Sejak tadi Nurseta mendengarkan cerita Ki Tejomoyo dengan penuh perhatian sambil membayangkan wajah ayah dan ibunya. Dia masih ingat wajah mereka. Ayahnya seorang laki-laki tampan dan ibunya seorang wanita cantik sekali. Setelah Ki Tejomoyo selesai bercerita dia menanyakan apa yang selama ini selalu menjadi gangguan dalam hatinya yang membuat dia merasa penasaran,
"Akan tetapi, paman. Ketika itu,
aku masih kecil."
"Ya, usiamu baru kira-kira
sepuluh tahun ketika ayah ibumu pergi."
"Itulah yang membuat hatiku
selalu merasa penasaran, paman. Mengapa kalau orang tuaku pergi, mereka tidak
membawa aku?"
Ki Tejomoyo menghela napas panjang.
"Aku hanya dapat mengira-ngira.
Mereka pergi tergesa-gesa, seperti orang yang terancam bahaya. Maka, karena
mereka menyayangmu, mereka sengaja meninggalkanmu agar jangan sampai engkau
juga ikut terancam bahaya. Akan tetapi, kalau ingin tahu lebih jelas, Ki Lurah
Suramenggala tentu akan dapat bercerita banyak."
"Baiklah, paman. Aku akan pergi
ke rumah Ki Lurah Suramenggala dan memaksa dia untuk mengaku!" Setelah
berkata demikian, Nurseta meninggalkan tempat itu dan berjalan cepat menuju ke
rumah Ki Lurah Suramenggala.
Ketika dia tiba di pekarangan
kelurahan, suasana dalam rumah Ki Lurah Suramenggala masih diliputi kekagetan
dan kebingungan karena amukan Nurseta tadi. Maka, ketika melihat pemuda itu
datang lagi, para sisa jagabava sudah lari lintang pukang karena takut. Nurseta
memasuki serambi dan berseru,
“Ki Lurah Suramenggala, keluarlah,
aku mau bicara!”
Ketika berseru dia mengerahkan
tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar lantang dan bergema memasuki setiap
ruangan di rumah besar itu. Pada saat itu, Ki Lurah Suramenggala sedang diobati
lengannya oleh para selirnya, termasuk Nyi Lasmi. Nyi Lasmi adalah ibu kandung
Puspa Dewi yang telah menjadi janda. Ketika Puspa Dewi diculik lima tahun yang
lalu bersama Linggajaya putera Ki Lurah Suramenggala berusia tiga puluh satu
tahun dan Nyi Lasmi memang terkenal cantik. Peristiwa itu membuat ia sering
bertemu dengan Ki Lurah Suramenggala karena sama sama kehilangan anak dan Ki
Lurah Suramenggala yang mata keranjang itu segera jatuh cinta. Maka dipinanglah
Nyi Lasmi dan semenjak itu, Nyi Lasmi menjadi seorang selirnya yang terkasih.
Lengan Ki Lurah Suramenggala dibebat semacam param karena terasanya ketika
pukulannya ditangkis Nurseta tadi. Pada saat itu, terdengarlah suara Nurseta
memanggilnya. Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi dia tidak berani membangkang.
Segera dia membereskan pakaiannya dan keluar untuk menemui pemuda itu. Begitu
melihat lurah itu muncul seorang diri dengan muka pucat, Nurseta cepat
menghampirinya dan berkata dengan suara bernada marah dan mengancam.
"Ki Suramenggala, aku tidak
ingin mempergunakan kekerasan, maka andika ceritakan sejujurnya apa yang
terjadi sebelas tahun yang lalu, mengapa ayah ibuku meninggalkan aku dan rumah
mereka."
Wajah yang sudah pucat itu semakin
ketakutan.
"Nurseta..... demi Sang Hyang
widhi ....."
"Tidak usah engkau menyebut
Sang Hyang Widhi. Hatimu terlalu kotor untuk menyebut namaNya. Kalau andika
tidak mau mengaku terus terang, terpaksa aku harus menyiksamu sampai andika
mengaku. Ingat, aku sudah tahu bahwa sebelum orang tuaku pergi tanpa pamit,
andika telah mengutus seorang jagabaya untuk membawa surat laporan kepada
Senopati Sindukerta di kota raja!"
Ki Lurah Suramenggala membelalakan
kedua matanya.
"Dari..... dari mana.....
engkau tahu.....?"
"Tidak perduli dari mana aku
tahu. Hayo ceritakan sejelasnya dan selengkapnya, atau haruskah kupatahkan
kedua tangan dan kakimu lebih dulu?"
"Tidak..... tidak, jangan pukul
aku Nurseta. Baiklah, akan kuceritakan apa yang kutahu. Mari, silakan
duduk," kata Ki Lurah Suramenggala.
Mereka lalu duduk di kursi yang
terdapat di serambi itu.
"Nah, ceritakanlah!" kata
Nurseta.
"Ketika ayah ibumu datang dan
tinggal di dusun ini, aku hanya tahu bahwa mereka itu pindah dan kota raja.
Ayahmu seorang ahli sastra dan orang baik, maka selama tujuh tahun tinggal di
sini, tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi ketika aku pergi ke kota raja karena
suatu urusan aku mendengar bahwa Ki Darmaguna dan isterinya adalah pelarian,
orang-orang yang sedang dicari-cari oleh Senopati Sindukerta. Mendengar ini,
sebagai seorang lurah tentu saja aku harus membantu pamong praja yang lebih
tinggi kedudukannya. Maka aku lalu mengirim utusan ke kota raja, melaporkan
bahwa orang-orang buruan itu telah tujuh tahun tinggal di dusun ini. Kalau aku
tidak melaporkan, aku bisa dituduh menyembunyikan dan membantu mereka. Nah,
ketika utusanku pulang membawa perintah Senopati Sindukerta untuk menangkap Ki
Darmaguna dan isterinya, ternyata mereka sudah melarikan diri."
"Ke mana mereka pergi?"
tanya Nurseta.
"Sungguh, aku tidak tahu,
Nurseta. Sebetulnya antara aku dan orang tuamu tidak ada permusuhan apapun,
akan tetapi karena mereka itu orang buruan Senopati Sindukerta, dan aku adalah
lurah, maka terpaksa ....."
"Hemm, mengapa ayahku
dikejar-kejar senopati Sindukerta Mengapa mereka menjadi buruan?"
"Aku tidak tahu, Nurseta,
sungguh aku tidak tahu. Ayahmu seorang yang baik, aku tidak tahu mengapa
Senopati Sindukerta memusuhinya. Aku sendiri menganggap Ki Darmaguna sebagai
seorang sahabat baik."
"Hemmm, andika bohong, Ki
Suramenggala! Aku tahu bahwa dulu engkau tergila-gila kepada ibuku dan pernah
berusaha untuk merayunya! Hayo menyangkal kalau berani!"
Wajah lurah itu menjadi pucat, akan
tetapi dia dapat menenangkan hatinya dan tersenyum dan mengangguk-angguk,
"Tidak kusangkal, Nurseta.
Ibumu adalah seorang wanita yang paling cantik yang pernah kulihat. Aku
tergila-gila kepadanya, apakah itu salah? Aku tidak pernah mengganggunya. Dan
percaya atau tidak, kenapa engkau tidak kulaporkan sebagai anak ayahmu yang
menjadi buruan? Karena melihat engkau, aku teringat kepada Sawitri, ibumu. Aku
kasihan kepadamu maka aku sengaja menyelamatkanmu dan memeliharamu."
"Cukup!" hardik Nurseta
sehingga mengejutkan hati sang lurah yang menjadi ketakutan lagi.
"Tidak perlu andika membohongi
aku lagi. Andika hanya hendak merampas tanah dan rumah orang tuaku. Kalau aku
teringat akan semua Itu, sudah sepatutnya kalau sekarang kuhancurkan
kepalamu!"
"Aduh..... ampun, Nurseta.
Jangan lakukan itu.....! Kalau engkau ingin membalas dendam, carilah Senopati
Sindukerta. Dialah yang memusuhi orang tuamu, bukan aku!"
Pada saat itu tampak sesosok
bayangan berkelebat dan tiba-tiba di serambi itu telah berdiri seorang pemuda
tampan. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun, pakaiannya mewah. Tubuhnya
tinggi tegap, mata lebar, hidung mancung dan mulutnya tersenyum mengejek. Wajah
yang tampan memandang kepada Ki lurah Suramenggala yang masih berlutut minta
ampun kepada Nurseta, lalu memandang wajah Nurseta dengan mata mencorong marah.
"Keparat!" pemuda itu
menudingkan telunjuknya ke arah muka Nurseta.
"Siapa engkau yang berani
mengancam dan menghina ayahku?!"
Ki Lurah Suramenggala yang tadi
merasa terkejut dan pangling, kini melompat dan menghampiri pemuda itu sambil
berseru girang,
"Kau..... kau puteraku Lingga
jaya .....!" Dia merangkul pemuda itu dengan girang sekali. Akan tetapi
dengan lembut pemuda itu mendorong Ki Lurah Suramenggala dan berkata sambil
tetap memandang Nurseta.
"Bapak, nanti saja. Sekarang
masuklah dulu, biar aku menghajar bocah kurang ajar ini!"
"Engkau benar, Linggajaya.
Hajarlah dia. Dia itu Nurseta bocah tak mengenal budi itu. Dia tadi hendak
membunuh aku!" Setelah berkata demikian, Ki Lurah Suramenggala lalu
berlari memasuki rumahnya.
Nurseta berdiri berhadapan dengan
Linggajaya.
"Hemm, kiranya engkau Nurseta
bocah jembel itu? Tak tahu malu dan tidak mengenal budi. Bukankah dulu yang
memberi engkau makan adalah keluarga kami?" Linggajaya menegur marah.
"Sekarang berani engkau
mengancam ayahku?"
"Dan engkau Linggajaya, bocah
yang sombong dulu itu! Ayahmu memang sudah sepatutnya dihajar karena dia adalah
seorang yang jahat dan suka bergaul dengan penjahat dan perampok!"
"Tutup mulutmu yang
busuk!" bentak Linggajaya dan pemuda yang baru saja meninggalkan gurunya,
Resi Bajrasakti di Kerajaan Wengker itu, sudah menggerakkan tangan memukul ke
arah muka Nurseta. Linggajaya yang sejak kecil memang terlalu dimanja,
menyadari bahwa ayahnya adalah orang nomor satu seluruh dusun Karang Tirta,
memupuk watak yang sombong, tinggi hati dan menganggap diri sendiri dan
keluarganya paling hebat. Apalagi sekarang, setelah dia mewarisi ilmu-ilmu
tinggi yang membuat dia menjadi seorang pemuda sakti, kesombongannya bertambah,
bagaikan seekor harimau tumbuh sayap dan dia memandang remeh orang lain.
Sekarangpun, ketika menyerang Nurseta, dia memandang rendah pemuda yang pernah
menjadi kuli borongan atau pekerja kasar itu dan dia merasa yakin bahwa
pukulannya yang dilakukan sembarangan saja itu sudah cukup untuk membikin remuk
muka Nurseta.
"Wussss .....!" Linggajaya
kecelik dan menjadi semakin marah karena pukulannya amat kuat dan cepat itu
dapat di elakkan dengan mudah oleh Nurseta.
Rasa penasaran membuat kemarahannya
memuncak dan diapun menyusulkan serangan dengan tendangan kedua kakinya silih
berganti. Namun, Nurseta yang cepat menyadari bahwa Linggajaya yang
menyerangnya ini sama sekali bukan Linggajaya yang dahulu, melainkan seorang
pemuda yang memiliki kedigdayaan maklum bahwa kalau dia melayani bertanding di
dalam rumah, dia yang akan menderita rugi. Maka diapun melompat ke belakang
menghindari dua tendangan itu, lalu terus berlompatan keluar dari serambi.
"Nurseta, jahanam keparat,
jangan lari kau!" seru Linggajaya dan pemuda inipun melompat keluar dan
mengejar.
Akan tetapi Nurseta tidak melarikan
diri, hanya mencari tempat yang lebih luas. Kini dia sudah berdiri di
pekarangan yang luas itu dan siap menanti Linggajaya.
"Linggajaya, ayahmu adalah
seorang jahat. Kalau engkau membelanya, berarti engkau juga jahat!"
Nurseta memperingatkan.
"Bocah jembel kurang ajar.
Bersiaplah untuk mampus! Terimalah Aji Gelap Sewu! Ciaaattttt......!"
Linggajaya menyerang dengan
hebatnya. Gerakan tangan terbuka yang memukul itu bagaikan petir menyambar dan
mengandung hawa yang amat panas. Diam-diam Nurseta merasa heran. Kiranya pemuda
sombong ini bukan sekadar menyombong, melainkan benar-benar memiliki ilmu
pukulan yang ampuh sekali. Maka diapun waspada, mengerahkan aji meringankan
tubuh Bayu Sakti dan kaki tangannya bergerak-gerak memainkan ilmu silat Baka
Denta (Bangau Putih). Hantaman tangan terbuka lawannya itu dia elakkan dengan
lincah dan dari samping diapun membalas dengan totokan dua jari tangan kirinya
ke arah lambung Linggajaya.
"Syutttt ......plakkk!"
Linggajaya cepat menangkis dan ketika dua lengan itu bertemu, keduanya melompat
ke belakang dengan kaget. Ternyata pertemuan dua lengan itu membuat Linggajaya
tergetar dan baru sekarang pemuda ini menyadari bahwa Nurseta juga bukan bocah
yang lemah dahulu, melainkan menjadi seorang pemuda yang sakti dan memiliki
tenaga yang amat kuat. Akan tetapi tentu saja dia tidak menjadi gentar dan dia
menyerang lagi secara bertubi-tubi, bahkan dia mengerahkan Aji Wisa Langking.
Kedua telapak tangannya berubah hitam dan mengandung racun yang amat ampuh.
Nurseta maklum bahwa kedua tangan lawan itu mengandung racun, maka diapun
mempercepat gerakannya sehingga tubuhnya tak pernah tersentuh tangan itu. Dengan
ilmu silat Baka Denta, tubuhnya bergerak cepat dan dia dapat menghindarkan
semua serangan lawan dan membalas dengan tamparan-tamparan yang tidak kalah
ampuhnya, walaupun tidak ada pukulannya yang mengandung racun. Lambat namun
pasti, akhirnya Nurseta dapat mulai mendesak Linggajaya. Tingkat kesaktian
kedua orang muda ini memang seimbang, akan tetapi gerakan Nurseta lebih tenang
dan keadaan batinnya lebih kuat sehingga dia selalu dapat menguasai perasaan
dan gerakan tubuhnya. Sebaliknya Linggajaya banyak dikuasai perasaan marah,
tekebur dan terkadang kaget.
Sementara itu, selagi kedua orang
muda perkasa itu saling serang dengan serunya, di bagian belakang rumah Ki
Lurah Suramenggala terjadi pula suatu peristiwa yang menarik. Tanpa diketahui
dua orang muda sakti yang sedang mencurahkan perhatian mereka dalam
pertandingan itu, sesosok bayangan berkelebat. Bayangan itu adalah seorang
gadis cantik jelita berusia sekitar delapan belas tahun, pakaian yang indah.
Sejenak ia berhenti dan menonton perkelahian itu, kemudian ia tidak
memperdulikan lagi dan terus bergerak cepat menuju ke belakang rumah besar itu.
Ketika ia tiba di bagian belakang rumah itu, tiga orang pengawal yang berada di
situ segera menghadang di depannya dan seorang di antara mereka membentak,
"Hei, siapa andika dan mengapa
memasuki tempat ini tanpa ijin?"
Gadis itu memandang kepada tiga
orang jagabaya itu dan mengerutkan alisnya.
"Dan kalian ini siapa dan
orang-orang macam apa berani menghadangku dan lancang menegur aku?"
Tiga orang jagabaya itu terpesona
oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi melihat sikap yang demikian kasar, tentu
saja mereka menjadi marah dan curiga. Tidak ada anggota keluarga Ki Lurah
Suramenggala yang seperti gadis ini. Jelas ia orang asing yang datang memasuki
rumah tanpa ijin dan sikapnya yang kasar itu menunjukkan bahwa gadis itu
mempunyai niat yang tidak baik.
"Hayo ikut kami, andika harus
kami tangkap dan kami hadapkan kepada Ki Lurah!"
Gadis itu menjadi semakin marah, la
berdiri tegak, membusungkan dadanya yang mulai montok, lalu berkata sambil
tersenyum mengejek dan memandang rendah.
"Kalian tiga ekor tikus busuk
ini hendak menangkap aku? Hah, menggelikan!"
Tentu saja tiga orang jagabaya itu
marah sekali. Mereka memang harus mengakui bahwa mereka takut terhadap Nurseta
yang sakti mandraguna. Akan tetapi bagaimanapun juga mereka adalah jagabaya
yang biasanya ditakuti orang sedusun. Tentu saja mereka tidak takut menghadapi
seorang gadis yang belum dewasa benar itu! Apalagi gadis itu telah menghina
mereka dengan kata-kata yang meremehkan, memaki mereka tiga ekor tikus busuk!
"Gadis liar! Engkau kurang
ajar!" kata mereka dan tiga orang itu serentak menjulurkan tangan untuk
menangkap kedua lengan gadis itu. Akan tetapi terjadi hal yang sama sekali
tidak mereka sangka. Gadis itu bergerak cepat sekali, kedua tangannya
menyambar-nyambar dan tiga orang jagabaya itu terpelanting roboh seperti
disambar petir! Mereka hanya dapat mengaduh-aduh dan tidak dapat bangkit lagi!
No comments:
Post a Comment