Bagian 34



Seorang di antara mereka, yaitu Ki Karja dan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis tebal.
"Ki Lurah, inilah Nurseta yang telah membangkitkan semangat kita dan tadi telah merobohkan para perampok." Ki Karja memperkenalkan Nurseta kepada pria itu yang ternyata adalah lurah dusun Karang Sari.
Ki Lurah cepat maju menghampiri dan dengan sikap hormat dia berkata,
"Perkenalkan, anak mas Nurseta. Saya Ki Lurah Warsita yang memimpin desa Karang Sari."
Nurseta membalas penghormatan lurah Itu dan berkata.
"Sekarang, paman, kita harus dapat menemukan sarang mereka untuk menolong para gadis yang terculik."
Diingatkan demikian, Ki Warsita cepat berkata.
"Andika benar, anak mas. Ada empat orang gadis dusun ini, termasuk anakku sendiri Kartiyah, yang diculik gerombolan. Mari kita cari, Anak mas Nurseta."
"Apakah paman telah mengetahui dimana adanya sarang gerombolan itu" tanya Nurseta.
"Kami belum melihat sendiri, akan tetapi kami semua dapat menduga bahwa sarang mereka tentu berada di puncak bukit kecil di sebelah barat dusun kami itu."
"Kalau begitu, mari kita menyerbu sarang mereka!" kata Nurseta dan ucapan ini disambut oleh sorakan hampir seratus orang itu, kemudian berbondong-bondong barisan obor itu lalu keluar dari dusun menuju ke bukit kecil yang berada jauh di sebelah barat dusun. Benar saja dugaan Ki Lurah Warsita, setelah mendaki puncak bukit kecil mereka menemukan sebuah rumah darurat dari bambu dan kayu, sederhana namun cukup besar, berdiri di lereng dekat puncak bukit. Nurseta mendorong pintu rumah itu sehingga terbuka dan diikuti oleh Ki Lurah Warsita dan Ki Karja orang-orang lain yang membawa mengikuti ke dalam akan tetapi tentu saja tidak semua orang yang begitu banyak dapat memasuki rumah itu. Tidak ada seorangpun anggota gerombongan di dalam rumah itu dan kepala gerombolan bertubuh raksasa itupun tidak tampak. Nurseta dan Ki Lurah Warsita menemukan Kartiyah, puteri ki lurah yang berusia delapan belas tahun itu terikat di atas pembaringan bersama tiga orang gadis lain dan mereka itu tadinya tidak berani menangis. Akan tetapi melihat siapa yang datang, mereka lalu menjerit-jerit dan menangis. Mereka berempat telah menjadi korban kekejian para penjahat itu. Ki Lurah Warsita melepaskan ikatan puterinya dan mereka berangkulan. Juga Nurseta melepaskan ikatan kaki tangan tiga orang gadis lainnya. Selain berhasil menemukan dan membebaskan empat orang gadis yang diculik gerombolan itu, mereka juga menemukan barang-barang rampokan milik ki lurah dan para penduduk lain. Semua barang itu diangkut keluar kemudian rumah itu dibakar oleh penduduk yang marah. Kemudian mereka kembali ke dusun Karang Sari, membawa pulang empat orang gadis korban penculikan dan barang-barang rampokan.

Setelah tiba di dusun, semua orang memuji-muji Nurseta, juga Ki Lurah Warsita mengucapkan terima kasih kepadanya. Di depan para penduduk Karang Sari, Nurseta berkata dengan suara lantang,
"Saudara-saudara, saya senang sekali melihat andika sekalian kini bangkit, bersatu dan berani menentang para penjahat. Saya yakin, kalau andika sekalian tetap bersatu padu menghadapi kejahatan, tidak ada gerombolan yang akan berani mengganggu dusun kalian. Akan tetapi, harap jangan bertindak kejam seperti yang andika sekalian lakukan tadi. Kalau ada penjahat mengganggu ketenteraman, kepung dan tangkap, serahkan kepada Ki lurah untuk diadili. Penjahat boleh dihukum, kalau perlu hukum mati, akan tetapi harus melalui pengadilan dulu, jangan main bunuh seperti tadi. Cara seperti itu tidak adil, kejam, dan dapat menimbulkan bencana karena membunuh orang yang salah, yang tidak berdosa. Nah, dapatkah andika sekalian mengerti dan berjanji tidak akan mengulang kekejaman seperti tadi?"
Penduduk dusun Karang Sari yang amat kagum dan berterima kasih kepada Nurseta menyatakan mengerti dan mau berjanji. Malam itu Nurseta dipersilakan untuk bermalam di rumah Ki Lurah Warsita, akan tetapi Nurseta mengucapkan terima kasih dan memilih bermalam di rumah Ki Karja yang sudah dikenalnya. Dari orang ini dia mendapat keterangan bahwa setelah malam tadi Nurseta meninggalkannya, Ki Karja lalu nekat keluar dari rumah, menghubungi Ki Lurah Warsita dan para pemuda, menceritakan tentang Nurseta yang hendak membasmi gerombolan. Semangat mereka bangkit dan bersama ki lurah, Ki Karja lalu mengumpulkan semua laki-laki di dusun itu dan mereka membuat persiapan untuk membantu Nurseta membasmi para penjahat itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi ketika Nurseta berpamit hendak meninggalkan rumah Ki Karja dan keluarganya, Ki Karja berkata dengan serius,
"Anakmas Nurseta, maafkan saya kalau saya bicara lancang. Akan tetapi saya hanya menyampaikan pesan Ki Lurah Warsita."
"Katakanlah, Paman Karja, apa yang hendak andika sampaikan kepadaku itu?"
"Begini, anakmas. Malam tadi, ketika hendak meninggalkan rumah ki lurah, dia memesan saya untuk menyampaikan keinginannya kepadamu. Dia berpesan kalau sekiranya Anakmas Nurseta masih belum mempunyai isteri dan mau menerimanya, Ki lurah ingin sekali menjodohkan puterinya, yaitu Nini Kartiyah yang malam tadi diambil dari pondok gerombolan, dengan anakmas. Bagaimana pendapatmu, Anakmas Nurseta? Saya harus menyampaikan jawaban anakmas sekarang kepada ki lurah."
Wajah Nurseta berubah kemerahan karena malu. Dia teringat akan gadis puteri lurah itu. Usianya sekitar delapan belas tahun gadis yang bernasib malang itu memang cantik, hitam manis dan menarik. Paling cantik di antara empat orang gadis yang diculik gerombolan. Akan tetapi dia sama sekali sedikitpun belum mempunyai keinginan untuk menikah. Tiba-tiba dia teringat. Kalau dia menolak, tentu dapat menimbulkan kesan bahwa dia menolak karena Kartiyah itu menjadi korban gerombolan jahat, bukan perawan lagi. Maka dia lalu berkata dengan hati-hati.
"Paman Karja, harap sampaikan terima kasihku kepada Paman Lurah Warsita atas niat baiknya itu. Akan tetapi, saya tidak dapat menerima usulnya itu. Sama sekali bukan karena puterinya itu telah menjadi korban gerombolan, sama sekali tidak. Melainkan hanya karena sama sekali belum mempunyai pikiran untuk mengikat diri dengan sebuah pernikahan. Harap sampaikan maaf saya kepada ki lurah dan kalau boleh saya nasihatkan, sebaiknya segera dicarikan seorang suami untuk Kartiyah agar ia terbebas dari duka dan aib. Nah, selamat tinggal paman dan terima kasih atas kebaikanmu."
Nurseta tidak memberi kesempatan kepada Ki Karja untuk bicara lebih banyak mengenai usul perjodohan itu dan cepat dia meninggalkan dusun Karang Sari, menuju ke dusun Karang Tirta.

Ada rasa haru dalam hati Nurseta ketika dia melangkahkan kakinya di atas jalan setapak yang amat dikenalnya itu. Rasanya seperti baru kemarin saja dia meninggalkan tempat ini. Jalan setapak itu masih belum berubah, juga pohon-pohon di sepanjang jalan, semua masih sama seperti lima tahun yang lalu ketika dia meninggalkan tempat ini. Ketika dia menggembala kerbau, ketika dia menggarap sawah ladang di sana itu! Melihat semua itu, dia terkenang akan masa lalunya. Ketika akhirnya dia memasuk pintu gerbang dusun Karang Tirta, perasaan harunya bercampur perasaan gembira. Dia merasa seolah kembali ke kampung halamannya sendiri, tempat yang membangkitkan semua kenangan lama, ketika dia masih kecil, masa kanak-kanaknya sampai masa remajanya. Suka dukanya di dusun karang Tirta itu. Di antara orang Orang yang dijumpainya, ada beberapa wajah yang masih dikenalnya dengan baik. Akan tetapi mereka itu agaknya pangling (tidak ingat) dia lagi. Mungkin dia telah berubah. Ketika pergi bersama gurunya lima tahun lebih yang lalu, dia telah menjadi remaja, baru berusia enam belas tahun. Sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh satu tahun lebih. Karena dia berpakaian seperti seorang pemuda desa biasa, maka kehadirannya tidak menarik perhatian orang. Kalau perhatian mereka tertarik, tentu diantara mereka akan ada yang mengenal wajahnya. Nurseta langsung saja menujukan langkahnya ke rumah Ki Lurah Suramengala yang berada di tepi jalan raya di tengah-tengah dusun. Ketika dia melangkah sepanjang jalan dusun yang cukup lebar itu dan memandang ke arah rumah-rumah yang amat dikenalnya, yang berjajar di kanan kiri jalan, timbul ketrenyuan hatinya. Rumah-rumah itu masih seperti dulu dan baru sekarang dia melihat betapa buruk dan sederhananya rumah-rumah itu. Kemudian dia tiba di depan rumah ki lurah dan baru sekarang tampak jelas olehnya perbedaan yang amat besar antara rumah-rumah para penduduk dan rumah Ki Lurah Suramengala! Sebuah gedung mewah dengan pekarangan lebar penuh dengan tanaman bunga-bunga dan pohon-pohon buah. Baru sekarang matanya seperti terbuka, ingat betapa kehidupan rakyat yang sederhana dan miskin itu alangkah jauh bedanya dengan kehidupan sang lurah sekeluarga yang mewah dan kaya raya. Sawah ladangnya luas sekali, ternaknya banyak, rumah ada beberapa buah dan hidupnya seperti seorang raja kecil di dusun itu.

Dulu, sebelum menjadi murid mendiang Empu Dewamurti, dia menganggap keadaan itu wajar-wajar saja. Akan tetapi sekarang dia melihat bahwa keadaan seperti itu sungguh tidak adil sama sekali. Penduduk dusun itu dapat dikatakan semua hidup sederhana, bahkan kekurangan. Akan tetapi lurahnya, orang yang memimpin dusun itu, hidup berlebihan, Dia kini teringat betapa ketika dia berusia sepuluh tahun dan kedua orang tuanya pergi meninggalkannya begitu saja, Ki Lurah Suramenggala yang mengatur semua harta peninggalan orang tuanya, berupa rumah dan sawah ladang. Harta milik peninggalan orang tuanya itu dibeli oleh sang lurah, dan uangnya menurut sang lurah, telah habis untuk biaya hidupnya selama tiga tahun! Sehingga mulai berusia tiga belas tahun dia harus bekerja membantu orang untuk sekedar dapat makan. Tiga tahun saja peninggalan orang tuanya itu habis, padahal setiap harinya dia hanya diberi makan sederhana oleh ki lurah. Baru sekarang dia menyadari bahwa dia telah ditipu oleh Ki Suramenggala. Mungkin sang lurah itu dapat mengumpulkan harta kekayaan yang berlimpahan itu dengan cara menindas dan menipu warganya seperti yang terjadi dengan dirinya. Mungkin dengan memungut pajak terlalu besar atau mengerahkan seluruh tenaga, pikiran di harta penduduk Karang Tirta demi untuk kesejahteraan dirinya sendiri.

Nurseta memasuki pekarangan kelurahan itu. Tiga orang jagabaya yang tadinya duduk di dalam gardu penjagaan cepat keluar dari gardu dan seorang dan mereka menegur.
"Hei, berhenti! Siapa engkau dan mau apa memasuki pekarangan ini?"
Nurseta memandang tiga orang itu dan dia masih mengenal penanya tadi sebagai seorang jagabaya yang dulu juga telah menjadi jagabaya di kelurahan itu, yang dua lagi tidak dia kenal. Mungkin mereka itu merupakan orang-orang baru di Karang Tirta.
"Saya Nurseta, hendak bertemu dengan Ki Lurah Suramenggala." kata Nurseta dengan ramah.
"Apakah paman lupa kepada saya?"
Jagabaya itu mengerutkan alisnya dan memandang penuh perhatian. Akhirnya dia teringat akan peristiwa yang tidak dapat dilupakan lima tahun yang lalu. Ketika itu pemuda ini, masih remaja, datang bersama seorang kakek. Ki lurah marah-marah dan memerintahkan dia dan kawan-kawannya untuk menangkap Nurseta dan kakek itu, akan tetapi terjadilah keanehan. Dia dan kawan-kawannya, juga ki lurah, tidak mampu bergerak sama sekali! Setelah Nurseta dan kakek itu pergi, barulah mereka dapat bergerak kembali.
"Ah, engkau..... engkau Nurseta bocah jembel itu? Yang dulu datang bersama.....pendeta siluman itu?" tanyanya gagap.
Nurseta tersenyum, tidak marah. Dia maklum orang macam apa yang bicara kepadanya. Orang bodoh yang hanya mengandalkan kedudukannya sebagai jagabaya dan kekuatannya untuk bersikap congkak. Orang macam ini biasanya tentu menjilat ke atas dan menginjak ke bawah.
"Saya benar Nurseta anak yang dulu itu. Harap paman suka memberitahukan Ki Lurah Suramenggala bahwa saya datang hendak bertemu dan bicara dengannya."
"Beraninya engkau, bocah lancang." jagabaya itu membentak.
"Ki lurah sedang sibuk, sedang ada tamu, tidak sempat menemui bocah seperti engkau!" Dia masih marah kalau teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu, yang membuat dia dan kawan-kawannya menjadi bahan ejekan karena berubah seperti patung ketika berhadapan dengan Nurseta dan pendeta tua itu.
“Paman, andika hanya jagabaya, hanya petugas, sudah menjadi kewajibanmu untuk melaporkan kepada ki lurah kalau ada tamu. Maka, sekali lagi, aku minta kepadamu untuk memberitahukan ki lurah akan kedatanganku ini." Kata Nurseta.
"Kurang ajar engkau!" Jagabaya itu marah dan mengayun tangan kanannya untuk menampar muka Nurseta. Perlakuan seperti ini terhadap rakyat sudah biasa dia lakukan.
"Wuuuuttt......... plakk!"
Pergelangan tangan yang menampar itu telah dapat ditangkap Nurseta dan dengan sekali sentakan, tubuh jagabaya itu terpelanting dan terbanting ke atas tanah. Dua orang temannya marah dan tanpa diperintah lagi mereka berdua sudah memukul dari kanan dan kiri ke arah kepala dan dada Nurseta. Akan tetapi pemuda ini dengan gerakan amat cepat sudah mendahului menampar dengan tangan kiri dan menendang dengan kaki kanan. Dua orang jagabaya itu mengaduh dan mereka pun terpelanting roboh.
"Heii! Ada apakah ini?" terdengar suara orang membentak.
Nurseta memandang ke arah dua orang yang baru muncul dari dalam gedung. Dia segera mengenal Ki Lurah Suramenggala, akan tetapi ketika dia memandang orang kedua yang berdiri di samping lurah itu dia terkejut mengenal orang yang bertubuh raksasa itu bukan lain adalah kepala gerombolan yang mengacau di dusun Karang Sari dan yang berhasil melarikan diri ketika enam orang anak buah gerombolan itu dikeroyok dan dibunuh oleh penduduk. Kalau Nurseta terkejut, raksasa itu lebih kaget lagi. Dia menuding dengan telunjuk tangan kirinya yang besar sambil berseru kepada Ki Suramenggal.
"Dia ..... dia itulah bocah setan itu.....!!”
Ki Suramenggala terkejut mendengar ini. Tadi dia sudah mendengar dan ketika gerombolan yang menjadi anak buahnya itu bahwa gerombolan itu dibinasakan seorang pemuda dusun Karang Sari. Setelah sekarang melihat pemuda itupun segera mengenalnya sebagai Nurseta. Maka dia lalu berseru keras,
"Tangkap bocah ini!"

Pada saat itu, dari dalam gedung berlari keluar tiga orang jagabaya lain. Tiga orang jagabaya yang tadi dirobohkan Nurseta juga sudah bangkit dan mereka semua mencabut klewang mengepung Nurseta. Kepala gerombolan yang tinggi besar itupun ikut mengepung. Dia sudah mencabut senjatanya, sebatang pedang berpunggung gergaji yang menyeramkan. Kini, kepala gerombolan itu merasa yakin bahwa dia akan dapat membalas dendam kepada pemuda itu. Selain dia sendiri dapat mempergunakan senjatanya yang ampuh, juga di situ ada Ki Lurah Suramenggala yang membantunya dengan para jagabayanya.

<<<Bagian 33                                                                                         Bagian 35 >>>

No comments:

Post a Comment