Seorang di antara mereka, yaitu Ki
Karja dan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh
tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis tebal.
"Ki Lurah, inilah Nurseta yang
telah membangkitkan semangat kita dan tadi telah merobohkan para
perampok." Ki Karja memperkenalkan Nurseta kepada pria itu yang ternyata
adalah lurah dusun Karang Sari.
Ki Lurah cepat maju menghampiri dan
dengan sikap hormat dia berkata,
"Perkenalkan, anak mas Nurseta.
Saya Ki Lurah Warsita yang memimpin desa Karang Sari."
Nurseta membalas penghormatan lurah
Itu dan berkata.
"Sekarang, paman, kita harus
dapat menemukan sarang mereka untuk menolong para gadis yang terculik."
Diingatkan demikian, Ki Warsita
cepat berkata.
"Andika benar, anak mas. Ada
empat orang gadis dusun ini, termasuk anakku sendiri Kartiyah, yang diculik
gerombolan. Mari kita cari, Anak mas Nurseta."
"Apakah paman telah mengetahui
dimana adanya sarang gerombolan itu" tanya Nurseta.
"Kami belum melihat sendiri,
akan tetapi kami semua dapat menduga bahwa sarang mereka tentu berada di puncak
bukit kecil di sebelah barat dusun kami itu."
"Kalau begitu, mari kita
menyerbu sarang mereka!" kata Nurseta dan ucapan ini disambut oleh sorakan
hampir seratus orang itu, kemudian berbondong-bondong barisan obor itu lalu
keluar dari dusun menuju ke bukit kecil yang berada jauh di sebelah barat
dusun. Benar saja dugaan Ki Lurah Warsita, setelah mendaki puncak bukit kecil
mereka menemukan sebuah rumah darurat dari bambu dan kayu, sederhana namun
cukup besar, berdiri di lereng dekat puncak bukit. Nurseta mendorong pintu
rumah itu sehingga terbuka dan diikuti oleh Ki Lurah Warsita dan Ki Karja
orang-orang lain yang membawa mengikuti ke dalam akan tetapi tentu saja tidak
semua orang yang begitu banyak dapat memasuki rumah itu. Tidak ada seorangpun
anggota gerombongan di dalam rumah itu dan kepala gerombolan bertubuh raksasa
itupun tidak tampak. Nurseta dan Ki Lurah Warsita menemukan Kartiyah, puteri ki
lurah yang berusia delapan belas tahun itu terikat di atas pembaringan bersama
tiga orang gadis lain dan mereka itu tadinya tidak berani menangis. Akan tetapi
melihat siapa yang datang, mereka lalu menjerit-jerit dan menangis. Mereka
berempat telah menjadi korban kekejian para penjahat itu. Ki Lurah Warsita
melepaskan ikatan puterinya dan mereka berangkulan. Juga Nurseta melepaskan
ikatan kaki tangan tiga orang gadis lainnya. Selain berhasil menemukan dan
membebaskan empat orang gadis yang diculik gerombolan itu, mereka juga
menemukan barang-barang rampokan milik ki lurah dan para penduduk lain. Semua
barang itu diangkut keluar kemudian rumah itu dibakar oleh penduduk yang marah.
Kemudian mereka kembali ke dusun Karang Sari, membawa pulang empat orang gadis
korban penculikan dan barang-barang rampokan.
Setelah tiba di dusun, semua orang
memuji-muji Nurseta, juga Ki Lurah Warsita mengucapkan terima kasih kepadanya.
Di depan para penduduk Karang Sari, Nurseta berkata dengan suara lantang,
"Saudara-saudara, saya senang
sekali melihat andika sekalian kini bangkit, bersatu dan berani menentang para
penjahat. Saya yakin, kalau andika sekalian tetap bersatu padu menghadapi
kejahatan, tidak ada gerombolan yang akan berani mengganggu dusun kalian. Akan
tetapi, harap jangan bertindak kejam seperti yang andika sekalian lakukan tadi.
Kalau ada penjahat mengganggu ketenteraman, kepung dan tangkap, serahkan kepada
Ki lurah untuk diadili. Penjahat boleh dihukum, kalau perlu hukum mati, akan
tetapi harus melalui pengadilan dulu, jangan main bunuh seperti tadi. Cara
seperti itu tidak adil, kejam, dan dapat menimbulkan bencana karena membunuh
orang yang salah, yang tidak berdosa. Nah, dapatkah andika sekalian mengerti
dan berjanji tidak akan mengulang kekejaman seperti tadi?"
Penduduk dusun Karang Sari yang amat
kagum dan berterima kasih kepada Nurseta menyatakan mengerti dan mau berjanji.
Malam itu Nurseta dipersilakan untuk bermalam di rumah Ki Lurah Warsita, akan
tetapi Nurseta mengucapkan terima kasih dan memilih bermalam di rumah Ki Karja
yang sudah dikenalnya. Dari orang ini dia mendapat keterangan bahwa setelah
malam tadi Nurseta meninggalkannya, Ki Karja lalu nekat keluar dari rumah,
menghubungi Ki Lurah Warsita dan para pemuda, menceritakan tentang Nurseta yang
hendak membasmi gerombolan. Semangat mereka bangkit dan bersama ki lurah, Ki
Karja lalu mengumpulkan semua laki-laki di dusun itu dan mereka membuat
persiapan untuk membantu Nurseta membasmi para penjahat itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi
ketika Nurseta berpamit hendak meninggalkan rumah Ki Karja dan keluarganya, Ki
Karja berkata dengan serius,
"Anakmas Nurseta, maafkan saya
kalau saya bicara lancang. Akan tetapi saya hanya menyampaikan pesan Ki Lurah
Warsita."
"Katakanlah, Paman Karja, apa
yang hendak andika sampaikan kepadaku itu?"
"Begini, anakmas. Malam tadi,
ketika hendak meninggalkan rumah ki lurah, dia memesan saya untuk menyampaikan
keinginannya kepadamu. Dia berpesan kalau sekiranya Anakmas Nurseta masih belum
mempunyai isteri dan mau menerimanya, Ki lurah ingin sekali menjodohkan
puterinya, yaitu Nini Kartiyah yang malam tadi diambil dari pondok gerombolan,
dengan anakmas. Bagaimana pendapatmu, Anakmas Nurseta? Saya harus menyampaikan
jawaban anakmas sekarang kepada ki lurah."
Wajah Nurseta berubah kemerahan
karena malu. Dia teringat akan gadis puteri lurah itu. Usianya sekitar delapan
belas tahun gadis yang bernasib malang itu memang cantik, hitam manis dan
menarik. Paling cantik di antara empat orang gadis yang diculik gerombolan.
Akan tetapi dia sama sekali sedikitpun belum mempunyai keinginan untuk menikah.
Tiba-tiba dia teringat. Kalau dia menolak, tentu dapat menimbulkan kesan bahwa
dia menolak karena Kartiyah itu menjadi korban gerombolan jahat, bukan perawan
lagi. Maka dia lalu berkata dengan hati-hati.
"Paman Karja, harap sampaikan
terima kasihku kepada Paman Lurah Warsita atas niat baiknya itu. Akan tetapi,
saya tidak dapat menerima usulnya itu. Sama sekali bukan karena puterinya itu
telah menjadi korban gerombolan, sama sekali tidak. Melainkan hanya karena sama
sekali belum mempunyai pikiran untuk mengikat diri dengan sebuah pernikahan.
Harap sampaikan maaf saya kepada ki lurah dan kalau boleh saya nasihatkan,
sebaiknya segera dicarikan seorang suami untuk Kartiyah agar ia terbebas dari
duka dan aib. Nah, selamat tinggal paman dan terima kasih atas
kebaikanmu."
Nurseta tidak memberi kesempatan
kepada Ki Karja untuk bicara lebih banyak mengenai usul perjodohan itu dan
cepat dia meninggalkan dusun Karang Sari, menuju ke dusun Karang Tirta.
Ada rasa haru dalam hati Nurseta
ketika dia melangkahkan kakinya di atas jalan setapak yang amat dikenalnya itu.
Rasanya seperti baru kemarin saja dia meninggalkan tempat ini. Jalan setapak
itu masih belum berubah, juga pohon-pohon di sepanjang jalan, semua masih sama
seperti lima tahun yang lalu ketika dia meninggalkan tempat ini. Ketika dia
menggembala kerbau, ketika dia menggarap sawah ladang di sana itu! Melihat semua
itu, dia terkenang akan masa lalunya. Ketika akhirnya dia memasuk pintu gerbang
dusun Karang Tirta, perasaan harunya bercampur perasaan gembira. Dia merasa
seolah kembali ke kampung halamannya sendiri, tempat yang membangkitkan semua
kenangan lama, ketika dia masih kecil, masa kanak-kanaknya sampai masa
remajanya. Suka dukanya di dusun karang Tirta itu. Di antara orang Orang yang
dijumpainya, ada beberapa wajah yang masih dikenalnya dengan baik. Akan tetapi
mereka itu agaknya pangling (tidak ingat) dia lagi. Mungkin dia telah berubah.
Ketika pergi bersama gurunya lima tahun lebih yang lalu, dia telah menjadi
remaja, baru berusia enam belas tahun. Sekarang dia telah menjadi seorang
pemuda dewasa berusia dua puluh satu tahun lebih. Karena dia berpakaian seperti
seorang pemuda desa biasa, maka kehadirannya tidak menarik perhatian orang.
Kalau perhatian mereka tertarik, tentu diantara mereka akan ada yang mengenal
wajahnya. Nurseta langsung saja menujukan langkahnya ke rumah Ki Lurah
Suramengala yang berada di tepi jalan raya di tengah-tengah dusun. Ketika dia
melangkah sepanjang jalan dusun yang cukup lebar itu dan memandang ke arah
rumah-rumah yang amat dikenalnya, yang berjajar di kanan kiri jalan, timbul
ketrenyuan hatinya. Rumah-rumah itu masih seperti dulu dan baru sekarang dia
melihat betapa buruk dan sederhananya rumah-rumah itu. Kemudian dia tiba di
depan rumah ki lurah dan baru sekarang tampak jelas olehnya perbedaan yang amat
besar antara rumah-rumah para penduduk dan rumah Ki Lurah Suramengala! Sebuah
gedung mewah dengan pekarangan lebar penuh dengan tanaman bunga-bunga dan
pohon-pohon buah. Baru sekarang matanya seperti terbuka, ingat betapa kehidupan
rakyat yang sederhana dan miskin itu alangkah jauh bedanya dengan kehidupan
sang lurah sekeluarga yang mewah dan kaya raya. Sawah ladangnya luas sekali,
ternaknya banyak, rumah ada beberapa buah dan hidupnya seperti seorang raja
kecil di dusun itu.
Dulu, sebelum menjadi murid mendiang
Empu Dewamurti, dia menganggap keadaan itu wajar-wajar saja. Akan tetapi
sekarang dia melihat bahwa keadaan seperti itu sungguh tidak adil sama sekali.
Penduduk dusun itu dapat dikatakan semua hidup sederhana, bahkan kekurangan.
Akan tetapi lurahnya, orang yang memimpin dusun itu, hidup berlebihan, Dia kini
teringat betapa ketika dia berusia sepuluh tahun dan kedua orang tuanya pergi
meninggalkannya begitu saja, Ki Lurah Suramenggala yang mengatur semua harta
peninggalan orang tuanya, berupa rumah dan sawah ladang. Harta milik
peninggalan orang tuanya itu dibeli oleh sang lurah, dan uangnya menurut sang
lurah, telah habis untuk biaya hidupnya selama tiga tahun! Sehingga mulai
berusia tiga belas tahun dia harus bekerja membantu orang untuk sekedar dapat
makan. Tiga tahun saja peninggalan orang tuanya itu habis, padahal setiap
harinya dia hanya diberi makan sederhana oleh ki lurah. Baru sekarang dia
menyadari bahwa dia telah ditipu oleh Ki Suramenggala. Mungkin sang lurah itu
dapat mengumpulkan harta kekayaan yang berlimpahan itu dengan cara menindas dan
menipu warganya seperti yang terjadi dengan dirinya. Mungkin dengan memungut
pajak terlalu besar atau mengerahkan seluruh tenaga, pikiran di harta penduduk
Karang Tirta demi untuk kesejahteraan dirinya sendiri.
Nurseta memasuki pekarangan
kelurahan itu. Tiga orang jagabaya yang tadinya duduk di dalam gardu penjagaan
cepat keluar dari gardu dan seorang dan mereka menegur.
"Hei, berhenti! Siapa engkau
dan mau apa memasuki pekarangan ini?"
Nurseta memandang tiga orang itu dan
dia masih mengenal penanya tadi sebagai seorang jagabaya yang dulu juga telah
menjadi jagabaya di kelurahan itu, yang dua lagi tidak dia kenal. Mungkin
mereka itu merupakan orang-orang baru di Karang Tirta.
"Saya Nurseta, hendak bertemu
dengan Ki Lurah Suramenggala." kata Nurseta dengan ramah.
"Apakah paman lupa kepada
saya?"
Jagabaya itu mengerutkan alisnya dan
memandang penuh perhatian. Akhirnya dia teringat akan peristiwa yang tidak
dapat dilupakan lima tahun yang lalu. Ketika itu pemuda ini, masih remaja,
datang bersama seorang kakek. Ki lurah marah-marah dan memerintahkan dia dan
kawan-kawannya untuk menangkap Nurseta dan kakek itu, akan tetapi terjadilah
keanehan. Dia dan kawan-kawannya, juga ki lurah, tidak mampu bergerak sama
sekali! Setelah Nurseta dan kakek itu pergi, barulah mereka dapat bergerak kembali.
"Ah, engkau..... engkau Nurseta
bocah jembel itu? Yang dulu datang bersama.....pendeta siluman itu?"
tanyanya gagap.
Nurseta tersenyum, tidak marah. Dia
maklum orang macam apa yang bicara kepadanya. Orang bodoh yang hanya
mengandalkan kedudukannya sebagai jagabaya dan kekuatannya untuk bersikap
congkak. Orang macam ini biasanya tentu menjilat ke atas dan menginjak ke
bawah.
"Saya benar Nurseta anak yang
dulu itu. Harap paman suka memberitahukan Ki Lurah Suramenggala bahwa saya
datang hendak bertemu dan bicara dengannya."
"Beraninya engkau, bocah
lancang." jagabaya itu membentak.
"Ki lurah sedang sibuk, sedang
ada tamu, tidak sempat menemui bocah seperti engkau!" Dia masih marah
kalau teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu, yang membuat dia dan kawan-kawannya
menjadi bahan ejekan karena berubah seperti patung ketika berhadapan dengan
Nurseta dan pendeta tua itu.
“Paman, andika hanya jagabaya, hanya
petugas, sudah menjadi kewajibanmu untuk melaporkan kepada ki lurah kalau ada
tamu. Maka, sekali lagi, aku minta kepadamu untuk memberitahukan ki lurah akan
kedatanganku ini." Kata Nurseta.
"Kurang ajar engkau!"
Jagabaya itu marah dan mengayun tangan kanannya untuk menampar muka Nurseta.
Perlakuan seperti ini terhadap rakyat sudah biasa dia lakukan.
"Wuuuuttt......... plakk!"
Pergelangan tangan yang menampar itu
telah dapat ditangkap Nurseta dan dengan sekali sentakan, tubuh jagabaya itu
terpelanting dan terbanting ke atas tanah. Dua orang temannya marah dan tanpa
diperintah lagi mereka berdua sudah memukul dari kanan dan kiri ke arah kepala
dan dada Nurseta. Akan tetapi pemuda ini dengan gerakan amat cepat sudah
mendahului menampar dengan tangan kiri dan menendang dengan kaki kanan. Dua
orang jagabaya itu mengaduh dan mereka pun terpelanting roboh.
"Heii! Ada apakah ini?"
terdengar suara orang membentak.
Nurseta memandang ke arah dua orang
yang baru muncul dari dalam gedung. Dia segera mengenal Ki Lurah Suramenggala,
akan tetapi ketika dia memandang orang kedua yang berdiri di samping lurah itu
dia terkejut mengenal orang yang bertubuh raksasa itu bukan lain adalah kepala
gerombolan yang mengacau di dusun Karang Sari dan yang berhasil melarikan diri
ketika enam orang anak buah gerombolan itu dikeroyok dan dibunuh oleh penduduk.
Kalau Nurseta terkejut, raksasa itu lebih kaget lagi. Dia menuding dengan
telunjuk tangan kirinya yang besar sambil berseru kepada Ki Suramenggal.
"Dia ..... dia itulah bocah
setan itu.....!!”
Ki Suramenggala terkejut mendengar
ini. Tadi dia sudah mendengar dan ketika gerombolan yang menjadi anak buahnya
itu bahwa gerombolan itu dibinasakan seorang pemuda dusun Karang Sari. Setelah
sekarang melihat pemuda itupun segera mengenalnya sebagai Nurseta. Maka dia
lalu berseru keras,
"Tangkap bocah ini!"
Pada saat itu, dari dalam gedung
berlari keluar tiga orang jagabaya lain. Tiga orang jagabaya yang tadi
dirobohkan Nurseta juga sudah bangkit dan mereka semua mencabut klewang
mengepung Nurseta. Kepala gerombolan yang tinggi besar itupun ikut mengepung.
Dia sudah mencabut senjatanya, sebatang pedang berpunggung gergaji yang
menyeramkan. Kini, kepala gerombolan itu merasa yakin bahwa dia akan dapat
membalas dendam kepada pemuda itu. Selain dia sendiri dapat mempergunakan
senjatanya yang ampuh, juga di situ ada Ki Lurah Suramenggala yang membantunya
dengan para jagabayanya.
No comments:
Post a Comment