Bagian 40


"Engkau siap-siap saja. Pekerjaan ini mudah bagimu. Listyarini adalah seorang wanita lemah. Tentu engkau akan dapat menculiknya dengan mudah tanpa ada perlawanan yang berarti. Cegah jangan sampai ia dapat menjerit. Aku akan melakukan pengamatan dan setelah kuanggap saatnya yang tepat tiba, aku akan memberi isarat kepadamu. Mulai hari ini setiap kali Listyarini seorang diri memasuki taman, engkau harus sudah siap di sana. Kalau sampai engkau melalaikan tugas ini, kepalamu akan menjadi seperti ini.” Lasmini menggerakkan tangan kirinya ke arah sebuah batu besar.
"Darr!"
Batu itu pecah berantakan, kepingannya bertebaran. Nismara memandang dengan muka pucat. Dia sendiri adalah seorang prajurit pengawal kepatihan yang cukup sakti. Kalau hanya menghadapi pengeroyokan lima orang lawan saja dia masih sanggup menang. Akan tetapi melihat tamparan tangan mungil itu sedemikian hebatnya, tubuhnya menggigil, hatinya penuh kengerian.Sambi l tersenyum manis Lasmini lalu mengeluarkan sebuah kantung kecil berwarna merah dari balik bajunya, dari belahan sepasang payudaranya. Kantung itu berisi kepingan-kepingan emas.
"Terimalah ini untuk biaya perjalananmu ke selatan." katanya sambil melemparkan kantung merah itu kepada Nismara.
Perwira perajurit itu menangkap kantung kecil, menciumnya dengan penuh gairah mengingat benda itu tadi diambil dari antara payudara yang membusung indah. Dia mencium keharuman melati yang membuat dia memejamkan matanya.
"Sudah, pergilah!" Lasmini menghardik akan tetapi sambil tersenyum geli.
"Sendika dawuh! Baik, gusti puteri!" kata Nismara lalu dia melompat dan menghilang di antara pohon-pohon.

Demikianlah, mulai hari itu, dua orang yang mempunyai rencana keji itu setiap hari melakukan pengintaian. Nismara menunggu isarat dan Lasmini menanti datangnya kesempatan baik. Selama beberapa bulan akhir-akhir ini hati Ki Patih Narotama selalu merasa tidak enak. Terkadang berdebar-debar tak menentu. Terkadang dia merasa gelisah tanpa sebab tertentu. Bahkan sejak terjadinya peristiwa percobaan pembunuhan dengan racun atas diri Listyarini, dia selalu menduga-duga siapa gerangan orang yang ingin membunuh isterinya itu. Dia tidak percaya bahwa rencana pembunuhan itu diatur oleh mendiang Tarni yang merupakan dayang pribadi kepercayaan isterinya. Tentu ada seorang musuhnya yang mengatur semua itu. Sayang dia tidak dapat menemukan orangnya. Akan tetapi dalam peristiwa yang hampir merengut nyawa istrinya itu Narotama mendapatkan hikmat dan berkah yang amat besar. Buktinya, kini Listyarini mengandung! Hal yang sudah lama mereka idam-idamkan. Dia memang ingin sekali mempunyai keturunan dari Listyarini. Dia tidak ingin mempunyai keturunan dari Lasmini. Bukan karena dia kurang mencinta selir jelita itu. Akan tetapi dia dapat merasakan bahwa cinta antara dia dan Lasmini hanyalah cinta yang sepenuhnya mengandung birahi semata. Jiwa mereka tidak pernah bersentuhan. Hanya tubuh mereka yang saling bermesraan, saling membutuhkan saling menikmati dan saling dipuaskan. Dia merasa bahwa secara batiniah, tidak ada keserasian antara dia dan Lasmini. Karena itu, dia dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya, selalu menjaga agar hubungan badan mereka tidak membuahkan keturunan. Perasaan hati yang selalu tidak enak ini membuat Narotama bersikap hati hati sekali. Kepekaannya itu mengisaratkan kepadanya bahwa ada sesuatu yang mengancam dirinya atau diri Listyarini, isterinya. Oleh karena itu dia selalu waspada, apalagi kalau isterinya berada seorang diri.

Sore itu udara tidak dapat dibilang gerah. Bahkan agak muram karena mendung tebal bergantung rendah di bagian barat. Terdengar bunyi guntur bergema di kejauhan, seperti bergulung-gulung marah. Namun karena jauhnya, maka hanya kadang saja tampak kilatan cahaya halilintar menembus awan mendung yang hitam. Hampir semua orang yang berada di luar rumah memandang ke arah barat. Mereka mengharapkan hujan turun karena sudah dua minggu lebih tidak ada hujan sedangkan sawah ladang membutuhkan air. Akan tetapi seorang kakek yang melihat betapa angin sore hari itu bertiup kuat dan awan mendung itu terbawa angin menuju ke barat, semakin menjauh dari kepatihan, menggeleng kepala dan menghela napas kecewa. Agaknya, sore dan malam hari itu daerah kepatihan masih belum mendapatkan bagian air hujan yang amat dibutuhkan itu. Listyarini keluar dari pintu belakang gedung kepatihan. Ia sudah mandi dan berganti pakaian, ia tampak segar dan ayu. Kehamilannya belum tampak benar, perutnya belum tampak menggendut, hanya pinggangnya tidak begitu ramping dan pinggulnya menjadi montok dan penuh. Namun, bagi orang yang biasa melihat ciri wanita hamil, cahaya berseri pada wajahnya itu sudah cukup menunjukkan bahwa Listyarini sedang menjadi seorang calon ibu, walaupun kandungannya masih muda, baru sekitar satu bulan lebih. Dengan langkah perlahan Listyarini memasuki taman kepatihan. Taman itu terawat baik, dapat dilihat dari tumbuh-tumbuhan yang subur, kembang-kembang hampir semua berbunga. Ia paling suka menanam bunga mawar beraneka warna dan dengan teliti ia melihat apakah tanah di bawah semua tanaman bunga kesayangan itu basah, tanda mendapatkan siraman setiap hari. Sama sekali Listyarini tidak pernah menduga bahwa sejak kakinya melangkah memasuki taman, ada dua pasang mata mengikuti setiap langkahnya dari tempat tersembunyi. Dengan penuh perhatian dan rasa sayang, Listyarini memperhatikan setiap pohon mawar, membuang daun yang mengering dan bunga yang sudah rontok agar kuncup-kuncup muda yang lain mendapat kesempatan dan rangsangan untuk mekar semerbak menggantikan kemegahan bunga-bunga yang sudah rontok dan layu.

Diam-diam Lasmini merasa girang sekali. Inilah kesempatan terbaik, pikirnya. Cepat ia lalu memberi isarat kepada Nismara untuk bersiap-siap melaksanakan apa yang telah lama ia rencanakan. Sekali ini ia dan Nismara pasti berhasil, harus berhasil. Keberhasilan membunuh Listyarini mendatangkan banyak keuntungan baginya. Pertama, kebencian dan ke iri hatiannya terhadap wanita isteri ki patih itu terpuaskan, kedua hal itu akan menghancurkan perasaan hati Ki Patih Narotama dan ke tiga setelah Listyarini mati, maka akan mudah baginya untuk menjadi garwa padma sang patih sehingga ia akan lebih leluasa melaksanakan tugas dan kewajibannya yang telah direncanakan. Kini Listyarini sudah bergerak melangkah semakin mendekati pondok kecil yang terletak di tengah taman, seolah seekor kelinci yang tanpa disadarinya semakin mendekati moncong harimau yang sudah lama menantinya di tempat persembunyiannya. Harimau dalam ujud seorang laki-laki, Nismara, yang mendekam dan menanti dengan sepasang mata mencorong penuh nafsu bagaikan seekor harimau yang sudah membayangkan betapa akan sedapnya daging lunak dan darah hangat kelinci yang akan dirobek-robeknya. Melihat wajah ayu manis merak ati, tubuh yang sintal dan denok itu melenggang dengan langkah yang membuat tubuh itu bergoyang-goyang indah seperti menari, berulang kali Nismara menelan air liurnya. Dalam benaknya sudah dia bayangkan semua kenikmatan yang akan dapat direguknya. Mendekap tubuh seperti itu! Tidak, dia tidak akan segera membunuh Listyarini. Terlalu sayang kalau dibunuh begitu saja. Dia akan menangkapnya dan melarikannya keluar dari kepatihan dan akan bersenang-senang sepuas hatinya. Bahkan kalau perlu, perempuan ini tidak akan dibunuhnya, melainkan diambilnya sebagai teman hidup, sebagai penghibur dan pusat kesenangan!

Listyarini kini tiba di luar pondok, lalu membuka pintu pondok yang tidak terkunci, membiarkan daun pintu itu terbuka lalu memasuki pondok. Akan tetapi baru saja ia duduk di atas sebuah dipan untuk beristirahat karena taman itu cukup luas dan perjalanan dari gedung kepatihan sampai pondok di tengah taman itu cukup jauh, tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang berkelebat dan melompat memasuki pondok. Tahu-tahu Nismara telah berdiri di dekat pembaringan, bertolak pinggang sambil menyeringai menyeramkan! Listyarini yang tadinya terkejut sekali kini memandang heran ketika mengenal siapa orang yang menyelonong masuk seperti itu. la segera bangkit berdiri dan memandang kepada Nismara dengan alis berkerut.
"Nismara! Apa maksudmu masuk ke sini dengan sikap seperti ini?"
Merasa aman dan yakin bahwa di situ tidak ada bahaya baginya, apalagi dia merasa yakin pula bahwa diam-diam Lasmini tentu akan melindunginya, Nismara tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Listyarini wong denok ayu, sudah lama aku merindukan dirimu dan sekarang engkau harus pergi bersamaku dan menjadi isteriku. Marilah, manis, mari kupondong!"
Listyarini semakin terkejut. Wajahnya berubah merah karena marah.
"Nismara keparat! Berani engkau bersikap kurang ajar seperti ini? Kalau gustimu patih mengetahui, tentu engkau akan dihukum berat! Pergilah dan jangan mengganggu aku!"
"Ha-ha-ha, aku tidak takut. Tidak ada seorangpun dapat menghalangiku!" Nismara menghampiri dan siap untuk menubruk wanita itu.

Listyarini memang seorang wanita lemah yang tidak memiliki aji kanuragan. Akan tetapi ia adalah isteri seorang sakti dan iapun terpengaruh suaminya, memiliki ketabahan dan keberanian. Ketika tadi memasuki taman, ia membawa sebatang pisau yang tadi ia pergunakan untuk membersihkan tanaman bunga dan untuk memotong tangkai tangkai yang layu. Kini, ia mencabut pisau yang diselipkannya di ikat pinggang dan dengan pisau itu ia menyambut Nismara yang menubruknya. Akan tetapi, apa artinya serangan seorang wanita lemah seperti Listyarini, hanya mempergunakan sebatang pisau dapur, terhadap perwira prajurit pengawal seperti Nismara? Dengan mudah dia menangkap pergelangan tangan kanan wanita itu dan sekali cengkeram, Listyarini menjerit dan pisaunya terlepas dari genggamannya. Sambil tertawa-tawa Nismara lalu menangkap kedua lengan wanita itu dan memondongnya. Listyarini meronta dan menjerit.
"Toloonggg .....!" Akan tetapi jeritnya terhenti seketika karena Nismara menekan tengkuknya dan wanita itu terkulai pingsan di atas pundak Nismara yang memanggulnya dan membawanya keluar dari pondok itu. Menurut gelora nafsu berahinya, ingin ia memperkosa wanita itu di tempat itu juga, akan tetapi dia merasa ngeri kalau-kalau akan muncul Ki Patih Narotama. Maka dia ingin membawa wanita itu cepat-cepat pergi jauh meninggalkan kepatihan menuju ke tempat aman.

Pada saat itu, tak jauh dari pondok itu Lasmini sedang mengintai dan hatinya merasa gembira sekali melihat betapa Nismara telah menyerbu masuk ke dalam pondok. Akan tetapi ia terkejut juga mendengar jerit suara Listyarini.
"Goblok .....!" la memaki, marah karena menganggap Nismara bodoh sekali memberi kesempatan kepada Listyarini untuk mengeluarkan jeritan. Dengan hati khawatir ia melihat ke kanan kiri, kalau-kalau suara jeritan pendek yang cukup melengking itu menarik perhatian orang lain. Dan benar saja, ia melihat dua orang laki-laki datang berlarian ke arah situ. Mereka adalah dua orang tukang kebun yang biasa mengurus taman. Diam-diam Lasmini mengutuk. Sialan pikirnya, padahal menurut perhitungannya, biasanya pada waktu sore seperti itu dua orang tukang kebun itu tidak pernah bekerja di taman. Kenapa begitu kebetulan mereka sekarang berada di situ dan agaknya mendengar jeritan suara Listyarini? Yang sial adalah dua orang tukang kebun itu. Mereka mengadakan pemeriksaan ke dalam taman karena mengira akan turun hujan sehingga mereka hari mempersiapkan segalanya agar taman jangan menjadi rusak oleh membanjirnya air hujan. Ketika dengan lapat-lapat mereka mendengar jerit wanita, mereka lalu berlari menuju ke pondok. Akan tetapi, dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja dua buah batu sebesar kepala mereka meluncur dan menghantam kepala mereka. Tanpa dapat mengeluarkan teriakan lagi dua orang tukang kebun itu tersungkur roboh dan tewas seketika dengan kepala pecah! Lasmini memang cerdik sekali. Ia tidak mau membunuh dua orang itu dengan menggunakan aji pukulannya yang ampuh, karena kalau hal itu ia lakukan, Ki Patih Narotama tentu akan mengenal aji itu dan rahasianya akan terbuka. Akan tetapi, pada saat itu, kebetulan Lasmini menoleh ke belakang, ke arah gedung kepatihan dan wajahnya mendadak menjadi pucat sekali. Dia melihat sesosok bayangan berkelebat seperti terbang dan segera, mengenal bahwa itu adalah bayangan Ki Patih Narotama sendiri.
"Celaka .....!" Lasmini berbisik dalam hati. Akan tetapi dasar ia seorang yang amat cerdik, ia sudah dapat membuang kegugupannya, bahkan kini ia berlagak menyambut suaminya itu.
"Kakangmas..... celaka..... sesuatu yang hebat telah terjadi.....!" katanya setelah bertemu dengan Ki Patih Narotama yang menghentikan larinya.

Patih Narotama tadi berlari cepat memasuki taman setelah mendengar dari para dayang bahwa Listyarini seorang diri berjalan-jalan dalam taman. Hatinya merasa khawatir dan dia cepat berlari menyusul.
”Diajeng Lasmini! Apa yang terjadi.....? Di mana Listyarini.....?"
"Saya ..... saya tidak tahu, kakangmas. Tadi saya memasuki taman dan melihat dua orang tukang kebun menggeletak dengan kepala pecah dan sudah tewas!"
"Di mana mereka?"
"Di sana, mari!" Mereka berdua berlompatan dan dengan cepat sudah tiba di tempat di mana dua orang tukang kebun itu menggeletak tak bernyawa lagi. Ki Patih Narotama memeriksa sebentar. Darah yang mengalir keluar dari kepala-kepala yang pecah itu masih segar.
"Hemm, baru saja dibunuh. Pembunuhnya tentu masih berada di taman. Tapi ..... Listyarini .....! Di mana ia .....?"
"Saya tidak tahu, kakangmas. Ketika memasuki taman, saya tidak melihatnya dan baru tiba di sini, saya melihat dua orang ini. Ketika melihat kakangmas berlari memasuki taman, saya cepat menyongsong dan memberitahukan. Mari kita mencari Kakangmbok Listyarini!"
Lasmini mendahului suaminya, melompat dan lari menuju pondok. Tentu saja ia tersenyum dalam hatinya karena tahu benar bahwa Nismara sudah lama membawa lari Listyarini dari dalam pondok itu. Keduanya memasuki pondok. Tidak ada siapapun di sana. Juga tidak tampak adanya bekas-bekas kekerasan. Akan tetapi Ki Narotama membungkuk dan mengambil sebatang pisau yang menggeletak di atas lantai, dekat dipan.
"Hemm, pisau apakah ini? Milik siapa?" Dia bertanya sambil mengamati pisau itu. Lasmini mengambil pisau itu dari tangan suaminya dan memeriksanya.
"Ini seperti pisau yang biasa dipergunakan para dayang didalam dapur, kakangmas. Hemm, saya kira pisau ini tadi dibawa Kakangmbok Listyarini ke taman untuk memotong kembang dan ranting yang sudah layu, kemudian tertinggal di sini. Mungkin sekali ia sudah kembali ke gedung kepatihan!"
"Hemm, mudah-mudahan begitu. Mari kita cari ia di sana!"
Ki Patih Narotama tidak merasa curiga karena tidak melihat ada tanda-tanda kekerasan terjadi di dalam pondok yang kesemuanya masih rapi. Mereka kembali keluar dari pondok dan dengan cepat berlari menuju ke gedung kepatihan. Tentu saja senyum dalam hati Lasmini makin melebar karena ia tahu bahwa kini Nismara tentu sudah dapat lari lebih jauh lagi sehingga takkan mungkin dapat disusul oleh Ki Patih Narotama.

<<<Bagian 39                                                                                          Bagian 41 >>>

No comments:

Post a Comment