Bagian 33


Bagaimanapun dia harus mencari pangeran itu dan merampas kembali keris pusaka Megatantra karena keris pusaka itu sebetulnya merupakan pusaka istana Kahuripan sebagai keturunan kerajaan Mataram dan harus dia kembalikan kepada Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi karena dia tidak tahu ke mana harus mencari Raden Hendratarna yang pangeran itu, dia mengambil keputusan untuk lebih dulu menyelidiki tentang orang tuanya dan mencari di mana ayah ibunya kini berada. Hal inipun merupakan pesan terakhir gurunya. Pesan itu ada tiga, yaitu mengembalikan keris pusaka Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga, mencari orang tuanya yang meninggalkannya ketika dia berusia sepuluh tahun, dan ketiga, mempergunakan semua ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya untuk membantu kerajaaan Kahuripan menghadapi musuh-musuhnya. Setelah mengambil keputusan dia lalu berjalan cepat kearah selatan. Untuk menyelidiki tentang orang tuanya, dia harus pergi ke Karang Tirta, karena disanalah ayah ibunya pergi meninggalkannya sebelas tahun yang lalu. Mungkin ada orang-orang tua yang mengenal orang tuanya dan dapat menceritakan tentang mereka. Di antara mereka yang mengenal orang tuanya tentulah Ki Suramenggala, lurah Karang Tirta. Mungkin dari Karang Tirta dia akan mendapatkan keterangan tentang orang tuanya dan dapat melacak jejak mereka dari sana.

Pada suatu sore tibalah dia di dusun Karang Sari, sebuah dusun yang letaknya dekat perbatasan antara wilayah Kahuripan dan Wengker, akan tetapi Karang Sari masih termasuk wilayah Kahuripan. Dusun Karang Sari merupakan dusun yang makmur karena tanahnya di bagian selatan itu subur. Nurseta tidak asing dengan dusun Karang Sari yang letaknya tidak amat jauh dari Karang Tirta. Dari Karang Sari menuju ke Karang Tirta dapat ditempuh oleh pejalan kaki biasa selama setengah hari saja. Kalau Nurseta menggunakan aji kesaktiannya berlari cepat, tentu hanya memakan waktu tidak terlalu lama. Akan tetapi karena hari sudah mulai gelap, Nurseta mengambil keputusan untuk melewatkan malam di Karang Sari. Akan tetapi ketika dia memasuki dusun itu, dia melihat keadaan yang luar biasa. Dusun itu sepi sekali. Rumah rumah sudah menutup daun jendela dan pintunya, padahal waktu itu baru selewat senja, belum malam benar. Dan ketika Nurseta berjalan di sepanjang jalan, pendengarannya yang tajam dapat menangkap bisik-bisik orang di dalam rumah-rumah di sepanjang jalan itu. Para penghuni rumah itu agaknya berada dalam rumah mereka semua mengintai keluar! Sungguh merupakan keadaan yang penuh rahasia. Dusun itu seolah menjadi dusun yang mati, padahal para penduduk masih berada di situ, hanya seperti ketakutan dan tidak berani keluar rumah masing-masing. Nurseta teringat bahwa dulu, lima tahun lebih yang lalu, ketika dia masih tinggal di Karang Tirta, pernah dia berkenalan dengan seorang penjual grabah (alat-alat dapur dari tanah) bernama Ki Karja yang tinggal di Karang Sari. Bahkan dia pernah berkunjung dan bermalam satu malam di rumah Ki Karja. Teringat akan hal ini, Nurseta lalu mencari rumah dimana dia pernah bermalam itu. Tak lama kemudian dia menemukan rumah itu, masih sama dengan lima tahun yang lalu, rumah sederhana dengan sebatang pohon sawo kecik tumbuh di depannya. Dia menghampiri rumah itu.

Seperti rumah-rumah lain, rumah ini juga tampak sunyi dan gelap. Tidak ada penerangan dinyalakan di luar maupun di dalam rumah dan semua daun pintu dan jendela tertutup, seolah rumah kosong tanpa penghuni. Akan tetapi Nurseta dapat mendengar suara gerakan orang di dalam maka dia yakin bahwa di dalam rumah itupun terdapat orang.
"Tok-tok-to k!" Nurseta mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, tidak ada gerakan. Dia mengulang ketukannya sampai tiga kali, akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Dia menduga bahwa orang orang di dusun ini tentu benar-benar sedang dilanda ketakutan, entah terhadap apa atau siapa, maka ketika diketuk daun pintunya, tidak ada yang berani membukanya.
"Paman Karja, bukalah pintunya. Ini aku, jangan takut. Aku Nurseta, dari Karang Tirta. Bukalah pintunya, paman Karja!"
Ada gerakan di dalam rumah, akan tetapi tetap saja daun pintunya tidak terbuka dan tidak ada jawaban. Nurseta menduga bahwa kalau Ki Karja berada di dalam rumah itu, tentu orang itu meragukan pengakuannya tadi. Mungkin Ki Karja sudah lupa kepadanya. Dengan sabar dan suara tenang Nurseta bicara lagi.
"Paman Karja, lupakah paman kepadaku? Aku yang dulu, lima tahun yang lalu, ketika paman berjualan grabah di Karang Tirta lalu terpeleset jatuh, menolong paman. Bahkan aku pernah berkunjung dan bermalam di rumah ini. Aku Nurseta, pemuda miskin dari Karang Tirta itu, paman."
"Nurseta? Benarkah itu engkau?" terdengar suara dari dalam.
"Benar, Paman Karja. Habis, kalau bukan Nurseta, siapa lagi? Aku tidak berbohong, paman. Bukalah pintunya paman lihat sendiri siapa aku."

Daun pintu itu terbuka sedikit dan sebuah mata mengintai keluar. Cuaca belum begitu gelap sehingga mata itu dapat melihat wajah Nurseta dengan jelas. Agaknya pemilik mata itu mengenalnya dan merasa yakin. Daun pintu terbuka lebih lebar dan tampaklah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, masih di balik ambang pintu, agaknya tidak berani keluar.
"Nurseta, ternyata benar engkau, cepat, masuklah, pintu ini harus segera ditutup kembali!"
"Eh, kenapakah, paman? Kenapa semua pintu dan jendela rumah-rumah di dusun ini ditutup dan tidak ada penerangan sama sekali?"
"Sstt ....., jangan ribut. Masuklah, kita bicara di dalam saja!" kata Ki Karja dan dia lalu memegang lengan Nurseta ketika pemuda itu mendekat lalu menariknya masuk ke dalam rumah. Kemudian dengan cepat pula daun pintu ditutup kembali dan diganjal palang dari dalam. Mereka berada dalam kegelapan yang remang-remang.
Nurseta dapat melihat bahwa selain Ki Karja, di dalam rumah itu terdapat pula Nyi Karja dan dua orang pemuda remaja, yaitu anak-anak mereka.
"Paman, ceritakanlah apa yang sedang terjadi di dusun Karang Sari ini? Kenapa semua orang seperti ketakutan, tidak berani menyalakan penerangan dan tidak berani membuka pintu?"
"Ssttt .....jangan keras-keras, Nurseta Sudah seminggu ini kami penduduk dusun ini setiap malam ketakutan. Ada segerombolan orang jahat seperti iblis mengacau dusun ini. Mereka merampok, memukuli bahkan membunuh orang, menculik dan memperkosa wanita. Kabarnya malam ini mereka kembali akan merampok rumah Ki Lurah. Kami semua ketakutan maka ketika engkau mengetuk pintu, kami tidak berani membukanya."
Nurseta mengerutkan alisnya. Bagaimana mungkin ada kejadian seperti ini? Karang Sari adalah sebuah dusun yang termasuk wilayah Kahuripan dan menurut keterangan mendiang gurunya, setelah Sang Prabu Erlangga dibantu Ki Patih Narotama berkuasa di Kahuripan, kerajaan itu aman tentram. Hampir tidak ada penjahat berani muncul karena pemimpin kerajaan Kahuripan terkenal sebagai orang-orang yang sakti mandraguna. Bagaimana sekarang ada gerombolan yang demikian jahat dan ganas berani mengacau sebuah dusun yang masih termasuk wilayah Kahuripan?
"Akan tetapi, bukankah di setiap kelurahan ada beberapa orang jagabayanya?" tanya Nurseta penasaran.
"Hemm, pada malam pertama ketika mereka datang menyerbu, belasan orang jagabaya telah serentak keluar menyambut Akan tetapi gerombolan itu amat tangguh, terutama pemimpin mereka. Belasan orang jagabaya itu roboh dan luka-luka bahkan tiga orang di antara mereka tewas. Sejak itu, siapa yang berani melawan?"
"Paman Karja, berapakah jumlahnya gerombolan yang mengacau itu?"
"Hanya enam orang, tujuh bersama pemimpin mereka yang tinggi besar seperti raksasa dan yang amat digdaya, tubuhnya kebal tidak terluka oleh senjata tajam."
"Bagaimana andika tahu bahwa malam ini mereka hendak merampok rumah Ki Lurah?"
"Kemarin malam, ketika mereka menjarah rayah (merampok) rumah Ki Jabur, seorang dari mereka berkata bahwa malam ini giliran rumah Ki Lurah. Padahal, pada malam pertama dulu mereka sudah mengacau di rumah Ki Lurah, bahkan menculik puterinya. Dan pada malam itu pula para jagabaya itu roboh dan tiga orang di antara mereka tewas, yang lain luka-luka."
Nurseta menghela napas panjang.
"Sayang sekali. Mengapa para pria penduduk dusun ini, terutama mereka yang muda-muda, diam saja dan tidak bangkit melawan? Kalau semua bersatu dan melawan, tentu kalian yang berjumlah puluhan, bahkan mungkin seratus orang lebih itu akan dengan mudah membasmi tujuh orang penjahat itu."
"Kami ..... kami tidak berani ....., mereka itu sakti ....."
"Sudahlah, Paman Karja. Kalau semua laki-laki di sini pengecut, biarlah aku seorang diri yang akan menghadapi mereka. Katakan saja dari arah mana biasanya para penjahat itu memasuki dusun ini."
"Dari ..... dari barat sana ....." Ki Karja menuding ke arah barat.
"Nah, aku pergi, paman. Kalau paman takut, tutup saja lagi pintu rumahmu." Setelah berkata demikian, Nurseta lalu membuka daun pintu dan meninggalkan rumah itu dengan cepat. Dia berjalan-cepat menuju ke pintu gerbang dusun Karang Sari di sebelah barat karena dia ingin menghadang para penjahat itu agar tidak membikin kacau di dalam dusun.

Untung baginya bahwa bulan sepotong mulai muncul dengan datangnya sang malam sehingga walaupun dusun itu tidak ada sedikitpun penerangan, namun cuaca tidaklah amat gelap, masih remang remang. Nurseta duduk di atas sebuah batu dekat pintu gerbang yang sepi itu. Tidak ada penjaga, tidak ada peronda seperti pada malam-malam biasanya sebelum gangguan penjahat itu ada. Tidak terlalu lama dia menunggu. Kedatangan gerombolan itu sudah dapat dilihat dari jauh. Mereka itu membawa obor, agaknya sudah tahu bahwa dusun Karang Sari dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan. Setelah mereka tiba dekat pintu gerbang sebelah barat dusun itu, sudah terdengar suara mereka. Mereka bercakap-cakap diseling suara tawa mereka yang ngakak (terbahak). Ketika mereka melewati pintu gerbang, tiba-tiba muncul Nurseta menghadang di depan mereka. Pemuda ini melihat jelas wajah-wajah mereka di bawah sinar enam buah obor besar. Wajah-wajah yang seram dan jelek, dengan tubuh yang kekar berotot, membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka. Apa lagi yang berdiri paling depan. Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa, kepalanya besar, matanya lebar dan sikapnya menyeramkan.

Melihat ada orang menghadang perjalanan mereka, tujuh orang yang usianya sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun itu merasa heran sekali dan mereka yang membawa obor segera mengangkat obor mereka ke atas agar dapat melihat lebih jelas orang yang berani menghadang mereka itu. Mereka semakin heran melihat bahwa yang menghadang mereka itu hanyalah seorang yang masih muda sekali. Kepala gerombolan itupun merasa heran dan dia cepat membentak dengan suaranya yang parau dan berat seperti gerengan binatang buas
"Heh, bocah! Siapakah kamu dan mau apa kamu menghadang perjalanan kami?"
Nurseta tersenyum dan dengan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk tangan kanannya menuding ke arah mereka lalu berkata dengan suara lantang.
"Tidak perlu kalian ketahui siapa aku, akan tetapi aku adalah anak daerah ini yang tidak rela melihat kalian manusia-manusia iblis berbuat jahat dan keji terhadap penduduk dusun Karang Sari ini!"
Mendengar ini, marahlah kepala gerombolan yang bertubuh besar dan tingginya satu setengah kali tinggi tubuh Nurseta itu.
"Bocah keparat, kamu sudah bosan hidup!" bentaknya dan kepalan tangannya yang sebesar kepala Nurseta itu menyambar dengan jotosan yang cepat dan kuat sekali, mengiuk suaranya seperti palu godam menyambar pelipis Nurseta. Akan tetapi biarpun gerakan itu amat kuat dan lengan itu panjang sekali, namun bagi Nurseta gerakan itu tampak terlalu lamban. Dengan mudah saja dia mengelak.
Akan tetapi kepala gerombolan itu menyusulkan cengkeraman tangan kirinya kearah leher pemuda itu. Ketika Nurseta Kembali mengelak, kaki kanannya menbuat dan menendang bagaikan sebatang pohon menyambar dahsyat. Nurseta miringkan tubuhnya dan ketika kaki itu lewat di dekatnya, secepat kilat tangannya menyambar, menangkap tumit kaki itu dan meminjam tenaga tendangan lawan itu dia mengerahkan tenaga mendorong atas! Tak dapat dihindarkan lagi, kaki kanan kepala gerombolan itu terayun kuat sekali ke atas sehingga tubuhnya terbawa terbang dan diapun roboh ke atas tanah, pinggulnya lebih dulu menghantam tanah.
"Bukkk .....ngekkk!" Raksasa itu mengeluh, akan tetapi dia merangkak bangun sambil berseru marah kepada enam orang anak buahnya.
"Bunuh dia! Bunuh .....!!"
Enam orang perampok itu sergera bergerak. Tiga orang di antara mereka mencabut golok dengan tangan kanan lalu menyerang Nurseta dengan golok di tangan kanan dan obor di tangan kiri. Tiga orang yang lain merasa cukup menggunakan obor itu untuk menyerang, memegangi dengan kedua tangan. Nyala api menyambar-nyambar ke arah Nurseta menimbulkan pandangan yang aneh dan juga indah. Nurseta yang maklum bahwa mereka adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya diberi hajaran keras, bergerak cepat. Dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya berkelebatan dan keenam lawannya menjadi pusing karena pemuda itu sukar sekali dijadikan sasaran serangan mereka. Nurseta lalu menyerang dengan gerakan silat Baka Denta. Gerakannya cepat dan tidak terduga-duga oleh enam orang pengeroyoknya. Kedua tangannya menyambar-nyambar dengan tamparan kilat, kedua kakinya bergantian mencuat dengan tendangan halilintar. Enam orang itu berpelantingan roboh dan obor mereka jatuh dan padam. Keadaan menjadi gelap, akan tetapi tiba-tiba muncul banyak orang mengepung pintu gerbang Itu dan segera keadaan menjadi terang benderang ketika banyak obor dipasang, Kiranya penduduk dusun Karang Sari berjumlah seratus orang, semuanya laki-laki dari pemuda remaja sampai kakek-kakek melihat enam orang itu roboh, mereka lalu bersorak dan berteriak-teriak menyerbu, menggunakan segala macam senjata alat pertanian seperti pacul, linggis, arit, kampak dan sebagainya. Nurseta terkejut sekali melihat puluhan orang itu menggunakan senjata mereka untuk menyerang enam orang anggauta gerombolan yang sudah roboh. Enam orang itu ketakutan, mencoba untuk membela diri. Akan tetapi apa daya mereka menghadapi amukan puluhan orang yang seperti keranjingan itu? Apa lagi mereka berenam sudah menderita luka oleh tamparan dan tendangan Nurseta tadi. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh mereka menjadi lumat menjadi onggokan daging cacah berlepotan darah.

Dalam keributan itu, kepala gerombolan yang bertubuh raksasa itu sempat melarikan diri dan Nurseta tidak mengejarnya karena dia sendiri tertegun dan ngeri menyaksikan kekejaman para penduduk itu. Manusia kalau sudah dikuasai amarah dan dendam dapat menjadi amat kejam!
"Sudah cukup kawan-kawan! Sudah cukup kita membalas dendam!" teriak Nurseta dan semua orang menghentikan amukan mereka.

<<<Bagian 32                                                                                         Bagian 34 >>>

No comments:

Post a Comment