Gadis itu tidak memperdulikan mereka dan melangkah masuk melalui pintu belakang. Ketika bertemu seorang pelayan wanita setengah tua, ia menangkap lengan pelayan itu. Pelayan itu berteriak kesakitan karena merasa betapa lengannya seperti dijepit besi!
"Hayo cepat bawa aku kepada Nyi
Lasmi! Cepat, atau akan kupatahkan tanganmu!" Gadis itu mencengkeram lebih
kuat dan wanita itu mengaduh.
"Baik, baik ..... marilah saya
antar andika, tapi jangan sakiti lenganku ....."
Gadis itu mengendurkan
cengkeramannya dan mengikuti pembantu wanita itu masuk ke dalam rumah. Pembantu
wanita itu membawanya memasuki sebuah kamar dimana lima orang isteri Ki Lurah
Suramenggala berkumpul. Mereka itu ketakutan karena maklum bahwa Nurseta datang
lagi dan kini sedang berkelahi melawan Linggajaya.
"Ibuuu .....!" Gadis itu
berseru ketika melihat Nyi Lasmi berada di antara wanita-wanita itu.
"Puspa Dewi .....! Kau .....? Ah,
Puspa Dewi .....!" Ibu dan anak itu saling tubruk dan berangkulan. Nyi
Lasmi menangis saking girang hatinya melihat puterinya selamat dan kini telah
menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Puspa Dewi juga girang melihat ibunya
dalam keadaan selamat. Tadi ketika ia pulang ke rumah ibunya, ia mendapatkan
rumah itu kosong dan seorang tetangga mengatakan bahwa beberapa bulan setelah
ia lenyap diculik orang, ibunya menjadi selir Ki Lurah Suramenggala dan kini
tinggal di kelurahan. Maka ia lalu menyusul ke kelurahan dan melihat
perkelahian di pekarangan, akan tetapi tidak diperdulikannya karena ia ingin
mencari ibunya.
"Kenapa ibu di sini? Kenapa
menjadi isteri Ki Lurah Suramenggala? Apa dia memaksa ibu? Kalau dia memaksa,
biar kuhajar dan kubunuh dia!"
"Jangan .....! Dengar, Puspa
Dewi Dia tidak memaksa. Ibumu hidup seorang diri, sebatang kara setelah engkau
diculik orang. Ibumu membutuhkan perlindungan dan ki lurah telah bersikap baik
sekali kepadaku. Karena itu aku menerimanya ketika dia meminangku. Puspa Dewi,
sekarang dia menjadi ayah tirimu dan dia sedang terancam! Ada orang muda yang
datang mengancam dan hendak membunuhnya. Kini pemuda jahat itu ditandingi oleh
Linggajaya, putera Ki Lurah yang juga baru saja datang dan membela
ayahnya."
"Ah, begitukah? Kalau begitu,
biar akan kuhajar orang kurang ajar itu!" setelah berkata demikian, sekali
berkelebat gadis itu telah lenyap, cepat sekali ia melompat keluar dari kamar
dan langsung saja menuju ke depan!
Pertandingan antara Linggajaya dan
Nurseta sudah mencapai puncaknya. Linggajaya yang terdesak terus itu kini sudah
mencabut senjatanya yang ampuh, pemberian gurunya, yaitu sebatang pecut yang
disebut Pecut Tatit Geni (Kilat Api ). Dia memutar-mutar pecut itu keatas
kepala.
'Tar-tar-tarrr .....!" Pecut itu
meledak-ledak di atas kepala Nurseta, menyambar-nyambar seperti halilintar.
Namun Nurseta yang menggunakan Aji
Bayu Sakti, dapat bergerak cepat sekali, tubuhnya berkelebatan seperti bayangan
bayangan di antara gulungan sinar pecut yang menyambar-nyambar. Sekali waktu
dia mengerahkan tenaga saktinya dan dengan telapak tangan miring dia menangkis
pecut lalu mencengkeram dan membetot kuat-kuat. Linggajaya terkejut bukan main
dan dia mempertahankan pecutnya agar jangan terampas. Akan tetapi tiba-tiba
Nurseta melepaskan cengkeramannya sehingga ujung pecut itu berbalik menyerang
ke arah kepala Linggajaya sendiri! Linggajaya mengangkat tangan ke atas dan
melempar tubuh ke bawah lalu bergulingan sehingga dia terbebas dari serangan
pecutnya sendiri! Pada saat itu, tampak bayangan berkelebat dan Puspa Dewi
sudah berdiri di antara mereka. Gadis ini agaknya pangling dan tidak mengenal
dua orang pemuda itu. Maka, agar jangan salah tangan ia lalu menghardik.
"Yang mana pemuda setan yang
hendak membunuh Ki Lurah Suramenggala?!"
Nurseta segera mengenal Puspa Dewi.
Dia terkejut dan merasa heran sekali melihat betapa cepatnya gerakan gadis
seperti terbang saja. Agaknya gadis yang terculik ini, seperti halnya
Linggajaya, selama lima tahun ini telah mempelajari ilmu yang tinggi dan yang
membuat ia sakti mandraguna!
"Puspa Dewi, andikakah ini? Aku
Nurseta, lupakah andika kepadaku?"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Hemm, engkau Nurseta? Dan dia
ini tentu Linggajaya!" Ia menoleh dan memandang kepada Linggajaya yang
sudah bangkit berdiri.
"Nurseta, engkaukah yang
mengacau di sini dan katanya hendak membunuh ayah tiriku?"
"Ayah tirimu .....?"
Nurseta bertanya heran sedangkan Linggajaya yang kini juga mengenal gadis
cantik jelita itupun memandang heran karena dia sendiri belum tahu bahwa ibu
gadis itu, janda Nyi Lasmi, kini telah menjadi isteri selir Ayahnya.
"Aku mendengar bahwa engkau
hendak membunuh Ki Lurah Suramenggala, bukan? Huh, Nurseta, jangan harap engkau
akan dapat membunuhnya selama aku berada di sini!"
"Tapi ..... tapi Ki
Suramenggala itu orang jahat, Puspa Dewi ....."
"Engkau yang jahat!" Puspa
Dewi membentak marah.
Linggajaya tadi juga melihat betapa
cepat Puspa Dewi bergerak, maka cepat dia berkata,
"Puspa Dewi, mari kita basmi
orang yang hendak membunuh ayah kita!"
Setelah berkata demikian, Linggajaya
sudah mencabut keris Candulamanik, keris liuk tiga belas yang ampuh itu dan
secepat kilat dia sudah menubruk maju dan menyerang dengan tusukan kerisnya ke
arah perut Nurseta. Nurseta cepat mengelak ke kiri.
"Sambutlah Aji Guntur Geni
...hyaaatt .....!!" Puspa Dewi sudah memasang kuda-kuda Guntur Geni, kedua
kaki terpentang ke depan dan ke belakang, lutut kiri di depan ditekuk, kaki
kanan di belakang lurus, kedua lengan dipentang seperti burung terbang.
Kemudian, sambil berteriak nyaring, kedua lengannya dari kanan kiri bergerak ke
depan seperti orang mendorong dan dari kedua telapak tangan itu menyambar hawa
panas sekali ke arah Nurseta! Nurseta terkejut dan melompat ke kanan untuk
menghindarkan sambaran hawa panas itu. Melihat pukulannya luput, Puspa Dewi
lalu mengadu kedua telapak tangannya beberapa kali seperti bertepuk dan
terdengarlah suara nyaring meledak-ledak seperti dua benda keras beradu dan di
antara kedua telapak tangannya itu muncrat bunga api. Kemudian ia memukul lagi
bertubi-tubi dengan dorongan kedua telapak tangannya yang mengandung hawa
panas. Itulah Aji Guntur Geni! Setelah mengelak beberapa kali, Nurseta terpaksa
lalu menyambut pukulan ampuh itu dengan dorongan kedua tangannya pula menyambut
dengan dorongan sambil mengerahkan tenaga saktinya yang bersifat lembut dan
menahan.
"Wuuuttt .....desss
.....I" Puspa Dewi terkejut sekali karena ia merasa betapa tenaganya
seperti memukul air saja, tenggelam dan kedua telapak tangannya terasa dingin!
Ia melompat ke belakang dan dari punggungnya ia mencabut batang pedang hitam.
Itulah Candrasa Langking yang ampuh dan mengandung racun amat berbahaya.
Tergores sedikit saja sampai terluka cukup untuk membunuh lawan!
Sementara itu, Linggajaya juga sudah
melakukan serangan bertubi-tubi dengan keris Candulanmanik. Diserang oleh orang
yang mempergunakan senjata ampuh itu, Nurseta menjadi kewalahan juga. Sungguh
tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa dua orang anak Karang Tirta yang
lima tahun lalu diculik penjahat itu kini telah pulang ke dusun dan menjadi
orang-orang yang sakti mandraguna! Dia menggerakkan tubuhnya dengan Aji Bayu
Sakti. Tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan
sinar pedang dan keris yang menyerangnya. Karena maklum betapa berbahayanya dua
buah senjata lawan yang mengandung racun itu, Nurseta bergerak cepat dengan
hati-hati sekali sehingga dia hanya mampu menghindarkan semua serangan kedua
orang pengeroyok yang tangguh itu tanpa dapat membalas. Dua orang yang
mengeroyok itu merasa penasaran sekali karena sampai belasan jurus tetap saja
serangan mereka tidak pernah mengenai sasaran. Terutama sekali Linggajaya yang
tadinya amat membanggakan kemampuan sendiri dan mengira bahwa di dunia ini
tidak ada orang yang mampu menandinginya, kini menjadi penasaran bukan main.
Tiba tiba dia membungkuk, meraih segenggam tanah berpasir lalu membaca mantera
lalu melontarkan pasir yang digenggam ke arah Nurseta sambil membentak.
"Aji Bramara Sewu (Seribu
Lebah) ..!"
Pasir-pasir itu melayang dan menyambar
ke arah Nurseta dan terdengar suara mbrengengeng seperti suara banyak lebah
yang terbang dan menyerang! Nurseta yang memang sudah terdesak oleh serangan
dua buah senjata lawan itu terkejut dan cepat dia melempar tubuh ke bawah, lalu
bergulingan di atas tanah untuk menghindarkan sambaran pasir sakti itu. Dan
diapun mengerahkan ajinya yang ampuh, yaitu Sirnasarira. Dua orang pengeroyok
itu terkejut bukan main karena tiba-tiba Nurseta menghilang! Tubuh pemuda itu
tidak tampak lagi! Maklum bahwa Nurseta tentu mempergunakan semacam aji
panglimutan yang dapat membuat buat orang seolah terselubung kegelapan dan
tidak tampak. Karena baik Linggajaya maupun Puspa Dewi adalah murid guru yang
sakti mandraguna, maka keduanya lalu mengerahkan kekuatan batinnya. Linggajaya
mengeluarkan pekik melengking dan Puspa Dewi bertepuk-tepuk tangan yang
mengeluarkan bunyi nyaring seperti canang. Akan tetapi ketika mata mereka dapat
menemukan tubuh Nurseta lagi, ternyata Nurseta tampak oleh mereka telah pergi
jauh, hanya tampak bayangan hitam mengecil lalu lenyap.
Linggajaya dan Puspa Dewi kini
saling pandang. Linggajaya terpesona dan seketika dia tertarik dan jatuh cinta.
Puspa Dewi memang memiliki kecantikan yang luar biasa. Daya tariknya amat kuat.
Apalagi seorang laki-laki yang pada dasarnya memang mata keranjang dan gila
perempuan cantik seperti Linggajaya bahkan laki-laki yang alim sekalipun pasti
goyah batinnya kalau melihat gadis berusia delapan belas yang bagaikan
setangkai bunga sedang mekar-mekarnya dan semerbak harum, bagaikan buah sedang
kemampo, menjelang matang dan menggairahkan. Kulitnya putih kuning mulus,
tubuhnya padat dengan lekuk lengkung sempurna, pinggangnya ramping,
perawakannya sedang. Rambutnya hitam panjang berombak dan digelung indah dengan
hiasan tusuk sanggul dari emas permata berkilauan, ditancapi bunga melati.
Alisnya hitam melengkung dan sepasang matanya bersinar-sinar seperti bintang
kejora penuh daya tarik. Hidungnya kecil mancung dan bibirnya! Bibir itu selalu
merah membasah dan segar seperti buah masak yang membuat orang menjadi gemas
dan ingin menggigit. Entah mana yang memiliki daya tarik lebih kuat, matanya
ataukah bibirnya. Semua keindahan itu masih ditambah lagi dengan adanya setitik
tahi lalat di dagunya sehingga wajah yang cantik jelita berbentuk bulat telur
itu menjadi semakin manis. Linggajaya sudah seringkali bertemu dan melihat
wanita cantik, bahkan dia sudah terbiasa bergaul dengan wanita Akan tetapi
belum pernah dia tergila gila seperti ini hanya dalam waktu beberapa detik
setelah dia memandang wajah dan tubuh Puspa Dewi dengan penuh perhatian. Dia
terpesona dan bengong sehingga lupa diri.
"Eh, engkau Linggajaya, bukan?
Kenapa bengong memandangku seperti itu?" Puspa Dewi menegur dengan alis
berkerut.
Linggajaya tersentak kaget, seolah
baru tersadar dari lamunannya. Dia cepat menguasai dirinya, tersenyum semanis
mungkin. Memang pemuda ini berwajah tampan dan gagah, maka senyumnya membuat
wajahnya semakin menarik.
"Ah..... maaf, Puspa Dewi. Aku
memang merasa heran dan seperti dalam mimpi melihat engkau! Bagaimana mungkin
engkau yang dulu itu seorang gadis kecil sederhana, kini telah menjadi seorang
gadis dewasa yang begini..... eh, seperti bidadari yang baru turun dari
kahyangan dan memiliki kesaktian yang hebat? Aku benar-benar kagum dan juga
merasa heran sekali, Puspa Dewi. Dan lebih heran lagi mendengar pengakuanmu
tadi bahwa engkau adalah anak tiri ayahku....."
Pada saat itu, Ki Lurah Suramenggala
diikuti Nyi Lasmi dan isteri-isterinya yang lain, juga diikuti para jagabaya
yang tadi melarikan diri bersembunyi, muncul dari serambi.
"Tidak perlu heran, Linggajaya.
Ibu Puspa Dewi sekarang memang telah menjadi isteriku!" kata Ki Lurah
Suramenggala.
Linggajaya memandang ayahnya dan
melihat betapa Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi berdiri di samping ayahnya. Dia Lalu
menghampiri ayah-ibunya, sedangkan Puspa Dewi menghampiri Nyi Lasmi yang
merangkulnya.
"Ah, sungguh hari yang penuh
malapetaka ini berakhir menjadi hari bahagia dengan kembalinya kalian berdua
dalam keadaan sehat, bahkan telah menjadi orang-orang yang sakti mandraguna.
Terobatilah pengorbanan berupa malapetaka yang menimpaku hari ini. Mari, mari
mari semua masuk. Kita bicara didalam." kata Ki Lurah Suramenggala merasa
gembira sekali, sedikitpun tidak ingat akan para jagabaya yang tewas karena
membelanya. Orang seperti Ki Lurah Suramenggala ini, mana mau memperdulikan
nasib orang lain? Yang paling penting adalah keuntungan dan kesenangan diri
sendiri dan keluarganya!
Setelah semua keluarga Ki Lurah
Suramenggala berkumpul di ruangan dalam, mereka menghujani Linggajaya dan Puspa
Dewi dengan pertanyaan. Linggajaya adalah seorang pemuda yang cerdik sekali.
Dia belum tahu akan isi hati ayahnya. Yang diketahuinya hanya bahwa ayahnya
adalah seorang lurah, lurah dusun Karang Tirta yang masih termasuk wilayah
Kahuripan. Karena itu, ketika dia menceritakan pengalamannya sejak diculik, dia
hanya memberitahu bahwa dia telah diambil murid oleh seorang datuk sakti
mandraguna, yaitu Sang Rasi Bajrasakti. Dia sama sekali tidak menceritakan
bahwa gurunya adalah seorang berkedudukan tinggi di Kerajaan Wengker, Menjadi
penasihat kerajaan. Dia hanya mengatakan bahwa gurunya adalah seorang datuk
yang sakti mandraguna dan bahwa dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari
datuk itu.
"Wah, bagus sekali! Kita untung
besar! Engkau menjadi murid seorang datuk besar! Aku sudah mendengar akan nama
besar Sang Maha Resi Bajrasakti itu, yang kabarnya memiliki kesaktian seperti
Dewa. Aku senang sekali, Linggajaya anakku! Dan bagaimana dengan engkau, Puspa
Dewi? Engkau juga anakku, nini. semenjak engkau dilarikan penculik, ibumu perlu
perlindungan dan ia menjadi isteriku dan tinggal di sini. Ceritakanlah,nini,
apa yang kau alami sejak engkau dilarikan penculik?" kata Ki Lurah
Suramenggala gembira. Puspa Dewi memandang ibunya dan Nyi Lasmi mengangguk
kepadanya.
"Ceritakanlah, Puspa. Engkau
berada di antara keluarga sendiri. Akupun ingin sekali mendengar tentang
pengalamanmu." kata Nyi Lasmi.
Semua mata memandang kepada Puspa
Dewi, terutama sekali sepasang mata Linggajaya yang seolah ingin menelan
bulat-bulat perawan yang membuatnya tergila-gila itu. Seperti juga Linggajaya,
Puspa Dewi juga memiliki kecerdikan. Ia merasa tidak enak kalau mengaku bahwa
gurunya kini telah menjadi permaisuri Raja Bhismaprabhawa, raja Wura-wuri dan ia
diangkat menjadi seorang puteri kerajaan Wura-wuri. Bagaimanapun juga, semua
orang tahu belaka bahwa Kerajaan Wura-wuri adalah musuh bebuyutan kerajaan
Mataram sejak dulu sampai sekarang menjadi kerajaan Kahuripan sebagai keturunan
Mataram.
No comments:
Post a Comment