Bagaimanapun dia harus mencari pangeran itu dan merampas kembali keris pusaka Megatantra karena keris pusaka itu sebetulnya merupakan pusaka istana Kahuripan sebagai keturunan kerajaan Mataram dan harus dia kembalikan kepada Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi karena dia tidak tahu ke mana harus mencari Raden Hendratarna yang pangeran itu, dia mengambil keputusan untuk lebih dulu menyelidiki tentang orang tuanya dan mencari di mana ayah ibunya kini berada. Hal inipun merupakan pesan terakhir gurunya. Pesan itu ada tiga, yaitu mengembalikan keris pusaka Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga, mencari orang tuanya yang meninggalkannya ketika dia berusia sepuluh tahun, dan ketiga, mempergunakan semua ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya untuk membantu kerajaaan Kahuripan menghadapi musuh-musuhnya. Setelah mengambil keputusan dia lalu berjalan cepat kearah selatan. Untuk menyelidiki tentang orang tuanya, dia harus pergi ke Karang Tirta, karena disanalah ayah ibunya pergi meninggalkannya sebelas tahun yang lalu. Mungkin ada orang-orang tua yang mengenal orang tuanya dan dapat menceritakan tentang mereka. Di antara mereka yang mengenal orang tuanya tentulah Ki Suramenggala, lurah Karang Tirta. Mungkin dari Karang Tirta dia akan mendapatkan keterangan tentang orang tuanya dan dapat melacak jejak mereka dari sana.
Pada suatu sore tibalah dia di dusun
Karang Sari, sebuah dusun yang letaknya dekat perbatasan antara wilayah
Kahuripan dan Wengker, akan tetapi Karang Sari masih termasuk wilayah
Kahuripan. Dusun Karang Sari merupakan dusun yang makmur karena tanahnya di
bagian selatan itu subur. Nurseta tidak asing dengan dusun Karang Sari yang
letaknya tidak amat jauh dari Karang Tirta. Dari Karang Sari menuju ke Karang
Tirta dapat ditempuh oleh pejalan kaki biasa selama setengah hari saja. Kalau
Nurseta menggunakan aji kesaktiannya berlari cepat, tentu hanya memakan waktu
tidak terlalu lama. Akan tetapi karena hari sudah mulai gelap, Nurseta
mengambil keputusan untuk melewatkan malam di Karang Sari. Akan tetapi ketika
dia memasuki dusun itu, dia melihat keadaan yang luar biasa. Dusun itu sepi
sekali. Rumah rumah sudah menutup daun jendela dan pintunya, padahal waktu itu
baru selewat senja, belum malam benar. Dan ketika Nurseta berjalan di sepanjang
jalan, pendengarannya yang tajam dapat menangkap bisik-bisik orang di dalam
rumah-rumah di sepanjang jalan itu. Para penghuni rumah itu agaknya berada
dalam rumah mereka semua mengintai keluar! Sungguh merupakan keadaan yang penuh
rahasia. Dusun itu seolah menjadi dusun yang mati, padahal para penduduk masih
berada di situ, hanya seperti ketakutan dan tidak berani keluar rumah
masing-masing. Nurseta teringat bahwa dulu, lima tahun lebih yang lalu, ketika
dia masih tinggal di Karang Tirta, pernah dia berkenalan dengan seorang penjual
grabah (alat-alat dapur dari tanah) bernama Ki Karja yang tinggal di Karang
Sari. Bahkan dia pernah berkunjung dan bermalam satu malam di rumah Ki Karja.
Teringat akan hal ini, Nurseta lalu mencari rumah dimana dia pernah bermalam
itu. Tak lama kemudian dia menemukan rumah itu, masih sama dengan lima tahun
yang lalu, rumah sederhana dengan sebatang pohon sawo kecik tumbuh di depannya.
Dia menghampiri rumah itu.
Seperti rumah-rumah lain, rumah ini
juga tampak sunyi dan gelap. Tidak ada penerangan dinyalakan di luar maupun di
dalam rumah dan semua daun pintu dan jendela tertutup, seolah rumah kosong
tanpa penghuni. Akan tetapi Nurseta dapat mendengar suara gerakan orang di
dalam maka dia yakin bahwa di dalam rumah itupun terdapat orang.
"Tok-tok-to k!" Nurseta
mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, tidak ada gerakan. Dia mengulang ketukannya
sampai tiga kali, akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Dia menduga bahwa
orang orang di dusun ini tentu benar-benar sedang dilanda ketakutan, entah
terhadap apa atau siapa, maka ketika diketuk daun pintunya, tidak ada yang
berani membukanya.
"Paman Karja, bukalah pintunya.
Ini aku, jangan takut. Aku Nurseta, dari Karang Tirta. Bukalah pintunya, paman
Karja!"
Ada gerakan di dalam rumah, akan
tetapi tetap saja daun pintunya tidak terbuka dan tidak ada jawaban. Nurseta
menduga bahwa kalau Ki Karja berada di dalam rumah itu, tentu orang itu
meragukan pengakuannya tadi. Mungkin Ki Karja sudah lupa kepadanya. Dengan
sabar dan suara tenang Nurseta bicara lagi.
"Paman Karja, lupakah paman
kepadaku? Aku yang dulu, lima tahun yang lalu, ketika paman berjualan grabah di
Karang Tirta lalu terpeleset jatuh, menolong paman. Bahkan aku pernah
berkunjung dan bermalam di rumah ini. Aku Nurseta, pemuda miskin dari Karang
Tirta itu, paman."
"Nurseta? Benarkah itu
engkau?" terdengar suara dari dalam.
"Benar, Paman Karja. Habis,
kalau bukan Nurseta, siapa lagi? Aku tidak berbohong, paman. Bukalah pintunya
paman lihat sendiri siapa aku."
Daun pintu itu terbuka sedikit dan
sebuah mata mengintai keluar. Cuaca belum begitu gelap sehingga mata itu dapat
melihat wajah Nurseta dengan jelas. Agaknya pemilik mata itu mengenalnya dan
merasa yakin. Daun pintu terbuka lebih lebar dan tampaklah seorang laki-laki
berusia kurang lebih lima puluh tahun, masih di balik ambang pintu, agaknya
tidak berani keluar.
"Nurseta, ternyata benar
engkau, cepat, masuklah, pintu ini harus segera ditutup kembali!"
"Eh, kenapakah, paman? Kenapa
semua pintu dan jendela rumah-rumah di dusun ini ditutup dan tidak ada
penerangan sama sekali?"
"Sstt ....., jangan ribut.
Masuklah, kita bicara di dalam saja!" kata Ki Karja dan dia lalu memegang
lengan Nurseta ketika pemuda itu mendekat lalu menariknya masuk ke dalam rumah.
Kemudian dengan cepat pula daun pintu ditutup kembali dan diganjal palang dari
dalam. Mereka berada dalam kegelapan yang remang-remang.
Nurseta dapat melihat bahwa selain
Ki Karja, di dalam rumah itu terdapat pula Nyi Karja dan dua orang pemuda
remaja, yaitu anak-anak mereka.
"Paman, ceritakanlah apa yang
sedang terjadi di dusun Karang Sari ini? Kenapa semua orang seperti ketakutan,
tidak berani menyalakan penerangan dan tidak berani membuka pintu?"
"Ssttt .....jangan keras-keras,
Nurseta Sudah seminggu ini kami penduduk dusun ini setiap malam ketakutan. Ada
segerombolan orang jahat seperti iblis mengacau dusun ini. Mereka merampok,
memukuli bahkan membunuh orang, menculik dan memperkosa wanita. Kabarnya malam
ini mereka kembali akan merampok rumah Ki Lurah. Kami semua ketakutan maka
ketika engkau mengetuk pintu, kami tidak berani membukanya."
Nurseta mengerutkan alisnya.
Bagaimana mungkin ada kejadian seperti ini? Karang Sari adalah sebuah dusun
yang termasuk wilayah Kahuripan dan menurut keterangan mendiang gurunya,
setelah Sang Prabu Erlangga dibantu Ki Patih Narotama berkuasa di Kahuripan,
kerajaan itu aman tentram. Hampir tidak ada penjahat berani muncul karena
pemimpin kerajaan Kahuripan terkenal sebagai orang-orang yang sakti mandraguna.
Bagaimana sekarang ada gerombolan yang demikian jahat dan ganas berani mengacau
sebuah dusun yang masih termasuk wilayah Kahuripan?
"Akan tetapi, bukankah di
setiap kelurahan ada beberapa orang jagabayanya?" tanya Nurseta penasaran.
"Hemm, pada malam pertama
ketika mereka datang menyerbu, belasan orang jagabaya telah serentak keluar
menyambut Akan tetapi gerombolan itu amat tangguh, terutama pemimpin mereka.
Belasan orang jagabaya itu roboh dan luka-luka bahkan tiga orang di antara
mereka tewas. Sejak itu, siapa yang berani melawan?"
"Paman Karja, berapakah
jumlahnya gerombolan yang mengacau itu?"
"Hanya enam orang, tujuh
bersama pemimpin mereka yang tinggi besar seperti raksasa dan yang amat
digdaya, tubuhnya kebal tidak terluka oleh senjata tajam."
"Bagaimana andika tahu bahwa
malam ini mereka hendak merampok rumah Ki Lurah?"
"Kemarin malam, ketika mereka
menjarah rayah (merampok) rumah Ki Jabur, seorang dari mereka berkata bahwa
malam ini giliran rumah Ki Lurah. Padahal, pada malam pertama dulu mereka sudah
mengacau di rumah Ki Lurah, bahkan menculik puterinya. Dan pada malam itu pula
para jagabaya itu roboh dan tiga orang di antara mereka tewas, yang lain
luka-luka."
Nurseta menghela napas panjang.
"Sayang sekali. Mengapa para
pria penduduk dusun ini, terutama mereka yang muda-muda, diam saja dan tidak
bangkit melawan? Kalau semua bersatu dan melawan, tentu kalian yang berjumlah
puluhan, bahkan mungkin seratus orang lebih itu akan dengan mudah membasmi
tujuh orang penjahat itu."
"Kami ..... kami tidak berani
....., mereka itu sakti ....."
"Sudahlah, Paman Karja. Kalau
semua laki-laki di sini pengecut, biarlah aku seorang diri yang akan menghadapi
mereka. Katakan saja dari arah mana biasanya para penjahat itu memasuki dusun
ini."
"Dari ..... dari barat sana
....." Ki Karja menuding ke arah barat.
"Nah, aku pergi, paman. Kalau
paman takut, tutup saja lagi pintu rumahmu." Setelah berkata demikian,
Nurseta lalu membuka daun pintu dan meninggalkan rumah itu dengan cepat. Dia
berjalan-cepat menuju ke pintu gerbang dusun Karang Sari di sebelah barat
karena dia ingin menghadang para penjahat itu agar tidak membikin kacau di
dalam dusun.
Untung baginya bahwa bulan sepotong
mulai muncul dengan datangnya sang malam sehingga walaupun dusun itu tidak ada
sedikitpun penerangan, namun cuaca tidaklah amat gelap, masih remang remang.
Nurseta duduk di atas sebuah batu dekat pintu gerbang yang sepi itu. Tidak ada
penjaga, tidak ada peronda seperti pada malam-malam biasanya sebelum gangguan
penjahat itu ada. Tidak terlalu lama dia menunggu. Kedatangan gerombolan itu
sudah dapat dilihat dari jauh. Mereka itu membawa obor, agaknya sudah tahu
bahwa dusun Karang Sari dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan. Setelah
mereka tiba dekat pintu gerbang sebelah barat dusun itu, sudah terdengar suara
mereka. Mereka bercakap-cakap diseling suara tawa mereka yang ngakak
(terbahak). Ketika mereka melewati pintu gerbang, tiba-tiba muncul Nurseta
menghadang di depan mereka. Pemuda ini melihat jelas wajah-wajah mereka di
bawah sinar enam buah obor besar. Wajah-wajah yang seram dan jelek, dengan
tubuh yang kekar berotot, membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang
sudah biasa mempergunakan kekerasan dan kekuatan untuk memaksakan kehendak
mereka. Apa lagi yang berdiri paling depan. Seorang laki-laki yang bertubuh
raksasa, kepalanya besar, matanya lebar dan sikapnya menyeramkan.
Melihat ada orang menghadang
perjalanan mereka, tujuh orang yang usianya sekitar tiga puluh sampai empat
puluh tahun itu merasa heran sekali dan mereka yang membawa obor segera
mengangkat obor mereka ke atas agar dapat melihat lebih jelas orang yang berani
menghadang mereka itu. Mereka semakin heran melihat bahwa yang menghadang
mereka itu hanyalah seorang yang masih muda sekali. Kepala gerombolan itupun
merasa heran dan dia cepat membentak dengan suaranya yang parau dan berat
seperti gerengan binatang buas
"Heh, bocah! Siapakah kamu dan
mau apa kamu menghadang perjalanan kami?"
Nurseta tersenyum dan dengan tangan
kiri bertolak pinggang, telunjuk tangan kanannya menuding ke arah mereka lalu
berkata dengan suara lantang.
"Tidak perlu kalian ketahui
siapa aku, akan tetapi aku adalah anak daerah ini yang tidak rela melihat
kalian manusia-manusia iblis berbuat jahat dan keji terhadap penduduk dusun
Karang Sari ini!"
Mendengar ini, marahlah kepala
gerombolan yang bertubuh besar dan tingginya satu setengah kali tinggi tubuh
Nurseta itu.
"Bocah keparat, kamu sudah
bosan hidup!" bentaknya dan kepalan tangannya yang sebesar kepala Nurseta
itu menyambar dengan jotosan yang cepat dan kuat sekali, mengiuk suaranya
seperti palu godam menyambar pelipis Nurseta. Akan tetapi biarpun gerakan itu
amat kuat dan lengan itu panjang sekali, namun bagi Nurseta gerakan itu tampak
terlalu lamban. Dengan mudah saja dia mengelak.
Akan tetapi kepala gerombolan itu
menyusulkan cengkeraman tangan kirinya kearah leher pemuda itu. Ketika Nurseta
Kembali mengelak, kaki kanannya menbuat dan menendang bagaikan sebatang pohon
menyambar dahsyat. Nurseta miringkan tubuhnya dan ketika kaki itu lewat di
dekatnya, secepat kilat tangannya menyambar, menangkap tumit kaki itu dan
meminjam tenaga tendangan lawan itu dia mengerahkan tenaga mendorong atas! Tak
dapat dihindarkan lagi, kaki kanan kepala gerombolan itu terayun kuat sekali ke
atas sehingga tubuhnya terbawa terbang dan diapun roboh ke atas tanah,
pinggulnya lebih dulu menghantam tanah.
"Bukkk .....ngekkk!"
Raksasa itu mengeluh, akan tetapi dia merangkak bangun sambil berseru marah
kepada enam orang anak buahnya.
"Bunuh dia! Bunuh .....!!"
Enam orang perampok itu sergera
bergerak. Tiga orang di antara mereka mencabut golok dengan tangan kanan lalu
menyerang Nurseta dengan golok di tangan kanan dan obor di tangan kiri. Tiga
orang yang lain merasa cukup menggunakan obor itu untuk menyerang, memegangi
dengan kedua tangan. Nyala api menyambar-nyambar ke arah Nurseta menimbulkan
pandangan yang aneh dan juga indah. Nurseta yang maklum bahwa mereka adalah
orang-orang jahat yang sudah sepatutnya diberi hajaran keras, bergerak cepat.
Dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya berkelebatan dan keenam lawannya menjadi pusing
karena pemuda itu sukar sekali dijadikan sasaran serangan mereka. Nurseta lalu
menyerang dengan gerakan silat Baka Denta. Gerakannya cepat dan tidak
terduga-duga oleh enam orang pengeroyoknya. Kedua tangannya menyambar-nyambar
dengan tamparan kilat, kedua kakinya bergantian mencuat dengan tendangan
halilintar. Enam orang itu berpelantingan roboh dan obor mereka jatuh dan
padam. Keadaan menjadi gelap, akan tetapi tiba-tiba muncul banyak orang
mengepung pintu gerbang Itu dan segera keadaan menjadi terang benderang ketika
banyak obor dipasang, Kiranya penduduk dusun Karang Sari berjumlah seratus
orang, semuanya laki-laki dari pemuda remaja sampai kakek-kakek melihat enam
orang itu roboh, mereka lalu bersorak dan berteriak-teriak menyerbu,
menggunakan segala macam senjata alat pertanian seperti pacul, linggis, arit,
kampak dan sebagainya. Nurseta terkejut sekali melihat puluhan orang itu
menggunakan senjata mereka untuk menyerang enam orang anggauta gerombolan yang
sudah roboh. Enam orang itu ketakutan, mencoba untuk membela diri. Akan tetapi
apa daya mereka menghadapi amukan puluhan orang yang seperti keranjingan itu?
Apa lagi mereka berenam sudah menderita luka oleh tamparan dan tendangan
Nurseta tadi. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh mereka menjadi lumat menjadi
onggokan daging cacah berlepotan darah.
Dalam keributan itu, kepala
gerombolan yang bertubuh raksasa itu sempat melarikan diri dan Nurseta tidak
mengejarnya karena dia sendiri tertegun dan ngeri menyaksikan kekejaman para
penduduk itu. Manusia kalau sudah dikuasai amarah dan dendam dapat menjadi amat
kejam!
"Sudah cukup kawan-kawan! Sudah
cukup kita membalas dendam!" teriak Nurseta dan semua orang menghentikan
amukan mereka.
No comments:
Post a Comment