Tentu saja tidak enak kalau menceritakan bahwa ia telah menjadi puteri kerajaan musuh! Maka ia lalu menceritakan bahwa ia dulu dilarikan oleh Nyi Dewi Durgakumala, diangkat menjadi murid, bahkan dianggap anak angkat dan ia telah mewarisi semua ilmu yang tinggi dari Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi datuk besar yang sakti mandraguna, ia hanya menceritakan bahwa oleh gurunya dibawa ke tempat pertapaan gurunya di Lembah Tengkorak yang terletak di antara Gunung Arjuno dan Gunung Bromo.
"Nyi Dewi Durgakumala?"
terdengar Linggajaya berseru kagum setelah Puspa Dewi menceritakan
pengalamannya.
"Wah, pantas engkau sekarang
menjadi sakti mandraguna! Kiranya gurumu adalah Nyi Dewi Durgakumala, seorang
datuk besar yang terkenal sekali. Guruku pernah bercerita tentang datuk wanita
itu, Puspa Dewi."
Puspa Dewi tersenyum. Sejak menjadi
murid Nyi Dewi Durgakumala, ia memang menjadi seorang gadis yang berhati keras,
lincah, dan tidak pemalu.
"Akupun sudah mendengar dari
guruku tentang Resi Bajrasakti yang menjadi gurumu, Linggajaya!"
"Hei, Puspa Dewi, engkau tidak
boleh menyebut Linggajaya begitu saja! Dia lebih tua darimu dan dia adalah
kakakmu, seharusnya engkau menyebut kakang (kakak) kepadanya!" Nyi Lasmi
menegur sambil tersenyum.
Puspa Dewi juga tersenyum. Ia tadi
lupa akan kenyataan yang sama sekali tidak diduga-duganya sebelumnya bahwa kini
ia menjadi anak tiri Lurah Suramenggala sehingga sekaligus ia juga menjadi adik
dari Linggajaya.
"Baiklah, ibu. Maafkan aku,
kakang Lingga."
Linggajaya tertawa.
"Ha-ha, akupun kalau begitu
harus menyebutmu adik, akan tetapi aku lebih senang menyebut namamu saja.
Namamu begitu indah Puspa Dewi, dan pula, kita ini kakak beradik hanya
sebutannya saja, bukan. Sebetulnya, tidak ada hubungan darah antara kita!"
Ucapan Linggajaya ini mengandung
maksud yang lebih mendalam dan hal ini dirasakan dan diketahui oleh Ki
Suramenggala dan semua isterinya. Dengan ucapan itu Linggajaya seolah hendak
menyatakan isi hatinya bahwa dia dan Puspa Dewi tidak ada hubungan darah
sehingga tidak ada larangan untuk berjodoh dan menjadi suami isteri! Ucapan,
sikap dan pandang matanya sudah cukup jelas menunjukkan bahwa dia menaruh hati
kepada gadis itu! Akan tetapi Puspa Dewi sendiri, gadis yang masih hijau dan
belum ada pengalaman, menganggap ucapan pemuda itu biasa-biasa saja, maka iapun
menerimanya dengan senyum wajar.
"Terserah kepadamu, Kakang
Lingga. Engkau yang lebih tua, boleh menyebutku apa saja asal jangan menyebut
bulik (bibi muda) atau bude (bibi tua)!"
Semua orang tertawa mendengar ucapan
Puspa Dewi ini. Ibunya sendiri, Nyi Lasmi, diam-diam merasa heran. Dahulu, lima
tahun yang lalu Puspa Dewi adalah seorang anak yang pendiam, akan tetapi
sekarang gadis itu selain berubah menjadi seorang yang sakti mandraguna, juga
sikapnya begitu berani, lincah jenaka dan tidak malu-malu. Ki Lurah
Suramenggala mengadakan pesta besar untuk menyambut pulangnya linggajaya dan
Puspa Dewi, pesta yang meriah dan gembira ria. Dia sama sekali tidak ingat
bahwa keluarga para jagabaya yang tewas, sedang tenggelam dalam duka cita yang
besar.
Sore hari di taman bunga kepatihan
Kahuripan. Sore itu sepi di situ. Taman bunga yang indah itu terpelihara baik
berkat kesukaan dan ketekunan isteri Patih Narotama akan bunga-bunga yang
indah. Mungkin hanya taman-sari istana Sang Prabu Erlangga saja yang dapat
menandingi keindahan taman bunga kepatihan. Di tengah taman itu terdapat sebuah
pondok mungil dan di sebelahnya ada sebuah kolam ikan yang ditumbuhi bunga
teratai merah dan putih. Pada saat itu, seorang wanita cantik berusia kurang
lebih dua puluh tiga tahun duduk seorang diri di serambi pondok mungil, atas
sebuah bangku panjang. Wanita itu berkulit putih kuning mulus, wajahnya mendaun
sirih, matanya lebar jernih dengan sinar lembut, hidungnya kecil mancung dan
bibirnya merah dan segar, bentuknya manis. Gerak geriknya lembut dan pada
wajahnya yang ayu manis itu tampak watak yang lembut dan sabar. Rambutnya hitam
panjang disanggul rapi dan sederhana. Pakaiannya indah dan rapi, namun baik
pakaian maupun perhiasan yang menempel di tubuhnya yang menunjukkan bahwa ia
seorang bangsawan, tidak terlalu mewah. Tubuhnya langsing montok, terbayang
kesegaran karena sehat. Akan tetapi wanita itu duduk seorang diri, berulang
kali menghela napas menyelingi lamunannya. Ia adalah Listyarini, isteri Ki
Patih Narotama yang berasal dari Sukadana, sebuah kota di wilayah Bali-dwipa.
Sudah empat tahun lebih ia menjadi isteri Ki Patih Narotama, akan tetapi belum
juga dikaruniai seorang anak. Hal ini sebetulnya tidak dirisaukannya benar
karena Ki Patih Narotama amat mencintanya. Akan tetapi ketika kurang lebih dua
tahun yang lalu Ki Patih Narotama mengambil Lasmini sebagai selir, Listyarini
seringkali merasa duka. Sikap Lasmini kepadanya terkadang amat menyakitkan
hati. Lasmini bersikap ramah dan hormat kepadanya di hadapan Ki Patih Narotama,
akan tetapi di belakang suami mereka itu, Lasmini sering kali mengejek dan
menyindirnya. Apalagi setelah Lasmini mengenalnya dan tahu bahwa ia berasal
dari gadis dusun di Bali! Memang Listyarini dahulu adalah seorang gadis dusun
bernama Nogati. Setelah Sang Prabu Erlangga menjadi raja dan Narotama diangkat
menjadi patih. Narotama pergi ke Bali untuk menjemput Nogati yang saling
mencinta dengannya membawa Nogati ke Kahuripan dan memjadi isterinya. Setelah
menjadi isteri Ki Patih Narotama, oleh suaminya nama Nogati diganti menjadi
Listyarini agar menghilangkan kesan desanya.
Setelah Lasmini menjadi selir
suaminya, sebenarnya Nogati atau yang sekarang bernama Listyarini tidak merasa
cemburu. Pada jaman itu bukan hal aneh kalau seorang pria memiliki lebih dari
seorang isteri, apalagi seorang yang berpangkat begitu tinggi seperti Ki Patih
Narotama. Iapun tidak cemburu melihat betapa suaminya tampak amat mencinta
Lasmini. Akan tetapi setelah menjadi selir suaminya selama setahun lebih,
mulailah Lasmini memperlihatkan belangnya atau watak aslinya. Lasmini sering
mengejek dan menyindirnya, dan mulailah ia merasa khawatir kalau-kalau Lasmini
dapat mempunyai anak sebaliknya ia tidak. Tentu kedudukannya sebagai garwa
padmi (isteri pertama) akan diambil alih oleh Lasmini yang ia lihat amat keras
berusaha agar menjadi orang nomor satu di samping Ki Patih Narotama! Makin
dikenang dalam lamunannya. Listyarini menjadi semakin sedih. Ia adalah seorang
anak yatim piatu, tiada sanak tiada kadang. Satu-satunya orang yang dekat
dengannya, yang menjadi gantungan hidupnya, adalah Ki Patih Narotama yang
dicinta dengan segenap jiwanya. Namun, satu-satunya orang inipun agaknya akan
direngut lepas darinya oleh Lasmini yang cantik jelita dan pandai merayu,
bahkan masih berdarah bangsawan tinggi karena Lasmini adalah puteri dari Ratu
Kerajaan Parang Siluman!
Tiba-tiba ada suara orang berdehehem
di belakangnya. Listyarini cepat menengok dan ternyata Lasmini sudah berada di
situ. Selir suaminya itu sudah mandi dan mengenakan pakaian baru yang serba
indah dan mewah. Kalau mereka berdua berjajar, orang yang tidak tahu tentu
yakin bahwa Lasmini yang menjadi garwa padmi (isteri pertama ) dan Listyarini
hanya seorang garwa ampil (selir)!
"Ah, engkaukah itu, yayi (adik)
Lasmini" Seperti biasa, Listyarini menyapa dengan halus.
"Duduklah!"
Akan tetapi Lasmini tidak duduk
melainkan melangkah dan berdiri di depan madunya. Karena Listyarini duduk dan
ia berdiri, maka Listyarini lebih rendah dan harus menengadah memandangnya.
Dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan meraba kalung barunya
yang baru saja ia terima sebagai hadiah dari Ki Patih Narotama, Lasmini berkata
sambil tersenyum mengejek.
"Kakang-mbok (kakak)
Listyarini, mengapa engkau duduk seorang diri dan melamun di sini? Apakah
engkau mengenang masa lalumu ketika engkau masih berada di dusun kecil yang
berada di Bali-dwipa itu? Ketika engkau masih nama Ni Nogati sebelum diangkat
oleh Kakangmas Narotama menjadi isterinya?" Dalam ucapan itu terkandung
ejekan yang amat merendahkan, mengingatkan Listyarini akan masa lalunya sebagai
seorang berkasta biasa dan rendah.
Listyarini tentu saja merasakan
penghinaan ini, akan tetapi wanita yang halus budi ini sudah terlalu sering
mengalami ejekan itu dan ia mengerti bahwa madunya memang sengaja hendak
menyakiti hatinya. Pengertian ini membuat ia tersenyum dan sama sekali tidak
merasa sakit hati.
"Dugaanmu benar, Lasmini.
Memang aku mengenang akan keadaanku ketika masih tinggal di Sukadana,
Bali-Dwipa sebagai seorang gadis dusun. Alangkah bahagianya ketika itu, semua
orang begitu ramah, rukun dan damai dan akupun saling mencinta dengan Kakangmas
Narotama yang ketika itu juga seorang muda biasa, bukan bangsawan, dan belum
menjadi patih seperti sekarang ini."
Ucapan yang lembut dan terus terang
tanpa bermaksud menyerang itu diterima oleh Lasmini dengan muka berubah merah
karena ia merasa disindir madunya itu seolah hendak mengatakan bahwa Listyarini
saling mencinta dengan Narotama sejak patih itu masih pemuda biasa sebaliknya
ia menjadi isteri Narotama setelah dia menjadi patih! Seolah ia mengejar
kedudukan!
”Heemm, sebelum menjadi isteri
Kakangmas Narotama, aku adalah puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman! Kedudukanku
bahkan lebih tinggi daripada Ki Patih Narotama!" Ia balas menyerang.
Merasa betapa dalam suara Lasmini
terkandung kemarahan, Listyarini lalu bangkit dari bangkunya dan berkata dengan
suara tetap halus,
"Maafkan, Yayi Lasmini, aku
tidak dapat melayanimu bercakap-cakap lebih lama lagi. Aku ingin mandi dan
berganti pakaian sebelum malam tiba."
Setelah berkata demikian, Listyarini
lalu meninggalkan taman itu dengan cepat, seolah ia merasa risi berada di dekat
Lasmini terlampau lama.
"Jahanam .....!" desis
Lasmini lirih dengan geram sambil mengepal tangan kanannya. Ia merasa gemas
sekali kepada Listyarini dan ingin sekali membunuhnya. Akan tetapi ia tidak
berani melakukan hal itu dengan tangannya sendiri karena kalau hal ini ketahuan
Ki Patih Narotama, tentu ia akan celaka.
Lasmini merasa menyesal dan kecewa
sekali. Semua rencana yang diaturnya bersama Mandari, pamannya dan ibunya,
ternyata mengalami kegagalan. Selama hampir dua tahun ia membiarkan dirinya menjadi
selir Ki Patih Narotama. Memang benar suaminya itu seorang pria yang
mengagumkan dan diam-diam ia sendiripun jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi
suaminya itu adalah musuh besar keluarganya yang harus ia hancurkan dan semua
rencana itu tidak berhasil. Siasat untuk mengadu domba antara Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama belum pernah berhasil. Untuk membunuh Ki Patih
Narotama, selain ia merasa sayang dan tidak tega, juga ia merasa ngeri dan
takut. Ki Patih Narotama itu terlalu sakti untuk dapat dibunuh begitu saja
"Awas kau, Listyarini,
bersiaplah untuk mampus!" desisnya lagi dan Lasmini lalu cepat
meninggalkan taman. Ia memasuki keputren dan memanggil Sarti, pelayan
pribadinya.
Sarti ini seorang wanita berusia
sekitar empat puluh tahun, seorang kawula Parang Siluman yang sengaja
dipanggilnya untuk menjadi pelayan pribadinya. Tentu saja Sarti yang dahulu
menjadi pengasuhnya ketika ia masih kecil, merupakan hamba yang setia
kepadanya, apalagi wanita itu juga seorang kawula Parang Siluman. Setelah Sarti
menghadap kepadanya, Lasmini berkata,
"Sarti, cepat kau panggil
Nismara ke sini, suruh dia menemui diriku di taman, belakang rumpun bambu
gading."
"Baik, gusti puteri."
Sarti menyembah dan wanita berusia empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar
dan berwajah buruk kasar seperti laki-laki itu cepat meninggalkan keputren.
Ia menyelinap dan tak lama kemudian
sudah berhasil menemui Nismara, seorang perajurit pengawal kepatihan. Nismara
ini berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh pendek gempal (kokoh). Dia
seorang perajurit pengawal kepatihan yang sudah lama mengabdi kepada Narotama.
Akan tetapi diam-diam dia merasa dendam kepada Narotama karena pernah dalam
keadaan mabok menggoda dayang (gadis pelayan) kepatihan. Perbuatan ini
diketahui Ki Patih Narotama yang menegurnya dengan keras, bahkan menghukumnya
dengan cambukan dan menurunkan pangkatnya. Biarpun pada lahirnya dia
menghaturkan terima kasih karena diampuni dan tidak dipecat, namun batinnya
menaruh dendam kepada Ki Patih Narotama.
Lasmini yang bermata tajam dan
cerdik dapat melihat hal ini dan ia segera mendekati Nismara dan memberinya
hadiah-hadiah sehingga sebentar saja perajurit yang berwatak buruk ini tunduk
kepada Lasmini dan menjadi anteknya! Ketika mendengar ucapan Sarti, Nismara
segera menyelinap ke dalam taman. Di sudut taman itu terdapat serumpun bambu
kuning (gading) dan ketika dia tiba di belakang rumpun bambu gading yang gelap,
dia melihat Lasmini sudah berdiri menantinya di situ. Nismara yang mata
keranjang itu tergila-gila kepada Lasmini. Akan tetapi sekarang ia selalu
gemetar ketakutan kalau berhadapan dengan wanita cantik itu karena pernah
Lasmini menghajarnya habis habisan karena dia berani bersikap kurang ajar dan
merayu selir Ki Patih ini. semenjak itu tahulah dia bahwa dia sama sekali bukan
lawan wanita yang sakti mandraguna ini. Karena itu pula dia menjadi semakin
tunduk, menghormati dan menaatinya karena Lasmini royal sekali memberi hadiah
kepadanya.
"Paduka memanggil saya, gusti
putri?" tanya Nismara setelah memberi hormat dengan sembah.
"Ada tugas penting sekali
untukmu, Nismara." kata Lasmini.
"Perintahkan saja, gusti. Pasti
akan saya laksanakan dengan sebaiknya!" jawab Nismara gagah.
Lasmini mengeluarkan sebuah
bungkusan kecil dari balik penutup dadanya dan memberikannya kepada Nismara.
"Ini adalah sebungkus bubuk
racun yang mematikan. Usahakanlah agar engkau dapat memasukkan bubuk racun ini
ke dalam cawan tempat minuman Kakangmbok Listyarini."
Nismara membuka matanya lebar lebar
sambil memandang bungkusan kecil yang sudah berada di tangannya.
"Ta..... tapi....., itu
berbahaya sekali, gusti Kalau ketahuan ....."
"Bodoh! Tentu saja jangan
sampai ketahuan. Kalau engkau berani menolak engkau akan mati tersiksa hebat.
Sebaliknya kalau engkau melaksanakan tugas ini sampai berhasil, hemm.....
engkau boleh menemani aku bersenang-senang dalam pondok mungil di taman
ini!"
Jantung dalam dada Nismara berdebar
kencang. Janji ini jauh lebih mendebarkan dan menggembirakan daripada janji
diberi hadiah uang berapapun banyaknya Dia sudah dapat membayangkan betapa dia
akan dapat mendekap dan membelai tubuh yang bahenol itu! Ingin dia seketika
menerkam tubuh Lasmini dan menciumi wajahnya, akan tetapi tentu saja dia tidak
berani sebelum mendapat ijin dari si empunya tubuh!
"Sendika dawuh paduka, gusti.
Saya akan melaksanakannya dengan baik!"
No comments:
Post a Comment