Setelah tiba di gedung kepatihan, dengan selalu diikuti Lasmini, Narotama mencari isterinya. Akan tetapi sia-sia, Listyarini tidak dapat ditemukan dan tidak ada seorangpun dayang tahu kemana perginya garwa padmi ki patih itu. Setahu mereka hanyalah bahwa Listyarini seorang diri memasuki taman membawa sebatang pisau dapur. Narotama berlari lagi memasuki taman, diikuti Lasmini. Kini mereka mencari sambil berteriak-teriak memanggil, bergantian.
"Diajeng Listyarini
.....!"
"Kakangmbok Listyarini
......!"
Akan tetapi yang menjawab hanya
suara gaung gema teriakan mereka. Mereka mencari keluar dan taman, akan tetapi
karena tidak menemukan jejak, Narotama menjadi gelisah dan bingung, tidak tahu
harus mengejar ke arah mana. Sementara itu, senja telah mulai gelap, malam
mulai datang menguasai bumi. Setelah tiba jauh di luar daerah Kerajaan
Kahuripan, Narotama mengajak Lasmini untuk mengambil jalan yang menuju ke
selatan. Jantung Lasmini berdebar tegang, karena menurut seperti yang telah
direncanakan, Nismara yang melarikan Listyarini tentu juga mengambil jalan itu.
Dan betapapun cepat larinya Nismara, kalau Narotama melakukan pengejaran yang
arahnya tepat, akhirnya Nismara tentu akan tersusul! Akan tetapi otaknya yang
cerdik sudah membuat ia mengambil sikap yang amat tepat. Ia berlutut, menyembah
dan merangkul kedua kaki Narotama sambil menangis!
Narotama cepat merangkul dan
mengangkat bangun selirnya itu.
"Adinda Lasmini, apa yang
kaulakukan ini? Apa artinya ini?"
"Aduh kakangmas pujaan hamba
.... tidak tahukah paduka betapa remuk redam, betapa hancur luluh hati hamba
biarkan paduka untuk mengejar penjahat yang menculik kakangmbok ke selatan?
Aduh kakangmas sesembahan hamba, mengapa hati kakangmas begitu tega kepada
hamba, menjatuhkan fitnah keji kepada hamba dan keluarga hamba?” Lasmini
berkata di antara tangisnya.
"Diajeng Lasmini!" kata
Narotama dengan alis berkerut dan memandang wajah selirnya di keremangan malam
yang hanya diterangi bulan sepotong.
"Aku mengajak engkau mengejar
penculik Listyarini untuk menyelamatkannya dari marabahaya. Aku sama sekali
tidak pernah menduga atau mengatakan bahwa pelaku penculikan adalah keluargamu.
Mungkin saja penjahat itu melarikan diri ke arah selatan sana! Jangan
berkesimpulan yang bukan-bukan!"
Lasmini sudah tidak menangis, akan
tetapi ia membiarkan dirinya didekap Narotama dan ia menyandarkan kepalanya
yang semerbak harum melati itu didada suaminya.
"Akan tetapi, kakangmas. Semua
orang tahu belaka bahwa di selatan sana termasuk wilayah Kerajaan Parang
Siluman dimana ibu kandung hamba, Sang Ratu Durgakumala menjadi penguasanya.
Penculik itu tentu mengetahui pula bahwa hamba, puteri Parang Siluman, telah
menjadi garwa paduka. Bagaimana mungkin dia membawa lari Kakangmbok listyarini
ke sana? Sama saja dengan ular menghampiri penggebuk. Kalau paduka melakukan
pengejaran memasuki wilayah Kerajaan Parang Siluman, bukankah itu berarti bahwa
paduka mencurigai kanjeng ibu ratu dan keluarganya? Tidak, kakangmas, paduka
tidak boleh mengejar dalam wilayah Parang Siluman. Hamba malu, kakangmas, malu
kepada kanjeng ibu, malu kepada kanjeng rama, malu kepada kanjeng paman yang
juga guru hamba, malu kepada seluruh keluarga dan kawula Parang Siluman."
Narotama termenung sejenak.
Ah..betulnya juga ucapan yang keluar mulut selirnya yang diseling isak tangis
itu.
"Hemm, diajeng Lasmini, semua
tuturmu itu dapat kuterima dan memang benarnya. Akan tetapi, bagaimana kalau
kemudian ternyata bahwa Listyarini diculik orang memasuki daerah Parang
Siluman?"
"Kakangmas, kalau sampai
terjadi seperti itu, kalau kemudian ternyata bahwa penjahat itu melarikan
Kakang mbok Listyarini ke dalam daerah Parang Siluman dan menyembunyikannya di
sana, hamba mempertaruhkan nyawa ini. Hamba siap dipenggal leher hamba sebagai
pertanggung jawaban. Akan tetapi sebaliknya, kakangmas, kalau sekarang paduka
bersikeras untuk mengejar sampai memasuki perbatasan Parang Siluman, hamba akan
membunuh diri sekarang juga di depan kaki paduka. Tidak kuat hamba menderita
aib dan malu karena tidak paduka percaya."
Narotama menghela napas panjang dan
mengusap rambut kepala selirnya yang masin dipeluknya itu.
"Baiklah, diAjeng. Kalau begitu
janji dan tanggung jawabmu, aku tidak akan mengejar ke dalam daerah Kerajaan
Parang Siluman. Akan tetapi, lalu ke mana aku harus mencari Listyarini? Aku
khawatir sekali akan keselamatannya."
"Harap kakangmas menenangkan
hati dan jangan khawatir. Hamba dapat memastikan bahwa keselamatan nyawa kakangmbok
Listyarini tidak akan terancam bahaya. Hamba yakin bahwa penculik itu tidak
akan membunuhnya."
"Bagaimana andika dapat yakin
begitu diajeng?"
"Menurut penalaran, kakangmas.
Kalau penjahat itu memang berniat membunuh Kakangmbok Listyarini, tentu hal itu
sudah dia lakukan dalam taman, seperti juga dia telah membunuh dua orang tukang
kebun itu. Kenyataannya bahwa dia tidak membunuh melainkan menculik Kakangmbok
Listyarini menunjukkan bahwa dia tidak ingin membunuhnya sehingga masih
terdapat harapan bahwa kita akan dapat menemukannya. Hamba akan membantu dengan
taruhan nyawa hamba agar kita dapat menemukan kembali Kakangmbok
Listyarini."
Narotama merasa lega sekali. Kalau
ada selirnya ini yang membantu, dia merasa yakin bahwa dia akan dapat menemukan
kembali garwa padminya yang hilang diculik orang itu.
"Aduh, diajeng Lasmini, terima
kasih. Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya. Hatiku sekarang ini
merasa risau dan cemas sehingga aku tidak dapat berpikir dengan baik. Kalau
menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan sekarang, yayi?"
"Kalau menurut hamba,
kakangmas, sebaiknya kita pulang saja dulu. Bagaimanapun juga, hamba yakin
Kakangmbok Listyarini tidak akan dibunuh. Kakangmas pulang dulu untuk mencari
jalan terbaik. Hamba kira, dengan mengerahkan pasukan yang kita sebar, akan
lebih mudah menemukan penculik itu. Juga kita berdua dapat pula melanjutkan
pencarian kita. Sekarang, untuk mengejarpun, kita belum tahu ke arah mana
penjahat itu lari. Mungkin ke utara, ke timur, atau ke barat. Karena itu, mari
kita pulang dulu, menenangkan hati dan merencanakan siasat terbaik untuk
mencari Kakangmbok Listyarini."
Dengan hati agak lega Narotama
mencium bibir yang mengucapkan kata-kata yang dianggapnya amat bijaksana itu.
Mereka lalu bergandengan tangan, berlari cepat kembali ke gedung kepatihan di
Kahuripan.
Betapa hebatnya sebuah rencana,
betapa telitinyapun rencana itu diatur dan betapa canggihnyapun pelaksanaannya,
semua itu belum dapat dipastikan berhasil. Ada Kekuasaan lain yang mutlak
menentukan hasil tidaknya sebuah tindakan. Manusia dengan segala akal budinya
boleh merencanakan yang muluk-muluk, namun pada akhirnya manusia harus tunduk
kepada kekuasaan yang menentukan itu. Kekuasaan Ilahi, Kekuasaan Gusti Yang
Maha Kuasa, Kekuasaan Sang Hyang Widhi wasa, Pengatur seluruh alam semesta
dengan semua isinya! Demikian pula dengan rencana pembunuhan atas diri
Listyarini yang telah diatur dengan sempurna oleh Lasmini. Memang pada mulanya
rencana itu tampaknya seperti berhasil baik menurut rencana. Listyarini telah
dapat diculik Nismara seperti direncanakan, bahkan Lasmini telah berhasil
membujuk Narotama agar tidak melakukan pengejaran ke selatan. Akan tetapi,
hasil kelanjutannya ternyata lain sama sekali seperti yang telah direncanakan.
Nismara tidak melarikan diri ke selatan, tidak masuk ke wilayah Kerajaan Parang
Siluman. Mengapa demikian? Ternyata Nismara sudah mengenal baik keadaan di
Kerajaan Parang Siluman. Dia tahu bahwa kerajaan itu menjadi tempatnya
orang-orang yang amat keji dan kejam, orang-orang yang licik dan curang. Kalau
dia membawa Listyarini ke sana, jangan-jangan nasibnya menjadi celaka. Bukan
tidak mungkin dia akan dicurangi dan dibunuh, sedangkan Listyarini akan
dirampas darinya. Tidak, dia tidak akan pergi ke Kerajaan Parang Siluman itu. Dia
kini telah memondong puteri ayu, telah mengantungi banyak emas. Dia telah
bebas, boleh pergi ke mana dia suka. Mengapa harus ke Parang Siluman? Kalau
Narotama mengejar ke sana, mungkin saja untuk menyimpan rahasia, Ratu Parang
Siluman yang cantik akan tetapi keji seperti iblis betina itu akan membunuhnya!
Teringat akan kekejaman Lasmini saja dia sudah bergidik. Lebih baik dia membawa
Listyarini pergi jauh sekali dari Kahuripan dan Parang Siluman, di tempat jauh
dia akan hidup senang dengan sang puteri juita, tanpa ada yang mengganggu!
Pemikiran inilah yang membuat
Nismara tidak jadi lari ke selatan, melainkan lari ke arah barat! Dia memanggul
tubuh Listyarini dan melarikan diri kebarat, melalui hutan-hutan dan gunung
gunung. Dia tidak berani mengganggu Listyarini karena hatinya selalu dikejar
rasa takut dan ngeri. Kini dia tidak hanya melarikan diri dari pengejaran
Narotama, akan tetapi juga pengejaran Lasmini yang tentu akan membunuhnya kalau
mengetahui bahwa ia lari ke barat, bukan masuk ke wilayah Parang Siluman!
seperti yang diperintahkan Lasmini. Dan dia malah lebih takut akan pengejaran
Lasmini daripada pengejaran Ki Patih Narotama. Dia tahu, Narotama adalah
seorang bijaksana dan tidak kejam. Mungkin dia akan dibunuhnya begitu saja.
Akan tetapi kalau dia sampai terjatuh ke tangan Lasmini, dia tentu akan
disiksanya setengah mati! Karena setiap hari dikejar rasa ngeri dan ketakutan,
seolah setiap saat dia mendengar langkah kaki orang-orang yang mengejarnya,
Nismara tidak pernah mau mengganggu Listyarini. Apalagi setelah Listyarini
tampaknya tidak meronta lagi. Ketika itu dia menurunkan Listyarini dari
pondongannya untuk sekadar beristirahat melepas lelah dan menenangkan hatinya
yang terguncang rasa takut dan gelisah. Listyarini kini tidak mau menjerit lagi.
la maklum bahwa dirinya tidak berdaya dan ia hanya pasrah kepada Hyang Widhi,
setiap saat berdoa semoga Sang Hyang Widhi melindunginya dari pada marabahaya.
Melihat Nismara menyeka keringat dari leher dan mukanya, dan melihat wajah itu
seperti orang ketakutan, matanya bergerak liar ke sana sini seolah takut
melihat orang datang, Listyarini yang dilepas dari pondongan dan kini duduk di
atas tanah itu menyapa dengan suara lembut.
"Nismara, katakan saja terus
terang, mengapa engkau membawa aku pergi ke tempat ini? Mengapa engkau yang
menjadi perwira pasukan pengawal tega menculik aku?"
Sudah beberapa kali pertanyaan
diajukan oleh Listyarini selama beberapa hari ini, akan tetapi Nismara tidak
pernah mau menjawab. Kinipun dia tidak menjawab, hanya memandang sejenak wajah
elok itu lalu menggeleng kepala dan mengalihkan pandang matanya. Entah
bagaimana, mungkin karena dihantui rasa takut dan ngeri kalau-kalau dia
tertangkap, selama beberapa hari ini seolah semua nafsu berahinya terhadap
wanita cantik ini menghilang begitu saja!
"Nismara," kata Listyarini
dengan halus.
"Aku tahu bahwa selama beberapa
hari ini sejak engkau menculik aku, engkau bersikap baik sekali padaku, engkau
memondongku, memperhatikan keperluanku dan tidak pernah menggangguku.
Sebaliknya aku selalu meronta dan melawan, sehingga engkau tentu lelah sekali.
Aku berterima kasih kepadamu untuk itu. Akan tetapi, Nismara, aku melawanmu
karena aku takut dan tidak tahu mengapa aku kau culik. Kalau engkau
memberitahu, tentu aku akan merasa lega dan tidak akan melawan lagi. Aku akan
menyerah sehingga perjalanan ini dapat dilakukan lebih lancar dan menyenangkan.
Karena itu, katakanlah, Nismara, mengapa kaulakukan semua ini."
"Benar engkau akan menyerah dan
tidak melawan atau meronta lagi kalau kuberitahu?" Nismara bertanya.
"Aku bukan orang yang suka
berbohong. Apa yang kujanjikan pasti akan kutepati." kata Listyarini.
"Baiklah, akan kuberitahu.
Sudah lama ku mengagumimu, Listyarini, bahkan aku tergila gila kepadamu. Aku
cemburu kepada Ki Patih Narotama, yang telah memperisterimu, akan tetapi masih
begitu murka untuk mempunyai seorang isteri lain, yaitu Lasmini. Puteri dari
Parang Siluman itulah yang merencanakan ini semua, menyuruh aku untuk
menculikmu dan membawamu pergi, agar ia dapat menjadi garwa padmi Ki Patih
Narotama."
Listyarini terkejut, namun tidak
merasa terlalu heran karena ia sudah dapat merasakan betapa selir suaminya itu
diam-diam membencinya.
"Hemm, jadi ini biang
keladinya? Lalu, kenapa engkau melarikan aku sampai sejauh ini dan tidak
membunuhku?"
"Membunuhmu? Tidak, Listyarini,
aku tidak tega membunuhmu. Aku..... aku cinta padamu. Aku diperintah untuk
membawa engkau ke Parang Siluman, akan tetapi aku tidak mau karena setibanya di
sana engkau pasti dibunuh mereka! Aku tidak ingin engkau dibunuh, maka engkau
kularikan sampai di sini. Aku harus melarikan sejauh mungkin sehingga Ki Patih
Narotama dan juga Lasmini dan pihak Parang Siluman tidak akan dapat mencari
kita. Nah, kuharap mulai sekarang engkau suka menurut dan melarikan diri tanpa
melakukan perlawanan."
Listyarini berpikir. Selama orang
ini tidak menggangguku, sebaiknya aku menurut agar dia tidak bersikap kasar
kepadaku. Akan tetapi, kalau dia hendak berbuat sesuatu yang tidak senonoh, aku
akan membunuh diri. Sementara itu, hanya mengharapkan pertolongan dari Sang
Hyang Widhi. Maka, iapun mengangguk. Dengan girang Nismara mengajak ia
melanjutkan perjalanan dan ketika mereka melewati sebuah dusun yang cukup
ramai, yaitu dusun Kerta, Nismara lalu membeli dua ekor kuda. Biarpun tidak
pernah mempelajari ilmu kanuragan, namun kalau menunggang kuda, Listyarini
cukup mahir. Perjalanan dilanjutkan dengan berkuda sehingga lebih cepat dan
lancar. Juga bagi Listyarini, tentu lebih leluasa dan enak melakukan perjalanan
menunggang kuda daripada dipondong oleh Nismara. Mereka mendaki Gunung Lawu
dari sisi timur. Pada suatu pagi tibalah mereka di lereng Gunung Lawu.
Pemandangan alamnya amat indah dan tempat itupun sunyi, penuh dengan hutan
lebat dan hawanya sejuk, nyaman bukan main. Dari tempat mereka berhenti
mengaso, tampak sebuah telaga yang airnya membiru dan pemandangan di situ
teramat indahnya. Timbul kegembiraan besar di dalam hati Nismara. Selama
beberapa hari ini kekhawatirannya mulai menipis dan perjalanan berkuda yang
menyenangkan itu, tanpa harus memondong tubuh Listyarini, membangkitkan kembali
gairahnya. Mereka menambatkan kuda di batang pohon dan keduanya duduk di atas
batu gunung. Di sekeliling mereka tampak padang rumput menghijau. Nismara mulai
memandang kepada Listyarini dengan penuh perhatian dan perlahan-lahan api
gairah berahi mulai menyala dalam pandang matanya. Wanita itu tampak amat
cantik menggairahkan. Rambutnya yang agak kusut itu bahkan menambah
keelokannya, dengan sinom berjuntai dan bergantung! kacau di dahi dan
pelipisnya, pakaian yang kusut itu mempertajam lekuk lengkung tubuhnya. Muncul
bayangan-bayangan penuh nafsu berahi dalam benak Nismara. Ah.. sebetulnya sudah
lama wanita ini berada di tangannya akan tetapi dia tidak sempat memilikinya.
Sekaranglah saatnya pikirnya. Jelas bahwa tidak akan ada yang mampu mengejarnya
sampai di tempat sunyi ini. Dia harus memilikinya sekarang juga dan sekali
menjadi miliknya, wanita ini tentu selanjutnya akan tunduk kepadanya dan akan
menjadi isterinya. Nismara turun dari atas batu dan menghampiri Listyarini.
Listyarini menengok. Mereka bertemu pandang dan Listyarini terbelalak. Ia
melihat kobaran nafsu berahi dalam mata laki-laki itu. Marabahaya yang hampir
setiap hari dikhawatirkannya itu akhirnya muncul.
No comments:
Post a Comment