Lasmini melangkah maju menghampiri, lalu tangan kirinya yang bertelapak halus dan berbau harum itu mengusap pipi Nismara seperti membelai mesra.
"Nah, pergi dan lakukanlah,
Nismara. Kalau engkau berhasil, besok kita bersenang-senang."
Nismara hampir terkulai. Sentuhan
lembut pada pipinya itu seperti mengusap hatinya. Untuk belaian itu saja
rasanya dia mau melakukan apa saja untuk sang puteri ini!
"Sendika, gusti!" Dia lalu
melompat dan pergi dengan jantung masih berdebar debar, dan seluruh tubuh
terasa panas dingin! Setelah Nismara pergi, Lasmini tersenyum mengejek. Tentu
saja ia tidak sudi menyerahkan dirinya kepada laki laki macam Nismara! la hanya
memberi janji untuk mendorong laki-laki bodoh itu agar melaksanakan perintahnya
sekuat tenaga. Dan nanti, baik tugasnya itu berhasil atau tidak, Nismara harus
mati agar tidak dapat membuka rahasianya! Sambil tersenyum-senyum membayangkan
Listyarini berkelojotan dan mati, Ki Patih Narotama terpukul hatinya dan
berdukacita, kemudian ia tentu akan naik kedudukannya menjadi garwa padmi
(isteri pertama) sehingga akan lebih banyak mendapat kesempatan untuk
melaksanakan siasatnya mengadu domba antara Ki Patih Narotama dan Sang Prabu
Erlangga, atau membunuh Ki Patih, atau melakukan apa saja untuk menghancurkan
Kahuripan lewat Ki Patih Narotama!
Dengan kepandaiannya yang tinggi,
Lasmini lalu diam-diam membayangi Nismara untuk melihat apakah perajurit pengawal
itu akan berhasil melaksanakan perintahnya. Sebagai seorang perajurit pengawal,
tentu saja Nismara mempunyai kebebasan untuk meronda di semua bagian bangunan
kepatihan. Bahkan dia dapat pula meronda sampai di keputren. Ketika dia meronda
di keputren, memasuki bagian dapur, hampir saja dia bertabrakan dengnan seorang
dayang yang menjadi pelayan pribadi Listyarini.
"Aduh..... eh, kiranya engkau,
paman Nismara. Engkau mengejutkan aku, hampir saja aku tertabrak, dan jamu ini
tumpah. Aku tentu akan mendapat marah dari Gusti Puteri kalau jamu ini sampai
tumpah!" kata gadis pelayan itu.
"Maaf, Tarni, aku tidak sengaja
Lihat, jamunya tertumpah sedikit ke lantai. Hayo bersihkan, jangan sampai nanti
gusti puteri terpeleset kalau lewat di sini. Untuk siapakah jamu ini?"
"Untuk siapa lagi kalau bukan
untuk gusti puteri Listyarini?"
"Apakah beliau sakit?"
tanya Nismara sambil mendekati secawan jamu yang diletakkan di atas meja kecil
yang terdapat di depan dapur karena dayang itu harus membersihkan lantai yang
terkena sedikit air jamu yang tumpah.
"Hemm, apakah seorang puteri
harus sakit dulu untuk minum jamu? Setiap hari sang puteri minum jamu untuk
menjaga kesehatan dan kecantikannya!" kata Tarni, gadis pelayan yang
berusia kurang lebih sembilan belas tahun itu.
Setelah membersihkan lantai, Tarni
mengambil cawan berisi jamu yang tadi diletakkan di atas meja, lalu membawanya
ke kamar Puteri Listyarini, sama sekali tidak tahu bahwa tadi Nismara
mempergunakan kesempatan itu untuk memasukkan bubuk racun dari bungkusan itu ke
dalam cawan berisi jamu. Setelah berhasil memasukkan racun itu, Nismara
melanjutkan perondaan dengan hati berdebar tegang. Tarni mengetuk pintu kamar
Listyarini dan setelah diperkenankan masuk, ia memasuki kamar itu sambil
membawa cawan berisi jamu. Listyarini sudah mandi dan berganti pakaian. Melihat
jamu dalam cawan yang diletakkan Tarni di atas meja, Listyarini lalu
mengambilnya dan seperti biasa tiap malam, ia minum jamu itu dengan tenang.
Jamu itu pahit dan berbau harum sehingga kalau ada rasa lain memasukinya, tidak
akan terasa karena kalah oleh rasa pahit jamu itu. Akan tetapi begitu jamu itu
terminum habis, Listyarini melepaskan cawan yang jatuh berkerontangan di atas
lantai, kemudian wanita itu mengaduh dan terkulai roboh di atas lantai! Melihat
ini, Tarni terkejut, menubruk dan melihat Listyarini menggeliat kesakitan, ia
menjadi ketakutan dan berlari keluar dari kamar itu sambil berteriak-teriak.
"Tolooonggg ..... toloongRgg
.....!"
Akan tetapi pada saat itu, sebatang
pisau dapur yang runcing melayang dan menancap di dadanya. Gadis pelayan itu
menjerit dan roboh, tewas seketika. Sesosok bayangan berkelebat. Itulah Lasmini
yang tadi mengambil pisau dapur itu dan diam-diam membayangi Tarni Setelah
melihat Listyarini roboh dan Tarni berlari keluar kamar sambil menjerit-jerit,
ia cepat melontarkan pisau itu yang membunuh Tarni.
Teriakan Tarni sebelum roboh tadi
mengejutkan Ki Patih Narotama yang sedang berjalan menuju ke keputren. Dia
cepat melompat ke arah dari mana datangnya jeritan itu. Juga para pelayan
wanita berhamburan keluar dan melihat Tarni menggeletak mandi darah, Ki Patih
Narotama yang mengenalnya sebagai dayang pelayan pribadi Listyarini, cepat
memasuki kamar isterinya yang pintunya terbuka itu. Melihat Listyarini
menggeletak di atas lantai, Ki Patih Narotama cepat menubruknya. Wanita itu
pingsan dan wajahnya kebiruan. Sekali pandang saja tahulah Narotama bahwa
sterinya keracunan. Cepat dia memondong tubuh isterinya, dibawa lari memasuki
kamarnya sendiri dan segera dia mengambil Tongkat Tunggulmanik. Tongkat
berwarna hitam ini merupakan sebatang tongkat wasiat yang dapat dipergunakan
sebagai obat penawar racun yang ampuh sekali. Ki Patih Narotama cepat
menggunakan tongkat pusaka itu, digosok-gosokkan di seluruh tubuh Listyarini,
terutama di bagian perutnya. Selagi dia melakukan pengobatan itu, Lasmini
berlari memasuki kamarnya. Kalau para abdi tidak berani memasuki kamar itu
tanpa dipanggil, tentu saja Lasmini berani.
"Ah, apakah yang terjadi,
kakangmas? Kenapa kakangmbok Listyarini?" tanya Lasmini sambil duduk di
tepi pembaringan melihat betapa dengan penuh perhatian dan kasih sayang
Narotama menggosok-gosokkan tongkat pusaka hitam itu ke tubuh Listyarini.
Dengan matanya yang cerdik, Lasmini mendapatkan kenyataan yang amat
mengecewakan hatinya. Jelas sekali tampak olehnya yang ahli dalam hal racun
bahwa Listyarini tertolong oleh pengobatan menggunakan tongkat pusaka itu.
Warna kebiruan pada tubuh Listyarini sudah mulai menipis dan sebentar lagi saja
Listyarini tentu akan terbebas sama sekali dari pengaruh racun,
"la keracunan dan abdinya
dibunuh orang! Entah siapa yang melakukan perbuatan jahat dan keji itu. Diajeng
Lasmini, cepat pergunakan kepandaianmu untuk menyelidiki siapa pelaku kejahatan
ini, mungkin dia masih berada di dalam gedung kepatihan. Cari dan tangkap
dia" kata Narotama.
"Baik, kakangmas!" kata
Lasmini dan sekali berkelebat ia telah keluar dari kamar itu. Beberapa lama
kemudian masuk kembali ke kamar itu. Ia melihat betapa keadaan Listyarini sudah
jauh lebih baik, bahkan wanita itu telah sadar dari pingsannya.
"Bagaimana, diajeng?"
tanya Narotama.
Lasmini duduk di tepi pembaringan.
"Sudah kucari, akan tetapi aku
tidak menemukan jejaknya. Setelah kuperiksa keadaan gadis pelayan itu, kulihat
bahwa pembunuhnya tentu seorang biasa saja, dia menggunakan pisau dapur
kepatihan sini untuk membunuh pelayan itu."
Dengan suara masih lemah, Listyarini
yang sudah diberi tahu suaminya bahwa Tarni dibunuh orang, bertanya,
"Akan tetapi..... mengapa
penjahat itu membunuh Tarni? la tidak mempunyai kesalahan apapun, bahkan tidak
pernah berhubungan dengan orang luar, sikapnya juga baik terhadap semua
keluarga dan abdi yang berada di kepatihan."
Narotama menghela napas.
"Sama anehnya dengan orang yang
hendak meracunimu, diajeng! Engkau juga tidak pernah mempunyai musuh!"
"Hemm, kalau kakangmbok hendak
dibunuh, hal itu tidak mengherankan mengingat bahwa paduka tentu mempunyai
banyak musuh, kakangmas. Bisa saja dendam kepada paduka ditumpahkan kepada
kami, keluarga paduka. Dan tentang Tarni, mungkin saja pelayan itu mengenal
orang yang hendak meracuni kakangmbok Listyarini, maka ia bunuh."
Narotama mengangguk-angguk.
"Hemmnn, kurasa pendapatmu itu
tepat sekali, diajeng Lasmini."
Akan tetapi Lasmini melihat betapa
sinar mata Listyarini memandang penuh kecurigaan, ia segera berkata,
"Kakangmas, keadaan kakangmbok
Listyarini masih lemah, agaknya hawa racun belum bersih benar dari tubuhnya,
Aku mengetahui cara pengobatan untuk mengusir semua sisa hawa beracun itu.
"Kalau begitu, lakukanlah,
diajeng" kata Narotama.
"Kakangmbok Listyarini,
telentanglah, biar aku mengobatimu sampai sembuh benar." kata Lasmini
kepada madunya yang rebah miring.
Listyarini tampak meragu dan
memandang suaminya.
Narotama mengangguk.
"Menurut sajalah, diajeng.
Diajeng Lasmini tentu dapat menyembuhkanmu secara tuntas."
Listyarini lalu menelentangkan
tubuh, Lasmini meletakkan kedua telapak tangannya ke atas perut madunya,
mengerahkan tenaga sakti dari Aji Ampak-Ampak. Listyarini merasa betapa kedua
telapak tangan madunya itu dingin sekali. Hawa dingin memasuki perutnya dan dia
merasa nyaman sekali. Rasa panas yang tadi mengganggunya perlahan-lahan lenyap
dan saking nyamannya, Listyarini lalu tertidur!
Lasmini menghentikan pengobatannya.
Narotama memeriksa denyut jantung isteri pertamanya dengan meraba lehernya. Dia
merasa lega. Denyut itu menunjukkan bahwa isterinya telah benar benar sehat
kembali dan kini tertidur pulas.
Narotama tersenyum, lalu merangkul
dan mencium bibir Lasmini yang selalu menantang setiap kali selir itu
memandangnya. "Terima kasih, diajeng. la telah sehat kembali."
Lasmini yang amat kecewa itu dapat
memperlihatkan wajah yang gembira, turun dari pembaringan.
"Kakangmas, saya hendak
melanjutkan penyelidikan, mudah-mudahan dapat membongkar rahasia ini dan
menemukan pembunuh itu."
"Baik, diajeng. Kuhargai sekali
bantuanmu." Kata Narotama.
Peristiwa itu membangkitkan rasa
cinta Narotama kepada Listyarini, perasaan cinta yang tadinya agak mengurang,
karena semua berahinya dikuasai oleh Lasmini yang pandai menyenangkan dan
menggairahkan itu. Mulai malam itu sampai malam-malam berikutnya, Narotama
menahan Listyarini agar tidur dikamarnya untuk menjaga dan melindungnya. Tiga
bulan kemudian setelah peristiwa pembunuhan itu. Malam terang bulan. Taman
kepatihan sunyi sekali, akan tetapi di belakang rumpun bambu gading itu Lasmini
bicara berbisik-bisik dengan Nismara yang bertubuh pendek.
"Sebetulnya sudah sejak dulu
seharusnya engkau kubunuh! Masih ingin mengharapkan hadiah dariku? Engkau
bodoh, tolol! Kegagalan karena ketololanmu itu bahkan mendatangkan kerugian
yang amat besar kepadaku!"
"Ampun, gusti puteri. Sebetulnya
hamba sudah berusaha sebaik mungkin." kata Nismara merendah.
"Berapa kali engkau mengatakan
begitu! Akan tetapi kenyataannya, engkau sembrono, bodoh dan tolol. Semestinya
engkau tidak memperlihatkan diri kepada Tarni itu. Kalau Tarni tidak kubunuh,
tentu ia akan menceritakan pertemuannya denganmu dan apa kaukira Ki Patih
Narotama begitu bodoh? Engkau tentu akan ditangkap dan dihukum mati! Sialan,
karena ketololanmu, sekarang kakang-mbok Listyarini malah hamil!" Lasmini
marah sekali sehingga biarpun ia bicara berbisik, suaranya seolah menghujam ke
hati Nismara.
"Akan tetapi..... gusti puteri
apa hubungannya kehamilan itu dengan kegagalan hamba”
"Dasar tolol, goblok! Kalau
engkau tidak terlihat oleh Tarni, kalau Listyarini minum jamu itu seorang diri di
kamarnya, tentu ia sudah mampus karena tidak ada yang tahu. Akan tetapi karena
kesalahanmu, Tarni melihat Listyarini roboh dan ia menjerit-jerit sehingga Ki
Patih Narotama keburu datang menyelamatkannya! Kemudian, karena pengaruh racun
dari pengobatannya itu mendatangkan kesuburan dalam guwagarba Listyarini dari
semenjak itu, Ki Patih Narotama selalu menemaninya di waktu malam, maka kini
Listyarini hamil. Goblok kau!"
"Aduh, gusti puteri. Hamba
tidak mengira akan begini jadinya. Hamba kira gusti ayu Listyarini akan tewas
seketika setelah minum jamu yang diberi racun itu."
"Sudah! Sekarang engkau harus
menebus kesalahanmu!"
"Menebus ..... bagaimana .....,
gusti puteri?" tanya Nismara dengan muka pucat. Sungguh sial. Dahulu ia
sampai bermimpi menerima hadiah Lasmini, dapat membelai tubuh menggairahkan itu
dan menikmatinya. Tidak tahunya sekarang ia malah diancam dan mendapat makian
setiap kali bertemu dengan sang puteri. Masih untung bahwa sampai sekarang,
hampir tiga bulan semenjak terjadinya peristiwa itu, dia belum dibunuh. Akan
tetapi agaknya sekarang saatnya tiba, maka tubuhnya sudah menggigil ketakutan.
"Engkau harus menebus kesalahan
dan kegagalanmu yang dulu dan sekarang aku tidak ingin melihat engkau gagal
lagi. Engkau harus membunuh Listyarini!"
Nismara terbelalak.
"Akan tetapi ..... bagaimana
caranya, gusti puteri?"
"Begini. Sudah menjadi
kebiasaan Listyarini untuk duduk-duduk di bangku dekat pondok di taman ini.
Biasanya, ia datang di sini seorang diri saja. Ia ditemani Ki Patih
Narotama hanya di waktu malam. Nah, saat sore di waktu ia seorang diri duduk di
taman ini merupakan kesempatan yang amat baik. Kau tangkap Listyarini, lalu
kaubawa ia pergi, culik ia dan bawa lari keluar dari kota raja, ia kuserahkan
kepadamu seluruhnya. Kau boleh perkosa ia, boleh mempermainkannya sesuka
hatimu. Kalau engkau sudah puas, kaubunuh ia!"
Wajah Nismara menjadi semakin pucat.
"Akan tetapi..... Gusti Patih
tentu akan marah sekali. Kalau hamba dikejarnya dan tertangkap, celakalah
hamba"
"Jangan khawatir, aku telah
mempersiapkan semua. Setelah berhasil membunuh Listyarini, engkau larilah ke
selatan. Setelah tiba di perbatasan Kerajaan Parang Siluman, orang-orangku akan
menyembunyikan engkau di sana dan Ki Patih Narotama tidak akan pernah dapat
menemukanmu. Aku tanggung hal itu!"
"Tapi ..... tapi ....."
Nismara masih ragu dan takut.
"Sekarang pilih saja. Engkau
menerima tugas ini dan mendapatkan kesenangan, menikmati Listyarini yang cantik
jelita. Apakah engkau tidak melihat betapa cantik wajahnya dan betapa
menggairahan tubuhnya? Selain itu, kalau engkau berhasil membunuhnya, engkau akan
kuberi hadiah banyak sekali dan mungkin kelak akan kuberi kedudukan tinggi di
Kerajaan Parang Siluman. Sebaliknya, kalau engkau tidak mau melaksanakan
perintahku itu, sekarang juga engkau akan kusiksa dan kubunuh!"
Tiada lain pilihan bagi Nismara. Apa
lagi, nafsu berahinya sudah bangkit ketika dia membayangkan kejelitaan
Listyarini dan ia percaya bahwa Lasmini akan melindunginya seperti yang telah
dilakukan Lasmini ketika membunuh Tarni agar ia tidak sampai dicurigai.
"Baiklah, gusti puteri. Akan
hamba laksanakan perintah itu."
Lasmini menjadi girang sekali.
No comments:
Post a Comment