"Engkau siap-siap saja. Pekerjaan ini mudah bagimu. Listyarini adalah seorang wanita lemah. Tentu engkau akan dapat menculiknya dengan mudah tanpa ada perlawanan yang berarti. Cegah jangan sampai ia dapat menjerit. Aku akan melakukan pengamatan dan setelah kuanggap saatnya yang tepat tiba, aku akan memberi isarat kepadamu. Mulai hari ini setiap kali Listyarini seorang diri memasuki taman, engkau harus sudah siap di sana. Kalau sampai engkau melalaikan tugas ini, kepalamu akan menjadi seperti ini.” Lasmini menggerakkan tangan kirinya ke arah sebuah batu besar.
"Darr!"
Batu itu pecah berantakan,
kepingannya bertebaran. Nismara memandang dengan muka pucat. Dia sendiri adalah
seorang prajurit pengawal kepatihan yang cukup sakti. Kalau hanya menghadapi
pengeroyokan lima orang lawan saja dia masih sanggup menang. Akan tetapi
melihat tamparan tangan mungil itu sedemikian hebatnya, tubuhnya menggigil, hatinya
penuh kengerian.Sambi l tersenyum manis Lasmini lalu mengeluarkan sebuah
kantung kecil berwarna merah dari balik bajunya, dari belahan sepasang
payudaranya. Kantung itu berisi kepingan-kepingan emas.
"Terimalah ini untuk biaya
perjalananmu ke selatan." katanya sambil melemparkan kantung merah itu
kepada Nismara.
Perwira perajurit itu menangkap
kantung kecil, menciumnya dengan penuh gairah mengingat benda itu tadi diambil
dari antara payudara yang membusung indah. Dia mencium keharuman melati yang
membuat dia memejamkan matanya.
"Sudah, pergilah!" Lasmini
menghardik akan tetapi sambil tersenyum geli.
"Sendika dawuh! Baik, gusti
puteri!" kata Nismara lalu dia melompat dan menghilang di antara
pohon-pohon.
Demikianlah, mulai hari itu, dua
orang yang mempunyai rencana keji itu setiap hari melakukan pengintaian.
Nismara menunggu isarat dan Lasmini menanti datangnya kesempatan baik. Selama
beberapa bulan akhir-akhir ini hati Ki Patih Narotama selalu merasa tidak enak.
Terkadang berdebar-debar tak menentu. Terkadang dia merasa gelisah tanpa sebab
tertentu. Bahkan sejak terjadinya peristiwa percobaan pembunuhan dengan racun
atas diri Listyarini, dia selalu menduga-duga siapa gerangan orang yang ingin
membunuh isterinya itu. Dia tidak percaya bahwa rencana pembunuhan itu diatur
oleh mendiang Tarni yang merupakan dayang pribadi kepercayaan isterinya. Tentu
ada seorang musuhnya yang mengatur semua itu. Sayang dia tidak dapat menemukan
orangnya. Akan tetapi dalam peristiwa yang hampir merengut nyawa istrinya itu Narotama
mendapatkan hikmat dan berkah yang amat besar. Buktinya, kini Listyarini
mengandung! Hal yang sudah lama mereka idam-idamkan. Dia memang ingin sekali
mempunyai keturunan dari Listyarini. Dia tidak ingin mempunyai keturunan dari
Lasmini. Bukan karena dia kurang mencinta selir jelita itu. Akan tetapi dia
dapat merasakan bahwa cinta antara dia dan Lasmini hanyalah cinta yang
sepenuhnya mengandung birahi semata. Jiwa mereka tidak pernah bersentuhan.
Hanya tubuh mereka yang saling bermesraan, saling membutuhkan saling menikmati
dan saling dipuaskan. Dia merasa bahwa secara batiniah, tidak ada keserasian
antara dia dan Lasmini. Karena itu, dia dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya,
selalu menjaga agar hubungan badan mereka tidak membuahkan keturunan. Perasaan
hati yang selalu tidak enak ini membuat Narotama bersikap hati hati sekali.
Kepekaannya itu mengisaratkan kepadanya bahwa ada sesuatu yang mengancam
dirinya atau diri Listyarini, isterinya. Oleh karena itu dia selalu waspada,
apalagi kalau isterinya berada seorang diri.
Sore itu udara tidak dapat dibilang
gerah. Bahkan agak muram karena mendung tebal bergantung rendah di bagian
barat. Terdengar bunyi guntur bergema di kejauhan, seperti bergulung-gulung
marah. Namun karena jauhnya, maka hanya kadang saja tampak kilatan cahaya
halilintar menembus awan mendung yang hitam. Hampir semua orang yang berada di
luar rumah memandang ke arah barat. Mereka mengharapkan hujan turun karena
sudah dua minggu lebih tidak ada hujan sedangkan sawah ladang membutuhkan air.
Akan tetapi seorang kakek yang melihat betapa angin sore hari itu bertiup kuat
dan awan mendung itu terbawa angin menuju ke barat, semakin menjauh dari
kepatihan, menggeleng kepala dan menghela napas kecewa. Agaknya, sore dan malam
hari itu daerah kepatihan masih belum mendapatkan bagian air hujan yang amat
dibutuhkan itu. Listyarini keluar dari pintu belakang gedung kepatihan. Ia
sudah mandi dan berganti pakaian, ia tampak segar dan ayu. Kehamilannya belum
tampak benar, perutnya belum tampak menggendut, hanya pinggangnya tidak begitu
ramping dan pinggulnya menjadi montok dan penuh. Namun, bagi orang yang biasa
melihat ciri wanita hamil, cahaya berseri pada wajahnya itu sudah cukup
menunjukkan bahwa Listyarini sedang menjadi seorang calon ibu, walaupun kandungannya
masih muda, baru sekitar satu bulan lebih. Dengan langkah perlahan Listyarini
memasuki taman kepatihan. Taman itu terawat baik, dapat dilihat dari
tumbuh-tumbuhan yang subur, kembang-kembang hampir semua berbunga. Ia paling
suka menanam bunga mawar beraneka warna dan dengan teliti ia melihat apakah
tanah di bawah semua tanaman bunga kesayangan itu basah, tanda mendapatkan
siraman setiap hari. Sama sekali Listyarini tidak pernah menduga bahwa sejak
kakinya melangkah memasuki taman, ada dua pasang mata mengikuti setiap
langkahnya dari tempat tersembunyi. Dengan penuh perhatian dan rasa sayang,
Listyarini memperhatikan setiap pohon mawar, membuang daun yang mengering dan
bunga yang sudah rontok agar kuncup-kuncup muda yang lain mendapat kesempatan
dan rangsangan untuk mekar semerbak menggantikan kemegahan bunga-bunga yang
sudah rontok dan layu.
Diam-diam Lasmini merasa girang
sekali. Inilah kesempatan terbaik, pikirnya. Cepat ia lalu memberi isarat
kepada Nismara untuk bersiap-siap melaksanakan apa yang telah lama ia
rencanakan. Sekali ini ia dan Nismara pasti berhasil, harus berhasil.
Keberhasilan membunuh Listyarini mendatangkan banyak keuntungan baginya.
Pertama, kebencian dan ke iri hatiannya terhadap wanita isteri ki patih itu
terpuaskan, kedua hal itu akan menghancurkan perasaan hati Ki Patih Narotama
dan ke tiga setelah Listyarini mati, maka akan mudah baginya untuk menjadi
garwa padma sang patih sehingga ia akan lebih leluasa melaksanakan tugas dan
kewajibannya yang telah direncanakan. Kini Listyarini sudah bergerak melangkah
semakin mendekati pondok kecil yang terletak di tengah taman, seolah seekor
kelinci yang tanpa disadarinya semakin mendekati moncong harimau yang sudah
lama menantinya di tempat persembunyiannya. Harimau dalam ujud seorang laki-laki,
Nismara, yang mendekam dan menanti dengan sepasang mata mencorong penuh nafsu
bagaikan seekor harimau yang sudah membayangkan betapa akan sedapnya daging
lunak dan darah hangat kelinci yang akan dirobek-robeknya. Melihat wajah ayu
manis merak ati, tubuh yang sintal dan denok itu melenggang dengan langkah yang
membuat tubuh itu bergoyang-goyang indah seperti menari, berulang kali Nismara
menelan air liurnya. Dalam benaknya sudah dia bayangkan semua kenikmatan yang
akan dapat direguknya. Mendekap tubuh seperti itu! Tidak, dia tidak akan segera
membunuh Listyarini. Terlalu sayang kalau dibunuh begitu saja. Dia akan
menangkapnya dan melarikannya keluar dari kepatihan dan akan bersenang-senang
sepuas hatinya. Bahkan kalau perlu, perempuan ini tidak akan dibunuhnya,
melainkan diambilnya sebagai teman hidup, sebagai penghibur dan pusat
kesenangan!
Listyarini kini tiba di luar pondok,
lalu membuka pintu pondok yang tidak terkunci, membiarkan daun pintu itu
terbuka lalu memasuki pondok. Akan tetapi baru saja ia duduk di atas sebuah
dipan untuk beristirahat karena taman itu cukup luas dan perjalanan dari gedung
kepatihan sampai pondok di tengah taman itu cukup jauh, tiba-tiba tampak
sesosok bayangan orang berkelebat dan melompat memasuki pondok. Tahu-tahu Nismara
telah berdiri di dekat pembaringan, bertolak pinggang sambil menyeringai
menyeramkan! Listyarini yang tadinya terkejut sekali kini memandang heran
ketika mengenal siapa orang yang menyelonong masuk seperti itu. la segera
bangkit berdiri dan memandang kepada Nismara dengan alis berkerut.
"Nismara! Apa maksudmu masuk ke
sini dengan sikap seperti ini?"
Merasa aman dan yakin bahwa di situ
tidak ada bahaya baginya, apalagi dia merasa yakin pula bahwa diam-diam Lasmini
tentu akan melindunginya, Nismara tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Listyarini wong
denok ayu, sudah lama aku merindukan dirimu dan sekarang engkau harus pergi
bersamaku dan menjadi isteriku. Marilah, manis, mari kupondong!"
Listyarini semakin terkejut.
Wajahnya berubah merah karena marah.
"Nismara keparat! Berani engkau
bersikap kurang ajar seperti ini? Kalau gustimu patih mengetahui, tentu engkau
akan dihukum berat! Pergilah dan jangan mengganggu aku!"
"Ha-ha-ha, aku tidak takut.
Tidak ada seorangpun dapat menghalangiku!" Nismara menghampiri dan siap
untuk menubruk wanita itu.
Listyarini memang seorang wanita
lemah yang tidak memiliki aji kanuragan. Akan tetapi ia adalah isteri seorang
sakti dan iapun terpengaruh suaminya, memiliki ketabahan dan keberanian. Ketika
tadi memasuki taman, ia membawa sebatang pisau yang tadi ia pergunakan untuk
membersihkan tanaman bunga dan untuk memotong tangkai tangkai yang layu. Kini,
ia mencabut pisau yang diselipkannya di ikat pinggang dan dengan pisau itu ia
menyambut Nismara yang menubruknya. Akan tetapi, apa artinya serangan seorang
wanita lemah seperti Listyarini, hanya mempergunakan sebatang pisau dapur,
terhadap perwira prajurit pengawal seperti Nismara? Dengan mudah dia menangkap
pergelangan tangan kanan wanita itu dan sekali cengkeram, Listyarini menjerit dan
pisaunya terlepas dari genggamannya. Sambil tertawa-tawa Nismara lalu menangkap
kedua lengan wanita itu dan memondongnya. Listyarini meronta dan menjerit.
"Toloonggg .....!" Akan
tetapi jeritnya terhenti seketika karena Nismara menekan tengkuknya dan wanita
itu terkulai pingsan di atas pundak Nismara yang memanggulnya dan membawanya
keluar dari pondok itu. Menurut gelora nafsu berahinya, ingin ia memperkosa
wanita itu di tempat itu juga, akan tetapi dia merasa ngeri kalau-kalau akan
muncul Ki Patih Narotama. Maka dia ingin membawa wanita itu cepat-cepat pergi
jauh meninggalkan kepatihan menuju ke tempat aman.
Pada saat itu, tak jauh dari pondok
itu Lasmini sedang mengintai dan hatinya merasa gembira sekali melihat betapa
Nismara telah menyerbu masuk ke dalam pondok. Akan tetapi ia terkejut juga
mendengar jerit suara Listyarini.
"Goblok .....!" la memaki,
marah karena menganggap Nismara bodoh sekali memberi kesempatan kepada
Listyarini untuk mengeluarkan jeritan. Dengan hati khawatir ia melihat ke kanan
kiri, kalau-kalau suara jeritan pendek yang cukup melengking itu menarik
perhatian orang lain. Dan benar saja, ia melihat dua orang laki-laki datang
berlarian ke arah situ. Mereka adalah dua orang tukang kebun yang biasa
mengurus taman. Diam-diam Lasmini mengutuk. Sialan pikirnya, padahal menurut
perhitungannya, biasanya pada waktu sore seperti itu dua orang tukang kebun itu
tidak pernah bekerja di taman. Kenapa begitu kebetulan mereka sekarang berada
di situ dan agaknya mendengar jeritan suara Listyarini? Yang sial adalah dua
orang tukang kebun itu. Mereka mengadakan pemeriksaan ke dalam taman karena
mengira akan turun hujan sehingga mereka hari mempersiapkan segalanya agar
taman jangan menjadi rusak oleh membanjirnya air hujan. Ketika dengan
lapat-lapat mereka mendengar jerit wanita, mereka lalu berlari menuju ke
pondok. Akan tetapi, dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja dua buah batu sebesar
kepala mereka meluncur dan menghantam kepala mereka. Tanpa dapat mengeluarkan
teriakan lagi dua orang tukang kebun itu tersungkur roboh dan tewas seketika
dengan kepala pecah! Lasmini memang cerdik sekali. Ia tidak mau membunuh dua
orang itu dengan menggunakan aji pukulannya yang ampuh, karena kalau hal itu ia
lakukan, Ki Patih Narotama tentu akan mengenal aji itu dan rahasianya akan
terbuka. Akan tetapi, pada saat itu, kebetulan Lasmini menoleh ke belakang, ke
arah gedung kepatihan dan wajahnya mendadak menjadi pucat sekali. Dia melihat
sesosok bayangan berkelebat seperti terbang dan segera, mengenal bahwa itu
adalah bayangan Ki Patih Narotama sendiri.
"Celaka .....!" Lasmini
berbisik dalam hati. Akan tetapi dasar ia seorang yang amat cerdik, ia sudah
dapat membuang kegugupannya, bahkan kini ia berlagak menyambut suaminya itu.
"Kakangmas..... celaka.....
sesuatu yang hebat telah terjadi.....!" katanya setelah bertemu dengan Ki
Patih Narotama yang menghentikan larinya.
Patih Narotama tadi berlari cepat
memasuki taman setelah mendengar dari para dayang bahwa Listyarini seorang diri
berjalan-jalan dalam taman. Hatinya merasa khawatir dan dia cepat berlari
menyusul.
”Diajeng Lasmini! Apa yang
terjadi.....? Di mana Listyarini.....?"
"Saya ..... saya tidak tahu,
kakangmas. Tadi saya memasuki taman dan melihat dua orang tukang kebun
menggeletak dengan kepala pecah dan sudah tewas!"
"Di mana mereka?"
"Di sana, mari!" Mereka
berdua berlompatan dan dengan cepat sudah tiba di tempat di mana dua orang
tukang kebun itu menggeletak tak bernyawa lagi. Ki Patih Narotama memeriksa
sebentar. Darah yang mengalir keluar dari kepala-kepala yang pecah itu masih
segar.
"Hemm, baru saja dibunuh.
Pembunuhnya tentu masih berada di taman. Tapi ..... Listyarini .....! Di mana
ia .....?"
"Saya tidak tahu, kakangmas.
Ketika memasuki taman, saya tidak melihatnya dan baru tiba di sini, saya
melihat dua orang ini. Ketika melihat kakangmas berlari memasuki taman, saya
cepat menyongsong dan memberitahukan. Mari kita mencari Kakangmbok
Listyarini!"
Lasmini mendahului suaminya,
melompat dan lari menuju pondok. Tentu saja ia tersenyum dalam hatinya karena
tahu benar bahwa Nismara sudah lama membawa lari Listyarini dari dalam pondok
itu. Keduanya memasuki pondok. Tidak ada siapapun di sana. Juga tidak tampak
adanya bekas-bekas kekerasan. Akan tetapi Ki Narotama membungkuk dan mengambil
sebatang pisau yang menggeletak di atas lantai, dekat dipan.
"Hemm, pisau apakah ini? Milik
siapa?" Dia bertanya sambil mengamati pisau itu. Lasmini mengambil pisau
itu dari tangan suaminya dan memeriksanya.
"Ini seperti pisau yang biasa
dipergunakan para dayang didalam dapur, kakangmas. Hemm, saya kira pisau ini
tadi dibawa Kakangmbok Listyarini ke taman untuk memotong kembang dan ranting
yang sudah layu, kemudian tertinggal di sini. Mungkin sekali ia sudah kembali
ke gedung kepatihan!"
"Hemm, mudah-mudahan begitu.
Mari kita cari ia di sana!"
Ki Patih Narotama tidak merasa
curiga karena tidak melihat ada tanda-tanda kekerasan terjadi di dalam pondok
yang kesemuanya masih rapi. Mereka kembali keluar dari pondok dan dengan cepat
berlari menuju ke gedung kepatihan. Tentu saja senyum dalam hati Lasmini makin
melebar karena ia tahu bahwa kini Nismara tentu sudah dapat lari lebih jauh
lagi sehingga takkan mungkin dapat disusul oleh Ki Patih Narotama.
No comments:
Post a Comment