Bagian 38


Tentu saja tidak enak kalau menceritakan bahwa ia telah menjadi puteri kerajaan musuh! Maka ia lalu menceritakan bahwa ia dulu dilarikan oleh Nyi Dewi Durgakumala, diangkat menjadi murid, bahkan dianggap anak angkat dan ia telah mewarisi semua ilmu yang tinggi dari Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi datuk besar yang sakti mandraguna, ia hanya menceritakan bahwa oleh gurunya dibawa ke tempat pertapaan gurunya di Lembah Tengkorak yang terletak di antara Gunung Arjuno dan Gunung Bromo.
"Nyi Dewi Durgakumala?" terdengar Linggajaya berseru kagum setelah Puspa Dewi menceritakan pengalamannya.
"Wah, pantas engkau sekarang menjadi sakti mandraguna! Kiranya gurumu adalah Nyi Dewi Durgakumala, seorang datuk besar yang terkenal sekali. Guruku pernah bercerita tentang datuk wanita itu, Puspa Dewi."

Puspa Dewi tersenyum. Sejak menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala, ia memang menjadi seorang gadis yang berhati keras, lincah, dan tidak pemalu.
"Akupun sudah mendengar dari guruku tentang Resi Bajrasakti yang menjadi gurumu, Linggajaya!"
"Hei, Puspa Dewi, engkau tidak boleh menyebut Linggajaya begitu saja! Dia lebih tua darimu dan dia adalah kakakmu, seharusnya engkau menyebut kakang (kakak) kepadanya!" Nyi Lasmi menegur sambil tersenyum.
Puspa Dewi juga tersenyum. Ia tadi lupa akan kenyataan yang sama sekali tidak diduga-duganya sebelumnya bahwa kini ia menjadi anak tiri Lurah Suramenggala sehingga sekaligus ia juga menjadi adik dari Linggajaya.
"Baiklah, ibu. Maafkan aku, kakang Lingga."
Linggajaya tertawa.
"Ha-ha, akupun kalau begitu harus menyebutmu adik, akan tetapi aku lebih senang menyebut namamu saja. Namamu begitu indah Puspa Dewi, dan pula, kita ini kakak beradik hanya sebutannya saja, bukan. Sebetulnya, tidak ada hubungan darah antara kita!"
Ucapan Linggajaya ini mengandung maksud yang lebih mendalam dan hal ini dirasakan dan diketahui oleh Ki Suramenggala dan semua isterinya. Dengan ucapan itu Linggajaya seolah hendak menyatakan isi hatinya bahwa dia dan Puspa Dewi tidak ada hubungan darah sehingga tidak ada larangan untuk berjodoh dan menjadi suami isteri! Ucapan, sikap dan pandang matanya sudah cukup jelas menunjukkan bahwa dia menaruh hati kepada gadis itu! Akan tetapi Puspa Dewi sendiri, gadis yang masih hijau dan belum ada pengalaman, menganggap ucapan pemuda itu biasa-biasa saja, maka iapun menerimanya dengan senyum wajar.
"Terserah kepadamu, Kakang Lingga. Engkau yang lebih tua, boleh menyebutku apa saja asal jangan menyebut bulik (bibi muda) atau bude (bibi tua)!"
Semua orang tertawa mendengar ucapan Puspa Dewi ini. Ibunya sendiri, Nyi Lasmi, diam-diam merasa heran. Dahulu, lima tahun yang lalu Puspa Dewi adalah seorang anak yang pendiam, akan tetapi sekarang gadis itu selain berubah menjadi seorang yang sakti mandraguna, juga sikapnya begitu berani, lincah jenaka dan tidak malu-malu. Ki Lurah Suramenggala mengadakan pesta besar untuk menyambut pulangnya linggajaya dan Puspa Dewi, pesta yang meriah dan gembira ria. Dia sama sekali tidak ingat bahwa keluarga para jagabaya yang tewas, sedang tenggelam dalam duka cita yang besar.

Sore hari di taman bunga kepatihan Kahuripan. Sore itu sepi di situ. Taman bunga yang indah itu terpelihara baik berkat kesukaan dan ketekunan isteri Patih Narotama akan bunga-bunga yang indah. Mungkin hanya taman-sari istana Sang Prabu Erlangga saja yang dapat menandingi keindahan taman bunga kepatihan. Di tengah taman itu terdapat sebuah pondok mungil dan di sebelahnya ada sebuah kolam ikan yang ditumbuhi bunga teratai merah dan putih. Pada saat itu, seorang wanita cantik berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun duduk seorang diri di serambi pondok mungil, atas sebuah bangku panjang. Wanita itu berkulit putih kuning mulus, wajahnya mendaun sirih, matanya lebar jernih dengan sinar lembut, hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah dan segar, bentuknya manis. Gerak geriknya lembut dan pada wajahnya yang ayu manis itu tampak watak yang lembut dan sabar. Rambutnya hitam panjang disanggul rapi dan sederhana. Pakaiannya indah dan rapi, namun baik pakaian maupun perhiasan yang menempel di tubuhnya yang menunjukkan bahwa ia seorang bangsawan, tidak terlalu mewah. Tubuhnya langsing montok, terbayang kesegaran karena sehat. Akan tetapi wanita itu duduk seorang diri, berulang kali menghela napas menyelingi lamunannya. Ia adalah Listyarini, isteri Ki Patih Narotama yang berasal dari Sukadana, sebuah kota di wilayah Bali-dwipa. Sudah empat tahun lebih ia menjadi isteri Ki Patih Narotama, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Hal ini sebetulnya tidak dirisaukannya benar karena Ki Patih Narotama amat mencintanya. Akan tetapi ketika kurang lebih dua tahun yang lalu Ki Patih Narotama mengambil Lasmini sebagai selir, Listyarini seringkali merasa duka. Sikap Lasmini kepadanya terkadang amat menyakitkan hati. Lasmini bersikap ramah dan hormat kepadanya di hadapan Ki Patih Narotama, akan tetapi di belakang suami mereka itu, Lasmini sering kali mengejek dan menyindirnya. Apalagi setelah Lasmini mengenalnya dan tahu bahwa ia berasal dari gadis dusun di Bali! Memang Listyarini dahulu adalah seorang gadis dusun bernama Nogati. Setelah Sang Prabu Erlangga menjadi raja dan Narotama diangkat menjadi patih. Narotama pergi ke Bali untuk menjemput Nogati yang saling mencinta dengannya membawa Nogati ke Kahuripan dan memjadi isterinya. Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama, oleh suaminya nama Nogati diganti menjadi Listyarini agar menghilangkan kesan desanya.

Setelah Lasmini menjadi selir suaminya, sebenarnya Nogati atau yang sekarang bernama Listyarini tidak merasa cemburu. Pada jaman itu bukan hal aneh kalau seorang pria memiliki lebih dari seorang isteri, apalagi seorang yang berpangkat begitu tinggi seperti Ki Patih Narotama. Iapun tidak cemburu melihat betapa suaminya tampak amat mencinta Lasmini. Akan tetapi setelah menjadi selir suaminya selama setahun lebih, mulailah Lasmini memperlihatkan belangnya atau watak aslinya. Lasmini sering mengejek dan menyindirnya, dan mulailah ia merasa khawatir kalau-kalau Lasmini dapat mempunyai anak sebaliknya ia tidak. Tentu kedudukannya sebagai garwa padmi (isteri pertama) akan diambil alih oleh Lasmini yang ia lihat amat keras berusaha agar menjadi orang nomor satu di samping Ki Patih Narotama! Makin dikenang dalam lamunannya. Listyarini menjadi semakin sedih. Ia adalah seorang anak yatim piatu, tiada sanak tiada kadang. Satu-satunya orang yang dekat dengannya, yang menjadi gantungan hidupnya, adalah Ki Patih Narotama yang dicinta dengan segenap jiwanya. Namun, satu-satunya orang inipun agaknya akan direngut lepas darinya oleh Lasmini yang cantik jelita dan pandai merayu, bahkan masih berdarah bangsawan tinggi karena Lasmini adalah puteri dari Ratu Kerajaan Parang Siluman!

Tiba-tiba ada suara orang berdehehem di belakangnya. Listyarini cepat menengok dan ternyata Lasmini sudah berada di situ. Selir suaminya itu sudah mandi dan mengenakan pakaian baru yang serba indah dan mewah. Kalau mereka berdua berjajar, orang yang tidak tahu tentu yakin bahwa Lasmini yang menjadi garwa padmi (isteri pertama ) dan Listyarini hanya seorang garwa ampil (selir)!
"Ah, engkaukah itu, yayi (adik) Lasmini" Seperti biasa, Listyarini menyapa dengan halus.
"Duduklah!"
Akan tetapi Lasmini tidak duduk melainkan melangkah dan berdiri di depan madunya. Karena Listyarini duduk dan ia berdiri, maka Listyarini lebih rendah dan harus menengadah memandangnya. Dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan meraba kalung barunya yang baru saja ia terima sebagai hadiah dari Ki Patih Narotama, Lasmini berkata sambil tersenyum mengejek.
"Kakang-mbok (kakak) Listyarini, mengapa engkau duduk seorang diri dan melamun di sini? Apakah engkau mengenang masa lalumu ketika engkau masih berada di dusun kecil yang berada di Bali-dwipa itu? Ketika engkau masih nama Ni Nogati sebelum diangkat oleh Kakangmas Narotama menjadi isterinya?" Dalam ucapan itu terkandung ejekan yang amat merendahkan, mengingatkan Listyarini akan masa lalunya sebagai seorang berkasta biasa dan rendah.
Listyarini tentu saja merasakan penghinaan ini, akan tetapi wanita yang halus budi ini sudah terlalu sering mengalami ejekan itu dan ia mengerti bahwa madunya memang sengaja hendak menyakiti hatinya. Pengertian ini membuat ia tersenyum dan sama sekali tidak merasa sakit hati.
"Dugaanmu benar, Lasmini. Memang aku mengenang akan keadaanku ketika masih tinggal di Sukadana, Bali-Dwipa sebagai seorang gadis dusun. Alangkah bahagianya ketika itu, semua orang begitu ramah, rukun dan damai dan akupun saling mencinta dengan Kakangmas Narotama yang ketika itu juga seorang muda biasa, bukan bangsawan, dan belum menjadi patih seperti sekarang ini."

Ucapan yang lembut dan terus terang tanpa bermaksud menyerang itu diterima oleh Lasmini dengan muka berubah merah karena ia merasa disindir madunya itu seolah hendak mengatakan bahwa Listyarini saling mencinta dengan Narotama sejak patih itu masih pemuda biasa sebaliknya ia menjadi isteri Narotama setelah dia menjadi patih! Seolah ia mengejar kedudukan!
”Heemm, sebelum menjadi isteri Kakangmas Narotama, aku adalah puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman! Kedudukanku bahkan lebih tinggi daripada Ki Patih Narotama!" Ia balas menyerang.
Merasa betapa dalam suara Lasmini terkandung kemarahan, Listyarini lalu bangkit dari bangkunya dan berkata dengan suara tetap halus,
"Maafkan, Yayi Lasmini, aku tidak dapat melayanimu bercakap-cakap lebih lama lagi. Aku ingin mandi dan berganti pakaian sebelum malam tiba."
Setelah berkata demikian, Listyarini lalu meninggalkan taman itu dengan cepat, seolah ia merasa risi berada di dekat Lasmini terlampau lama.
"Jahanam .....!" desis Lasmini lirih dengan geram sambil mengepal tangan kanannya. Ia merasa gemas sekali kepada Listyarini dan ingin sekali membunuhnya. Akan tetapi ia tidak berani melakukan hal itu dengan tangannya sendiri karena kalau hal ini ketahuan Ki Patih Narotama, tentu ia akan celaka.
Lasmini merasa menyesal dan kecewa sekali. Semua rencana yang diaturnya bersama Mandari, pamannya dan ibunya, ternyata mengalami kegagalan. Selama hampir dua tahun ia membiarkan dirinya menjadi selir Ki Patih Narotama. Memang benar suaminya itu seorang pria yang mengagumkan dan diam-diam ia sendiripun jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi suaminya itu adalah musuh besar keluarganya yang harus ia hancurkan dan semua rencana itu tidak berhasil. Siasat untuk mengadu domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama belum pernah berhasil. Untuk membunuh Ki Patih Narotama, selain ia merasa sayang dan tidak tega, juga ia merasa ngeri dan takut. Ki Patih Narotama itu terlalu sakti untuk dapat dibunuh begitu saja
"Awas kau, Listyarini, bersiaplah untuk mampus!" desisnya lagi dan Lasmini lalu cepat meninggalkan taman. Ia memasuki keputren dan memanggil Sarti, pelayan pribadinya.

Sarti ini seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun, seorang kawula Parang Siluman yang sengaja dipanggilnya untuk menjadi pelayan pribadinya. Tentu saja Sarti yang dahulu menjadi pengasuhnya ketika ia masih kecil, merupakan hamba yang setia kepadanya, apalagi wanita itu juga seorang kawula Parang Siluman. Setelah Sarti menghadap kepadanya, Lasmini berkata,
"Sarti, cepat kau panggil Nismara ke sini, suruh dia menemui diriku di taman, belakang rumpun bambu gading."
"Baik, gusti puteri." Sarti menyembah dan wanita berusia empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah buruk kasar seperti laki-laki itu cepat meninggalkan keputren.
Ia menyelinap dan tak lama kemudian sudah berhasil menemui Nismara, seorang perajurit pengawal kepatihan. Nismara ini berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh pendek gempal (kokoh). Dia seorang perajurit pengawal kepatihan yang sudah lama mengabdi kepada Narotama. Akan tetapi diam-diam dia merasa dendam kepada Narotama karena pernah dalam keadaan mabok menggoda dayang (gadis pelayan) kepatihan. Perbuatan ini diketahui Ki Patih Narotama yang menegurnya dengan keras, bahkan menghukumnya dengan cambukan dan menurunkan pangkatnya. Biarpun pada lahirnya dia menghaturkan terima kasih karena diampuni dan tidak dipecat, namun batinnya menaruh dendam kepada Ki Patih Narotama.

Lasmini yang bermata tajam dan cerdik dapat melihat hal ini dan ia segera mendekati Nismara dan memberinya hadiah-hadiah sehingga sebentar saja perajurit yang berwatak buruk ini tunduk kepada Lasmini dan menjadi anteknya! Ketika mendengar ucapan Sarti, Nismara segera menyelinap ke dalam taman. Di sudut taman itu terdapat serumpun bambu kuning (gading) dan ketika dia tiba di belakang rumpun bambu gading yang gelap, dia melihat Lasmini sudah berdiri menantinya di situ. Nismara yang mata keranjang itu tergila-gila kepada Lasmini. Akan tetapi sekarang ia selalu gemetar ketakutan kalau berhadapan dengan wanita cantik itu karena pernah Lasmini menghajarnya habis habisan karena dia berani bersikap kurang ajar dan merayu selir Ki Patih ini. semenjak itu tahulah dia bahwa dia sama sekali bukan lawan wanita yang sakti mandraguna ini. Karena itu pula dia menjadi semakin tunduk, menghormati dan menaatinya karena Lasmini royal sekali memberi hadiah kepadanya.
"Paduka memanggil saya, gusti putri?" tanya Nismara setelah memberi hormat dengan sembah.
"Ada tugas penting sekali untukmu, Nismara." kata Lasmini.
"Perintahkan saja, gusti. Pasti akan saya laksanakan dengan sebaiknya!" jawab Nismara gagah.
Lasmini mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari balik penutup dadanya dan memberikannya kepada Nismara.
"Ini adalah sebungkus bubuk racun yang mematikan. Usahakanlah agar engkau dapat memasukkan bubuk racun ini ke dalam cawan tempat minuman Kakangmbok Listyarini."
Nismara membuka matanya lebar lebar sambil memandang bungkusan kecil yang sudah berada di tangannya.
"Ta..... tapi....., itu berbahaya sekali, gusti Kalau ketahuan ....."
"Bodoh! Tentu saja jangan sampai ketahuan. Kalau engkau berani menolak engkau akan mati tersiksa hebat. Sebaliknya kalau engkau melaksanakan tugas ini sampai berhasil, hemm..... engkau boleh menemani aku bersenang-senang dalam pondok mungil di taman ini!"

Jantung dalam dada Nismara berdebar kencang. Janji ini jauh lebih mendebarkan dan menggembirakan daripada janji diberi hadiah uang berapapun banyaknya Dia sudah dapat membayangkan betapa dia akan dapat mendekap dan membelai tubuh yang bahenol itu! Ingin dia seketika menerkam tubuh Lasmini dan menciumi wajahnya, akan tetapi tentu saja dia tidak berani sebelum mendapat ijin dari si empunya tubuh!
"Sendika dawuh paduka, gusti. Saya akan melaksanakannya dengan baik!"

<<<Bagian 37                                                                                          Bagian 39 >>>

No comments:

Post a Comment