. Akan tetapi, lalu ke mana aku harus mencari Listyarini? Aku khawatir sekali akan keselamatannya."
"Harap kakangmas menenangkan hati dan jangan khawatir. Hamba dapat memastikan bahwa keselamatan nyawa kakangmbok Listyarini tidak akan terancam bahaya. Hamba yakin bahwa penculik itu tidak akan membunuhnya."
"Bagaimana andika dapat yakin begitu diajeng?"
"Menurut penalaran, kakangmas. Kalau penjahat itu memang berniat membunuh Kakangmbok Listyarini, tentu hal itu sudah dia lakukan dalam taman, seperti juga dia telah membunuh dua orang tukang kebun itu. Kenyataannya bahwa dia tidak membunuh melainkan menculik Kakangmbok Listyarini menunjukkan bahwa dia tidak ingin membunuhnya sehingga masih terdapat harapan bahwa kita akan dapat menemukannya. Hamba akan membantu dengan taruhan nyawa hamba agar kita dapat menemukan kembali Kakangmbok Listyarini."
Narotama merasa lega sekali. Kalau ada selirnya ini yang membantu, dia merasa yakin bahwa dia akan dapat menemukan kembali garwa padminya yang hilang diculik orang itu.
"Aduh, diajeng Lasmini, terima kasih. Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya. Hatiku sekarang ini merasa risau dan cemas sehingga aku tidak dapat berpikir dengan baik. Kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan sekarang, yayi?"
"Kalau menurut hamba, kakangmas, sebaiknya kita pulang saja dulu. Bagaimanapun juga, hamba yakin Kakangmbok Listyarini tidak akan dibunuh. Kakangmas pulang dulu untuk mencari jalan terbaik. Hamba kira, dengan mengerahkan pasukan yang kita sebar, akan lebih mudah menemukan penculik itu. Juga kita berdua dapat pula melanjutkan pencarian kita. Sekarang, untuk mengejarpun, kita belum tahu ke arah mana penjahat itu lari. Mungkin ke utara, ke timur, atau ke barat. Karena itu, mari kita pulang dulu, menenangkan hati dan merencanakan siasat terbaik untuk mencari Kakangmbok Listyarini."
Dengan hati agak lega Narotama mencium bibir yang mengucapkan kata-kata yang dianggapnya amat bijaksana itu. Mereka lalu bergandengan tangan, berlari cepat kembali ke gedung kepatihan di Kahuripan.

Betapa hebatnya sebuah rencana, betapa telitinyapun rencana itu diatur dan betapa canggihnyapun pelaksanaannya, semua itu belum dapat dipastikan berhasil. Ada Kekuasaan lain yang mutlak menentukan hasil tidaknya sebuah tindakan. Manusia dengan segala akal budinya boleh merencanakan yang muluk-muluk, namun pada akhirnya manusia harus tunduk kepada kekuasaan yang menentukan itu. Kekuasaan Ilahi, Kekuasaan Gusti Yang Maha Kuasa, Kekuasaan Sang Hyang Widhi wasa, Pengatur seluruh alam semesta dengan semua isinya! Demikian pula dengan rencana pembunuhan atas diri Listyarini yang telah diatur dengan sempurna oleh Lasmini. Memang pada mulanya rencana itu tampaknya seperti berhasil baik menurut rencana. Listyarini telah dapat diculik Nismara seperti direncanakan, bahkan Lasmini telah berhasil membujuk Narotama agar tidak melakukan pengejaran ke selatan. Akan tetapi, hasil kelanjutannya ternyata lain sama sekali seperti yang telah direncanakan. Nismara tidak melarikan diri ke selatan, tidak masuk ke wilayah Kerajaan Parang Siluman. Mengapa demikian? Ternyata Nismara sudah mengenal baik keadaan di Kerajaan Parang Siluman. Dia tahu bahwa kerajaan itu menjadi tempatnya orang-orang yang amat keji dan kejam, orang-orang yang licik dan curang. Kalau dia membawa Listyarini ke sana, jangan-jangan nasibnya menjadi celaka. Bukan tidak mungkin dia akan dicurangi dan dibunuh, sedangkan Listyarini akan dirampas darinya. Tidak, dia tidak akan pergi ke Kerajaan Parang Siluman itu. Dia kini telah memondong puteri ayu, telah mengantungi banyak emas. Dia telah bebas, boleh pergi ke mana dia suka. Mengapa harus ke Parang Siluman? Kalau Narotama mengejar ke sana, mungkin saja untuk menyimpan rahasia, Ratu Parang Siluman yang cantik akan tetapi keji seperti iblis betina itu akan membunuhnya! Teringat akan kekejaman Lasmini saja dia sudah bergidik. Lebih baik dia membawa Listyarini pergi jauh sekali dari Kahuripan dan Parang Siluman, di tempat jauh dia akan hidup senang dengan sang puteri juita, tanpa ada yang mengganggu!

Pemikiran inilah yang membuat Nismara tidak jadi lari ke selatan, melainkan lari ke arah barat! Dia memanggul tubuh Listyarini dan melarikan diri kebarat, melalui hutan-hutan dan gunung gunung. Dia tidak berani mengganggu Listyarini karena hatinya selalu dikejar rasa takut dan ngeri. Kini dia tidak hanya melarikan diri dari pengejaran Narotama, akan tetapi juga pengejaran Lasmini yang tentu akan membunuhnya kalau mengetahui bahwa ia lari ke barat, bukan masuk ke wilayah Parang Siluman! seperti yang diperintahkan Lasmini. Dan dia malah lebih takut akan pengejaran Lasmini daripada pengejaran Ki Patih Narotama. Dia tahu, Narotama adalah seorang bijaksana dan tidak kejam. Mungkin dia akan dibunuhnya begitu saja. Akan tetapi kalau dia sampai terjatuh ke tangan Lasmini, dia tentu akan disiksanya setengah mati! Karena setiap hari dikejar rasa ngeri dan ketakutan, seolah setiap saat dia mendengar langkah kaki orang-orang yang mengejarnya, Nismara tidak pernah mau mengganggu Listyarini. Apalagi setelah Listyarini tampaknya tidak meronta lagi. Ketika itu dia menurunkan Listyarini dari pondongannya untuk sekadar beristirahat melepas lelah dan menenangkan hatinya yang terguncang rasa takut dan gelisah. Listyarini kini tidak mau menjerit lagi. la maklum bahwa dirinya tidak berdaya dan ia hanya pasrah kepada Hyang Widhi, setiap saat berdoa semoga Sang Hyang Widhi melindunginya dari pada marabahaya. Melihat Nismara menyeka keringat dari leher dan mukanya, dan melihat wajah itu seperti orang ketakutan, matanya bergerak liar ke sana sini seolah takut melihat orang datang, Listyarini yang dilepas dari pondongan dan kini duduk di atas tanah itu menyapa dengan suara lembut.
"Nismara, katakan saja terus terang, mengapa engkau membawa aku pergi ke tempat ini? Mengapa engkau yang menjadi perwira pasukan pengawal tega menculik aku?"
Sudah beberapa kali pertanyaan diajukan oleh Listyarini selama beberapa hari ini, akan tetapi Nismara tidak pernah mau menjawab. Kinipun dia tidak menjawab, hanya memandang sejenak wajah elok itu lalu menggeleng kepala dan mengalihkan pandang matanya. Entah bagaimana, mungkin karena dihantui rasa takut dan ngeri kalau-kalau dia tertangkap, selama beberapa hari ini seolah semua nafsu berahinya terhadap wanita cantik ini menghilang begitu saja!
"Nismara," kata Listyarini dengan halus.
"Aku tahu bahwa selama beberapa hari ini sejak engkau menculik aku, engkau bersikap baik sekali padaku, engkau memondongku, memperhatikan keperluanku dan tidak pernah menggangguku. Sebaliknya aku selalu meronta dan melawan, sehingga engkau tentu lelah sekali. Aku berterima kasih kepadamu untuk itu. Akan tetapi, Nismara, aku melawanmu karena aku takut dan tidak tahu mengapa aku kau culik. Kalau engkau memberitahu, tentu aku akan merasa lega dan tidak akan melawan lagi. Aku akan menyerah sehingga perjalanan ini dapat dilakukan lebih lancar dan menyenangkan. Karena itu, katakanlah, Nismara, mengapa kaulakukan semua ini."
"Benar engkau akan menyerah dan tidak melawan atau meronta lagi kalau kuberitahu?" Nismara bertanya.
"Aku bukan orang yang suka berbohong. Apa yang kujanjikan pasti akan kutepati." kata Listyarini.
"Baiklah, akan kuberitahu. Sudah lama ku mengagumimu, Listyarini, bahkan aku tergila gila kepadamu. Aku cemburu kepada Ki Patih Narotama, yang telah memperisterimu, akan tetapi masih begitu murka untuk mempunyai seorang isteri lain, yaitu Lasmini. Puteri dari Parang Siluman itulah yang merencanakan ini semua, menyuruh aku untuk menculikmu dan membawamu pergi, agar ia dapat menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama."
Listyarini terkejut, namun tidak merasa terlalu heran karena ia sudah dapat merasakan betapa selir suaminya itu diam-diam membencinya.
"Hemm, jadi ini biang keladinya? Lalu, kenapa engkau melarikan aku sampai sejauh ini dan tidak membunuhku?"
"Membunuhmu? Tidak, Listyarini, aku tidak tega membunuhmu. Aku..... aku cinta padamu. Aku diperintah untuk membawa engkau ke Parang Siluman, akan tetapi aku tidak mau karena setibanya di sana engkau pasti dibunuh mereka! Aku tidak ingin engkau dibunuh, maka engkau kularikan sampai di sini. Aku harus melarikan sejauh mungkin sehingga Ki Patih Narotama dan juga Lasmini dan pihak Parang Siluman tidak akan dapat mencari kita. Nah, kuharap mulai sekarang engkau suka menurut dan melarikan diri tanpa melakukan perlawanan."

Listyarini berpikir. Selama orang ini tidak menggangguku, sebaiknya aku menurut agar dia tidak bersikap kasar kepadaku. Akan tetapi, kalau dia hendak berbuat sesuatu yang tidak senonoh, aku akan membunuh diri. Sementara itu, hanya mengharapkan pertolongan dari Sang Hyang Widhi. Maka, iapun mengangguk. Dengan girang Nismara mengajak ia melanjutkan perjalanan dan ketika mereka melewati sebuah dusun yang cukup ramai, yaitu dusun Kerta, Nismara lalu membeli dua ekor kuda. Biarpun tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan, namun kalau menunggang kuda, Listyarini cukup mahir. Perjalanan dilanjutkan dengan berkuda sehingga lebih cepat dan lancar. Juga bagi Listyarini, tentu lebih leluasa dan enak melakukan perjalanan menunggang kuda daripada dipondong oleh Nismara. Mereka mendaki Gunung Lawu dari sisi timur. Pada suatu pagi tibalah mereka di lereng Gunung Lawu. Pemandangan alamnya amat indah dan tempat itupun sunyi, penuh dengan hutan lebat dan hawanya sejuk, nyaman bukan main. Dari tempat mereka berhenti mengaso, tampak sebuah telaga yang airnya membiru dan pemandangan di situ teramat indahnya. Timbul kegembiraan besar di dalam hati Nismara. Selama beberapa hari ini kekhawatirannya mulai menipis dan perjalanan berkuda yang menyenangkan itu, tanpa harus memondong tubuh Listyarini, membangkitkan kembali gairahnya. Mereka menambatkan kuda di batang pohon dan keduanya duduk di atas batu gunung. Di sekeliling mereka tampak padang rumput menghijau. Nismara mulai memandang kepada Listyarini dengan penuh perhatian dan perlahan-lahan api gairah berahi mulai menyala dalam pandang matanya. Wanita itu tampak amat cantik menggairahkan. Rambutnya yang agak kusut itu bahkan menambah keelokannya, dengan sinom berjuntai dan bergantung! kacau di dahi dan pelipisnya, pakaian yang kusut itu mempertajam lekuk lengkung tubuhnya. Muncul bayangan-bayangan penuh nafsu berahi dalam benak Nismara. Ah.. sebetulnya sudah lama wanita ini berada di tangannya akan tetapi dia tidak sempat memilikinya. Sekaranglah saatnya pikirnya. Jelas bahwa tidak akan ada yang mampu mengejarnya sampai di tempat sunyi ini. Dia harus memilikinya sekarang juga dan sekali menjadi miliknya, wanita ini tentu selanjutnya akan tunduk kepadanya dan akan menjadi isterinya. Nismara turun dari atas batu dan menghampiri Listyarini. Listyarini menengok. Mereka bertemu pandang dan Listyarini terbelalak. Ia melihat kobaran nafsu berahi dalam mata laki-laki itu. Marabahaya yang hampir setiap hari dikhawatirkannya itu akhirnya muncul.

<<<Bagian 40                                                                                         Bagian 42 >>>

No comments:

Post a Comment