Bagian 36


Sejak tadi Nurseta mendengarkan cerita Ki Tejomoyo dengan penuh perhatian sambil membayangkan wajah ayah dan ibunya. Dia masih ingat wajah mereka. Ayahnya seorang laki-laki tampan dan ibunya seorang wanita cantik sekali. Setelah Ki Tejomoyo selesai bercerita dia menanyakan apa yang selama ini selalu menjadi gangguan dalam hatinya yang membuat dia merasa penasaran,
"Akan tetapi, paman. Ketika itu, aku masih kecil."
"Ya, usiamu baru kira-kira sepuluh tahun ketika ayah ibumu pergi."
"Itulah yang membuat hatiku selalu merasa penasaran, paman. Mengapa kalau orang tuaku pergi, mereka tidak membawa aku?"
Ki Tejomoyo menghela napas panjang.
"Aku hanya dapat mengira-ngira. Mereka pergi tergesa-gesa, seperti orang yang terancam bahaya. Maka, karena mereka menyayangmu, mereka sengaja meninggalkanmu agar jangan sampai engkau juga ikut terancam bahaya. Akan tetapi, kalau ingin tahu lebih jelas, Ki Lurah Suramenggala tentu akan dapat bercerita banyak."
"Baiklah, paman. Aku akan pergi ke rumah Ki Lurah Suramenggala dan memaksa dia untuk mengaku!" Setelah berkata demikian, Nurseta meninggalkan tempat itu dan berjalan cepat menuju ke rumah Ki Lurah Suramenggala.

Ketika dia tiba di pekarangan kelurahan, suasana dalam rumah Ki Lurah Suramenggala masih diliputi kekagetan dan kebingungan karena amukan Nurseta tadi. Maka, ketika melihat pemuda itu datang lagi, para sisa jagabava sudah lari lintang pukang karena takut. Nurseta memasuki serambi dan berseru,
“Ki Lurah Suramenggala, keluarlah, aku mau bicara!”
Ketika berseru dia mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar lantang dan bergema memasuki setiap ruangan di rumah besar itu. Pada saat itu, Ki Lurah Suramenggala sedang diobati lengannya oleh para selirnya, termasuk Nyi Lasmi. Nyi Lasmi adalah ibu kandung Puspa Dewi yang telah menjadi janda. Ketika Puspa Dewi diculik lima tahun yang lalu bersama Linggajaya putera Ki Lurah Suramenggala berusia tiga puluh satu tahun dan Nyi Lasmi memang terkenal cantik. Peristiwa itu membuat ia sering bertemu dengan Ki Lurah Suramenggala karena sama sama kehilangan anak dan Ki Lurah Suramenggala yang mata keranjang itu segera jatuh cinta. Maka dipinanglah Nyi Lasmi dan semenjak itu, Nyi Lasmi menjadi seorang selirnya yang terkasih. Lengan Ki Lurah Suramenggala dibebat semacam param karena terasanya ketika pukulannya ditangkis Nurseta tadi. Pada saat itu, terdengarlah suara Nurseta memanggilnya. Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi dia tidak berani membangkang. Segera dia membereskan pakaiannya dan keluar untuk menemui pemuda itu. Begitu melihat lurah itu muncul seorang diri dengan muka pucat, Nurseta cepat menghampirinya dan berkata dengan suara bernada marah dan mengancam.
"Ki Suramenggala, aku tidak ingin mempergunakan kekerasan, maka andika ceritakan sejujurnya apa yang terjadi sebelas tahun yang lalu, mengapa ayah ibuku meninggalkan aku dan rumah mereka."
Wajah yang sudah pucat itu semakin ketakutan.
"Nurseta..... demi Sang Hyang widhi ....."
"Tidak usah engkau menyebut Sang Hyang Widhi. Hatimu terlalu kotor untuk menyebut namaNya. Kalau andika tidak mau mengaku terus terang, terpaksa aku harus menyiksamu sampai andika mengaku. Ingat, aku sudah tahu bahwa sebelum orang tuaku pergi tanpa pamit, andika telah mengutus seorang jagabaya untuk membawa surat laporan kepada Senopati Sindukerta di kota raja!"
Ki Lurah Suramenggala membelalakan kedua matanya.
"Dari..... dari mana..... engkau tahu.....?"
"Tidak perduli dari mana aku tahu. Hayo ceritakan sejelasnya dan selengkapnya, atau haruskah kupatahkan kedua tangan dan kakimu lebih dulu?"
"Tidak..... tidak, jangan pukul aku Nurseta. Baiklah, akan kuceritakan apa yang kutahu. Mari, silakan duduk," kata Ki Lurah Suramenggala.

Mereka lalu duduk di kursi yang terdapat di serambi itu.
"Nah, ceritakanlah!" kata Nurseta.
"Ketika ayah ibumu datang dan tinggal di dusun ini, aku hanya tahu bahwa mereka itu pindah dan kota raja. Ayahmu seorang ahli sastra dan orang baik, maka selama tujuh tahun tinggal di sini, tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi ketika aku pergi ke kota raja karena suatu urusan aku mendengar bahwa Ki Darmaguna dan isterinya adalah pelarian, orang-orang yang sedang dicari-cari oleh Senopati Sindukerta. Mendengar ini, sebagai seorang lurah tentu saja aku harus membantu pamong praja yang lebih tinggi kedudukannya. Maka aku lalu mengirim utusan ke kota raja, melaporkan bahwa orang-orang buruan itu telah tujuh tahun tinggal di dusun ini. Kalau aku tidak melaporkan, aku bisa dituduh menyembunyikan dan membantu mereka. Nah, ketika utusanku pulang membawa perintah Senopati Sindukerta untuk menangkap Ki Darmaguna dan isterinya, ternyata mereka sudah melarikan diri."
"Ke mana mereka pergi?" tanya Nurseta.
"Sungguh, aku tidak tahu, Nurseta. Sebetulnya antara aku dan orang tuamu tidak ada permusuhan apapun, akan tetapi karena mereka itu orang buruan Senopati Sindukerta, dan aku adalah lurah, maka terpaksa ....."
"Hemm, mengapa ayahku dikejar-kejar senopati Sindukerta Mengapa mereka menjadi buruan?"
"Aku tidak tahu, Nurseta, sungguh aku tidak tahu. Ayahmu seorang yang baik, aku tidak tahu mengapa Senopati Sindukerta memusuhinya. Aku sendiri menganggap Ki Darmaguna sebagai seorang sahabat baik."
"Hemmm, andika bohong, Ki Suramenggala! Aku tahu bahwa dulu engkau tergila-gila kepada ibuku dan pernah berusaha untuk merayunya! Hayo menyangkal kalau berani!"
Wajah lurah itu menjadi pucat, akan tetapi dia dapat menenangkan hatinya dan tersenyum dan mengangguk-angguk,
"Tidak kusangkal, Nurseta. Ibumu adalah seorang wanita yang paling cantik yang pernah kulihat. Aku tergila-gila kepadanya, apakah itu salah? Aku tidak pernah mengganggunya. Dan percaya atau tidak, kenapa engkau tidak kulaporkan sebagai anak ayahmu yang menjadi buruan? Karena melihat engkau, aku teringat kepada Sawitri, ibumu. Aku kasihan kepadamu maka aku sengaja menyelamatkanmu dan memeliharamu."
"Cukup!" hardik Nurseta sehingga mengejutkan hati sang lurah yang menjadi ketakutan lagi.
"Tidak perlu andika membohongi aku lagi. Andika hanya hendak merampas tanah dan rumah orang tuaku. Kalau aku teringat akan semua Itu, sudah sepatutnya kalau sekarang kuhancurkan kepalamu!"
"Aduh..... ampun, Nurseta. Jangan lakukan itu.....! Kalau engkau ingin membalas dendam, carilah Senopati Sindukerta. Dialah yang memusuhi orang tuamu, bukan aku!"

Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat dan tiba-tiba di serambi itu telah berdiri seorang pemuda tampan. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun, pakaiannya mewah. Tubuhnya tinggi tegap, mata lebar, hidung mancung dan mulutnya tersenyum mengejek. Wajah yang tampan memandang kepada Ki lurah Suramenggala yang masih berlutut minta ampun kepada Nurseta, lalu memandang wajah Nurseta dengan mata mencorong marah.
"Keparat!" pemuda itu menudingkan telunjuknya ke arah muka Nurseta.
"Siapa engkau yang berani mengancam dan menghina ayahku?!"
Ki Lurah Suramenggala yang tadi merasa terkejut dan pangling, kini melompat dan menghampiri pemuda itu sambil berseru girang,
"Kau..... kau puteraku Lingga jaya .....!" Dia merangkul pemuda itu dengan girang sekali. Akan tetapi dengan lembut pemuda itu mendorong Ki Lurah Suramenggala dan berkata sambil tetap memandang Nurseta.
"Bapak, nanti saja. Sekarang masuklah dulu, biar aku menghajar bocah kurang ajar ini!"
"Engkau benar, Linggajaya. Hajarlah dia. Dia itu Nurseta bocah tak mengenal budi itu. Dia tadi hendak membunuh aku!" Setelah berkata demikian, Ki Lurah Suramenggala lalu berlari memasuki rumahnya.
Nurseta berdiri berhadapan dengan Linggajaya.
"Hemm, kiranya engkau Nurseta bocah jembel itu? Tak tahu malu dan tidak mengenal budi. Bukankah dulu yang memberi engkau makan adalah keluarga kami?" Linggajaya menegur marah.
"Sekarang berani engkau mengancam ayahku?"
"Dan engkau Linggajaya, bocah yang sombong dulu itu! Ayahmu memang sudah sepatutnya dihajar karena dia adalah seorang yang jahat dan suka bergaul dengan penjahat dan perampok!"
"Tutup mulutmu yang busuk!" bentak Linggajaya dan pemuda yang baru saja meninggalkan gurunya, Resi Bajrasakti di Kerajaan Wengker itu, sudah menggerakkan tangan memukul ke arah muka Nurseta. Linggajaya yang sejak kecil memang terlalu dimanja, menyadari bahwa ayahnya adalah orang nomor satu seluruh dusun Karang Tirta, memupuk watak yang sombong, tinggi hati dan menganggap diri sendiri dan keluarganya paling hebat. Apalagi sekarang, setelah dia mewarisi ilmu-ilmu tinggi yang membuat dia menjadi seorang pemuda sakti, kesombongannya bertambah, bagaikan seekor harimau tumbuh sayap dan dia memandang remeh orang lain. Sekarangpun, ketika menyerang Nurseta, dia memandang rendah pemuda yang pernah menjadi kuli borongan atau pekerja kasar itu dan dia merasa yakin bahwa pukulannya yang dilakukan sembarangan saja itu sudah cukup untuk membikin remuk muka Nurseta.
"Wussss .....!" Linggajaya kecelik dan menjadi semakin marah karena pukulannya amat kuat dan cepat itu dapat di elakkan dengan mudah oleh Nurseta.

Rasa penasaran membuat kemarahannya memuncak dan diapun menyusulkan serangan dengan tendangan kedua kakinya silih berganti. Namun, Nurseta yang cepat menyadari bahwa Linggajaya yang menyerangnya ini sama sekali bukan Linggajaya yang dahulu, melainkan seorang pemuda yang memiliki kedigdayaan maklum bahwa kalau dia melayani bertanding di dalam rumah, dia yang akan menderita rugi. Maka diapun melompat ke belakang menghindari dua tendangan itu, lalu terus berlompatan keluar dari serambi.
"Nurseta, jahanam keparat, jangan lari kau!" seru Linggajaya dan pemuda inipun melompat keluar dan mengejar.
Akan tetapi Nurseta tidak melarikan diri, hanya mencari tempat yang lebih luas. Kini dia sudah berdiri di pekarangan yang luas itu dan siap menanti Linggajaya.
"Linggajaya, ayahmu adalah seorang jahat. Kalau engkau membelanya, berarti engkau juga jahat!" Nurseta memperingatkan.
"Bocah jembel kurang ajar. Bersiaplah untuk mampus! Terimalah Aji Gelap Sewu! Ciaaattttt......!"
Linggajaya menyerang dengan hebatnya. Gerakan tangan terbuka yang memukul itu bagaikan petir menyambar dan mengandung hawa yang amat panas. Diam-diam Nurseta merasa heran. Kiranya pemuda sombong ini bukan sekadar menyombong, melainkan benar-benar memiliki ilmu pukulan yang ampuh sekali. Maka diapun waspada, mengerahkan aji meringankan tubuh Bayu Sakti dan kaki tangannya bergerak-gerak memainkan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih). Hantaman tangan terbuka lawannya itu dia elakkan dengan lincah dan dari samping diapun membalas dengan totokan dua jari tangan kirinya ke arah lambung Linggajaya.
"Syutttt ......plakkk!" Linggajaya cepat menangkis dan ketika dua lengan itu bertemu, keduanya melompat ke belakang dengan kaget. Ternyata pertemuan dua lengan itu membuat Linggajaya tergetar dan baru sekarang pemuda ini menyadari bahwa Nurseta juga bukan bocah yang lemah dahulu, melainkan menjadi seorang pemuda yang sakti dan memiliki tenaga yang amat kuat. Akan tetapi tentu saja dia tidak menjadi gentar dan dia menyerang lagi secara bertubi-tubi, bahkan dia mengerahkan Aji Wisa Langking. Kedua telapak tangannya berubah hitam dan mengandung racun yang amat ampuh. Nurseta maklum bahwa kedua tangan lawan itu mengandung racun, maka diapun mempercepat gerakannya sehingga tubuhnya tak pernah tersentuh tangan itu. Dengan ilmu silat Baka Denta, tubuhnya bergerak cepat dan dia dapat menghindarkan semua serangan lawan dan membalas dengan tamparan-tamparan yang tidak kalah ampuhnya, walaupun tidak ada pukulannya yang mengandung racun. Lambat namun pasti, akhirnya Nurseta dapat mulai mendesak Linggajaya. Tingkat kesaktian kedua orang muda ini memang seimbang, akan tetapi gerakan Nurseta lebih tenang dan keadaan batinnya lebih kuat sehingga dia selalu dapat menguasai perasaan dan gerakan tubuhnya. Sebaliknya Linggajaya banyak dikuasai perasaan marah, tekebur dan terkadang kaget.

Sementara itu, selagi kedua orang muda perkasa itu saling serang dengan serunya, di bagian belakang rumah Ki Lurah Suramenggala terjadi pula suatu peristiwa yang menarik. Tanpa diketahui dua orang muda sakti yang sedang mencurahkan perhatian mereka dalam pertandingan itu, sesosok bayangan berkelebat. Bayangan itu adalah seorang gadis cantik jelita berusia sekitar delapan belas tahun, pakaian yang indah. Sejenak ia berhenti dan menonton perkelahian itu, kemudian ia tidak memperdulikan lagi dan terus bergerak cepat menuju ke belakang rumah besar itu. Ketika ia tiba di bagian belakang rumah itu, tiga orang pengawal yang berada di situ segera menghadang di depannya dan seorang di antara mereka membentak,
"Hei, siapa andika dan mengapa memasuki tempat ini tanpa ijin?"
Gadis itu memandang kepada tiga orang jagabaya itu dan mengerutkan alisnya.
"Dan kalian ini siapa dan orang-orang macam apa berani menghadangku dan lancang menegur aku?"
Tiga orang jagabaya itu terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi melihat sikap yang demikian kasar, tentu saja mereka menjadi marah dan curiga. Tidak ada anggota keluarga Ki Lurah Suramenggala yang seperti gadis ini. Jelas ia orang asing yang datang memasuki rumah tanpa ijin dan sikapnya yang kasar itu menunjukkan bahwa gadis itu mempunyai niat yang tidak baik.
"Hayo ikut kami, andika harus kami tangkap dan kami hadapkan kepada Ki Lurah!"
Gadis itu menjadi semakin marah, la berdiri tegak, membusungkan dadanya yang mulai montok, lalu berkata sambil tersenyum mengejek dan memandang rendah.
"Kalian tiga ekor tikus busuk ini hendak menangkap aku? Hah, menggelikan!"
Tentu saja tiga orang jagabaya itu marah sekali. Mereka memang harus mengakui bahwa mereka takut terhadap Nurseta yang sakti mandraguna. Akan tetapi bagaimanapun juga mereka adalah jagabaya yang biasanya ditakuti orang sedusun. Tentu saja mereka tidak takut menghadapi seorang gadis yang belum dewasa benar itu! Apalagi gadis itu telah menghina mereka dengan kata-kata yang meremehkan, memaki mereka tiga ekor tikus busuk!
"Gadis liar! Engkau kurang ajar!" kata mereka dan tiga orang itu serentak menjulurkan tangan untuk menangkap kedua lengan gadis itu. Akan tetapi terjadi hal yang sama sekali tidak mereka sangka. Gadis itu bergerak cepat sekali, kedua tangannya menyambar-nyambar dan tiga orang jagabaya itu terpelanting roboh seperti disambar petir! Mereka hanya dapat mengaduh-aduh dan tidak dapat bangkit lagi!

<<<Bagian 35                                                                                          Bagian 37 >>>

No comments:

Post a Comment