"Bunuh saja dia! Bocah ini jahat dan berbahaya sekali!" bentak raksasa itu dan dia sudah mendahului para jagabaya menyerang dengan pedangnya. Gerakannya tangkas dan kuat sekali sehingga pedang gergaji itu mendesing nyaring ketika menyambar ke arah leher Nurseta.
"Singgg .....!"
Pedang itu meluncur lewat di atas
kepala Nurseta yang menekuk kedua lututnya merendahkan diri sehingga serangan
itu tidak mengenai sasaran. Pada saat itu, enam orang jagabaya telah
menghujankan serangan kepadanya dari belakang, depan, kiri dan kanan. Melihat
gerakan mereka, maklumlah Nurseta bahwa para pengeroyoknya itu tidak merupakan
lawan yang berbahaya maka diapun tidak merasa gugup dan dengan Aji Bayu Sakti
yang membuat tubuhnya seringan dan secepat angin, dia bersilat dengan ilmu
silat Baka Denta. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar tujuh buah senjata
tajam itu dan para pengeroyoknya menjadi bingung karena mereka merasa
seolah-olah mereka mengeroyok sebuah bayangan saja.
Dengan tamparan tamparan tangannya
yang ampuh, tanpa mengerahkan terlalu banyak tenaga, Nurseta membuat enam orang
jagabaya itu seorang demi seorang terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali
karena ada yang merasa kepalanya pening seperti hendak pecah, ada yang tulang
pundaknya terkilir, bahkan ada yang tulang lengannya retak. Melihat ini, kepala
gerombolan yang sejak tadi menyerang tanpa hasil menjadi terkejut dan gentar.
Di Karang Sari enam orang anak buahnya roboh oleh pemuda ini dan sekarang enam
orang jagabaya juga roboh. Tahulah dia bahwa pemuda sakti itu bukan
tandingannya dan amat berbahaya kalau dia melanjutkan perkelahian itu. Maka dia
lalu memutar tubuhnya hendak melarikan diri dari tempat itu. Melihat ini,
Nurseta yang tahu betapa jahatnya orang itu dan betapa orang itu merupakan
ancaman bahaya bagi orang-orang lain, cepat mengambil sebatang klewang milik
para jagabaya yang jatuh ke tanah, kemudian dia menyambitkan kelewang itu ke
arah kepala gerombolan yang melarikan diri.
"Wuuuttt ..... cappp!!"
Tubuh raksasa itu roboh tertelungkup dengan punggung ditembusi kelewang yang
runcing dan tajam. Dia tewas seketika.
Ki Lurah Suramenggala menjadi pucat
melihat betapa semua jagoannya roboh, bahkan kepala gerombolan yang dia
andalkan itu agaknya telah tewas. Dia lalu membalikkan tubuh dan lari hendak
memasuki gedungnya. Akan tetapi tampak bayangan berkelebat melewatinya dan
tahu-tahu Nurseta telah berdiri menghadang di depannya! Ki Suramenggala terkejut
dan gentar. Akan tetapi dia teringat bahwa dahulu Nurseta pernah
"berhutang budi" kepadanya, maka dia hendak menggunakan gertakan
untuk memulihkan wibawanya terhadap pemuda itu.
"Nurseta! Berani engkau
membikin kacau di sini? Lihat baik-baik, siapa aku? Aku adalah lurahmu, aku
yang dulu memeliharamu ketika engkau masih kecil dan hidup sebatang kara!"
Nurseta memandang wajah lurah itu
dengan alis berkerut.
"Aku tidak lupa, Ki
Suramenggala. Engkaulah yang merampas tanah dan sawah ladang peninggalan orang
tuaku dan memberi aku makan selama tiga tahun saja!"
"Heh! Berani engkau kurang ajar
kepadaku, bocah tak mengenal budi?" Ki Suramenggala menampar dengan tangan
kanannya seperti yang dia lakukan kalau dahulu Nurseta berani membantahnya
ketika pemuda itu masih kecil. Akan tetapi Nurseta menangkis sambaran tangan
itu sambil mengerahkan tenaga.
"Wuuutt..... dukkk.....!
Aduhhh" Ki Suramenggala merasa lengannya seperti bertemu linggis dan
tulangnya seperti patah. Dia memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri,
mengeluh kesakitan.
"Ki Suramenggala, kedatanganku
ini bukan untuk membuat keributan. Orang orangmu yang tadi mengajak ribut. Aku
datang hanya ingin bertanya padamu tentang orang tuaku! Dari mana orang tuaku
datang dan di mana sekarang mereka berada? Hayo katakan dan aku tidak akan
mengganggumu lagi!"
Ki Suramenggala tidak berani
berlagak lagi.
"Ayahmu bernama Ki Darmaguna
dan ibumu bernama Nyi Sawitri. Mereka berasal dari kota raja Kahuripan, pindah
ke Karang Tirta sini ketika engkau masih kecil, berusia kurang lebih tiga
tahun."
"Ketika aku berusia sepuluh
tahun, tiba-tiba saja mereka pergi dari sini. Kemanakah mereka pergi dan di
mana sekarang mereka berada?"
Ki Suramenggala menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu, Nurseta.
Mereka juga tidak pamit kepadaku dan sampai sekarang aku tidak tahu ke mana
mereka pergi."
"Benarkah andika tidak
tahu?" desak Nurseta.
"Benar! Sungguh, aku tidak
berbohong, Nurseta."
"Sekarang, jawab pertanyaanku
ini. Kenapa andika bersahabat dengan jahanam Itu?" Nurseta menunjuk ke
tubuh raksasa kepala gerombolan yang sudah menjadi mayat.
"Siapakah dia dan bagaimana
andika bersahabat dengan orang jahat seperti itu?"
Ki Suramenggala melebarkan matanya
seolah merasa heran dan kaget.
"Dia bukan orang jahat,
Nurseta. Aku mengenal dia sebagai seorang jagoan gagah yang tinggal di barat,
di perbatasan Wengker."
"Hemm, jadi dia itu orang
Kadipaten Wengker? Andika bilang dia tidak jahat Ki Suramenggala? Dia dan anak
buahnya telah mengganas dan melakukan perampokan dan kejahatan di dusun Karng
Sari!"
"Ah, begitukah? Aku..... aku
sungguh tidak tahu....., kalau aku tahu tentu aku tidak sudi bersahabat dengan
dia!" kata Ki Suramenggala.
"Hemm, sudahlah. Mudah-mudahan
peristiwa hari ini menjadi pelajaran bagi andika harus mengusahakan
kesejahteraan penduduk dusun ini, bukan hanya mencari kesejahteraan untuk diri
sendiri. Jangan bergaul dengan orang jahat dan jangan sekali-kali menggunakan
kekerasan menggunakan tukang pukul untuk menakut nakuti dan menindas rakyat.
Nah, aku pergi!" Setelah berkata demikian, Nurseta cepat meninggalkan
pekarangan gedung ki lurah itu.
Tentu saja dia tidak puas dengan
keterangan Ki Suramenggala. Lurah itu hanya memberitahukan nama ayah ibunya
yang masih diingatnya, akan tetapi sama sekali tidak dapat menunjukkan di mana
adanya ayah bundanya sehingga dia tidak tahu ke mana harus mencari mereka. Kini
dia segera menuju ke bekas rumah orang tuanya. Agaknya penduduk Karang Tirta
sudah mendengar akan peristiwa yang terjadi di pekarangan rumah gedung Ki Lurah
Suramenggala karena ketika Nurseta berjalan menuju ke bekas rumah orang tuanya,
para penduduk keluar dari rumah dan memandang kepadanya dengan penuh keheranan
dan kekaguman. Ketika dia tiba di dekat rumah bekas tempat tinggal orang
tuanya, seorang laki-laki berusia enam puluh tahun berlari menyongsongnya.
Dengan ramah dan gembira laki-laki itu memegang lengan Nurseta.
"Aduh, Nurseta! Sungguh tidak
sangka bahwa engkau telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa, yang
berani menghajar Ki Lurah Suramenggala dan para tukang pukulnya! Ah, sungguh
kami seluruh penduduk merasa gembira sekali dan aku amat bangga kepadamu
Nurseta!"
Nurseta segera mengenal laki-laki
itu.
"Paman Tejomoyo, andika
baik-baik saja bukan?"
Ki Tejomoyo ini adalah seorang
tetangga yang sejak dulu hidup sebatang kara dan dulu sering menolong Nurseta,
memberinya makan kalau Nurseta sedang kekurangan. Mereka berangkulan, lalu
Tejomoyo menarik lengan Nurseta, diajak masuk ke rumahnya yang sederhana.
"Mari, Nurseta, kita bicara di
dalam. Aku ingin sekali mendengar tentang dirimu, kemana saja selama lima tahun
lebih ini engkau pergi dan bagaimana sekarang setelah muncul tahu-tahu engkau
menjadi seorang yang sakti mandraguna!"
"Akupun ingin sekali mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada andika, paman dan mengharapkan keterangan dari
andika." Nurseta mengikuti Ki Tejomoyo memasuki rumah itu.
Setelah mereka duduk di atas
bale-bale bambu, Nurseta memenuhi permintaan tuan rumah, menceritakan bahwa
selama ini dia berguru kepada Empu Dewamurti yang membawanya ke lereng gunung Arjuna.
Setelah menceritakan keadaan dirinya, dia lalu berkata dengan wajah serius.
"Paman Tejomoyo, sekarang aku
ingin sekali bertanya kepadamu dan kuharap Andika suka memberi keterangan yang
sejelas-jelasnya."
"Apa yang hendak kautanyakan,
Nurseta? Tanyalah, tentu aku akan menerangkan apa saja yang kuketahui."
"Begini, paman. Paman adalah
tetangga yang baik dari orang tuaku, tentu paman mengenal baik ayah ibuku,
bukan?"
Ki Tejomoyo tersenyum.
"Mengenal ayah ibumu? Tentu
saja aku mengenal mereka dengan baik. Ayahmu adalah orang yang bijaksana dan
pandai, seorang sasterawan yang halus budi bahasanya dan ramah terhadap siapa
saja." Dia termenung, mengingat-ingat.
"Biarpun dia tidak pernah
mengaku, namun aku yakin bahwa Ki Darmaguna dan Nyi Sawitri ayah ibumu itu,
tentulah keluarga bangsawan. Biarpun mereka bukan orang kaya dan hidup
sederhana, namun sikap dan tutur sapa mereka demikian halus sehingga mudah
diduga bahwa mereka tentulah berdarah bangsawan. Seperti engkau ini, Nurseta,
engkau seorang anak desa dibesarkan di Karang Tirta ini, akan tetapi engkau
lain dibandingkan anak anak desa pada umumnya."
"Yang ingin kutanyakan, paman.
Tahukah paman kemana mereka pergi dan dimana mereka kini berada?" Sambil
bertanya demikian, Nurseta menatap wajah orang dengan penuh selidik.
Ki Tejomoyo menghela napas panjang
"Sungguh menyesal sekali bahwa
aku tidak dapat menjawab kedua pertanyaanmu itu, Nurseta. Aku sendiri sampai
sekarang masih merasa heran kemana ayah ibumu itu pergi dan di mana mereka kini
berada. Mengapa pula mereka sampai sekarang tiada beritanya seolah lupa
kepadamu, padahal aku yakin benar bahwa ayah ibumu itu sayang kepadamu. Sungguh
aku tidak mengerti."
Nurseta merasa terpukul sekali
hatinya mendengar ucapan ini. Seakan sudah putuslah harapannya. Siapa lagi yang
dapat ditanyai? Ki Tejomoyo ini merupakan tetangga yang paling dekat dan paling
akrab dengan ayahnya. Dia hanva dapat termenung dengan kedua alis berkerut dan
pandang matanya kosong dan sayu. Melihat keadaan pemuda itu, Ki Tejomoyo merasa
iba sekali dan dia berkata.
"Nurseta, agaknya di dusun ini
hanya ada satu orang yang akan mampu menjawab dua pertanyaanmu tadi."
Sepasang mata Nurseta mencorong dan
harapannya muncul kembali.
"Begitukah, paman? Siapakah
orang itu?"
"Dia itu bukan lain adalah Ki
Lurah Suramenggala! Dialah yang tahu, setidaknya tahu mengapa orang tuamu pergi
meninggalkan dusun ini!"
Nurseta terkejut.
"Ah, benarkah itu, Paman? Akan
tetapi ketika tadi aku bertanya kepadanya, dia mengatakan tidak tahu."
"Bohong! Dia berbohong. Aku yakin
dia pasti tahu mengapa ayah ibumu pergi, karena dialah yang menjadi biang
keladi perginya orang tuamu."
"Eh? Mengapa begitu, paman?
Apakah yang telah terjadi ketika itu? Harap paman suka memberi
penjelasan."
Kembali Ki Tejomoyo menghela napas
panjang.
"Dahulu aku takut untuk
menceritakan hal ini kepada siapapun juga. Akan tetapi setelah mendengar betapa
tadi engkau telah berani menghajar dia dan para tukang pukulnya, biarlah
kuceritakan kepadamu. Di antara Ki Darmaguna dan Ki Lurah Suramenggala memang terdapat
semacam perasaan saling membenci atau setidaknya saling tidak suka. Hal itu
terjadi karena ulah Ki Suramenggala. Baru beberapa bulan setelah orang tuamu
pindah ke dusun ini Ki Suramenggala itu agaknya tergila gila kepada ibumu, Nyi
Sawitri yang memang merupakan seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun yang
cantik jelita ketika itu. Ki lurah itu berusaha untuk merayu Nyi Sawitri pada
saat ayahmu tidak berada di rumah. Akan tetapi niat kotor ki lurah itu ditolak
mentah-mentah oleh ibumu, bahkan ibumu lalu melaporkan hal itu kepada ayahmu.
Maka terjadilah rasa saling tidak suka di antara ayahmu dan ki lurah."
"Hemm, manusia hina!" seru
Nurseta marah mendengar ibunya dirayu oleh Ki Lurah Suramenggala.
"Ya, memang Ki Suramenggala
terkenal sebagai seorang laki-laki yang mata keranjang dan suka mengandalkan
kekuasaan dan kekayaannya untuk menggoda wanita, baik gadis, janda, maupun
isteri orang. Akan tetapi karena ayahmu seorang yang memiliki wibawa sebagai
seorang bangsawan dan terpelajar, Ki Suramenggala tidak berani lagi
mencoba-coba untuk mengulangi perbuatannya, tidak berani pula menggunakan
kekerasan. Kemudian terjadilah hal itu yang membuat aku yakin bahwa Ki
Suramenggala yang menjadi biang keladi perginya orang tuamu dari sini."
"Apa yang telah terjadi,
paman?"
Ki Tejomoyo melanjutkan ceritanya
tujuh tahun sejak Ki Darmaguna dan anak isterinya tinggal di Karang Tirta pada
suatu pagi Ki Tejomoyo memikul dagangannya, yaitu alat-alat dapur dari tanah,
hendak dijual ke dusun-dusun lain. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan
Tardi, seorang jagabaya anak buah Ki Lurah Suramenggala. Tardi ini masih
terhitung keponakan Ki Tejomoyo dan dia menghentikan kudanya ketika bertemu
dengan pamannya yang memikul dagangannya.
"Eh, Tardi, ke mana sepagi ini
engkau hendak pergi?" Tanya Ki Tejomoyo kepada keponakannya itu.
"Paman Tejomoyo, aku hendak
pergi ke kota raja, menjadi utusan Ki Lurah Suramenggala!" kata Tardi
dengan nada suara bangga.
"Ke kota raja? Ada keperluan
apakah"
"Wah, penting sekali, paman.
Ada kabar yang amat menghebohkan! Dusun kita pasti akan geger!"
"Eh? Ada apakah?"
"Begini, paman. Akan tetapi
..... hemm. Ini rahasia lho, jangan sampai terdengar orang lain. Bisa celaka
engkau dan aku kalau sampai terdengar orang lain kemudian ki lurah mengetahui
bahwa kita yang membocorkan."
"Tentu saja tidak akan
kuceritakan pada orang lain. Ada apa sih?"
"Paman tahu, Ki Darmaguna,
tetanggamu itu ....."
"Ya, kenapa dia?"
"Dia itu seorang pelarian yang
kabur dari kota raja!"
"Eh? Jangan main-main,
Tardi!"
"Sungguh, paman. Ini, aku
membawa surat Ki Lurah untuk disampaikan kepada Senopati Sindukerta di kota
raja!" Setelah berkata demikian, Tardi membedal kudanya. "Selamat
tinggal, paman!"
Mendengar berita itu, Ki Tejomoyo
yang amat menghormati Ki Darmaguna sekeluarga, membatalkan kepergiannya
berjualan grabah (prabot dapur dari tanah) dan kembali ke rumahnya. Dia lalu
langsung saja melaporkan kepada Ki Darmaguna dan isterinya.
"Demikianlah, Nurseta. Setelah
menerima lapora ku bahwa Ki Lurah Suramenggala mengutus jagabaya pergi ke kota
raja untuk melapor kepada Senopati Sindukerta bahwa Ki Darmaguna sekeluarga
tinggal di Karang Tirta, ayah ibumu meninggalkan Karang Tirta pada malam hari
itu juga. Jadi, kalau engkau hendak mengetahui sebabnya, kiranya Ki Lurah
Suramenggala yang mengetahui dengan pasti."
No comments:
Post a Comment