Bagian 35


"Bunuh saja dia! Bocah ini jahat dan berbahaya sekali!" bentak raksasa itu dan dia sudah mendahului para jagabaya menyerang dengan pedangnya. Gerakannya tangkas dan kuat sekali sehingga pedang gergaji itu mendesing nyaring ketika menyambar ke arah leher Nurseta.
"Singgg .....!"
Pedang itu meluncur lewat di atas kepala Nurseta yang menekuk kedua lututnya merendahkan diri sehingga serangan itu tidak mengenai sasaran. Pada saat itu, enam orang jagabaya telah menghujankan serangan kepadanya dari belakang, depan, kiri dan kanan. Melihat gerakan mereka, maklumlah Nurseta bahwa para pengeroyoknya itu tidak merupakan lawan yang berbahaya maka diapun tidak merasa gugup dan dengan Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya seringan dan secepat angin, dia bersilat dengan ilmu silat Baka Denta. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar tujuh buah senjata tajam itu dan para pengeroyoknya menjadi bingung karena mereka merasa seolah-olah mereka mengeroyok sebuah bayangan saja.
Dengan tamparan tamparan tangannya yang ampuh, tanpa mengerahkan terlalu banyak tenaga, Nurseta membuat enam orang jagabaya itu seorang demi seorang terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali karena ada yang merasa kepalanya pening seperti hendak pecah, ada yang tulang pundaknya terkilir, bahkan ada yang tulang lengannya retak. Melihat ini, kepala gerombolan yang sejak tadi menyerang tanpa hasil menjadi terkejut dan gentar. Di Karang Sari enam orang anak buahnya roboh oleh pemuda ini dan sekarang enam orang jagabaya juga roboh. Tahulah dia bahwa pemuda sakti itu bukan tandingannya dan amat berbahaya kalau dia melanjutkan perkelahian itu. Maka dia lalu memutar tubuhnya hendak melarikan diri dari tempat itu. Melihat ini, Nurseta yang tahu betapa jahatnya orang itu dan betapa orang itu merupakan ancaman bahaya bagi orang-orang lain, cepat mengambil sebatang klewang milik para jagabaya yang jatuh ke tanah, kemudian dia menyambitkan kelewang itu ke arah kepala gerombolan yang melarikan diri.
"Wuuuttt ..... cappp!!" Tubuh raksasa itu roboh tertelungkup dengan punggung ditembusi kelewang yang runcing dan tajam. Dia tewas seketika.

Ki Lurah Suramenggala menjadi pucat melihat betapa semua jagoannya roboh, bahkan kepala gerombolan yang dia andalkan itu agaknya telah tewas. Dia lalu membalikkan tubuh dan lari hendak memasuki gedungnya. Akan tetapi tampak bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Nurseta telah berdiri menghadang di depannya! Ki Suramenggala terkejut dan gentar. Akan tetapi dia teringat bahwa dahulu Nurseta pernah "berhutang budi" kepadanya, maka dia hendak menggunakan gertakan untuk memulihkan wibawanya terhadap pemuda itu.
"Nurseta! Berani engkau membikin kacau di sini? Lihat baik-baik, siapa aku? Aku adalah lurahmu, aku yang dulu memeliharamu ketika engkau masih kecil dan hidup sebatang kara!"
Nurseta memandang wajah lurah itu dengan alis berkerut.
"Aku tidak lupa, Ki Suramenggala. Engkaulah yang merampas tanah dan sawah ladang peninggalan orang tuaku dan memberi aku makan selama tiga tahun saja!"
"Heh! Berani engkau kurang ajar kepadaku, bocah tak mengenal budi?" Ki Suramenggala menampar dengan tangan kanannya seperti yang dia lakukan kalau dahulu Nurseta berani membantahnya ketika pemuda itu masih kecil. Akan tetapi Nurseta menangkis sambaran tangan itu sambil mengerahkan tenaga.
"Wuuutt..... dukkk.....! Aduhhh" Ki Suramenggala merasa lengannya seperti bertemu linggis dan tulangnya seperti patah. Dia memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, mengeluh kesakitan.
"Ki Suramenggala, kedatanganku ini bukan untuk membuat keributan. Orang orangmu yang tadi mengajak ribut. Aku datang hanya ingin bertanya padamu tentang orang tuaku! Dari mana orang tuaku datang dan di mana sekarang mereka berada? Hayo katakan dan aku tidak akan mengganggumu lagi!"
Ki Suramenggala tidak berani berlagak lagi.
"Ayahmu bernama Ki Darmaguna dan ibumu bernama Nyi Sawitri. Mereka berasal dari kota raja Kahuripan, pindah ke Karang Tirta sini ketika engkau masih kecil, berusia kurang lebih tiga tahun."
"Ketika aku berusia sepuluh tahun, tiba-tiba saja mereka pergi dari sini. Kemanakah mereka pergi dan di mana sekarang mereka berada?"
Ki Suramenggala menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu, Nurseta. Mereka juga tidak pamit kepadaku dan sampai sekarang aku tidak tahu ke mana mereka pergi."
"Benarkah andika tidak tahu?" desak Nurseta.
"Benar! Sungguh, aku tidak berbohong, Nurseta."
"Sekarang, jawab pertanyaanku ini. Kenapa andika bersahabat dengan jahanam Itu?" Nurseta menunjuk ke tubuh raksasa kepala gerombolan yang sudah menjadi mayat.
"Siapakah dia dan bagaimana andika bersahabat dengan orang jahat seperti itu?"
Ki Suramenggala melebarkan matanya seolah merasa heran dan kaget.
"Dia bukan orang jahat, Nurseta. Aku mengenal dia sebagai seorang jagoan gagah yang tinggal di barat, di perbatasan Wengker."
"Hemm, jadi dia itu orang Kadipaten Wengker? Andika bilang dia tidak jahat Ki Suramenggala? Dia dan anak buahnya telah mengganas dan melakukan perampokan dan kejahatan di dusun Karng Sari!"
"Ah, begitukah? Aku..... aku sungguh tidak tahu....., kalau aku tahu tentu aku tidak sudi bersahabat dengan dia!" kata Ki Suramenggala.
"Hemm, sudahlah. Mudah-mudahan peristiwa hari ini menjadi pelajaran bagi andika harus mengusahakan kesejahteraan penduduk dusun ini, bukan hanya mencari kesejahteraan untuk diri sendiri. Jangan bergaul dengan orang jahat dan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan menggunakan tukang pukul untuk menakut nakuti dan menindas rakyat. Nah, aku pergi!" Setelah berkata demikian, Nurseta cepat meninggalkan pekarangan gedung ki lurah itu.

Tentu saja dia tidak puas dengan keterangan Ki Suramenggala. Lurah itu hanya memberitahukan nama ayah ibunya yang masih diingatnya, akan tetapi sama sekali tidak dapat menunjukkan di mana adanya ayah bundanya sehingga dia tidak tahu ke mana harus mencari mereka. Kini dia segera menuju ke bekas rumah orang tuanya. Agaknya penduduk Karang Tirta sudah mendengar akan peristiwa yang terjadi di pekarangan rumah gedung Ki Lurah Suramenggala karena ketika Nurseta berjalan menuju ke bekas rumah orang tuanya, para penduduk keluar dari rumah dan memandang kepadanya dengan penuh keheranan dan kekaguman. Ketika dia tiba di dekat rumah bekas tempat tinggal orang tuanya, seorang laki-laki berusia enam puluh tahun berlari menyongsongnya. Dengan ramah dan gembira laki-laki itu memegang lengan Nurseta.
"Aduh, Nurseta! Sungguh tidak sangka bahwa engkau telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa, yang berani menghajar Ki Lurah Suramenggala dan para tukang pukulnya! Ah, sungguh kami seluruh penduduk merasa gembira sekali dan aku amat bangga kepadamu Nurseta!"
Nurseta segera mengenal laki-laki itu.
"Paman Tejomoyo, andika baik-baik saja bukan?"
Ki Tejomoyo ini adalah seorang tetangga yang sejak dulu hidup sebatang kara dan dulu sering menolong Nurseta, memberinya makan kalau Nurseta sedang kekurangan. Mereka berangkulan, lalu Tejomoyo menarik lengan Nurseta, diajak masuk ke rumahnya yang sederhana.
"Mari, Nurseta, kita bicara di dalam. Aku ingin sekali mendengar tentang dirimu, kemana saja selama lima tahun lebih ini engkau pergi dan bagaimana sekarang setelah muncul tahu-tahu engkau menjadi seorang yang sakti mandraguna!"
"Akupun ingin sekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada andika, paman dan mengharapkan keterangan dari andika." Nurseta mengikuti Ki Tejomoyo memasuki rumah itu.

Setelah mereka duduk di atas bale-bale bambu, Nurseta memenuhi permintaan tuan rumah, menceritakan bahwa selama ini dia berguru kepada Empu Dewamurti yang membawanya ke lereng gunung Arjuna. Setelah menceritakan keadaan dirinya, dia lalu berkata dengan wajah serius.
"Paman Tejomoyo, sekarang aku ingin sekali bertanya kepadamu dan kuharap Andika suka memberi keterangan yang sejelas-jelasnya."
"Apa yang hendak kautanyakan, Nurseta? Tanyalah, tentu aku akan menerangkan apa saja yang kuketahui."
"Begini, paman. Paman adalah tetangga yang baik dari orang tuaku, tentu paman mengenal baik ayah ibuku, bukan?"
Ki Tejomoyo tersenyum.
"Mengenal ayah ibumu? Tentu saja aku mengenal mereka dengan baik. Ayahmu adalah orang yang bijaksana dan pandai, seorang sasterawan yang halus budi bahasanya dan ramah terhadap siapa saja." Dia termenung, mengingat-ingat.
"Biarpun dia tidak pernah mengaku, namun aku yakin bahwa Ki Darmaguna dan Nyi Sawitri ayah ibumu itu, tentulah keluarga bangsawan. Biarpun mereka bukan orang kaya dan hidup sederhana, namun sikap dan tutur sapa mereka demikian halus sehingga mudah diduga bahwa mereka tentulah berdarah bangsawan. Seperti engkau ini, Nurseta, engkau seorang anak desa dibesarkan di Karang Tirta ini, akan tetapi engkau lain dibandingkan anak anak desa pada umumnya."
"Yang ingin kutanyakan, paman. Tahukah paman kemana mereka pergi dan dimana mereka kini berada?" Sambil bertanya demikian, Nurseta menatap wajah orang dengan penuh selidik.
Ki Tejomoyo menghela napas panjang
"Sungguh menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menjawab kedua pertanyaanmu itu, Nurseta. Aku sendiri sampai sekarang masih merasa heran kemana ayah ibumu itu pergi dan di mana mereka kini berada. Mengapa pula mereka sampai sekarang tiada beritanya seolah lupa kepadamu, padahal aku yakin benar bahwa ayah ibumu itu sayang kepadamu. Sungguh aku tidak mengerti."

Nurseta merasa terpukul sekali hatinya mendengar ucapan ini. Seakan sudah putuslah harapannya. Siapa lagi yang dapat ditanyai? Ki Tejomoyo ini merupakan tetangga yang paling dekat dan paling akrab dengan ayahnya. Dia hanva dapat termenung dengan kedua alis berkerut dan pandang matanya kosong dan sayu. Melihat keadaan pemuda itu, Ki Tejomoyo merasa iba sekali dan dia berkata.
"Nurseta, agaknya di dusun ini hanya ada satu orang yang akan mampu menjawab dua pertanyaanmu tadi."
Sepasang mata Nurseta mencorong dan harapannya muncul kembali.
"Begitukah, paman? Siapakah orang itu?"
"Dia itu bukan lain adalah Ki Lurah Suramenggala! Dialah yang tahu, setidaknya tahu mengapa orang tuamu pergi meninggalkan dusun ini!"
Nurseta terkejut.
"Ah, benarkah itu, Paman? Akan tetapi ketika tadi aku bertanya kepadanya, dia mengatakan tidak tahu."
"Bohong! Dia berbohong. Aku yakin dia pasti tahu mengapa ayah ibumu pergi, karena dialah yang menjadi biang keladi perginya orang tuamu."
"Eh? Mengapa begitu, paman? Apakah yang telah terjadi ketika itu? Harap paman suka memberi penjelasan."
Kembali Ki Tejomoyo menghela napas panjang.
"Dahulu aku takut untuk menceritakan hal ini kepada siapapun juga. Akan tetapi setelah mendengar betapa tadi engkau telah berani menghajar dia dan para tukang pukulnya, biarlah kuceritakan kepadamu. Di antara Ki Darmaguna dan Ki Lurah Suramenggala memang terdapat semacam perasaan saling membenci atau setidaknya saling tidak suka. Hal itu terjadi karena ulah Ki Suramenggala. Baru beberapa bulan setelah orang tuamu pindah ke dusun ini Ki Suramenggala itu agaknya tergila gila kepada ibumu, Nyi Sawitri yang memang merupakan seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun yang cantik jelita ketika itu. Ki lurah itu berusaha untuk merayu Nyi Sawitri pada saat ayahmu tidak berada di rumah. Akan tetapi niat kotor ki lurah itu ditolak mentah-mentah oleh ibumu, bahkan ibumu lalu melaporkan hal itu kepada ayahmu. Maka terjadilah rasa saling tidak suka di antara ayahmu dan ki lurah."
"Hemm, manusia hina!" seru Nurseta marah mendengar ibunya dirayu oleh Ki Lurah Suramenggala.
"Ya, memang Ki Suramenggala terkenal sebagai seorang laki-laki yang mata keranjang dan suka mengandalkan kekuasaan dan kekayaannya untuk menggoda wanita, baik gadis, janda, maupun isteri orang. Akan tetapi karena ayahmu seorang yang memiliki wibawa sebagai seorang bangsawan dan terpelajar, Ki Suramenggala tidak berani lagi mencoba-coba untuk mengulangi perbuatannya, tidak berani pula menggunakan kekerasan. Kemudian terjadilah hal itu yang membuat aku yakin bahwa Ki Suramenggala yang menjadi biang keladi perginya orang tuamu dari sini."
"Apa yang telah terjadi, paman?"
Ki Tejomoyo melanjutkan ceritanya tujuh tahun sejak Ki Darmaguna dan anak isterinya tinggal di Karang Tirta pada suatu pagi Ki Tejomoyo memikul dagangannya, yaitu alat-alat dapur dari tanah, hendak dijual ke dusun-dusun lain. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Tardi, seorang jagabaya anak buah Ki Lurah Suramenggala. Tardi ini masih terhitung keponakan Ki Tejomoyo dan dia menghentikan kudanya ketika bertemu dengan pamannya yang memikul dagangannya.
"Eh, Tardi, ke mana sepagi ini engkau hendak pergi?" Tanya Ki Tejomoyo kepada keponakannya itu.
"Paman Tejomoyo, aku hendak pergi ke kota raja, menjadi utusan Ki Lurah Suramenggala!" kata Tardi dengan nada suara bangga.
"Ke kota raja? Ada keperluan apakah"
"Wah, penting sekali, paman. Ada kabar yang amat menghebohkan! Dusun kita pasti akan geger!"
"Eh? Ada apakah?"
"Begini, paman. Akan tetapi ..... hemm. Ini rahasia lho, jangan sampai terdengar orang lain. Bisa celaka engkau dan aku kalau sampai terdengar orang lain kemudian ki lurah mengetahui bahwa kita yang membocorkan."
"Tentu saja tidak akan kuceritakan pada orang lain. Ada apa sih?"
"Paman tahu, Ki Darmaguna, tetanggamu itu ....."
"Ya, kenapa dia?"
"Dia itu seorang pelarian yang kabur dari kota raja!"
"Eh? Jangan main-main, Tardi!"
"Sungguh, paman. Ini, aku membawa surat Ki Lurah untuk disampaikan kepada Senopati Sindukerta di kota raja!" Setelah berkata demikian, Tardi membedal kudanya. "Selamat tinggal, paman!"
Mendengar berita itu, Ki Tejomoyo yang amat menghormati Ki Darmaguna sekeluarga, membatalkan kepergiannya berjualan grabah (prabot dapur dari tanah) dan kembali ke rumahnya. Dia lalu langsung saja melaporkan kepada Ki Darmaguna dan isterinya.
"Demikianlah, Nurseta. Setelah menerima lapora ku bahwa Ki Lurah Suramenggala mengutus jagabaya pergi ke kota raja untuk melapor kepada Senopati Sindukerta bahwa Ki Darmaguna sekeluarga tinggal di Karang Tirta, ayah ibumu meninggalkan Karang Tirta pada malam hari itu juga. Jadi, kalau engkau hendak mengetahui sebabnya, kiranya Ki Lurah Suramenggala yang mengetahui dengan pasti."

<<<Bagian 34                                                                                         Bagian 36 >>>

No comments:

Post a Comment